Sunday, November 11, 2018

Apakabar?


Kamu apa kabar?
Bosen ya aku tanya gitu terus.

Udah setengah jam aku duduk di depan laptop, tapi gatau mau buka tulisan ini dengan kalimat apa. Tadinya mau yang sok sok romantis kayak “Hai Matahariku”, tapi berasa alay abis. Bukannya romantis, malah kayak ngajak belanja baju. Akhirnya, aku tanya kabar kamu dulu aja.

Sewaktu menulis ini, aku lagi mikir tentang kita ke depan. Kamu tahu, kan, aku suka mengkhayal. Aku lagi mikirin gimana kita pilih warna cat untuk dinding kamar nanti. Pilih barang-barang untuk dekorasi di dalamnya. Mikirin kamu yang terus menerus ngoceh karena segalanya harus shabby chic. Aku yang pengin minimalis aja. Mungkin aku akan minta warna putih dan hitam. Atau sedikit tekstur kayu. Karena aku mau bukan barang-barang yang mengisi ruangan itu, tapi kebahagiaan kita.

Aku tahu ini norak. Tapi aku ngebayangin di tengah malam kita tidur, aku kebangun. Setelah mencium kamu, aku mengendap-endap turun dari kasur. Menyalakan laptop, entah di ruangan mana. Menulis lagi tentang kita di masa itu. Lalu kamu datang dan bertanya tentang apa yang lagi aku kerjain. Dan aku cuma bisa bohong kalau lagi bikin skenario untuk sebuah pekerjaan. Karena aku bisa aja bohong sama kamu, tapi aku gak pernah bisa bohongin perasaan aku sendiri.

Aku juga ngebayangin di satu hari saat weekend, aku sok ide supaya kita masak berdua. Berbekal tutorial di YouTube tentang cara memasak pasta. Belanja sayur, buah, daging, dan aku masukin banyak chiki ke keranjang dorong. Dan kamu mulai ngedumel tentang pola hidup sehat itu.

Aku tahu, semakin seseorang dewasa, seringkali khayalan kita dikaburkan oleh hal-hal yang realistis. Kayak gimana canggungnya aku sewaktu pertama kali ketemu orangtua kamu. Atau gimana saat si ibu ngeluarin kalimat yang mungkin, diam-diam, ngebuat kamu sedih dan sakit hati.

Atau mungkin kita cuma punya rumah petak kecil yang diisi terlalu banyak barang. Dipenuhi keluhan-keluhan aku tentang pekerjaan. Disesaki tuntutan kamu yang semakin lama semakin bikin pusing. Dan satu-satunya hiasan yang menggantung di sana hanya harapan yang kita simpan sendiri-sendiri. Pikiran tentang hal-hal lain yang seharusnya membuat hubungan ini jadi jauh lebih baik.

Mungkin kita tidak sempat memilih warna untuk kamar kita. Mungkin kita tidak pernah masak berdua karena sibuk dengan hidup masing-masing. Sibuk gimana caranya supaya hubungan kita tetap berjalan. Supaya tagihan listrik bisa dibayar. Supaya cicilan rumah dan mobil sanggup dilunasi. Kamu dengan pekerjaan kamu. Aku dengan pekerjaan aku.

Kita semua tahu masa depan itu unik dan misterius.

Terkadang, kita bisa aja menonton suatu hal di tv tanpa tahu orang itu siapa. Bisa saja kemarin dia hanya orang yang suka nyanyi di Instagram. Di sisi lain, bisa aja setiap hari kita menyaksikan seseorang berjalan dengan gerobak di depannya, tanpa pernah tahu kapan dia ada di tv.

Ada banyak banget kemungkinan yang harus kita hadapi untuk ketemu masa depan. Ada berbagai pertanyaan yang harus kita jawab.

Tapi yang aku tahu, ketika seseorang berjalan di tengah kabut, seringkali kita hanya butuh pegangan untuk berjalan sama-sama. Sampai akhirnya, kabut itu lenyap dan yang terlihat adalah matahari yang muncul dari balik bukit.

Dan aku mau, pegangan itu kamu.
Eh iya. Kamu kayaknya belum jawab deh: “Kamu apa kabar?”
Suka post ini? Bagikan ke: