Thursday, May 13, 2021

harapan orang dewasa di bulan bersih-bersih.

Setiap tahun kita mengotori diri dengan hal-hal yang kita pilih sendiri. Ada yang bersahabat dengan pertemanan beracun, ada yang bersinggungan dengan obat-obatan. Ada yang mengurung diri di kesepian. Kita gak pernah bisa menentukan siapa lebih baik dari siapa.

Kita bahkan masih berdebat tentang definisi 'baik' itu sendiri.

Tapi, bulan ini bisa.

Bulan ini bisa bikin kita mandi dan bersih-bersih. Lalu kita mengotorinya lagi dan selalu begitu putaran kehidupan manusia.

Sekarang, gue gatau ada di fase hidup yang mana. Kondisi hidup gue bisa jadi sama kayak satu, atau dua miliar manusia lain di bumi ini. Di umur yang semakin mendekati kepala tiga, di kesuksesan yang gini-gini aja. Di lingkar pertemanan yang tidak hype hype amat, kayak, yang motivator-motivator itu selalu sarankan, 'Network-mu menentukan karirmu.'

Beberapa teman yang sebelumnya main Twitter haha-hihi, sekarang udah mengeluhkan pekerjaan. Komplain soal bosnya yang menyuruh kerja di hari libur lah. Nomongin kekecewannya terhadap negara lah. Beberapa berantem dan berdebat, cuma demi mencari kemenangan-kemenangan kecil di luar kehidupannya.

Ironisnya, hidup emang gitu.

Di luar sana ada juga yang tajir melintir. Atau sosok muda yang inspiring. Atau, orang-orang yang kita cuma bisa ngayalin aja dari jauh sambil bertanya, 'Apa ya kegiatan sehari-harinya? Bagaimana caranya dia bisa hidup kayak gitu?' Tapi, kebanyakan manusia ya rata-rata aja. Kayak gue sekarang. Atau mungkin beberapa dari lo. Ada kalanya kita merasa jadi karakter utama di dunia ini. Tapi, nggak jarang juga sebetulnya cuma jadi penonton satu sama lain aja.

--

Beberapa hari lalu, gue ketemu sama Monda. Temen SMA yang baru gue kenal karena satu kantor. Kami ngobrol di semacam lapangan di Qbig.

'Gue lagi mau nyari beasiswa buat sekolah di Jepang, nih,' katanya.

Dari SMA, dia emang anaknya jepang abis. Mungkin kalo anak sekolah jaman dulu tawuran ngiket gear motor di ikat pinggang, dia cuma muter-muterin gesper kamen rider. Kena musuh, bukannya sakit, malah dikatain wibu.

Monda ini seangkatan sama gue. Dalam pencarian beasiswa jepangnya, dia diminta untuk bikin jurnal dalam bahasa jepang.

Problemnya, dia udah gabisa bahasa jepang.

Tapi, dia excited.

Dia bilang, dia mau ngulang les dari nol. Dia bilang, kalau akhirnya jadi benaran, dia bakalan tinggal di Jepang dan ninggalin kerjaannya yang sekarang. Dia pengin memulai hidup yang baru di sana... sambil ngajak tawuran anak sekolah pake gesper kamen rider.

'Arigatou! Maju lo bangsat!'

Lucunya, selesai ngobrol gue merasa happy. Iya, gue tahu, pembicaraan kami terlalu bocah. Obrolan halu yang biasanya cuma dilakuin anak-anak. Tahu, kan, gimana menggebu-gebunya anak kecil ketika lagi ceritain hal yang dia mau lakuin. Padahal juga paling besoknya udah bosen.

Inilah salah satu gak enaknya jadi orang dewasa. Kita dituntut untuk tidak punya rasa excitement. Kalau punya mimpi harus diubah jadi visi, dibuat rencananya, dicari titik realistisnya, dicek seberapa besar resikonya. Menjadi dewasa adalah menjadi biasa aja. Kegagalan-kegagalan dalam hidup bikin kita selalu mikir, 'Besok akan gagal apalagi ya?' Sayangnya, beberapa orang memilih untuk takut mencari jawabannya karena terlalu sering gagal. Tidak jarang orang dewasa menaruh curiga ketika melewati tiga hari beruntun tanpa masalah.

'Hidup gue, kok, baik-baik aja ya?'

Besoknya, biar bermasalah, nampol anak orang pake gesper kamen rider.

Semakin seseorang bertambah usia, kita dipaksa untuk kehilangan harapan. Makanya ada orang yang ketika dewasa, memilih untuk tidak berharap apa-apa dan mengambil jalan pasrah. Beberapa yang lain bisa jadi lebih parah: menganggap hidup ini jahat dan tidak adil karena harapannya dimusnahkan terus menerus. Entah oleh sistem, teman, persaingan, bahkan keluarga sendiri.

Dan satu hal yang paling menyakitkan dari menjadi dewasa: terkadang, kita yang menjadi pembunuh atas harapan yang kita buat sendiri.

And that's really hurts inside.

Lucunya, manusia hidup karena ada harapan. Baik yang kita sadari dan jadikan motivasi hidup kayak pekerjaan impian, tempat tinggal baru, atau lolos casting dan jadi aktor terkenal. Atau sesederhana melihat orang-orang di sekeliling kita bahagia, entah bagaimana caranya, Mungkin kita nggak sadar, tapi diam-diam harapan ini yang bikin kita bergerak dan semangat ngejalanin hidup. Meskipun besoknya kita gagal lagi.

Hidup emang gak jelas dan tiap manusia berhak mendeskripsikannya masing-masing. Tapi, seperti yang gue bilang di awal, kita butuh bulan ini untuk mandi dan bersih-bersih. Kita gak akan tahu ke depannya kita memilih mengotori hidup dengan cara apalagi. Tapi, gue harap, bulan ini masih bisa gue temuin, sekali lagi.

Share:

2 comments:

  1. Nggak tau kenapa, makin dewasa hidup (gue) rasanya makin flat aja~

    ReplyDelete

Suka dengan konten yg ada? Silakan sawer gue seikhlasnya dengan klik menu "Support gue!" di atas.

Dengan menyawer kamu akan mendapat email surat cinta dari Kresnoadi DH. Sungguh mantabi bukan?