Saturday, July 4, 2020

balesin komentar dan video lanjutan Ini Gue Ngomong Apa Sih?


Karena baru sempat ngoprek blog lagi, gue mau nyembah orang-orang yang masih buka blog ini. Komentar-komentar aja udah gak gue cek lagi. Huhuhuu maafkeun. Oleh karena itu, postingan ini gue dedikasikan untuk menaruh komentar orang-orang.

Kita mulai dari postingan gue tentang video Memori:

rahul syarif June 13, 2020 at 8:17 AM

Setelah dipikir-pikir, ternyata saya juga tipe orang yang senang dokumentasi. Senang nulis dan selalu dipercaya menjadi seksi dokumentasi sekolah. Terlebih lagi, melihat arsip blog dan album foto memang punya energi sendiri. Semacam bicara sama diri yang dulu, terus kasih wejangan,"kamu dulu itu bodoh yah, deketin cewek ngga pernah mau bilang." Hehehe.

Tanggapan:

Kayaknya emang yang seru tuh kayak gitu ya? Terkadang gue ngebayangin masa gue kecil, lagi belajar jalan, lalu orangtua ngerekam atau motret pakai kamera seadanya. Gak perlu yang skillfull, atau tingkat cinematografi super mantab, tapi begitu dia liat lagi rekaman itu, perasaannya tetap sama: deg deg ser.

Buat bagian terakhirnya, gue mau nambahin:

"Ya, Anda bodoh, Rahul. Meskipun nama Anda seperti nama tokoh dalam film India, tapi anda tidak bisa deketin cewek. Bodoh sekali." *geleng2 dewasa

Agsn! June 20, 2020 at 1:44 AM

saya pikir-pikir, sepertinya salah satu alasan saya untuk menulis di blog adalah untuk mendokumentasikan juga sih ya. pokoknya kalau sudah tidak kuat menahan di pikiran, langsung aku tulis aja di blog, dan setelah selesai nulis di blog pikiran rasanya kayak kerefresh gitu, kalo memori hape yang baru diclear chache dari yg memori terpakai 90% jadi kembali ke 50%. enteng rasaanya

saya sepakat nih dengan tulisan bang kresnoadi beserta rambutnya. top!

Tanggapan:

Wah, iya bener juga sih ini. Mungkin, mungkin ya, karena di momen itu kita merasa mampu buat “Oke, ini akan gue ingat. Ini akan gue ingat.” Jadi kayak ada pr ke otak gitu gak sih? Ketika si memori itu udah kita tumpahin ke medium lain (tulisan/foto/video), kita jadi nggak punya kewajiban untuk nginget lagi. Makanya jadi serasa lebih plong deh. \:p/

Kalau boleh jujur, sebetulnya hal-hal kayak gini aja yang akhirnya ngebuat gue bikin video Memori. Soal kemampuan editing dan lainnya, dan lainnya lagi, gue masih harus belajar banget sih. Semoga aja seiring berjalannya waktu gue bisa makin bagus. Ehehehe.

Oke, markinjut ke postingan video Ini Gue Mau Ngomong Apa SIh part 1

--

Farih Ikmaliyani 5 days ago

Baru 30 detik; lo mabok ya pas bikin video ini? wkwk.

Sebentar, kayaknya gue familiar deh sama komentar ini…

Farih Ikmaliyani June 28, 2020 at 3:50 PM

Gue udah nanya di youtube. Gue mastiin lagi coba, itu lo mabok Di?

Tanggapan:

INI NGGAK DI YOUTUBE NGGAK DI BLOG KOMENNYA BEGINI YA ALLAH. Nggak, nggak mabok. Cuma agak kebanyakan micin aja...

Haris Firmansyah 1 week ago

Tentang salat itu saya merasakan keresahan yang sama. Btw, Adi agamanya apa?

Tanggapan:

Heey! Hafalkan surat Al Kautsar! Cuma 3 ayat lho… dan lebih indie dari Al Ikhlas. Hehehe.


Satriyo Hutomo 1 week ago

Wkwkwkwkwk Mampos kena zonk kakak

Tanggapan:

Jadi gini, di video itu gue ngomongin soal keluarga kakak gue yang datang ke rumah selama satu minggu penuh di masa karantina. Gue ngeledekin dia dan sewaktu gue mandi, gue mencium bau tai manusia… yang ternyata popok keponakan gue digeletakan di depan pintu kamar mandi.

LAH INI KOK MALAH ABANG GUE KOMEN?

Jadi gini rasanya ngomong di belakang terus kegep orangnya… Huhuhu. Keren lho mas anakmu ganteng!

--

Lanjut ke postingan pindah kosan.

Abu Damar Arif June 30, 2020 at 12:02 PM

Sangat gampang beres-beres pindah kos-kosan, yang susah itu membersihkan kenangannya… #talijiwo

-Sujiwo Tejo

Tanggapan:

Wah gilaaaa ini temen kampus gue! Kalau ada di antara kamu dulu banget baca cerita kampus gue, pasti kenal si Arif ini. Dulu dia penggemar Sujiwo Tejo garis keras, Letto, dan playlist di hapenya adalah lagu-lagu Gramedia. Salah satu orang yang bikin gue suka buku setelah ngeracunin Laskar Pelangi. Oh, those old times.

Kabar terkahir, Arif udah hijrah dan menuju jalan yang lebih baik. Gue? Tentu terperosok ke dalam kesesatan.

CREAMENO July 2, 2020 at 3:20 AM

Selamat say goodbye sama kosan, mas Adi 😁

Tau banget rasanya harus packing sambil pilah-pilih barang mana yang mau dibawa dan mana yang mau dibuang. Semacam harus memilih berdasarkan kenangannya daripada fungsinya kadang
😂

Tanggapan:

Wah, ini kak eno (bukan eno NTRL) yang belakangan blognya suka banget gue datangin. Buat yang belum tahu, coba cek aja deh di creameno.com. Dia udah menikah dan tinggal di korea. Seru bener! Mana aktif banget ngeblognya.

Bener, mbak. Justru di situ pusingnya. Ketika “Ah, barang gak penting ini dibawa pulang ah!” lalu begitu sampai rumah: “KUTAROH MANAAA! :(“ seketika Hasrat pengin beli rumah di BSD muncul (ga nyambung).

--

Well, biar nggak kepanjangan, kayaknya segitu aja deh yang gue tampilin. Makasih buat yang masih suka blog gak penting dan update-nya sesuka hati ini ya! I appreciate you a lot! \(w)/

Terakhir, gue mau masukin video lanjutan dari Ini Gue Mau Ngomong Apa Sih? yang kemaren:

--

Last but not least, gue mau kasih tahu kalau besok, bab 4 buku 25 gue akan tayang di Karyakarsa. Sampai sekarang, gue masih punya problem: nama karakter cewek. Gue masih kurang cocok sama nama yang sekarang gue pakai. Kalau temen-temen ada yang punya masukan, silakan komen yaa. Kalau namanya gue pakai, nanti akan gue kontak dan dikredit kook! \:p/

Ciayoo!

 

Tuesday, June 30, 2020

204

keluar kamar kos


Buat orang yang gak suka bergaul dan malas ke mana-mana ini, kamar itu udah kayak markas. Semacam shelter suci yang tidak bisa gue tunjukkan begitu aja ke sembarang orang. Maka, ketika gue memutuskan untuk keluar dari kosan, rasanya kayak ada yang aneh.

Semenjak di rumah aja ini, berkali-kali gue mikir untuk keluar dari kosan. Kayaknya mubazir aja gue bayar tapi nggak ditempatin selama berbulan-bulan. Semangat tidak mau rugi menggelora dalam dada. Pertimbangan gue sederhana: uangnya bisa dipakai untuk hal lain.

Begitu gue ke kosan untuk ngambilin barang, perasaan berat itu muncul.

Sebut gue sentimental. Tapi semuanya datang begitu aja. Kamar kosong dengan sprei biru yang gue lihat pertama kali, kini kondisinya sudah berubah jauh.

Hari pertama masuk kosan gue rayakan dengan membeli sprei baru.

Lalu, satu demi satu barang lain masuk. Kamera dan perlengkapannya, speaker kotak, meja, kursi, dispenser dan galon, karpet, lampu, lampu lainnya, toples dan kopi, toples dan kopi lainnya lagi, sapu kecil yang tidak pernah terpakai, talenan yang “Shit! Gue makan buah aja kali ya biar sehat!” hingga akhirnya gue masukkan ke dalam troli dan berakhir di bawah jemuran. Plastik yang terkumpul dan gue lipat menjadi segitiga. Tempat sampah dari kardus dispenser. Struk belanjaan yang memenuhi laci. Koin-koin bekas kembalian yang bertumpukan.

Pelan-pelan, kamar itu jadi beda.

Dia bukan sekadar tempat untuk tidur. Di situ ada lampu tidur yang menemani gue bangun. Ada gue yang sok narsis dan bergaya di depan kaca tanpa perlu insecure. Ada lembar demi lembar microsoft word yang terisi cerita. Ada episode-episode podcast yang diunggah. Ada melodi yang bersahutan. Ada pikiran yang melayang-layang. Ada “I love you too.”. Ada “Aku nggak mau bahas ini sekarang.” Ada kekecewaan yang bergeletak. Ada marah yang berantakan. Ada kangen yang disembunyikan. Ada kangen yang ditumpahkan. Ada suara-suara samar di balik bed cover.

Gue mengemas barang-barang. Dan di sini ironisnya. Saat meninggalkan kamar kos, kita seperti dipaksa untuk memilih: mana kenangan yang layak dibawa pulang, dan mana yang sebaiknya kita tinggal. Sobekan tiket bioskop gue masukan ke kantung plastik, bersama tumpukan struk belanja yang tintanya sudah pudar. Karcis KRL? lempar ke plastik pembuangan. Laporan pemeriksaan dokter semasa pneumothorax dahulu? Bawa pulang. Jepit rambut patah? Lempar. Milo oleh-oleh? Masukin. Sendal jepit? Buang. Kartu SIM yang masa berlakunya sudah habis? Pungut kembali. Pot bunga berbentuk Groot? Letakkan di pinggir jendela. Mudah-mudahan dia tumbuh dan bahagia.

Sekarang, kamar sudah kembali seperti saat gue datang: lantai bersih tanpa karpet. Tempat tidur dengan sprei biru. Gue mengontak mbak Nur, penjaga kosan. Matanya berkaca-kaca, entah betulan entah gue yang terlalu terbawa perasaan aja. Katanya, belakangan banyak anak kos yang keluar karena pandemi.

Kata Timothy Goodman, hidup adalah soal merasakan berbagai pengalaman di muka bumi. Seperti halnya memasak, kita mencicipi berbagai rasa di dunia ini. Menariknya, dalam hidup, kita tidak tahu makanan seperti apa yang dihidangkan ke atas meja. Terkadang rasanya bisa aneh, atau hambar, atau malah lezat dan bikin kita terbayang-bayang sampai keesokan harinya. Tapi, itulah esensi sebenarnya dari hidup: merasakan. Buat gue, hidup bukan soal dulu-duluan menghabiskan makanan atau tentang siapa yang berhasil makan lebih banyak. Melainkan bagaimana kita bisa merasakan tiap hidangannya.

Pintu kamar 204 ditutup. Gue berpamitan.

Semoga gue mendapatkan penggantinya.

Semoga dia mendapatkan pengganti gue.

Thursday, June 25, 2020

Friday, June 12, 2020

MEMORI dan 25

Di sela menulis untuk Project Ch. ini, gue memutuskan untuk bikin channel youtube.

Teman-teman yang mendukung melalui karyakarsa akan gue tulis di setiap video yang gue buat.

Ya, mungkin ada banyak pertanyaan tentang hal ini. Gue mau coba cerita satu per satu.

Pertama, gue menyadari kalau gue tidak sejago itu dalam urusan menulis. Setelah selama ini menjalani, gue memang suka menulis. Gue suka menceritakan kejadian-kejadian yang sudah lewat, atau pikiran-pikiran random, atau imajinasi liar yang ada di kepala gue melalui tulisan.

Kamu mungkin tahu seperti apa tulisan-tulisan yang gue bikin. Ringan, remeh, secara tema tidak penting, dan respons orang setiap pertama kali membaca tulisan gue adalah, “Oh, tulisan haha-hihi ya?”

Pada kenyataannya, level gue memang cuma di situ. Sebagai pembaca, gue memang membaca berbagai jenis tulisan. Tapi sebagai penulis, posisi gue memang sebatas ini. Gue tidak pernah punya perasaan ingin mempelajari lebih dalam soal tulisan sastra, atau harus baku, atau menggapai tema-tema yang “berat”.

Beberapa tahun yang lalu, gue juga baru mulai mempelajari fotografi. Meskipun tulisan gue di blog jarang ada foto, tapi gue merasakan kepuasan tiap mengabadikan momen-momen yang gue anggap seru. Dengan memotret, gue bisa memperhatikan sekitar. Tukang kue yang berjualan, pesepeda yang beristirahat, laki-laki yang duduk melamun sambil merokok. Seperti halnya menulis, memotret adalah persoalan mengabadikan waktu.

Hal ini gue lakukan sampai Restu, teman kantor gue, membedah konten-konten gue yang ada di internet. Menurut dia, benang merah dari semua konten gue adalah “reminisce”.

arti reminisce

Gue kemudian membuka Instagramblog, dan melihat semuanya lagi. Kata itu semacam berhasil memayungi apa yang gue bikin selama ini. Setelah gue pikir kembali, tujuan gue melakukan semua hal di internet adalah untuk ini: mendokumentasikan.

Gue mungkin melankolis. Gue suka perasaan yang timbul sewaktu membuka album foto lama, bertanya kepada nyokap tentang apa yang terjadi di masa itu, lalu mengingatnya kembali. Gue suka perasaan hangat yang muncul ketika gue dengan random memencet tombol arsip di blog, lalu bergumam sendiri “Ternyata 3 tahun lalu gue begini ya. Ternyata ada kejadian ini ya.”

Sebagai seorang pelupa, dihangatkan dengan ingatan terasa begitu menyenangkan.

Maka, gue membuat MEMORI. Dokumentasi lain dalam bentuk video.

Tentu isi video MEMORI nggak akan penting buat kamu. Nggak ada sisi edukasi, atau gue yang berusaha untuk melucu di sana. Alasan mendasar kenapa bikin itu adalah gue pengin mendokumentasikan memori-memori kecil yang terjadi di hidup gue secara audiovisual. 

Gue pengin entah satu, atau dua tahun, atau ketika gue punya anak nanti, gue bisa menceritakan hal-hal yang terjadi di hidup gue. Bahwa gue pernah melakukan hal tidak penting ini, dan itu, dan lainnya. Gue pengin merayakan kehidupan.

Membuat video juga bikin gue harus belajar lagi. Bagaimana cara merekam yang baik, tata cahaya, menggunakan aplikasi edit. Kalau gue tidak mempelajari itu dari sekarang, kayaknya bakal makin terlambat.

Sebagai ucapan terima kasih, gue akan memasukkan nama kamu yang mendukung melalui Karyakarsa di dalamnya.

Ini adalah MEMORI Vol 1:

--

Jangan takut, gue tetap akan menyelesaikan Project Ch.

Ada bebebrapa updates terkait Project Ch.

Pertama, mulai tulisan ini di-publish, Project Ch. resmi punya nama. Ebook gue yang ketiga ini berjudul “25”. Alasannya akan gue ceritain di tulisan terpisah. Sekarang tebak dulu hayo. \:p/

Kedua, sekarang lagi proses ngontakin ilustrator untuk garap cover. Mudah-mudahan dalam waktu dekat akan selesai.

Ketiga. Dalam waktu dekat, Bab 3 ebook 25 akan selesai.

Terima kasih yang udah support gue. Terharu nih. Srot. Elap tisu.

See you in the next post! (or maybe chapter 3 ebook 25. :p)

 


*) Tulisan ini pertama kali dipublish di Karyakarsa.


Thursday, June 4, 2020

Black Out!

Gue kadang penasaran, ngapain sih orang lari malem-malem di Gelora Bung Karno? Well, gue sadar, sih, sebagai orang kantoran waktu bebas kita cuma tersisa malam hari. Tapi olahraga? Memangnya bikin sehat?

“Jadi kak Adi mau ikut nggak?” tanya Ratu di kantor.

“Duh, males banget gue…”

“Katanya Anya Geraldine suka lari di GBK lho tiap rabu!”

“…males banget deh kalo punya badan yang nggak bugar!”

Pulang kantor, gue bareng temen-temen yang lain nebeng mobil Ratu ke GBK. Setelah kena pneumothorax, gue emang nggak pernah olahraga lagi. Mumpung obat gue udah mau abis, ini jadi olahraga pertama yang bakal gue lakuin. Gue agak inget pesan dokter Christoph sewaktu kontrol terakhir kali.

“Ingat, Di. Kamu itu kena paru-parunya. Jadi coba olahraga yang membantu pernapasan dan kardio. Kalau nggak bisa, paling nggak liatin Anya Geraldine lah.”

Oke. Semangat gue udah membara. Gue gak boleh kalah sama temen-temen yang fit dan punya stamina tinggi. Kami masuk dari gate 5, lalu ketemuan sama Gani dan Ndek di parkiran. Tidak ingin terlihat cemen sendiri, gue melakukan operasi pemantauan.

“Lo sering Ndek lari gini?” Gue sok membuka percakapan. Basa-basi. “Biasa berapa putaran?”

“Aku paling empat aja, Bang.”

 Hmmm empat pakai aja. Berarti gue bisa lah lebih dari itu.

“Si Gani ini yang dewa.” Ndek menepok pantat Gani.

Gue menutup pintu mobil, mengantongi uang. Berjaga-jaga kalau haus dan pengin beli minum. “Berapa putaran emang kalau elo, Gan?”

“Dia bisa belasan putaran. Gila banget dah!” Si Ndek heboh sendiri. Gani cuma cengar-cengir aja. Gani memang orangnya tinggi dan kakinya panjang.

Sialan. Ini data yang gue kumpulin jadi random banget gini. Jauh banget bedanya dari empat ke dua belas. Di kamar mandi, gue dekatin Fahri. Gue tahu beberapa minggu lalu Fahri juga lari di GBK. Jadi, gue tanya dia aja.

“Gue sih kemaren empat pak,” katanya. Dia ngelenturin kaki di depan kamar mandi. Agak aneh memang dilihat-lihat.

Dari jawaban Fahri, gue mendapat kesimpulan: betis Gani cacat mental!

Melihat rata-ratanya, paling tidak target gue malam ini adalah lari enam putaran. Kami memasuki area GBK, memilih tempat janjian untuk ketemuan, lalu mulai pemanasan masing-masing.

Tengok kanan, tengok kiri. Tengok kanan, tengok kiri. Putar kepala dua kali… lalu gue pengin muntah. Baru pemanasan aja kepala gue udah pusing banget. Perasaan pas sekolah kalo muterin kepala enak-enak aja. Kok sekarang berasa naik roller coaster. Lemah abis. Oke. Gue ganti ke peregangan tangan, meluruskan kaki, lalu bungkuk loncat bungkuk loncat.

Gani udah lari duluan. Sementara Hani, Ratu, dan Fanny berjalan kaki mencari tempat senam. Katanya, di sini suka ada orang berkumpul lalu senam bareng. Cih, ini GBK apa Superindo tiap minggu pagi?

Berdiri di area lari ini, gue baru menyadari kalau… tempat ini gede juga ya. Mulai timbul keraguan. Apa gue sanggup lari enam putaran? Gimana paru-paru gue? Di mana Anya Geraldine? (masih). Oke, bikin plan B: kalau belum enam putaran sudah ada salah satu di antara kami yang istirahat di tempat kumpul, gue bakalan langsung berhenti. Paling tidak gue bukan jadi orang pertama yang berhenti. Gue membayangkan nanti salah satu di antara Ratu, Hani, atau Fanny sudah kecapekan duluan, kemudian gue nyamperin dan bilang, “Eh, lo udah capek?” lalu gue mengajak ngobrol, dan nggak melanjutkan lari. Hihihhi. Aku memang cerdas, bukan?


Gue gak sempet foto, jadi gue kasih foto deket kosan aja ya

 

Gue memasang earphone dan dengarin lagu Barasuara biar semangat dan jedag-jedug. Semua berjalan lancar. Masalah cuma ada di celana gue yang turun-turun karena keberatan hape.

Putaran pertama.

Lho, udah satu putaran aja nih? Pendek juga nih tempat. Atau gue yang emang ternyata terlalu kuat? Hihihi. Selama berlari, gue tadi melihat kumpulan cewek yang melakukan semacam senam. Beberapa ada yang menyusul gue dengan sepeda. Di indomaret, gue juga melihat orang-orang yang memakai sepatu roda sedang beristirahat.

Gue kembali melewati tempat kami janjian. Nggak ada orang.

Putaran kedua.

Keringat mulai bercucuran. Earphone di kuping menjadi basah. Mana ya Anya Geraldine? (KONSISTEN, BANG?)

Putaran ketiga.

Gue udah nggak fokus ke orang lain. Pergelangan kaki gue panas. Tapi gue ingat cerita bahwa Haruki Murakami suka berlari. Gue mepet ke kiri. Ke bagian dalam, biar larinya nggak terlalu jauh.

Putaran keempat.

SUMPAH LOH INI BELOM ADA YANG NYERAH JUGA?

Putaran kelima.

HALO? HANI, RATU, FANNY? APA KABAR? KENAPA KALIAN MASIH KUAT? APA AKU YANG TERLALU WANITA?

Putaran keenam.

Kaki gue mau resign. Dari kejauhan udah terlihat gerbang tempat kami janjian… yang masih kosong. Fahri pengkhianat. Katanya dia cuma kuat empat putaran. Apa ini konspirasi?

Gue udah engap banget. Haus. Telapak kaki panas dan terasa perih ketika diangkat. Sementara indomaret sudah terlewat jauh di belakang. Ratu, satu-satunya di antara kami yang bawa minum entah ada di mana. Sejak putaran sebelumnya, gue udah menurunkan kecepatan lari dan terkadang milih buat jalan.

Gue mutusin buat berhenti di tempat janjian.

TKP, ngambil dari google maps


Baju gue udah basah semua. Saking keringetannya, gue melepas earphone dan menyimpannya di celana. Aneh banget rasanya memakai earphone dengan telinga basah. Degup jantung gue berdetak lebih kencang, seperti genderang yang mau perang. Darah gue mengalir lebih cepat, dari ujung kaki ke ujung kepala. AKU SEDANG INGIN BERCINTA! (Kenapa malah nyanyi?).

Tidak berapa lama gue berdiri melemaskan kaki, Fahri datang. Mukanya pucat.

“Eh, lo udah capek?”

Gue mengangguk, susah bener jawab sambil ngatur napas.

“Beraph… pha puth.. tharan… lo?”

“En…haaammhhh,” jawab gue, sama ngos-ngosannya kayak Fahri.

“Ya udah istirahat dulu deh kita.”

Gue mengangguk lagi. Dalam hati gue bilang: BANGSAAAT! TRIK GUE KENAPA JADI LO YANG PAKE?!

“Minum di siapa, sih?” gue bertanya, padahal udah tahu jawabannya.

Lalu dunia berubah. Gue melihat orang-orang berlari di depan gue menjadi kabur. Pandangan gue, pelan-pelan menjadi oranye dan kemerahan. Menutupi penglihatan gue. Kenapa nih? Gue memejamkan mata. Gelap. Gue membuka mata. Merah. Lalu semakin lama semakin gelap. Kayak gak ada bedanya sama gue merem.

“Ri… Ri…” Tangan gue bergerak ke segala arah, tidak tahu posisi Fahri ada di mana. “Tolong cariin minum, Ri. Gue gak bisa liat apa-apa.”

Sekelebat gue mendengar suara “Lo kenapa?” Lalu Langkah kaki. Lalu “Bentar, Pak.” Lalu langkah kaki lagi yang menjauh.

“Ri?”

Buangsat sekarang gue sendirian kagak bisa liat apa-apa. Gue masih aja melek, tapi semuanya gelap. Apa ini yang orang-orang sebut black out? Sekelebat gue ingat di dekat gerbang ada mas-mas berbaju kuning yang sedang duduk beristirahat. Gue menggapai-gapai gak jelas kayak orang buta.

“Mas! Mas!” gue teriak asal.

Lalu gue mendapat jawaban.

“Mas, ada minum gak? Saya nggak bisa liat nih.”

Ya, gue mengakui pertanyaan itu cukup aneh. Kalau gue ada di posisi mas-mas itu juga gue pasti heran. Apa hubungannya gak bisa lihat sama minum? Kalau jadi dia, paling gue akan jawab: “Nih, kacamata silinder buat kamu.”

Mas-mas ini kemudian membantu gue merebahkan diri. Sekarang posisi gue tiduran telentang pasrah di hadapan mas-mas ini.

“Mas kenapa?” tanya mas-mas. Gue gak tahu ada berapa orang ada di sekitar gue saat ini. Tapi rasanya lebih dari satu.

“Gatau, Mas…” Gue menjawab sekenanya. Lalu gue bilang, “YAK, ANDA KENA PRANK!” lalu manggil teman-teman gue yang bawa kamera di balik pohon.

Kagak lah!

Ujung kaki gue tidak bisa digerakkan. Lalu kram ini merambat ke bagian betis dan pinggang. Setengah badan gue sudah mati rasa.

Sekelebat terdengar suara perempuan berbicara dengan Fahri.

Pengkhianat volume dua! Kenapa dia gak beli air?!

Si perempuan ini kemudian menyuruh gue menutup mata, lalu membimbing gue.

“Ikuti saya ya.” Dia bilang. “La ilaha illalah…”

Kagak anjer!

Dia memegang tangan gue dan membimbing membuat gerakan naik turun dengan posisi telentang. Napas gue juga diatur sesuai dengan gerakan tangan tersebut. Setelah berapa lama, kram gue mulai hilang. Gue mulai bisa merasakan pinggang dan betis. Gue kini bangun, membuat posisi duduk dengan kaki yang diselonjorkan ke depan. Masih mengikuti arahan mbak-mbak supercool ini. Sampai gue coba buka mata dan samar-samar semuanya kelihatan seperti semula.

Di sekeliling gue udah ada Hani, Ratu, Fanny, dan Ndek. Fahri belakangan datang membawa air es, disuruh oleh mbak-mbak macho untuk ditempelkan di bagian tulang punggung bawah gue.

Gue menatap mbak-mbak macho ini. Oh, engkaulah malaikat penyelamat nyawaku. Gue diem doang, gak tahu harus bereaksi gimana. Lalu dia pergi dan gue berterima kasih. Kayak adegan di komik-komik jepang, ketika jagoannya habis menyelamatkan karakter gak penting… yang abis lari di GBK dan kena black out.

“Kak Adi gak pernah pingsan ya?” Ratu nanya, memecah suasana hening.

Gue geleng-geleng. “Kenapa gitu?”

“Kalo pernah pingsan, tadi pasti udah pingsan.” Dia ngejelasin hal yang sungguh bikin makin jelas. Beneran. Makasih loh, Tu.

Kami lalu sepakat buat udahan dan jajan di Go Food Festival. Sampai kemudian, kami baru sadar satu hal: Gani belum ada.

Emang si betis bajingan!


--

Bab 2 Project Ch. udah selesai! 

Judulnya Kepada Andreas, Tulisan ini untuk Anda. Ngomongin soal pengalaman gue sewaktu naik ojek online. Ternyata, buat orang yang ke mana-mana bawa motor sendiri kayak gue, naik ojol pernah jadi persoalan tersendiri. Silakan dibaca di sini: https://karyakarsa.com/keribakeribo/proyek-ch-bab-2-kepada-andreas-tulisan-ini-untuk-anda