Sunday, April 26, 2020

Proyek Ch. Bab 1 - Kertas di Dalam Amplop



Proyek Ch. adalah proyek menulis ebook terbaru Kresnoadi DH di mana gue akan mengeluarkan sepotong demi sepotong tulisan gue melalui situs karyakarsa.com.

Kemarin ada 1 bab yang gue unggah secara eksklusif di sana. Judulnya Kertas di Dalam Amplop. Cerita tentang gue pertama kali bekerja di sebuah start up dan bertemu Dewi, cewek Hrd di perusahaan.

Biar agak kebayang, gue kasih beberapa info soal bab tersebut:

Kertas di Dalam Amplop

Jenis tulisan: komedi – Personal literatur
Salah satu buku yang gue baca sewaktu nulis: Cado-cado
Jumlah halaman: 47
Ukuran kertas: A5
Spasi: 1,5
File: pdf
Lama penulisan: 2 minggu

Modal

Ikon keribakeribo: 100.000
Kopi + cheeseburger Mekdi + penulisan: 200.000
Total modal: 300.000

Untuk bisa membaca Proyek Ch., kamu perlu mendukung gue melalui situs karyakarsa.com. Biaya dukungannya bervariasi mulai dari 10.000, 20.000, 25.000, sampai 100.000. Bebas. Sakarepmu ae. Dengan mendukung, kamu akan bisa mengakses seluruh konten eksklusif yang akan gue taruh di sana selama 1 bulan.

Artinya, kalau kamu mendukung sekarang, kamu akan mendapatkan berbagai konten premium sampai bulan depan, tanpa perlu membayar lagi.

Kalau kamu penasaran, potongan cerita Kertas di Dalam Amplop pernah gue publish di sini: https://www.keriba-keribo.com/2020/04/potongan-buku-baru.html

Di postingan ini gue juga mau ngucapin makasih buat 4 pendukung pertama: Afrianti Eka Pratiwi, Haris Firmansyah, Embun Bening, dan Hamba Allah.

Orang lain yang juga berperan di tulisan ini adalah: Monda Shafira dan Fatin Dini Inayah, yang udah proofread dan ngasih komentar sebelum tulisannya gue publish. Ada juga Ade Kurniawan yang bikin ikon keribakeribo jadi superunyu.

On the other note, makasih banyak buat yang nyawer ya! Mulai dari beliin kopi, tahu, bakso mie kuning, sampai nyemangatin. Lumayan, sekarang udah bisa beli Nintendo Switch dalam bentuk brosur.

Hope you enjoy this chapter!
Jangan sungkan buat tag gue kalau ada yang udah baca ya! \(w)/

Friday, April 24, 2020

Apa Isinya Projek Ch.?



Beberapa hari semenjak work from home, orang di sekitar gue menggaungkan bahwa ini adalah saat yang tepat untuk produktif. Inilah kesempatannya. Mereka memberikan contoh dengan Newton yang menemukan teori gravitasi ketika Inggris dilanda pandemi.
Sialnya, gue bukan Newton dan beberapa yang lain meminta gue untuk santai saja. Yang kita hadapi adalah pandemi dan krisis dan tidak perlu berlomba menjadi yang paling produktif.
  
Beruntung gue pulang dari kosan membawa harddisk. Gue pun iseng membuka tulisan-tulisan lama yang ada di sana. Mulai dari ebook Keriba-Keribo tahun 2014 dan Tunggang Langgang 2016. Meskipun aktivitas gue di kantor juga sebagai penulis, tapi rasanya kangen juga bisa menulis bebas kayak gitu.

Gue kangen punya perasaan mikirin tulisan sepanjang hari. Gue kangen tidur larut sendirian. Berkutat dengan kalimat-kalimat yang gue rangkai. Gue kangen bangun dan mikirin gimana caranya melanjutkan tulisan gue yang kemarin. Membacanya lagi, lalu ketawa dari jokes yang gue ciptakan sendiri. Gue kangen sok-sokan mendesain cover (yang mana itu keputusan buruk). Gue jadi ingat bagaimana perasaan itu mendorong gue untuk membuat cerpen Grey. Perasaan pengin cepat-cepat pulang ke kosan untuk melanjutkan tulisan. Sampai akhirnya Grey menjadi cerpen pendek yang nggak pendek. :p

Pada akhirnya, gue memutuskan untuk membuat ebook lagi.

Tentu, setelah perjalanan panjang itu semua, gue pengin bikin satu mainan yang seru lagi. Dan iya, kali ini gue akan bekerjasama dengan desainer benaran (lol). Bagaimanapun juga, saat ini gue sudah punya penghasilan dan tidak muda lagi dan Nyokap mulai nanyain cucu. Bentar, ke mana arahnya tulisan ini?

Intinya, gue pengin ini menjadi ebook yang berbeda dari ebook gue sebelumnya. Gue juga pasti bakalan lebih serius dalam penggarapan. Baik dari segi tulisan, desain, ilustrasi, keikutsertaan pembaca, dan lainnya, dan lainnya lagi.

Maka, sebagaimana yang gue tulis di bio, halaman Karyakarsa ini akan menjadi tempat gue menceritakan perjalanan tentang karya tulis gue yang paling baru. Gue akan buka-bukaan semuanya di sini.

Sampai saat ini, gue belum punya mock up title untuk ebook ini. Gue masih menyebutnya dengan “Projek Ch.” Berasal dari “chorus”, bagian yang biasanya berulang pada sebuah lagu. Tapi, karena nggak sreg sama kata “chorus”, akhirnya gue potong aja jadi Ch. doang.

Kalau Keriba-Keribo adalah tentang hidup bego-begoan gue dan Tunggang Langgang adalah bagaimana seseorang bertahan di habitat yang salah, cerita-cerita dalam Projek Ch. adalah tentang milestone. Setiap dari kita pasti mengalami kejadian-kejadian yang mengubah hidup. Mungkin kita merasa suatu hal erlalu “sinetron” untuk ada di kehidupan nyata, sampai kita mengalaminya sendiri. Mungkin, kalau anak gue bertanya tentang hidup gue, kisah ini lah yang akan gue ceritakan. Kita semua pasti punya kakek/nenek yang selalu mengulang cerita yang sama tentang hidupnya. Dan itulah Projek Ch. Saat gue menyusun daftar bab dari ebook ini, di dalamnya akan ada 16 cerita lepas. Dan iya, ini masih bisa berubah. Bisa kurang, atau malah bertambah.

Beberapa cerita dalam projek Ch. adalah pertama kali jadian sama cewek posesif, menjadi laki-laki yang nggak peka, penyakit pneumothorax yang gue alami, pengalaman gue dan Bokap, pacaran seminggu, sampai kondisi Covid-19 ini.

Jadi, bersiaplah.
Kita bikin mainan baru lagi sama-sama.


Ps: gemes banget euy pengin cepet-cepet ngerampungin ini! Tapi gak pengin diburu-buru juga.

*) Tulisan di pertama kali dipublish di karyakarsa.com/keribakeribo.


Monday, April 20, 2020

Ngomongin Karyakarsa


Beberapa bulan yang lalu gue menyadari ada perubahan di Gramedia. Persis di sebelah Gramedia Pondok Indah Mal, tiba-tiba dibangun café yang tersambung ke toko bukunya. Gue langsung mengabarkan ini ke temen-temen dengan heboh. Buat gue yang pemalas, ini konsep yang keren abis. Gue bisa beli buku sekaligus dapat tempat baca bukunya tanpa harus mikir mau ke mana lagi.

“Bisa jadi gitu, tapi bisa hal lain,” balas Gideon di grup Whatsapp setelah gue berpamer ria. “Bisa aja dia mau ngubah model bisnisnya buat narik pengunjung.”

Asumsi Gideon bisa jadi benar atau salah. Pembahasan di grup berhenti seiring gue yang masuk ke café. Gue mau baca buku Latihan Tidur yang baru aja gue beli di sebelah.

Gue mengangkat tangan, memanggil pramusaji. “Mas, biasa ya!”

“ANDA KAN BARU PERTAMA KALI KE SINI HEY!”

"Oiya..."

Anehnya, seiring berjalannya waktu, gue merasa posisi rak di Gramedia nggak sama lagi. Pikiran pertama gue mungkin sama kayak kamu. Oh, tata letaknya diubah biar suasananya segar dan terasa baru. Tapi, gue baru ngeh kalau di beberapa toko buku yang gue datangin, tahu-tahu menjual peralatan outdoor. Gue bahkan pernah ke Gramedia BSD dan ngeliat dia jualan tenda camping.

Ya, Anda tidak salah baca, Sahabat. Tenda camping. Di toko buku.

Karena penasaran, gue samperin itu tenda camping warna biru. Gue buka resletingnya dan masukin kepala gue. Siapa tahu aja itu tenda sebenernya nggak dijual. Tapi emang lagi ada Fiersa Besari lagi nginep aja.

Berhubung nggak ada Fiersa Besari (menurut lo?), gue coba tanya ke mas-mas yang jaga.

“Mas, ini tenda camping-nya dijual?”

“Coba tanya hatimu skali lagiiiiii~”

Lah, malah mas-masnya yang Fiersa Besari.

Sungguh absurd sekali tulisan ini sodara!

Intinya, segala hal ini membawa gue kepada satu kesimpulan: ada yang berubah dengan industri buku.

Gue nggak tahu apakah perubahan ini membawa kabar baik atau buruk. Tapi buat gue begini: buku, adalah salah satu bentuk media hiburan. Form of entertainment. Sama kayak bioskop, langganan lagu di Spotify, Netflix, langganan koran, pentas seni, ikut kelas olahraga, dan berbagai media hiburan lain yang terus bermunculan. Artinya, kompetitor buku semakin banyak. Artinya, pilihan orang untuk menghabiskan uang lima puluh ribu semakin luas. Untuk membeli sebuah buku, kita harus membayar opportunity cost yang beragam.

Dari sisi penulis, masalah yang muncul beda lagi.

Gue coba mulai dari yang paling basic, image. Seorang penulis bukanlah image yang cukup keren untuk sebuah profesi. Karena output dari penulis berupa tulisan (ya iya tong!), pandangan yang beredar di masyarakat adalah “menulis itu gampang”. Apa susahnya, sih, nulis? Lagipula semua informasi, kan, udah ada. Kalau penulis butuh riset, tinggal buka google, dan masalahnya selesai. Hal ini berimbas pada satu hal: upah yang minim.

Dalam lingkup kerja profesional, posisi penulis bisa dikatakan agak miris. Ketika di awal kita sudah mendapatkan standar upah yang rendah, karir penulis di sebuah perusahaan bisa dengan mudah mentok begitu aja. Kalau itu yang terjadi, nggak ada yang bisa dia lakukan lagi. Bagi anak-anak desain, mungkin ada yang namanya lead designer. Tapi sangat susah untuk menemukan lead writer.

Artinya apa? Udah miskin, susah naek jabatan pula. Huhuhu.

Di sisi lain, jika kamu memutuskan menjadi seorang penulis novel, kamu membutuhkan banyak waktu untuk menyelesaikan satu buku. Bisa 3 bulan, 6 bulan, 1 tahun, 2 tahun. Itupun belum tentu diterima penerbit. Empat tahun lalu gue pernah coba mengirimkan satu naskah ke penerbit. Dan mereka, karena begitu banyak naskah yang masuk, baru bisa memberikan kabar 3 bulan setelah naskah gue kirim.

Dan iya, naskah gue nggak tembus. Mari kita nangis berjamaah.
Belum lagi potongan pajak berlipat yang diterima buku. Pasti ada alasannya mengapa Tere Liye dan Eka Kurniawan sampai sebegitunya tentang hal ini. Dalam writer talk yang dibuat Ernest Prakasa, Raditya Dika bilang, “Sekarang aja buku-buku gue perlu nunggu beberapa bulan sampai royalti gue bisa dicairin. FYI, supaya bisa dicairin royalti buku harus lebih dari 250 ribu perak!”

Terlepas dari buku-bukunya Raditya Dika yang udah lawas, tetap aja kalimat itu bikin calon penulis bergidik.

Dibandingkan profesi lain, penulis juga lebih susah untuk “ngamen”. Seorang penyanyi, misalnya, yang bisa ngamen secara harfiah. Atau desainer yang bisa membuka commission sesuai keinginan pemesan. Buat ngelakuin itu, penulis butuh effort yang lebih. Nggak mungkin juga kita bilang, “Hari ini lo ulang tahun? Nih, gue tulisin ucapan. Kalo pendek 25 ribu, panjang 50 ribu!”

Yang ada digamparin bolak-balik.

Pasti ada alasannya kenapa penulis masuk ke dalam salah satu profesi yang paling depresif. Kebanyakan penulis merupakan lone wolf. Kehidupan seorang penulis adalah kehidupan seorang penyendiri. Bagi beberapa penulis, bisa jadi proses menulis membuatnya lupa akan hal-hal di sekitarnya kayak makan, atau tidur, atau bersosialisasi. Maka, ada kemungkinan kondisi fisik atau mentalnya terganggu.

Meski begitu, pasti adalah alasannya kenapa penulis tetap ada.

Maka, sebagai penulis, yang gue perlukan hanya memutar otak lebih jauh. (Oke, kayaknya di sini mulai ketahuan deh arah tulisan ini). Dengan adanya platform seperti Karyakarsa, penulis diberikan wadah menuangkan karya-karya tulisnya. Di sisi lain, pembaca bisa memberikan dukungan kepada penulis secara langsung. Interaksi antara penulis dan pembaca juga semakin rekat karena ada konten-konten eksklusif yang ditujukan kepada mereka yang memberikan dukungan tersebut.

Sederhananya: penulis diberi kesempatan untuk hidup dari karyanya.

Buat kamu yang belum kenal gue, bisa ikutin aja halaman Karyakarsa gue. Tenang aja. Di sana akan banyak konten yang bisa diakses secara gratis. Buat kamu yang udah tahu siapa gue dan pengin memberikan dukungan, kamu bisa bebas memilih: memberikan dukungan setiap bulan, atau sumbangan lepas, atau sawer seikhlasnya melalui Saweria.

Bantu gue terus menulis dan punya Nintendo Switch lewat dukunganmu!



*) tulisan ini pertama kali di-publish di Karyakarsa.com/keribakeribo.

--
Selama ini gue menyadari kalau kelemahan terbesar gue adalah cuek. Ketika bikin tulisan “beneran” atau postingan yang memang niat di Instagram, gue nggak pernah mengarsipkannya secara serius. Jadi lah karya gue mencar-mencar nggak karuan.

Mulai saat ini, gue pengin merapikan semuanya satu per satu di halaman karyakarsa. Selain biar orang bisa membedakan antara tulisan benaran dan bukan, gue jadi punya semacam arsip yang jelas terhadap karya-karya yang gue bikin.

Halaman karyakarsa itu pun akan menjadi medium perjalanan karya tulisan gue selanjutnya. Mungkin aja gue akan menyebarkan draft 1 dari salah satu bab, atau memberitahu referensi buku maupun tontonan, atau playlist lagu yang gue dengar saat mengerjakan proyek tulisan selanjutnya.

Di samping itu, gue juga akan memberikan kiat-kiat seputar penulisan. Mulai dari cara mencari ide, membuat tulisan komedi, dan sebagainya. Berhubung ilmu gue cetek, hal-hal teknis kayak ini akan gue buat berdasarkan kepada pengalaman gue ya.

Buat kamu yang tidak bisa mendukung, tenang aja. Perjalanan gue menulis proyek terbaru bakal dibuka secara gratis. Tulisan yang ada di sana pun nantinya akan gue publish ulang di blog ini. Meskipun, kayaknya tetap lebih enak kalau kamu baca di sana, biar lebih dapat feel-nya dan terasa fresh from the oven.

Cara main di Karyakarsa adalah seperti ini: setiap orang yang mendukung creator (gue), akan mendapatkan akses ke semua konten selama satu bulan. Tidak menutup kemungkinan, ada juga konten yang sifatnya berbayar satuan. Artinya, apabila kamu pengin melihat konten itu, kamu harus membayar terlebih dahulu seharga tertentu.

Tentunya, mereka yang mendukung di Karyakarsa akan mendapat keuntungan. Selain akses terhadap konten eksklusif dari gue (atau yang terlalu tidak layak tayang :p), mereka akan gue ajak “main-main” lebih dalam. Mungkin gue akan menyebarkan survei kepada mereka, atau mewawancarai dan memasukkan hasilnya ke dalam proyek terbaru gue, atau beberapa hal lain yang masih rahasia. \:p/

Di tulisan ini juga gue mau ngucapin makasih buat temen-temen yang udah nyawer gue lewat Saweria. Mereka yang menyawer akan mendapat email berupa surat cinta dari gue.

Akhir kata, untuk mengunjungi halaman karyakarsa, kamu bisa menekan tab “Karya” di bagian atas, maupun klik halaman Karyakarsa keribakeribo ini.

Sampai ketemu di Karyakarsa!

Sunday, April 19, 2020

Siapa Eva Celia? Berikut Biodata Suka-sukanya!


Kalau di atas langit masih ada langit, maka Eva Celia adalah atapnya langit. Bentar, siapa Eva Celia? Pertanyaan itu gue tulis buat nambah-nambahin seo aja. Jadi kalau orang ngetik di google, postingan ini bisa muncul di halaman pertama.

Lucunya, awal persinggungan kehidupan gue dan Eva Celia dimulai saat gue kecil. Ketika itu Nurul, temen kompleks, ngasih pengumuman heboh pas dia lagi main ke rumah, “Kemaren gue pas jumatan ketemu sama Indra Lesmana dong!”

Gue nggak tahu Indra Lesmana. Jadi gue jawab, “Gue ketemu Jarot dong!”

Pak Jarot adalah Bokapnya Nurul.

“Kampret lo, Di!”

Terus terang, wawasan gue soal dunia artis emang sempit. Gue cuma tahu desas-desus kalau di Pamulang ada rumah orang-orang terkenal. Mulai dari Mathias Muchus, Benny Dollo, dan Indra Lesmana.

Saat itu gue nggak tahu kalau Indra Lesmana adalah musisi jazz papan atas. Menikah dengan Sophia Latjuba, dan punya anak bernama Eva Celia. Kalau tahu pasti gue pura-pura main bola terus nendang sampe masuk ke halaman rumahnya.

Terus kita rame-rame jerit dari luar, “Misi, Om! Mau ngambil bola!” padahal modus. Hihihihi.

Sayangnya, kehidupan gue saat itu cuma sekolah dan main game online aja.

Sampai setahun yang lalu gue nonton Tonight Show dengan bintang tamu Eva Celia. Saat itu, pengetahuan artis gue udah meningkat dibanding sebelumnya. Gue udah tahu siapa Eva Celia, tapi nggak tahu gimana bentuk makhluk ini.

Begitu pertama kali liat dia di tv, gue cuma bengong aja. “Ya ampun, kok ada bidadari? Oalahh, ini toh yang namanya Eva Celia."

Dia mah emang bidadari.

Mulai dari situ gue follow Instagramnya.

Seiring berjalannya waktu, seperti halnya fans pada umumnya, gue jadi tahu sedikit banyak tentang dia. Dan apa yang terjadi? Oh, gue makin ngefens, pemirsa! Gila. Udah suaranya merdu, cakep, baik, penyayang lagi (sok akrab banget najis). Maka, tanpa berlama-lama lagi, ini lah dia biodata Eva Celia untuk mereka yang bertanya “siapa Eva Celia”.

Peringatan: Biodata ini diisi suka-suka sesuai dengan halusinasi penulis.

Fun fact: Sewaktu lagi nge-save foto ini, Nyokap lewat dan nanya. Gue jawab: “Enggak. Ini cuma temen aja kok, Bu. Hehehe.”


Nama: Eva Celia
Nama panggilan: Eva
Nama Lengkap: Eva Celia Kresnoadi
Tanggal lahir: 21 September 1992
Tinggi badan: Pas lah kalau di sebelah Kresnoadi
Berat badan: Pas lah kalau di sebelah Kresnoadi
Tensi darah: Pas lah kal—INI BIODATA APA MAU KE POLI ANAK? WEY!
Pekerjaan: Bernyanyi, bermusik, membuat manusia bumi bahagia
Motto hidup: Sekali bernyanyi, dua tiga hidung laki-laki mimisan
Lagu Favorit: Gonti-ganti. Terakhir sih bilang “apapun yang dinyanyiin Kresnoadi”, tapi gatau deh. Gue sih lagi suka lagu-lagunya Kenny G. Hihihi.
Makanan Favorit: Makanan vegan.
Minuman favorit: yang cair.
Memelihara: Anjing, kucing, kecantikan.

Sekian biodata Eva Celia yang bisa ditampilkan ke publik. Sisanya terlalu bahaya kalau sampai semua orang tahu. Sebagai publik figur, Cecel (panggilan gue untuk Eva Celia), juga butuh privasi. Maka, ada baiknya kita tidak mengganggunya karena kita cuma manusia biasa di hadapannya.

Terakhir dia ngeluarin single (WHAT, SINGLE?) lagu berjudul Love Within. Bisa didengar di sini: https://www.youtube.com/watch?v=F11PkcUVAgA

Gue Kresnoadi, ketua Pencinta Eva Celia Lantang Ekstrem Langsung Edan alias "PECEL LELE" mengucapkan terima kasih. Gue mau cuci tangan dulu pakai pasir karena jari-jari gue terasa kotor alias NAJEEEES. INGET UMUR SENPAI!

Misi! Air Panas!

Wednesday, April 15, 2020

Gue vs Nyokap


Beberapa malam yang lalu, gue ngerasa homepage Youtube gue berubah. Entah kenapa, di antara channel atau topik yang gue tahu, tiba-tiba muncul satu video random. Videonya adalah zikir 1000 kali.

Gue ulang ya. Videonya adalah zikir 1000 kali.

Beneran ini gue nggak bohong.

Ngeliat homepage itu, gue yang tadinya mau nonton Malam-Malam langsung bengong. Hati gue terketuk. Apa ini sebuah pertanda? Ya ampun, udah jam 11 malem dan gue belum solat isya. Astaghfirullah. Terjadilah pergulatan batin antara Kresnoadi Baik (KB) dan Kresnoadi Jahat (KJ).

KB: Tuh, udah diingetin. Solat dulu, biar nanti bisa tenang nontonnya.

KJ: Bener sih nontonnya bakal tenang. Tapi pas solat gimana? Bisa tenang? Bisa nggak kepikiran Bebs Dita? Kalo nanti pas rakaat ketiga lagi sujud tahu-tahu nggak fokus dan lupa gimana? “Bangke, tahiyat akhir apa bangun nih?”

KB cuma geleng-geleng aja. Emang dasar setan si KJ!

Ending perdebatan ini pun gue rahasiain biar lo pada nebak.

Tapi kurang lebih gitu deh.  Awalnya gue pikir video itu semacam pertanda. Tapi, malam-malam berikutnya video yang muncul semakin banyak. Mulai dari zikir 1 jam, Yassin dan terjemahan, sampai ke lagu-lagunya Yuni Shara dan Nissa Sabyan Full Album 2018 Lagu Sholawat Merdu Terbaru.

Wah, ada yang nggak beres nih.

tebak mana yang gue tonton mana yang di-hack?


Hipotesis 1: Ini bukan orang jahat.

Nggak mungkin dong di luar sana ada hacker yang dengan sengaja masuk ke akun youtube gue buat dengerin surat Ar Rahman? Di mana letak kejahatannya coba?

Hipotesis 1 pun terbukti karena setelah gue dengerin video-video yang dia kasih, gue nggak merasa dijahati, yang ada hati gue adem.


Hipotesis 2: pelakunya bukan orang jauh.

Kenapa gue bilang gini? Karena nggak mungkin dia membiarkan gue tetap nonton Youtube dengan aman dan sentosa? Mana mungkin juga dia pengin tahu gue nonton apa? Emangnya ada hacker yang tiap malem nonton Tonight Show?

"Gila, ini script nge-hack yang bener-bener pamungkas!"

Hacker: "BAMBAAAANG!!"


Maka, kemungkinan paling besar adalah gini: gue pernah ngebuka Youtube di laptop lama… pake email gue… terus laptopnya gue kasih nyokap buat dia pake kerja dan…

...laptop yang dipake nyokap disadap hacker dari Rusia!

Beruntung pelakunya ditemukan kemaren sore. Sosok ini gue tangkap basah sedang mendengarkan lagu Yuni Shara sambil makan kolak. Dia tidak lain dan tidak bukan Nyokap gue sendiri!

“Oh jadi selama ini ibu toh!” gue nyengir penuh kebanggaan karena berhasil memergokinya.

Nyokap sibuk nyuap kolak pisang ke mulutnya.

“Kok nggak bilang kalo selama ini ibu hacker dari Rusia?”

Nyokap tetap ngunyah kolak pisang dengan santai.

--
Itulah awal mula dari sebuah pengetahuan baru yang lebih luas dari sebelumnya. Setelah menyelidiki lebih jauh, gue baru sadar ada kebiasaan yang mirip tapi beda antara gue dan nyokap. Berikut adalah hasil investigasi mendalam yang berhasil gue temukan:

Lokasi kerja

Gue: Siang hari -> meja makan | malam hari -> kamar tidur
Nyokap: Siang hari -> ruang kerja | malam hari -> tidur

Gue – Nyokap
1       -       0

Kegiatan saat bekerja

Gue: Kepikiran nulis tentang Eva Celia
Nyokap: Nulis tentang penyebaran berita hoaks dengan tema wabah Covid-19, islam dan politik identitas di Indonesia

Gue – Nyokap
1       -       1

Yang didengarkan saat menulis

Gue: Naif, The Adams, Pamungkas
Nyokap: Shalawat nabi, zikir 1 jam, Nisa Sabyan Full Album 2018 Lagu Sholawat Merdu Terbaru...

Gue – Nyokap
1      -      99

Hasil tulisan

Gue: muncul di blog
Nyokap: muncul di jurnal ilmiah

Gue – Nyokap
1      -     100

Kesimpulan: Kayaknya gue pensiun dini aja deh dari dunia tulis menulis.


Sunday, April 12, 2020

Potongan Salah Satu Cerita di Projek Baru Gue



Pindah kantor selalu terasa seperti baru pertama kali bekerja.

Paling nggak itu yang gue rasakan. Gue harus memahami struktur kantornya. Kebiasaan cara kerja pegawai di sana. Mengenal lingkungan dan mencari tahu karakter orang-orangnya. Supaya pas ngobrol kita bisa nyambung dan gue nggak dicap aneh. Alasan terakhir ini yang membuat gue selalu takut untuk mengeluarkan versi “benaran” dari diri gue.

“Kresnoadi ya?”

Gue mengangguk dan bersiap berdiri, tapi perempuan ini memberikan kode dengan tangannya. Menyuruh gue kembali duduk dan meninggalkan gue sendirian.

Beginilah kondisi kantor yang orang-orang sebut sebagai start up. Entah bagaimana ceritanya tahun ini kata ‘start up’ begitu populer. Sebuah istilah untuk perusahaan yang baru dirintis. Identik dengan anak muda, gairah, dan kreativitas.

Lihat tempat ini. Di belakang gue ada pohon palsu yang daunnya ditempel kertas dan lampu led. Di sebelahnya terdapat undakan yang digunakan sebagai tempat duduk. Entah untuk bekerja atau nongkrong. Gue duduk di bean bag hijau yang terlalu sedikit stereofoamnya. Membuat pantat gue longsor ke dalam. Berasa kayak duduk di wc jongkok.

Inget, ini hari pertama gue kerja di sini. Stay cool, Adi.

“Mbak,” kata gue, memanggil resepsionis yang berdiri di belakang meja bernuansa kayu. Nama perusahaan terpampang besar di bagian depannya. Rsepsionisnya terlihat jauh lebih muda dari gue.

“Iya, Mas?”

“Sabun di mana ya?” tanya gue. “MAO CEBOOK!!”

“Gimana, Mas?”

Gue akhirnya menggeleng. Mengatakan nggak jadi. Tentu bagian gue nanya sabun cuma ada di khayalan gue aja. Gue belum mau dicap freak. Gimana coba kalo mbaknya bales, “Oh, sabun? Ada di Pamulang, Mas. Rumah mas sendiri. Silakan pulang dan jangan gantungin celana dalem mas di mesin absen saya!”

Satu per satu karyawan mulai berdatangan. Anehnya, setiap kali orang-orang ini masuk dan menekan jarinya di mesin absen, gue gugup. Tampilan mereka gaul dan trendi abis. Ada yang pakai kemeja putih, berkacamata, dan celana bahan di atas mata kaki. Sementara yang cewek menggunakan baju yang gue nggak tahu namanya. Sebuah pakaian yang menimbulkan kesan profesional, tapi tetap asik dan nggak terlihat tua.

Gue sampai bingung sendiri. Ini kantor apa Street Gallery di Pondok Indah Mal sih?

Sementara gue, nyemplung di bean bag hijau ini dengan hodie, celana jeans, dan sepatu hitam. Lebih kayak mas-mas yang mau nyulik anak di Mothercare Pondok Indah Mal.

Lalu cowok ini masuk. Rambutnya kinclong karena pomade. Satu hal yang gue tahu pasti, orang yang menggunakan pomade pasti ke kantornya nggak naik motor kayak gue. Gimana coba rasanya pake pomade, lalu harus make helm di kepalanya? Yang tadinya potongan rambutnya undercut, sampai kantor jadi undertaker. Jatuh lemas dan lepek.

Pasti posisinya tinggi nih, pikir gue.

Kelak gue tahu namanya Ade dan kalimat yang paling sering keluar dari mulutnya adalah, “Astaghfirullah, Adi. Jangan lakukan itu.” Sungguh kalimat yang ambigu kalau didengar orang lain.

Lalu cewek ini masuk. Berbeda dengan si cowok pomade yang langsung absen, begitu sampai kantor dia disambut oleh resepsionis. Beberapa karyawan yang duduk di undakan juga menjerit kaget. Mereka berpelukan, seperti sahabat lama yang bertemu kembali.

Gue? Masih nyemplung di bean bag.

Kelak gue tahu nama cewek ini Dewi.
Dan gue punya cerita tentang dia.
--

Friday, April 10, 2020

Kucing, Komedian, dan Nyawer



Belum bisa tidur, akhirnya iseng ngeblog.

Kayaknya udah lama juga gue nggak ngeblog tengah malem kayak gini ya.

Hari ini gue bangun pagi dan nontonin video-videonya Animalogic di Youtube. Seru banget men nontonin video kucing liar. Gue baru tahu kalau di dunia luar banyak banget jenis kucing kecil yang unyu dan galak. Mulai dari kucing air yang jago nangkep ikan dan jumlahnya mulai berkurang karena rawa pada dibabatin manusia, kucing berkaki panjang yang ahli loncat, pallas yang bulunya lucu, sampai kucing pasir (ini pasti kucing paling bahagia, soalnya bisa bebas berak di mana aja).

Kucing-kucing ini jelas beda sama berbagai kucing yang pernah gue pelihara. Kucing pasir, misalnya, yang tahan nggak minum dalam jangka waktu lama sekaligus jadi satu-satunya kucing yang nggak bakal bisa mencret. Pendengaran si kucing ini tajam banget. Dia bisa denger suara cericit tikus meski jaraknya setengah kilo. Beda banget sama kucing yang pernah gue pelihara. Boro-boro setengah kilo, gue panggilin aja cuma bengang bengong dia kayak lagi whisper challenge.

Ngomongin soal kucing, belakangan di Tiktok juga ada sebuah tren video di mana pemilik kucing menempelkan dua kaki depan kucing ke selotip. Ini bikin si kucing berdiri dengan dua kaki dan bertingkah kayak robot gedek. Entah dari mana orang-orang ini punya pikiran picik kayak gini. Bener-bener nggak berperikekucingan! Harusnya pake aibon dong! Siapa tahu kucingnya ngelem (lho).

Anyway, tadi gue nontonin seriesnya Seinfield yang Comedians In Cars Getting Coffee. Gue baru sadar kalau komedian itu punya beberapa ciri yang khas. Pertama, pemalas. Kenapa? Soalnya kalo rajin pasti udah jadi sarjana teknik! (lho). Tapi beneran. Komedian itu pada dasarnya orang yang males dan suka ngedumel aja,

Ironisnya, menjadi komedian adalah pekerjaan yang susah banget. Butuh pola pikir yang ajaib dan ketekunan tingkat dewa biar seseorang bisa menjadi komedian yang handal. Jimmy Fallon sampe cerita kalo dia nggak pernah mau nanya “Gimana perasaan lo hari ini?” ke tim komedinya setelah kelar shooting Tonight Show karena udah tahu jawabannya: ancur, Bos.

Atau dengan kata lain, komedian adalah pekerjaan yang bikin otak lo berasa hamil di luar nikah. Ya, di satu sisi lo bakal seneng karena bentar lagi punya anak, tapi di sisi lain lo bakal jerit, “ANJENG ANAK GUE HARAM JADAH!!”

Menjadi komedian juga berarti harus siap untuk nggak punya banyak temen. Kenapa? Soalnya komedian selalu merasa hal-hal di sekitarnya aneh dan menyebalkan. Jadi, ya, yang nyambung sama pikiran anehnya paling komedian lain. Chris Rock aja begitu dateng ke acaranya Oprah stres sendiri… sampe akhirnya dia nemuin Seinfield di antara kerumunan.

Gue mau kasih contoh gimana komedian memandang hal di sekitarnya aneh (dan biasanya orang lain juga ngeliat dia sebagai orang yang aneh :p). Jadi, pas Aziz dan Seinfield udah selesai makan, si pelayan datang untuk mengambil piring.

Sambil mengangkat piring di meja si pelayan nanya, “Gimana makanannya?”

Seinfield cuma jawab, “Enak kok.”

Begitu pelayannya pergi baru, deh, Sienfield ngebisikin Aziz, “Lo mau denger pendapat gue yang sebenernya gak? Blueberry-nya kematengan! Nggak enak buat dikunyah.” Mereka kemudian membahas makanan barusan yang kurang enak dan keengganan orang normal untuk ngomong jujur ke pelayan.

Ya nggak mungkin juga, kan, begitu si pelayan nanya, “Gimana makanannya?” terus kita jawab serius kayak chef Juna lagi ngomentarin masakan juri?

“Hah? Gimana makannya kata lo? Rasanya kayak semur pantati!”

Apa nggak horor tuh?

Makanya, buat apa coba si pelayan nanyain hal yang jawabannya udah pasti gitu. Sama halnya ketika kita belanja di Indomaret. Begitu meletakkan barang di kasir, mbaknya akan bilang, “Ini aja belanjanya, Mas?”

Kalo punya nyali coba deh jawab, “Nggak! Nggak cuma ini aja! Sekali lagi saya tegaskan, Mbak. Masih. Ada. Barang. Lain. Yang. Mau. Saya. Beli. Saya mau beli deodoran! BELINYA DI ALFAMIDI!!”

--

Eniwei, gue baru aja nambahin tab baru bernama “Support Kresnoadi” di atas. Mulai sekarang, lo bisa ngasih tip ke gue. Atau bahasa gaulnya: nyawer.

Jadi, kalau lo suka dengan konten yang ada di blog ini dan pengin mengapresiasi apa yang gue lakukan, silakan nyawer dengan ngeklik tombol di atas. Lo bisa mulai nyawer mulai dari 10 ribu aja. Ngirimnya pun bisa make gopay, dana, atau ovo.

Setiap yang nyawer bakal dapetin surat cinta dari gue ke email lo. Cihuy!

Mumpung lagi bahas perduitan, gue mau ngasih kisi-kisi terkait ini. Gue lagi nyiapin sesuatu yang baru. Yang pasti berkaitan dengan karya dan uang. Buat detailnya belum bisa gue kasih tahu sekarang. Tapi secepatnya pasti bakal gue kabarin.

Well, I think I’m back into blogging arena now.

Pantat tepos bibirnya dower. Siyu on de next post dan jangan lupa nyawer!

Sunday, April 5, 2020

Bedanya Gue dan Isaac Newton Waktu di Rumah Aja


Gue pikir di rumah melulu bakal bikin gue jadi produktif. Secara, gue kan anak rumahan banget gitu loh. Ternyata, udah seharian nulis baru dapet 600 kata. Rasanya pengin langsung cari profesi lain aja. Huhuhuhu. Maafkan aku, Bu. Aku gagal.

Sejak kita disuruh di rumah aja, gue udah girang sendiri. “Yes! Ini bakalan jadi waktu gue buat bertapa! Gue harus bikin sesuatu!” Gue yakin, temen-temen yang lain pasti pada manfaatin waktu ini buat bikin projek pribadi masing-masing. Entah itu video musik, show di Instagram, atau ikut kelas online, atau bikin video tiktok, atau ngeluangin waktu untuk nulis.

Gue? Tentu maen sama guling mickey mouse. Hehehe.

Buat menaikkan motivasi, gue langsung googling. Ada nggak sih orang-orang yang mengalami hal kayak gini di masa lalu? Dan ternyata sodara-sodara, ada! Bujug buneng ketek sapi! 350 tahun yang lalu pernah kejadian hal yang sama. Tepatnya di tempat yang identik dengan Cinta Laura. Mana lagi kalau bukan pangkalan owjek Inggris.

Jadi, konon di 1665 ada wabah yang melanda Inggris. Sama kayak kita, orang-orang disuruh pada di rumah aja. Salah satunya adalah Isaac Newton. Dan tahu gak selama di rumah aja Isaac Newton ini ngapain? Yak betul! Maen sama guling mickey mouse-nya!

Kagaklah.

Waktu itu dia berumur 24 tahun. Si Newton ini emang pada dasarnya demen kerja. Dan di masa kegelapan itu dia nemuin kalkulus diferensial dan integral. Di kamarnya, dia bikin percobaan soal pembiasan dan pembelokan cahaya. Dan yang paling spesial, dia ngedapetin teori gravitasi apel!

Ngebaca semua berita ini otomatis bikin bulu kuduk gue merinding. Gila abis Newton! Ternyata si biadab ini yang bikin sekolah gue susah?! (lho?).

Well, paling nggak gue punya acuan untuk nambah semangat. Gue harus bikin sesuatu! Groar! Gue nengok kanan… guling mickey mouse gue tergeletak manja di kasur. Maafkan aku, gulingku. Untuk sementara kita harus berpisah. 7 menit lagi lah gue balik (cepet bener!).

Begitulah pikiran gue di awal kehidupan di rumah aja ini. Kenyataannya? Mimpi tinggallah mimpi. Gue bukan Isaac Newton dan di halaman rumah gue cuma ada pohon salam. Boro-boro nemuin sesuatu yang ajaib, tiap ngeliat keluar aja bawannya pengin ngomong: “Samlekom Pamulang!”

Bentar, kok jadi absurd gini.
Inti dari segala inti: gue buntu!

Segala niat gue sirna. Kerjaan yang niatnya mau gue bikin pas di rumah malah mentok gitu aja. Semalem gue begadang cuma buat mikirin ini. Kata-kata motivasi selalu bilang “kalau dia bisa, lo juga pasti bisa!” “Dia makan nasi lo juga makan nasi." Apa bedanya?”
Hasil pertapaan gue semalam membuahkan sebuah jawaban. Pertama, Newton kayaknya kagak makan nasi dah. Lagipula, masa di mana Newton nemuin segala macam itu, sangat berbeda dengan apa yang gue rasakan sekarang. Bayangin aja, dengan segala barang perusak konsentrasi yang ada di masa kita: hape, media sosial, game di laptop, televisi. Ya! Pas gue googling tv baru elektonik baru ketemu 1927. Artinya apa? Artinya Newton kagak ada kerjaan laen selain mikir! Mo ngapain lagi coba dia?

Bandingkan dengan kita yang begitu buka laptop jari-jari ini refleks buka youtube dan ngetik “wika salim goyang” di kolom pencarian. DI ZAMAN NEWTON MANA ADA WIKASALIM?!

Belum lagi kendala-kendala yang munculnya dari eksternal. Wahai Newton, gimana perasaan lo ketika lagi ngeliatin pohon apel, mikir segala macem, tiba-tiba dipanggil, “Ton! Pasang gorden kamar belakang dong!” begitu beres, tahu-tahu disuruh beli beras karena emak lo panik takut lockdown dan keabisan bahan makanan. Lagi mencari persamaan buat integral, tahu-tahu, “TON, PANASIN MOTOR!” “TON! INI CARA PAKE ZOOM GIMANA?!” “TON, KOK WIFI-NYA NGGAK BISA DI HAPE EMAK?”

“TON!”
“Apa?”
“MAU UJAN. JEMURAN ANGKAT.”
“Ya mak.”
“TON! TON!”
“APA LAGI?”
“Manggil doang, Ton. Kirain keluar.”
“KAN LAGI GA BOLEH KELUAR!”
“NGOMONG SAMA MAMA KOK NADANYA TINGGI GITU?! DURHAKA KAMU YA!”

Dengan semua halangan itu, gue yakin Newton bakal nemu satu rumus lain: cara tercepat untuk bunuh diri di kamar.