Sunday, February 2, 2020

Dari Orang Paling Gembel Sampai Tiktok


Hari ini gue resmi jadi koala. Bangun jam sebelas siang, laper, golar-goler lalu ketiduran lagi sampe setengah delapan. Jadilah sekarang gue hinggap di Sleepless Owl sebagai satu-satunya orang beler di sini.

Baru aja duduk, ada satu cowok yang nyamperin cowok di sebelah gue. Nggak. Nggak cuma nyamperin, dia juga bawa cupcakes lengkap dengan lilin yang lagi nyala.

Gue bengong, muka ingusan.

Cowok bawa lilin: Happy birthday to you~

Mata cowok sebelah gue berbinar-binar.

Cowok sebelah gue, dengan logat batak: “Duh, lucu kaliiii~”

Gue bengong, muka ingusan, mata gue keluar darah.

Oh, indahnya dunia penuh cinta.

Ngomong-ngomong, ini kenapa gue doang yang tampangya kayak gelandangan gini ya? Daritadi gue perhatiin orang-orang yang pada di sini rapi amat deh. Kalo nggak kemejaan, pada pake jeans. Sementara gue dateng bawa ransel pake baju jogja belel, bando, dan celana pendek.

Lagi ada apaan sih yang heboh di dunia ini? Baru aja iseng buka Youtube, terus ada videonya Arief Muhammad sama Ardhito pake judul “Ardhito Pramono Kenapa, Sih?”

Gue: Sumpah, GUE KAGAK TAHU ARDHITO KENAPA.

Semenjak jarang buka twitter, gue jadi kehilangan apdet gitu-gituan deh. Tahu, kan, gimana cepetnya Twitter buat urusan gak penting. Pagi ada anak kecil nyanyi lalu tirai di belakangnya jatuh dan dia jerit, “Astaghfirullah, What? Uchul?!” lalu siang heboh prank ojol, eh tahu-tahu malem ngeributin kekeyi live sama Rio Ramadhan. Mana pas live si Rio cerita dia dipatok ayam pula. Sungguh random sekali.

Bagusnya, sih, kita bisa apdet dan nggak ngerasa katro di pergaulan. Tapi, makin lama gue ngerasa twitter udah jadi tempat yang terlalu berisik deh.

Jadi lah sekarang gue subscribe ke newsletternya asumsi dan Catch Me Up buat tahu berita tiap harinya. Sekarang, tiap pagi kerjaan gue buka email untuk tahu apa yang terjadi kemaren. Atau dengan kata lain: hidup gue udah bapak bapak banget.

On the other note, sekarang lagi rame banget ya orang main Tiktok. Dan gue ngerasa ini seru abis! Suasana orang-orang di Tiktok tuh kayak pertama kali Twitter booming. Semua pada tahu kalau apa yang dipost itu ya sekadar buat iseng dan seru-seruan aja. Gue pernah ngeliat satu video Tiktok berisi bapak-bapak bikin magic video. Dia loncat di depan garasi, lalu ngubah baju yang dia pake jadi baju lain. Captionnya: “Maaf ya masih jelek.”

Pas nonton itu, gue pikir komentarnya bakalan rusuh. You know, orang Indonesia kalo ngeliat yang begitu tanduknya keluar semua. Tapi ternyata tidak sodara-sodara! Semua komentarnya malah memuji si bapak. Mulai dari yang bilang, “Ini mah keren!” “Mantab ini pak, saya malah gatau cara bikinnya” sampai “Ayo pak, kita mantap mantap” (bentar, kayaknya ada yang salah deh).

Pokoknya, tiap gue buka Tikitok, bawaannya bahagia dan adem gitu lho.

Masalahnya, gue nggak biasa buka Tiktok di tempat umum. Kalo lagi di tempat banyak orang, sepi, agak gimanaa gitu rasanya kalo tiba-tiba hape gue ngeluarin suara: “Digoyang ubur-ubur!” Kan jadi pengen joget (lho).

Segini dulu kali ya postingan kali ini. Gue mau coba kerja terus balik ke kosan dan main Tiktok. Muahaha. See you on another post!
Suka post ini? Bagikan ke:

Tuesday, January 21, 2020

hope you live the happiest.


Gue pernah merasa orang yang berjiwa konsumtif ketika punya masalah itu aneh. Seseorang ini punya masalah di hidupnya. Alih-alih menghadapinya, dia memutuskan untuk masuk ke H&M, dan membawa pulang dua potong cardigan. Sampai kosan, masalahnya masih ada. Duitnya nggak ada.

Atau mereka yang having fun bareng temen-temen di tempat jedag-jedug. Minum sambil dansa. Diantar kerabat ke apartemen karena dapat jackpot. Dibangunkan puluhan notifikasi tentang kejadian tadi malam.

Atau mereka yang kerjanya makan melulu. Seolah-olah kesedihan bisa dikunyah dan berakhir jadi tahi di pembuangan.

Kenyataannya, tidak ada yang salah dengan mereka.
Apa yang selama ini gue pikir aneh, ternyata cuma perasaan iri.

Emosi yang muncul dari masalah seseorang memang sebaiknya disalurkan. Dan tiap orang, bebas memilih cara mengeluarkannya. Ada yang nenggak amer sampai curhat. Ada yang dengan membeli banyak makanan. Ada yang traveling ke tempat baru. Ada yang sekadar cerita ke orang yang dia percaya.

Selama ini gue selalu suka ngedengerin cerita orang. Segala hal yang terjadi di keluarga dan lingkungan, membuat gue jadi orang yang seperti itu. Belajar mendengar sambil cari perspektif baru. Seneng ngelihat sekeliling gue ketawa. Menjadi stress reliever orang lain. Sampai di satu titik gue sadar, kalau gue juga butuh itu.

Dan ternyata, gue nggak punya.

Gue tidak punya botol amer yang bisa gue tenggak. Gue tidak bisa jadi orang yang konsumtif mendadak. Dan belakangan gue sadar, kalau gue tidak punya orang untuk mendengar masalah-masalah gue. Di satu waktu, ketika menyimak masalah orang ini, gue pernah punya perasaan jahat.

Perasaan yang bilang kalau gue ingin menduplikasi diri. Dan dengan congkaknya bilang, “Enak kali ya punya Kresnoadi yang bisa dengerin masalah gue.”

Semakin gue coba bercerita, semakin gue tahu jawaban-jawaban yang muncul dari orang-orang ini. Sabar. Kembali ke agama. Atau menceritakan balik masalahnya dan menganggap gue tidak seberapa.

Kekuatan dan kepercayaan yang gue kasih, ternyata dianggap gitu aja.

Dahulu, gue melampiaskan emosi dengan menulis. Gue menulis apa aja. Dari yang nggak penting, sampai perasaan-perasaan terdalam.

Beberapa bulan ke belakang, gue jadi merasa kalau itu adalah hal yang norak. Tulisan ini misalnya. Ngebuat gue makin down karena berpikir, di luar sana, ada yang menganggap gue alay. Dan walaupun emang bener, tetep aja rasanya perih.

Belum lagi mereka yang seolah bikin peraturan tidak tertulis tentang apa yang boleh ada di dunia maya dan apa yang tidak boleh. Bahwa dunia maya seharusnya tempat berbagi kebahagiaan dan bukannya kesedihan. Mereka yang pelan-pelan bikin gue berubah. Dari orang yang abnormal dan random di internet, menjadi sok-sokan belajar foto dan video.

Supaya gue, lagi-lagi, melihat orang lain dari balik kamera. Tanpa peduli diri sendiri.

Dan karena itu, I hope you all live the happiest.
So do I.
Suka post ini? Bagikan ke:

Monday, December 9, 2019

Podcast PKK - Social Anxiety


Hari sabtu kemaren gue bikin podcast soal social anxiety. Soal pengalaman dodol gue tentang kebodohan-kebodohan berinteraksi sosial ini. Gue gatau sih orang-orang akan sadar atau malah makin trauma denger podcast gue. Tapi buat yang mau denger bisa play dari bawah atau cek di Spotify di Podcast Keriba-Keribo ya!


Suka post ini? Bagikan ke: