Wednesday, June 20, 2018

Apa yang Gue Pikirkan tentang Sosial Media Sekarang



Gue punya satu pertanyaan yang gue simpan cukup lama.

Kalo kita baca di beberapa berita, kayaknya generasi gue (millenial dan ke bawah), sering banget disebut “Me generation”. Generasi egois, narsis, dan merasa kalau dirinya adalah pusat alam semesta ini. Makanya sekarang kalo laper, kalimat yang keluar dari mulut kita bukan “Gue mau beli makan. Ada yang mau nitip?” tetapi “Akan kutekan hape ini dan bikin orang asing itu bawa makanan padaku!”

Begitu tukang ojeknya sampe depan rumah, kita lari dari kamar, jerit “MAKANAN GUEEHH!!” bayar, cium tangan, lalu nyembah dia.

Masalahnya, apakah ini benar?
Apakah kita emang jauh lebih egois dari orang-orang di generasi sebelumnya?

Buat jawab ini, kita butuh beberapa variabel. Kalau kita pikir-pikir, apa sih yang membedakan generasi kita dan generasi orangtua kita.

Cara kita lahir? Sama.

Ekonomi? Masih qysmin.

Hal paling signifikan yang ngebedain kita tentu teknologi. Teknologi, pada dasarnya tidak cuma mempercepat informasi dan infrastruktur. Kalo kita pikir lebih jauh, secara tidak langsung, teknologi yang kita pakai akan memengaruhi cara kita bergaul.

Generasi kita, adalah produk dari tim marketing berbagai sosial media. Mereka seringkali menyuruh kita untuk punya dunia yang lain. Dunia yang bisa kita kendalikan. Kita ciptakan dan atur sendiri. Dan pada akhirnya, kita semacam punya dua dunia buat bergaul. Dunia pertama adalah dunia di mana kita tinggal sesungguhnya. Dunia kedua adalah dunia pelarian yang lebih “bebas”. Dunia di mana orang bisa joget-joget sambil ngegerakin dua jari, lalu nunjukin ke sekumpulan orang asing tanpa merasa malu.

Kenapa nggak malu? Karena dia melakukan itu di kamar kosong. Di tempat yang ngebuat dia nyaman.

Bayangin orang itu pergi ke supermarket. Belanja terong, lalu di antara rak sayuran organik, dia ngeluarin speaker gede, mencet play, “EMANG LAGI MANJA~ LAGI PENGEN DIMANJAAA~” lalu joget dua jari.

Itu terong kalo bisa ngomong mungkin bakal teriak, “KEMBALIKAN AKU KE DALAM TANAH!”

Ya, secara tidak langsung, sosial media berpengaruh besar terhadap cara kita bergaul dan berinteraksi. Kalau kita tarik ke belakang, berarti bukan manusianya yang lebih “egois”, tapi sosial media yang menuntun kita ke sana. Kalo kita sampe salah ngegunain sosial media, ya bisa berabe juga.

Kalo gue pikir ulang, jaman gue main Friendster (ya, gue sempet main begituan) kita juga berlomba-lomba jadi yang paling keren. Ngedit template seniat mungkin. Yang anak metal dan gaul, biasanya dibikin jadi gelap. Dikasih foto gitar, lengkap dengan tulisan khas metal yang gak bisa kebaca. Tapi biar tetep dapet temen, di Friendsternya dia melihara ikan koi.

Ini yang bikin gue ngerasa kalo sosial media lah yang mengubah kita. Itu artinya, bukan tidak mungkin kalo jaman penjajahan dulu udah ada Instagram, pejuang bakal upload foto dulu sebelum perang. Fotonya selfie megang bambu. Captionnya: “You know my name but not my story”. Dapet 32 likes. Lalu ada yang komen “Runcing banget bambunya.” Dibales “Runcingan punya kamu” Bales lagi “Kamu” Bales “Dibilang elo anjeeeeenggg!” Dibales lagi “See? What I think about dumb people on the internet that only can say something like this? Answer with some arguments, not that stupid word, you SON OF A BITCH!” Lalu di bawahnya ada penjual online ikut komen: “Ingin punya bambu yang lebih besar dan runcing? Ingin menghujam dua kompeni dengan sekali tusuk? Yuk cek ig kita. Makasih lho, rekomendasinya! :)”

Lalu karena kelamaan komen, orang ini ketembak Belanda. Mati. Beritanya masuk Cek and Ricek. Headlinenya: “INI POSTINGAN TERAKHIR BUDI PEJUANG TANAH AIR! PERHATIKAN LINGKARAN MERAH DI FOTONYA! BUDI SEBENARNYA ALIEN!”

Oh, perang pasti akan jauh lebih seru…

Masih berhubungan sama sosial media, gue pernah baca kalau saat ini, Instagram adalah sosmed yang paling berpengaruh terhadap penurunan kesehatan mental. Secara tidak langsung, dengan ngeliat Instagram, kita seperti dituntut harus sempurna. Ngeliat feed si anu, keren abis. Ngeliat feed ini, artsy mania. Hal ini bikin kita dengki dan ngerasa kalau hidup kita cemen abis. Padahal, foto yang kita liat di Instagram adalah satu dari 128 foto yang dia ambil. Udah diedit berjam-jam. Udah nyomot quote kehidupan dari google. Udah pake #like4like.

Tapi tetep aja, tanpa disadari, kesempurnaan semu ini diam-diam menggerogoti kita.

Satu hal yang bikin gue penasaran adalah: “Siapa sih yang mencetuskan ide bahwa segala sesuatu yang ditampilkan di dunia maya itu harus sempurna?”

Saat gue SMA, satu-satunya masa di mana gue pengin terlihat sempurna adalah di depan gebetan. Tapi sekarang, tiap orang merasa harus bikin insta story yang berkelas. Fotonya harus di tempat elit. Harus dandan 3 jam, foto selfie di tempat wisata dan bilang “Abaikan muka.”

ABAIKAN MUKA WEDUSMU.

Dan padahal gebetan lo juga gak peduli.

Hal lain yang gue temukan adalah, entah kenapa kita cenderung jadi lebih “matre”. Semakin artis dan pengguna sosial media menyerukan kalo kita bisa dapat duit dari sana, semakin kita ngerasa kalo apapun yang kita lakukan harus menghaslkan uang.

Kebiasaan ini terlihat dari kalimat “Ini nggak disponsorin lho!” saat nenggak aqua, atau make kamera tertentu, atau make baju tertentu, atau pergi ke tempat tertentu. Emangnya yang nonton Ig Story beneran ngerasa kalo lo disponsorin ya? Emangnya kenapa juga kalo lo nyebutin merk tanpa disponsorin?

Emangnya ada yang kehipnotis “Wah… Ternyata selama ini Syahrini minumnya bukan aqua… tapi ADES.”

YHA KENAPA?!

Kayaknya brand itu juga gamau sponsorin rakyat jelata kayak kita deh.

Tapi yang jelas, postingan ini ditulis di laptop Acer.
Jadi kalo Acer mau sponsorin gue, langsung ke email aja ya. Makasih loh...
Suka post ini? Bagikan ke: