Tuesday, January 29, 2019

apa yang gue pikirkan tentang ulang tahun...


Ketika menulis ini, umur gue 26 tahun.

Itu artinya, udah banyak hal yang gue lakuin selama di dunia ini. Tidur, makan, berak… tidur lagi. Berak sambil tidur… (Iya, emang gitu-gitu aja, tapi banyak). Selama 3 windu lebih gue hidup, itu berarti, gue udah bikin Tulus ngomong ke perempuan yang dia taksir kalo dia capek sebanyak 3 kali.

Windu ke-1: Sudah sewindu ku di dekatmu~ Tak mungkin bila~ Engkau tak tahu~ Bila kumenyimpan rasa~
Windu ke-2: Otidak mungkin~ Engkau tak tahu~
Windu ke-3: BOLOT APA LO YE?!

Sewaktu kecil, ulang tahun menjadi momen yang gue tunggu-tunggu. Rasanya seru aja gitu. Mengumpulkan tetangga ke rumah, meniup lilin, tepuk tangan, main balon, padahal… gue gatau ini kenapa orang-orang pada ngumpul. Yah, meskipun dibandingkan dengan ulang tahun Xabiru yang membuat konsep DWP dengan segala perangkat DJ, dan digelar di hotel Ritz Carlton, gue jelas kalah jauh. Dengan pengalaman gue pas kecil yang ngumpulin tetangga aja udah bikin gue bingung, gue paham perasaan Xabiru. Dia pasti gak bakal kepikiran, ‘Ini ulang tahun terkeren yang pernah kurayakan!’ (ya kan baru pertama). Tapi akan lebih ke ‘Duh. Rame banget. Kalo berak sembarangan malu nih gue…’ Kasian Xabiru.

Tapi, sekarang gue mau jujur aja. Seiring bertambahnya umur, gue semakin tidak antusias dengan perayaan ulang tahun. Semenjak memasuki usia sekolah, gue udah nggak pernah ngerayain ulang tahun.

Buat gue, ulang tahun, apalagi di umur segini, malah jadi hal yang membingungkan. Siapa sih orang yang mencetuskan bahwa di hari ulang tahun, seseorang itu harus dikagetin? Apa susahnya langsung memberikan kado dan ngasih ucapan selamat. Well, bahkan ucapan selamat aja terdengar aneh. Apa, sih, yang perlu diselamatin dari orang yang ulang tahun? Kesannya malah kayak, ‘Selamat ya! Lo nggak mati sejak 365 hari lalu!’

Kenapa juga seseorang harus memperingati sesuatu berdasarkan posisi benda luar angkasa. Ketika gue punya anak nanti, mungkin gue akan bilang, ‘Hari ini bumi ada di posisi yang sama kayak pas kamu lahir, Nak. Tiup lilin gih…’

‘Nice info gan!’ Anak gue niup lilin, lalu minum cendol.

Lagipula, buat gue yang udah umur segini, dengan kebiasaan ngagetin yang sama setiap tahun, itu berarti gue udah dikagetin 10 kali lebih. Bayangin kalo Ruben Onsu. Udah berapa ayam yang dia sebut gara-gara ulang tahun doang?

Kebiasaan ini pasti ngebuat semua manusia, di mana pun dia berada, berpikir kalau di hari-H, ketika temen-temen mulai hilang satu per satu dari peredaran, atau pacar yang tiba-tiba ngomel dan susah dihubungin, adalah momen di mana dia akan dikagetin. Nggak mungkin ada orang yang gak sadar setelah sekian tahun.

‘SURPRISE! KITA KERJAIN LO! TADI BERCANDA DOANG! HAHAHA! HAPPY BIRTHDAY YA!’
‘Hah? Emang sekarang ya? Masa sih? Yang boneng, Gan?’

Karena kebiasaan ini lah, orang yang berulang tahun jadi semacam punya harapan di dalam dirinya. Ketika hari-H jadi parnoan sendiri. Dijutekin temen, ngira dikerjain. Hape hilang, ngira dikerjain. Dipalak preman, motor dirampas, malah girang, ‘AMBIL, BANG! AMBIL BESERTA HELM FULLFACE INI! EMANG AGAK BAU DIKIT SIH, TAPI ABANG PASTI SURUHAN PACAR SAYA KAN?!’

Hal paling tidak masuk di akal menurut gue adalah kebiasaan nyeplokin orang yang berulang tahun dengan telur dan tepung terigu. Mungkin orang-orang ini sebelumnya berpikir, ‘Daripada ribet bikin kue, langsung aja bahan-bahannya kita templokin ke dia!’ Mungkin orang-orang ini lupa kalo di dunia ini udah ada sebuah metode yang bernama… BELI. Holland Bakery ada di mana-mana, kawan.

Anyway, terlepas dari semua ini, katanya, ketika seseorang melewati 25 tahun, dunia akan berubah. Kepala mulai botak. Dengkul kopong. Pantat menopause. Masa kegelapan perlahan datang. Ada yang bilang kalau ini adalah fase quarter life crisis. Fase di mana kita mulai mikirin tujuan hidup. Fase di mana kita, sebagai manusia, udah mulai mikirin pertanyaan tentang masa depan kayak: Gimana caranya beli rumah, pajak apa saja yang harus kita bayarkan, dan yang paling penting… gimana cara mencet ‘back’ di ATM. Kalo salah mencet nomor rekening, kan bikin panik.

Makasih buat semuanya. Semoga gue masih bisa bertahan hidup selama 365 hari lagi ke depan,
dan tahu cara mencet back di ATM.
Suka post ini? Bagikan ke: