Thursday, December 5, 2019

Betrugen Alternate


Betrugen Alternate adalah cerita spin off yang gue buat berdasarkan cerpen Nfrimansyah di blognya.
Cerita asli Betrugen bisa dibaca di sini.

--
Di Jalan

Apa yang lebih buruk dari melihat pantat di siang hari? Ya, keluar dari pantat untuk jalan kaki di trotoar Jakarta siang hari. Lihat, lihat. Orang-orang ini naik skuter seperti Jakarta adalah kota... apa? Metropolusi? Gue agak lupa sebutannya kota-kota keren dystopia 2038 neo itu.

Cih, naik skuter. Mereka pikir tinky winky?

“Iya, misi, Mas,” kata gue, membalas kalimat pria berjas yang tidak ada. Gue memiringkan badan, menempel di tiang listrik kayak cicak supaya dia bisa lewat. Setelah berhasil lewat, gue merentangkan tangan. “Berpelukan!”

Pria berjas ini berhenti dan nengok.

Gue meluk tiang listrik.

Hampir aja gue bilang, “Pelukan, Mas?” untuk menetralisir situasi, tapi di sisi kanan tiang listrik ada bongkaran semen yang terbuka. Kayaknya bekas pohon. Gue memilih masuk dan berjalan ke pertokoan. Beruntung sekali dia ketemu orang kayak gue. Hihihi.

Orang ini memang beruntung, tapi tidak dengan perempuan di kantor tadi.

Siapa namanya? Marissa? Annisa? Prisa?

Kayaknya dia cewek baru deh. Nggak mungkin, kan, sengaja pakai rok sobek kayak gitu demi bisa diterima? Memangnya ini 1998? Tahu, kan, satu kasus di tahun itu di mana Budiman SP membuat kebijakan untuk mengubah taman kota menjadi... tanah? Dia menyebutnya sebagai “Lapangan 3.0”. Bapak bahkan masih menyimpan koran Pantauan Rakjat yang membahas soal itu. Salah satu kutipan yang gue ingat begini:

Di taman kita cuma bisa duduk-duduk, bersandar, dan ongkang-ongkang kaki seperti orang tidak punya kerjaan, maka saya buat yang lebih: tempat di mana kamu bisa duduk, tiduran, berdiri, sikap lilin, roll depan (tergantung kemampuan)! Tempat di mana bumi dipijak dan langit dijunjung! – Budiman SP

Beritanya berisi pendapat Budiman tentang perbandingan antara lapangan 3.0 dengan taman pada umumnya.

Dan kita tahu itu perintah istrinya.

Konon istrinya menyukai bintang-bintang. Konon istrinya sakit dan menyukai bintang-bintang. Konon istrinya sakit pusing dan di atas kepalanya berputar bintang-bintang. Konon di malam hari sang istri pernah terbangun lalu mengelus kepala Budiman. Dia bilang, “Bud… Bud.. aku ingin bintang.”

“Bintang begimana maksudmu?”

Istrinya membentuk gambar bintang dengan telunjuk di dada Budiman.

“Kamu gambar lambang freemason ya?”

“BINTANG, BUD! BINTANG!”

“Oh,” Pak Budiman akhirnya paham. Ia memiringkan badannya ke istri dan menyentuh hidungnya dengan lembut. “Ngomong dong. Di kulkas ada dua kalo gak salah…”

Kalimat itu membuat kepala Bu Budiman panas seperti digampar bulan dan bintang. Dan, kata orang-orang, itu lah awal mula terciptanya Lapangan 3.0.

Lapangan 3.0 yang tersisa saat ini hanya Lapangan Banteng.


Di Mobil

Aku tahu skuter sedang menjadi polemik, tapi manusia, kan, punya otak. Aku merapikan jas dan masuk ke mobil. Hari yang menyebalkan. Tiga kali presentasi sama dengan tiga kali pengalaman buruk. Pemutar musik di mobil menunjukkan pukul 21:33.

Won’t be home for now
I’m on a break
Detaching for a while

Pertama: Mobil sudah kuparkir jauh dan naik skuter demi tepat waktu mendatangi klien ini. Biar kuklarifikasi. Siapa yang suka skuter? Kamu pikir aku naik itu karena sedang tren? Kamu pikir skuter itu keren? O jelas tidak. Dan aku rasa semua penduduk bumi setuju denganku. Kalau skuter itu keren, pasti lah ada orang bernama Tony Hawk Pro Skuter.

Skater itu keren, tapi skuter? Jenis sepeda (?) yang bahkan lebih cupu lagi. Tidak ada orang yang tingkat kekerenannya bertambah karena naik skuter. Malah yang macho jadi lemah. Bayangkan Deddy Corbuzier naik skuter. Sama menggelikannya dengan membayangkan Deddy Corbuzier mandi pakai gayung bentuk love warna hijau.

Harkat martabatku sudah turun tapi apa? Tapi pak Budiman tidak ada di tempat. Nomornya tidak bisa dihubungi. Dan aku tidak tahu tanggal lahirnya untuk kukirimkan ke santet online. Tanpa pemberitahuan minta memundurkan jadwal ke minggu depan. Bagaimana bisa, sih, dunia ini membuat orang kaya mampu membeli waktu?

Aku sudah punya rencana untuk minggu depan. Sebelum berangkat, aku akan mengirimkan pesan “Saya berangkat ke tempat bapak.” begitu dia balas, “Ok” langsung aku sikat dengan “tapi boong~”.

I’m flying solo
I’ll fly without you
I’ll go by myself

Kedua: Awal meeting berjalan lancar. Sampai aku sakit perut entah karena apa. Konsentrasiku buyar seketika. Klien bertanya hal terpenting dari desain ini dan kujawab dengan: “KAMAR MANDI, JENDERAL!” lalu ruangan itu hening tiga detikan.

Butuh tiga part untuk menceritakan sisanya dan sepertinya aku hanya akan mengatakannya pada Anisa.

“Aku sudah sampai.” Kukirimkan pesan ke Anisa. Kutembakkan lampu dim dua kali ke pagar rumah Alex. Kejutan di dalam dashboard sudah kusiapkan. Sebentar lagi semuanya akan meledak. Dan aku mercon tahun baru yang disukai anak-anak.

I’m flying solo
I’ll shed my own tears
I’ll walk my own fears

Kutekan klakson panjang. Ia keluar dengan blazer krem. Langkahnya tidak sengaja seirama dengan jantungku.


Di Rumah

“Maaf, tadi sudah kumasukkan ke mesin cuci,” jelas Alex.

“Maaf, sekarang kuganti dengan piyama ini.” Anisa mengaduk mesin cuci, mencari blazer dan roknya, menanggalkan pakaiannya, menatap Alex, memasukkan piyama ke tumpukan paling bawah. “Langsung dicuci. Jangan dibayangkan.”

“Kalau dici-“
“Diam.”
“Kenapa, sih, kamu perlu memakai piyama hanya untuk berjalan dari kamar ke tempat cuci?”

“Bisa tanya hal lain?”

Bisa. Di kepala Alex banyak pertanyaan lain. Kenapa Anisa setakut ini? Kenapa tidak kita lawan saja pria busuk tukang ngeluh di luar? Kenapa dia tega membuat kamu seperti ini? Kenapa kamu tega membuatku seperti ini? Kenapa pertanyaan-pertanyaan ini tidak bisa keluar. Abort mission. Ternyata gabisa.

“Ingat. Langsung dicuci.”

Anisa berlari-lari kecil dari bukit pakaian kotor ke bukit peralatan dandan di kamar Alex. Alex menyusulnya. Di depan kaca Anisa berlenggak-lenggok, menyemprot parfum dan memainkan rambut.

“Menurutmu aku gimana?”

Alex menjawab dengan pelukan dari belakang.

“Aku harus pergi.”

Tok tok tok!

“Assalamualaikum!” Di depan pintu, orang ini berdiri, dengan bingkisan kecil di tangannya. Di sebelah bel tertulis “BUDIMAN SP”

Monyet. Apa aku taruh dashboard lagi aja ya?



Di pemberhentian

Gimana hari ini?  Aku ingin cerita tentang tiga pengalaman burukku. Aku juga ingin cerita tentang tiga pengalaman burukku. Menurutmu lebih buruk mana, tiga pengalaman buruk atau satu? Tentu tiga. Tapi aku tidak siap saat satu pengalaman buruk lebih buruk dari tiga pengalaman buruk. Semua orang harus siap bukan? Itu lah kenapa ada hitungan mundur tiga dua satu sebelum pistol ditembakkan dan kaki-kaki pelari melontar keluar garis start.

Kamu siap?

Aku juga tidak.

Tapi menurut kamu?

Menurut aku aku salah. Dan aku tidak tahu harus bilang apa lagi karena aku memang salah. Tapi semua orang punya salah dan aku adalah bagian dari orang-orang itu.

Tapi apakah kita dilahirkan untuk menentukan yang salah dan benar atau soal menyelotip luka? Tapi bagaimana kita bisa menyelotip kalau lukanya belum lahir. Bagaimana kalau lukanya masih tidur? Haruskah kita membangunkannya atau kita tunggu saja sampai pagi datang. Bagian mana yang harus diolesi alkohol. Kulit atau tenggorokan. Tahu apa yang lebih menyebalkan dari melihat pantat di siang hari? Melihat mata dari spion mobil. Melihat mata dari spion mobil dan mengetahui bahwa mata tidak cukup pintar untuk melihat bahwa kita tidak lebih baik dari pemutar musik di dalam mobil soal hal-hal intim.
Suka post ini? Bagikan ke:

Monday, December 2, 2019

Tulisan untuk Bapak


Gue masih ingat saat Nyokap kehabisan kata tiga bulan lalu. Dia masuk kamar kerja gue, lalu berdiri dan mengeluh. “Bisa tolong kamu yang bikin kata-katanya nggak, Dek? Ibu takut nggak sanggup.”

Gue menengok, melihat raut wajahnya.
Wajah yang khawatir dilahap kata-katanya sendiri.

Gue lalu membayangkan dua halaman kosong di sebuah buku. Tempat di mana kata-kata itu akan tergeletak selamanya.

“Iya, nanti aku bantu deh,” jawab gue.

Nyokap lalu nyengir. Lepas dari jaring kata-kata yang ia takutkan, lalu berjingkrak keluar. Di pikiran gue, dua halaman itu masih kosong.

Namun, seperti Nyokap biasanya, pikirannya tak pernah mati. Dia menyala dan mengobarkan mata. Malamnya, dia ngabarin kalau tulisannya udah selesai. Gue nggak perlu bikin apa-apa lagi.

“Ibu bikin tulisan biasa aja deh,” kalimat yang gue balas dengan hehehe. Dia memperlihatkan hasil tulisannya, dan kami sepakat meletakkannya di dua halaman kosong tersebut, lengkap dengan tambahan satu gambar.

Kemarin, gue baca lagi tulisan itu dalam bentuk buku. Sebagaimana yang suka gue tulis di blog ini, gue punya cita-cita menerbitkan buku komedi. Jadi, ketika memegang buku ini, rasanya agak aneh. Di satu sisi gue kayak, “Oh, gini toh memproduksi buku. Memegang fisiknya. Membalik halamannya satu per satu.” Gue bisa dengan sangat narsis ngebuka buku itu malam-malam, tanpa sepengetahuan siapapun, untuk gue baca sendiri. Di sisi lain gue kayak, “Apa ini nggak terlalu serius untuk seorang Kresnoadi?”

Anehnya, setelah ngeliat bentuk fisiknya, timbul perasaan untuk mengisi dua halaman yang udah penuh itu.
Maka, inilah tulisan versi gue:

--
Ketika mata bertemu mata. Gema bersuara sunyi. Aku selalu bisa merasakannya. Kapan dia marah, kapan ia setuju, kapan ia merasa bangga, kapan ia khawatir. Sewaktu aku sekolah dahulu, dia tidak pernah mau kalah. Duduk di meja, laptop ia buka di sebelah telepon. Mempelajari Teknik AutoCAD dari CD yang entah dibeli di mana.

Kami jarang bicara.

Tapi ketika mata bertemu mata, gema bersuara sunyi, aku mampu merasakannya. Sewaktu aku sekolah dahulu, internet mengajakku main di ruko depan kompleks. Bapak menjemputku dan bertanya, “Dari kapan di sini?”

Pertanyaan yang kujawab dengan masuk kamar sampai sore.
Gemetar seluruh tubuh.

Kami sungkan cerita.

Tapi ketika mata bertemu mata, gema bersuara sunyi, aku sanggup melihatnya. Sewaktu aku selesai sekolah dahulu, Bapak keluar dari mobil kijang tua itu. Duduk berdua bersama ibu di tikar piknik, di sebelah penjaja boneka wisuda. “Sebelum pulang kita foto dulu ya.”

Senyumnya tidak bisa dibeli dengan SPP.

Maka ketika mata bertemu mata, gema bersuara sepi, dan organ-organ tak kuat lagi, aku ingin duduk di sebelahnya. Membaurkan al fatihah ke tengah awan. Yang menjadikannya hujan. Yang menjadikannya subur di jalan yang aku pijak.

--
Gue dulu punya cita-cita menerbitkan buku komedi.
Buku pertama gue malah buku yasin. Hidup gue yang komedi.



Dunia memang cuma tempat main dan senda gurau belaka [6:32]
Suka post ini? Bagikan ke:

Sunday, November 24, 2019

Postingan Lanjutan Rancaupas


Afrianti Eka Pratiwi November 23, 2019 at 8:25 PM
Jadi ini kemping penuh kegoblokan? Kurang banyak kegoblokannya bang. Bikin lagi dong hahaha. Kampret betul permainan uno macam itu hahahahaha.

Fotonya Kak Indi kok bagus banget. Aku mau ngefans ke dia ah~~

Ngedit video emang butuh effort. Makanya gue gak bisa-bisa :( nanti video lo gue tonton pake wifi kantor wkwk.
--
Apa-apaan ini ditinggal kondangan Indi jadi punya fans?
Bagaimana dengan ketenaran saya selama ini?

Masa gara-gara foto bareng rusa yang nggak keliatan mukanya langsung ngefans. Ckckck. Begitu gue kasih tahu komen Tiwi ini ke Indi, respon dia malah, “Waduh, langsung berasa ada beban hidup.”

Sungguh lemah memang manusia, beda dengan saya sang Senpai ini. *Hormat ke matahari

Anyway, ngelanjutin dari postingan sebelumnya, gue mau naroh foto-foto yang gue post di Instagram. Here you go:


Iya, di samping nulis yang udah jadi kegiatan harian, kayaknya fotografi mulai jadi salah satu hobi baru deh. Lumayan buat refreshing. Feel yang gue dapat ketika ngangkat kamera dan jepret sama kayak awal-awal gue suka nulis. Di mana ada injeksi kesenangan tiap kali buat Microsoft word dan senyum-senyum sendiri karena pengin cerita sesuatu. Walaupun, yaa masih bego juga sih. Nggak begitu paham gimana cara teknis foto yang baik dan benar. I am still learning tho!

Cerita yang lain adalah: video udah tayang!


Gue mengakui kalau gue masih cupu abis soal pervideoan ini. Gimana cari ngambil shoot, editing, dan lain-lain. Apalagi karena video ini bukan video “niat” yang emang dipersiapkan bikin sebelum berangkat. Gue, Fahri, dan Indi cuma asal jepret dan rekam aja. Tapi, semoga rasa dan ceritanya dapat ya. Seperti halnya fotografi, video juga jadi hal yang baru banget buat gue. Harus pelajarin software-nya dari ulang lagi, tontonin banyak film/video di yutub, dan lain lain. But hope you enjoy this kinda vid! \:p/

Oh yeah. Kalau ada yang nanya kenapa harus diembed di sini sampe dibikin post baru? Jawab: Biar viewsnya nggak 6 dong. Muahahhaa.

On the other side, channel Kerjaan Lain di youtube itu kayaknya akan gue pakai terus menerus ke depannya. Entah bakal gue isi dengan tipe video serupa, atau bisa yang lain. Gue bikin channel itu untuk bisa ngelepasin apa yang ada di otak gue, yang nggak masuk ke kerjaan kantor aja sih. Bisa jadi lebih seru, atau malah random banget. Muahahah.

Bentar lagi mau mandi nih, terus siap-siap ke Gramed. 
Hope you have a great weekend, folks! Senpai, signing out! \(w)/
Suka post ini? Bagikan ke: