Tuesday, November 21, 2017

NEKO

Di postingan bulan lalu ini, gue pernah cerita soal pembuatan komik Neko. Di situ gue bilang kalau Neko sebetulnya berasal dari sebuah cerpen. Nah, di postingan ini, gue mau share kayak apa sih cerita Neko dalam bentuk cerpen. Buat yang belum sempat baca komik Neko, klik aja gambar di bawah ya!


Well, get your snack and enjoy this short story! \(w)/

--
Entah sudah kali ke berapa aku naik ke rooftop sekolah ini. Belakangan ini pikiranku aneh. Jantungku berdebar keras setiap bangun dari mimpi itu. Aku tiba-tiba tersenyum. Dan, kalau di komik-komik, mungkin mataku digambarkan menyala seperti api. Di sini, sambil memperhatikan atap rumah di depan itu, entah kenapa adrenalinku terpacu. Aku berjalan ke pinggir. Anginnya mengibarkan baju seragamku. Seolah mendorongku supaya jauh-jauh dari tempat ini. Entah kenapa aku suka sekali di sini. Dan bukan cuma aku. Lihat itu, para senior di sebelah sana. Bermain gitar sambil tertawa heboh. Kutebak, mereka anak kelas 3 IPS.

Aku lalu teringat sesuatu: ranselku mana ya?

Duh, ketinggalan.

Aku mengambil Chupa Cups dari kantung celana, lalu mengemutnya.

Sambil bersandar di tembok, aku duduk meluruskan kaki. Belakangan ini aku merasa kalau kelas 2 SMA adalah masa-masa membosankan. Bukan. Ini bukan berarti aku menginginkan kehidupan SMA yang seru seperti di tengah-tengah belajar, tiba-tiba ada godzila menyerang ruang guru. Lalu kami libur dua minggu.

Walaupun sepertinya itu akan menarik.

Meskipun begitu, sekolahku cukup seru.

Aku tidak tahu dengan sekolah lain karena di sini kami hanya diwajibkan menggunakan seragam dengan rompi biru. Selebihnya, tidak ada peraturan aneh. Seperti misalnya, masuk kelas harus roll depan.

Walaupun, sepertinya itu akan menarik. Besok coba ah.

‘No!’

Aku menengok ke pintu di belakang. Di sana berdiri Vanessa dengan handphone di depan wajahnya. Ranselku di dekat kakinya.

‘Ehm, nmgapaimnn, shih, Nhes, fhoto-fhoto?’ tanyaku, sambil mengemut permen.

‘Biarin aja, sih,’ katanya. Lalu mengetik sesuatu. Aku tebak sedang meng-upload foto barusan ke salah satu akun media sosialnya. Dia kemudian memasukkan ponselnya ke kantung dan duduk di sebelah. ‘Ke sini mulu deh perasaan?’

‘Enmggak khok. Ini mhmmau phulamng.’ Aku berdiri.

‘Kalau ngomong permennya dilepas!’

Aku memegang permen. Memainkannya di ujung bibir. ‘Iya ini mau pulang.’

‘Pulang?’ tanyanya, mengangkat kotak bekal dan menjatuhkan ranselku begitu saja. ‘Makanan dari aku belum dimakan?’

‘OH IYA!’ Aku buru-buru mengambil ransel, mengorek isinya dan melahap roti isi telur yang dia buat.

Kalau dipikir-pikir, aneh juga Vanessa ini. Sejak kelas 1 dulu selalu membawakanku bekal makanan. Aku sendiri lupa bagaimana ini bisa terjadi. Tapi, mumpung gratis. Aku sikat aja.

‘Emangnya enak makan roti pake permen gitu?’

Aku membuka mulut. Memperlihatkan sisa batang putih dari permen yang kumakan tadi. ‘Kan udah abis. Weeeek!’

Aku lanjut menghabiskan makanan. Dia duduk di sebelah. Samar-samar terdengar alunan lagu dari senior di bagian lain rooftop ini. ‘Kamu tahu nggak, Nes? Kenapa, ya, karakter di dalam komik bisa makan banyak? Padahal, kan, mereka nggak kerja. Punya uang dari mana coba?’

‘Hah?’
‘Kalo aku, sih, untung ada kamu.’

Lalu hening begitu saja.

‘Nes,’ kataku. Mengembalikan kotak bekalnya. ‘Mulai besok aku nggak mau sekolah.’ Aku kemudian berdiri. Menunjuk atap rumah di bawah sana. ‘Aku mau jadi petualang. Menyelamatkan dunia.’

Vanessa malah ketawa. Aneh dia.

--
Tembakan laser itu mengenai batu di sebelahku. Aku terlempar jauh. Beberapa bagian celanaku sobek. Adrenalinku terpacu. Napasku terengah. Aku berusaha lari, dan lari, dan melompat masuk ke bangunan kosong di depan. Kacanya kupecahkan dengan sekali tendang. Aku menuju ruangan lain. Kutatap wajahku di cermin. Rambutku… biru? Bajuku? Kenapa begini?

Kulihat pakaianku berwarna hitam dengan beberapa garis hijau menyala.

Di mana ini? Aku masuk ke ruangan paling belakang gedung ini. Ternyata semacam dapur. Kutarik satu laci. Lalu beralih ke laci yang lain. Di luar terdengar suara berdebum. Sial, kenapa aku bisa lupa ingatan di saat seperti ini.

Apa ini? Di sabukku ada benda menyerupai belati kecil, tetapi tumpul di kedua ujungnya. Aku yakin ini pasti senjata. Tapi, kok, aku tidak tahu cara menggunakannya ya?

‘HEYAAH!’ Aku gelindingkan benda itu sambil menutupi wajahku dengan panci.

Tidak ada reaksi.

Ah! Apa ini detonator bom? Aku pernah lihat di dalam game ada detonator seperti ini. Aku mengambil benda itu lagi. Kali ini bagian atasnya kutekan. Aku menutupi wajahku pakai panci lagi.

Masih tidak ada yang terjadi.

BENDA TERKUTUK APA INI?!

Aku ketok-ketok ke meja. Ke panci. Ke blender. Lalu kutendang saking kesalnya.

Dan seketika saja,
benda itu mengeluarkan cahaya biru dari ujungnya.

‘LIGHTSABER!’ Aku melonjak girang.

BOOM! Dalam sekejap, bangunan yang kutempati meledak. Lubang hidungku tersodok centong.

Aku terbangun. Bajuku basah penuh keringat. Dan di lubang hidungku… ada apa ini? Semacam tongkat hitam halus menyodok sampai ke dalam. Semoga upilku baik-baik saja.

‘Thol… Lhongg.. Akhh.. Khu.. Gghakk.. Bishaa.. Naph.. Hahs..’ Aku berusaha bernapas dengan mulut. Padahal, mah, lubang yang kiri aman-aman aja.

Kucing siapa sih ini? Makhluk mungil ini melepaskan sodokan ekornya di lubang hidungku. Dia berputar, kulihat bola matanya yang berwarna biru di antara seluruh hitam tubuhnya. Dua lonceng kecil di lehernya menandakan kalau dia adalah peliharaan seseorang. Dia lalu meloncat ke atas kepalaku. Pikiranku rasanya masih agak pusing. Entah karena mimpi entah sodokan di hidungku.

Oh jam berapa sekarang? Tujuh? Delapan? Kamarku saat ini sudah tidak ada bentuknya. Laptop di atas meja masih menyisakan anime The Law of Ueki yang tadi malam ter-pause. Buku-buku komik berserakan, aku sedang tidak ingin membereskannya. Malas sekali rasanya berangkat sekolah hari ini.

Teleponku berdering.

Ah, Vanessa. Bawel sekali perempuan itu. Aku angkat sebentar dan hanya kujawab dengan ‘Iya. Halo. Iya. Heeh.’ tanpa benar-benar mendengar apa yang dia katakan. Mungkin kalau tadi dia bilang ‘Kamu narkoba ya?' sudah terlanjur aku iyakan juga.

‘No.’ Aku samar-samar mendengar suara anak kecil. Kulihat sekitar, tidak ada orang.

‘Hei, No. Kalau dipanggil jawab dong.’ Ekor kucing muncul di depan mataku, lalu bergoyang ke kanan dan kiri. Aku masih tidak mengerti apa yang terjadi.

Sampai beberapa saat kemudian, kucing itu melompat ke depan kasurku. Dia kembali mengeluarkan suara.

‘Ku-kucing? Ini kamu yang ngomong?’ Kutoel-toel kepala kucing ini.

Si kucing menengok kanan dan kiri, lalu menatapku. ‘Memangnya ada orang lain di sini? Aku Neko. Cupidmu.’

‘Co-copet?’

‘Cu-pid, bodoh!’

‘Cupid bukannya anak bayi telanjang yang bisa terbang itu, ya?’ Setelah mimpi aneh, kenapa tiba-tiba hidupku yang jadi aneh? Apakah ini… petualangan? Mataku langsung berbinar-binar.

‘Aku juga anak bayi, kok. Telanjang juga,’ jawab Neko, santai. Dia kemudian duduk di telapak tanganku—ukurannya memang sekecil itu. Menggoyangkan tubuhnya sedikit, lalu, terserah mau percaya atau tidak, muncul dua sayap berwarna putih di sisi tubuhnya. Dia terbang dan hinggap di kepalaku. Keempat kakinya terasa empuk. Ekornya mengenai mataku sebentar, sampai kemudian dia memutar tubuhnya, searah dengan kepalaku. ‘Iya. Aku cupid kamu. Aku mau kasih tahu siapa jodoh kamu di masa depan.’

Aku berjalan ke depan cermin, melihat Neko menggaruk telinganya dengan kaki belakang. ‘Jodoh? Buat apa jodoh? Aku masih kelas 2 SMA! Aku ingin jadi petualang!’

Neko lalu bercerita panjang.

Dia bilang kalau dia adalah kucing dari masa depan. Sewaktu dia bilang ini, tentu aku langsung berteriak, ‘CIYE DORAEMOON!’ dan sekarang di mataku ada bekas cakar 3 biji. Katanya, dia ingin membantuku menemukan jodoh supaya hidup manusia di masa depan menjadi lebih baik. Katanya, kalau aku memilih orang yang salah, akan lahir anak yang salah juga, yang kemudian membuat masa depan menjadi salah juga. Itu berarti… anakku akan jadi petualang!

Tapi… Kenapa harus seperti ini, sih? Aku memang ingin petualangan, tapi bukan begini caranya.

‘Hei, Doraemon,’ kataku kesal, sambil menutupi wajah dengan bantal. ‘Jadi, untuk memulai petualangan di masa depan, aku harus bertualang mencari jodohku dulu? Ah, nggak asik.’

Selanjutnya, dia terus saja mengikutiku ke mana pun aku pergi. Padahal aku sudah berlari sekuat tenaga, tapi dia selalu saja berhasil menemukanku. Belakangan aku sadar, aku lari di treadmill.

Anehnya, lama-kelamaan aku mulai menyukai Neko. Selain bulunya yang halus, dia juga bisa berubah menjadi gelang hitam dengan dua lonceng kecil di ujungnya. Aku pun sudah bertanya banyak hal. Mulai dari apa makanan kesukaannya, dan dia menjawab meskipun tidak makan, dia tidak akan mati. Aku bertanya bagaimana rasanya terbang. Lalu dia bilang kalau itu menyenangkan. Aku pun tertantang untuk terbang dan loncat dari atas lemari. Hasilnya… pelipisku sobek enam jahitan. Aku juga bertanya mengenai diriku di masa depan. Aku di masa depan, kan, akan bertemu istriku yang kemudian melahirkan anak yang menyelamatkan dunia. Jika di masa depan aku sudah bertemu dia, kenapa di masa sekarang aku harus mencarinya? Rasa penasaranku ini hanya dijawab Neko dengan: beginilah caramu bertemu jodohmu nanti.

Sial. Masih SMA sudah disuruh ribet cari jodoh. Katanya masa SMA adalah masa paling indah. Tapi, apa indahnya kalau aku harus mencari jodoh seperti ini? Aku ingin jadi anak SMA seperti dalam komik-komik. Menjadi pembuat roti seperti Yakitate Japan. Atau quarter back dalam Eyeshield 21. Atau melawan monster seperti Nube. Walaupun sama-sama monster, melawan jodohku saat PMS nanti tampaknya tidak bisa dianggap petualangan, deh.

Setelah aku pikir lagi, aku rasa, tidak apa-apa kalau Neko aku pelihara saja. Dari dulu aku selalu ingin memelihara kucing. Kapan lagi punya kucing yang bisa dibawa ke mana-mana.

Karena dia mengaku datang dari masa depan, dia pasti tidak tahu tempat-tempat sekitar sini. Aku pun mengajaknya jalan-jalan. Mulai dari kompleks, pasar, tepi sungai, taman bermain, kemudian berakhir di salah satu stasiun kereta. Niatku adalah membawanya ke tempat sate terenak yang berada di sebelah stasiun ini. Maklum, sebagai kucing masa depan, dia pasti tidak tahu betapa nikmatnya sate itu.

Aku menggoyangkan lonceng di gelang, dan sayap Neko keluar begitu saja. Dia perlahan-lahan mengubah wujudnya menjadi kucing dan naik ke meja. Sambil menunggu pesanan, aku baru menyadari kalau hari ini aku benar-benar tidak jadi sekolah. Seharian ini aku juga tidak mengecek handphone. Besok pasti Vanessa berisik sekali.

‘Ini, Mas.’ Si pelayan meletakkan pesananku ke meja.
‘Makasih!’ kataku, lalu mengelus Neko. ‘Ayo kita habiskan, Neko!’

Terus terang, tempat ini sudah berubah jauh. Dulu, sewaktu aku Sekolah Dasar, aku ingat sering membeli sate ayam bersama Ayah di sini. Tempatnya hanya gerobak dengan pinggiran lebar, yang dijadikan meja tempat pengunjung makan. Sekarang, tempat ini sudah menjadi kios dengan puluhan meja. Para pengunjung yang datang sampai antre di luar. Di meja sebelah terdapat satu pasangan tua kakek-nenek yang duduk memesan teh. Di depannya, ada pasangan lain saling menyuapi sate, yang, entah kenapa membuatku mangap sendiri.

Aku menatap Neko.

‘Hei. Memangnya jodohku seperti apa?’

Neko tetap makan, mengabaikanku.

‘Ne. Ko.’ Aku merebut sate dari mulutnya. Mengangkatnya ke telapakku. Dia tidak berani mengeluarkan sayap di tempat terbuka seperti ini.

‘Aku sudah tidak peduli dengan jodoh-jodohan. Aku ingin sate.’

Aku mengangkat ekor Neko. Lalu berbicara kepada pelayan yang kebetulan lewat. ‘Mas, di sini kucing bisa dijadiin sate nggak, ya?’

Neko kemudian memberontak, mengeong—aku baru tahu ternyata Neko bisa mengeong juga—dan aku melepaskan genggaman. Dia tampak kesal, aku hanya terkekeh. ‘Aku tidak tahu siapa jodohmu,’ jawabnya.

Aku mengambil satu tusukan sate, lalu menatap Neko dengan pandangan bagaimana-kalau-matamu-kucongkel-saja dan dia kembali bicara tanpa kutanya.

‘Aku tidak tahu, tapi aku tahu ketika orangnya muncul.’

--
‘Bukan,’ kata Neko. Ini sudah keduapuluh kali aku mencari perempuan yang menurutku akan menjadi jodohku. Sebenarnya, tanpa bantuan Neko aku memang agak ragu kalau Kendall Jenner adalah jodohku.

Akhirnya aku lelah juga dan memilih untuk tiduran saja. Ternyata, menemukan jodoh tidak segampang yang kukira. Kunyalakan televisi dan terpampang biduan dangdut sedang berjoget. Kuliirk Neko.

‘Bukan, Juno.’ Dia duduk di perutku. ‘Kamu mau masa depan nanti ditentukan dengan goyangan dangdut?’

Aku lalu membayangkan dua Negara yang sedang berperang. Bukannya mengirimkan tentara, kita malah menyebar penyanyi dangdut ke kampung-kampung. Biduannya joget, lalu musuh pada kelojotan, mimisan, dan mati kekurangan darah. Serem juga.

‘Nggak, deh. Nggak seru.’ Aku akhirnya mulai sadar kenapa jodoh itu penting bagi peradaban manusia. Apalagi bagi aku, yang ingin menjadi petualang sejati. Apa jadinya jika petualang sepertiku berjodoh dengan biduan dangdut? Anakku pasti jadi petualang dangdut. Melawan monster dengan gendang dangdut tedengar tidak keren untukku.

--
‘Kamu ke mana, sih, kemaren?’ Vanessa menghampiriku. Seperti yang bisa kutebak, wajahnya akan menjadi… tunggu?

Kenapa seperti ada yang berbeda ya?

Aku mengemut Chupa Chups sambil memperhatikan Vanessa lebih detail. Kok sekarang aku ingin tersenyum?

‘Kenapa, No?’ Vanessa memberikan bekal makan.
‘Kamu yang kenapa?’

Lonceng di tanganku berbunyi pelan.

‘Yuk. Buruan ke kelas. Kita kan ada ujian Biologi!’
‘HAH?! PENYELAMAT DUNIA HARUS UJIAN BIOLOGI?!’

Vanessa menjitak kepalaku.

--
Napasku sesak. Kaki kananku terjepit batu. Bunyi sirine membuat telingaku berdengung. Kulihat di udara satu helikopter berputar-putar. I.. ini tempat yang kemarin?

Aku memfokuskan tenaga di bagian kaki. Lalu, kutendang batu yang menindih kakiku itu. Aku kaget karena kekuatanku berhasil menerbangkan batu itu ke langit. Menabrak helikopter. Menuju Nigeria. Menghantam singa yang akan menerkam anak kecil. Warga Nigeria memuja dewa langit.

Belum sepenuhnya sadar akan apa yang terjadi, sirine kembali berbunyi keras. Kepalaku sakit. Terdengar teriakan ‘Berhenti!’ dan derap telapak kaki entah dari mana. Beberapa detik kemudian, gedung sebelah kanan meledak.

‘APA-APAAN INI?!’

Aku kembali berlari. Gedung-gedung ini, semuanya sudah tidak berpenghuni. Apakah kota ini akan dihancurkan sepenuhnya? Atau ini tempat hasil perang? Beberapa kali terdengar tembakan. Jantungku berhenti sesaat.

Aku memutuskan mencari tempat aman. Di lorong depan, sebelah kiri. Di antara dua bangunan itu.

Tapi,
aku justru bertemu tiga orang. Dua menghadapku. Bapak dan Ibu. Saling memegang tangan satu sama lain. Entah kenapa aku seperti kenal dengan mereka. Tapi siapa? Sementara satu orang lain menghadap mereka. Tidak jelas. Seseorang berjubah dengan tudung warna putih. Aku jalan mengendap-endap.

‘HEYAH!’ Kugebuk tengkuknya pakai balok kayu. Eh, dia pingsan.

Kedua orangtua ini melonjak girang. Kami berpelukan seperti teletubies. Mereka bercerita, dan, anehnya, aku tidak mengerti apa yang mereka katakan. Pandanganku kabur. Badanku seperti terbang. Lalu samar-samar, kulihat sinar laser merah menembus dadaku.

--
Aku masih tidak percaya apa yang dikatakan Neko. Vanessa adalah jodohku? Sudah gila apa dia.

Bel berdering. Suara langkah sepatu berderap cepat. Lalu hening. Kelas kosong. Papan tulis berisi sisa coretan kapur. Di bawah meja, ranselku sedikit terbuka. Memperlihatkan kotak bekal pemberian Nessa tadi pagi. Nessa? Tunggu. Sejak kapan…

Aku menggoyangkan gelang, mengeluarkan Neko. Senyumnya menyebalkan sekali. Kuangkat ranselku dan berjalan ke rooftop. Di sinilah aku sekarang. Berpikir tentang semua kejadian aneh yang belakangan aku alami. Kugigit roti isi telur itu, lalu, kukunyah pelan-pelan. Kurasakan angin perlahan-lahan menyapu rambut. Sebentar, aku harusnya bisa fokus. Tapi kenapa malah jadi mengantuk begini. Payah.

‘Mau sampai kapan di sini terus?’ Nessa, seperti biasa tiba-tiba datang. Aku melirik ke kotak bekal di samping ransel. Oh iya, gara-gara ini.

Aku berdiri. Menutup kotak bekal kosong itu. Berjalan ke arah Vanessa. ‘Nessa. Kamu jodohku.’
‘Hah?’
‘Kamu jodohku.’
‘A-aku. Jodohmu?’
‘Iya.’
‘Aku jodohmu?’
‘He eh.’
‘A-aku? Jod-oh?’
‘IYEEEEE!’

Vanesa tertawa kencang. Aku lihat air matanya keluar sedikit.

Kemudian, dia memelukku.
Aku benar-benar tidak mengerti soal perempuan. Tapi, aku mencium aroma stroberi.

--
Sekarang, aku harus apa?

Aku mengingat kejadian tadi sore. Setelah dia memelukku, kami hanya duduk bersender di dinding. Memandangi atap rumah di depan. Entah kenapa Vanessa yang biasanya cerewet mendadak diam. Aku kemudian bercerita soal keinginanku menjadi petualang. Lalu soal mimpi-mimpiku. Saat aku meledakkan bangunan. Saat aku tertusuk laser merah.

Di topik itu, Nessa mulai seperti biasa. Kembali ke gerakan tangannya saat bicara yang berlebihan itu. Ketukan kakinya di lantai ketika mendengarkanku. Saat itu, dia akhirnya mengungkapkan alasannya memberikanku bekal setiap hari.

‘Memangnya menurutmu kenapa aku mau seniat itu memberikanmu bekal?’
‘Biar… Aku bisa kayak karakter di komik?’
‘Bukan, bodoh.’ Nessa tertawa.

Dia bilang itu yang dulu dilakukan Ibunya ketika Ayahnya masih hidup. Membawakan bekal ke kantor setiap hari. Saat itu, tentu aku merespon dengan, ‘MEMANGNYA AKU SETUA ITU YA?’ Dan dia malah tertawa kembali, yang, kemudian aku lanjutkan dengan, ‘Kalau begitu. Tolong pijit punggung Ayah, Nak.’

‘ENAK AJA!’

‘Untung Neko ngasih tahu,’ kataku. Mengingat sesuatu. ‘Kalau tidak, bisa-bisa aku berjodoh dengan penyanyi dangdut.’

‘Neko?’

‘Iya.’ Aku menggoyangkan lonceng di tangan kiri, dan mengubah gelang menjadi Neko. Aku menjelaskan semua hal tentang Neko. Tentang kedatangannya yang langsung menusuk lubang hidungku. Tentang kesukaannya terhadap sate langgananku sewaktu SD. Tentang dia yang mengaku sebagai Cupid dan akan mempertemukanku dengan jodohku.

Vanessa diam. Wajahnya datar. Beberapa saat kemudian, dia mengeluarkan suara. ‘Jadi, gara-gara Neko. Makasih ya.’ Dia lalu pergi.

Dan sampai sekarang, aku tidak tahu harus berbuat apa.

Oke, setelah mimpi aneh. Hidup aneh. Sekarang Nessa yang aneh. Kulihat Neko sedang menyundul bola kasti di kasur.

‘Ah menyebalkan. Semua gara-gara kamu, nih, Neko.’

Neko mengeong.

‘Neko.’

Neko balas mengeong lagi.

‘NEKO!’

Neko tetap mengeong.

Neko, kamu kenapa? Kutumpuk beberapa bantal dan kuletakkan Neko di atasnya. Kali ini aku menatap wajahnya dengan seriius. ‘WINGARDIUM LEVIOSA!’

Neko tetap mengeong. Lalu pipis di bantal.

‘Neko biadaaaab!’

Kudekati dia. Kuangkat ekornya. Dia meronta. Dan sekarang aku sadar: dia tidak bisa bicara. Aku sudah mencoba berbagai cara. Mulai dari mengelus, mengelitiki keteknya, sampai menyanyikan lagu terbaru Krisdayanti (selain nyoba untuk Neko, lagunya emang asik abes!), tapi dia tetap tidak berbicara seperti Neko sebelumnya. Aku pun sudah mencoba melemparnya, tetapi dia tidak mengeluarkan sayap.

Neko berubah jadi kucing biasa!

--
Sudah satu minggu sejak Neko menjadi kucing normal. Vanessa juga mulai kembali biasa. Tapi entah kenapa, aku merasa sedikit aneh. Kok, dia tidak mau membawakanku bekal lagi sih? Aku kan sudah lama tidak ke kantin. Maka dari itu, hari ini aku sudah berjanji dengannya untuk bertemu di sini. Di atas rooftop. Neko juga kubawa dalam kantung plastik.

Kuambil Chupa Cups dalam kantung.
Lalu kuemut sambil memperhatikan pemandangan di depan.

Perutku bunyi. Lapar.

‘Hei, No.’

Aku mengangkat tangan tanpa berbalik badan. Sudah hapal betul suara itu. Dan, dengan tangan juga, menyuruhnya untuk duduk di sebelahku.

‘Ini.’ Vanessa memberikan bekal.
‘Eh? Oh?’ Saat ini, kayaknya tampangku seperti orang yang sedang mikir: ini kentut doang atau sama ampasnya ya?
Dia membuka tutup bekal. Terlihat roti isi telur. Bekal kesukaanku! ‘Udah. Makan aja.’

Sehabis makan, aku malah tidak tahu ingin bicara apa.

‘Neko mana?’
Aku mengangkat kantung plastik. ‘Ini.’

‘INI GIMANA DIA NAPASNYA YA?’ Vanessa cepat-cepat membuka ikatan plastik Neko. Aku masih bengong. Beberapa detik kemudian aku berpikir dalam hati: tuhkan, dia masih selamat.

‘Kamu kenapa?’ Akhirnya aku bertanya juga.
‘Kenapa apanya?’
‘Kenapa apanya gimana?’
‘Kenapa apanya gimana kapanpun?’
‘Ya, kamunya. Sebenarnya senang atau enggak tentang jodoh ini?’

Dia diam.

Semoga dia tidak mengeong kayak Neko.

‘Meong.’

Aku ingin lompat saja.

Dia mengangkat Neko ke depan dadanya. Mengelus kepalanya beberapa saat, lalu menurunkannya kembali. Dia akhirnya menjawab: Kalau nggak ada Neko gimana?’

‘Gimana apanya?’
‘Ya kamunya.’

Sekarang gantian aku yang diam. Terus terang aku sama sekali belum berpikir tentang itu, jadi kujawab jujur saja.

Dan aku juga jujur,
kalau aku terbiasa dengan keberadaannya.

Dan juga jujur, saat bertemu dengannya minggu lalu. Aku merasa ingin tersenyum dan… aku punya perasaaan yang aneh.

Aku kemudian tertawa saat mengatakan ingin menjadi petualang.
  
‘Tapi petualang juga butuh partner kan?’ Dia menatapku.

Jantungku berhenti berdetak. Kutunjuk pemandangan di depan secara asal. ‘Gimana kalau kita bolos dan keliling dunia saja? Ah! Mulai dari menumpas preman, deh.’

‘Gimana kalau kita mulai dari lulus ujian biologi?’
‘UJIAN BIOLOGI LAGI?!’

‘Nekuma!’ Neko tiba-tiba kembali bersuara.

Tidak berapa lama, muncul seekor kucing berwarna putih seukuran Neko. Dia menggesekkan kepalanya di tubuh Nessa. Belum bisa mencerna apa yang terjadi, kucing itu mengeluarkan sayap hitam, persis seperti Neko. Dia tersenyum kepada kami, lalu menatap Neko. “Hai, Neko!’

Aku tidak bisa bergerak. Jantungku berdetak kencang. Seperti berada dalam arena perang di mimpi waktu itu. Kutatap wajah Nessa, pipinya merah. Apa yang terjadi?

Neko menatapku, lalu berkedip. Apa jangan-jangan dari kemarin dia cuma pura-pura? Kalau benar, akan kuhabisi dia. Neko membentangkan sayap kecilnya, lalu, bersama Nekuma terbang ke belakang kami.

Tepatnya, ke dua orang di belakang kami.
Dua orang yang kutemui di dalam mimpi.

‘Kita berhasil,’ kata si laki-laki.
Suka post ini? Bagikan ke: