Friday, December 25, 2020

Membuat Konten: Kualitas Versus Kuantitas

 Apa kabar kawan?

Long time no see. Ke mana aja lo atau you mati senang rasanya bertemu kembali. Selamat, kamu yang tahu kalimat barusan adalah anak 90-an. Yang demen lagu reggae waktu SMA. Woyooo!

Perdebatan soal judul tulisan ini sebetulnya udah basi. Tapi, beberapa waktu belakangan gue baru menemukan pergeseran pemikiran. Asik.

Kalo kalimat barusan gak pake asik, pasti kesannya gue keren banget ya. Apalagi kalau gak sok reggae gitu.

Dateng-dateng bilang, "Buat gue, kuantitas tuh lebih penting dari kualitas."

Beuh, nge-hook dan mantap abis.

Tapi apa daya, isi otak gue terlalu random. Tiba-tiba aja kepikiran, "kayaknya terlalu serius deh kalo langsung bahas topik ini. Gimana kalo tulisan di blog yang udah lama gak keurus ini kita awali dengan lagu Steven and The Coconut Treez?"

Ide bagus, Kresnoadi.

Oh, indahnya dunia overthinking. Buat yang gatau, nih gue kasih lirik lagu dan link videonya di kolom komentar!


Berhubung tulisan ini udah dibuka dengan kerandoman pikiran gue, mari kita langsung ke topik.

--

Ngomongin konten di internet, sekarang, buat gue, kuantitas tuh lebih penting ketimbang kualitas. Apa? Maju lo Chandra Liaw!

Nanti gue yang mundur...

Ketika dahulu gue dan teman-teman diskusi masalah ini, kesimpulannya selalu sama: kualitias harus berada di atas kuantitas. Lebih baik mengeluarkan sedikit konten tetapi bagus, ketimbang banyak tapi bapuk semua.

Persoalan ini terus aja mengganggu gue. Gue merasa itu pemahaman yang betul, tapi juga seperti ada yang mengganjal. Perasaannya kayak lo lagi coli, lalu setelah 7 menit baru sadar kalau dari tadi Nyokap ngintip di jendela. Kalian bertatapan, tanpa bicara. "Anjing, ternyata Nyokap udah balik!" pekik lo dalam hati. Lalu lo membeku. Kamera nge-zoom ke muka. Keringat dingin. Tapi tangan masih di perseneling.

Sampai beberapa minggu yang lalu, gue gak sengaja menonton video Garyvee di Tiktok (iya, Tiktok. Anda tidak salah baca. Dan tidak, bukan video coli).

Di video itu, ada seseorang yang memberikan pertanyaan kurang lebih kayak gini: "Ger, apa alasan lo hijrah?"

Lain woy! Itu Gery Iskak!



Yah, pokoknya dia bertanya soal pentingan mana, kualitas atau kuantitas konten?

Tanpa mikir, Gary bilang kuantitas.

Alasannya, yang gue sepakati adalah, kualias konten itu bersifat subjektif. Sederhana, tapi buat gue masuk di akal. Kalau sebuah kualitas itu sifatnya subjektif dan kuantitas objektif, kenapa kita ribet mikirin hal-hal yang subjektif?

Kalau mau dipikir lebih jauh, apa, sih, definisi dari "kualitas" itu sendiri? Bukan tidak mungkin pengertian kualitas antara pembuat konten dan penikmatnya berbeda. Misalnya, kualitas dalam versi pembuat konten adalah editing-nya yang cihuy. Tapi, apakah penikmat konten menganggap video yang berkualitas itu yang editing-nya keren? Belum tentu. Bisa aja yang sound-nya jelas, atau ceritanya bagus, atau atau yang lain.

Atau, mari kita bahas soal blog dan tulisan.

Bagi seorang blogger, bisa jadi tulisan yang berkualitas sama dengan cerpen yang njelimet dengan diksi yang sastrawi. Tapi, bisa jadi, bagi pembacanya, tulisan yang berkualitas adalah yang ringkas dan tidak bertele-tele.

Kalau ini kasusnya, pada akhirnya, pemikiran soal kualitas menjadi tidak nyambung. Dan ketika sudah tidak nyambung, ia tidak relevan untuk kita pikirkan.

Sebaliknya, kuantitas menunjukkan usaha.

Katakanlah dalam seminggu orang ini menghasilan 2 tulisan "jelek". Artinya, dalam sebulan ia menyajikan 8 tulisan. Dibandingkan si penulis berkualitas yang dalam sebulan hanya menyajikan satu "tulisan berkualitas" (kecuali output 7 tulisan sisanya sebanding dengan apa yang dia kerjakan selain 1 output tulisan. Misalnya: kebutuhan riset dll, tapi itu pun susah diukur.)

Tentu, bagi orang awam, blogger yang menyajikan 8 tulisan dalam sebulan mempunyai usaha yang lebih keras. Meskipun tidak sebagus tulisan blogger satunya, tetapi lama-kelamaan blogger ini punya karakter: gigih, pekerja keras, dan memiliki etika kerja yang keren.

Persoalannya, tinggal apakah si blogger kuantitas ini mau mendengar dan belajar untuk mengembangkan diri. Sehingga, semakin lama, tulisannya semakin bagus.

Kalau itu terjadi, bukan tidak mungkin di satu titik, kualitas kedua blogger ini menjadi sama.

Karena tidak bisa dipungkiri, ancaman dari orang yang mengagungkan kualitas adalah menjadikannya sebagai permakluman. Lawan terberatnya perfeksionis, dan batu loncatannya ekspektasi penikmat yang sudah menunggu lama.

Lucunya, gue baru menyadari kalau gue, ketika ngeblog, adalah orang yang mendahulukan kuantitas. Entah lagi giat-giatnya menulis, hampir setiap hari gue update blog. Walaupun tulisannya nggak penting semua.

Di sinilah gue sadar kalau gue adalah documentarian.

Ketimbang  membuat konten dan menjuluki diri sebagai content creator, selama ini yang gue lakukan adalah mendokumentasi. Gue membekukan hal-hal yang terjadi di sekitar. Hanya angle dan mediumnya aja yang bermacam-maca. Entah tulisan, foto, atau video.

Pertanyaannya, kalau gue cuma mau mendokumentasi, gue harus bikin kayak apa?

Well, 2021 bakal banyak dokumentasi gak penting yang gue lempar ke internet. Semoga kamu sanggup nangkepnya. \:p/

See ya!

ps) Menurut lo gimana soal si kualitas dan kuantitas ini? Gue mau denger pendapat lo dong. Biar bisa belajar juga.

Share:

3 comments:

  1. Hola mas Adi, apa kabar? 😁

    Dari dulu suka sama konten dan topik yang dilempar Garyvee, meski kadang membuat saya mengernyitkan kening pada awalnya, tapi saya akui kata-kata beliau bagus dan makesense 😆

    By the way, saya pun setipe dengan mas Adi, lebih condong ke kuantitas dan documentarian. Mungkin karena itu isi blog saya kebanyakan daily stories atau daily thoughts yang mendadak terbersit dan ingin ditumpahkan 🤣 hehehe.

    All in all, ditunggu lemparan konten yang lebih banyak mas. Semoga bisa lihat mas Adi update di blog lebih sering seperti sebelumnya 🥳

    ReplyDelete
  2. Tulisan ini berhasil membuka pikiran saya bagaimana seharusnya bersikap dalam membuat karya, bahkan mungkin bisa dipake dalam hal lain juga di kehidupan.

    Sayangnya, dari dulu saya seringnya dahuluin kualitas dibanding kuantitas, si perfeksionis juga. Alhasil bukan karya yang dihasilkan, tapi keburu cape duluan karena mikirin hal-hal kecilnya, dan baru beres setelah menghabiskan banyak waktu dulu. Hmm. Manusia memang tidak sempurna, harus banyak belajar. Btw, terima kasih sharingnya :)

    ReplyDelete
  3. Bangke banget segala ada Gery Iskak. :))))

    ReplyDelete

Suka dengan konten yg ada? Silakan sawer gue seikhlasnya dengan klik menu "Support gue!" di atas.

Dengan menyawer kamu akan mendapat email surat cinta dari Kresnoadi DH. Sungguh mantabi bukan?