Mati

Aku masih menunggu temanku di dalam toko buku. Di pojokan, di bawah speaker yang memutarkan lagu Justin Beiber. Entah sudah berapa lama aku tidak mengunjungi toko buku. Di antara deretan buku-buku ini, ada hawa yang minta dihirup. Ada karisma yang memancar kecil-kecil, menumpuk rapih dalam sebuah rak.

Aku mengambil buku Ayu Utami. Doa dan Arwah.

Membaca tulisan di punggung buku, lalu ada dorongan untuk mencari buku yang sudah terkelupas sampulnya.

Halaman pertama buku itu menyentuh perasaanku. Seperti ada tangan yang mengelus jantungku, menariknya keluar, menembus tubuh, lalu meremas-remasnya di depan dadaku.

Halaman pertamanya bercerita tentang anak kecil yang takut akan kematian ibunya.

Kematian, mungkin adalah hal yang paling sering dilupakan manusia. Aku bisa berjalan kaki keliling taman, menonton acara televisi, bekerja, atau makan malam dengan keluarga. Tapi di antara itu semua, sadar atau tidak, kematian terselip di seluruh kegiatan kita.

Kematian mungkin seperti kertas pembatas dari sebuah buku best seller. Ia terabaikan. Kita lupakan kehadirannya. Mungkin disengaja, mungkin juga tidak. Mungkin karena kita ingin terus eksis di dunia ini. Atau karena keterbiasaan kita dengan kehiidupan yang bergerak. Pembatas buku mengingatkan bahwa kita bisa berhenti kapan saja, begitu juga kematian.

Kematian selalu mengingatkanku pada Tuhan. Pada iman yang menguatkan pundak-pundak kita dari beratnya beban duniawi.

Meskipun aku selalu heran pada kematian.

Sewaktu kecil, guru agamaku selalu bercerita bahwa kita akan mengalami penyiksaan setelah kematian. Meskipun aku tidak pernah diberitahu persis, apakah badanku yang telah dimakan rayap, atau jiwaku yang melayang-layang, yang mengalami penyiksaan. Dan apakah itu berarti, dengan adanya penyiksaan, kita dapat merasakan sakit? Dan apakah itu berarti, setelah mati, kita memiliki perasaan? Dan apakah itu berarti, orang-orang yang sudah mati, bisa saling mencintai satu sama lain?

Entah ke mana aku harus mencari jawabannya. Tetapi yang jelas, setiap pertanyaan-pertanyaanku tentang kematian, selalu membuatku kembali pada-Nya.


Kamis, 21 Januari 2016, merinding sendirian di dalam kamar.

1 comment:

  1. Waw... ini beneran bang Adi yang nulis?

    Jumat, 22 Januari 2016, ikut merinding sendirian di atas kursi.

    ReplyDelete

Suka dengan konten yg ada? Silakan sawer gue seikhlasnya dengan klik menu "Support gue!" di atas.

Dengan menyawer kamu akan mendapat email surat cinta dari Kresnoadi DH. Sungguh mantabi bukan?