Tuesday, July 23, 2019

Bagaimana Mengatasi Mata Kering dengan Insto Dry Eyes


Artikel ini berisi tentang pengalaman cara mengatasi mata kering dengan insto dry eyes


--
Berbeda dengan anak yang lahir di tahun 2000-an, di masa gue, internet baru menjadi tren ketika gue SMA. Ragnarok Online adalah game yang paling banyak dimainkan. Berhubung internet masih dianggap sesuatu yang tabu, gue dan Radit harus mencari alasan supaya bisa nge-game. Alhasil, kami ke warnet setiap minggu pagi, dengan alasan yang dibuat-buat.

‘Aku lari pagi dulu ya, Bu,’ kata gue ke Nyokap, bohong.

‘Masa olahraga pake celana tidur gitu?’

Gue berhehehe, masuk kamar dan menggantinya jadi celana olahraga.

‘Aku berangkat, Bu!’

Nyokap menggelengkan kepalanya. ‘Pake sepatu dong! Kalo kaki kamu lecet gimana?’

‘Siap!’ Gue ganti sandal jadi sepatu lari.

Nyokap nyamperin gue di depan pintu, lalu memberikan headband warna biru. ‘Pake ini dong. Biar keren. Hehehe.’

‘O-oke.’

Lima belas menit kemudian gue duduk di bilik paling pojok warnet Racing Net. Bermain Ragnarok Online pakai perlengkapan olahraga. Lengkap dengan headband biru menempel di kepala. Gue jadi pemain e-sport paling sporty di Pamulang.

Di tengah hunting monster, Radit menghentikan karakter Knight-nya. Monster mumi yang sebelumnya menyerang karakter Radit, kini mengejar karakter Wizard gue. Dua kali tabok, karakter gue mati. Cupu abis.

Kepala Radit lalu menongol ke bilik komputer gue.

‘Eh, lo mending daftar Facebook, deh. Orang-orang sekarang udah nggak ada yang main Friendster tahu.’

Saat itu Facebook baru ramai masuk ke Indonesia. Berbeda dengan Friendster di mana kita bisa mengotak-atik tema laman profile, Facebook adalah media sosial murni. Masalahnya, gue kurang sreg dengan konsep media sosial. Buat apa kita temanan dengan orang yang kita kenal? Setiap hari kita bertemu orang ini di sekolah, lalu begitu sampai rumah, kita mau refreshing buka laptop, eh di timeline isinya dia lagi update status: Bru mPe Rumah nIch…

Maka di antara temen-temen SMA yang lain, gue jadi satu-satunya orang yang masih main Friendster.

Sampai gue tahu perempuan ini.

--
Udah tiga puluh menit sejak gue ngepoin profile perempuan ini. Supaya gampang, mari kita panggil dia dengan Wanda. Dari tiga puluh menit ini, gue tahu kalau Wanda suka Sherlock Holmes, sering wall-wall-an (istilah ngobrol di Facebook) dengan Lia, Tiara, dan Juli, anggota tim basketnya. Dia juga suka meng-upload foto-foto kucing di albumnya.

‘Belum di-add juga?’ tanya Radit, membawa gelas berisi es teh dari dapur.

Gue mengambil minum, sok cool. Padahal kalau di film-film, adegan ini biasanya berakhir dengan gue yang kaget tejengkang sambil jawab: OHOHOEK! APAAN?! ENGGAK LAH, ENGGAK. AMAN. SANTAI.

Setelah itu, gue nggak pernah ke warnet sama Radit.

Setiap pulang sekolah, gue selalu duduk di bangku seberang operator Racing Net. Bilik paling dekat dengan pintu masuk. Takut ada yang memergoki gue saat ngeliatin Facebook Wanda. Saat itu, gue masih nggak punya keberanian untuk nge-add dia di Facebook. Di sekolah, kami memang bukan teman sekelas. Gue hanya beberapa kali melihat dia melewati kelas gue sambil bawa batagor. Gue tidak punya cukup alasan untuk memulai pertemanan di Facebook. Gak mungkin juga setelah gue add, gue wall dia dengan, ‘Hai, kemaren aku liat kamu bawa batagor, lho!’

Sebagaimana abg yang baru mengenal cinta, waktu berlalu begitu aja.

Tanpa sadar gue udah bengong ngeliatin Facebook-nya sampai empat jam. Profile-nya seperti portal waktu yang melempar gue ke sana kemari. Bagaimana fotonya bersama kucing itu membawa gue ke hari selasa di depan rumahnya. Dia yang duduk di bawah pohon, masih mengenakan seragam itu melempar gue ke jam pulang sekolah yang lebih larut dari biasanya. Bagaimana gue bisa masuk ke hidupnya hanya dari kalimat yang dia tulis dalam status-nya. Bagaimana salah satu status-nya membuat gue menekan kursor ke sebuah link yang berisi website pribadinya.

Dan tulisan paling atas,
adalah cerita tentang seorang cowok.

Pertanyaan-pertanyaan langsung muncul. Siapa cowok ini? Anak sekolah kah? Temen rumahnya kah? Sudah berapa lama dia menulis untuk cowok ini? Apa selama ini dia punya pacar? Tanpa mencari tahu jawabannya, gue berhenti membaca. Kursor berkedap-kedip. Gue nggak tahu harus ngapain. Rasanya kayak kejebak di laci Doraemon tanpa bisa sampai ke tujuan.

Besok paginya, gue bangun dengan mata kiri merah dan berair. Perih dan gatal. Gue langsung panik. Masa patah hati bikin gue kayak Sasuke gini? Penyakit mata gue ini, diperparah dengan legenda yang saat itu tersiar: ‘Barang siapa yang menatap mata orang yang merah, maka matanya bakalan ketularan merah juga.’

Jadilah seharian itu gue diledekin habis-habisan. Teman-teman di sekolah bilang gue keseringan ngintip orang mandi, beberapa yang lain bilang gue abis nangis karena patah hati. Berhubung mereka semua takut ketularan, jadilah mereka ngeledek tanpa berani menatap mata gue.

‘Bintitan lo ya! AHAHAHAHA!’ seru Ahmad, lalu kabur ke depan kelas.

Begitu gue kejar, dia ngelanjutin ledekannya dengan ‘…AHAHAAAAAAAAAAKKKKK! TOLOONG! PERGI! PERGI KAU!’ Seisi kelas lari kocar-kacir.

--
Penyebab mata merah itu baru ketahuan setelah gue memasuki fase bekerja. Profesi content writer mengharuskan gue menatap layar laptop delapan jam setiap harinya. Makan siang pun gue tetep duduk di depan laptop. Istirahat sambil cari hiburan dari laptop juga. Kalau bosan kerja, gue mainan hape. Begitu pulang, di kosan nonton film di laptop. Belum lagi kebiasaan nulis di malam hari buat nge-blog kayak gini. Atau dengan kata lain: KAPAN MATA GUE ISTIRAHATNYA, WAHAI JERINK SID?!

Dari situ gue tahu: bukan cuma patah hati yang bikin mata kita jadi merah.

Terlalu lama menatap gadget, laptop, dan berada di ruangan ber-AC bisa membuat mata sepet, mata pegel, dan mata perih. Tiga gejala yang gue rasakan di malam sebelum mata gue merah. Kalau udah begini, jari tangan refleks ngucek… yang mana malah bikin mata makin gatal.

Penyebab utamanya adalah mata kering.

Cahaya dari layar gadget membuat mata kita “terlalu fokus” sehingga kurang memproduksi air mata. Berdasarkan penelitian, cahaya ini bahkan menurunkan frekuensi berkedip manusia hingga setengahnya. Apa artinya? Liat layar gadget bikin mata lelah. Belum lagi lingkungan Jakarta yang polusi udaranya tinggi. Debu-debu dan kotoran di udara, nyatanya juga memengaruhi kemungkinan mata kita perih. Bukan tidak mungkin partikel kotor udara itu masuk ke mata, dan membuat infeksi di sana.

fakta unik tentang mata


Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengatasi mata kering ini. Cara paling sederhana, ya, sebisa mungkin kurangi penggunaan gadget. Istirahat fokus makan aja, tanpa nonton di laptop. Sampe kos baca buku sambil denger lagu. Usahakan gunakan metode 20/20. Artinya, setiap 20 menit sekali, coba fokusin pandangan ke benda sejauh 20 kaki (6 meter), selama 20 detik.

Masalahnya, buat orang yang bekerja di ruangan kayak gue, agak malas kalo harus keluar ruangan tiap 20 menit. Bisa-bisa ditanya bos dan disangka nggak kerja dengan benar. Kan nggak enak juga, niat kita mau sehat, eh dibilang, ‘Bolak-balik terus dari tadi, MENCRET YA?’

insto dry eyes


Jadi, ya, paling nggak kurangin aja waktu penggunaan laptop sambil siaga obat tetes mata. Kenapa pake obat tetes mata? Karena kalau dikucek, tangan kita malah akan nularin bakteri. Apalagi kalau sebelumnya kita abis makan ayam geprek level 5. Beuh, sensasinya perih banget dah. Kayak diteriakin Lucinta Luna dengan jarak 5 cm.

Berhubung penyebabnya mata kering, pastiin juga obat tetes matanya untuk yang mata kering. Kalo gue sih Insto Dry Eyes. Kenapa itu? Ya, soalnya dia insto. Dan dia dry eyes.

Penjelasan bodoh macam apa itu Adi…
Coba aja merem, lalu pikirkan “obat tetes mata”. Pasti yang kebayang insto.

cara mengatasi mata kering


Ini bukan berarti gue selalu make obat tetes mata setiap hari ya. Penggunaannya kalau udah muncul gejala tadi aja. Mata sepet, mata pegel, dan mata perih. Tinggal kasih 1-2 tetes Insto Dry Eyes, dan mata bisa segar kembali.

Well, meski udah tahu caranya, tetep harus jaga mata ya. Jangan mentang-mentang udah pake insto, lalu jadi menyiksa mata buat ngeliat gadget setiap jam. Temen gue ada tuh yang saking gilanya, sampe kerja 20 jam sehari. Bayangin. DUA PULUH JAM SEHARI. Apa dia udah belajar trik dari Deddy Corbuzier? Setiap mau kerja akan bilang ke kolega sebelahnya, ‘Agar tidak perih, aku akan mengetik dengan mata tertutup!’ lalu matanya dilakban dan make helm ke mana-mana.

cara mengatasi mata kering


Seperti halnya patah hati, mata kering mengharuskan kita untuk cepat-cepat menutup mata. Karena semakin kita memaksa untuk melihat, semakin kita merasa perih dan sakit. Meski entah kenapa, kita terus ingin melihatnya lebih lama, dan lebih lama lagi. Sama seperti saat SMA dulu, gue tidak menutup website pribadi Wanda, meski harus menahan sakitnya lebih lama. Sewaktu kerja di kantor, gue memutuskan untuk menatap smartphone, sebagai sesi istirahat dari layar laptop. Itu lah anehnya manusia: untuk sesuatu yang menyakitkan, kita bahkan tidak ingin buru-buru kehilangan.

Seperti halnya patah hati, mata kering juga meninggalkan bekas luka.

Seandainya menyembuhkan bekas luka dari patah hati semudah meneteskan sesuatu, pasti hidup akan jauh lebih mudah. Atau seandainya Insto Dry Eyes udah ada saat gue SMA, paling tidak gue bisa meneteskannya dan nggak ada lagi ledekan patah hati karena dikira abis nangis.

Dan paling tidak, gue bisa menikmati patah hati gue, sendirian.
Suka post ini? Bagikan ke:

Monday, July 8, 2019

Sebuah Pengakuan: Gue Nge-fans Sama Lucinta Luna


Gue baru aja nonton video Lucinta Luna.
Iya, gue juga heran.

Efeknya? Sekarang tenggorokan gue pedes. Apalagi karena gue nontonnya sambil makan richeese level 3. Pertama banget tahu makhluk yang namanya Lucinta Luna tuh saat video sama Deddy Corbuzier yang rame itu. Temen-temen di kantor pada bilang, ‘Di lo harus nonton! Deddy Corbuzier digebukin!’

Ya siapa juga yang nggak syok denger Deddy Corbuzier digebukin. Gue kan pengin tahu… kalo orang botak kena jitak jadinya gimana (lho). Awalnya gue pikir, gila juga. Ternyata ada orang yang sebarbar itu sampe berani ngajakin Deddy Corbuzier berantem. Pas gue cek videonya… ternyata beneran barbar.

lucinta luna vs deddy corbuzier

 Link video Lucinta Luna dan Deddy Corbuzier: https://www.youtube.com/watch?v=HP9qaE-wjno


Yang kebayang di otak gue, siapapun yang berani ngajak berantem Deddy Corbuzier pasti orangnya segede Ade Ray. Lo bayangin aja, Deddy Corbuzier gitu lho! Kalo orangnya cuman sekelas pak haji bolot, yang ada langsung disikat balik.

‘Maju lo, Ded!’ pak haji bolot nunjuk kepala Deddy.
‘Sini kalo berani!’
‘Hah? Ngapa naek bis dah!’

Ealah, ternyata sosok pemberani itu cewek cuy! Namanya Lucinta Luna! Sejak saat itu gue langsung bergumam dalam hati: ‘Hmmmm. Keren juga orang ini.’

Kekaguman gue akan Lucinta Luna hanya berlangsung dalam diam. Gue nggak tahu siapa dia, apa latar belakang keluarganya, dan apa profesi sebenarnya. Sesekali, gue nemu video dia teriak-teriak di parkiran. Gue inget di situ dia nunjuk seorang laki-laki seraya menjerit, ‘EAAAAKKKK! AAAKKKHHHH!!’ gitu deh.

Bahkan huruf di keyboard tidak mampu menjelaskan suara raungannya yang maha dahsyat itu.

Gue semakin berdecak kagum.

Sampai kemaren malem, di Timeline twitter gue ada potongan video dia yang paling baru. Lucinta Luna lagi nyanyi-nyanyi sama Boy William… dan nyangkut di jok mobil.

Sungguh video yang tidak bisa diungkapkan kata-kata. (Buat yang penasaran, tonton di sini)

Tidak ingin mendapat informasi yang sepotong, gue langsung cari channel-nya Boy William di Youtube. Ternyata, di sana gue mendapatkan dua video yang berbeda. Video pertama yang gue tonton adalah Lucinta Luna minum alkohol yang ditemani Boy ngopi. Mereka ngobrol. Di sana Lucinta Luna bilang kalau dia nggak suka dibandingin sama Ayu Ting Ting. Ya, Lucinta! Gue setuju! Tidak ada satupun manusia yang suka dibanding-bandingin! Pas bayi gue juga benci ketika ada orang yang bilang ‘Iiii idung kamu mirip mama deeeeh.’

Kalo aja gue udah nonton video Lucinta waktu itu, pasti gue protes. Sayang, saat itu gue hanya sanggup menjerit, ‘Oek! Oeeek!’

Dari situ arah pembicaraan berlanjut. Lucinta mengutarakan kekesalannya karena diomongin orang-orang. Dia cerita akan membalas semua orang yang pernah bikin dia sakit hati. Sampai akhirnnya, Boy nanya, ‘Apakah yang lo tampilkan ini persona? Atau the real Lucinta Luna?’

Luna jawab: AAAAKWWRRKKK!
Boy: Gue tahu lo suka gimmick
Luna: EAAAAAWKKKKKK!!
Boy: ...
Luna: EAAAAKKKKKKKKK!!! AWWWKKKKK!!

Menonton video itu ngebuat pupil gue membesar. Senyum terkembang. Dan dengan ini gue menyatakan ngefans sama Lucinta! Gila. Gue jadi sadar kalau erangan Lucinta adalah sebuah bentuk pertahanan diri. Persis kayak cumi yang nyemprotin tinta ketika ada predator, Lucinta mengeluarkan raungan yang… yang… AAAAAARRKKKKKK!

Berhubung udah jadi fans, sekarang gue nggak mau ketinggalan lagi segala hal yang berkaitan dengan Lucinta Luna. Gue pun nonton satu video lain bersama Boy William. Di video ini terkuak sudah sosok sebenarnya dari Lucinta: ternyata dia penyanyi!

Pantes dia suka teriak-teriak.

Dengan teriakannya yang kayak T-rex itu, gue yakin Lucinta Luna kalo ikut The Voice Indonesia, begitu dia nyanyi, 5 detik kemudian Armand Maulana langsung mencet tombol dan kursinya muter… 360 derajat.

Gimana enggak, gue udah menjadi saksi bahwa saking serunya Lucinta Luna nyanyi lagu Blackpink dia bisa nyungsep di jok mobil. Tidak hanya itu, dia juga bisa merayap di kaca dan langit-langit mobil sambil main game hp. Sungguh sebuah skill yang tidak mungkin dimiliki Jess No Limit sekalipun.

lucinta luna boy william

lucinta luna nebeng boy
tidak semua orang mampu melakukannya, kawan...


Video itu juga menjadi saksi bahwa Lucinta Luna sebenarnya adalah sosok yang humble dan jujur. Dia menceritakan pengalamannya saat sedang mau ke toilet, lalu dicegat fans-nya yang minta foto. ‘Kak, aku mau minta foto, tapi sendiri,’ tiru Lucinta, memeragakan jadi fans. Lalu Lucinta menjawab: ‘AAKK! GUA MAU BERAAAK!!’

Gokil. Kejujuran seperti ini lah yang membuat gue terkesima. Kok bisa ada ya orang sejahat itu yang mencaci Lucinta? Bayangin Lucinta jadi presiden. Pasti keren abis. Begitu dia keluar dari istana, ditanya reporter, ‘Bagaimana pendapat bu Lucinta tentang perkembangan harga BBM kali ini?’

‘AAAAKKK! GUA MENCRETTTT!’

Sebuah pernyataan yang eksotis, dan bikin kita makin ngefens bukan?
Suka post ini? Bagikan ke:

Monday, July 1, 2019

Pernyataan Menyakitkan


Buat orang yang suka bercanda kayak gue, hinaan udah jadi makanan sehari-hari. Apalagi tampilan gue yang dari luar emang terlihat brutal dan gak keurus. Lengkap udah orang bisa ngatain kelakuan gue yang emang error ini, atau penampilan gue yang abnormal.

Buat gue, itu biasa aja.

Gue udah kebal sama ceng-cengan model ‘Lo nggak mandi ya?’ atau ‘Pergi lo jauh-jauh!’ karena sifat gue yang memang terlalu barbar. Toh gue juga sering ngebercandain diri gue sendiri dengan hal yang mirip-mirip. Kalo diinget-inget, terakhir kali gue sakit hati karena diisengin tuh sewaktu gue kelas 1 SMA. Sewaktu gue abis selesai bantuin ngajar matematika ke temen kelas, ada salah satu murid yang minta duduk di sebelah gue, lalu ngebisikin ‘Jangan banyak gaya lo ya.’ dengan nada mengancam sambil mukul perut gue di bawah meja.

Sampai sekarang, gue masih inget nama orang itu.
Kalo ketemu orangnya di jalan, gue juga masih inget mukanya.

Tapi, ya, semua itu berlalu gitu aja. Kenaikan kelas ngebuat kita berpisah. Gue berusaha buat ngejauh dan bodo amat sama peristiwa itu. Saat kalimat itu dilontarkan, gue nggak tahu harus merespons dengan apa saking speechless-nya. Salah satu pernyataan paling menyakitkan karena gue nggak bisa ngapa-ngapain selain menelannya dalam-dalam.

Kenyataannya, sekarang kalimat itu bukan pernyataan paling menyakitkan lagi.

Beberapa saat lalu, gue kembali ngerasain hal yang sama: perasaan speechless saking nggak tahu harus gimana menyikapi sebuah pernyataan. Sebuah ucapan yang masuk ke telinga, lalu mengendap di otak entah untuk berapa lama.

Kalimat yang ngebuat gue diem dan gatau harus merespons apa.
‘Kayaknya jangan sama dia deh. Kalo nanti dia mati gara-gara penyakitnya, kamu gimana?’
Suka post ini? Bagikan ke: