Wednesday, July 11, 2018

Daftar 21 Pekerjaan yang Bisa Kamu Pilih Kalau Suka Menulis


Gue masih inget awal blog ini tercipta. Ketika itu masa ospek kampus dimulai. Gue adalah orang yang paling males sama konsep ospek-ospekan ini. Buat gue, definiisi ospek yang ngomelin junior dengan dalih “meningkatkan mental” itu aneh banget. Gak ada hubungannya antara diteriakin sama kekuatan mental seseorang. Nyokap gue aja di rumah gak pernah bilang, ‘Kamu tuh kalo makan yang bersih dong! Ibu tuh ngomong gini biar mental kamu kuat ya!’

Gara-gara ospek ini, ada salah seorang senior yang kami daulat sebagai public enemy. Kalo ngeliat dia di ujung lorong, kami ngibrit dan cari jalan lain. Kalo dia muncul di kantin, kami langsung kenyang dan pindah ke kantin anak Ekonomi.
Sekalinya kami ngumpul, dia jadi bahan perbincangan habis-habisan. Kadang ada yang sok berani bilang, ‘Kemaren gue gak sengaja ketemu dia! Gak bisa bedain muka sama pantatnya!’

‘Wah, parah!’ sahut yang lain. ‘Tuh orang kalo ngomong emang kayak lagi kentut!’

Pas dia ngospek, kami ketakutan lagi.

Ya, kami benci tapi cupu.

Gue, sebagai anak alim yang cinta perdamaian, tentu tidak akan ngomong langsung hal itu ke dia. Selain cinta damai, gue juga belum mau mati. Di sisi lain, dorongan perasaan ini begitu kuat. Gue pengen mengungkapkan segala isi hati ini, tapi gatau caranya. Apalagi sewaktu kampus gue ngundang Nidji, gue gak sengaja ngeliat dia joget… dan gayanya kayak kingkong kesurupan.

Setelah mencari berbagai cara pelampiasan untuk ngeledekin dia,
gue memutuskan untuk nulis kejadian itu.

Akhirnya, jadi deh blog ini.

Setelah sekarang gue pikir-pikir lagi ternyata… busuk juga ya niat gue. Hehehe. Jauh beda sama penulis lain yang mengawali kisahnya dengan berbagai cerita inspiratif, gue lebih ke desktruktif. Kalo orang nyebarin nilai positif, lah gue malah nyebarin kelaknatan.

Agak nggak enak kalo misalnya gue diundang ke Hitam Putih, lalu disuruh cerita hal ini. Gak mungkin gue jawab jujur dengan, ‘Waktu itu bikin blog karena ada orang yang mukanya kayak pantat!’ Bukannya ditepokin, yang ada gue diludahin massal.

Di masa itu, gue sama sekali gatau gunanya nulis di masa depan. Nulis? Emang kegiatan ini berguna dan nguntungin secara material?

Gue sama sekali gak tahu kalau ada prospek kerja yang berhubungan dengan menulis.

Sampai akhirnya, gue keterusan dan beneran berkecimpung di dunia tulis-menulis. Bekerja di “tempat ini” sedikit banyak mengubah pandangan gue soal tulis-menulis. Ternyata, banyak, lho, profesi yang berkaitan dengan dunia nulis. Dan ternyata… nulis itu susah mampus.

Makanya, postingan ini dibuat untuk kamu yang pengin tahu jenis-jenis pekerjaan yang berhubungan dengan dunia tulis-menulis. Jadi, kalau kamu sekarang suka nulis, kamu punya pilihan untuk ngebuat nulis jadi hal yang serius dan professional.

Gue akan buat daftar dari yang paling familiar dulu ya:

Satu. Penulis novel: Orang yang kerjanya nulis novel. Dapetin duitnya… ya dari omzet penjualan novel dan workshop penulisan.

Dua. Cerpenis: Orang yang kerjanya menuls cerpen. Bisa menjadikannya sebagai buku kumpulan cerpen, hasil kiriman ke berbagai media, atau memberikan workshop penulisan.

Tiga. Kolumnis: Orang yang rutin menulis di rubrik/kolom suatu media.

Empat. Penulis puisi: Orang yang kerjanya menulis puisi.

Lima. Jurnalis/reporter: Orang yang membuat berita. Jurnalis ini ada 2 tipe: 1) jurnalis lapangan—orang yang turun ke lapangan untuk mencari berita, melakukan interview, lalu membuat dan menyerahkannya ke tim di kantor, dan 2) jurnalis di dapur percetakan—bisaanya bertugas mencari berbagai sumber berita di kanal-kanal berita luar negeri, lalu membuatnya dalam versi “Indonesia”.

Enam. Penulis cerita komik: Di industri komik, ada 2 pola pengerjaan 1) komikus bekerja sendirian, dan 2) komikus bekerja sebagai tim. Di dalam tim ini, ada yang berperan sebagai leterrer, penggambar komik, pembuat cerita, dan lain-lain. Ranah seorang penulis bisa masuk ke dalam ‘pembuat cerita’ ini. Tugasnya, ya… membuat cerita si komik itu.

Tujuh. Pembuat lirik lagu: Iya, beneran. Kalo kamu pandai merangkai kata dengan bagus dan suka di industri musik, kamu bisa banget jadi pembuat lirik lagu (pencipta lagu).

Delapan. Penulis skenario layar lebar: Kalau kamu tertarik dengan industri film, kamu bisa memilih untuk bekerja sebagai penulis scenario layar lebar. Saat ini, dari riset iseng-iseng gue sih kayaknya masih sedikit orang yang berprofesi sebagai penulis skenario layar lebar (scriptwriter). Jadi, kesempatan kita masih sangat terbuka lebar. Tentu, berbeda dengan menulis cerpen dan novel, ada teknik tertenu dalam menulis skenario yang harus kamu pelajari.

Sembilan. Penulis naskah animasi: Tahu film animasi kan? Nah, sebelum itu dibuat, tentu harus ada naskah supaya tim animasi punya bayangan mau membuat adegan seperti apa. Ranah ini bisa kamu cari kalau suka di bidang animasi.

Sepuluh. Penulis skenario sinetron: Biasanya, pada satu sinetron, ada satu “tim penulis” yang terdiri dari beberapa anggota penulis dan satu “pemimpin”. Mereka saling membagi tugas untuk mengerjakan beberapa episode sekaligus, baru kemudian digabung dan dijahit supaya tidak terkesan sebagai episode yang “terlepas-lepas”. Sistem ini lah yang seringkali ngebuat alur cerita sinetron agak melompat-lompat. Meski begitu, percayalah kalau profesi ini sangat mengutungkan secara material. Tidak jarang penulis disewakan apartemen supaya bisa fokus menuliskan naskah sinetronnya.

Sebelas. Asisten tim penulis skenario: Seperti yang gue sebutkan di atas, dalam dunia sinetron, biasanya ada satu tim penulis yang bertugas. Kalau kamu belum bisa jadi ketua penulisnya, kamu masih punya kesempatan untuk tergabung ke dalam anggotanya.

Dua belas. Penulis skenario video digital/campaign: Di beberapa perusahaan, ada orang khusus yang bertugas membuat naskah ilkan yang sering kamu temui di YouTube atau berseliweran di media sosial. Meskipun banyak juga yang menggabungkan profesi ini dengan copywriter.

Tiga belas. Tim kreatif: Di setiap program televisi, ada tim kreatif yang bertanggung jawab terhadap “jalan cerita” acara itu. Nah, penulis sangat bisa masuk ke ranah ini. Karena dalam penggarapannya, kreatif harus membuat format acara dalam bentuk tulisan.

Empat belas. Social Media Officer: Bertugas memegang akun media sosial sebuah brand. Biasanya dia yang akan mengatur konten-konten seperti apa yang akan tayang. Mau upload foto apa di Instagram, mau ngetwit apa, mau apdet status apa. Dan biasanya, penulis lah yang lebih handal.

Lima belas. Content writer: Penulis konten di berbagai media. Bisa media cetak/majalah, maupun media digital. Profesi ini juga banyak dibutuhkan di dunia advertisement agency, start up, bahkan perusahaan besar juga banyak yang membutuhkan ini. Cakupannya pun sangat luas. Ada yang mencari dalam “genre” tertentu (penulis tekno, penulis akunting) maupun penulisan kreatif yang membahas segala hal.

Enam belas. Copywriter: Penulis naskah iklan. Tugasnya menuliskan “copy” atau tulisan yang berkaitan dengan iklan. Scope-nya sebenarnya cukup luas, dan berbeda-beda tiap perusahaan. Ada yang mengerjakan penulisan headline iklan di majalah, naskah adlibs di radio, tagline, mencari hestek, penulisan di banner iklan digital/billboard, penulisan caption social media, pembuatan jingle lagu suatu brand, penulisan teks di e-flyer, pembuatan naskah video digital, pokoknya konten teks yang ada di divisi marketing suatu perusahaan atau agency.

Tujuh belas. SEO Specialist: Agak sedikit berbeda, SEO Specialist lebih bertugas untuk membuat konten tulisan dan bagaimana tulisan itu ada di halaman pertama pencarian google. Selain itu, bisa juga membuat konten yang mendukung sebuah landing page tertentu supaya mudah terdeteksi mesin pencari google.

Delapan belas. Ghostwriter: Penulis yang membuatkan tulisan untuk orang lain, tanpa mencantumkan namanya. Berbeda dengan anonym, hasil karya ghostwriter akan diakui sebagai karya orang lain. Contoh, gue menulis novel untuk Tere Liye. Nantinya, novel itu akan diakui sebagai tulisan karya Tere Liye. Cakupan ghostwriter bisa berupa novel, atau tulisan digital lain.

Sembilan belas. UX writer: Sebenarnya, cakupan UX writer agak mirip dengan copywriter. Bedanya, seorang UX writer hanya mengedit/membuat tulisan untuk segala hal yang berhubungan dengan tampilan luar sebuah website/aplikasi. Contohnya, tulisan “subscribe” di YouTube. UX writer lah yang memutuskan kalau tombol itu cocok ditulis sebagai “subscribe” dan bukannya follow/ add to list. Iya, beneran ada kerjaan begini.

Dua puluh. Stand up Comedian: Betul, sebenarnya salah satu skill yang harus dimiliki Stand Up Comedian adalah bagaimana menulis yang ringkas, efektif, dan padat. Jadi, kalau kamu suka nulis dan komedi, bisa jadi ini profesi yang cocok buat kamu.

Dua puluh satu. Blogger: Sekarang banyak banget blogger yang bisa hidup “mandiri” karena memfokuskan dirinya dalam dunia blog. Susahnya, blogger yang murni “ngeblog” itu tidak hanya sekadar menulis. Mereka harus punya taste seperti arsitektur agar layout blognya bagus, pemahaman UI/UX designer agar pembaca nyaman dan punya pengalaman membaca yang cihuy, bisa fotografi agar tidak bosan, bisa videografi agar ada videonya, harus mengerti SEO agar tulisannya masuk page one, pokoknya pusing deh. Bentar… ini kenapa curhat ya?

Apalagi ya? Hmm pokoknya gitu deh. Setelah gue baca ulang, ternyata banyak amat ya. Padahal niatnya cuman mau share kerjaan yang sekiranya berhubungan dengan dunia tulis-menulis. Belum lagi pekerjaan turunannya kayak pembuat naskah pidato (iya, beneran ada lho itu), buzzer, dan lain-lain. Semoga, dengan mengetahui jenis pekerjaan ini, jadi agak terbuka kalau apa yang kamu kerjakan sekarang, sebenernya beneran ada gunanya kok. Muahahaha.

Sori kalo kepanjangan. Nanti kita ngobrol-ngobrol lagi ya. Ada beberapa hal seru yang gak sabar untuk gue ceritain.

See you on the next post!
Suka post ini? Bagikan ke: