Tuesday, July 21, 2020

Satu Tarikan Napas, Rasakan, Lalu Satu Lagi


Momen fucked up-nya adalah ketika kita bangun dari kasur, pikiran kusut, seakan tidak tahu mau melakukan apa, tidak punya tujuan hidup, dan jauh, di dalam kepala kita, saat itu kita merasa sedang terkurung.

Mari kita tunjuk corona sebagai biang keladinya.

Semua percoronaan ini membuat satu roller coaster besar di hidup kita. Ada saatnya gue merasa ini jadi tempat merayakan diri di dalam markas. Dengan semua kesoliteran ini. Dengan semua kebebasannya, keterpisahan, semua jarak di antara setiap orang. Ada saatnya gue merasa ini menjadi momen ternyaman karena tidak perlu berdekatan dengan siapa-siapa. Namun, ada saatnya gue merasa ini semacam penjara. Dikurung dalam sebuah ruangan kecil penuh ketidakpastian, sementara pikiran berkeliaran sendirian.

Kemudian kita jadi sadar: dalam hal-hal sepi, suara kita selalu jadi yang berteriak paling lantang. Terkadang itu membuat kita jadi lebih mengenal diri sendiri. Mengobrol dalam hati, memikirkan hal-hal yang tidak bisa dibicarakan orang lain. Tetapi, di waktu yang lain, ia bisa jadi pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan. Atau sekadar pikiran gelap yang diam-diam mengerogoti diri kita.

Situasi saat ini membuat akhir pekan terasa tidak sama lagi. Hari-hari bebas justru membuat kita berpikir lebih keras tentang hal-hal apa yang harus kita lakukan. Musim kemarau tidak sama lagi. Jam kosong tidak sama lagi. Mungkin ini menyadarkan gue bahwa sebetulnya gue tidak sesuka itu dengan kesendirian.

Setiap dari kita pun berusaha mencari pelariannya masing-masing. Ada yang memasak; membeli bahan baku, mencincang daging, mencuci sayur, mengiris bawang, menuangnya ke penggorengan. Bunyi minyak panas, aroma bawang setengah gosong, asap yang memenuhi dapur, kita jadi menikmati prosesnya. Ada yang berkebun. Memesan benihnya di toko online, mengeruk tanah, memegangnya, menggenggamnya, meliatkannya, mengisi pot demi pot, menusukkan jari telunjuk untuk membuat lubang, memasukkan benih, menyiramnya setiap pagi dan sore. Tiap pagi dan sore. Melihat daunnya hijau dan kecil, dan hijau dan kecil dan basah. Kita jadi menikmati prosesnya. Kita semua mencari kebahagiaan-kebahagiaan kecil dari keterpisahan ini.

Gue? Udah banyak hal random yang gue lakukan untuk menghibur dan mengisi waktu. Mulai dari beli kamera analog dari Febri, bikin akun youtube dan belajar membuat video, mainan Tiktok, menanam sayuran, memasak, mengecat rambut (yes, you read it), sampai memotret di tempat-tempat yang tidak banyak manusia.

Lalu, pada momen itu gue melihat semuanya.

Mobil-mobil di jalan raya. Penjual sekoteng. Orang-orang bermasker. Para pesepeda itu. Lampu lalu lintas. Dedaunan yang bergoyang. Layang-layang yang mengudara. Awan yang bergerak. Air danau yang bergemericik. Dan gue yang duduk sendirian. Gue menarik napas, menyesap kopi yang gue bawa dari rumah.

Kenyataannya, apapun yang ada di dalam kepala gue, semua kekhawatiran ini, bumi akan tetap bergerak. Dan paling tidak, itu memberitahu gue bahwa semuanya baik-baik saja. Situasi sekarang banyak melahirkan patah hati, tapi kita perlu bertahan. Situasi sekarang banyak melahirkan kekacauan. Di dalam pikiran, dalam tembok-tembok sempit kos-kosan pinggiran Jakarta. Dalam bangsal-bangsal rumah sakit. Tapi kita perlu bertahan. Momen ini akan mengubah banyak hal, tapi kita perlu bertahan.

Lucu bagaimana makhluk sekecil itu bisa berpengaruh sangat besar. Orang-orang berdebat, terpecah belah, manusia jadi sensitif. Tapi, biar bagaimanapun, kita perlu bertahan. Bayangkan orang yang pertama kali menemukan cara berpelukan. Mereka mencoba berbagai cara; menempelkan sikut, mengaitkan kaki, saling menggesek ubun-ubun sampai akhirnya... ah. kita coba tempelkan saja badan kita sambil saling mengusap punggung. Lalu otak melahirkan dopamin yang membuat kita bahagia.

Lalu, bayangkan pencarian-pencarian itu terjadi lagi karena situasi sekarang. Cara kita mengirimkan afeksi dari jarak jauh. Paling tidak, di kepala gue sendiri, percobaan-percobaan itu menimbulkan sedikit tawa.

Karena kita cuma perlu bertahan. Pelan-pelan saja. Satu tarikan napas, rasakan. Lalu satu tarikan napas lagi.


Saturday, July 4, 2020

balesin komentar dan video lanjutan Ini Gue Ngomong Apa Sih?


Karena baru sempat ngoprek blog lagi, gue mau nyembah orang-orang yang masih buka blog ini. Komentar-komentar aja udah gak gue cek lagi. Huhuhuu maafkeun. Oleh karena itu, postingan ini gue dedikasikan untuk menaruh komentar orang-orang.

Kita mulai dari postingan gue tentang video Memori:

rahul syarif June 13, 2020 at 8:17 AM

Setelah dipikir-pikir, ternyata saya juga tipe orang yang senang dokumentasi. Senang nulis dan selalu dipercaya menjadi seksi dokumentasi sekolah. Terlebih lagi, melihat arsip blog dan album foto memang punya energi sendiri. Semacam bicara sama diri yang dulu, terus kasih wejangan,"kamu dulu itu bodoh yah, deketin cewek ngga pernah mau bilang." Hehehe.

Tanggapan:

Kayaknya emang yang seru tuh kayak gitu ya? Terkadang gue ngebayangin masa gue kecil, lagi belajar jalan, lalu orangtua ngerekam atau motret pakai kamera seadanya. Gak perlu yang skillfull, atau tingkat cinematografi super mantab, tapi begitu dia liat lagi rekaman itu, perasaannya tetap sama: deg deg ser.

Buat bagian terakhirnya, gue mau nambahin:

"Ya, Anda bodoh, Rahul. Meskipun nama Anda seperti nama tokoh dalam film India, tapi anda tidak bisa deketin cewek. Bodoh sekali." *geleng2 dewasa

Agsn! June 20, 2020 at 1:44 AM

saya pikir-pikir, sepertinya salah satu alasan saya untuk menulis di blog adalah untuk mendokumentasikan juga sih ya. pokoknya kalau sudah tidak kuat menahan di pikiran, langsung aku tulis aja di blog, dan setelah selesai nulis di blog pikiran rasanya kayak kerefresh gitu, kalo memori hape yang baru diclear chache dari yg memori terpakai 90% jadi kembali ke 50%. enteng rasaanya

saya sepakat nih dengan tulisan bang kresnoadi beserta rambutnya. top!

Tanggapan:

Wah, iya bener juga sih ini. Mungkin, mungkin ya, karena di momen itu kita merasa mampu buat “Oke, ini akan gue ingat. Ini akan gue ingat.” Jadi kayak ada pr ke otak gitu gak sih? Ketika si memori itu udah kita tumpahin ke medium lain (tulisan/foto/video), kita jadi nggak punya kewajiban untuk nginget lagi. Makanya jadi serasa lebih plong deh. \:p/

Kalau boleh jujur, sebetulnya hal-hal kayak gini aja yang akhirnya ngebuat gue bikin video Memori. Soal kemampuan editing dan lainnya, dan lainnya lagi, gue masih harus belajar banget sih. Semoga aja seiring berjalannya waktu gue bisa makin bagus. Ehehehe.

Oke, markinjut ke postingan video Ini Gue Mau Ngomong Apa SIh part 1

--

Farih Ikmaliyani 5 days ago

Baru 30 detik; lo mabok ya pas bikin video ini? wkwk.

Sebentar, kayaknya gue familiar deh sama komentar ini…

Farih Ikmaliyani June 28, 2020 at 3:50 PM

Gue udah nanya di youtube. Gue mastiin lagi coba, itu lo mabok Di?

Tanggapan:

INI NGGAK DI YOUTUBE NGGAK DI BLOG KOMENNYA BEGINI YA ALLAH. Nggak, nggak mabok. Cuma agak kebanyakan micin aja...

Haris Firmansyah 1 week ago

Tentang salat itu saya merasakan keresahan yang sama. Btw, Adi agamanya apa?

Tanggapan:

Heey! Hafalkan surat Al Kautsar! Cuma 3 ayat lho… dan lebih indie dari Al Ikhlas. Hehehe.


Satriyo Hutomo 1 week ago

Wkwkwkwkwk Mampos kena zonk kakak

Tanggapan:

Jadi gini, di video itu gue ngomongin soal keluarga kakak gue yang datang ke rumah selama satu minggu penuh di masa karantina. Gue ngeledekin dia dan sewaktu gue mandi, gue mencium bau tai manusia… yang ternyata popok keponakan gue digeletakan di depan pintu kamar mandi.

LAH INI KOK MALAH ABANG GUE KOMEN?

Jadi gini rasanya ngomong di belakang terus kegep orangnya… Huhuhu. Keren lho mas anakmu ganteng!

--

Lanjut ke postingan pindah kosan.

Abu Damar Arif June 30, 2020 at 12:02 PM

Sangat gampang beres-beres pindah kos-kosan, yang susah itu membersihkan kenangannya… #talijiwo

-Sujiwo Tejo

Tanggapan:

Wah gilaaaa ini temen kampus gue! Kalau ada di antara kamu dulu banget baca cerita kampus gue, pasti kenal si Arif ini. Dulu dia penggemar Sujiwo Tejo garis keras, Letto, dan playlist di hapenya adalah lagu-lagu Gramedia. Salah satu orang yang bikin gue suka buku setelah ngeracunin Laskar Pelangi. Oh, those old times.

Kabar terkahir, Arif udah hijrah dan menuju jalan yang lebih baik. Gue? Tentu terperosok ke dalam kesesatan.

CREAMENO July 2, 2020 at 3:20 AM

Selamat say goodbye sama kosan, mas Adi 😁

Tau banget rasanya harus packing sambil pilah-pilih barang mana yang mau dibawa dan mana yang mau dibuang. Semacam harus memilih berdasarkan kenangannya daripada fungsinya kadang
😂

Tanggapan:

Wah, ini kak eno (bukan eno NTRL) yang belakangan blognya suka banget gue datangin. Buat yang belum tahu, coba cek aja deh di creameno.com. Dia udah menikah dan tinggal di korea. Seru bener! Mana aktif banget ngeblognya.

Bener, mbak. Justru di situ pusingnya. Ketika “Ah, barang gak penting ini dibawa pulang ah!” lalu begitu sampai rumah: “KUTAROH MANAAA! :(“ seketika Hasrat pengin beli rumah di BSD muncul (ga nyambung).

--

Well, biar nggak kepanjangan, kayaknya segitu aja deh yang gue tampilin. Makasih buat yang masih suka blog gak penting dan update-nya sesuka hati ini ya! I appreciate you a lot! \(w)/

Terakhir, gue mau masukin video lanjutan dari Ini Gue Mau Ngomong Apa Sih? yang kemaren:

--

Last but not least, gue mau kasih tahu kalau besok, bab 4 buku 25 gue akan tayang di Karyakarsa. Sampai sekarang, gue masih punya problem: nama karakter cewek. Gue masih kurang cocok sama nama yang sekarang gue pakai. Kalau temen-temen ada yang punya masukan, silakan komen yaa. Kalau namanya gue pakai, nanti akan gue kontak dan dikredit kook! \:p/

Ciayoo!

 

Tuesday, June 30, 2020

204

keluar kamar kos


Buat orang yang gak suka bergaul dan malas ke mana-mana ini, kamar itu udah kayak markas. Semacam shelter suci yang tidak bisa gue tunjukkan begitu aja ke sembarang orang. Maka, ketika gue memutuskan untuk keluar dari kosan, rasanya kayak ada yang aneh.

Semenjak di rumah aja ini, berkali-kali gue mikir untuk keluar dari kosan. Kayaknya mubazir aja gue bayar tapi nggak ditempatin selama berbulan-bulan. Semangat tidak mau rugi menggelora dalam dada. Pertimbangan gue sederhana: uangnya bisa dipakai untuk hal lain.

Begitu gue ke kosan untuk ngambilin barang, perasaan berat itu muncul.

Sebut gue sentimental. Tapi semuanya datang begitu aja. Kamar kosong dengan sprei biru yang gue lihat pertama kali, kini kondisinya sudah berubah jauh.

Hari pertama masuk kosan gue rayakan dengan membeli sprei baru.

Lalu, satu demi satu barang lain masuk. Kamera dan perlengkapannya, speaker kotak, meja, kursi, dispenser dan galon, karpet, lampu, lampu lainnya, toples dan kopi, toples dan kopi lainnya lagi, sapu kecil yang tidak pernah terpakai, talenan yang “Shit! Gue makan buah aja kali ya biar sehat!” hingga akhirnya gue masukkan ke dalam troli dan berakhir di bawah jemuran. Plastik yang terkumpul dan gue lipat menjadi segitiga. Tempat sampah dari kardus dispenser. Struk belanjaan yang memenuhi laci. Koin-koin bekas kembalian yang bertumpukan.

Pelan-pelan, kamar itu jadi beda.

Dia bukan sekadar tempat untuk tidur. Di situ ada lampu tidur yang menemani gue bangun. Ada gue yang sok narsis dan bergaya di depan kaca tanpa perlu insecure. Ada lembar demi lembar microsoft word yang terisi cerita. Ada episode-episode podcast yang diunggah. Ada melodi yang bersahutan. Ada pikiran yang melayang-layang. Ada “I love you too.”. Ada “Aku nggak mau bahas ini sekarang.” Ada kekecewaan yang bergeletak. Ada marah yang berantakan. Ada kangen yang disembunyikan. Ada kangen yang ditumpahkan. Ada suara-suara samar di balik bed cover.

Gue mengemas barang-barang. Dan di sini ironisnya. Saat meninggalkan kamar kos, kita seperti dipaksa untuk memilih: mana kenangan yang layak dibawa pulang, dan mana yang sebaiknya kita tinggal. Sobekan tiket bioskop gue masukan ke kantung plastik, bersama tumpukan struk belanja yang tintanya sudah pudar. Karcis KRL? lempar ke plastik pembuangan. Laporan pemeriksaan dokter semasa pneumothorax dahulu? Bawa pulang. Jepit rambut patah? Lempar. Milo oleh-oleh? Masukin. Sendal jepit? Buang. Kartu SIM yang masa berlakunya sudah habis? Pungut kembali. Pot bunga berbentuk Groot? Letakkan di pinggir jendela. Mudah-mudahan dia tumbuh dan bahagia.

Sekarang, kamar sudah kembali seperti saat gue datang: lantai bersih tanpa karpet. Tempat tidur dengan sprei biru. Gue mengontak mbak Nur, penjaga kosan. Matanya berkaca-kaca, entah betulan entah gue yang terlalu terbawa perasaan aja. Katanya, belakangan banyak anak kos yang keluar karena pandemi.

Kata Timothy Goodman, hidup adalah soal merasakan berbagai pengalaman di muka bumi. Seperti halnya memasak, kita mencicipi berbagai rasa di dunia ini. Menariknya, dalam hidup, kita tidak tahu makanan seperti apa yang dihidangkan ke atas meja. Terkadang rasanya bisa aneh, atau hambar, atau malah lezat dan bikin kita terbayang-bayang sampai keesokan harinya. Tapi, itulah esensi sebenarnya dari hidup: merasakan. Buat gue, hidup bukan soal dulu-duluan menghabiskan makanan atau tentang siapa yang berhasil makan lebih banyak. Melainkan bagaimana kita bisa merasakan tiap hidangannya.

Pintu kamar 204 ditutup. Gue berpamitan.

Semoga gue mendapatkan penggantinya.

Semoga dia mendapatkan pengganti gue.

Thursday, June 25, 2020

Friday, June 12, 2020

MEMORI dan 25

Di sela menulis untuk Project Ch. ini, gue memutuskan untuk bikin channel youtube.

Teman-teman yang mendukung melalui karyakarsa akan gue tulis di setiap video yang gue buat.

Ya, mungkin ada banyak pertanyaan tentang hal ini. Gue mau coba cerita satu per satu.

Pertama, gue menyadari kalau gue tidak sejago itu dalam urusan menulis. Setelah selama ini menjalani, gue memang suka menulis. Gue suka menceritakan kejadian-kejadian yang sudah lewat, atau pikiran-pikiran random, atau imajinasi liar yang ada di kepala gue melalui tulisan.

Kamu mungkin tahu seperti apa tulisan-tulisan yang gue bikin. Ringan, remeh, secara tema tidak penting, dan respons orang setiap pertama kali membaca tulisan gue adalah, “Oh, tulisan haha-hihi ya?”

Pada kenyataannya, level gue memang cuma di situ. Sebagai pembaca, gue memang membaca berbagai jenis tulisan. Tapi sebagai penulis, posisi gue memang sebatas ini. Gue tidak pernah punya perasaan ingin mempelajari lebih dalam soal tulisan sastra, atau harus baku, atau menggapai tema-tema yang “berat”.

Beberapa tahun yang lalu, gue juga baru mulai mempelajari fotografi. Meskipun tulisan gue di blog jarang ada foto, tapi gue merasakan kepuasan tiap mengabadikan momen-momen yang gue anggap seru. Dengan memotret, gue bisa memperhatikan sekitar. Tukang kue yang berjualan, pesepeda yang beristirahat, laki-laki yang duduk melamun sambil merokok. Seperti halnya menulis, memotret adalah persoalan mengabadikan waktu.

Hal ini gue lakukan sampai Restu, teman kantor gue, membedah konten-konten gue yang ada di internet. Menurut dia, benang merah dari semua konten gue adalah “reminisce”.

arti reminisce

Gue kemudian membuka Instagramblog, dan melihat semuanya lagi. Kata itu semacam berhasil memayungi apa yang gue bikin selama ini. Setelah gue pikir kembali, tujuan gue melakukan semua hal di internet adalah untuk ini: mendokumentasikan.

Gue mungkin melankolis. Gue suka perasaan yang timbul sewaktu membuka album foto lama, bertanya kepada nyokap tentang apa yang terjadi di masa itu, lalu mengingatnya kembali. Gue suka perasaan hangat yang muncul ketika gue dengan random memencet tombol arsip di blog, lalu bergumam sendiri “Ternyata 3 tahun lalu gue begini ya. Ternyata ada kejadian ini ya.”

Sebagai seorang pelupa, dihangatkan dengan ingatan terasa begitu menyenangkan.

Maka, gue membuat MEMORI. Dokumentasi lain dalam bentuk video.

Tentu isi video MEMORI nggak akan penting buat kamu. Nggak ada sisi edukasi, atau gue yang berusaha untuk melucu di sana. Alasan mendasar kenapa bikin itu adalah gue pengin mendokumentasikan memori-memori kecil yang terjadi di hidup gue secara audiovisual. 

Gue pengin entah satu, atau dua tahun, atau ketika gue punya anak nanti, gue bisa menceritakan hal-hal yang terjadi di hidup gue. Bahwa gue pernah melakukan hal tidak penting ini, dan itu, dan lainnya. Gue pengin merayakan kehidupan.

Membuat video juga bikin gue harus belajar lagi. Bagaimana cara merekam yang baik, tata cahaya, menggunakan aplikasi edit. Kalau gue tidak mempelajari itu dari sekarang, kayaknya bakal makin terlambat.

Sebagai ucapan terima kasih, gue akan memasukkan nama kamu yang mendukung melalui Karyakarsa di dalamnya.

Ini adalah MEMORI Vol 1:

--

Jangan takut, gue tetap akan menyelesaikan Project Ch.

Ada bebebrapa updates terkait Project Ch.

Pertama, mulai tulisan ini di-publish, Project Ch. resmi punya nama. Ebook gue yang ketiga ini berjudul “25”. Alasannya akan gue ceritain di tulisan terpisah. Sekarang tebak dulu hayo. \:p/

Kedua, sekarang lagi proses ngontakin ilustrator untuk garap cover. Mudah-mudahan dalam waktu dekat akan selesai.

Ketiga. Dalam waktu dekat, Bab 3 ebook 25 akan selesai.

Terima kasih yang udah support gue. Terharu nih. Srot. Elap tisu.

See you in the next post! (or maybe chapter 3 ebook 25. :p)

 


*) Tulisan ini pertama kali dipublish di Karyakarsa.