Tuesday, December 11, 2018

Gratitude Moment



Di kantor gue ada tradisi unik yang dilaksanakan tiap tahun. Namanya gratitude moment. Momen di mana seluruh karyawan, satu per satu, disuruh duduk dan ditutup matanya. Lalu, teman-teman yang lain memberikan ucapan terimakasih, atau unek-unek kepada orang tersebut.

Begitu acara dimulai, gue menemukan sebuah permasalahan.

Acara dengan niat yang begitu mulia ini, mendadak berubah menjadi momen menyeramkan di mata gue. Karena semua orang berbaris di belakang si orang yang tutup mata, gue jadi tahu, mana orang yang dapet banyak ucapan terimakasih, dan mana yang tidak. Acara ucap-ucap terima kasih ini pun berubah menjadi acara melihat kasta kekerenan orang kantor.

Begitu liat orang dengan barisan panjang di belakangnya gue mikir: Gila! Populer banget orang ini!
Begitu liat orang dengan barisan pendek di belakangnya gue mikir: Gila! Inilah nasibku 2 menit lagi!

Terus gue nangis. Nyamar jadi orang yang nangis terharu karena kebanyakan diucapin terima kasih. Keren abis emang cara ngeles gue.

Setelah gue pikir-pikir lagi, orang kayak gue kayaknya susah cocok dengan acara “keren” macam begini deh. Supaya dapet feel-nya, gue coba ingat momen romantis terakhir saat gue ngucapin makasih ke dia. Seinget gue, waktu itu gue ngucapin sambil ngasih gocengan dan mangkok mie ayam. Eh, abangnya girang.

Hipotesis gue akan ketidakcocokan ini pun terbukti saat satu momen. Sewaktu gue udah ngantri untuk memberikan ucapan terima kasih. Situasi sendu. Dengan lampu remang-remang dan lagu mellow yang diputar. Gue mulai mencondongkan kepala ke sebelah telinga cowok ini. Gue mulai membisikkan kata, ‘Makasih ya…’ lalu lupa mau bilang apa. Gue panik. Sadar kalau barisan di belakang gue masih panjang dan gue harus cepat-cepat menyelesaikan kalimat gue. Alhasil, gue ngebisikin, ‘Makasih ya.. makasih. Sekarang, ikuti kata-kata saya. Asyhadu allaa’ illaha illallah…’

Sungguh nggak ada keren-kerennya sama sekali.

Kayak yang gue bilang tadi, tidak jarang gue menemukan orang-orang ini menangis terharu. Bukan karena mereka jadi masuk islam semua, tapi mereka sadar kalau ternyata, mereka dibutuhkan oleh teman-teman satu timnya. Paham kalau pekerjaannya, selama ini, ternyata berarti bagi orang lain. Tahu kalau dia, diam-diam, menjadi inspirasi orang lain.

Di sisi lain, gue menemukan sebuah fakta gak penting: bahwa tidak semua orang mempunyai mental yang sama. Ketika seseorang diberikan ucapan terima kasih bertubi-tubi dalam waktu yang singkat, ada yang menjadi rileks dan menangis terharu. Ada juga yang jadi sombong dan jumawa. Lalu diam-diam mengatakan, ‘Keren abis emang gue!’ sambil mamerin otot di kamar mandi. Fakta ini terbukti valid, setelah gue nginget-nginget semalem gue ngapain aja.

Well, di dunia yang katanya orang sering lupa bilang kata ‘makasih’, ‘tolong’, dan ‘maaf’ ini, menurut gue acara ini seru banget. Selain jadi ajang mengucapkan terima kasih, kita juga bisa bercerita apapun perasaan kita terhadap orang itu. Kalau kamu sebal sama orang itu, misalnya. Kita bisa bilang, ‘Makasih ya atas perlakuan kamu di kantor selama ini. Semoga orangtua kamu selamat.’ sambil nodongin gunting kuku ke lehernya.
Suka post ini? Bagikan ke: