Monday, September 26, 2016

Pidi Baiq, Hello Fest, dan Gantinya Billboard

Seniiiiiiiiiiiinnnn!! \(w)/

Hari ini bela-belain dateng ke kantor lebih pagi dari biasanya. Begitu sampe, eh ternyata malah kepagian. Belum ada orang sama sekali. Padahal, niatnya sengaja datang lebih pagi karena hari ini kerjaan banyak pisan. Atau dalam bahsa sunda yang lebih keren, ‘KERJAANNYA KAYAK KEHED!’

Daripada stres, di sela-sela kebiadaban kerjaan ini, gue iseng apdet blog bentar deh. Muehehe.

Weekend kemarin rada apes sih. Masih ada sisa-sisa kerjaan sedikit yang harus dibawa pulang, wifi rumah kesamber geledek, daaaan, casan hape ketinggalan di kantor. Sungguh kombinasi yang bikin weekend = haram jadah.

Tapiii, hari sabtunya gue dapet dua hal yang bikin gembira! Pertama, di Hello Fest kemarin, gue pertama kalinya ketemu Pidi Baiq! Gile, gue nggak nyangka abis kalo Pidi Baiq ternyata sekeren… dan sebantet itu. Muehehe. Tapi beneran. Meskipun agak nggak nyambung sebenarnya untuk penulis datang sebagai bintang tamu di acara Hello Fest, tapi seru abis. Dia ngebuka perkenalan dengan kalimat khasnya, ‘Aku adalah imigran dari sorga. Yang dateng-dateng langsung migrain.’ (Okay, gue ngarang kalimat yang kedua, soalnya gue lupa).

Pidi Baiq itu lucu banget. Pantesan aja selama ini banyak orang yang suka. Satu hal yang gue ingat dari presentasinya kemarin adalah kalimat dia yang membakar semangat gue. Kalo nggak salah kalimatnya kayak gini: ‘ITB itu nomor dua! Nomor satu itu UNPAD! Soalnya aku dapet istri dari sana.’

*celingak-celinguk nyari anak UNPAD*

Di presentasinya, dia bercerita tentang latar belakang Dilan, buku yang sangat laris itu. Dia cerita pengalamannya sewaktu pertama kali mendapat email dari Milea, untuk meminta dibuatkan buku. Lalu Pidi Baiq mengiyakan, dia akhirnya ketemu sama Milea, lalu ketemu Dilan, lalu mereka pun bercinta di ruang tamu (lho?). Dia juga menampilkan teaser film untuk buku Milea. Saat ini, Ayah Pidi sedang ngobrol bareng Monty Tiwa mengenai kisah Dilan yang akan difilmkan. Katanya, masih ada kemungkinan gagalnya (nggak jadi dibuat film), tapi semoga yang terbaik aja ya!

pidi baiq di hello fest 2016

Mengenai acaranya sendiri, sejujurnya, Hello Fest tahun ini agak di luar ekspektasi gue. Dua tahun lalu gue juga sempat bikin postingan tentang acara ini (baca di sini). Seingat gue, ketika itu acaranya dilakukan di Tenis Indoor Senayan. Di bagian luar, banyak booth yang menyediakan berbagai karya kreatif kayak komik, baju, dan segala macam tentang jepang-jepangan. Tapi, tahun ini booth-boothnya dikit banget. Mungkin karena tempatnya yang pindah ke Plenary Hall dan konsepnya lebih fokus ke movie concert kali ya? Jadi, ya seharian gue lebih banyak tidur goleran sambil nontonin film-film.

hello fest 2016

Gara-gara Hello Fest kemarin, gue jadi inget kalo dulu sempet ngikutin serialnya Sepulang Sekolah. Sayang aja udah beberapa bulan ini nggak ada lanjutannya. Padahal, konsep belajar yang dibawain lucu abis. Salah satu episode favorit gue:



Kalo buat yang serem-serem, jagoan gue adalah film Makmum ini:



Kabar kedua yang bikin gue bahagia adalah, gantinya  billboard mas-mas ini jadi:

senyum mbak-mbaknya sama kayak senyum gue waktu liat billboardnya ganti


RASAKANLAH DOA ANAK YANG TERANIAYA! *ketawa jahat*
Share:

Monday, September 19, 2016

Saat Cinderella Ketinggalan Benda Lain

Percaya gak percaya, banyak hal di dunia yang sudah diatur sedemikian rupa. Hal-hal ini, mau diapain juga, hasilnya akan tetap sama. Ketentuan-ketentuan yang berasal ‘dari sananya’. Seperti misalnya, tanggal kelahiran, kematian, dan mencret abis makan samyang. 

Di sisi lain, di dunia ini ada perisitwa yang bisa kita ubah, sesuai dengan besarnya keinginan kita. Peristiwa ini biasanya sifatnya lebih cemen. Nilai ujian bisa jadi bagus kalo kita belajar, hidup bisa lebih sehat jika pola makan baik. Dan, gebetan bisa ditaklukan, tergantung seberapa besar usaha yang kita keluarkan.

Tidak jarang kita mengharapkan perubahan-perubahan seperti itu di dalam hidup. Sewaktu film AADC 2 kemarin diputar, banyak yang kecewa dengan ending filmnya. Penonton berharap Cinta tidak akan bersatu kembali dengan Rangga. Begitu juga dengan serial How I Met Your Mother, di mana orang-orang ingin Ted Mosby berakhir bahagia dengan Robin.

Masalahnya, terkadang, ada beberapa hal yang kalo diubah malah jadi aneh. Kayak misalnya, dongeng Cinderella. Seperti yang kita tahu, keseruan di dalam Cinderella ada pada saat si pangeran mencari sosok Cinderella. Dan hal itu bisa jadi keren karena Cinderella meninggalkan sepatu kacanya.

Nah, gue, bareng Wahai Para Shohabat Siluman Capung, Ayam Sakit, dan Salah Tulis pun berpikir. Gimana jadinya ya cerita Cinderella itu kalo bukan sepatu kaca yang ketinggalan. Apakah ceritanya bakalan tetap romantis? Tetap menggugah? Tetep membangkitkan hasrat seksual? (lho?). Mungkin ini yang akan terjadi saat Cinderella ketinggalan benda lain selain sepatu kaca:



Satu. Balsem Otot Geliga

Mungkin ini terkesan sedikit konyol. Tapi sadarilah teman-teman! Siapa yang nggak akan masuk angin kalo jalan-jalan pake dress sampe jam dua belas malem? Camkan itu! Kalau dongeng Cinderella ada di Indonesia, bukan tidak mungkin hal ini terjadi. Begitu Cinderella kabur, terdengar bunyi, ‘Bletuk!’ Si pangeran pun mengambil barang dari kaca tersebut, menciumnya, lalu koma 2 minggu.

Sepatu kaca pasti akan memberikan kesan anggun dan cantik bagi pemiliknya. Sementara balsem otot geliga? Jelas terkesan murahan dan… lengket? Meskipun sama-sama ada bahan kaca yang melapisinya, tapi gue yakin kalimat pertama yang akan keluar dari mulut pangeran sangat berbeda. Berikut perkiraan reaksi pangeran saat pertama kali melihat benda tersebut tertinggal:

Sepatu kaca: ‘Hmmmm… kakinya pasti mungil dan imut.’
Balsem otot geliga: ‘Hmmmm… HOEK?!’

Kalo sepatu kaca, sewaktu Pangeran menyadari sepatu kacanya tertinggal, dia pasti bakal bersungut-sungut dan langsung merintah pengawalnya, ‘Mulai besok kita cari kaki yang cocok dengan sepatu ini!’ Kalo yang jatoh balsem otot geliga, perintahnya bakal ganti jadi: ‘Mulai besok kita cari… yang punggungnya ada bekas kerokan!’ Sungguh tidak elit sama sekali.

Lagian, gimana coba nyari tahu balsem itu punya siapa? Di dalam cerita aslinya, si pangeran menyebarkan pengumuman ke seantero kota. Menyuruh untuk cewek-cewek datang sambil mencoba sepatunya. Ini jelas sangat mudah. Tinggal nyari yang kakinya pas, maka ketemu deh identitas si Cinderella. Lha kalo balsem otot geliga? Masa diolesin satu per satu ke punggung cewek di satu kota? Itu Pangeran apa tukang pengobatan herbal?

Kalo pun udah ketemu pemiliknya, hasilnya pun pasti akan lain. Sesaat setelah pangeran menemukan Cinderella, dia akan memakaikan sepatu kaca, lalu memeluknya dengan mesra sambil berbisik, ‘Ahh… Akhirnya ketemu juga kamu!’ Sementara balsem otot geliga, si pangeran akan mengoleskan ke punggung Cinderella, memeluknya seraya berbisik, ‘Ahh… Akhirnya PANASHH!! TOLOOONG?!!’

Dua. Sendal Swallow.

Bukan tidak mungkin sewaktu Cinderella pergi, sepatu kaca hasil sihiran peri udah keburu balik ke semula. Dan, kalo udah begini, apa yang akan pangeran temukan? Sepatu Homiped!

Kagak lah.

Karena Cinderella aslinya gembel, paling-paling di kesehariannya dia cuman sendal jepit swallow. Pada awalnya, mungkin si pangeran tidak percaya bahwa ia baru saja berdansa dengan seseorang yang memakai sandal swallow. Tapi, barang bukti ada di depan mata! Sendal Swallow warna ijo!

Kalo ini benaran terjadi, gue yakin pangeran di Cinderella tidak akan repot-repot mengelilingi kota untuk mencari cewek dengan ukuran kaki yang pas. Tinggal datangin masjid, lalu cari orang yang celingukan nyari sendal ilang. Beuh, dijamin langsung ketemu si Cinderella. Dan dongeng “Cinderella” yang kita kenal selama ini pun berubah menjadi “Assalamualaikum, Cinderella”.

Tiga. Mukenah

Mungkin Anda bingung kenapa bisa mukenah yang tiba-tiba ketinggalan. Di luar negeri, mungkin hal ini sedikit mustahil. Tapi tidak kalau ini terjadi di Indonesia! Seperti yang kita ketahui, Cinderella adalah sosok perempuan yang kemayu, baik hati, dan penuh ketulusan. Bukan tidak mungkin begitu mendengar lonceng pertanda pukul dua belas malam, Cinderella langsung kabur dari istana… dan nyari mushola buat solat tahajud.

Begitu beres tahajud, Cinderella baru ingat kalau semua barang-barangnya akan berubah kembali menjadi cemen. Sementara si pangeran mengejar ke mushola… dan mendapati seorang cewek dengan pakaian lusuh. Cinderella pun segera kabur dan meninggalkan mukenahnya.

Ini pasti keren abis. Kalau cerita aslinya pangeran memakaikan sepatu kaca kepada cewek-cewek, sekarang pangeran makein mukenah ke cewek-cewek. Kalau sebelumnya para saudara tiri berlomba-lomba supaya dinikahin Pangeran, begitu tahu mukenah yang ketinggalan, gue jamin cewek-cewek pada jerit, ‘IMAMIN AKU PANGERAN! AAAAAAKKKK!!’

Menurut kamu, benda apa yang harusnya ketinggalan? Coba dong dishare! \(w)/
Share:

Thursday, September 15, 2016

Mau Dibuang? Apa Dibawa Pulang Aja?

Salah satu alasan gue nggak update blog sesering biasanya adalah karena Instagram. Semenjak Instagram punya fitur Stories, gue jadi seru sendiri. Soalnya menyenangkan aja gitu, tinggal pencet, tahan, gak make mikir dan nulis yang lebih butuh banyak waktu. Lain halnya sama fungsi Instagram sesungguhnya yang gue liat-liat kok kayaknya harus terkesan rapih dan tertata. Bahkan ada orang-orang yang merasa kalau feed di Instagram itu penting banget. Ada salah seorang temen gue, yang rela unfollow karena orang yang dia follow belakangan ini upload foto selfie.

‘Kalo selfie atau foto nggak penting mah gak usah upload di IG kali!’ kata temen gue, sewot sendiri.

Gile. Serem abis. Anak zaman sekarang tampaknya memang amat memperhatikan feed Instagramnya ya. Kalo Kasino tahu, mungkin dia bakal bangkit dari kubur lalu bilang, ‘Feed Instagram dipiara, kambing noh dipiara biar gemuk!’

Jadilah gue nggak upload-upload foto di IG, dan memilih mainan Stories. Muehehehe. Nah, kalo ada yang mau ramein, silakan follow ke Instagram Kresnoadi ini ya.

--
Rasa-rasanya gue udah lama nggak ngabarin soal projekan buku Tunggang Langgang di sini deh. So, here are some updates:

Udah ada beberapa bab baru yang gue masukin di Wattpad. Ada soal gue yang nyoba dandan dan malah berakhir berantakan (baca di sini). Ada juga tulisan tentang orang yang berhubungan jarak jauh (silakan baca di sini), berisi tentang pengalaman gue… berhubungan jarak jauh. Lucunya, sewaktu gue menyusun bab itu, keadaan gue sama Deva pas lagi nggak bener. But we should face the ugly truth, aren’t we? Mudah-mudahan sih tulisan itu bisa mewakili orang-orang yang pernah atau sedang menjalani hubungan jarak jauh.

Anyway, gue baru tahu dari salah seorang temen kalau ternyata, baca di Wattpad itu harus login dulu. Temen gue pernah coba buka dari hape dan setengah babnya ngeblur gitu. Jadi, buat temen-temen yang males download aplikasinya, bisa langsung login aja pakai akun twitter atau gmailnya.

--
Masuk topik. Udah hampir sebulan, telinga kiri gue rasanya sakit banget. Bagian dalamnya terasa perih, dan, gak tahu kenapa, nyambung sampai ke rahang dan belakang kepala. Awalnya gue tidak punya kecurigaan apa-apa terhadap gejala pennyakit ini. Tapi, lama kelamaan gue panik juga. Setelah hampir sebulan nggak bisa mangap dengan sempurna, gue memutuskan nanya ke beberapa temen. Dan tentu saja, hipotesa mereka: ‘ASIK KAAAAN YANG LAGI DIOMONGIIIIN.’

Biadab.

Seingat gue, pas kecil gue pernah mirip-mirip ngerasain kayak gini. Dulu, gue lagi iseng masukin cotton bud ke telinga kanan dan kiri. Terus gaya seolah-olah jadi gajah (jangan protes! Namanya juga iseng!). Eh, karena keasikan akting jadi gajah, gue lupa mencopot cotton bud yang ada di telinga. Terus, begitu capek, gue langsung tiduran. Pas ngadep kiri… CROT! Cotton bud-nya nyolok kuping. Terus udah deh, bagian dalam telinga gue infeksi.

Masalahnya, belakangan ini gue gak pernah iseng jadi gajah-gajahan make cotton bud (ya ngapain!). Tapi, mengingat rasa perih yang mirip dengan yang gue alami sewaktu kecil, gue pun membuat sebuah keputusan genting: pergi ke THT.

Terus terang, pengalaman gue ke THT cuman gara-gara main gajah-gajahan pas kecil itu. Ketika itu gue ditemenin Bokap, dan seinget gue nggak sehoror pergi ke dokter gigi. Gue cuman duduk, kemudian ada semacam alat penyedot yang masuk ke telinga, geli-geli dikit, beres.

Itu yang gue inget.

Aslinya, begitu memasuki ruangan dokter, gue deg-degan abis. Baru duduk bentar aja percakapannya udah serem. Berikut kutipan dialog bersama bu dokter:

‘Misi, dok. Hehehehehe.’
‘Iya. Silakan duduk. Ada apa nih?’
‘Telinga kiri saya udah lama sakit dok. Kayak perih gitu.’

Si Dokter cewek manggut-manggut. Dia ngelhatin gue bentar, lalu bilang, ‘ASIK KAAAAN YANG LAGI DIOMONGIIIN.’

Kagak deng. Intinya, ngobrol diawal itu cuman basa-basi doang. Kemudian gue disuruh duduk di semacam kursi yang bisa naik turun itu lho. Si dokter lalu bilang, ‘Kita lihat dulu ya.’ sambil senyum-senyum… DAN ABIS ITU NGAMBIL ALAT KAYAK SOLDER DONG. Sumpah, di situ gue mulai panik. Alatnya kayak tembakan dengan ujung bulat panjang menyerupai sumpit. Gue akhirnya cuma manggut-manggut sambil keringat dingin.

Si dokter nyolokin pistol ke kuping gue. ‘Nah, tuh, kuping kamu kotor.’ Gambar di monitor menunjukkan isi telinga gue… yang waktu itu gue kira Bantar Gebang.

‘Wow!’ Gue refleks ngomong, kagum mengetahui pistol itu ternyata kamera.

Bu dokter kemudian ganti meneropong isi telinga kiri gue, alias Bantar Gebang part 2. Dia geleng-geleng. Wajahnya tampak prihatin. Mungkin di dalam hati dia bertanya-tanya, ‘Ini kuping apa pantat ya?’ Di monitor emang terlihat kalau bagian dalam telinga kiri gue ini sedikit kemerahan. Bu dokter juga bilang kalo telinga gue infeksi. Dirasuki kepedihan, dia bilang, ‘Ya udah. Kita bersihin yuk.’

Gue mengangguk pasrah. Gue pikir, sama kayak jaman dulu, bu dokter ini bakal ngambil semacam alat penyedot gitu. Eh, tahunya dia mengambil suntikan segede gaban! Dia ngobrol bentar ke asistennya, sambil nyuci suntikan yang bisa buat ngebius gajah dewasa. ‘Kamu tenang aja ya. Nggak usah deg-degan.’

Jawaban di mulut: ‘Iya. Heeheheheheh.’ Jawaban di lubuk hati: ‘PALELU!!’

Setelah menyiapkan semuanya, dia memanggil asistennya. Bu dokter menyuruh gue memiringkan kepala ke kanan. Si asisten menadahkan wadah besi di bawah telinga gue. Lalu si dokter mengarahkan jarum suntik ke dalam telinga… dan nyemburin air hangat lewat jarum. Rasanya aneh banget. Telinga yang disemprot air hangat pake jarum suntik itu rasanya kayak… kayak telinga yang disemprot air pake jarum suntik.

‘Wah, banyak nih kotorannya!’ si asisten menunjukkan wadah ke depan muka gue, yang, pas gue liat, BUSET EMANG BANYAK. Buntelan item ngambang di air hangat.

‘Ini saya buang ya kotorannya.’

Jawaban di mulut: ‘Iya. Hehehehehe. Emang mau diapain lagi?’ Jawaban di lubuk hati: ‘IYA NGAPAIN LO TANYA KAMPREEET!!’

‘Ya siapa tahu aja kan mau kamu bawa pulang. Hehehe.’

Gue langsung diem. Hah? Dibawa pulang? Gue bawa juga buat apa? Gue yakin orang rumah juga gak ada yang seneng kalopun gue pulang bilang, ‘Halo! Aku pulang! Ada oleh-oleh nih, conge aku 20 gram.’ Lagian, apa semua dokter bercandanya kayak gini? Gak lucu amat kalo dokter bedah pas beres amputasi pasiennya bilang, ‘Ini kaki kiri kamu mau dokter buang, apa dibawa pulang aja?’

‘Bawa pulang deh. Mayan buat ganjel pintu.’

Serem abis.

Begitu beres ritual nyemprot-nyemprot ini, telinga gue dikeringin dengan benda semacam pistol di bengkel yang biasa buat pompa ban. Begitu beres, telinga gue langsung lega. Terasa beda banget emang. Gue jadi lebih peka. Gue bisa mendengar suara-suara dengan lebih detail. Kayak suara langkah kaki, putaran kipas, dan suara jeritan hati korban kakak-adekan. Hmmmmmm.

Efek buruknya, seringkali suara-suara ‘detail’ ini malah mengganggu gue. Sampe-sampe gue sewot sendiri karena keberisikan. Kayaknya, jadi lebih peka emang ada bayarannya ya? Eh gimana.
Share:

Thursday, September 8, 2016

Patah Hati Terkonyol

Hoah. It’s been a long time since last post.

Kangen banget rasanya menulis dengan asal lagi. Terus terang, ada beberapa alasan mendasar yang bikin gue belum sempet update lagi. Tapi, kayaknya itu terlalu privasi dan gue belum berani untuk menulis di sini deh. Jadi, yahhhh gitulah.

But, whatever it is, now I’m back beibeh.

Sebetulnya banyak banget yang mau gue ceritain. But, let me talk this first. Kasih sayang, cinta, atau apapun itu orang menyebutnya. Perasaan, yang, selalu paling sulit untuk dideskripsikan. Rasa gemes berlebihan terhadap seseorang sampe-sampe bikin kta geregetan sendiri. Nicholas Sparks bilang kalau cinta itu seperti angin, kita tidak dapat melihat, tapi bisa merasakannya. MGK di lirik lagunya menulis bahwa cinta adalah kupu-kupu dan sakit perut. Begitu banyak orang yang mendefinisikan cinta dan semuanya berbeda-beda. Plato bahkan mengatakan kalau cinta itu penyakit mental.

Nah, masalahnya, pada sadar nggak sih. Dengan semua keabsurdan soal cinta ini, bagaimana orang yang pertama kali merasakan jatuh cinta bilang ke temennya? Bagaimana orang ini, memberi tahu bahwa yang dia rasakan itu bernama... cinta? Bagaimana kemudian orang ini nembak dan menyatakan perasaannya. Apakah si orang itu akan bertanya-tanya, ‘Eh, waktu aku ngeliat kamu... kok aku deg-degan ya? Ini maksudnya apa sih?’

Lucu bagaimana seseorang berusaha mengungkapkan apa yang dia rasakan kepada orang lain. Gue terkadang berpikir bagaimana kata ‘cinta’ pertama kali ditemukan. Bagaimana orang-orang bahasa ini merumuskan perasaan. Berkumpul di tengah ruangan. Berdiskusi, lalu memegang dada sambil cengar-cengir, ‘Eh kalo lo ngerasa kayak gini namanya ‘cinta’ ya. Setuju?

‘Gini gimana?’
‘Deg-degan gitu.’
‘Kebanyakan ngopi?’
‘BUKAN!!!’

Lalu mereka sepakat kalau perasaan gemas berlebihan sampe bikin kita pengin gigit-gigit kuping gebetan sambil ngeremes baju sendiri itu dinamakan ‘cinta’. Lalu masalah selanjutnya datang. Jika kita punya istilah khusus untuk perasaan menyenangkan itu, kenapa kita tidak punya istilah untuk patah hati? Kenapa orang-orang ini gak mau ngasih kata baru kayak ‘Pores, Yehbah, atau Kuma’ untuk patah hati. Kenapa perasaan hancur, sakit, berantakan, hanya diberi nama sesimpel... patah hati? Padahal, hati itu organ yang lembek kayak tahu. Bukan tulang atau kayu yang bisa patah. Melihat anatomi organnya, seharusnya istilah patah hati diganti menjadi... hati mejret?

Well, lagipula kenapa sih orang-orang bahasa ini tidak membuat satu kata baru aja? Padahal, patah hati adalah hal yang penting. Perasaan yang khas dan unik. Kenapa mereka justru sibuk mikirin orang yang kepalanya terbentur tembok dan malah membuat istilah... benjol.

Karena, pada dasarnya, setiap orang pasti akan mengalami patah hati. Bahkan, semalem heboh beredar kabar soal patah hati terhebat Rachel Vennya. Tentang seseorang yang diselingkuhi pacar sehingga ia batal menikah.

Everybody can fall in love, and so break their hearts.

Dalam frekuensi paling kecil sekalipun, secara tidak sadar kita pernah mengalami patah hati terkonyol. Ikal dalam Laskar Pelangi patah hati sewaktu tidak lagi melihat ‘kuku cantik’ di toko kapur. Andy patah hati begitu sadar ia bertumbuh dan harus merelakan mainannya. Seorang anak bisa jadi akan patah hati saat mengetahui sarung guling kesayangannya dicuci diam-diam.

Dan gue, baru aja mengalami patah hati terkonyol.

Peristiwanya terjadi minggu lalu. Percaya nggak percaya, setiap orang punya caranya sendiri untuk melawan rasa pengin gantung diri gara-gara macetnya Jakarta. Cara gue, adalah melihat ini:

Ada yang tahu namanya?

Foto itu adalah billboard yang ada di jalan Slipi. Entah kenapa, tiap kali abis macet-macetan dari Pamulang ke kantor, ngeliat foto si cewek itu di billboard bikin gue cengar-cengir sendiri. Apa emang bener ya kata orang-orang kalau senyum itu menular? Lucunya, billboard itu juga ada di Pondok Indah. Jadi, sewaktu pulang dari kantor, gue tetap bisa ngelihat foto si mbak-mbak itu.

Keparatnya, minggu lalu, billboard itu secara misterius berubah.

Gue masih inget banget kejadiannya. Ketika itu malem pulang kantor. Tanah masih becek bekas selesai hujan. Dan, seperti biasanya. Perpaduan jam pulang kantor dan hujan selalu bikin Jakarta lebih macet dari biasanya. Gue udah gerah banget, di underpass PIM rasanya pengin jerit-jerit di atas motor. Setelah bersabar-sabar (dan beberapa kali meneteskan air mata), gue berhasil ngelewatin PIM. Di bagian ini jalanan selalu lebih lengang. Gue menambah kecepatan sambil menengok ke kiri. Bersiap melihat foto si mbak-mbak menenangkan jiwa.

TAPI GAK ADA.
Malah berubah jadi beginian:



DI MANA BOTAKNYA YA ALLAH.

Begitu tahu billboardnya ganti, gue langsung patah hati. Galau. Pulang masuk kamar, ngurung diri. Kemudian menangis semalaman. Terlebih pas tahu Ria Tangerang keluar dari Golden Memories.

Sampai beberapa hari kemudian, gue baru sadar. Kayaknya nggak ada gunanya deh sedihin dia (ya iyalah!). Gue pun harus cari cara lain supaya gak emosi sewaktu macet. Kalo lo pernah ngerasain patah hati terkonyol gak sih? Apa cuma gue ya? Muahahaha. 
Share: