Tuesday, January 21, 2020

hope you live the happiest.


Gue pernah merasa orang yang berjiwa konsumtif ketika punya masalah itu aneh. Seseorang ini punya masalah di hidupnya. Alih-alih menghadapinya, dia memutuskan untuk masuk ke H&M, dan membawa pulang dua potong cardigan. Sampai kosan, masalahnya masih ada. Duitnya nggak ada.

Atau mereka yang having fun bareng temen-temen di tempat jedag-jedug. Minum sambil dansa. Diantar kerabat ke apartemen karena dapat jackpot. Dibangunkan puluhan notifikasi tentang kejadian tadi malam.

Atau mereka yang kerjanya makan melulu. Seolah-olah kesedihan bisa dikunyah dan berakhir jadi tahi di pembuangan.

Kenyataannya, tidak ada yang salah dengan mereka.
Apa yang selama ini gue pikir aneh, ternyata cuma perasaan iri.

Emosi yang muncul dari masalah seseorang memang sebaiknya disalurkan. Dan tiap orang, bebas memilih cara mengeluarkannya. Ada yang nenggak amer sampai curhat. Ada yang dengan membeli banyak makanan. Ada yang traveling ke tempat baru. Ada yang sekadar cerita ke orang yang dia percaya.

Selama ini gue selalu suka ngedengerin cerita orang. Segala hal yang terjadi di keluarga dan lingkungan, membuat gue jadi orang yang seperti itu. Belajar mendengar sambil cari perspektif baru. Seneng ngelihat sekeliling gue ketawa. Menjadi stress reliever orang lain. Sampai di satu titik gue sadar, kalau gue juga butuh itu.

Dan ternyata, gue nggak punya.

Gue tidak punya botol amer yang bisa gue tenggak. Gue tidak bisa jadi orang yang konsumtif mendadak. Dan belakangan gue sadar, kalau gue tidak punya orang untuk mendengar masalah-masalah gue. Di satu waktu, ketika menyimak masalah orang ini, gue pernah punya perasaan jahat.

Perasaan yang bilang kalau gue ingin menduplikasi diri. Dan dengan congkaknya bilang, “Enak kali ya punya Kresnoadi yang bisa dengerin masalah gue.”

Semakin gue coba bercerita, semakin gue tahu jawaban-jawaban yang muncul dari orang-orang ini. Sabar. Kembali ke agama. Atau menceritakan balik masalahnya dan menganggap gue tidak seberapa.

Kekuatan dan kepercayaan yang gue kasih, ternyata dianggap gitu aja.

Dahulu, gue melampiaskan emosi dengan menulis. Gue menulis apa aja. Dari yang nggak penting, sampai perasaan-perasaan terdalam.

Beberapa bulan ke belakang, gue jadi merasa kalau itu adalah hal yang norak. Tulisan ini misalnya. Ngebuat gue makin down karena berpikir, di luar sana, ada yang menganggap gue alay. Dan walaupun emang bener, tetep aja rasanya perih.

Belum lagi mereka yang seolah bikin peraturan tidak tertulis tentang apa yang boleh ada di dunia maya dan apa yang tidak boleh. Bahwa dunia maya seharusnya tempat berbagi kebahagiaan dan bukannya kesedihan. Mereka yang pelan-pelan bikin gue berubah. Dari orang yang abnormal dan random di internet, menjadi sok-sokan belajar foto dan video.

Supaya gue, lagi-lagi, melihat orang lain dari balik kamera. Tanpa peduli diri sendiri.

Dan karena itu, I hope you all live the happiest.
So do I.
Suka post ini? Bagikan ke:

Monday, December 9, 2019

Podcast PKK - Social Anxiety


Hari sabtu kemaren gue bikin podcast soal social anxiety. Soal pengalaman dodol gue tentang kebodohan-kebodohan berinteraksi sosial ini. Gue gatau sih orang-orang akan sadar atau malah makin trauma denger podcast gue. Tapi buat yang mau denger bisa play dari bawah atau cek di Spotify di Podcast Keriba-Keribo ya!


Suka post ini? Bagikan ke:

Thursday, December 5, 2019

Betrugen Alternate


Betrugen Alternate adalah cerita spin off yang gue buat berdasarkan cerpen Nfirmansyah di blognya.
Cerita asli Betrugen bisa dibaca di sini.

--
Di Jalan

Apa yang lebih buruk dari melihat pantat di siang hari? Ya, keluar dari pantat untuk jalan kaki di trotoar Jakarta siang hari. Lihat, lihat. Orang-orang ini naik skuter seperti Jakarta adalah kota... apa? Metropolusi? Gue agak lupa sebutannya kota-kota keren dystopia 2038 neo itu.

Cih, naik skuter. Mereka pikir tinky winky?

“Iya, misi, Mas,” kata gue, membalas kalimat pria berjas yang tidak ada. Gue memiringkan badan, menempel di tiang listrik kayak cicak supaya dia bisa lewat. Setelah berhasil lewat, gue merentangkan tangan. “Berpelukan!”

Pria berjas ini berhenti dan nengok.

Gue meluk tiang listrik.

Hampir aja gue bilang, “Pelukan, Mas?” untuk menetralisir situasi, tapi di sisi kanan tiang listrik ada bongkaran semen yang terbuka. Kayaknya bekas pohon. Gue memilih masuk dan berjalan ke pertokoan. Beruntung sekali dia ketemu orang kayak gue. Hihihi.

Orang ini memang beruntung, tapi tidak dengan perempuan di kantor tadi.

Siapa namanya? Marissa? Annisa? Prisa?

Kayaknya dia cewek baru deh. Nggak mungkin, kan, sengaja pakai rok sobek kayak gitu demi bisa diterima? Memangnya ini 1998? Tahu, kan, satu kasus di tahun itu di mana Budiman SP membuat kebijakan untuk mengubah taman kota menjadi... tanah? Dia menyebutnya sebagai “Lapangan 3.0”. Bapak bahkan masih menyimpan koran Pantauan Rakjat yang membahas soal itu. Salah satu kutipan yang gue ingat begini:

Di taman kita cuma bisa duduk-duduk, bersandar, dan ongkang-ongkang kaki seperti orang tidak punya kerjaan, maka saya buat yang lebih: tempat di mana kamu bisa duduk, tiduran, berdiri, sikap lilin, roll depan (tergantung kemampuan)! Tempat di mana bumi dipijak dan langit dijunjung! – Budiman SP

Beritanya berisi pendapat Budiman tentang perbandingan antara lapangan 3.0 dengan taman pada umumnya.

Dan kita tahu itu perintah istrinya.

Konon istrinya menyukai bintang-bintang. Konon istrinya sakit dan menyukai bintang-bintang. Konon istrinya sakit pusing dan di atas kepalanya berputar bintang-bintang. Konon di malam hari sang istri pernah terbangun lalu mengelus kepala Budiman. Dia bilang, “Bud… Bud.. aku ingin bintang.”

“Bintang begimana maksudmu?”

Istrinya membentuk gambar bintang dengan telunjuk di dada Budiman.

“Kamu gambar lambang freemason ya?”

“BINTANG, BUD! BINTANG!”

“Oh,” Pak Budiman akhirnya paham. Ia memiringkan badannya ke istri dan menyentuh hidungnya dengan lembut. “Ngomong dong. Di kulkas ada dua kalo gak salah…”

Kalimat itu membuat kepala Bu Budiman panas seperti digampar bulan dan bintang. Dan, kata orang-orang, itu lah awal mula terciptanya Lapangan 3.0.

Lapangan 3.0 yang tersisa saat ini hanya Lapangan Banteng.


Di Mobil

Aku tahu skuter sedang menjadi polemik, tapi manusia, kan, punya otak. Aku merapikan jas dan masuk ke mobil. Hari yang menyebalkan. Tiga kali presentasi sama dengan tiga kali pengalaman buruk. Pemutar musik di mobil menunjukkan pukul 21:33.

Won’t be home for now
I’m on a break
Detaching for a while

Pertama: Mobil sudah kuparkir jauh dan naik skuter demi tepat waktu mendatangi klien ini. Biar kuklarifikasi. Siapa yang suka skuter? Kamu pikir aku naik itu karena sedang tren? Kamu pikir skuter itu keren? O jelas tidak. Dan aku rasa semua penduduk bumi setuju denganku. Kalau skuter itu keren, pasti lah ada orang bernama Tony Hawk Pro Skuter.

Skater itu keren, tapi skuter? Jenis sepeda (?) yang bahkan lebih cupu lagi. Tidak ada orang yang tingkat kekerenannya bertambah karena naik skuter. Malah yang macho jadi lemah. Bayangkan Deddy Corbuzier naik skuter. Sama menggelikannya dengan membayangkan Deddy Corbuzier mandi pakai gayung bentuk love warna hijau.

Harkat martabatku sudah turun tapi apa? Tapi pak Budiman tidak ada di tempat. Nomornya tidak bisa dihubungi. Dan aku tidak tahu tanggal lahirnya untuk kukirimkan ke santet online. Tanpa pemberitahuan minta memundurkan jadwal ke minggu depan. Bagaimana bisa, sih, dunia ini membuat orang kaya mampu membeli waktu?

Aku sudah punya rencana untuk minggu depan. Sebelum berangkat, aku akan mengirimkan pesan “Saya berangkat ke tempat bapak.” begitu dia balas, “Ok” langsung aku sikat dengan “tapi boong~”.

I’m flying solo
I’ll fly without you
I’ll go by myself

Kedua: Awal meeting berjalan lancar. Sampai aku sakit perut entah karena apa. Konsentrasiku buyar seketika. Klien bertanya hal terpenting dari desain ini dan kujawab dengan: “KAMAR MANDI, JENDERAL!” lalu ruangan itu hening tiga detikan.

Butuh tiga part untuk menceritakan sisanya dan sepertinya aku hanya akan mengatakannya pada Anisa.

“Aku sudah sampai.” Kukirimkan pesan ke Anisa. Kutembakkan lampu dim dua kali ke pagar rumah Alex. Kejutan di dalam dashboard sudah kusiapkan. Sebentar lagi semuanya akan meledak. Dan aku mercon tahun baru yang disukai anak-anak.

I’m flying solo
I’ll shed my own tears
I’ll walk my own fears

Kutekan klakson panjang. Ia keluar dengan blazer krem. Langkahnya tidak sengaja seirama dengan jantungku.


Di Rumah

“Maaf, tadi sudah kumasukkan ke mesin cuci,” jelas Alex.

“Maaf, sekarang kuganti dengan piyama ini.” Anisa mengaduk mesin cuci, mencari blazer dan roknya, menanggalkan pakaiannya, menatap Alex, memasukkan piyama ke tumpukan paling bawah. “Langsung dicuci. Jangan dibayangkan.”

“Kalau dici-“
“Diam.”
“Kenapa, sih, kamu perlu memakai piyama hanya untuk berjalan dari kamar ke tempat cuci?”

“Bisa tanya hal lain?”

Bisa. Di kepala Alex banyak pertanyaan lain. Kenapa Anisa setakut ini? Kenapa tidak kita lawan saja pria busuk tukang ngeluh di luar? Kenapa dia tega membuat kamu seperti ini? Kenapa kamu tega membuatku seperti ini? Kenapa pertanyaan-pertanyaan ini tidak bisa keluar. Abort mission. Ternyata gabisa.

“Ingat. Langsung dicuci.”

Anisa berlari-lari kecil dari bukit pakaian kotor ke bukit peralatan dandan di kamar Alex. Alex menyusulnya. Di depan kaca Anisa berlenggak-lenggok, menyemprot parfum dan memainkan rambut.

“Menurutmu aku gimana?”

Alex menjawab dengan pelukan dari belakang.

“Aku harus pergi.”

Tok tok tok!

“Assalamualaikum!” Di depan pintu, orang ini berdiri, dengan bingkisan kecil di tangannya. Di sebelah bel tertulis “BUDIMAN SP”

Monyet. Apa aku taruh dashboard lagi aja ya?



Di pemberhentian

Gimana hari ini?  Aku ingin cerita tentang tiga pengalaman burukku. Aku juga ingin cerita tentang tiga pengalaman burukku. Menurutmu lebih buruk mana, tiga pengalaman buruk atau satu? Tentu tiga. Tapi aku tidak siap saat satu pengalaman buruk lebih buruk dari tiga pengalaman buruk. Semua orang harus siap bukan? Itu lah kenapa ada hitungan mundur tiga dua satu sebelum pistol ditembakkan dan kaki-kaki pelari melontar keluar garis start.

Kamu siap?

Aku juga tidak.

Tapi menurut kamu?

Menurut aku aku salah. Dan aku tidak tahu harus bilang apa lagi karena aku memang salah. Tapi semua orang punya salah dan aku adalah bagian dari orang-orang itu.

Tapi apakah kita dilahirkan untuk menentukan yang salah dan benar atau soal menyelotip luka? Tapi bagaimana kita bisa menyelotip kalau lukanya belum lahir. Bagaimana kalau lukanya masih tidur? Haruskah kita membangunkannya atau kita tunggu saja sampai pagi datang. Bagian mana yang harus diolesi alkohol. Kulit atau tenggorokan. Tahu apa yang lebih menyebalkan dari melihat pantat di siang hari? Melihat mata dari spion mobil. Melihat mata dari spion mobil dan mengetahui bahwa mata tidak cukup pintar untuk melihat bahwa kita tidak lebih baik dari pemutar musik di dalam mobil soal hal-hal intim.
Suka post ini? Bagikan ke: