Buku

Sudah lama aku tidak ke sini, dan sekarang debu sudah menumpuk di mana-mana. Jika tanganku menempel di rak, telapakku akan berubah mirip tangan monster warna abu-abu.

Aku mengambil kemoceng, dan mengusapkannya ke rak. Lalu ke jeruji jendela. Lalu ke sterofoam di dinding. Ini semua membuatku batuk-batuk mirip orang kena TBC.

Di antara semua barang di kamar, aku terhenti pada koleksi buku-buku di lantai.

Buku adalah cara terbaik untuk kita menikmati waktu.

Aku bisa membuka kembali koleksi buku-buku drama dan berharap kita karakter utamanya. Saat kita berantem, aku akan membuka buku petualangan dan kita adalah kombinasi mematikan yang tidak terkalahkan siapapun. Saat hubungan kita biasa-biasa saja, aku membuka buku komedi, membacanya bersama-sama dengan kamu, lalu tertawa sampai mabuk.

Aku selalu ingat caramu membaca paragraf-paragraf di dalam buku.

Caramu bercerita, berhenti sejenak, lalu tertawa duluan sebelum sesuatu yang lucu kamu lontarkan.

Caramu merengek dan memintaku untuk membaca buku-buku yang sama berulang kali.

Caramu membuka halaman demi halaman perlahan-lahan. Mirip seperti gerakan bibirmu saat membisikkan beberapa kalimat di kupingku. Dan aku tersenyum karenanya.

Aku mungkin akan bosan pada satu dan lain hal.

Tetapi tidak untuk buku.

Karena saat berhadapan dengan buku, di sana aku melihat kamu.


Rabu, 13 Januari 2016, lagi senyum-senyum sendirian.

4 comments:

Suka dengan konten yg ada? Silakan sawer gue seikhlasnya dengan klik menu "Support gue!" di atas.

Dengan menyawer kamu akan mendapat email surat cinta dari Kresnoadi DH. Sungguh mantabi bukan?