Thursday, June 4, 2020

Black Out!

Gue kadang penasaran, ngapain sih orang lari malem-malem di Gelora Bung Karno? Well, gue sadar, sih, sebagai orang kantoran waktu bebas kita cuma tersisa malam hari. Tapi olahraga? Memangnya bikin sehat?

“Jadi kak Adi mau ikut nggak?” tanya Ratu di kantor.

“Duh, males banget gue…”

“Katanya Anya Geraldine suka lari di GBK lho tiap rabu!”

“…males banget deh kalo punya badan yang nggak bugar!”

Pulang kantor, gue bareng temen-temen yang lain nebeng mobil Ratu ke GBK. Setelah kena pneumothorax, gue emang nggak pernah olahraga lagi. Mumpung obat gue udah mau abis, ini jadi olahraga pertama yang bakal gue lakuin. Gue agak inget pesan dokter Christoph sewaktu kontrol terakhir kali.

“Ingat, Di. Kamu itu kena paru-parunya. Jadi coba olahraga yang membantu pernapasan dan kardio. Kalau nggak bisa, paling nggak liatin Anya Geraldine lah.”

Oke. Semangat gue udah membara. Gue gak boleh kalah sama temen-temen yang fit dan punya stamina tinggi. Kami masuk dari gate 5, lalu ketemuan sama Gani dan Ndek di parkiran. Tidak ingin terlihat cemen sendiri, gue melakukan operasi pemantauan.

“Lo sering Ndek lari gini?” Gue sok membuka percakapan. Basa-basi. “Biasa berapa putaran?”

“Aku paling empat aja, Bang.”

 Hmmm empat pakai aja. Berarti gue bisa lah lebih dari itu.

“Si Gani ini yang dewa.” Ndek menepok pantat Gani.

Gue menutup pintu mobil, mengantongi uang. Berjaga-jaga kalau haus dan pengin beli minum. “Berapa putaran emang kalau elo, Gan?”

“Dia bisa belasan putaran. Gila banget dah!” Si Ndek heboh sendiri. Gani cuma cengar-cengir aja. Gani memang orangnya tinggi dan kakinya panjang.

Sialan. Ini data yang gue kumpulin jadi random banget gini. Jauh banget bedanya dari empat ke dua belas. Di kamar mandi, gue dekatin Fahri. Gue tahu beberapa minggu lalu Fahri juga lari di GBK. Jadi, gue tanya dia aja.

“Gue sih kemaren empat pak,” katanya. Dia ngelenturin kaki di depan kamar mandi. Agak aneh memang dilihat-lihat.

Dari jawaban Fahri, gue mendapat kesimpulan: betis Gani cacat mental!

Melihat rata-ratanya, paling tidak target gue malam ini adalah lari enam putaran. Kami memasuki area GBK, memilih tempat janjian untuk ketemuan, lalu mulai pemanasan masing-masing.

Tengok kanan, tengok kiri. Tengok kanan, tengok kiri. Putar kepala dua kali… lalu gue pengin muntah. Baru pemanasan aja kepala gue udah pusing banget. Perasaan pas sekolah kalo muterin kepala enak-enak aja. Kok sekarang berasa naik roller coaster. Lemah abis. Oke. Gue ganti ke peregangan tangan, meluruskan kaki, lalu bungkuk loncat bungkuk loncat.

Gani udah lari duluan. Sementara Hani, Ratu, dan Fanny berjalan kaki mencari tempat senam. Katanya, di sini suka ada orang berkumpul lalu senam bareng. Cih, ini GBK apa Superindo tiap minggu pagi?

Berdiri di area lari ini, gue baru menyadari kalau… tempat ini gede juga ya. Mulai timbul keraguan. Apa gue sanggup lari enam putaran? Gimana paru-paru gue? Di mana Anya Geraldine? (masih). Oke, bikin plan B: kalau belum enam putaran sudah ada salah satu di antara kami yang istirahat di tempat kumpul, gue bakalan langsung berhenti. Paling tidak gue bukan jadi orang pertama yang berhenti. Gue membayangkan nanti salah satu di antara Ratu, Hani, atau Fanny sudah kecapekan duluan, kemudian gue nyamperin dan bilang, “Eh, lo udah capek?” lalu gue mengajak ngobrol, dan nggak melanjutkan lari. Hihihhi. Aku memang cerdas, bukan?


Gue gak sempet foto, jadi gue kasih foto deket kosan aja ya

 

Gue memasang earphone dan dengarin lagu Barasuara biar semangat dan jedag-jedug. Semua berjalan lancar. Masalah cuma ada di celana gue yang turun-turun karena keberatan hape.

Putaran pertama.

Lho, udah satu putaran aja nih? Pendek juga nih tempat. Atau gue yang emang ternyata terlalu kuat? Hihihi. Selama berlari, gue tadi melihat kumpulan cewek yang melakukan semacam senam. Beberapa ada yang menyusul gue dengan sepeda. Di indomaret, gue juga melihat orang-orang yang memakai sepatu roda sedang beristirahat.

Gue kembali melewati tempat kami janjian. Nggak ada orang.

Putaran kedua.

Keringat mulai bercucuran. Earphone di kuping menjadi basah. Mana ya Anya Geraldine? (KONSISTEN, BANG?)

Putaran ketiga.

Gue udah nggak fokus ke orang lain. Pergelangan kaki gue panas. Tapi gue ingat cerita bahwa Haruki Murakami suka berlari. Gue mepet ke kiri. Ke bagian dalam, biar larinya nggak terlalu jauh.

Putaran keempat.

SUMPAH LOH INI BELOM ADA YANG NYERAH JUGA?

Putaran kelima.

HALO? HANI, RATU, FANNY? APA KABAR? KENAPA KALIAN MASIH KUAT? APA AKU YANG TERLALU WANITA?

Putaran keenam.

Kaki gue mau resign. Dari kejauhan udah terlihat gerbang tempat kami janjian… yang masih kosong. Fahri pengkhianat. Katanya dia cuma kuat empat putaran. Apa ini konspirasi?

Gue udah engap banget. Haus. Telapak kaki panas dan terasa perih ketika diangkat. Sementara indomaret sudah terlewat jauh di belakang. Ratu, satu-satunya di antara kami yang bawa minum entah ada di mana. Sejak putaran sebelumnya, gue udah menurunkan kecepatan lari dan terkadang milih buat jalan.

Gue mutusin buat berhenti di tempat janjian.

TKP, ngambil dari google maps


Baju gue udah basah semua. Saking keringetannya, gue melepas earphone dan menyimpannya di celana. Aneh banget rasanya memakai earphone dengan telinga basah. Degup jantung gue berdetak lebih kencang, seperti genderang yang mau perang. Darah gue mengalir lebih cepat, dari ujung kaki ke ujung kepala. AKU SEDANG INGIN BERCINTA! (Kenapa malah nyanyi?).

Tidak berapa lama gue berdiri melemaskan kaki, Fahri datang. Mukanya pucat.

“Eh, lo udah capek?”

Gue mengangguk, susah bener jawab sambil ngatur napas.

“Beraph… pha puth.. tharan… lo?”

“En…haaammhhh,” jawab gue, sama ngos-ngosannya kayak Fahri.

“Ya udah istirahat dulu deh kita.”

Gue mengangguk lagi. Dalam hati gue bilang: BANGSAAAT! TRIK GUE KENAPA JADI LO YANG PAKE?!

“Minum di siapa, sih?” gue bertanya, padahal udah tahu jawabannya.

Lalu dunia berubah. Gue melihat orang-orang berlari di depan gue menjadi kabur. Pandangan gue, pelan-pelan menjadi oranye dan kemerahan. Menutupi penglihatan gue. Kenapa nih? Gue memejamkan mata. Gelap. Gue membuka mata. Merah. Lalu semakin lama semakin gelap. Kayak gak ada bedanya sama gue merem.

“Ri… Ri…” Tangan gue bergerak ke segala arah, tidak tahu posisi Fahri ada di mana. “Tolong cariin minum, Ri. Gue gak bisa liat apa-apa.”

Sekelebat gue mendengar suara “Lo kenapa?” Lalu Langkah kaki. Lalu “Bentar, Pak.” Lalu langkah kaki lagi yang menjauh.

“Ri?”

Buangsat sekarang gue sendirian kagak bisa liat apa-apa. Gue masih aja melek, tapi semuanya gelap. Apa ini yang orang-orang sebut black out? Sekelebat gue ingat di dekat gerbang ada mas-mas berbaju kuning yang sedang duduk beristirahat. Gue menggapai-gapai gak jelas kayak orang buta.

“Mas! Mas!” gue teriak asal.

Lalu gue mendapat jawaban.

“Mas, ada minum gak? Saya nggak bisa liat nih.”

Ya, gue mengakui pertanyaan itu cukup aneh. Kalau gue ada di posisi mas-mas itu juga gue pasti heran. Apa hubungannya gak bisa lihat sama minum? Kalau jadi dia, paling gue akan jawab: “Nih, kacamata silinder buat kamu.”

Mas-mas ini kemudian membantu gue merebahkan diri. Sekarang posisi gue tiduran telentang pasrah di hadapan mas-mas ini.

“Mas kenapa?” tanya mas-mas. Gue gak tahu ada berapa orang ada di sekitar gue saat ini. Tapi rasanya lebih dari satu.

“Gatau, Mas…” Gue menjawab sekenanya. Lalu gue bilang, “YAK, ANDA KENA PRANK!” lalu manggil teman-teman gue yang bawa kamera di balik pohon.

Kagak lah!

Ujung kaki gue tidak bisa digerakkan. Lalu kram ini merambat ke bagian betis dan pinggang. Setengah badan gue sudah mati rasa.

Sekelebat terdengar suara perempuan berbicara dengan Fahri.

Pengkhianat volume dua! Kenapa dia gak beli air?!

Si perempuan ini kemudian menyuruh gue menutup mata, lalu membimbing gue.

“Ikuti saya ya.” Dia bilang. “La ilaha illalah…”

Kagak anjer!

Dia memegang tangan gue dan membimbing membuat gerakan naik turun dengan posisi telentang. Napas gue juga diatur sesuai dengan gerakan tangan tersebut. Setelah berapa lama, kram gue mulai hilang. Gue mulai bisa merasakan pinggang dan betis. Gue kini bangun, membuat posisi duduk dengan kaki yang diselonjorkan ke depan. Masih mengikuti arahan mbak-mbak supercool ini. Sampai gue coba buka mata dan samar-samar semuanya kelihatan seperti semula.

Di sekeliling gue udah ada Hani, Ratu, Fanny, dan Ndek. Fahri belakangan datang membawa air es, disuruh oleh mbak-mbak macho untuk ditempelkan di bagian tulang punggung bawah gue.

Gue menatap mbak-mbak macho ini. Oh, engkaulah malaikat penyelamat nyawaku. Gue diem doang, gak tahu harus bereaksi gimana. Lalu dia pergi dan gue berterima kasih. Kayak adegan di komik-komik jepang, ketika jagoannya habis menyelamatkan karakter gak penting… yang abis lari di GBK dan kena black out.

“Kak Adi gak pernah pingsan ya?” Ratu nanya, memecah suasana hening.

Gue geleng-geleng. “Kenapa gitu?”

“Kalo pernah pingsan, tadi pasti udah pingsan.” Dia ngejelasin hal yang sungguh bikin makin jelas. Beneran. Makasih loh, Tu.

Kami lalu sepakat buat udahan dan jajan di Go Food Festival. Sampai kemudian, kami baru sadar satu hal: Gani belum ada.

Emang si betis bajingan!

Friday, May 22, 2020

Kenapa Gue Sebel Sama Corona dan Untungnya Layanan Rapid Test

Udah tiga bulan gue mendekam di rumah. Kerja di rumah. Main di rumah. Ngapa-ngapain di rumah. Saking lamanya di rumah, kayaknya gue udah lupa rute-rute jalan deh. Bisa-bisa begitu semua ini berlalu dan gue pengin ke Pondok Indah Mall, gara-gara lupa jalan gue malah nyasar ke Pondok Pesantren. Gue tersesat ke jalan yang lurus.

Kalau rumah gue segede Nia Ramadani sih seru-seru aja (ya, saking gedenya, dia pernah nyasar di rumahnya Ardi Bakrie. Beneran. Nih beritanya: Nia Ramadani nyasar di rumahnya sendiri). Di situ ditulis kalau dia “salah jalan keluar”. Harusnya belok kiri, eh dia ke kanan. Nyasar deh. Lah rumah gue? Kalau pun pintu keluar gue di kiri dan gue ke kanan, paling mentok-mentok nyundul jemuran.

Di berita itu juga tertulis kalau kasur Nia Ramadani berukuran 4 meter. Ini kasur sama kos-kosan gue gedean kasurnya Nia Ramadani. Jadi kepikiran, kasur sebesar itu dipakai untuk apa aja ya? Hmmmm. Pasti dipakai untuk ngegebukin pakai raket rotan dong. Berotot berotot deh tuh tangan. Dengan kasur sebesar itu, Nia Ramadani pasti nggak pernah ngerasain lagi tidur, lalu badan berasa kayak mau jatuh, kaget, dan kebangun sendiri.

“Astaghfirullah! Hampir aja!” sambil nepuk-nepuk dada.

Sumber: https://ragamhandicraftrajapolah.wordpress.com/


Sementara gue? Ya, gitu-gitu aja. Rute perjalanan gue cuma kamar – meja makan – kamar mandi. Di rumah juga gue cuma berdua sama Nyokap. Kalau udah kelamaan di rumah kayak gini, obrolan jadi nggak seru. Berikut adalah cuplikan dialog yang biasa terjadi antara gue dan Nyokap.

Gue: lagi ngapain, Bu?

Nyokap: (mem-pause lagu-lagu jawa dari youtube di hape) Hah?

Gue: Nggak jadi deh.

Nyokap: Sakarepmu!

 

Lah, dia ngegas.

Inti dari segala intinya: gue mulai bosan.

--

Pertama kali kabar corona masuk ke Indonesia, gue lagi di kantor. Di grup divisi kami, salah satu teman kerja nge-share video berisi pengumuman dari Presiden Joko Widodo bahwa ada warga Depok yang positif terjangkit corona.

Virus yang bermula akhir Desember tahun lalu di China, sekarang udah masuk Indonesia. Ketakukan akan penyakit misterius ini mulai nyata.

Situasi langsung chaos.

Berhubung tempat gue bekerja adalah start up yang berbasis pendidikan, kami berbagi tugas. Tim media sosial dan penulis menaikkan tulisan tentang ciri orang yang terkena virus corona dan pencegahannya. Desainer menggambar dan membuat infografik. Beberapa yang lain berinisiatif membeli sabun dan hand sanitizer. Semua sibuk. Satu-satunya yang diam di ruangan cuma telepon di sebelah gue.

Hari itu berlanjut dari riset ke riset. Karena corona, kerjaan gue cuma baca-baca jurnal yang berhubungan dengan virus ini. Mencari tahu apa saja jenis-jenis virus serupa yang pernah muncul. Gimana cara virus ini menyebar. Kayak apa reaksi orang terhadap itu. Sampai gimana penanganan berbagai negara. Gue yang awalnya parno, sekarang mulai bisa lebih santai meskipun tetap waspada. Ternyata benar kata orang, kalau udah kenal, kita jadi nggak grogi. Makanya, ngobrol. Jangan nebak-nebak dari jauh aja.

Fokus, Fulgoso!

Pencarian-pencarian ini membuka mata gue terhadap beberapa hal. Pertama, kenyataan bahwa hidup kita terus berubah dan perubahan-perubahan ini, mulai dari kepadatan penduduk, ekosistem, iklim, global warming, dan teknologi, mau tidak mau juga akan berimbas pada satu hal: penemuan penyakit baru.

Pertengahan tahun lalu, Kelsey Piper menulis bahwa pengaruh urbanisasi dan perubahan iklim akan berdampak pada habitat nyamuk yang meningkat pesat. Artinya, penyakit kayak zika, cikungunya, demam berdarah bakalan makin parah. Masih gara-gara ini, penelitian nature microbiology berjudul Past and Future Spread of the Arbovirus Vectors Aedes aegypti and Aedes albopicus bilang kalau di tahun 2050, nyamuk Aedes aegypti akan menginvasi 19,91-23,45 juta kilometer.

Penemuan yang kedua adalah perilaku warga menanggapi ini. Mulai dari harga masker dan hand sanitizer yang mendadak mahal gara-gara ada penimbun yang bikin kita menghela napas seraya berucap, “Astaghfirullah” sampai penimbun yang meratapi nasib karena maskernya tidak laku dan bikin kita menghela napas sambil, “Astaghfirullah, mampos!”

Ini gue, bukan penimbun

Di era post truth ini, banyaknya informasi bikin kita kalang kabut dan keliyengan sendiri. Pagi hari ada berita kalau corona adalah virus yang bisa disembuhkan dengan minum air panas, lalu sorenya ada berita lain yang membantah. Besoknya, tersebar berita bahwa virus corona adalah buatan elit global. Sengaja dibuat untuk menebar ketakutan. Berita-berita yang semakin dibaca malah semakin bikin stres.

Kebebasan kita, tuh, udah terkekang dengan di rumah terus. Eh, begitu buka hape untuk refreshing, malah makin emosyen.

Saat kayak gini, gue keinget satu kalimat yang pernah ditulis Pandji Pragiwaksono di blognya. “Save the cow,” Dia mengumpamakan kalau kita lagi di jalan, lalu melihat sapi terjebak di lumpur, yang pertama kali dilakukan adalah selametin dulu sapinya. Baru mikir, kenapa si sapi bisa ada di sana? Apakah si sapi begini gara-gara predator? Atau ada orang iseng? Atau sapinya diceburin sama eLiT 9l0B4L? Lih    de   mas ug .

Kan! Tulisan gue jadi ilang-ilangan! Pasti ini ulah elit global yang baca dan mengincar gue!

Seruan PSBB yang setengah-setengah juga bikin kita bingung sendiri. Sebetulnya, boleh nggak, sih, kita keluar? Seberapa ketat seseorang dianggap melanggar PSBB? Kalau di jalan ada operasi penertiban PSBB, seperti apa caranya? Kayak penilangan motor? Penilangan motor bukannya bikin macet yang mana kalo macet berarti dempet-dempet dan dempet-dempet berarti ngumpul dan ngumpul bukannya gak boleh? Apa operasi penertiban ini sengaja diciptakan untuk menebar ketakutan? Biar para pengendara motor dari jauh udah. “Astaghfirullah! Petugas keamanan!” lalu deg-degan dan puter balik? Apakah operasi ini buatan elit global yang menguntungkan 8iLl gAt3S?

Memasuki bulan keempat ini, rasanya kita sudah bergerak sendiri-sendiri. Yang memutuskan di rumah, ya di rumah. Yang berjuang sebagai tenaga medis, membantu di lapangan. Yang merasa ini buatan elit global… install windows bajakan biar bill gates sebel? APA KONTRIBUSI ANDA HEEEEYY?!

Agak menyedihkan melihat orang-orang ini acuh dan menganggap korban sebatas angka-angka yang beredar di internet. Tidak bisa dimungkiri banyak yang pendapatannya berkurang, atau pekerjaannya menghilang, atau pendidikannya terhambat gara-gara ini.

Buat gue, virus ini menelanjangi aspek kemanusiaan. Mempertebal gambaran kita sebagai manusia. Mana yang baik, yang tulus, yang memanfaatkan keuntungan, yang picik, yang pasrah dan nggak bisa berbuat apa-apa. Semua jadi terlihat dengan jelas.

Sekarang, tiap orang cuma bisa membantu sesuai porsinya masing-masing. Berusaha untuk tidak menulari yang lain, dan yang merasa punya gejala terjangkit virus, kamu bisa melakukan rapid test supaya tidak menebak-nebak kondisimu sendiri.


Buat kamu yang ada di Jabodetabek, Halodoc, sebuah start up kesehatan, bisa membantumu untuk melakukan uji layanan rapid test. Caranya gampang banget. Kamu tinggal buka aplikasinya, lalu cek lokasi rapid test drive, pilih waktu dan tempat. Dan tinggal unggah foto KTP (untuk orang dewasa) dan KK (untuk di bawah umur). Hasil pemeriksaannya akan keluar satu hari setelah kamu periksa melalui SMS atau aplikasi. Well, paling nggak ini jadi salah satu alternatif pengetesan yang bisa kamu lakukan. Daripada diliputi rasa takutmu sendiri.

Ngomongin Halodoc, gue pernah kehabisan stok obat untuk paru-paru di rumah sakit. Sementara gue harus minum obat di hari itu, atau gue harus mengulang proses penyembuhan selama enam bulan. Akhirnya, gue coba beli lewat Halodoc, dan ternyata ada. Aplikasinya secara otomatis mencari apotek terdekat yang punya obat yang gue cari. Beruntung banget gue sore itu.

Semoga kali ini dan besok, kita masih punya keberuntungan itu.


Sunday, May 17, 2020

Postingan Random yang Ditinggal-Tinggal


Hari ini gue bangun jam setengah satu siang. Gila. Bangun-bangun kaget sendiri. Nulis ini juga nyawa belum kekumpul. Mata masih kriyep-kriyep.

Yak, baru berapa kalimat di atas tulisannya belum gue lanjutin lagi. Malah nonton youtube, nemu youtube channel orang korea yang isinya vlog kucing dan anjing peliharaan (percayalah, itu youtube channel seru banget!), terus belanja online. Dan sekarang jam berapa? Setengah lima. Postingannya bahkan baru dua paragraf.

Shit. Gue lupa tadi lagi nulis. Setelah nulis paragraf di atas, gue malah tiduran sebentar (punggung gue pegel karena duduk di lantai depan laptop), lalu masukin tanaman ke belakang. Eh tahu-tahu udah buka puasa aja.

Ini gue puasa berasa nge-cheat.

Setelah buka puasa, gue mandi, liat Tiktok, nontonin Vincent dan desta show, dan sekarang baru lanjutin lagi. Bagus. Udah mau pukul 12 malem. Oke, mari kita lanjutkan tulisan ini. *kretekin jari

Gimana keadaannya selama di rumah?

Terus terang, lama-lama gue teler deh. Lo tahu matryoshka? Boneka khas rusia yang di dalamnya ada boneka yang sama dengan ukuran yang kecil dan di dalamnya ada boneka yang sama dengan ukuran yang lebih kecil dan di dalamnya ada boneka yang sama dengan ukuran yang lebih kecil. Lo tahu lah ya maksud gue.


Seminggu ke belakang, kepala gue kayak ada boneka itu. Pikiran gue penuh. Tapi, setiap kali gue mencari tahu apa penyebabnya, yang gue dapat justru pikiran-pikiran lain yang lebih dalam dan kecil. Sampai, ketika gue mencapai pikiran yang paling dalam, gue menemukan kalau isinya… kosong. Udah kayak matryoshka.

Di postingan ini, gue mau ceritain hal-hal nggak penting aja deh.

Satu. Sewaktu pertama kali pemerintah nyuruh buat tinggal di rumah, gue selalu mimpi buruk. Tiga kali berturut-turut gue bangun dengan kaus penuh keringat, sprei yang copot, sampai hape kelempar. Ini antara mimpi gue emang serem, atau gue kalo tidur kayak kuda lumping. 

Mimpi buruk pertama adalah gue jalan di tengah jalan raya yang kosong, berdua sama orang asing. Kami ngomongin soal kematian. Mimpi kedua setting-nya di hotel. Kami berada di semacam family gathering. Orangnya-orangnya dari berbagai kalangan teman kuliah. Di bagian bawah dekat hall, banyak tukang makanan. Mulai dari siomay, mie ayam, gorengan, dan prasmanan kayak di kondangan. Selama di acara itu, berhari-hari gue selalu makan mie ayam. Gue bahkan sering bercanda sama abang yang jual. Anehnya, gue baru sadar belakangan kalau cuma gue yang beli mie ayam. Sampai temen-temen gue bilang kalau di dekat hall itu nggak ada yang jual mie ayam. Abang penjual mie ayamnya ternyata setan dan dia ngikutin gue terus. Pas ngetik ini aja gue merinding sendiri. Mimpi ketiga cerita gue sama Alam. Kami janjian ketemu, lalu gue sadar kalau ada yang aneh dari wajahnya. Begitu gue tanya, Alam bercerita kalau duitnya abis. Di sini gue curiga. Alam tuh Engineer di Tokopedia, yang gue tahu duitnya banyak. Begitu gue desak, dia bilang kalau dia abis beli 8,2 kilogram tengkorak manusia. Harganya 20 juta. Dan sekarang Alam bingung, tengkorak sebanyak itu mau diapain. Kalau dibuang gitu aja, pasti bakal horor dong. Kebayang nggak sih ada pemulung lagi ngubek-ngubek sampah, lalu ngeliat tengkorak manusia? Bisa-bisa kepalanya dilobangin terus dijadiin asbak (lho).

Gue versi di dalam mimpi merinding. Katanya, kalau dia ngembaliin tengkorak itu ke penjual, dia bakalan kena denda. Maka, demi Hasrat protes, gue nemenin Alam naik sepeda menuju kantor ecommerce ini. Eh, begitu sampai alamat kantornya, tempatnya kayak TMII yang nggak keurus. Lahan kosong, tembok retak-retak, bibir pecah-pecah. Di situ gue minum adem sari ketakutan sampai akhirnya bangun.

Dua. Sebagai salah satu alternatif mengisi kebingungan di rumah, gue beli berbagai bibit dan berkebun. Well, sebetulnya bukan yang berkebun gimana sih. Saat ini, gue menanam bunga matahari, selada, caisim, dan cabai. Gara-gara kegiatan tidak penting ini, Nyokap jadi kepingin juga. Dia mau ikutan untuk nanem kangkung dengan teknik hidroponik. Gue baru beli peralatan hidroponiknya tadi sore. Jadi, kita liat nanti bakalan kayak apa. Mudah-mudahan ada yang bisa ditumis.


Tiga. Sewaktu Nyokap bersih-bersih lemari beberapa hari lalu, dia menemukan surat dari Bokap. Surat itu ditulis dari Padang pada 17 Juli 1992, saat gue belum lahir dari abang gue lagi gemes-gemesnya. Tintanya masih rapi meski kertasnya agak menguning. Gue tidak tahu isi surat dari Bokap secara detail, soalnya ditulis pakai bahasa jawa. Gue cuma tahu beberapa bagian kayak nanya keadaan abang gue, tentang Ciputat, lalu ngasih tahu kalau di Padang, Bokap dikasih makan sahur dan berbuka dari kantor. Ya, gue sendiri agak gimana gitu karena baca surat itu ketika bulan puasa juga.

Empat. Jam tidur gue berantakan abis. Seharusnya dengan di rumah melulu, hidup kita jadi lebih sehat dan teratur. Tapi buat gue malah semakin nggak jelas. Terlebih di bulan puasa ini. Kurang lebih kayak gini rutinitas gue: jam 2 tidur – jam 4 sahur – jam 6 tidur – jam 10/11 bangun dan kerja – jam 7 ketiduran – jam 9 kebangun – lalu ulangi lagi. Jadwalnya akan semakin aneh kalau gue memaksakan nggak tidur sehabis sahur. Gimana sih caranya bikin ini jadi bener?

Lima. Selain channel peliharaan (pet-log), gue juga nemu beragam channel youtube lain yang seru. Salah satunya Valspire Family ini. Gile, cinematografinya keren banget. Sederhana, tapi mentah dan kerasa hidup banget. Lo harus nonton! Selain itu, saking gabutnya (atau kangennya keluar rumah), di suggestion youtube gue muncul video orang jalan-jalan selama dua jam di New York pas hujan. Tinggal gue fullscreen, lalu berasa lagi jalan di luar deh. Gue juga nemu konsep video yang serupa, tapi berisi orang yang jalan-jalan sambil melakukan street photography. Kayak first point shooter, tapi yang dipegang kamera. Jadi seolah-olah kita fotografernya.

Enam. Salah satu acara internet favorit gue saat ini Vincent and Desta Show with Hesty Enzy. Nggak pernah nggak ketawa lepas kalau udah nonton mereka.  Beberapa kali gue pernah merusuh di kolom komentar bareng Arul Dagul saat mereka lagi live. Kalau nggak percaya, coba aja nonton. Mereka live setiap senin, kamis, dan sabtu pukul 9 malam di youtube channel-nya. Dari mereka gue tahu orang-orang terdekatnya. Mulai dari Iyonk, asistennya Desta, sampai Mukmin, tetangganya Vincent yang kalau ketawa selalu melet. Ya, random abis emang.


Tujuh. Gue udah meng-upload ebook Tunggang-Langgang ke Karyakarsa. Totalnya ada 14 bab dengan 323 halaman. Buat yang belum tahu, Tunggang-Langgang adalah ebook dari kumpulan tulisan gue di tahun 2016. Berisi kumpulan cerita tentang kehidupan di habitat yang salah. Mulai dari kisah horor kampus, kejebak bareng orang yang bau, kegagalan fashion yang berujung naas, sampai cerita tentang ular peliharaan abang gue. Kamu bisa baca di link ini.

Random juga ya kegiatan gue selama di rumah. Terus terang, minggu kemarin gue lagi nggak ada semangat nulis, jadi blog ini dianggurin. Project Ch. juga belum gue pegang lagi. Buku-buku yang gue beli juga belum gue baca lagi. Mudah-mudahan minggu ini bisa lebih semangat lagi. Yosh!

Kalo kamu, udah ngapain aja?

Maafkan postingan yang ditinggal-tinggal ini ya. Mulai nulis pukul setengah satu siang, baru selesai setengah dua pagi. Mudah-mudahan gak pusing bacanya. :p


Sunday, May 3, 2020

Halaman yang Hilang di Bab Kertas di Dalam Amplop


Seperti halnya penulis cupu lain, setiap tulisan pertama yang kita buat adalah sampah. Atau mengutip bahasanya Hemingway: “Every first draft of anything is shit.”

Gue adalah salah satu orang yang percaya kalimat itu. Draft tulisan pertama seorang penulis hanyalah tumpahan isi pikirannya aja. Dalam bab Kertas di Dalam Amplop, misalnya. Gue melakukan pengeditan ulang sampai 4 kali sebelum akhirnya memutuskan untuk “yak, kayaknya ini udah lumayan”.

Di hari yang baik, pengeditan mungkin hanya dilakukan untuk mengubah diksi, atau penambahan unsur komedi, atau penggantian cara penyampaian. Di hari yang sial, seorang penulis bisa saja membaca ulang tulisannya, memblok beberapa halaman penuh kemudian menghapusnya gitu aja. Triska Idekaman, misalnya. Dalam pembuatan buku Cadl, dia menghapus 50 ribu kata tanpa belas kasih.

Sungguh kejam memang kehidupan seorang penulis.

Dalam bab Kertas di Dalam Amplop, hal ini juga terjadi. Meskipun nggak segila itu, tapi ada satu halaman yang gue buang. Halaman ini awalnya ditujukan untuk memberitahu kondisi gue saat pertama kali masuk di start up itu. 

Ini dia halaman yang hilang dari Bab Kertas di Dalam Amplop:

--
Sejak kuliah, gue selalu mengidamkan ruang kerja yang ada biliknya. Entah otak gue terpengaruh film apa, tapi rasanya seru aja punya tempat kerja yang dipisahkan bilik-bilik. Kita bisa menghias meja kerja sendiri. Kalau mau komunikasi pun tinggal datangin bilik rekan kerja tanpa harus menjadi pusat perhatian. Beda kalau kita bekerja di tempat terbuka. Semua gerak-gerik kita akan terlihat. Apalagi kalau kerja sambil pantomim

Sialnya, gue nggak pernah mendapatkan kesempatan itu. Ruangan tempat gue bekerja adalah ruangan yang biasa aja. Cuma ruang dengan meja-meja besar dan kursi hitam yang enak disenderin. 
Pertama kali masuk ke ruangan, posisi di bagian ujung penuh. Sementara meja di dekat pintu masih kosong. Jadi masih sisa 6 orang? Hmmm. Yang datang siang pasti duduk dekat pintu, biar nggak ribet, pikir gue.

Gue menoel perempuan yang belakangan gue tahu namanya Tia. Dia berkerudung dan kacamata dan anak magang RESPEK banget sama dia.

“Mbak,” gue menunjuk bagian meja yang kosong. “Di situ kosong, kan, ya?”

Dia menatap mata gue. Lalu balik ke layar laptopnya kayak nggak ada yang terjadi.

RESPEK, BOS!

Dengan penuh kepercayaan diri, gue jalan ke meja itu. Membuka tas dan keluarin laptop. Anto, orang yang kerja menggunakan komputer, menyetel video dengan suara kencang. Kayaknya lagi meriksa video. Sementara yang lain terlihat sibuk sendiri di depan laptop.

Sementara gue bingung mau ngapain. Gue nangis. Gue pengin punya bilik...

Tahu-tahu pintu dibuka. Cowok berkepala bulat dengan rambut tipis masuk terburu-buru. Dia mengambil laptop di lemari, lalu gerakannya berhenti sewaktu melihat gue.

“Kamu?”
“Iya, saya?”
“Kamu Kresnoadi?”
“Iya saya Kresnoadi.”
“Saya Alvin.”
“Iya mas Alvin.”
“Saya manager di sini.”
“Saya budak di sini.”
“Saya duduk di situ.”
“RESPEK, MAS ALVIN!”

Gue langsung pindah ke kursi di sebelahnya sambil celingak-celinguk nyari kresek yang bisa dipake buat nutup muka. Kenapa nggak ada yang bilang kalo kursi yang gue dudukin itu kursi atasan? Rasanya pengin gue bom aja satu ruangan. 

--
Sekarang udah beberapa bulan gue di kantor ini. Atasan gue udah bukan mas Alvin. Ruangan gue pindah ke ruang L. Ruangan yang gue kasih nama sendiri karena bentuknya L. Gue dapat tempat paling pojok bagian belokan. Sebelah gue Ari. Kita duduk lesehan. Pakai meja lipat. Kadang gue bingung, ini mau kerja atau berangkat pengajian.

--
Sebetulnya gue pengin banget masukin halaman ini. Tujuannya, untuk ngasih tahu kalau gue mendambakan bekerja dengan bilik. Selama ini kan di film-film “pekerja kantoran” selalu diidentikkan dengan bilik-bilik yang memisahkan tempat kerja satu karyawan dengan karyawan lain.

Kenyataannya, selama bekerja gue nggak pernah ngerasain bekerja di bilik. Sebaliknya, pekerjaan yang punya kesan “anak muda” selalu didesain dengan konsep open space—yang mana menghilangkan privasi bekerja. Katanya, sih, konsep open space dibanggakan karena lebih enak untuk berkomunikasi. Sementara buat gue, ada hal-hal merugikan dari tempat kerja open space. Kayak kalau ada karyawan yang diomelin, suasana tegangnya jadi berpengaruh ke satu ruangan besar (KARENA HALO SEMUANYA KAN JADI DENGER YA?! ANDA YANG DIOMELIN KITA YANG PANIK) dan alasan bodoh lain: anak baru bisa jadi kagak tahu di mana tempat duduk atasan. 

Bagian “gue kerja pakai meja lipat” pun gue taruh di paragraf pertama setelahnya. Bagian komedi di awalnya adalah mengganti meja lipat dengan “meja pengajian” yang kemudian gue callback di beberapa paragraf setelahnya.

Setiap pagi, rutinitas gue di kantor kayak gini: bikin kopi, naik ke rooftop, bengang-bengong sendirian, balik ke ruangan, dan mulai ngaji.

“Di, gimana tulisan yang kemarin. Udah kelar? tanya atasan gue.”

“Bentar, Mas. 2 ain lagi.”

Tapi setelah gue baca lagi, seluruh bagian ini nggak berpengaruh apa-apa ke cerita. Jadi mau nggak mau gue pangkas deh. Kalau gue hilangin pun orang tetap bisa mengikuti ceritanya dengan baik. Gue juga bisa ngasih tahu suasana kantor dengan cara yang lebih sederhana.

On the Project Ch. note, sampai saat ini gue masih bingung mau ngelanjutin tulisan di chapter yang mana dulu. Kerjaan di kantor juga lagi lumayan sinting. Jadi sabar ya. Konten selanjutnya gue mau masukin ebook Keriba-Keribo versi revisi, ebook interaktif Teka-teki, dan Tunggang Langgang.

Semoga setelah itu semua gue naikin, tulisan gue buat chapter selanjutnya udah kelar.

See you!
Kasih tahu ya kalau suka konten kayak gini. \(w)/


*) tulisan ini pertama kali dipublish di karyakarsa.com/keribakeribo

Saturday, May 2, 2020

Esai Hari Pendidikan


“Dek, apa itu Zoom?”

Nyokap bertanya ketika gue baru membuka laptop, bersiap untuk kerja. Hari itu Nyokap harus meeting dan, akibat wabah mahanyebelin ini, ia harus melakukannya secara online. Nyokap adalah seorang pustakawan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Usianya sudah lebih 60 tahun.

Selesai menyetel perangkat Zoom di laptopnya, gue kembali duduk. Nyokap mulai mencerocos dengan kencang. Sepertinya ia lupa bahwa di laptopnya ada fasilitas bernama mikrofon. Apa yang ada di hadapan gue kelihatannya sepele, tapi pikiran gue beterbangan. Meski hari-harinya diliputi jurnal-jurnal ilmiah, nyatanya Nyokap berjarak dengan teknologi.

Mungkin sedari kecil kita sudah akrab dengan teknologi. Tapi tidak demikian dengan generasi di atas kita. Di kondisi seperti ini, orang-orang seperti Nyokap harus bekerja lebih keras. Bagi sebagian kaum, teknologi adalah mukjizat. Tapi bagi sebagian yang lain, teknologi mungkin serupa hantu yang bergentayangan.

Dan Nyokap, beserta orang-orang yang sebarisan dengannya, saat ini harus menaklukan hantu tersebut.

Sepuluh hari semenjak meeting pertamanya, UNESCO memperkirakan ada 138 negara yang melakukan penutupan sekolah nasional. 1,37 miliar murid dirumahkan dan 60,2 juta guru keluar dari ruang kelas.

Satu di antara 60 juta guru tersebut adalah Pak Avan. Ia mengajar di SDN Batuputih, Sumenep, Jawa Timur. Ketika ia menelepon wali murid kelas 6 agar mengirimkan pekerjaan rumah anaknya melalui Whatsapp, ia justru mendapat jawaban: “Apa itu Whatsapp?”

Pertanyaan itu berujung pada jawaban lain: 16 dari 20 muridnya tidak punya aplikasi Whatsapp. Boro-boro melakukan pembelajaran online dengan efektif, perangkatnya saja tidak punya. Kalau Pak Avan anak gahul bilangan selatan Jakarta, mungkin reaksinya adalah menghela napas sambil berkata, “Hadeuuuh.” Tapi ia lain. Dibandingkan menggerutu dan menerima nasib, ia nekat mengajar dari rumah ke rumah.

Tidak bisa dimungkiri, ada banyak tantangan yang harus dihadapi dengan sistem pembelajaran online. Berdasarkan Pew Research (2018), orang dewasa di Indonesia yang mempunyai smartphone hanya 42%. Data OECD mengatakan bahwa 34% saja orang Indonesia yang mempunyai komputer untuk bekerja.

Di Amerika, kondisinya sebetulnya tidak berbeda jauh. Ada 56,6 juta anak sekolah yang dirumahkan. Berbagai distrik juga gelagapan dengan kondisi baru ini. Nikolai Vitti, kepala Komunitas Sekolah Negeri Distrik Detroit bilang, “Lebih dari setengah murid saya tidak punya akses terhadap perangkat pembelajaran online dan internet.”

Persoalannya, Detroit bukan satu-satunya. Berdasarkan sensus data dari Associated Press, sekitar 17% murid Amerika tidak punya komputer dan 18% (3 juta murid) tidak memiliki akses internet.

Suka tidak suka, kita harus memilih satu di antara dua pilihan yang tidak sedap: jika tidak mengadakan pembelajaran online, murid akan ketinggalan pelajaran. Di sisi lain, menjalankannya akan menyebabkan ketimpangan di antara murid yang punya akses dan tidak.

Di Singapura, sejak April, proses pembelajaran online hanya terjadi satu minggu sekali. Antara hari rabu sampai jumat, tergantung jenjang. Pembelajaran dilakukan antara 4-5 jam dan sekitar 2 jam belajar dengan tatap layar.

Di Jepang, orangtua juga belum terbiasa. Okamoto, direktur eksekutif SHO-zemi Innovation Venture mengatakan, “Orangtua berharap anaknya masuk ke sekolah yang bagus agar bisa menciptakan lingkungan yang cocok sebagai gerbang ujian, yang mana menggunakan kertas.” Jepang masih meramu cara terbaik untuk belajar di tengah pandemi.

Di sisi lain, diperlukan keahlian khusus dari seorang guru untuk mampu mengajar secara online. Kekuatan utama dari pengajaran adalah hubungan antara guru dan murid. Oleh karena itu, murid perlu benar-benar merasa diperhatikan jika pembelajaran dilakukan secara online.

Mengajar lewat aplikasi chatting pun bukan tanpa tantangan. Bayangkan kamu harus merespons 30-an anak melalui ketikan. Pertanyaan demi pertanyaan berhamburan dan kamu harus bisa membaca, mencerna, mencari solusi, kemudian mengetiknya dengan cepat. Kamu tidak bisa melihat raut wajah murid. Kamu tidak bisa benar-benar tahu apakah materi yang disampaikan dicerna dengan baik. Hasilnya, guru lebih banyak menyebarkan PR untuk dikerjakan secara mandiri oleh murid.

Menariknya, laporan dari The Lancet Child and Adolescent Health mengungkapkan kalau saat wabah SARS melanda China, Hongkong, dan Singapura, penutupan sekolah tidak berpengaruh terhadap pengontrolan wabah.

Penelitian The Lancet Child & Adolescent Health pernah melakukan penutupan sekolah nasional dan 25% kampus di Inggris. Hasilnya, persentase kontak di rumah antara keluarga dan anak meningkat 50% dan kontak di komunitas meningkat 25%. Penelitian tersebut juga menyatakan kalau penutupan sekolah hanya mencegah angka kematian 2-4% di UK akibat SARS.

Ada berbagai cara social distancing lain yang sebetulnya bisa dilakukan di sekolah. Misalnya, melakukan suspend terhadap kelas yang terjangkit/jenjang tertentu, atau mengganti struktur organisasi sekolah untuk menghindari percampuran antarmurid, meniadakan aktivitas dan rapat yang tidak penting, memperpendek jam sekolah, dan membagi waktu jam istirahat berdasarkan jenjang atau kelas tertentu.

Tapi tentu saja, rencana itu tidak akan berhasil tanpa kedisiplinan tingkat tinggi. Kita bisa saja berencana ini dan itu tapi di saat seperti ini, keberhasilan sebuah rencana ada di tangan bersama.

Saat ini, yang sedang duduk di meja belajar bukan cuma kamu dan guru, tapi sistem pendidikan kita. Jika Nyokap sedang menghadapi Zoom dan Pak Avan melawan keterbatasan, kamu bebas memilih jadi siapa saja. Disadari atau tidak, saat ini di bahu kita ada benda yang sama. Dan sewaktu kita berhasil mengangkatnya, bersama-sama, pendidikan kita akan jauh, jauh lebih baik lagi.

Selamat Hari Pendidikan,
Kresnoadi DH