Tuesday, February 23, 2021

Cara Paling Tepat Buat Gue Mengatasi Rasa Insecure


Mari mengakui bahwa kita makhluk insecure. Bentuk tubuh, cara bicara, bahkan kemampuan yang kita kuasai. Ada masanya, di suatu sepi, kepala kita membisikkan kata-kata yang mengerdilkan diri sendiri. Kok badan gue gak bagus ya? Kok rambut gue begini ya? Kok dia pintar banget, ya, padahal umurnya di bawah gue. Menyedihkannya, pertarungan manusia paling keras memang melawan diri sendiri. Termasuk cara mengatasi rasa insecure.

--

'Sebelum naik, foto dulu dong,' Didit mengeluarkan Blackberry Gemini-nya. Gue, Arif, dan Paul saling tengok. Lalu, seolah paham satu sama lain, kami jongkok di antara bus. Arif memakai kacamata hitam, sementara gue balik badan membelakangi kamera.

'Tiga, dua, satu! Mantap! Yuk, lanjut berangkat!'

Didit memotret, lalu naik lewat pintu bagian belakang. Gue, Arif, dan Paul jalan ke pintu depan.

Teman-teman di SMA kayaknya sudah hafal gaya gue dalam berfoto. Gue memang selalu membelakangi kamera. Entah sambil jongkok, melompat, atau mengacungkan peace ke udara.

Buat orang yang nggak kenal, gue mungkin terlihat misterius, keren, nan mengagumkan. Selayaknya tokoh di dalam komik jepang yang ditunggu kehadirannya.

Hipotesis ini pernah gue tanakan langsung ke sahabat dekat di kelas.

'Keren banget ya gaya gue tadi?'

'Kagak jelas lo!'

Kayaknya, sahabat gue nggak sayang, deh, sama gue. Emang udah pasrah aja mereka. Makanya, pas gue gaya di bus gak ada yang protes.

Di tulisan ini, gue akan bocorin rahasianya: gue insecure.

Memang kedengarannya aneh. Gak ada yang salah sama muka gue. Semuanya normal. Mata gue dua, biasa aja. Kuping gue dua, biasa aja. ewaktu SMA, gue juga tidak berjerawat. Muka gue, tuh, yah, kalau diibaratkan kayak siapa ya? Kurang lebih mirip Kim Taehyung lah.

Bentar, kenapa jadi sombong anjir.



Gue, kalau sendirian di kamar, ngaca, ya pede aja. Kadang gue heran sendiri. 'Allah keren banget ya. Bisa nyiptain makhluk sempurna gini.' (Ya, tampol aja).

Problemnya muncul ketika gue nggak sendirian. Lagi sama temen, naik lift, lalu memandang wajah dari pantulan besi. Rasanya pengin ngenajisin diri sendiri. 'Ya Allah, apa nggak mau revisi muka ini?'

Punya perasaan insecure itu nggak enak. Kadang kita insecure sama hal-hal yang menurut orang lain biasa aja. Lebih nggak enak karena tidak ada yang mengerti perasaan kita. Kalau gue cerita ke orang, 'Kenapa gue jelek ya?' mereka pasti menertawakan gue. Salah-salah, gue dianggap nggak bersyukur.

Padahal, itu yang gue rasakan.

Perasaan insecure membuat kita terseret dalam persepsi sesat terhadap diri sendiri.


Ngomongin Arti Insecure

Arti insecure adalah perasaan menganggap diri kita lebih rendah dari orang lain. Perasaan ini, buat 13% orang Amerika berbanding lurus dengan social anxiety. Sementara 40%-nya dihubungkan dengan sifat pemalu. Di tempat kerja, lain lagi. Rasa insecure bisa dikaitkan dengan fenomena impostor sindrom. Kondisi di mana kita ngerasa kurang melulu dalam melakukan pekerjaan. Padahal, apa yang kita kerjain udah cukup. 'Duh, kayaknya ini belum oke deh.' 'Duh, gue takut nih. Masa gini doang?' perasaan merasa tidak layak dan menganggap kesuksesan yang diraih hanya bagian dari kebetulan semata.

Iya, itu dia bukan kode mau dipuji. Tapi, benaran cemas. Maka, mari kita mengakui diri bahwa kita adalah makhluk insecure.


Apa yang Gue Laukan untuk Mengatasi Rasa Insecure

Rasanya terlalu teoritis untuk gue bilang cara mengatasi insecure dengan terima diri aja. Bersyukur aja sama yang kita punya. Yakinin babhwa kita memang seperti ini, apa adanya.

Sayangnya, perasaan manusia itu dalam dan hal-hal itu cuma permukaannya.

Udah lebih dari sepuluh tahun masa SMA gue, tapi perasaan insecure gue masih ada. Itu lah kenapa gue lebih enjoy menulis, atau membuat podcast, ketimbang memposting foto muka atau bikin video Youtube. Gue masih merasa aneh dan 'Anjir jelek banget dah ni orang' setiap kali melihat hasil rekamannya.

Kadarnya, tentu udah turun drastis. 



Gue nggak pernah insecure lalu foto ngadep belakang kecuali memang konsep fotonya seperti itu. Meskipun, setiap nerima telepon gue juga gak pernah, 'Ya, halo. Dengan Kim Taehyun di sini.'

Lalu, apa yang gue lakukan?

Pertama, gue menganalisis dulu. Dari mana datangnya perasaan ini. 1) Apakah karena ada hal traumatis di masa lalu? 2) Apakah gue punya social anxiety? 3) Apakah gue terlalu perfeksionis?

Gue cari tahu penyebab rasa insecure gue, lalu temukan akar masalahnya. Hal ini memang sulit. Terkadang, perasaan itu kayak muncul tanpa kita tahu sebabnya. Tapi percayalah, kalau kita gali diri kita lebih dalam, kita akan menemukannya.

Gue, misalnya, yang punya ketakutan untuk di-judge sama orang lain secara diam-diam. Gue cemas orang lain akan menilai gue, ngejelekin gue di belakang. Hal ini, kalau digali lagi, bisa ketemu bagian menariknya. Apakah ternyata di masa lalu pernah mengalami hal kayak gitu? Apakah selama ini gue berada di lingkungan kayak gitu dan jadi takut? Apakah sebetulnya gue ingin dipuji? Ketika tahu pangkal persoalannya, kita jadi lebih mudah membuka diri.

"Oh, gue kayak gini karena lingkungan gue suka nge-judge. Gue memang bukan korban, tetapi gue jadi tidak percaya dengan manusia. Maka, gue memilih untuk keluar dari lingkaran pertemanan ini.'

Rasa insecure-nya memang tidak akan hilang seperti sulap. Tapi, setidaknya, masa depan kita akan jadi lebih terang.

Buat setiap orang, penggalian ini tentu akan berbeda-beda.

Lagi-lagi, arena pertarungan paling brutal bukan mereka yang tinju di atas ring, tetapi mereka yang berkelahi di kepala yang sendirian. Kita bukannya perlu menerima diri kita mentah-mentah. 'Gue memang insecure, jadi gue terima diri gue yang kayak gini.' Percaya, deh, menilai diri sendiri dengan hal-hal baik juga gak ada salahnya kok.



Kalau kamu pengin berkonsultasi masalah ini tapi gatau ke mana, saran gue, bicarakan langsung ke ahlinya. Bisa ngobrol langsung sama psikolog, atau dokter yang memang paham. Cara gampangnya, bisa konsultasi lewat Halodoc. Di sana, kamu akan bicara dengan lebih objektif, karena ditangani oleh mereka yang profesional di bidangnya. Kalau kamu mau ngobrol di RS tertentu, misalnya. Kamu juga bisa mengajukan appoinment lewat Halodoc lho!

Tuesday, January 26, 2021

Gimana sih caranya biar produktif?

 


Harusnya gue ngedit video, tapi stuck di detik ke 19. Akhirnya buka google docs buat nulis ini.

Belakangan ini gue nggak produktif. Blog udah nggak kepegang. Nulis jarang. Gue yang awalnya semangat buat main Youtube, tahu-tahu letoy aja gitu. Kebanyakan waktu kreatif gue habis untuk urusan kantor.

Giliran kerjaan kantor udah kelar, bawaannya mau rebahan atau santai-santai aja. Gamau mikir atau ngerjain hal lain. Sekalinya tiduran, pikiran gue kayak bilang, 'Yuk nulis ini! Yuk ngedit video untuk anu! Yuk ada peer nulis itu!' yang bikin gue bangun dan pindah ke kamar sebelah.

Di kamar sebelah, gue nyalain laptop. Lalu bengong dan mikir, 'Apa ya yang harus gue kerjain?'

Lah, padahal kan banyak.

Ujungnya, gue balik ke kamar. Tiduran. Bikin kepompong sambil buka Tiktok. Atau nonton Youtube, Atau baca webtoon.

Gampang banget deh kedistraksi sama hal gak penting.

Lo pernah begini gak? Gimana, sih, biar balik semangat produktif lagi?

--

Sewaktu video call sama temen kantor, gue baru tahu kalau belakanngan ada berita yang lagi heboh. Katanya, lagi disebar profile cowok yang merupakan predator seks. Gue lupa nama cowoknya siapa, tapi dia terkenal dengan pick up lines yang sama ke setiap cewek yang dia dekatin.

'Alis kamu gemas,' kata Naya, niruin si cowok itu. 'Nah, jahatnya, dia itu kalo begituan gak pernah pake pengaman. Jadi, udah bawa banyak pengakit ke korban-korbannya.'

'Wah, serius lo, Nay?' gue takjub dengerinnya.

'Iya. Korbannya udah banyak banget, Di.'

Mendengar itu semua, gue cuma geleng-geleng aja. Kayaknya ini kasus yang serius deh. Sebagai lelaki sejati, gue tiddak terima dengan apa yang dia lakukan. Sungguh perbuatan bajingan. Kok bisa-bisanya... dia milih pick up lines katrok begitu.

Ilis kimi gimis dih.

Anehnya, kenapa banyak orang yang kepincut sama pick up lines menggelikan kayak gitu ya?

Gue, kalau ada cewek random tahu-tahu nge-chat 'Jambang kamu lucu deh' paling gue ajak ketemuan di lapangan basket. Gue ajak duel 1 on 1.

Lagian, alis yang gemas tuh yang gimana sih? Alis bukannya gitu-gitu aja ya. Cuma bulu nadahin keringet biar nggak ke mata. Buat gue, selama yang kanan gak nyatu sama yang kiri, semua alis fine fine aja deh.

Atau jangan-jangan... selama ini gue yang salah?

Selama ini gue yang tidak paham perempuan?

Jangan-jangan, buat cewek, alis adalah sesuatu yang berharga? Terus terang aja, selama ini gue gak pernah merhatiin alis cewek. Walaupun gue ngeliatin muka cewek dan di muka itu ada alis, tapi gue gak peduli.

Abis gimana. Ya alis kan gitu-gitu aja.

Emangnya ada cowok yang gak suka sama alis cewek? 'Maaf ya. Alis kamu terlalu Nike buat aku.'

Mulai sekarang, tolonglah cewek-cewek. Belajar dari pengalaman ini. Gue bisa jamin, kagak ada cowok yang peduli sama begituan. Artinya, kalau dia udah muji-muji, pasti ada maunya. Apalagi jadi pick up lines di online. Apalagi waktu itu lo pake avatar kartun.

--

Buat ngilangin bosen, dan ningkatin semangat, gue suka joget sendirian sambil nyetel lagu kenceng-kenceng. Terkadang, gue suka mikirin gimana ceritanya si musisi ini bisa menciptakan lagu-lagu tersebut. Mulai dari pemilihan lirik, sampai ke judulnya.

Ini yang gue rasakan ketika menemukan lagu berjudul Celengan Rindu.

Celengan, lho. Celengan. Celeng. Dikombingasikan sama kata rindu. Sungguh pemilihan kata yang outstanding sekali.

Gue coba mikir. 'Hmmm apa nggak ada diksi lain ya? Tabungan Kangen? Deposit Miss You?'

Nggak, deng. Emang paling keren Celengan Rindu.

Bayangin deh. Ada sebuah scene di mana ada anak remaja cowok, di dalam kamarnya, di tengah malam dia mengeluarkan celengan ayam dari bawah kasur. Di tengah keremangan malam, dia memasukkan sesuatu ke dalamnya. Lalu kamera nge-zoom, dan terlihat yang dimaskukin ternyata rindu.

Aih, mantap, Boy!

Tapi, bagian paling mantap di lagu ini adalah waktu Fiersa Besari bisa nahan ketawa pas nyanyi.

Entah kenapa, buat gue, kata 'celengan' atau 'celeng' itu lucu aja gitu. Sama kayak orang ngomong 'Nenek Gayung'. Apa seremnya coba? Orang yang jerit-jerit tengah malem, begitu disamperin temennya, 'Lo kenapa men?'

'Gila. Gue abis ngeliat Nenek Gayung...'

'HAHAHAHAHA GOBLOK!'

Yang ada malah diketawain.

Gue ngerasa ini juga yang akan terjadi di Fiersa Besari sewaktu menyanyikan lagu celeng HAHAHAH Celengan Rindu maksudnya.

Maka, mari kita mengakhiri tulisan ini sambil bernyanyi bersama:

Dan tunggu lah~

Aku di sana~

Memecahkan~

HAHAHAHAHAH

Celengan rindu anjer.


Saturday, January 9, 2021

12 Langkah Gampang Membuat Tulisan Bagus


Gue nggak nyangka benaran akan kerja jadi penulis.

Ketika sekolah di Kehutanan IPB, gue mulai bikin blog ini. Isinya ya hepi-hepi aja. Antara ngeledekin orang, atau dokumentasiin kehidupan gue yang gak pernah beres. Gak pernah sama sekali terlintas buat kerja di bidang kepenulisan yang profesional.

Sampai lama-lama, rasanya seru juga. Gue ikut lomba, dan blog ini jadi sesuatu yang menghasilkan. Dari situ, gue merasa punya tanggung jawab untuk memperbaiki kemampuan menulis. 

Kemudian, pertanyaan yang muncul adalah gini: "Kayak apa, sih, tulisan yang bagus?"

Pencarian jawaban itu panjang banget. Kebanyakan, ketika seseorang ditanya seperti itu, yang keluar selalu hal-hal subjektif. Penulisnya harus jujur, lah. Tulisannya mengalir, lah. Page turner, lah. Temen-temen gue yang ada di kalangan blog, ketika menyebutkan seseorang yang tulisannya bagus pun beragam. Ada yang menyebut nama sastrawan, ada yang menyebut penulis fantasi, ada juga yang bilang penulis yang bagus adalah tulisannya tembus di media.

Saat itu, gue masih merasa kalau penulis yang bagus adalah penulis yang jujur.

Ketika seseorang menulis dengan jujur, pembaca bisa merasakannya.

Gatau gue ada sihir apa.

Waktu terus berjalan. Gue masih menulis blog, membaca, dan membedah tulisan-tulisan yang bikin gue kagum. Sampai, gara-gara blog ini, gue bekerja di Ruangguru beberapa tahun lalu.

Ketika menjadi penulis profesional yang bekerja untuk suatu perusahaan, tentu semuanya jadi beda. Apa yang kita lakukan diukur dengan teliti. Ada angkanya, ada indikatornya. Ada ukuran bagus dan kurangnya. Kita harus bisa mengidentifikasi, "Sihir apa yang bikin pembaca bisa merasakan kejujuran penulis."

Lingkungan di dalamnya juga membuat wawasan gue bertambah: gue bertemu penulis-penulis lain. Ada yang peduli pendidikan, ada yang paham bagaimana caranya supaya tulisan kita ada di halaman pertama google. 

Dan ada penulis ngaco yang background-nya Kehutanan sendirian.

Di postingan ini, gue mau share jawaban dari pertanyaan itu. Tentu, ini hasil dari pengetahuan gue selama ini aja, baik dari baca berbagai buku penulisan, ngobrol, riset, bekerja bertahun-tahun, dan sebagainya.

Kayak apa konten tulisan yang bagus?

Untuk membuat konten tulisan yang bagus, kita perlu menumpuk tiga diagram venn:

Satu. Diagram venn Manfaat

Dua. Diagram venn Inspirasi

Tiga. Diagram venn Empati

Pertemuan ketiga diagram venn ini yang disebut konten tulisan yang bagus. Sederhananya, konten tulisanmu bagus kalau ia bermanfaat menginspirasi, dan punya empati.

Ketiga variabel ini yang menjadi patokan seberapa bagus konten tulisanmu. Tentu, kamu boleh-boleh aja tidak memilih salah satu, atau ketiganya sekaligus. Kamu menulis semaumu atau demi kepuasanmu sendiri. Gue juga masih sering begitu. Dan itu sah-sah aja. Tetapi, ketika kamu melakukan kegiatan menulis sebagai hal yang dikerjakan secara profesional, tiga hal ini tidak bisa dilupakan begitu aja.

Hal menarik lain, di era sekarang, kata Ann Hadley, di Everybody Writes, "Storytelling udah nggak begitu penting. Yang lebih penting adalah menceritakan kisah nyata dengan menarik."



Gimana kita bisa mengemas true story dengan oke dan mengasyikkan, sesuai dengan target pembaca kita.

Persoalannya sekarang, gimana cara membuat tulisan yang bagus?

Di buku itu, dikasih tahu 12 langkah gampang yang bisa kita lakukan. Ingat ya, ini bukan teknik menulis. Melainkan langkah keseluruhan yang mesti dilakukan penulis supaya tulisanmu bagus:

1. Tentukan Tujuan.

Orang seringkali terburu-buru menulis untuk punya draft pertama yang bisa diedit. Padahal, yang lebih penting adalah mengetahui apa yang mau kita sampaikan. Argumen apa yang mau kita kasih ke pembaca tulisanmu. Cari tahu dulu what you want to write ketimbang how you want to write. 

Inilah mengapa industri kita seringkali salah. Mereka menganggap pekerjaan penulis bisa dibayar murah karena berpikir menulis itu gampang. Semua orang bisa menulis, itu benar. Tetapi, belum tentu semua bisa menulis dengan bagus.

Pekerjaan menulis bukan sekadar menekan tuts keyboard dan menjadikannya artikel. Dia lebih dari itu. Ada pemikiran sebelumnya, ada riset yang perlu dilakukan. Ini yang para pemberi kerja tidak sadar. Maka, sering dia bertanya: "Lo bukannya nulis, kok bengong-bengong depan jendela sambil ngopi?"

"Think before you ink".

2. Reframe.

Setelah tahu hal yang mau disampaikan, ubah sudut pandangmu. Saat ini, libatkan pembaca ke tujuan tadi. Cara paling sederhana adalah dengan menanyakan, "Terus kenapa?" ke tujuanmu tadi.

Contoh: tujuan -> memberi tahu cara menulis yang bagus

terus kenapa?

karena banyak orang yang masih bingung gimana caranya.

terus kenapa?

dia bisa meningkatkan kemampuannya.

terus kenapa?

ketika orang ini pengin kerja sebagai penulis profesional, dia bisa melakukannya dengan terukur. Dia juga jadi tercerahkan bahwa penulis sepatutnya dibayar dengan harga wajar, karena banyak aspek yang ternyata perlu dikuasai.

Dari sini, kamu jadi punya bayangan tentang seperti apa tulisanmu nanti. Ketika melibatkan pembaca, kamu jadi punya sense lebih. Kamu gak cuma menyebar poin tentang "Gimana, sih, cara nulis yang bagus", tetapi benaran memahami posisi pembaca sebagai orang yang ingin meningkatkan kemampuan menulisnya.

3. Cari Data dan Contoh Nyata

Cari hal-hal di luar sana yang berhubungan dengan tulisanmu. Ini supaya pembacamu percaya kepada tulisanmu. Bahwa apa yang kamu ceritakan itu benaran real. Entah itu penelitian, pengalaman orang, atau video.  Entah itu grafik, data statistik, komik, atau lawakan dan kisah orang lain.

Kamu, bahkan bisa menjadikan pengalaman hidupmu sebagai sumber tulisanmu sendiri.

4. Pilih Jenisnya

Sekarang, pikirkan bagaimana kamu mau menyampaikan tulisanmu. How-nya. Apa yang paling cocok terhadap poin-poin sebelumnya. Apakah tulisanmu akan berbentuk "how to", atau "listicle" atau "cerita naratif". 

Iya, sampai sini kerjaan kita masih mikir aja, belum nulis.

5. Tulis untuk Satu Orang

Dari dulu gue selalu bilang, nggak ada yang bisa mengalahkan kedekatan antara penulis dan pembaca. Dibanding film atau radio, misalnya. membaca adalah kegiatan yang dilakukan seorang diri.

Kita bisa menonton film rame-rame di bioskop. Atau mendengar radio bersama-sama di dalam mobil. Tetapi, kita cuma membaca sendirian. Kegiatannya adalah menyampaikan pesan dari satu orang (penulis) ke satu orang (pembaca). 

Maka, biasakan untuk menulis untuk satu orang.

Berikan pengalaman yang seperti itu. Gunakan kata kamu, anda, atau apapun yang bersifat personal untuk satu orang saja. Hindari mengisi tulisanmu dengan "Eyo what's up guys. Apa kabar kalian?" 

6. Tulis Draft Satu (Ini Pasti Jelek, Rapopo)

Ya, kita memasuki tengah poin dan baru mulai menulis. Artinya apa saudara? Betul, kegiatan berpikir sama beratnya dengan kegiatan menulis itu sendiri.

Di sini, tulis aja draft satu dulu. Artinya, kamu menumpahkan segala apa yang ada di kepalamu. Hasilnya memang pasti jelek, rapopo. Nanti bisa diedit.



7. Tinggalin Tulisanmu

Tinggalin dulu tulisanmu. Pokoknya, jangan pikirkan apapun tentang tulisanmu. Fungsinya, supaya kamu melepas mental state sebagai orang yang bikin tulisan barusan.

Seberapa lama seseorang sebaiknya meninggalkan tulisan draft satunya? Tergantung. Ada yang satu hari, ada yang lebih, ada yang kurang. Intinya, kamu boleh kembali ketika sudah bisa memisahkan diri sebagai penulis. Sehingga, ketika mengedit, kamu jadi tega menebas tulisan jelekmu di draft satu itu.

8. Edit Tulisan

Ketika udah bisa melepas diri sebagai penulis, sekarang pakai kostum editormu. Tega lah. Tebas hal-hal gembel yang ada di draft pertama. Apa itu? Ketidakefektifan, logika yang tidak masuk akal, tanda baca, grammar, dan segala hal lain yang sewaktu dihilangkan, kamu tetap mencapai tujuanmu.

Ingat, menulis adalah tentang menulis kembali. Lakukan terus hal ini sampai kamu cuma mengedit tanda bacanya aja.

9 Kasih Judul yang Catchy

Tentukan judul sesuai dengan tujuanmu. Entah itu untuk memenangkan perlombaan di halaman satu google, entah itu untuk menunjukkan jenis tulisanmu (misal: ingin menunjukkan bahwa itu adalah tulisan komedi).

10. Kasih Orang Lain untuk Mengedit

Kalau punya editor, kasih tulisanmu kepadanya di waktu ini. Diskusi dengannya, dan jangan defensif. Penulis pasti menganggap tulisannya seperti anak sendiri. "Kita tahu apa yang terbaik untuk anak kita!"

Kenyataannya, orang tua cuma ingin yang terbaik untuk anaknya, tetapi tidak benar-benar tahu apa yang terbaik untuk anaknya.

Jadi, biarkan editormu bekerja. Diskusilah. Gontok-gontokan itu hal yang biasa. Namanya juga kerja. Pastikan semuanya terjadi untuk kebaikan tulisanmu. Bukan kebaikanmu sebagai penulis.

11. Cek Keterbacaan

Ketika semuanya selesai, cek keterbacaan tulisanmu secara utuh. Seperti apa kesan pertama ketika orang melihatnya secara utuh? Atau terlalu padat, rapat, dan mengintimidasi? Perlu kah ada gambar di sana? Ada kah yang bisa diganti jadi bullet point? Bagian ini, tentunya kembali ke tujuanmu membuat tulisan ya. Kalau kamu membuat cerpen, mungkin hal ini bisa jadi tidak perlu diperhatikan banget.

12. Publish.

Setelah perjalanan panjang ini, baru, deh, publish tulisanmu. Selamat! Kamu telah bekerja keras--meskipun gak ada yang tahu bahwa prosesmu panjang. 

Tapi tenang, sekarang ada cara gampang memberitahu orang-orang itu bahwa kamu telah melewati 12 tahapan: share aja tulisan ini.

Ingatlah bahwa tulisan yang bagus selalu masuk akal dan punya struktur yang rapi.

Astaga, setelah bertahun-tahun ngeblog, akhirnya beraniin diri buat nulis ginian. Semoga berguna ya! Kalau seru dan pengin tahu hal-hal terkait penulisan, isi komentar aja ya! Siapa tahu suatu saat nanti gue coba bikin, atau kita saling diskusi di kolom komentar! 


Kresnoadi DH,

peace out! \(w)/

Thursday, December 31, 2020

masih ada bulan di 2021.

Ehehehe.

Seru ya tahun ini.

Dimulai dari hal-hal yang bikin kita semangat, lalu dihantam sesuatu yang gak pernah kita duga. Ingat banget gue, malam tahun baru kemarin, gue di kos daerah Tebet. Sambil mikir, "Kampret, kenapa gue baru tahu kalau di kosan ini ada rooftop-nya ya?"

Mau ngeliat, tapi di luar hujan.

Handphone bunyi berkali-kali.

Beberapa ada yang mengabarkan kalau lagi di dekat monas, ada yang ke puncak, ada yang staycation bareng teman satu geng. Katanya, ada konser di daerah kota (?).

Tapi, di luar hujan. Deras.

Petasan menunggu reda. Teriakan, perayaan, ciuman, pindah ke ruangan. Bakar-bakaran, angkat gelas kita bersulang.

Tahun ini seru, kata gue.

Besoknya, banjir.

Dan sisanya, seperti yang kita tahu, adalah sejarah.

Kalau kita liat dari jauh, tahun ini isinya emosi doang. Kecewa, marah, nangis, bahagia karena merasa bangkit, dan lainnya, dan lainnya lagi.

Memang pusing kalau gue, lo, kita, yang cuma individu ini, mikirin negara. Mikirin kaum-kaum lain yang begini dan begitu. Mikirin bisnis yang hancur terpuruk. Mikirin kenapa es di antartika mencair terus. Mikirin kok banyak banget sampah di laut. Ada kaos, ada kaleng, ada kura-kura yang hidungnya tertusuk sedotan. Mikirin tabungan buat rumah yang kepake lagi, dan lagi. Mikirin yang harusnya kan begini, harusnya nggak begitu.

Lucunya, hidup gak melulu tentang hal-hal besar.

Kalau kita liat dari dekat, hidup juga tentang menemukan lagu baru dari Discover Weekly. Tentang keluar dari KRL, lalu berhenti sebentar mengambil handphone untuk memotret, karena langitnya lebih cerah dari yang pernah kita kenal. Tentang ngasih makan kucing liar. Tentang ketawa-tawa ngeliat video konyol di Tiktok. Tentang buka-buka Pinterest karena, "Kayaknya kamar gue butuh sedikit perombakan, deh." Tentang kenal orang-orang baru yang sampai sekarang, bahkan belum pernah kita temui.

Lucunya, hidup, kalau diliat kecil-kecil aja, emang suka bikin senyum-senyum sendiri.

Tahun depan rasanya kayak jalan di pantai malam-malam. Bukan waktu yang oke buat update media sosial. Cuma debur ombak, angin kencang, dingin, dan telapak kaki yang menginjak pasir. DI ujung sana gelap. Kita tidak benar-benar tahu ada apa di baliknya, dan itu bikin kita waspada.

Lalu kita duduk, membuat api.

Kita melihat ke atas. Langitnya mendung. Tapi kita tahu di sana ada bintang. Di sana ada bulan. Bara api terbang kecil-kecil di depan. Hangat. Ada ketidakjelasan, tapi hangat.

Tidak ada ledakan petasan. Tidak ada jerit terompet. Tidak ada anak yang berlarian dengan kembang api.

Lalu kita tiduran sebentar, dan 2021 datang.

Gue merasa tenang.

Tahun depan, gue mau kenal orang baru lebih banyak lagi. Gue payah dalam mencari teman baru, tapi gue mau coba. Ada satu dua kompetisi yang mau gue ikuti. Mau belajar menulis dan komedi lebih serius lagi. Mau benaran main youtube dan belajar perkameraan. Mau nemuin lagu-lagu catchy dari Discover Weekly lagi. 

Tahun depan emang gelap dan tidak ketebak, tapi setidaknya gue tahu: masih ada bulan di atas kepala.




ps) mari kita semua tulis hal-hal yang pengin kita lakuin di 2021! denger2 sih makin banyak pamer mo ngapain, makin diaminin warga, makin bisa terwujud!

Friday, December 25, 2020

Membuat Konten: Kualitas Versus Kuantitas

 Apa kabar kawan?

Long time no see. Ke mana aja lo atau you mati senang rasanya bertemu kembali. Selamat, kamu yang tahu kalimat barusan adalah anak 90-an. Yang demen lagu reggae waktu SMA. Woyooo!

Perdebatan soal judul tulisan ini sebetulnya udah basi. Tapi, beberapa waktu belakangan gue baru menemukan pergeseran pemikiran. Asik.

Kalo kalimat barusan gak pake asik, pasti kesannya gue keren banget ya. Apalagi kalau gak sok reggae gitu.

Dateng-dateng bilang, "Buat gue, kuantitas tuh lebih penting dari kualitas."

Beuh, nge-hook dan mantap abis.

Tapi apa daya, isi otak gue terlalu random. Tiba-tiba aja kepikiran, "kayaknya terlalu serius deh kalo langsung bahas topik ini. Gimana kalo tulisan di blog yang udah lama gak keurus ini kita awali dengan lagu Steven and The Coconut Treez?"

Ide bagus, Kresnoadi.

Oh, indahnya dunia overthinking. Buat yang gatau, nih gue kasih lirik lagu dan link videonya di kolom komentar!


Berhubung tulisan ini udah dibuka dengan kerandoman pikiran gue, mari kita langsung ke topik.

--

Ngomongin konten di internet, sekarang, buat gue, kuantitas tuh lebih penting ketimbang kualitas. Apa? Maju lo Chandra Liaw!

Nanti gue yang mundur...

Ketika dahulu gue dan teman-teman diskusi masalah ini, kesimpulannya selalu sama: kualitias harus berada di atas kuantitas. Lebih baik mengeluarkan sedikit konten tetapi bagus, ketimbang banyak tapi bapuk semua.

Persoalan ini terus aja mengganggu gue. Gue merasa itu pemahaman yang betul, tapi juga seperti ada yang mengganjal. Perasaannya kayak lo lagi coli, lalu setelah 7 menit baru sadar kalau dari tadi Nyokap ngintip di jendela. Kalian bertatapan, tanpa bicara. "Anjing, ternyata Nyokap udah balik!" pekik lo dalam hati. Lalu lo membeku. Kamera nge-zoom ke muka. Keringat dingin. Tapi tangan masih di perseneling.

Sampai beberapa minggu yang lalu, gue gak sengaja menonton video Garyvee di Tiktok (iya, Tiktok. Anda tidak salah baca. Dan tidak, bukan video coli).

Di video itu, ada seseorang yang memberikan pertanyaan kurang lebih kayak gini: "Ger, apa alasan lo hijrah?"

Lain woy! Itu Gery Iskak!



Yah, pokoknya dia bertanya soal pentingan mana, kualitas atau kuantitas konten?

Tanpa mikir, Gary bilang kuantitas.

Alasannya, yang gue sepakati adalah, kualias konten itu bersifat subjektif. Sederhana, tapi buat gue masuk di akal. Kalau sebuah kualitas itu sifatnya subjektif dan kuantitas objektif, kenapa kita ribet mikirin hal-hal yang subjektif?

Kalau mau dipikir lebih jauh, apa, sih, definisi dari "kualitas" itu sendiri? Bukan tidak mungkin pengertian kualitas antara pembuat konten dan penikmatnya berbeda. Misalnya, kualitas dalam versi pembuat konten adalah editing-nya yang cihuy. Tapi, apakah penikmat konten menganggap video yang berkualitas itu yang editing-nya keren? Belum tentu. Bisa aja yang sound-nya jelas, atau ceritanya bagus, atau atau yang lain.

Atau, mari kita bahas soal blog dan tulisan.

Bagi seorang blogger, bisa jadi tulisan yang berkualitas sama dengan cerpen yang njelimet dengan diksi yang sastrawi. Tapi, bisa jadi, bagi pembacanya, tulisan yang berkualitas adalah yang ringkas dan tidak bertele-tele.

Kalau ini kasusnya, pada akhirnya, pemikiran soal kualitas menjadi tidak nyambung. Dan ketika sudah tidak nyambung, ia tidak relevan untuk kita pikirkan.

Sebaliknya, kuantitas menunjukkan usaha.

Katakanlah dalam seminggu orang ini menghasilan 2 tulisan "jelek". Artinya, dalam sebulan ia menyajikan 8 tulisan. Dibandingkan si penulis berkualitas yang dalam sebulan hanya menyajikan satu "tulisan berkualitas" (kecuali output 7 tulisan sisanya sebanding dengan apa yang dia kerjakan selain 1 output tulisan. Misalnya: kebutuhan riset dll, tapi itu pun susah diukur.)

Tentu, bagi orang awam, blogger yang menyajikan 8 tulisan dalam sebulan mempunyai usaha yang lebih keras. Meskipun tidak sebagus tulisan blogger satunya, tetapi lama-kelamaan blogger ini punya karakter: gigih, pekerja keras, dan memiliki etika kerja yang keren.

Persoalannya, tinggal apakah si blogger kuantitas ini mau mendengar dan belajar untuk mengembangkan diri. Sehingga, semakin lama, tulisannya semakin bagus.

Kalau itu terjadi, bukan tidak mungkin di satu titik, kualitas kedua blogger ini menjadi sama.

Karena tidak bisa dipungkiri, ancaman dari orang yang mengagungkan kualitas adalah menjadikannya sebagai permakluman. Lawan terberatnya perfeksionis, dan batu loncatannya ekspektasi penikmat yang sudah menunggu lama.

Lucunya, gue baru menyadari kalau gue, ketika ngeblog, adalah orang yang mendahulukan kuantitas. Entah lagi giat-giatnya menulis, hampir setiap hari gue update blog. Walaupun tulisannya nggak penting semua.

Di sinilah gue sadar kalau gue adalah documentarian.

Ketimbang  membuat konten dan menjuluki diri sebagai content creator, selama ini yang gue lakukan adalah mendokumentasi. Gue membekukan hal-hal yang terjadi di sekitar. Hanya angle dan mediumnya aja yang bermacam-maca. Entah tulisan, foto, atau video.

Pertanyaannya, kalau gue cuma mau mendokumentasi, gue harus bikin kayak apa?

Well, 2021 bakal banyak dokumentasi gak penting yang gue lempar ke internet. Semoga kamu sanggup nangkepnya. \:p/

See ya!

ps) Menurut lo gimana soal si kualitas dan kuantitas ini? Gue mau denger pendapat lo dong. Biar bisa belajar juga.