Sunday, March 17, 2019

Hal-hal yang Seharusnya Gue Pikirkan Ketika Gue Memikirkan Hal-hal yang Tidak Seharusnya Gue Pikirkan


Kemaren adalah minggu yang cukup menguras emosi. Ada beberapa hal yang bikin gue lumayan stres dan capek. Jeleknya, ketika menghadapi hal-hal kayak gini, otak gue sering nggak bisa diajak kerja sama. Masalah yang seharusnya berakhir di satu titik, justru berjalan ke mana-mana dan gamau berhenti. Gue mikirin penyebabnya, dan penyebabnya lebih jauh, dan apa yang akan terjadi kalau gue melakukan hal ini, dan apa yang terjadi kalau gue melakukan hal itu. Di pikiran gue seperti ada tinta yang menetes yang semakin lama semakin meluas, dan membuat semuanya jadi makin hitam dan rumit.

Pikiran buruk itu akhirnya membawa dampak selanjutnya. Mood jadi berantakan. Fisik juga nggak fresh karena males-malesan. Makanya, gue coba untuk ngebuat daftar dari hal-hal yang seharusnya gue pikirkan ketika gue memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya gue pikirkan ini. Jadi, ketika gue mulai overthinking, gue bisa baca daftar ini, dan nggak terseret ke lubang kegelapan terlalu jauh.

Satu. Bangun lebih pagi dari alarm dan matiin alarm-nya sebelum sempat bunyi. Punya waktu beberapa jam lebih untuk beraktivitas di pagi hari.

Dua. Buka pintu, mencium udara pagi, lalu menyadari kalau di atas keset ada kucing lucu yang tiduran. Gue melangkahinya, lalu dia berdiri dan menempelkan badannya di kaki.

Tiga. Ketawa canggung karena mengucapkan sebuah kata yang sama berbarengan dengan orang lain.

Empat. Ngeliatin mobil lewat sambil duduk sambil dengerin lagu pakai headset tanpa ada notifikasi dan orang yang mengganggu.

Lima. Tiduran di ruangan berkarpet sambil menonton band memainkan musik jazz seperti di Java Jazz 2014 ini.

Enam. Kopi darat dengan teman online yang udah lama kenal, lalu ngebahas hal yang biasa dibahas di dunia maya secara langsung.

Tujuh. Suara percikan api dari kayu yang dibakar di depan tenda. Ketika semua orang udah masuk ke perkemahan untuk tidur, dan tinggal kamu dan langit sedang cerah-cerahnya.

Delapan. Lagu yang kamu suka diputar secara tidak sengaja di radio.

Sembilan. Kaki yang dibasahi gelombang kecil di pesisir pantai. Dengan ritme yang sama. Berkali-kali. Dan suara ombak menerpa tebing di ujung sana.

Sepuluh. Kebiasaan gue dan teman-teman sewaktu kecil untuk melompati bayangan mobil dan motor ketika lari pagi.

Sebelas. Sendirian di lift yang di bagian atasnya ada CCTV. Tanpa sadar bergaya dan dadah-dadah ke sana.

Dua belas. Ucapan terima kasih dari pengisi bensin di SPBU.

Tiga belas. Perasaan melepas celana ketika seharian bekerja, sampai menimbulkan bekas garis-garis di daerah pinggang.

Empat belas. Bunyi adonan telur yang dimasukkan penggorengan penuh minyak. Momen di mana si abangnya memasukkan lidi dan memutarnya. Momen di mana gue bersiap merasakan gurih dan pedasnya sambal telur gulung.

Lima belas. Ide-ide yang bermunculan sewaktu mandi.

Enam belas. Perasaan ketika gue turun dari bus dan “Akhirnya, pulang kampung lagi!” Perjalanan menyusuri pecinan di kampung halaman. Beragam dialog dari orang yang bahasanya gue nggak paham. Tukang becak yang menawarkan jasanya.

Tujuh belas. Aroma roti bakar di pagi hari.

Delapan belas. Ingatan di mana gue main harvest moon berjam-jam sekali duduk. Teleponan sambil berpura-pura game itu bisa dimainkan secara online. Momen di mana kasetnya rusak, dan gue mengelapnya dengan kaos. Membalik Play Station supaya bisa dimainkan kembali.

Sembilan belas. Masuk ke kamar dalam keadaan capek, lalu mendapati bantal dan guling yang dingin.

Dua puluh. Perasaan setelah menemukan wallpaper baru yang cocok.

Ini lah dua puluh daftar yang bisa gue pikirkan ketika mulai mikirin hal-hal yang seharusnya nggak gue pikirin. Siapa tahu berguna buat lo ketika menghadapi masalah yang sama. Kalo ada yang mau nambahin, silakan tulis di kolom komentar ya. Buat nutup postingan ini, gue mau ngasih penggalan lirik All Time Low, "Maybe it's not my weekend, but it's gonna be my year."

Hope y'all have a great day! :)
Suka post ini? Bagikan ke:

Sunday, February 24, 2019

Rasanya Sebulan Nggak Ngeblog


Asli. Kangen banget nulis di sini lagi. Jadi begini ya rasanya nggak ngeblog sebulan? Hehehe. Terus terang, gue menyadari kalau dunia tulis menulis, blogging, dan tuker-tukeran bacaan kayaknya udah mulai sepi deh.

Oke, gue akan memulai dengan bilang ini: gue kangen ngeblog. Kangen ketenangannya saat menulis. Santai dan tanpa beban. Kangen baca tulisan random orang-orang. Entah itu soal masalahnya di sekolah, atau puisi yang baru dia buat, kesialannya di jalan, sampai kisah percintaannya. Gue kangen baca tulisan dari blog-blog itu, lalu buat screen capture dan ngomongin di grup whatsapp. Gue kangen saat di mana gue mikir, ‘Sampai di rumah, gue mau ngeblog tentang ini ah!’ Gue kangen saat komentar masuk satu per satu. Mulai dari yang numpang ketawa, sampai ngomong panjang tentang suatu hal.

Belakangan ini gue coba bikin podcast secara rutin. Di-publish melalui Anchor, dan bisa didengar di berbagai platform podcast, termasuk spotify. Selain itu, gue juga cukup aktif di Instagram. Jadi, kalau mau iseng-iseng cari gue, bisa cek ke sini ya!

Lo sendiri gimana kabarnya?

Selama bulan Januari, gue menemukan beberapa hal yang lumayan mencengangkan. Salah satunya: tempat makan! Gue baru menyadari bahwa memilih tempat makan, apalagi bersama teman kantor, nggak bisa sembarangan. Sewaktu awal kuliah, kami paling sering nongkrong di Mekdi. Begitu ada anak kampus yang ngajakin makan di Solaria, langsung ditampol berjamaah karena dianggap terlalu banyak gaya. Jaman dulu, Solaria adalah tempat makan dengan kasta tertinggi.

‘Makan yuk!’

‘Di mana?’

‘Solaria!’ ucap gue sambil menyilangkan tangan, lalu make kacamata item dan entah dari mana banyak orang negro bersorak sorai. ‘Uuuuuuu!’

Anehnya, hal ini berubah setelah kita bekerja. Rasanya kalo ngajakin makan di Solaria rada gimana gitu.

‘Makan di Solaria yuk!’

‘Halah kampung!’ lalu gue diludahin sama orang negro yang entah datang dari mana.

Gue yang terlambat gaul ini tidak bisa mengimbangi pengetahuan kuliner anak kantor. Setiap kali ngajak nongkrong, nama restorannya selalu aneh-aneh. Mulai dari Marugame Udon sampai Ichiban Sushi. Kadang gue sampe nanya, ‘Itu nama restoran apa judul film? Jangan-jangan tahun depan ada Marugame Udon Part II: The Untold Stories.” Atau kalo di film Indonesia jadinya: Marugame Udon 2: Bukan Marugame Udon Biasa.

Pindah topik. Setelah ngobrol sana sini dan buat podcast bareng orang lain, gue akhirnya mendapatkan jurus jitu soal pertemanan. Gue akhiirnya tahu satu rahasia besar soal bagaimana orang yang gak kenal sekalipun bisa deket sama kita. Trik ini udah gue coba berulang kali dan beneran terbukti.

Buat kamu yang kebetulan baca tulisan ini, beruntunglah. Karena cara untuk bisa dekat dengan siapapun adalah dengan: cari musuh bersama.

Mungkin ini agak terdengar aneh dan berkebalikan dari saran orang kebanyakan. Tapi beneran deh. Kalo lo mau PDKT sama siapapun, coba cari hal yang dia nggak suka, lalu utarakan ketidaksukaan itu. Misal: lo tahu dia gak suka cowok berbadan kekar. Lo tinggal buka obrolan dengan, ‘Kok ada ya orang ototnya gede banget gitu. Buat apa coba?’ dijamin, pembicaraan kamu akan mengalir dengan sendirinya.

‘Iya ih serem! Hahaha.’

‘Kapan coba dia make otot gede itu? Emang berguna gitu? Kuli beras yang macho aja gak seberotot itu.’

‘Iya ya. Kok gitu ya?’

‘Iya. Coba lo perhatiin deh. Orang-orang yang berotot itu. Udah capek-capek nge-gym, ngeluarin uang, gedein badan sampe gede, yang biasa dia pamerin ketika ketemu orang apa…’

‘Apa?’

‘Goyangin tete!’

“Hahaha. Iya juga ya.’

‘Mana kadang ada yang pamer bilang, “Nih, yang kanan dulu nih! Terus kiri nih!”’

Dan voila. Tingkat pedekate anda akan meningkat 200%. Silakan dicoba, tapi harap hati-hati. Jaga jarak aman 7 meter kalau kamu gak pengin di-chokeslam si abang berotot.

Anyway, tadi gue nonton seri Tidying Up with Marie Kondo dan jadi ngerasa serem. Itu loh, seri yang ngasih tahu kita cara bersih-bersih. Di episode pertama dia ngebantuin satu pasangan yang udah punya dua anak… dan suka berantem gara-gara rumahnya gak bersih.

Gue langsung mikir, ‘Gile, ternyata begitu doang ngaruh amat ke kehidupan rumah tangga ya.’ Si suami yang udah berstatus manager dan cenderung orang “bersih” suka ngomel kalau sewaktu di rumah, dia ngeliat barang-barang yang berantakan. Apalagi pas dia lagi dalam kondisi capek. Dia juga protes ke istrinya karena mereka sampai harus punya pembantu yang ngurusin laundry yang mana itu berarti… pengeluaran tambahan lagi. Di sisi lain, si istri juga ngomel karena merasa “ngurus anak itu ribet dan capek” sampai keluar lah kata-kata ‘Kamu sih jarang di rumah. Jadi gatau rasanya.’

Di situ gue langsung bilang wow gitu lho.

Sebelumnya, gue gak pernah tahu kalau hal-hal kayak gitu bisa bikin masalah. Serem juga sih kalo kita lagi bete gara-gara masalah di kantor, lalu begitu sampai rumah, banyak sampah bertebaran, kasur berantakan, sisa makanan gak dibuang terus ribut, ‘Sayang, gimana sih?! Ini kamu seharian di rumah ngapain aja kok keadaannya begini?’

‘Ya aku kerja lah! Mungutin sampah! Kita kan pemulung!’
Suka post ini? Bagikan ke:

Tuesday, January 29, 2019

apa yang gue pikirkan tentang ulang tahun...


Ketika menulis ini, umur gue 26 tahun.

Itu artinya, udah banyak hal yang gue lakuin selama di dunia ini. Tidur, makan, berak… tidur lagi. Berak sambil tidur… (Iya, emang gitu-gitu aja, tapi banyak). Selama 3 windu lebih gue hidup, itu berarti, gue udah bikin Tulus ngomong ke perempuan yang dia taksir kalo dia capek sebanyak 3 kali.

Windu ke-1: Sudah sewindu ku di dekatmu~ Tak mungkin bila~ Engkau tak tahu~ Bila kumenyimpan rasa~
Windu ke-2: Otidak mungkin~ Engkau tak tahu~
Windu ke-3: BOLOT APA LO YE?!

Sewaktu kecil, ulang tahun menjadi momen yang gue tunggu-tunggu. Rasanya seru aja gitu. Mengumpulkan tetangga ke rumah, meniup lilin, tepuk tangan, main balon, padahal… gue gatau ini kenapa orang-orang pada ngumpul. Yah, meskipun dibandingkan dengan ulang tahun Xabiru yang membuat konsep DWP dengan segala perangkat DJ, dan digelar di hotel Ritz Carlton, gue jelas kalah jauh. Dengan pengalaman gue pas kecil yang ngumpulin tetangga aja udah bikin gue bingung, gue paham perasaan Xabiru. Dia pasti gak bakal kepikiran, ‘Ini ulang tahun terkeren yang pernah kurayakan!’ (ya kan baru pertama). Tapi akan lebih ke ‘Duh. Rame banget. Kalo berak sembarangan malu nih gue…’ Kasian Xabiru.

Tapi, sekarang gue mau jujur aja. Seiring bertambahnya umur, gue semakin tidak antusias dengan perayaan ulang tahun. Semenjak memasuki usia sekolah, gue udah nggak pernah ngerayain ulang tahun.

Buat gue, ulang tahun, apalagi di umur segini, malah jadi hal yang membingungkan. Siapa sih orang yang mencetuskan bahwa di hari ulang tahun, seseorang itu harus dikagetin? Apa susahnya langsung memberikan kado dan ngasih ucapan selamat. Well, bahkan ucapan selamat aja terdengar aneh. Apa, sih, yang perlu diselamatin dari orang yang ulang tahun? Kesannya malah kayak, ‘Selamat ya! Lo nggak mati sejak 365 hari lalu!’

Kenapa juga seseorang harus memperingati sesuatu berdasarkan posisi benda luar angkasa. Ketika gue punya anak nanti, mungkin gue akan bilang, ‘Hari ini bumi ada di posisi yang sama kayak pas kamu lahir, Nak. Tiup lilin gih…’

‘Nice info gan!’ Anak gue niup lilin, lalu minum cendol.

Lagipula, buat gue yang udah umur segini, dengan kebiasaan ngagetin yang sama setiap tahun, itu berarti gue udah dikagetin 10 kali lebih. Bayangin kalo Ruben Onsu. Udah berapa ayam yang dia sebut gara-gara ulang tahun doang?

Kebiasaan ini pasti ngebuat semua manusia, di mana pun dia berada, berpikir kalau di hari-H, ketika temen-temen mulai hilang satu per satu dari peredaran, atau pacar yang tiba-tiba ngomel dan susah dihubungin, adalah momen di mana dia akan dikagetin. Nggak mungkin ada orang yang gak sadar setelah sekian tahun.

‘SURPRISE! KITA KERJAIN LO! TADI BERCANDA DOANG! HAHAHA! HAPPY BIRTHDAY YA!’
‘Hah? Emang sekarang ya? Masa sih? Yang boneng, Gan?’

Karena kebiasaan ini lah, orang yang berulang tahun jadi semacam punya harapan di dalam dirinya. Ketika hari-H jadi parnoan sendiri. Dijutekin temen, ngira dikerjain. Hape hilang, ngira dikerjain. Dipalak preman, motor dirampas, malah girang, ‘AMBIL, BANG! AMBIL BESERTA HELM FULLFACE INI! EMANG AGAK BAU DIKIT SIH, TAPI ABANG PASTI SURUHAN PACAR SAYA KAN?!’

Hal paling tidak masuk di akal menurut gue adalah kebiasaan nyeplokin orang yang berulang tahun dengan telur dan tepung terigu. Mungkin orang-orang ini sebelumnya berpikir, ‘Daripada ribet bikin kue, langsung aja bahan-bahannya kita templokin ke dia!’ Mungkin orang-orang ini lupa kalo di dunia ini udah ada sebuah metode yang bernama… BELI. Holland Bakery ada di mana-mana, kawan.

Anyway, terlepas dari semua ini, katanya, ketika seseorang melewati 25 tahun, dunia akan berubah. Kepala mulai botak. Dengkul kopong. Pantat menopause. Masa kegelapan perlahan datang. Ada yang bilang kalau ini adalah fase quarter life crisis. Fase di mana kita mulai mikirin tujuan hidup. Fase di mana kita, sebagai manusia, udah mulai mikirin pertanyaan tentang masa depan kayak: Gimana caranya beli rumah, pajak apa saja yang harus kita bayarkan, dan yang paling penting… gimana cara mencet ‘back’ di ATM. Kalo salah mencet nomor rekening, kan bikin panik.

Makasih buat semuanya. Semoga gue masih bisa bertahan hidup selama 365 hari lagi ke depan,
dan tahu cara mencet back di ATM.
Suka post ini? Bagikan ke:

Tuesday, January 15, 2019

Podcast Keriba-Keribo 2019


Sejak akhir tahun lalu, gue udah excited banget mau bikin beberapa “kerjaan” di tahun ini. Salah satunya adalah podcast. Iya, kayaknya udah dari 2016 gue iseng bikin podcast. Mulai dari nyobain bikin di Soundcloud, duet sama Kay di Imaginary Talk, nemu aplikasi Anchor, sampe… bikin podcast di Instagram.

Podcast. Di. Instagram.

Sungguh krisis identitas sekali konten hamba.

Setelah nyasar ke sana ke mari, gue memutuskan untuk bikin ini di satu tempat aja: Spotify. Selain biar gak mencar-mencar, gue pengin ini jadi semacam rumah buat audio gue. Kalo tulisan adanya di blog, maka semua podcast gue akan dimasukin ke sana. Semuanya akan gue kembaliin dengan nama awal “Podcast Keriba-Keribo”. Kenapa? Ya biar gampang aja.

Tahun ini, gue emang bertekad mau punya “acara” sendiri di internet. Salah satunya ya podcast ini. Di samping itu, ada project lain juga yang bahan-bahannya masih perlu dimatengin. Buat project ini, gue gak pengin asal jadi aja gitu, lho. Makanya rada ribet. Apakah itu? Tungguin aja nanti. \:p/

Balik ke podcast. Sejujurnya, sekarang sekarang ini gue nggak terlalu ngikutin skema podcast. Ada apa aja podcast yang bagus. Apa yang kurang. Makanya, begitu ada yang nanya di DM, biasanya gue diemin. Karena… gue kagak tahu podcast lain. Gue mau bikin podcast ini semata-mata untuk jadi ajang ngobrol dan berkeluh-kesah. Pernah ketemu nggak sih sama orang yang mulutnya mangap-mangap sendiri? Begitu ditanya, dia jawab, ‘Nggak kok. Lagi ngomong sendiri aja.’

Nah, orang itu adalah gue. Hahaha.

So, yeah. Jangan heran kalo Podcast Keriba-Keribo edisi 2019 ini isinya ngedumel atau marah-marah aja ya. Soalnya, emang dipake buat tempat itu. Semoga aja kali ini beneran rutin ya. \:p/

Di episode pertama ini, gue ngomongin soal gimana susahnya menjalin hubungan dari perspektif cowok. Apa aja yang bikin cewek selalu “menang” di setiap hubungan. Omongan gue ini udah melalui studi kasus yang amat dalam: gue sendiri. Begitu gue published dan sang kekasih denger, dia langsung ngamuk. Katanya, ‘Lucu, tapi malu. Kok kayak aku semua ya?’

Tentu, sebagai pria yang gentle, gue jawab, ‘Ah, perasaan kamu aja kali...’ sambil ngomong dalam hati: EMANG ELU!

Kalau kamu ingin merasakan pengalaman yang berbeda dari episode ini, begini cara mainnya: Kalo kamu cewek, dengarkan Podcast episode 1 sampai selesai, lalu tatap wajah memelas pacar di sebelah anda. Kalau kamu cowok, dengarkan ini sampai selesai, lalu LEMPAR EARPHONE KE CEWEK YANG BERADA PALING DEKAT DENGAN ANDA.



*UPDATE*

Episode 2 udah tayang! Kayaknya, gue bakal bikin jadi konten mingguan yang akan diupload tiap mingu deh (mengulang kata minggu). Karena ada beberapa orang yang nanya "kapan gue ngomongin cowok", akhirnya di sini gue bahas tentang Nurul, temen gue yang kelakuannya ajaib. Apakah temen kamu bisa lebih ajaib dari Nurul?



Enjoy listening! \(w)/
Suka post ini? Bagikan ke:

Monday, December 31, 2018

3 Aplikasi Edit Video Android Gratis yang Gue Pake Biar Ig Stories Jadi Keren


Postingan ini membahas aplikasi edit video apa aja yang gue pakai untuk ngebuat ig stories jadi keren

--
Sekarang jam setengah 12 tengah malam. Jendela di sebelah sengaja gue buka. Angin yang masuk ngebuat tirainya bergoyang. Orang rumah udah pada tidur.

Malam ini, gue sengaja mau begadang.

Setiap akhir tahun kayak gini, gue suka iseng ngebaca tulisan-tulisan lama. Gila ya, ternyata udah 6 tahun lebih gue ngeblog di sini. Gue bahkan gatau masih ada orang lain yang ngeblog atau nggak. Masih ada yang tahu kata “blog” atau nggak. Atau begitu ditanya soal blog, malah jawab: “Gue blok 7! Samping pos satpam!”

Malah blok rumah.

Malam ini, gue pengin ngobrol sesuatu.

Sebenarnya, ini agak lucu mengingat kebiasaan gue yang suka ngasal kalo ngeblog dan gak inget kalau tulisan ini bisa dibaca siapa aja. But well, now I know.

Mungkin ada di antara temen-temen yang tahu kalau sekarang gue kerja di salah satu start up di Jakarta. Di sana, setiap hari gue menulis. Udah setahun lebih menulis jadi kegiatan harian yang selalu, dan selalu gue lakuin. Biasanya, sesampainya di kantor, gue ngacir ke pantry untuk bikin kopi. Lalu mengetik, dan mengetik, dan mengetik sampe capek.

Itu dia masalahnya. Meskipun suka menulis, tapi rutinitas kayak gini terkadang menyedihkan: gimana kita mulai bosan dengan apa yang pada awalnya kita suka.

Makanya, untuk mengatasi ini, belakangan gue nyoba bercerita lewat platform lain.


Selama ini, gue mencoba ngebuat cerita sampingan lewat podcast atau audio story di instagram. Tapi, kedua hal itu pun bersumber dari kekuatan yang sama: script. Jadi, ya, sebenernya sama aja.

Berhubung tahun 2019 gue pengin mulai aktif ke medium yang lain, maka belakangan ini gue lagi belajar ngedit video. Yah, sekarang kayaknya make aplikasi edit video udah jadi salah satu keharusan buat main instagram gak sih? \:p/

Selain membiasakan diri dengan aplikasi edit video, alasan lainnya karena tiap kali buka instagram, gue selalu nemuin hal-hal aneh.

Biasanya, ketika galau, para pengguna Instagram akan membuat Ig Stories dengan layar hitam dan tulisan putih. Lalu bikin tulisan yang entah ditujukan ke siapa. Gue pernah begitu buka ig Stories temen, isinya cuma tulisan: “GUE PIKIR SELAMA INI LO BAIK, TERNYATA DI BELAKANG KAYAK GITU YA?!”


contoh insta story ngeselin


Baru juga buka, udah diomelin aja gue…

Itu baru yang satu kalimat.

Ada juga kaum yang suka bikin tulisan panjang. Tapi font-nya kecil. Saking kecilnya, kalo mau baca harus pake mikroskop. Pas gue coba baca, ternyata bakteri e.coli (lho?). Setelah gue pikir-pikir, orang kayak gini gak mungkin tanpa sengaja ngecilin tulisannya. Mungkin di dalam hatinya dia bilang, “Akan kupersulit kau membaca pesanku! Hihihi!”


ig story susah bacanya


Besoknya, bikin tulisan tapi layarnya dikasih perasan jeruk lemon.

Kalo mau baca, layar hapenya dibakar dulu biar muncul.

Sekalinya bikin video, isinya cuman gorden kamar dengan backsound lagu galau. Kata “MOOD” berada di depan gorden merah tersebut. Awalnya gue gatau maksudnya apa. Mood ngapain? Ganti kusen? Eh, pas volume-nya gue kencengin, muncul suara: “WIK! WIK! WIK! WIK! WIK!”

Oh, ternyata cegukan…

Itu baru Stories yang nggak ada muka orangnya.

Begitu orangnya muncul, video mereka biasanya sama semua: menampilkan muka satu layar penuh. Lalu bikin boomerang dengan gerakan… gak ngapa-ngapain.

Ini orang mau bikin foto segan, tapi video gak rela.

Alhasil, jadilah video boomerang dengan kepala besar melototin kita. Kalo gak sengaja liat gituan, gue bisanya kaget dan refleks nyolok layar hape sendiri.

Kadang kedip-kedip doang kayak anak bayi mainan.

video bayi lucu
sumber: giphy.com


Yang lebih absurd adalah mereka yang pasang foto sendiri… TAPI MUKANYA DITUTUP STIKER. Sosok yang paling sering muncul adalah manusia berkepala binatang. Semacam centaurus gagal karena kepalanya kucing ketawa. Lebih aneh lagi kalau kepalanya diganti buah-buahan. Manusia tapi palanya semangka. Tiap ada yang gitu, biasanya gue komen, “Sekilo berapa, Bang?”

Sewaktu benaran bikin video, template-nya sama semua. Mereka bakal pura-pura lupa ingatan sambil menyebutkan nama tempat dan kegiatan… YANG PADAHAL KAN KITA BISA LIAT YA NAMANYA JUGA VIDEO.

Contoh:
‘Hai! Kita lagi di Bali nih! Lagi makan es kelapa!”

Padahal di videonya dikasih location “PANTAI KUTA BALI” sambil nunjukin kelapa yang dia makan. Dengan adanya semua petunjuk itu, kita yang nonton pasti sudah tahu dong. Gak mungkin kita mikir, “Hah? Ijo ijo apaan tuh? Dia makan pala hulk? Astaghfirullah…”

Paling tidak, coba dong kasih sesuatu yang tidak ada di videonya. Misalnya, “Hai! Kita lagi menggabungkan H2O padat dan liquid nih!”

Videonya lagi nenggak aer putih dikasih es.


Berbekal itu semua, gue berusaha download aplikasi edit video. Supaya paling tidak, Ig Stories gue agak keren dikit. Salah satu akun instagram yang dari dulu gue ikutin Stories-nya adalah Jessie Driftwood. Dia emang niat banget. Bener-bener kayak bikin video untuk Youtube, tapi dipotong tiap 15 detik dan di-upload ke ig Stories. Ngerekamnya aja pake kamera DSLR yang kemudian diedit menggunakan software Adobe Premiere. Setelah jadi, baru, deh, di transfer ke handphone dan di-upload satu per satu.

Adapun orang lain yang Stories-nya gue suka Mada Riyanhadi. Dia adalah pengagas #MadeWithStories. Berbeda dengan Jessie Driftwood, dia hanya menggunakan aplikasi Instagram Stories. Tapi, tetap aja hasil Mada ini keren-keren banget. Dia terkenal akan typografi-nya yang cihuy. Masalahnya satu: dia menggunakan iPhone.

keuntungan aplikasi edit video di handphone


Makanya, di sini gue mau coba kasih tahu 3 aplikasi edit video untuk android yang bisa bikin Ig Stories jadi keren. Tenang, ketiganya adalah aplikasi gratis yang bisa kamu download dari play store kok. Dan iya, gue ngedit video langsung dari hape. Karena menurut gue, hal itu bikin kita jadi bisa ngedit di mana aja dan gak ribet. Videonya pun terasa “real time” karena bisa langsung diedit saat itu juga.

3 aplikasi edit video untuk ig stories
sumber: Pexel.com & Google Play Store


Kinemaster

Aplikasi pertama yang kamu harus punya adalah Kinemaster. Biasanya, setelah gue ngerekam video yang mau di-upload, semuanya gue masukin ke sini untuk dipotong-potong. Gue membuang bagian yang salah dan jelek, dan mengurutkan videonya sesuai dengan jalan cerita yang gue mau.


download aplikasi kinemaster


Enaknya, aplikasi kinemaster udah punya setting-an pas untuk Ig Stories. Selain itu, karena penggunannya landscape, jadi kita lebih leluasa dalam mengedit.

aplikasi edit foto video kinemaster


Saking enaknya, gue pernah ngedit video sewaktu dalam perjalanan dari Candi Borobudur ke Candi Ijo di Yogyakarta. Sepanjang perjalanan, gue cuman nunduk sambil bilang ke Alam yang bawa motor, “PELAN-PELAN, KAMPRET!”

Tips: Supaya bagus, usahakan kamu masukin musik terlebih dahhulu, lalu buat perpindahan antar scene video mengikuti beat musiknya. Hal itu ngebuat video dan audio yang kamu punya seakan menyatu.

Download Kinemaster dari google play store: https://bit.ly/WeN24a
Download Kinemaster dari app store: https://apple.co/2MYniab

VUE

Setelah video dari Kinemaster selesai, sebetulnya itu udah bisa langsung kamu upload ke Stories. Tapi, Kinemaster (yang gratisan) meninggalkan watermark yang berasa kayak tanda lahir di video. Selain itu, supaya lebih cinematic, biasanya gue mengedit warnanya di aplikasi VUE ini.

aplikasi edit vidoe vue


Iya, aplikasi ini hanya gue pakai untuk nambahin filter warna pada videonya. Bahasa gaulnya sih “color grading”. Filternya nggak norak dan beneran keren abis, men!

Download VUE dari google play store: https://bit.ly/2Temqxs
Download VUE dari app store: https://apple.co/2rqrxl9

InShot

Aplikasi edit video yang satu ini kayaknya udah lazim dipake orang ya. Buat gue sendiri, aplikasi ini gue pakai untuk memotong watermark dari Kinemaster dan VUE sehingga videonya polos tanpa watermark sama sekali. Selain itu, gue biasa menambahkan tulisan atau sticker lewat Inshot ini. Soalnya, pilihan jenis font dan sticker-nya paling oke di antara yang lain.


download aplikasi edit video inshot


Kalau di hape gue gak ada musik bagus yang bisa jadi backsound, biasanya musiknya gue tambahin di sini. Iya, musik backsound yang disediakan Inshot menurut gue paling bagus di antara yang lain.

aplikasi edit video inshot


Kalau udah, tinggal save, dan upload deh.

Download Inshot dari google play store: https://bit.ly/1JK9lPB
Download Inshot dari app store: https://apple.co/2CHahfi

Itu 3 aplikasi edit video yang biasa gue pake biar Ig Stories jadi keren. Kalo males harus buka tutup banyak aplikasi, biasanya gue cuman ngedit di Kinemaster. Nanti sewaktu upload ke Stories, videonya gue pinch supaya nge-zoom dan watermark-nya gak keliatan.

Sebetulnya, masih banyak aplikasi lain yang bisa kamu pakai kayak Power Director, Quik, dan Filmora Go untuk android. Splice dan iMovie untuk iPhone. Dan kalau niat banget, kamu bisa ngedit di PC dengan software Sony Vegas, Adobe Premiere, iMovie, atau Final Cut Pro. Semua balik ke kenyamanan dan kekuatan dari handphone masing-masing.

Dalam ngebuat video untuk Ig Stories, gue menghindari teknik perekaman sporadis: rekam aja dulu semuanya, baru edit belakangan. Gue harus udah tahu mau jadi kayak apa. Jadi, gak usah semua-mua direkam. Toh hasilnya cuman 15 detik. Kalo panjang mau bikin Stories atau film pendek? Lagipula, kalau hasil rekaman mentahnya kebanyakan, malah bikin pusing sendiri pas ngedit. Memori hape pun bakal cepet penuh.

Satu hal yang harus kamu ingat sebelum menggunakan apilkasi edit video adalah, video kamu harus punya cerita. Namanya juga Ig stories. Semakin jelas ceritanya, semakin bagus Stories kamu. Gue sendiri tidak terlalu suka menambahkan efek aneh-aneh di video. Kayak misalnya, efek-efek mozaik atau glitch. Atau efek tiba-tiba muncul penyanyi dangdut bersuara chipmunk. Kalo itu, kayaknya lebih ke TikTok sih…
Suka post ini? Bagikan ke: