Saturday, January 9, 2021

12 Langkah Gampang Membuat Tulisan Bagus


Gue nggak nyangka benaran akan kerja jadi penulis.

Ketika sekolah di Kehutanan IPB, gue mulai bikin blog ini. Isinya ya hepi-hepi aja. Antara ngeledekin orang, atau dokumentasiin kehidupan gue yang gak pernah beres. Gak pernah sama sekali terlintas buat kerja di bidang kepenulisan yang profesional.

Sampai lama-lama, rasanya seru juga. Gue ikut lomba, dan blog ini jadi sesuatu yang menghasilkan. Dari situ, gue merasa punya tanggung jawab untuk memperbaiki kemampuan menulis. 

Kemudian, pertanyaan yang muncul adalah gini: "Kayak apa, sih, tulisan yang bagus?"

Pencarian jawaban itu panjang banget. Kebanyakan, ketika seseorang ditanya seperti itu, yang keluar selalu hal-hal subjektif. Penulisnya harus jujur, lah. Tulisannya mengalir, lah. Page turner, lah. Temen-temen gue yang ada di kalangan blog, ketika menyebutkan seseorang yang tulisannya bagus pun beragam. Ada yang menyebut nama sastrawan, ada yang menyebut penulis fantasi, ada juga yang bilang penulis yang bagus adalah tulisannya tembus di media.

Saat itu, gue masih merasa kalau penulis yang bagus adalah penulis yang jujur.

Ketika seseorang menulis dengan jujur, pembaca bisa merasakannya.

Gatau gue ada sihir apa.

Waktu terus berjalan. Gue masih menulis blog, membaca, dan membedah tulisan-tulisan yang bikin gue kagum. Sampai, gara-gara blog ini, gue bekerja di Ruangguru beberapa tahun lalu.

Ketika menjadi penulis profesional yang bekerja untuk suatu perusahaan, tentu semuanya jadi beda. Apa yang kita lakukan diukur dengan teliti. Ada angkanya, ada indikatornya. Ada ukuran bagus dan kurangnya. Kita harus bisa mengidentifikasi, "Sihir apa yang bikin pembaca bisa merasakan kejujuran penulis."

Lingkungan di dalamnya juga membuat wawasan gue bertambah: gue bertemu penulis-penulis lain. Ada yang peduli pendidikan, ada yang paham bagaimana caranya supaya tulisan kita ada di halaman pertama google. 

Dan ada penulis ngaco yang background-nya Kehutanan sendirian.

Di postingan ini, gue mau share jawaban dari pertanyaan itu. Tentu, ini hasil dari pengetahuan gue selama ini aja, baik dari baca berbagai buku penulisan, ngobrol, riset, bekerja bertahun-tahun, dan sebagainya.

Kayak apa konten tulisan yang bagus?

Untuk membuat konten tulisan yang bagus, kita perlu menumpuk tiga diagram venn:

Satu. Diagram venn Manfaat

Dua. Diagram venn Inspirasi

Tiga. Diagram venn Empati

Pertemuan ketiga diagram venn ini yang disebut konten tulisan yang bagus. Sederhananya, konten tulisanmu bagus kalau ia bermanfaat menginspirasi, dan punya empati.

Ketiga variabel ini yang menjadi patokan seberapa bagus konten tulisanmu. Tentu, kamu boleh-boleh aja tidak memilih salah satu, atau ketiganya sekaligus. Kamu menulis semaumu atau demi kepuasanmu sendiri. Gue juga masih sering begitu. Dan itu sah-sah aja. Tetapi, ketika kamu melakukan kegiatan menulis sebagai hal yang dikerjakan secara profesional, tiga hal ini tidak bisa dilupakan begitu aja.

Hal menarik lain, di era sekarang, kata Ann Hadley, di Everybody Writes, "Storytelling udah nggak begitu penting. Yang lebih penting adalah menceritakan kisah nyata dengan menarik."



Gimana kita bisa mengemas true story dengan oke dan mengasyikkan, sesuai dengan target pembaca kita.

Persoalannya sekarang, gimana cara membuat tulisan yang bagus?

Di buku itu, dikasih tahu 12 langkah gampang yang bisa kita lakukan. Ingat ya, ini bukan teknik menulis. Melainkan langkah keseluruhan yang mesti dilakukan penulis supaya tulisanmu bagus:

1. Tentukan Tujuan.

Orang seringkali terburu-buru menulis untuk punya draft pertama yang bisa diedit. Padahal, yang lebih penting adalah mengetahui apa yang mau kita sampaikan. Argumen apa yang mau kita kasih ke pembaca tulisanmu. Cari tahu dulu what you want to write ketimbang how you want to write. 

Inilah mengapa industri kita seringkali salah. Mereka menganggap pekerjaan penulis bisa dibayar murah karena berpikir menulis itu gampang. Semua orang bisa menulis, itu benar. Tetapi, belum tentu semua bisa menulis dengan bagus.

Pekerjaan menulis bukan sekadar menekan tuts keyboard dan menjadikannya artikel. Dia lebih dari itu. Ada pemikiran sebelumnya, ada riset yang perlu dilakukan. Ini yang para pemberi kerja tidak sadar. Maka, sering dia bertanya: "Lo bukannya nulis, kok bengong-bengong depan jendela sambil ngopi?"

"Think before you ink".

2. Reframe.

Setelah tahu hal yang mau disampaikan, ubah sudut pandangmu. Saat ini, libatkan pembaca ke tujuan tadi. Cara paling sederhana adalah dengan menanyakan, "Terus kenapa?" ke tujuanmu tadi.

Contoh: tujuan -> memberi tahu cara menulis yang bagus

terus kenapa?

karena banyak orang yang masih bingung gimana caranya.

terus kenapa?

dia bisa meningkatkan kemampuannya.

terus kenapa?

ketika orang ini pengin kerja sebagai penulis profesional, dia bisa melakukannya dengan terukur. Dia juga jadi tercerahkan bahwa penulis sepatutnya dibayar dengan harga wajar, karena banyak aspek yang ternyata perlu dikuasai.

Dari sini, kamu jadi punya bayangan tentang seperti apa tulisanmu nanti. Ketika melibatkan pembaca, kamu jadi punya sense lebih. Kamu gak cuma menyebar poin tentang "Gimana, sih, cara nulis yang bagus", tetapi benaran memahami posisi pembaca sebagai orang yang ingin meningkatkan kemampuan menulisnya.

3. Cari Data dan Contoh Nyata

Cari hal-hal di luar sana yang berhubungan dengan tulisanmu. Ini supaya pembacamu percaya kepada tulisanmu. Bahwa apa yang kamu ceritakan itu benaran real. Entah itu penelitian, pengalaman orang, atau video.  Entah itu grafik, data statistik, komik, atau lawakan dan kisah orang lain.

Kamu, bahkan bisa menjadikan pengalaman hidupmu sebagai sumber tulisanmu sendiri.

4. Pilih Jenisnya

Sekarang, pikirkan bagaimana kamu mau menyampaikan tulisanmu. How-nya. Apa yang paling cocok terhadap poin-poin sebelumnya. Apakah tulisanmu akan berbentuk "how to", atau "listicle" atau "cerita naratif". 

Iya, sampai sini kerjaan kita masih mikir aja, belum nulis.

5. Tulis untuk Satu Orang

Dari dulu gue selalu bilang, nggak ada yang bisa mengalahkan kedekatan antara penulis dan pembaca. Dibanding film atau radio, misalnya. membaca adalah kegiatan yang dilakukan seorang diri.

Kita bisa menonton film rame-rame di bioskop. Atau mendengar radio bersama-sama di dalam mobil. Tetapi, kita cuma membaca sendirian. Kegiatannya adalah menyampaikan pesan dari satu orang (penulis) ke satu orang (pembaca). 

Maka, biasakan untuk menulis untuk satu orang.

Berikan pengalaman yang seperti itu. Gunakan kata kamu, anda, atau apapun yang bersifat personal untuk satu orang saja. Hindari mengisi tulisanmu dengan "Eyo what's up guys. Apa kabar kalian?" 

6. Tulis Draft Satu (Ini Pasti Jelek, Rapopo)

Ya, kita memasuki tengah poin dan baru mulai menulis. Artinya apa saudara? Betul, kegiatan berpikir sama beratnya dengan kegiatan menulis itu sendiri.

Di sini, tulis aja draft satu dulu. Artinya, kamu menumpahkan segala apa yang ada di kepalamu. Hasilnya memang pasti jelek, rapopo. Nanti bisa diedit.



7. Tinggalin Tulisanmu

Tinggalin dulu tulisanmu. Pokoknya, jangan pikirkan apapun tentang tulisanmu. Fungsinya, supaya kamu melepas mental state sebagai orang yang bikin tulisan barusan.

Seberapa lama seseorang sebaiknya meninggalkan tulisan draft satunya? Tergantung. Ada yang satu hari, ada yang lebih, ada yang kurang. Intinya, kamu boleh kembali ketika sudah bisa memisahkan diri sebagai penulis. Sehingga, ketika mengedit, kamu jadi tega menebas tulisan jelekmu di draft satu itu.

8. Edit Tulisan

Ketika udah bisa melepas diri sebagai penulis, sekarang pakai kostum editormu. Tega lah. Tebas hal-hal gembel yang ada di draft pertama. Apa itu? Ketidakefektifan, logika yang tidak masuk akal, tanda baca, grammar, dan segala hal lain yang sewaktu dihilangkan, kamu tetap mencapai tujuanmu.

Ingat, menulis adalah tentang menulis kembali. Lakukan terus hal ini sampai kamu cuma mengedit tanda bacanya aja.

9 Kasih Judul yang Catchy

Tentukan judul sesuai dengan tujuanmu. Entah itu untuk memenangkan perlombaan di halaman satu google, entah itu untuk menunjukkan jenis tulisanmu (misal: ingin menunjukkan bahwa itu adalah tulisan komedi).

10. Kasih Orang Lain untuk Mengedit

Kalau punya editor, kasih tulisanmu kepadanya di waktu ini. Diskusi dengannya, dan jangan defensif. Penulis pasti menganggap tulisannya seperti anak sendiri. "Kita tahu apa yang terbaik untuk anak kita!"

Kenyataannya, orang tua cuma ingin yang terbaik untuk anaknya, tetapi tidak benar-benar tahu apa yang terbaik untuk anaknya.

Jadi, biarkan editormu bekerja. Diskusilah. Gontok-gontokan itu hal yang biasa. Namanya juga kerja. Pastikan semuanya terjadi untuk kebaikan tulisanmu. Bukan kebaikanmu sebagai penulis.

11. Cek Keterbacaan

Ketika semuanya selesai, cek keterbacaan tulisanmu secara utuh. Seperti apa kesan pertama ketika orang melihatnya secara utuh? Atau terlalu padat, rapat, dan mengintimidasi? Perlu kah ada gambar di sana? Ada kah yang bisa diganti jadi bullet point? Bagian ini, tentunya kembali ke tujuanmu membuat tulisan ya. Kalau kamu membuat cerpen, mungkin hal ini bisa jadi tidak perlu diperhatikan banget.

12. Publish.

Setelah perjalanan panjang ini, baru, deh, publish tulisanmu. Selamat! Kamu telah bekerja keras--meskipun gak ada yang tahu bahwa prosesmu panjang. 

Tapi tenang, sekarang ada cara gampang memberitahu orang-orang itu bahwa kamu telah melewati 12 tahapan: share aja tulisan ini.

Ingatlah bahwa tulisan yang bagus selalu masuk akal dan punya struktur yang rapi.

Astaga, setelah bertahun-tahun ngeblog, akhirnya beraniin diri buat nulis ginian. Semoga berguna ya! Kalau seru dan pengin tahu hal-hal terkait penulisan, isi komentar aja ya! Siapa tahu suatu saat nanti gue coba bikin, atau kita saling diskusi di kolom komentar! 


Kresnoadi DH,

peace out! \(w)/

Thursday, December 31, 2020

masih ada bulan di 2021.

Ehehehe.

Seru ya tahun ini.

Dimulai dari hal-hal yang bikin kita semangat, lalu dihantam sesuatu yang gak pernah kita duga. Ingat banget gue, malam tahun baru kemarin, gue di kos daerah Tebet. Sambil mikir, "Kampret, kenapa gue baru tahu kalau di kosan ini ada rooftop-nya ya?"

Mau ngeliat, tapi di luar hujan.

Handphone bunyi berkali-kali.

Beberapa ada yang mengabarkan kalau lagi di dekat monas, ada yang ke puncak, ada yang staycation bareng teman satu geng. Katanya, ada konser di daerah kota (?).

Tapi, di luar hujan. Deras.

Petasan menunggu reda. Teriakan, perayaan, ciuman, pindah ke ruangan. Bakar-bakaran, angkat gelas kita bersulang.

Tahun ini seru, kata gue.

Besoknya, banjir.

Dan sisanya, seperti yang kita tahu, adalah sejarah.

Kalau kita liat dari jauh, tahun ini isinya emosi doang. Kecewa, marah, nangis, bahagia karena merasa bangkit, dan lainnya, dan lainnya lagi.

Memang pusing kalau gue, lo, kita, yang cuma individu ini, mikirin negara. Mikirin kaum-kaum lain yang begini dan begitu. Mikirin bisnis yang hancur terpuruk. Mikirin kenapa es di antartika mencair terus. Mikirin kok banyak banget sampah di laut. Ada kaos, ada kaleng, ada kura-kura yang hidungnya tertusuk sedotan. Mikirin tabungan buat rumah yang kepake lagi, dan lagi. Mikirin yang harusnya kan begini, harusnya nggak begitu.

Lucunya, hidup gak melulu tentang hal-hal besar.

Kalau kita liat dari dekat, hidup juga tentang menemukan lagu baru dari Discover Weekly. Tentang keluar dari KRL, lalu berhenti sebentar mengambil handphone untuk memotret, karena langitnya lebih cerah dari yang pernah kita kenal. Tentang ngasih makan kucing liar. Tentang ketawa-tawa ngeliat video konyol di Tiktok. Tentang buka-buka Pinterest karena, "Kayaknya kamar gue butuh sedikit perombakan, deh." Tentang kenal orang-orang baru yang sampai sekarang, bahkan belum pernah kita temui.

Lucunya, hidup, kalau diliat kecil-kecil aja, emang suka bikin senyum-senyum sendiri.

Tahun depan rasanya kayak jalan di pantai malam-malam. Bukan waktu yang oke buat update media sosial. Cuma debur ombak, angin kencang, dingin, dan telapak kaki yang menginjak pasir. DI ujung sana gelap. Kita tidak benar-benar tahu ada apa di baliknya, dan itu bikin kita waspada.

Lalu kita duduk, membuat api.

Kita melihat ke atas. Langitnya mendung. Tapi kita tahu di sana ada bintang. Di sana ada bulan. Bara api terbang kecil-kecil di depan. Hangat. Ada ketidakjelasan, tapi hangat.

Tidak ada ledakan petasan. Tidak ada jerit terompet. Tidak ada anak yang berlarian dengan kembang api.

Lalu kita tiduran sebentar, dan 2021 datang.

Gue merasa tenang.

Tahun depan, gue mau kenal orang baru lebih banyak lagi. Gue payah dalam mencari teman baru, tapi gue mau coba. Ada satu dua kompetisi yang mau gue ikuti. Mau belajar menulis dan komedi lebih serius lagi. Mau benaran main youtube dan belajar perkameraan. Mau nemuin lagu-lagu catchy dari Discover Weekly lagi. 

Tahun depan emang gelap dan tidak ketebak, tapi setidaknya gue tahu: masih ada bulan di atas kepala.




ps) mari kita semua tulis hal-hal yang pengin kita lakuin di 2021! denger2 sih makin banyak pamer mo ngapain, makin diaminin warga, makin bisa terwujud!

Friday, December 25, 2020

Membuat Konten: Kualitas Versus Kuantitas

 Apa kabar kawan?

Long time no see. Ke mana aja lo atau you mati senang rasanya bertemu kembali. Selamat, kamu yang tahu kalimat barusan adalah anak 90-an. Yang demen lagu reggae waktu SMA. Woyooo!

Perdebatan soal judul tulisan ini sebetulnya udah basi. Tapi, beberapa waktu belakangan gue baru menemukan pergeseran pemikiran. Asik.

Kalo kalimat barusan gak pake asik, pasti kesannya gue keren banget ya. Apalagi kalau gak sok reggae gitu.

Dateng-dateng bilang, "Buat gue, kuantitas tuh lebih penting dari kualitas."

Beuh, nge-hook dan mantap abis.

Tapi apa daya, isi otak gue terlalu random. Tiba-tiba aja kepikiran, "kayaknya terlalu serius deh kalo langsung bahas topik ini. Gimana kalo tulisan di blog yang udah lama gak keurus ini kita awali dengan lagu Steven and The Coconut Treez?"

Ide bagus, Kresnoadi.

Oh, indahnya dunia overthinking. Buat yang gatau, nih gue kasih lirik lagu dan link videonya di kolom komentar!


Berhubung tulisan ini udah dibuka dengan kerandoman pikiran gue, mari kita langsung ke topik.

--

Ngomongin konten di internet, sekarang, buat gue, kuantitas tuh lebih penting ketimbang kualitas. Apa? Maju lo Chandra Liaw!

Nanti gue yang mundur...

Ketika dahulu gue dan teman-teman diskusi masalah ini, kesimpulannya selalu sama: kualitias harus berada di atas kuantitas. Lebih baik mengeluarkan sedikit konten tetapi bagus, ketimbang banyak tapi bapuk semua.

Persoalan ini terus aja mengganggu gue. Gue merasa itu pemahaman yang betul, tapi juga seperti ada yang mengganjal. Perasaannya kayak lo lagi coli, lalu setelah 7 menit baru sadar kalau dari tadi Nyokap ngintip di jendela. Kalian bertatapan, tanpa bicara. "Anjing, ternyata Nyokap udah balik!" pekik lo dalam hati. Lalu lo membeku. Kamera nge-zoom ke muka. Keringat dingin. Tapi tangan masih di perseneling.

Sampai beberapa minggu yang lalu, gue gak sengaja menonton video Garyvee di Tiktok (iya, Tiktok. Anda tidak salah baca. Dan tidak, bukan video coli).

Di video itu, ada seseorang yang memberikan pertanyaan kurang lebih kayak gini: "Ger, apa alasan lo hijrah?"

Lain woy! Itu Gery Iskak!



Yah, pokoknya dia bertanya soal pentingan mana, kualitas atau kuantitas konten?

Tanpa mikir, Gary bilang kuantitas.

Alasannya, yang gue sepakati adalah, kualias konten itu bersifat subjektif. Sederhana, tapi buat gue masuk di akal. Kalau sebuah kualitas itu sifatnya subjektif dan kuantitas objektif, kenapa kita ribet mikirin hal-hal yang subjektif?

Kalau mau dipikir lebih jauh, apa, sih, definisi dari "kualitas" itu sendiri? Bukan tidak mungkin pengertian kualitas antara pembuat konten dan penikmatnya berbeda. Misalnya, kualitas dalam versi pembuat konten adalah editing-nya yang cihuy. Tapi, apakah penikmat konten menganggap video yang berkualitas itu yang editing-nya keren? Belum tentu. Bisa aja yang sound-nya jelas, atau ceritanya bagus, atau atau yang lain.

Atau, mari kita bahas soal blog dan tulisan.

Bagi seorang blogger, bisa jadi tulisan yang berkualitas sama dengan cerpen yang njelimet dengan diksi yang sastrawi. Tapi, bisa jadi, bagi pembacanya, tulisan yang berkualitas adalah yang ringkas dan tidak bertele-tele.

Kalau ini kasusnya, pada akhirnya, pemikiran soal kualitas menjadi tidak nyambung. Dan ketika sudah tidak nyambung, ia tidak relevan untuk kita pikirkan.

Sebaliknya, kuantitas menunjukkan usaha.

Katakanlah dalam seminggu orang ini menghasilan 2 tulisan "jelek". Artinya, dalam sebulan ia menyajikan 8 tulisan. Dibandingkan si penulis berkualitas yang dalam sebulan hanya menyajikan satu "tulisan berkualitas" (kecuali output 7 tulisan sisanya sebanding dengan apa yang dia kerjakan selain 1 output tulisan. Misalnya: kebutuhan riset dll, tapi itu pun susah diukur.)

Tentu, bagi orang awam, blogger yang menyajikan 8 tulisan dalam sebulan mempunyai usaha yang lebih keras. Meskipun tidak sebagus tulisan blogger satunya, tetapi lama-kelamaan blogger ini punya karakter: gigih, pekerja keras, dan memiliki etika kerja yang keren.

Persoalannya, tinggal apakah si blogger kuantitas ini mau mendengar dan belajar untuk mengembangkan diri. Sehingga, semakin lama, tulisannya semakin bagus.

Kalau itu terjadi, bukan tidak mungkin di satu titik, kualitas kedua blogger ini menjadi sama.

Karena tidak bisa dipungkiri, ancaman dari orang yang mengagungkan kualitas adalah menjadikannya sebagai permakluman. Lawan terberatnya perfeksionis, dan batu loncatannya ekspektasi penikmat yang sudah menunggu lama.

Lucunya, gue baru menyadari kalau gue, ketika ngeblog, adalah orang yang mendahulukan kuantitas. Entah lagi giat-giatnya menulis, hampir setiap hari gue update blog. Walaupun tulisannya nggak penting semua.

Di sinilah gue sadar kalau gue adalah documentarian.

Ketimbang  membuat konten dan menjuluki diri sebagai content creator, selama ini yang gue lakukan adalah mendokumentasi. Gue membekukan hal-hal yang terjadi di sekitar. Hanya angle dan mediumnya aja yang bermacam-maca. Entah tulisan, foto, atau video.

Pertanyaannya, kalau gue cuma mau mendokumentasi, gue harus bikin kayak apa?

Well, 2021 bakal banyak dokumentasi gak penting yang gue lempar ke internet. Semoga kamu sanggup nangkepnya. \:p/

See ya!

ps) Menurut lo gimana soal si kualitas dan kuantitas ini? Gue mau denger pendapat lo dong. Biar bisa belajar juga.

Wednesday, September 16, 2020

Halo, Masih Ada Orang Di Sini?

Sekalinya tidur cepet, eh jam dua udah kebangun dan gak bisa tidur lagi. Sampai akhirnya subuh, gue ke dapur, bikin susu. Balik ke kamar dan kepikiran, “Udah lama juga nggak nulis di situasi kayak gini.” Gue nyalain laptop, bikin satu tulisan, lalu keinget, “Eh, gue punya blog ya?”

Untung aja password blog ini gak beda sama email yang biasa gue pake. Jadi lah masih bisa login.

Halo, di sini masih ada orang kah?

Ya, gue belum mati. Dan gue harap lo juga. Agak horor sih ngebayangin lo jadi kuntilanak lalu baca post gue sambil gelantungan di pohon pisang. Bisa-bisa gak sadar pas ada orang lewat dan ditampol pake batako kayak video yang viral itu.

Anyway, ke mana aja gue?

Jawab: banyak.

Selain tetap menjadi budak korporat, gue lagi belajar bikin video. Mulai dari video ngeledekin manager kantor gue yang resign ini:

Di awal perkoronaan ini, gue juga diracunin Febri buat beli kamera analog. Gue pikir, seru juga punya kamera analog yang tinggal jeprat jepret. Gak perlu settang setting segala macem. Begitu sampe, saking girangnya langsung gue pakai motret segala hal yang ada di rumah. Dodolnya, gue baru tahu kalau kamera analog itu agak susah dipakai motret di tempat yang kurang cahaya. Pertama kali nyetak, hampir semua fotonya item doang. Ini antara kamera analog gak bisa dipake di tempat gelap, atau rumah gue yang kayak goa.

Beruntungnya, setelah beberapa kali motret, gue lumayan tahu selanya. Gue cuma pake kalo lagi di luar dan siang-siang aja. Gue sempat bikin video motret pakai kamera analog di BSD:

Selain makin kenal sama diri sendiri, tiap orang kayaknya jadi punya pelariannya masing-masing karena korona ini deh. Ada satu momen di mana gue butek banget. Gue mikirin kayak ginian kapan kelarnya, apa yang akan terjadi di masa depan dan hidup gue, dan apakah semuanya bakalan baik-baik aja. Sampai akhirnya gue gelisah sendiri, dan sadar kalau salah satu hal paling menakutkan bagi manusia adalah ketidakpastian.

Dari situ lah gue mutusin untuk kabur. Jalan-jalan sendiri ke tempat sepi sambil bikin video yang bisa menenangkan pikiran. Hasilnya kayak gini:

Ya, gue juga sadar kalo views video gue kalah jauh bahkan mungkin dibandingin sama buatan anak SMP. Cuma, namanya juga nyoba. Paling nggak ada yang dimulai lah. Gue juga sadar kalo... SIAPALAH HAMBA INI WEY! But I am really appreciate if you want to watch my videos. \:p/

Oiya, selain latihan bikin video, gue juga lagi seneng banget main Tiktok. Kayaknya udah berapa kali gue bilang gini ya? Eheheheu.

Tapi percaya deh. Tiktok itu seru banget! Tiktok jadi semacam dunia yang beda buat gue. Setiap buka Tiktok, bawaannya happy aja gitu karena ternyata di luar sana… banyak orang yang ngaconya sama kayak gue. Ngerasa muda aja gitu kalo buka Tiktok (halah).

Demi menjunjung tinggi cara main Tiktok yang baik dan benar (dan harkat serta martabat saya tentunya), gue gak bakalan sebarin akun Tiktok di sini. Coba aja kalo bisa cari hebat lah!

Walaupun gitu, ada juga beberapa konten Tiktok yang gue upload ke Instagram. Kalo mau ngecek, boleh deh ke sana. Gue juga sempat jalan-jalan virtual lalu motret pake screencapture. Ya, di sini Anda bisa lihat seberapa banyak waktu luang gue.

Ke mana lagi gue?

Proyek 25!

Terus terang, gue udah lupa Bab berapa yang terakhir kali gue promoin di sini. Hehehe. Tapi sekarang 25 udah masuk ke bab 4: Hari-hari pada Sebuah April. Tulisan yang formatnya beda karena isinya dialog semua.

Sempat mentok di situ karena kerjaan kantor, lalu akhirnya nulis satu cerpen sebagai pemanasan buat lanjut ke Bab berikutnya.

Cerpen gue judulnya 2042020 bisa dibaca gratis di sini: https://karyakarsa.com/keribakeribo/2042020

Beberapa review dari 2042020:



Hmm apalagi ya? Bingung juga nih nulis apa. Kok malah baru kerasa ngantuknya sekarang. Hhhh. Kayaknya butuh tidur dulu deh sebelum masuk ke jam kantor. Pokoknya makasih banyak buat yang masih kepo atau cari tahu tentang apa yang gue bikin (walaupun gue bikinnya mencar-mencar di sana sini). Hehehe. Hope y’all still healthy and stay safe! See ya later! \(w)/

 

Kresnoadi DH,

Signing out.

Tuesday, July 21, 2020

Satu Tarikan Napas, Rasakan, Lalu Satu Lagi


Momen fucked up-nya adalah ketika kita bangun dari kasur, pikiran kusut, seakan tidak tahu mau melakukan apa, tidak punya tujuan hidup, dan jauh, di dalam kepala kita, saat itu kita merasa sedang terkurung.

Mari kita tunjuk corona sebagai biang keladinya.

Semua percoronaan ini membuat satu roller coaster besar di hidup kita. Ada saatnya gue merasa ini jadi tempat merayakan diri di dalam markas. Dengan semua kesoliteran ini. Dengan semua kebebasannya, keterpisahan, semua jarak di antara setiap orang. Ada saatnya gue merasa ini menjadi momen ternyaman karena tidak perlu berdekatan dengan siapa-siapa. Namun, ada saatnya gue merasa ini semacam penjara. Dikurung dalam sebuah ruangan kecil penuh ketidakpastian, sementara pikiran berkeliaran sendirian.

Kemudian kita jadi sadar: dalam hal-hal sepi, suara kita selalu jadi yang berteriak paling lantang. Terkadang itu membuat kita jadi lebih mengenal diri sendiri. Mengobrol dalam hati, memikirkan hal-hal yang tidak bisa dibicarakan orang lain. Tetapi, di waktu yang lain, ia bisa jadi pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan. Atau sekadar pikiran gelap yang diam-diam mengerogoti diri kita.

Situasi saat ini membuat akhir pekan terasa tidak sama lagi. Hari-hari bebas justru membuat kita berpikir lebih keras tentang hal-hal apa yang harus kita lakukan. Musim kemarau tidak sama lagi. Jam kosong tidak sama lagi. Mungkin ini menyadarkan gue bahwa sebetulnya gue tidak sesuka itu dengan kesendirian.

Setiap dari kita pun berusaha mencari pelariannya masing-masing. Ada yang memasak; membeli bahan baku, mencincang daging, mencuci sayur, mengiris bawang, menuangnya ke penggorengan. Bunyi minyak panas, aroma bawang setengah gosong, asap yang memenuhi dapur, kita jadi menikmati prosesnya. Ada yang berkebun. Memesan benihnya di toko online, mengeruk tanah, memegangnya, menggenggamnya, meliatkannya, mengisi pot demi pot, menusukkan jari telunjuk untuk membuat lubang, memasukkan benih, menyiramnya setiap pagi dan sore. Tiap pagi dan sore. Melihat daunnya hijau dan kecil, dan hijau dan kecil dan basah. Kita jadi menikmati prosesnya. Kita semua mencari kebahagiaan-kebahagiaan kecil dari keterpisahan ini.

Gue? Udah banyak hal random yang gue lakukan untuk menghibur dan mengisi waktu. Mulai dari beli kamera analog dari Febri, bikin akun youtube dan belajar membuat video, mainan Tiktok, menanam sayuran, memasak, mengecat rambut (yes, you read it), sampai memotret di tempat-tempat yang tidak banyak manusia.

Lalu, pada momen itu gue melihat semuanya.

Mobil-mobil di jalan raya. Penjual sekoteng. Orang-orang bermasker. Para pesepeda itu. Lampu lalu lintas. Dedaunan yang bergoyang. Layang-layang yang mengudara. Awan yang bergerak. Air danau yang bergemericik. Dan gue yang duduk sendirian. Gue menarik napas, menyesap kopi yang gue bawa dari rumah.

Kenyataannya, apapun yang ada di dalam kepala gue, semua kekhawatiran ini, bumi akan tetap bergerak. Dan paling tidak, itu memberitahu gue bahwa semuanya baik-baik saja. Situasi sekarang banyak melahirkan patah hati, tapi kita perlu bertahan. Situasi sekarang banyak melahirkan kekacauan. Di dalam pikiran, dalam tembok-tembok sempit kos-kosan pinggiran Jakarta. Dalam bangsal-bangsal rumah sakit. Tapi kita perlu bertahan. Momen ini akan mengubah banyak hal, tapi kita perlu bertahan.

Lucu bagaimana makhluk sekecil itu bisa berpengaruh sangat besar. Orang-orang berdebat, terpecah belah, manusia jadi sensitif. Tapi, biar bagaimanapun, kita perlu bertahan. Bayangkan orang yang pertama kali menemukan cara berpelukan. Mereka mencoba berbagai cara; menempelkan sikut, mengaitkan kaki, saling menggesek ubun-ubun sampai akhirnya... ah. kita coba tempelkan saja badan kita sambil saling mengusap punggung. Lalu otak melahirkan dopamin yang membuat kita bahagia.

Lalu, bayangkan pencarian-pencarian itu terjadi lagi karena situasi sekarang. Cara kita mengirimkan afeksi dari jarak jauh. Paling tidak, di kepala gue sendiri, percobaan-percobaan itu menimbulkan sedikit tawa.

Karena kita cuma perlu bertahan. Pelan-pelan saja. Satu tarikan napas, rasakan. Lalu satu tarikan napas lagi.