Sunday, September 24, 2017

ngobrol-ngobrol random...

Tanggal berapa ini? Wah, udah lama juga ya nggak post di sini. Beberapa waktu lalu emang rasanya males banget untuk apdet blog. Bahkan untuk buka blog sendiri aja bawaannya pengin kentut (lho?). Kayaknya, emang ada masanya deh seorang blogger itu ‘hiatus’ bentar. Nggak apdet tulisan. Kabur sejenak dari dunia “personal blogging” ini.

Anywaaaay. Lagi pada sibuk apa nih? Sekarang tuh lagi masa apa sih? Baru-baru lulus kuliah gitu ya? Atau baru masuk kampus? Atau masih di dalam rahim ibunya?

Hmm gue mau cerita apa ya? Kita ngobrol-ngobrol random aja kali ya. Firstly, gue masih idup. Masih baik-baik aja. Masih telanjang kalau beli cendol (INI APA?). Selain menjalani kehidupan yang tetap merusak tatanan ekosistem dunia, satu bulan kemarin gue bikin tulisan yang akhirnya menjadi sebuah projek baru. Hasilnya kayak apa? Gue masih belum bisa gue kasih tahu. Soalnya… belum kelar. Muahahaha.

Mungkin beberapa teaser bakal gue publish dalam waktu dekat. So, tolong doain biar cepet beres ya. Yang jelas, I really enjoy making this story and I hope we will get the best result. Merdeka!

Lanjut. Sejak datang ke Popcon Asia beberapa waktu lalu, gue jadi mulai suka baca komik lagi. Dan gue kaget setengah mati kalau ternyata komik Indonesia keren-keren abis! Ini sinting sih. Pulang dari sana gue langsung ngefans sama comic artist bernama Alex Irzaqi. Acara itu sekaligus ngebuka pandangan gue akan dunia komik Indonesia. Salah satu situs favorit gue adalah Kosmik. Kalau pengin tahu cerita sewaktu di Popcon, gue sempet post di Instagram ini deh.

Selain Kosmik, gue juga baru install aplikasi Ciayo dan Webtoon (ya, gue emang telat abis). Alhasil, tiap weekend kerjaan gue bikin kepompong pake selimut terus scroll-scroll hape sampe modar.

Di Ciayo, salah satu komik favorit gue adalah Sampana, campuran antara sejarah dan action. Sementara dari webtoon, gue lagi demen sama Lara(s)hati. Those are two comics that you guys should try to read!

Nah, gara-gara komik ini, gue jadi mulai merhatiin hal-hal berbau jepang lainnya. Seperti misalnya: kenapa cewek jaman sekarang banyak yang pake celana gombrong kayak samurai X gitu?



Oke, maksud gue adalah lagu. Gue jadi ikutan demen dengerin J-Jazz. Sebagai informasi, J-Jazz adalah Japan Jazz, bukan Jember Jazz. (Ya, siapa tahu aja kan ada yang ngira gitu?) Gue lagi suka banget ngulang lagu-lagunya BohemianVoodoo. Pasang headset, duduk di samping jendela, siapin teh hangat. Beuh! Kalo pak Bondan tahu, dia pasti bilang ‘Hmmmm… MASUK ANGIN!!’

Lanjut ke topik lain. Belakangan ini gue menyadari sesuatu yang aneh. Nggak, ini gak ada kaitannya dengan hal-hal mistis. Seperti misalnya, abis nonton video awkarin, kepala terasa cenat-cenut dan ginjal mengalami pendarahan (horor).

Keanehan ini bernama kenangan.

Begini. Di era sosial media ini, kebiasaan kita sedikit banyak berubah. Sekarang, kita jauh lebih sering mengambil momen berupa foto dan video. Itu artinya, kita punya lebih banyak ‘stok’ kenangan di masa lalu dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Dan itu artinya, seharusnya kita bisa lebih banyak punya perasaan ‘nostalgic’ akan foto-foto tersebut. Akan berbagai hal yang telah kita abadikan.

Sekarang, bayangkan perasaan ini.

Perasaan ketika kita membuka buku tahunan yang telah lama kita simpan. Melihat kembali foto kita pada masa itu. Lengkap dengan quote yang kita bikin sendiri di bagian bawahnya. Sebuah foto, yang, membawa kita ke tempat nongkrong favorit di sekolah. Kepada kejahilan yang pernah kita lakukan. Kejar-kejaran sama guru piket, demi rambut yang tidak dicukur. Atau bahkan, mengejar murid yang bisa kita andalkan untuk mencontek sebelum guru datang.

Bayangkan perasaan yang kita dapat ketika menemukan kembali foto hasil photobox bersama teman-teman SMP. Lalu, lihatlah foto yang kita punya di hape. Foto-foto yang seharusnya punya fungsi yang sama: mengeluarkan kenangan masa lalu. Anehnya, gue merasa foto-foto di hape tidak punya ‘kenangan’ sekuat itu. Bahkan ada masanya gue bingung sendiri dengan foto itu lalu jerit, ‘INI KENAPA DI HAPE GUE ADA FOTO GEROBAK GORENGAN DAH?!’ gara-gara foto dari grup whatsapp yang otomatis masuk ke hape.

Padahal, sebagian besar waktu yang kita pakai saat ini adalah untuk mengabadikan kenangan. Apa ini perasaan gue aja ya? Atau karena saat ini, kita lebih jarang menikmati momennya? Apakah karena kita, terlalu sibuk dengan semua peralatan dan aktivitas mengabadikan momen ini? Sampai pada akhirnya, yang kita punya cuma foto. Cuma kumpulan gambar digital dengan berbagai warna. Tanpa ada kenangan di dalamnya (?).
Suka post ini? Bagikan ke: