Saturday, January 9, 2021

12 Langkah Gampang Membuat Tulisan Bagus


Gue nggak nyangka benaran akan kerja jadi penulis.

Ketika sekolah di Kehutanan IPB, gue mulai bikin blog ini. Isinya ya hepi-hepi aja. Antara ngeledekin orang, atau dokumentasiin kehidupan gue yang gak pernah beres. Gak pernah sama sekali terlintas buat kerja di bidang kepenulisan yang profesional.

Sampai lama-lama, rasanya seru juga. Gue ikut lomba, dan blog ini jadi sesuatu yang menghasilkan. Dari situ, gue merasa punya tanggung jawab untuk memperbaiki kemampuan menulis. 

Kemudian, pertanyaan yang muncul adalah gini: "Kayak apa, sih, tulisan yang bagus?"

Pencarian jawaban itu panjang banget. Kebanyakan, ketika seseorang ditanya seperti itu, yang keluar selalu hal-hal subjektif. Penulisnya harus jujur, lah. Tulisannya mengalir, lah. Page turner, lah. Temen-temen gue yang ada di kalangan blog, ketika menyebutkan seseorang yang tulisannya bagus pun beragam. Ada yang menyebut nama sastrawan, ada yang menyebut penulis fantasi, ada juga yang bilang penulis yang bagus adalah tulisannya tembus di media.

Saat itu, gue masih merasa kalau penulis yang bagus adalah penulis yang jujur.

Ketika seseorang menulis dengan jujur, pembaca bisa merasakannya.

Gatau gue ada sihir apa.

Waktu terus berjalan. Gue masih menulis blog, membaca, dan membedah tulisan-tulisan yang bikin gue kagum. Sampai, gara-gara blog ini, gue bekerja di Ruangguru beberapa tahun lalu.

Ketika menjadi penulis profesional yang bekerja untuk suatu perusahaan, tentu semuanya jadi beda. Apa yang kita lakukan diukur dengan teliti. Ada angkanya, ada indikatornya. Ada ukuran bagus dan kurangnya. Kita harus bisa mengidentifikasi, "Sihir apa yang bikin pembaca bisa merasakan kejujuran penulis."

Lingkungan di dalamnya juga membuat wawasan gue bertambah: gue bertemu penulis-penulis lain. Ada yang peduli pendidikan, ada yang paham bagaimana caranya supaya tulisan kita ada di halaman pertama google. 

Dan ada penulis ngaco yang background-nya Kehutanan sendirian.

Di postingan ini, gue mau share jawaban dari pertanyaan itu. Tentu, ini hasil dari pengetahuan gue selama ini aja, baik dari baca berbagai buku penulisan, ngobrol, riset, bekerja bertahun-tahun, dan sebagainya.

Kayak apa konten tulisan yang bagus?

Untuk membuat konten tulisan yang bagus, kita perlu menumpuk tiga diagram venn:

Satu. Diagram venn Manfaat

Dua. Diagram venn Inspirasi

Tiga. Diagram venn Empati

Pertemuan ketiga diagram venn ini yang disebut konten tulisan yang bagus. Sederhananya, konten tulisanmu bagus kalau ia bermanfaat menginspirasi, dan punya empati.

Ketiga variabel ini yang menjadi patokan seberapa bagus konten tulisanmu. Tentu, kamu boleh-boleh aja tidak memilih salah satu, atau ketiganya sekaligus. Kamu menulis semaumu atau demi kepuasanmu sendiri. Gue juga masih sering begitu. Dan itu sah-sah aja. Tetapi, ketika kamu melakukan kegiatan menulis sebagai hal yang dikerjakan secara profesional, tiga hal ini tidak bisa dilupakan begitu aja.

Hal menarik lain, di era sekarang, kata Ann Hadley, di Everybody Writes, "Storytelling udah nggak begitu penting. Yang lebih penting adalah menceritakan kisah nyata dengan menarik."



Gimana kita bisa mengemas true story dengan oke dan mengasyikkan, sesuai dengan target pembaca kita.

Persoalannya sekarang, gimana cara membuat tulisan yang bagus?

Di buku itu, dikasih tahu 12 langkah gampang yang bisa kita lakukan. Ingat ya, ini bukan teknik menulis. Melainkan langkah keseluruhan yang mesti dilakukan penulis supaya tulisanmu bagus:

1. Tentukan Tujuan.

Orang seringkali terburu-buru menulis untuk punya draft pertama yang bisa diedit. Padahal, yang lebih penting adalah mengetahui apa yang mau kita sampaikan. Argumen apa yang mau kita kasih ke pembaca tulisanmu. Cari tahu dulu what you want to write ketimbang how you want to write. 

Inilah mengapa industri kita seringkali salah. Mereka menganggap pekerjaan penulis bisa dibayar murah karena berpikir menulis itu gampang. Semua orang bisa menulis, itu benar. Tetapi, belum tentu semua bisa menulis dengan bagus.

Pekerjaan menulis bukan sekadar menekan tuts keyboard dan menjadikannya artikel. Dia lebih dari itu. Ada pemikiran sebelumnya, ada riset yang perlu dilakukan. Ini yang para pemberi kerja tidak sadar. Maka, sering dia bertanya: "Lo bukannya nulis, kok bengong-bengong depan jendela sambil ngopi?"

"Think before you ink".

2. Reframe.

Setelah tahu hal yang mau disampaikan, ubah sudut pandangmu. Saat ini, libatkan pembaca ke tujuan tadi. Cara paling sederhana adalah dengan menanyakan, "Terus kenapa?" ke tujuanmu tadi.

Contoh: tujuan -> memberi tahu cara menulis yang bagus

terus kenapa?

karena banyak orang yang masih bingung gimana caranya.

terus kenapa?

dia bisa meningkatkan kemampuannya.

terus kenapa?

ketika orang ini pengin kerja sebagai penulis profesional, dia bisa melakukannya dengan terukur. Dia juga jadi tercerahkan bahwa penulis sepatutnya dibayar dengan harga wajar, karena banyak aspek yang ternyata perlu dikuasai.

Dari sini, kamu jadi punya bayangan tentang seperti apa tulisanmu nanti. Ketika melibatkan pembaca, kamu jadi punya sense lebih. Kamu gak cuma menyebar poin tentang "Gimana, sih, cara nulis yang bagus", tetapi benaran memahami posisi pembaca sebagai orang yang ingin meningkatkan kemampuan menulisnya.

3. Cari Data dan Contoh Nyata

Cari hal-hal di luar sana yang berhubungan dengan tulisanmu. Ini supaya pembacamu percaya kepada tulisanmu. Bahwa apa yang kamu ceritakan itu benaran real. Entah itu penelitian, pengalaman orang, atau video.  Entah itu grafik, data statistik, komik, atau lawakan dan kisah orang lain.

Kamu, bahkan bisa menjadikan pengalaman hidupmu sebagai sumber tulisanmu sendiri.

4. Pilih Jenisnya

Sekarang, pikirkan bagaimana kamu mau menyampaikan tulisanmu. How-nya. Apa yang paling cocok terhadap poin-poin sebelumnya. Apakah tulisanmu akan berbentuk "how to", atau "listicle" atau "cerita naratif". 

Iya, sampai sini kerjaan kita masih mikir aja, belum nulis.

5. Tulis untuk Satu Orang

Dari dulu gue selalu bilang, nggak ada yang bisa mengalahkan kedekatan antara penulis dan pembaca. Dibanding film atau radio, misalnya. membaca adalah kegiatan yang dilakukan seorang diri.

Kita bisa menonton film rame-rame di bioskop. Atau mendengar radio bersama-sama di dalam mobil. Tetapi, kita cuma membaca sendirian. Kegiatannya adalah menyampaikan pesan dari satu orang (penulis) ke satu orang (pembaca). 

Maka, biasakan untuk menulis untuk satu orang.

Berikan pengalaman yang seperti itu. Gunakan kata kamu, anda, atau apapun yang bersifat personal untuk satu orang saja. Hindari mengisi tulisanmu dengan "Eyo what's up guys. Apa kabar kalian?" 

6. Tulis Draft Satu (Ini Pasti Jelek, Rapopo)

Ya, kita memasuki tengah poin dan baru mulai menulis. Artinya apa saudara? Betul, kegiatan berpikir sama beratnya dengan kegiatan menulis itu sendiri.

Di sini, tulis aja draft satu dulu. Artinya, kamu menumpahkan segala apa yang ada di kepalamu. Hasilnya memang pasti jelek, rapopo. Nanti bisa diedit.



7. Tinggalin Tulisanmu

Tinggalin dulu tulisanmu. Pokoknya, jangan pikirkan apapun tentang tulisanmu. Fungsinya, supaya kamu melepas mental state sebagai orang yang bikin tulisan barusan.

Seberapa lama seseorang sebaiknya meninggalkan tulisan draft satunya? Tergantung. Ada yang satu hari, ada yang lebih, ada yang kurang. Intinya, kamu boleh kembali ketika sudah bisa memisahkan diri sebagai penulis. Sehingga, ketika mengedit, kamu jadi tega menebas tulisan jelekmu di draft satu itu.

8. Edit Tulisan

Ketika udah bisa melepas diri sebagai penulis, sekarang pakai kostum editormu. Tega lah. Tebas hal-hal gembel yang ada di draft pertama. Apa itu? Ketidakefektifan, logika yang tidak masuk akal, tanda baca, grammar, dan segala hal lain yang sewaktu dihilangkan, kamu tetap mencapai tujuanmu.

Ingat, menulis adalah tentang menulis kembali. Lakukan terus hal ini sampai kamu cuma mengedit tanda bacanya aja.

9 Kasih Judul yang Catchy

Tentukan judul sesuai dengan tujuanmu. Entah itu untuk memenangkan perlombaan di halaman satu google, entah itu untuk menunjukkan jenis tulisanmu (misal: ingin menunjukkan bahwa itu adalah tulisan komedi).

10. Kasih Orang Lain untuk Mengedit

Kalau punya editor, kasih tulisanmu kepadanya di waktu ini. Diskusi dengannya, dan jangan defensif. Penulis pasti menganggap tulisannya seperti anak sendiri. "Kita tahu apa yang terbaik untuk anak kita!"

Kenyataannya, orang tua cuma ingin yang terbaik untuk anaknya, tetapi tidak benar-benar tahu apa yang terbaik untuk anaknya.

Jadi, biarkan editormu bekerja. Diskusilah. Gontok-gontokan itu hal yang biasa. Namanya juga kerja. Pastikan semuanya terjadi untuk kebaikan tulisanmu. Bukan kebaikanmu sebagai penulis.

11. Cek Keterbacaan

Ketika semuanya selesai, cek keterbacaan tulisanmu secara utuh. Seperti apa kesan pertama ketika orang melihatnya secara utuh? Atau terlalu padat, rapat, dan mengintimidasi? Perlu kah ada gambar di sana? Ada kah yang bisa diganti jadi bullet point? Bagian ini, tentunya kembali ke tujuanmu membuat tulisan ya. Kalau kamu membuat cerpen, mungkin hal ini bisa jadi tidak perlu diperhatikan banget.

12. Publish.

Setelah perjalanan panjang ini, baru, deh, publish tulisanmu. Selamat! Kamu telah bekerja keras--meskipun gak ada yang tahu bahwa prosesmu panjang. 

Tapi tenang, sekarang ada cara gampang memberitahu orang-orang itu bahwa kamu telah melewati 12 tahapan: share aja tulisan ini.

Ingatlah bahwa tulisan yang bagus selalu masuk akal dan punya struktur yang rapi.

Astaga, setelah bertahun-tahun ngeblog, akhirnya beraniin diri buat nulis ginian. Semoga berguna ya! Kalau seru dan pengin tahu hal-hal terkait penulisan, isi komentar aja ya! Siapa tahu suatu saat nanti gue coba bikin, atau kita saling diskusi di kolom komentar! 


Kresnoadi DH,

peace out! \(w)/

Share:

10 comments:

  1. Step by step yang sangat deep mas Adi 😁

    Nggak tanggung-tanggung, tipsnya bukan cuma satu dua melainkan dua belas! 😆 Sedikit banyak yang setuju dengan beberapa poin di atas, dan sudah saya terapkan. Meski nggak keduabelasnya, however yang paling membuat saya angguk-angguk itu pada tahapan draft kemudian ignore, dan baca ulang setelahnya. Sebab itu pula yang saya lakukan 😂

    Tapi saya nggak sampai berhari-hari sih, paling hanya beberapa jam saja 😁 Eniho, judul postnya menurut saya bisa tembah page one Google, semoga siapapun nanti yang tersasar di blog mas Adi, bisa pulang bawa ilmu yang banyak dan selamat mencoba 😍

    ReplyDelete
  2. Empati+manfaat+inspirasi

    Catet catet...

    Makasih udah share kak. Aku praktek ini untuk nulis fiksi sih. Kalo ngeblog masih sering suka², apalagi tulisanku jenisnya naratif, sumpah dah kadang geje banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini gue aja juga suka-suka kook. Jangan lupain seneng2nya juga! \(w)/

      Delete
  3. Bang Adi, izin make 12 langkah nulis punya abang ini ya buat dishare ke anggota komunitas nulis, bagus soalnya bang!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silakaan. Seneng banget gue malah kalo ini jadi berguna buat orang jugaa.

      Delete
  4. Di dunia kerja jelas banyak komprominya. Ditolak karena ide yang kita pikir keren dengan alasan yang kurang cocok buat selera pasarnya, bukan karena enggak berempati atau enggak menginspirasi atau malah enggak ada manfaatnya seperti yang lu sebutkan itu. Mungkin tergantung perusahaannya lagi ya. Kebetulan kan lu di pendidikan. Soalnya kan banyak yang bodo amat juga, yang penting bisa viral, misalnya. Haha.

    Dari daftar itu, nomor 9 paling sering gue skip. Soalnya kalau bisa enggak pakai judul, pasti bakal lebih ringan lagi ini menulis. Tapi ya, itu jadi tantangan tersendiri sih. Sejauh ini lebih suka judul pendek-pendek, soalnya sekali coba panjang kok lebih dari 6 kata. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama, Yog. Makin ke sini makin enggak mikirin soal judul kalau di blog pribadi. Kalau di kerjaan ya sudah pasti sih harus yang harganya tinggi kalau di Google Keyword Planner, soalnya tuntutan perusahaan juga wkwk.

      Delete
  5. Bermanfaat banget. Saya juga nerapin beberapa hal di atas sih. Terutama tujuan menulis. Kalau saya cuma nulis karena kepengen nulis tapi nggak tahu tujuannya apa, outputnya apa nanti buat pembaca, biasanya malah mandeg di tengah jalan. Sama kayak hubungan sama mantan dulu. *ups

    ReplyDelete
  6. Gue salah satu yang kalo ngasih judul sembarang aja tanpa mikirin mau keren atau bahkan mikir "ah judul ini yang kayaknya sering dicari orang-orang!" Haha.

    Kayaknya kalo mau berkembang emang perlu proses menulis yang panjang dan banyak belajar lagi ya...

    Gokil juga ni tahap-tahapnya, banyak yang gue gak tau dan jadi mikir kalo selama ini tulisan gue belum ada apa-apanya~

    ReplyDelete

Suka dengan konten yg ada? Silakan sawer gue seikhlasnya dengan klik menu "Support gue!" di atas.

Dengan menyawer kamu akan mendapat email surat cinta dari Kresnoadi DH. Sungguh mantabi bukan?