Tuesday, November 12, 2019

Kalimat Pembuka Undangan Nikah Gue


Setelah enam bulan, akhirnya tadi pagi naik motor lagi. Berhubung gue ke kelurahan dulu, kayaknya nggak bakan keburu kalo harus balik dan naroh motor dulu sebelum ke kantor. Begini rencana waktu gue buat berangkat kantor:

Jam masuk kantor: 09:00 pagi.
Jam keluar rumah buat ke kelurahan: 09:05 pagi.

Mati aja gue.

Berhubung gue nggak mau dirajam sama bubos, jadi lah gue milih buat langsung bawa motor. Walaupun dia tetap bakal emosi kalau tahu, tapi paling nggak gue udah berusaha meminimalisir emosinya. Misal: tadinya pengen rajam pake batu kali, sekarang jadi rajam pake batu kali… yang agak kecilan dikit.

Anyway, bawa motor ke kantor ini bikin gue sadar sesuatu deh. Walaupun sempet mual begitu masuk daerah Tebet, gue kayaknya selalu mendapatkan ide pas naik motor. Entah ide kerjaan, atau tulisan, atau malah pikiran random aja. Pasti ada aja waktu yang gue pakai selama di perjalanan buat mengkhayal. Ujung-ujungnya, jadi mikir yang aneh-aneh. Ya, walaupun agak suram juga sih kalo ketilang.

“Bapak tahu kesalahan Bapak apa?”
“Saya mikir kalimat pembuka undangan pernikahan saya, Pak.”

Lalu kami saling tatap. Polisinya memicingkan mata, gue pura-pura gila.

Tapi beneran. Gue juga ga paham sama jalan pikiran gue sendiri. Di perjalanan tadi, gue kepikiran set untuk bikin konten video yang bakal gue kerjain sama temen kantor, dapetin satu ide tulisan buat kerjaan kantor, dan… kepikiran kalimat pembuka undangan nikah.

Iya, tolong jangan rajam gue.

Gue memang udah memimpikan sejak lama kalau undangan pernikahan nanti mau berbentuk cerita aja. Keinginan ini makin besar sewaktu ngelihat twit dari Zarry Hendrik yang melakukan hal yang sama ke kliennya. Responnya pun bagus, dan gue di kejauhan mendengus, “Hmmm padahal gue duluan tuh! Jadi ini nggak enaknya jadi orang gak terkenal?” Ya padahal gue aja nggak pernah ngomongin ini ke siapa-siapa. Cuma geer aja. Muehehe.

Lalu, entah dari mana, di Timeline gue muncul twit dengan hal yang mirip: surat undangan pernikahan dengan konsep cerita. Bedanya, si cewek bikin tulisan versi dia untuk disebar ke undangan si cowok. Dan begitu sebaliknya.

Terus gue yang, “Widih mantab abis nih!”

Sampe di perjalanan tadi gue keinget hal ini. Lalu gue mikir, mikir, mikir, dan akhirnya nemuin kalimat pembuka yang pas. Bayangin, demi dua kalimat ini, gue sampe minggir buat nyatet di google keep cuy!

kalimat undangan pernikahan

Ya padahal juga gatau kapan dan sama siapa nikahnya.

Hari rabu lusa rencananya gue mau pulang ke Pamulang bawa motor lagi. Semoga aja gue nggak mikirin yang aneh-aneh deh.
Suka post ini? Bagikan ke:

Sunday, November 10, 2019

udah nggak kayak dulu lagi


Ternyata emang blog tempat paling tepat untuk ngomongin semuanya: hal-hal pribadi, perasaan terdalam, keseharian random, pikiran-pikiran nggak penting.

Beberapa hari lalu gue sempat ngetwit kayak gitu. Kayaknya, gue mulai nemuin excitement lagi untuk nulis di sini. Gue baru sadar. Kayaknya buat orang yang berawal dari curhat gak jelas di blog kayak gini emang punya beberapa fase dalam ngeblog deh. Fase pertama adalah saat gue lagi penasaran. Awal ngeblog ngebuat gue pengin ngomongin berbagai hal yang terjadi di hidup gue, tapi gue takut dan malu. Gue juga belum tahu gimana caranya nulis yang bener. Fase kedua adalah fase bodo amat. Ketika gue mengalami kejadian yang menurut gue “Wah, apaan nih?” gue udah gak sabar untuk masuk kamar, buka laptop dan menceritakannya. Fase ketiga adalah ketika semua hal teknis mulai kepikiran. Gue sedikit banyak ngerti caranya menulis, dan jadi mikir: apa hal-hal aneh ini harus gue tulis? Apa gunanya nge-share sesuatu yang sebegini nggak pentingnya? Belum lagi ketika gue berada di fase ini, blog udah nggak rame. Media pindah dari tulisan ke video atau audio. Mulai timbul perasaan “Apa yang gue tampilin di sini harus merupakan what people so called… karya.” Tiap postingannya harus gue pikirin mulai dari tema, kelayakan tulisan secara teknik, sampai mikir “Apa ini harus masuk ke blog? Atau Instagram aja? Atau podcast? Kayaknya beberapa hari lalu gue baru rilis postingan deh. Kalo buru-buru bikin lagi nanti view-nya ketutup dong? Blog gue kan orang cuma buka homepage juga udah bisa baca semua tulisannya. Nggak perlu klik dan masuk satu per satu ke dalam postingan.” Sampai pada akhirnya gue masuk ke fase kelima: fase di mana gue kembali bodo amat. Fase di mana gue kembali mikir kalau “Okay, I have this abnormal’s life and let’s write it to make this immortal.”

Dan, ya, gue balik ke masa itu.

So, yeah. Welcome to my blog. Tempat di mana gue bakal cerita apa aja dengan sinting. Keseharian yang nggak penting, atau pemikiran random yang nggak masuk di akal. Gue nggak akan terlalu mikirin apakah ini bagus atau nggak, penting atau nggak, seberapa panjang atau pendek, lucu atau garing. Gue cuma mau ngeluarin apa yang mau gue keluarin sebebasnya.

--
Semenjak Bokap nggak ada, gue menyadari hubungan gue dan nyokap sedikit bergeser. Hubungan kami bukan lagi hubungan ibu dan anak sebagaimana atasan dan bawahan di struktur organisasi. Bukan lagi hubungan tentang ibu yang ngomelin anaknya, yang minta ini itu, khawatir karena begini dan begitu. Hubungan kami kini lebih horizontal. Sejajar. Kayak manusia yang berdiri di posisi yang sama. Berhubung Abang gue udah nikah, hal-hal pribadi nyokap otomatis akan dia obrolin ke gue. Mulai dari kerjaan, perasaannya hari itu, apa yang lagi dia pelajarin, sampai perkara urusan rumah dan administrasi negara kayak bayar pajak and the bla and the ble. Gue ingat kalimatnya di sofa depan tv beberapa waktu lalu: “Kamu sekarang udah gede, bapak udah nggak ada, mas udah nikah. Jadi sekarang ibu kalo ada apa-apa ke kamu ya.”

Begitu gue pulang tadi malam, gue ngeliat nyokap tidur di lantai. Gue emang janji pulang malem weekend ini, tapi gue agak nggak nyangka juga kalo sebegini malem. Gue kemudian ganti baju, lalu masuk ke kamar bokap buat baca buku dan tidur. Sekitar pukul tiga, gue kebangun gara-gara Nyokap batuk. Dia bilang kalo kipas di kamar terlalu kencang dan minta izin buat dimatiin aja.

“Ibu semalem tidur di bawah niatnnya mau nungguin adek pulang, tapi ternyata adek belum pulang ibu udah ketiduran.”

Gue diem, lalu meluk nyokap sambil tidur.

Dia lalu cerita suatu hal tentang keluarga yang nggak bisa gue tulis di sini. Minta pendapat dan persetujuan gue. Gue membalas dengan beberapa kalimat, masih sambil meluk dia dan merem.

Azan subuh berkumandang.
Hubungan kami emang udah nggak kayak dulu lagi.
Suka post ini? Bagikan ke:

Friday, November 8, 2019

Malam ini Terasa Begitu Jakarta


Malam ini Jakarta terasa begitu Jakarta.

Pertama kali pernyataan itu gue keluarkan di dalam mobil. Kami dalam perjalanan menuju Sarinah. Selesai menonton Le Grand Bal, film dokumenter Perancis tentang festival dansa, kalimat itu kembali keluar.

Rasanya malam ini Jakarta kayak Jakarta banget ya.

Pukul setengah sepuluh malam. Lima anak berusia 20 an berjalan di trotoar. Seseorang berkemeja, menenteng tas kerja menunggu ojek di perempatan. Dua orang menyalip kami dengan Grabwheels. Lampu sorotnya menyinari garis kuning di jalan.

“Pasti kak Adi sebentar lagi niruin joget yang di film deh,” salah seorang temen komentar.
“Brengsek,” sahut gue. “Nggak jadi joget kan gue!”

Kami lalu tertawa. Tujuan kami adalah McD di seberang.

Jalanan lengang. Angin malam keluar pelan-pelan. Mengantarkan udara dingin musim hujan. Pantulan cahaya mobil terpantul di jendela gedung. Meski tempat ini tidak pernah tidur, pukul segini adalah waktu yang pas buat ngerasain jalan di trotoar. Bayangin kalo siang. Asap bikin bengek, mau nyeberang ribet, suara klakson beradu mesin mobil. Siang lebih seru kalau kita pura-pura tuli dengan memasang earphone, memilih soundtrack hidup sendiri-sendiri aja.

Malam ini beda.
Jakarta terasa begitu Jakarta.

“Scene favorit gue sih pas bagian ending,” gue jawab pertanyaan Hani. Tepat di mana kamera diam, lalu satu persatu wajah para peserta festival menunjukkan ekspresi yang berbeda-beda: excited, kikuk, semangat, haru, kaku, sampai salah tingkah.

Kami melewati jembatan penyeberangan.
Gue suka jembatan penyeberangan.

Ada yang sama nggak sih? Terus terang, gue juga nggak punya alasan yang pasti. Setiap kali menyeberang di jembatan penyeberangan malam-malam, gue pasti menyempatkan untuk berhenti di tengah. Ngeliat kemacetan. Mobil-mobil yang berbaris lambat. Atau orang yang sekadar berdiri di bawah. Gue seneng aja bisa ngeliat semuanya dari atas. Para tukang ojek yang berkumpul, mereka yang mengangkat payung sambil berjalan cepat, lampu-lampu toko yang sudah padam. Lalu timbul perasaan itu. Seakan berharap gue bisa memotret semua ini dengan mata, lalu menyimpannya di dalam otak. Lalu akhirnya sadar karena harus kembali jalan dan lanjut menyeberang.

Kami sampai di McDonalds.
Di atas meja udah ada empat Panas Spesial dan sebuah chicken wrap.

Jakarta terlihat lebih Jakarta malam ini. Dan kami cuma bagian kecil darinya.    
Suka post ini? Bagikan ke: