Sunday, June 2, 2019

yang harus dilakukan ketika paru-paru bocor...


Pas lagi meeting di kantor bulan lalu, badan gue tiba-tiba kayak ada yang error. Di antara semua yang bergantian bicara, gue cuman diem aja di pojokan, duduk sambil mikir, ‘Ini badan gue kenapa ya?’ Lama kelamaan, gue merasa kalau gue susah napas. Gue cuma sanggup ngomong dalam kalimat yang pendek dan patah-patah. Rasanya kayak lagi berenang dan gue ditenggelamkan berkali-kali. Tapi, ini di daratan.

Begitu kelar meeting, gue minta Fahri buat mijitin.
Hipotesis yang Fahri kasih: gue kena angin kadaluarsa.

Sejujurnya, gue juga nggak tahu apa itu angin kadaluarsa. Emang bener sih kayak ada sesuatu yang mengganjal di rongga dada sebelah kanan gue. Feeling gue mengatakan, sesuatu ini yang menyulitkan paru-paru gue buat menyalurkan udara. Tapi, apa bedanya masuk angin biasa dengan angin kadaluarsa? Apakah angin ini kalo kita makan bakal bikin mencret-mencret? Gue nggak tahu, kawan…

Fahri (sambil mijit): Jadi… hoeekk… gue yakkh… hoeek… in… nih.. lo masuk angin… hoeeekk..
Gue: I… ini kenapa gue yang masuk angin, lo yang sendawa ya?
Fahri: Ah, lo mah gak ahli… Hoeeekk! Emang gin… HOEEEKK?! Kalo udah jagghhhOEEKK!!

Pas gue nengok, di pundak gue ada tai tikus.

Beberapa hari berlalu dan semakin lama, rongga dada gue semakin sakit. Gue bahkan nggak bisa tiduran telentang. Supaya bisa tidur, gue harus menghadap kanan dan menekan guling ke dada dengan keras, biar sakit di bagian dalam tubuh tertutup rasa sakit benturan fisik dari guling.

Sampai akhirnya, gue udah gak tahan lagi. Napas gue kayak curut yang lehernya kejepit. Gue memutuskan untuk ke rumah sakit aja, Setelah melakukan pendaftaran, mengisi tanggal lahir, berat dan tinggi badan, gue menyerahkan berkas ke suster.

‘Kamu mau ke dokter Christoph?’ tanya susternya. ‘Kenapa?’

Di sini gue pengin jawab, ‘Justru saya ke rumah sakit karena pengen tahu ini kenapa, Sus.’ tapi niat itu gue batalkan. Gue hanya menjawab dengan: ‘Sesak, Sus.’

Jawaban gue mengubah raut wajah si suster. Gerakannya menjadi seperti di-fast forward. Dia buru-buru merapikan berkas, lalu menunjuk satu kursi dan menyuruh gue duduk di sana. Setelah mengecek tensi, dia menjepitkan sebuah alat mirip stapler ke jari telunjuk gue. Belakangan gue tahu itu adalah alat pendeteksi kadar oksigen tubuh.

‘Sebentar ya,’ katanya, Dia kemudian masuk ke ruangan dokter, lalu menyuruh gue masuk.

Dan di sini lah semuanya dimulai.

‘Siang, Mas,’ kata dokter Christoph, duduk dan menjabat tangan gue.

‘S-siang, Dok.’ Seperti di luar, gue menjelaskan kronologis kenapa gue megap-megap kayak gurame mau digoreng. Penjelasan gue langsung membuat si dokter berdiri, meletakkan stetoskopnya ke dada gue, lalu pindah ke punggung, seperti mencari-cari sesuatu. Lalu, menjepitkan alat pendeteksi oksigen ke jari gue, versi lebih keren dari yang lima menit lalu suster gunakan. Semua ini dia lakukan tanpa bersuara sama sekali.

‘Gimana, Dok?’ tanya gue, berusaha memecah keheningan.

‘Nggakpapa ya…’ Dokter Christoph kembali duduk. Dia menatap gue, lalu mengembuskan napas panjang. Setelah diam sebentar, dia menengok ke suster dan melanjutkan, ‘Kasih dia kursi roda dan oksigen.’

Gue belum mencerna apa yang terjadi, tahu-tahu di depan gue udah ada satu kursi roda dan tabung oksigen segede gaban. Mirip lah kayak tabung oksigen di penjual ikan hias. Bedanya, selang di tabung penjual ikan dimasukin ke plastik buat ngasih udara. Sementara selang gue nyolok ke lubang idung.

‘Nggakpapa ya… ini bisa sembuh, kok,’ ulang dokter. ‘Kamu langsung rontgen paru-paru, lalu rekam jantung. Nanti dibantu suster ya.’

Gue pengin jawab ‘TIDAK! LEPASKAN SAYAA!’ lalu lari kabur ke luar rumah sakit dan ikut trek-trekan biar dramatis kayak di film-film, tapi kok kesannya lebay. Sambil stay cool, gue duduk di kursi roda, menuruti semua prosedur. Lalu bersama suster kami jalan ke radiologi.

Di sepanjang koridor, gue kepikiran sesuatu.

Sejak kecil, gue gak pernah suka rumah sakit. Aroma obat-obatan selalu bikin gue mual. Belum lagi konsep rumah sakit yang… ngumpulin orang sakit di satu tempat. Bayangkan, ada berapa ratus orang di sini? Itu artinya, ada berapa ratus ribu virus dan bakteri yang ngumpul jadi satu? Oh, mikirin hal ini aja bikin gue makin pengen muntah. Belum lagi hal-hal lain yang menakutkan seperti alat bedah, bunyi ritme perekam jantung, gesekan roda dari ranjang pasien yang didorong terburu-buru, menuju ruang operasi.

Di sisi lain, tiap ke mal, gue suka ngebayangin duduk di kursi roda. Kayaknya seru aja gitu. Kita gak perlu capek jalan kaki ngelilingin mal sampe varises. Tinggal duduk, lalu minta pacar dorongin.

Masalahnya, di perjalanan menuju tempat rontgen, gue menyadari bahwa pandangan orang terhadap mereka yang duduk di kursi roda itu berbeda. Lucu bagaimana tempat kita duduk, ternyata memengaruhi pandangan orang kepada kita. Orang yang duduk di kursi plastik, misalnya, akan dianggap sebagai orang yang low profile dan mudah bergaul. Mereka yang duduk di kursi berbusa akan dianggap sebagai bos. Sementara yang duduk di kursi roda, adalah pesakitan.

Bagi orang normal, selalu ada yang salah dari mereka yang duduk di kursi roda.

Secara refleks, kita dituntut untuk merasa iba kepada mereka. Menahan ekspresi, memberi jarak, menjaga tingkah.
Maka itu lah yang gue dapatkan dari orang-orang ini.

Sewaktu berangkat tadi, pandangan mata bapak bermasker itu seperti bilang, ‘Yakin orang kayak kamu mau ke dokter paru? Gamau nyari paru di Rumah Makan Padang aja?’ Sekarang, saat gue duduk di sini, dan mata bertemu mata, dia malah memalingkan wajah. Seolah bilang: ‘Wah… salah bantal nih gue kenapa tuh dia?’

Rontgen dan rekam jantung baru aja selesai. Gue juga sudah menghubungi kakak untuk menemani. Sekaligus jadi orang yang ikut mendengarkan diagnosis dokter, kalo-kalo gue bego dan gak ngerti. Ternyata, menurut dokter Christoph, gue nggak kena angin kadaluarsa (ya iyalah), tetapi pneumothorax.

‘Jadi, paru-paru kamu yang sebelah kanan bocor.’ Dokter mengepalkan tangan. ‘Sekarang ukurannya tinggal segini.’
‘Bo-bocor? Paru-paru saya bocor, Dok?’

Hening.

Dokter mengangguk pelan.

‘Terus nambelnya gimana?’

Hening.

Kayaknya, gue emang terlalu bego urusan medis. Saat itu, si dokter menjelaskan panjang lebar tentang kondisi gue. Tapi, yang gue tangkap adalah paru-paru sebelah kanan gue bocor (entah apa penyebabnya), dan itu membuat ada udara yang keluar dan memenuhi rongga dada gue. Udara yang ‘nyangkut’ ini, akhirnya memberikan tekanan yang bikin paru-paru gue mengempis.

Satu-satunya jalan untuk mengembalikan keadaan paru-paru gue adalah dengan membedah rongga dada gue, lalu memasukkan selang ke sana. Tujuan: mengeluarkan udara yang ada di rongga dada, sehingga paru-paru gue tidak tertekan lagi. Sementara untuk membuat paru-paru gue mengembang kembali adalah dengan… nggak ada. Nggak bisa ditambal. Apalagi diganti yang tubeless. Gue cuma bisa berharap tubuh gue menyembuhkan sendiri bagian yang rusak, kemudian pelan-pelan berfungsi kembali seperti sebelumnya.

Jadilah sore itu gue langsung masuk ke ruang pembedahan.
Ruangan yang belum pernah gue masukin sejak lahir.

--
Udah jadi hal yang wajar bagi seseorang takut dengan pembedahan. Alat-alat yang terbuat dari besi itu, sobekan, darah, rasa sakit setelahnya. Nggak bakal ada orang di dunia ini yang seneng ketika badannya dibedah. Korbannya Sumanto dulu juga pas mau dimutilasi pasti akan menjerit ‘TOLONG!’ dan bukannya ‘UYEEE!’

Tahu apa yang paling males dari melakukan operasi pembedahan?
Ketika orang-orang lain pada nanya, ‘Lo nggak takut?’

Apa yang mereka harapkan dari pertanyaan ini? Masa gue harus jawab: Nggak. Gue hobi kok badan gue digunting-gunting. Tiap sore gue melakukannya bareng kerabat.

Tentu, melihat keluarga gue di sebelah, gue harus tetap cool dan santai. Meskipun dalam hati nanya, ‘Ini gak ada cara yang lain? Roy Kiyoshi aja bisa manggil dajjal. Masukin selang ke badan doang mah dia jago pasti...’

Sayangnya, gue gak kenal Roy Kiyoshi.

Selepas magrib, dokter bedah gue datang. Kursi kini berganti ranjang. Pintu ditutup. Dokter mengenakan masker dan sarung tangan. Asistennya satu orang. Baju gue dibuka. Gue memalingkan wajah, gamau liat proses pembelekan dada ini.

Dokter memegang dada gue, dan gue cuman bisa pasrah. Laki-laki macam apa gue ini.

‘Disuntik dulu ya,’ kata dokternya, menyentil-nyentil ujung jarum bius.

Sesuai perintah dokter, gue menarik napas dalam-dalam supaya otot gue lemas.

Seiring gue menarik napas panjang, jarum suntik menembus kulit. Cairan dingin mulai terasa masuk.

Rasanya?
Sakit.

Setelahnya, gue nggak merasakan apa-apa sama sekali. Gue cuman bisa mendengar obrolan dokter dan asistennya. Persis seperti di film-film.

‘Gunting!’
‘Ini, Dok.’

Lalu gue merasakan kulit gue tertarik, dan ada bunyi kres.. kres.. kres… seperti orang menggunting kulit ayam. Bedanya ‘ayam’-nya diganti ‘GUE’ dan guenya ‘MASIH IDUP’.

‘WSD!’
‘Siap!’
‘Gunting lagi! Ini kepanjangan! Air! Air! Mana airnya?!’

Gue hening.

Dokternya hening. Seisi ruangan hening.

‘Tahan ya, ini sakit sedikit.’

Gue merasa ada selang yang dimasukkan ke dada gue. Lalu selang ini didorong ke dalam. Gue menahan napas. Meremas pinggiran ranjang sekencang-kencangnya.

Rasanya?
Sakit, MONYET.

Lalu pembedahan diakhiri dengan penjahitan dan penutupan dengan plester. Resmilah kini di badan gue ada selang yang menyambung ke sebuah kotak mirip aki. Gue udah kayak Ironman versi bengkel.

--
Berdasarkan keputusan dokter, gue harus dirawat inap. Selain biar bisa didampingi fisioterapis (karena nggak ada obat buat paru-paru gue selain latihan napas), dokter juga masih mencari penyebab penyakit gue ini. Alasan lain: biar orang lain gak takut karena ngeliat ada manusia bawa aki di badannya.

Malam pertama di rumah sakit adalah malam paling sakit yang pernah gue rasakan. Selain karena risih, efek bius yang abis ngebuat sakitnya tuh kayak… kayak badan lo dilobangin, terus dimasukin selang. Gitu deh. Gue jelas nggak bisa tidur ngadep kanan kayak biasanya, karena ada selang yang nempel di sana. Gue juga nggak boleh gerak-gerak dulu karena takut infeksi dan pendarahan dalam.

Berhubung gue nggak bisa ngapa-ngapain, pendengaran gue jadi lebih sensitif. Gue jadi tahu langkah kaki suster yang masuk buat nyuntikin antibiotik pukul setengah dua pagi. Bunyi gorden yang digeser oleh pasien paling ujung. Dan suara-suara menakutkan dari televisi dini hari.

Posisi ranjang gue yang berada di dekat jendela, ngebuat gue nggak bisa ngeliat layar tv. Alhasil, gue cuman bisa denger suaranya doang. Setannya, acara tv dini hari tuh ngaco banget. Berikut adalah kumpulan suara yang gue catat yang bikin gue nggak bisa tenang:

‘AAAAHHH… TOLONG! SAKIT! SAKIT! ASTAGHFIRULLAH! JANGAN BUNUH SAYA!’
‘Kawinkan dia dengan Genderuwo! Getah mangga ini akan mengalahkannya dari santet!’
‘Huahahahaha!’
‘Akan kuhabisi nyawamu!’
‘Pak Ustad… tolong pak ustad!’

Belum lagi di antara suara-suara ini, pasien di seberang suka mengerang kesakitan. Seketika niat untuk tidur dikalahkan niat menangis semalaman.

--
Penderitaan ini berakhir setelah delapan hari di rumah sakit. Selama di sana, setiap hari, kerjaan gue hanya mengatur napas. Rasanya aneh banget ketika kita harus merasakan napas setiap saat. Kadang latihan pernapasan kayak ahli tai chi, kadang latihan niup balon. Ya, dokternya sendiri yang nyuruh gitu.

Dokter: Nanti anak ibu beliin balon ya…
Nyokap: HAHAHAHAHAHA!
Dokter: Saya nggak bercanda.

Hening.

Ya, gimana ya. jangankan nyokap. Begitu gue nitip temen-temen kantor buat bawain pas jenguk aja, selalu ada ketawanya dulu.

‘Lo ada pantangan nggak, Di? Mau nitip apa? Buah-buahan atau kue bisa kan?’
‘Gue nitip balon ya.’
‘HAHAHAHAHA!’

Setan.

Kenyataannya, pasien pneumothorax kayak gue emang dianjurkan untuk melakukan ‘terapi balon’ ini. Soalnya, dibandingkan latihan napas biasa, dengan balon ini, gue jadi ngerasa lebih happy aja gitu. Gue jadi bisa melihat langsung perkembangan hasil latihan gue dari hari ke hari. Seneng juga lama-lama ngeliat makin hari, makin banyak balon di ruangan, dan setiap harinya gue berusaha bikin balon itu jadi lebih besar dari sebelumnya.

Gue masih ingat balon pertama yang gue tiup. Warnanya ungu. Dan gue butuh waktu 15 menit sampai ukurannya mencapai sekepalan tangan. Kalo sekarang, gue udah meningkat pesat. Bisa bikin segede balon McD hanya dalam waktu 1 menitan. Kadang, saking semangatnya balonnya malah pecah dimulut. Guenya loncat kaget. Takut ganti dari paru ke jantung, sekarang gue memutuskan untuk mengurangi latihan balon ini.

Setelah dicari tahu, gue mengidap pneumothorax gara-gara ada infeksi TB di bagian paru. Misterinya, dokter masih gatau apa penyebab gue terkena TB Paru. Soalnya, kebanyakan orang terkena TB karena akumulasi asap rokok, dan gejalanya batuk-batuk. Gue sendiri bukan perokok dan nggak pernah batuk.

Well, all in all. I’m getting better now guys!

Sekarang, gue cuma butuh rutin latihan pernapasan dan berjemur setiap pagi selama 6 bulan masa penyembuhan. Gue nggak bisa salto-salto dan harus jaga gaya hidup karena paru-paru gue masih bisa kempes lagi.

Satu hal yang paling gue sesali adalah: tahun ini gue nggak puasa.

Baru kali ini gue ngerasain nggak puasa satu bulan full. Nggak bisa lari-lari pas taraweh di masjid malem-malem. Nggak bisa keliling naik sepeda subuh-subuh setelah sahur. Berasa ada yang kurang aja gitu. Ada perasaan aneh ketika gue harus makan siang sendirian. Mudah-mudahan setelah 6 bulan nanti, gue sanggup gantinya deh. Hehehe.

Hal yang bisa gue petik dari kejadian ini adalah: gue nggak mau pelit lagi sama diri sendiri. Sejak dulu, gue emang demen banget ngeforsir badan. Nahan-nahan makan buat nabung beli ini lah. Hemat itu lah. Kerja sampe gila lah. Eh, jadinya malah tepar gini. Nyokap juga sempet ngasih wejangan di antara obrolan malam di rumah sakit, Katanya, ‘Ingat sakit kamu sekarang. Kamu dikasih kelemahan satu organ, tapi kamu sebetulnya masih dikasih kesehatan banyak. Hitung organ-organ lainnya coba.’ and that’s really hit me in the face.

Waduh, panjang banget ya postingan kali ini.

Have a good life everybody!
Minal aidin wal faidzin! \(w)/
Suka post ini? Bagikan ke:

Thursday, April 4, 2019

Ternyata Gue Juga Bisa Ketuker


Awalnya gue udah curiga soal kereta-keretaan ini.

Mendengar kisah yang beredar, naik kereta di jam kantor akan mengubah fungsi kereta dari alat transportasi menjadi alat pembunuhan massal. Temen gue pernah cerita saat dia lagi asik makan batagor di kereta lalu orang di depannya… nurunin resleting dan nunjukin torpedonya.

Ya.
Nunjukin torpedonya.

Biar geger, gue mau ulang sekali lagi.

DIA NUNJUKIN TORPEDONYA.

Buset. Ya jelas aja temen gue panik. Dalam hitungan detik, dia pun nuangin kuah ke torpedonya (emang torpedo kambing?).

Gue belum siap liat torpedo. Di satu sisi, gue gatau apa yang akan gue lakukan jika harus menghadapi peristiwa keji kayak gitu. Apakah gue harus foto dan sebarin di medsos sampai viral, atau gue harus menepuk torpedonya perlahan seraya berujar, ‘Maaf, Om. Torpedonya mau saya kuahin?’

Di sisi lain, gue capek bawa motor. Capek ketemu orang-orang sinting di jalan raya. Nggak tahu kenapa, tapi kok kayaknya begitu di jalan, pengendara-pengendara ini berasa buru-buru banget ya. Perhatiin deh. Pengendara motor di jalan raya tuh kayak benda cair: bentuknya mengikuti wadahnya. Ada celah dikit, masuk. Ada celah, tapi kehalangan kita, bakal diklakson habis-habisan. Pas kita nengok, mukanya kayak bilang, ‘Minggir! Istri gue mau aborsi!’ Kalo pengendaranya cewek, mukanya kayak, ‘Minggir! Gue mau aborsi… tapi ini belok kanan apa kiri ya? POKOKNYA ABORSIIII!!’

Alhasil, gue iseng nyoba naik kereta. Biar hidup rada selow. Aku selow, tetap selow.

Dan gue menyesal.

Nggak, gue bukan menyesal karena nggak nemuin orang yang hobi ngeluarin senjatanya di kereta. Kereta yang gue naikin agak penuh, jadi gak mungkin ada orang yang cukup gila ngebuka celananya sampe diteriakin, ‘EH ADA ULET BULU! HII GATEL! GATEL!’

Lalu dari kursi prioritas ibu-ibu pada bisik-bisik, ‘Bukan kali. Itu mah kepompong…’

Gue turun di stasiun Tebet, lalu mesen gojek. Seperti lazimnya orang yang memesan gojek, gue pun menulis lokasi penjemputan dan baju yang gue kenakan:

‘Pos polisi ya. Saya sweater hitam.’
‘Ok.’

Di depan pos polisi stasiun tebet, gue diem ngeliatin hape. Oh jadi gini rasanya dibales pake ‘ok’’doang…

Tidak berapa lama, muncul nomor asing yang nelepon gue.

‘Halo’, kata suara orang di seberang.
‘Iya halo.’
‘Helooo?’
‘Helooo?’
‘HELOOOOOOOOO?!’
‘Yang…’
‘Yang?’
‘Yang…’
‘Digoyang goyang, yang…’

PEMBICARAAN MACAM APA INI.

‘Mas,’ kata gue. Memutus lagu dangdut dari pembicaraan sialan ini. ‘Saya udah di pos polisi nih.’
‘Lho, saya juga, Mas,’ heran dia. Suaranya kayak abg lagi nyasar di Gandaria City.
‘Mas emang di mananya?’
‘Di dalem.’
‘KELUAR!’

Lama-lama darah tinggi gue. Huft. Begini lah ribetnya nyari gojek di depan stasiun. Susahnya minta ampun. Udah kayak… kayak nyari gojek di depan stasiun (gue emang payah bikin pengandaian). Sambil teleponan, gue lirik ke kanan dan kiri. Nyari orang yang lagi telepon juga. Ini kita udah kayak dua orang LDR yang akhirnya ketemuan. Jangan-jangan pas berhasil nemuin gue, abangnya bakal bilang, ‘Ini helmnya untuk mas pakai. Dan ini bunga mawar untuk mas kenang selamanya.’

Hoek.

Di antara semua supir gojek warna ijo ini, ada satu mas-mas yang melambaikan tangan.

Gue langsung ‘Ni dia si kampret yang bercanda mulu’ dalam hati sambil nyamperin. Untuk memastikan, gue bilang, ‘Kresnoadi ya, Mas?’

‘Bukan.’
‘Hah?’

Dia mengulurkan tangan, ngajak salaman. ‘Saya Yusuf.’

BODO AMAT, MAS.

Gue pun segera naik (ke motor, bukan abangnya) lalu dia ngebut. Di perjalanan, gue ngerasa kalau pagi ini seru dan menyenangkan. Tidak buru-buru seperti biasanya. Kali ini, gue santai dan suasana hati pun jadi tenang. Sampai di perempatan yang harusnya belok kiri, si abang ini lurus aja.

‘Bang.’ Gue memajukan kepala, supaya dia denger. Di saat yang sama, dia ngerem ngindarin lobang, helm kita mentok. Pala gue benyek dikit. ‘Sori, Mas, tapi kok tadi nggak belok ya? Saya biasanya belok.’

‘Mas bukannya mau ke Kokas?’
‘Hah? Bukan, Mas,’ jawab gue, panik.

Ini kenapa gue jadi mau dianterin ke Kokas? Di harii kamis jam 9 pagi gini? Mana ada orang yang ke mal jam segini? Jangan-jangan ini cuman tipu muslihat si abang gojek. Bisa jadi gue mau diculik, lalu dijual untuk dijadikan budak-budak ISIS. Masalahnya, gue gatau cara menghadapi situasi kayak gini. Gue cuman seorang laki-laki biasa yang lagi dibonceng laki-laki biasa lain di motor. Masa harus gue kelitikin dari belakang? Gak seru abis. Kalo pun gue nekat mau ngelawan, satu-satunya bentuk pertahanan diri yang baru gue pelajarin adalah dengan… ngeluarin torpedo. Yah, walaupun kemungkinan besar dia akan bilang, ‘Mas, tempat pensilnya geser dikit, dong…’

Akhirnya gue nepuk pundaknya beberapa kali, ngasih kode minta berhenti sebentar. Di saat yang bersamaan, nomor asing kembali menelepon. Bertanya soal posisi gue. Nadanya terdengar khawatir, sementara gue cuman jawab dengan polos.

‘Saya dibawa laki-laki lain, Mas…’

‘Oke,’ kata dia dari seberang telepon, meyakinkan gue akan selamat. ‘Mas, diem di sana. Jangan ke mana-mana.’ Gila keren abis nih orang.

Begitu telepon ditutup, gue langsung protes ke mas-mas yang nganterin gue. Ternyata, dia harusnya menjemput seseorang bernama… Andreas. Buset. Dari Kresnoadi ke Andreas. Jauh amat. Kalo dari Kresnoadi ke Kres Mpu Gandring masih oke lah. Tapi ini? Bolotnya udah overload.

Si APA (Abang Penjemput Andreas) ini pun minta maaf berkali-kali. Gue sih santai aja karena emang masih deket dari kantor. Saking ngerasa nggak enak, si APA ngeluarin hape dan nunjukin nama penumpangnya. Di saat itu lah gue baru sadar satu hal: DIA MAKE APLIKASI GRAB.

Gue ngeliatin muka si APA.
Gue ngeliatin apikasi di hapenya.
Gue ngeliatin lagi jaket GRAB yang dia pake.

Bwajingan. Kok gue bisa-bisanya ya sengawur ini. Di tengah menyadari ketololan yang melanda, datanglah si abang Gojek Maha Penyelamat yang ngebawa Andreas. Langsung gue liatin si Andreas dengan tatapan mertua jahat di sinetron. Anjir, gue pikir hal-hal abnormal kayak gini cuma ada di sinetron. Lah, ternyata gue juga bisa ketuker. Udah namanya beda jauh, beda aplikasi pula. Ngaconya dobel. Malunya dobel.

Tahu gitu kagak usah naik kereta dah.
Suka post ini? Bagikan ke:

Wednesday, March 27, 2019

Goodbye Keriba-Keribo! :(


kopdar blogger


Gue baru aja selesai ketemuan sama blogger murtad lain.
Namanya Tiar, pemilik planetyar.

Seperti blogger murtad pas ketemuan pada umumnya, kita ngomongin gimana awal mulanya bisa kenal, lalu zaman-zaman masih getol ngeblog. Tidak lupa sesi ngegosipin blogger yang jadi panutan kita semua. Mulai dari Siluman Capung, Ayam Sakit, dan Tulisan Wortel.

‘Coba cek berapa DA lo, Di!’’ Tiar mencet-mencet layar hapenya, ngetik alamat blog keriba-keribo di situs pengecekan DA dan PA, dua makhluk sakral yang jadi hidup matinya blogger buat nyari duit.

‘HAHAHAHA 15! Kecil amat!’ Tiar ketawa.
Gue ikut ketawa, biar dibilang gaul aja. Padahal nggak ngerti.

Katanya, DA yang bagus adalah yang di atas 20. Dengan memiliki DA segitu, seorang blogger dianggap mumpuni untuk menerima content placement. Ketika seorang blogger sudah memiliki DA di atas 30, maka ia termasuk sebagai dewa blog. Ketika ada brand melakukan penawaran “Kami tertarik dengan blog Anda. Kami menawarkan content placement dengan fee 300.000. Silakan balas email bila tertarik.”

7 menit gak dibalas, si brand email lagi. “Baik. Baik. Ampuni hamba, Tuan. 500 ribu akan saya beri.”

Begitu nikmat menjadi dewa blog.

Tiar ngetik nama blognya…
… DA-nya 13.

GELANDANGAN!

Mendapat angka sial seperti itu, mungkin brand akan memberikan penawaran dengan, “Mau content placement? Sebagai imbalan, Anda akan saya beri ikan asin 200 gram.”

Pedih.

Sebagai blogger murtad, tentu pembicaraan soal blog sebagai alat penghasil uang musnah begitu saja. Kami kembali ngomongin masalah blog dan tulis-menulis, sampai akhirnya, kami ngomongin soal pemilihan nama blog.

7 tahun lalu, saat gue memilih nama keriba-keribo sebagai alamat blog, gue nggak pernah ngerasa ada yang salah.

Tapi sekarang,
kok rasanya malu ya?

Beberapa bulan lalu, misalnya. Gue kenalan sama orang di kantor. Setelah asyik ngobrol dan gue merasa macho abis, seperti anak muda umumnya, dia nanya, ‘Eh, lo ada instagram?’

‘A-ada.’

Dengan antusias cewek ini ngeluarin hapenya. Dia natap gue, matanya gede kayak kucing minta dikasih makan. ‘Apa namanya?’

‘keribakeribo. Hehehe.’

‘EH APA KABAR RANGGA?!’ dia nyapa cowok yang lewat, lalu pergi ninggalin gue.

Esianjing.

Pas gue nengok, cowok itu temen gue. NAMANYA ASEP.

Sedih kalo diinget-inget mah.

Dengan nama blog seperti ini, gue juga jadi agak gimanaa gitu kalo pas interview cari kerja. Berikut adalah dialog yang biasanya terjadi:

HRD: Kamu mau lamar jadi content writer ya?
Gue: Iya, Mbak!
HRD: Sering nulis?
Gue: Iya, Mbak!
HRD: Punya blog?
Gue: Iya, Mbak!
HRD: (buka laptop, siap-siap ngetik) Namanya apa ya?
Gue: Keriba-keribo. Hehehe.
HRD: Kok nggak ada ya?

Pas gue liat laptopnya, dia ngetik
“KRIBAKRIBO.COM”

Gue: I-itu salah, Mbak. Pake ‘e’. Dua. Jadinya ‘ee’.
HRD: Ee’?
Gue: Iya, Mbak. Ee’
HRD: Kok agak bau ya?
Gue: Gimana, Mbak?
HRD: Ini kok masih nggak ada ya?
Gue: (mikir) Oh, pake tanda strip, Mbak.
HRD: Gimana?
Gue: Tulis nama saya aja mbak di google…

Peluang keterima kerja: -78%.

Setelah gue cerita gitu, Tiar juga ikutan mikir. Kok bisa ya, gue segoblok itu jaman dulu? Menurutnya, sewaktu masa-masa awal ngeblog, nama blog selalu ada formulanya.

Formula pertama, kata Tiar, adalah menggabungkan blog sebagai wadah/passion + nama pemilik.

Contoh: Planetyar
Asal: Planet + Tiar.

Nama blog: Galaksipungky
Asal: Galaksi + Pungky

Nama blog: Tulisanwortel
Asal: Tulisan (blog sebagai wadah menulis) + Wortel (??????)

Formula kedua, kata Tiar, adalah menggabungkan nama-nama hewan. Jenis nama seperti ini beredar setelah kambingjantan, blog Raditya Dika, meledak.

Contoh:

1. Siluman Capung √
2. Ayamsakit √
3. Tulisan wortel (????)

Oke, mungkin tulisanwortel masuk ke formula pertama (Siapa tahu nama asli pemilik blog ini adalah Heru Wortel??? Atau di formula kedua, paling tidak perubahan “hewan” menjadi “tumbuhan” masih deket).

Bandingkan dengan keriba-keribo.

Keriba-keribo.

DI KBBI AJA GAK ADA KATA “KERIBA”.

Kok gue ngaco amat ya?

Lihatlah nama blog dan media sosial saat ini, mereka semua menggunakan nama asli. Orang yang punya nama Sarah Puspita, misalnya. Akun instagramnya pasti bernama Sarahp. Paling jauh Sarahpspt. Disingkat konsonannya. (ya kalo yang disingkat huruf vokalnya jadi aneh sih. “Apa nama ig lo?” “AAUIA” “Monyet lo!”).

Di zaman sekarang, nggak ada nama norak kayak keriba-keribo. Apakah ini saat yang tepat untuk mengucapkan goodbye keriba-keribo? :(

Saat gue SMP dulu, guru komputer gue pernah ngajarin untuk buat blog. Dan semua anak kelas… ngasih nama serandom gue. Ada lah “DiaryPuspa”, “NyamukPutih”, “Marmutngesot”. Gak ada tuh pas guru gue nanya, dijawab: “Nama blog saya… Dwipurwoto.blogspot.com, Pak!”

Kalo ada, pasti udah dihardik habis-habisan.

Setelah diselidiki, ternyata penyebabnya karena di zaman dulu, orang-orang tampil di media sosial dengan persona. Orang menggunakan media sosial dengan identitas yang berbeda, atau setidaknya, sisi lain dari identitas kita. Itu lah sebabnya muncul kambingjantan, landakgaul, dan poconggg. Itu lah kenapa, ketika dulu kita daftar forum Kaskus, yang pertama terbersit adalah nama-nama aneh kayak Kecoa Buduk, Sapi Perjaka, Mobil Sampah. Gak pernah ada orang zaman dulu kepikiran buat Kaskus dengan username… Dedi Supriyadi.

ITU MAU BIKIN USERNAME KASKUS APA TES CPNS?

Saat ini, orang menggunakan dunia maya dengan personal branding. Kita lebih tertarik pada sosok yang nyata, dan dapat dipercaya. Sehingga penikmatnya merasa dekat dengan orang tersebut.

Well, kalau mau dipikir lebih jauh, “jenis nama” orang juga berpengaruh gak sih? Manusia di zaman gue remaja, punya nama yang terkesan kuno, dan kurang trendi. Semasa gue SMP, murid yang punya blog dengan nama “Purwoto.com” pasti akan langsung dihujat beramai-ramai.

ITU BLOG APA NOTARIS PPAT?
ITU COCOKNYA DI BILLBOARD DI BAWAH TULISAN “PAPAN REKLAME DAN PASANG IKLAN DI SINI”

Jahat.

Bandingkan dengan nama anak zaman sekarang. Annisa, Cristalishya, Alicia. Nama-nama yang keren dan bakalan langsung cocok jadi nama blog atau medsos. Perhatikan nama-nama ini, di dunia nyata, mereka semua dipanggil “Ica”. Ada apa, sih, dengan nama ica ini? Kenapa orangtua memutuskan ngebuat nama yang aneh-aneh kalau pada akhirnya mereka dipanggil…. Ica.

Yang lebih aneh adalah, kenapa gak ada orang yang beneran punya nama “Ica” di nama panjangnya. Apa susahnya naroh rangkaian tiga huruf “I” “C” dan “A” gitu. Sekalinya ada, pasti muncul huruf “H” di tengah-tengah. Jadi Icha.

EMANG APA PENGARUHNYA SATU HURUF GITU HEI?

Apa jadi nambah keren?

Nama: Acep
Ganti jadi: Achep.

TIDAK BERPENGARUH NYATA!
Suka post ini? Bagikan ke: