Thursday, June 4, 2020

Black Out!

Gue kadang penasaran, ngapain sih orang lari malem-malem di Gelora Bung Karno? Well, gue sadar, sih, sebagai orang kantoran waktu bebas kita cuma tersisa malam hari. Tapi olahraga? Memangnya bikin sehat?

“Jadi kak Adi mau ikut nggak?” tanya Ratu di kantor.

“Duh, males banget gue…”

“Katanya Anya Geraldine suka lari di GBK lho tiap rabu!”

“…males banget deh kalo punya badan yang nggak bugar!”

Pulang kantor, gue bareng temen-temen yang lain nebeng mobil Ratu ke GBK. Setelah kena pneumothorax, gue emang nggak pernah olahraga lagi. Mumpung obat gue udah mau abis, ini jadi olahraga pertama yang bakal gue lakuin. Gue agak inget pesan dokter Christoph sewaktu kontrol terakhir kali.

“Ingat, Di. Kamu itu kena paru-parunya. Jadi coba olahraga yang membantu pernapasan dan kardio. Kalau nggak bisa, paling nggak liatin Anya Geraldine lah.”

Oke. Semangat gue udah membara. Gue gak boleh kalah sama temen-temen yang fit dan punya stamina tinggi. Kami masuk dari gate 5, lalu ketemuan sama Gani dan Ndek di parkiran. Tidak ingin terlihat cemen sendiri, gue melakukan operasi pemantauan.

“Lo sering Ndek lari gini?” Gue sok membuka percakapan. Basa-basi. “Biasa berapa putaran?”

“Aku paling empat aja, Bang.”

 Hmmm empat pakai aja. Berarti gue bisa lah lebih dari itu.

“Si Gani ini yang dewa.” Ndek menepok pantat Gani.

Gue menutup pintu mobil, mengantongi uang. Berjaga-jaga kalau haus dan pengin beli minum. “Berapa putaran emang kalau elo, Gan?”

“Dia bisa belasan putaran. Gila banget dah!” Si Ndek heboh sendiri. Gani cuma cengar-cengir aja. Gani memang orangnya tinggi dan kakinya panjang.

Sialan. Ini data yang gue kumpulin jadi random banget gini. Jauh banget bedanya dari empat ke dua belas. Di kamar mandi, gue dekatin Fahri. Gue tahu beberapa minggu lalu Fahri juga lari di GBK. Jadi, gue tanya dia aja.

“Gue sih kemaren empat pak,” katanya. Dia ngelenturin kaki di depan kamar mandi. Agak aneh memang dilihat-lihat.

Dari jawaban Fahri, gue mendapat kesimpulan: betis Gani cacat mental!

Melihat rata-ratanya, paling tidak target gue malam ini adalah lari enam putaran. Kami memasuki area GBK, memilih tempat janjian untuk ketemuan, lalu mulai pemanasan masing-masing.

Tengok kanan, tengok kiri. Tengok kanan, tengok kiri. Putar kepala dua kali… lalu gue pengin muntah. Baru pemanasan aja kepala gue udah pusing banget. Perasaan pas sekolah kalo muterin kepala enak-enak aja. Kok sekarang berasa naik roller coaster. Lemah abis. Oke. Gue ganti ke peregangan tangan, meluruskan kaki, lalu bungkuk loncat bungkuk loncat.

Gani udah lari duluan. Sementara Hani, Ratu, dan Fanny berjalan kaki mencari tempat senam. Katanya, di sini suka ada orang berkumpul lalu senam bareng. Cih, ini GBK apa Superindo tiap minggu pagi?

Berdiri di area lari ini, gue baru menyadari kalau… tempat ini gede juga ya. Mulai timbul keraguan. Apa gue sanggup lari enam putaran? Gimana paru-paru gue? Di mana Anya Geraldine? (masih). Oke, bikin plan B: kalau belum enam putaran sudah ada salah satu di antara kami yang istirahat di tempat kumpul, gue bakalan langsung berhenti. Paling tidak gue bukan jadi orang pertama yang berhenti. Gue membayangkan nanti salah satu di antara Ratu, Hani, atau Fanny sudah kecapekan duluan, kemudian gue nyamperin dan bilang, “Eh, lo udah capek?” lalu gue mengajak ngobrol, dan nggak melanjutkan lari. Hihihhi. Aku memang cerdas, bukan?


Gue gak sempet foto, jadi gue kasih foto deket kosan aja ya

 

Gue memasang earphone dan dengarin lagu Barasuara biar semangat dan jedag-jedug. Semua berjalan lancar. Masalah cuma ada di celana gue yang turun-turun karena keberatan hape.

Putaran pertama.

Lho, udah satu putaran aja nih? Pendek juga nih tempat. Atau gue yang emang ternyata terlalu kuat? Hihihi. Selama berlari, gue tadi melihat kumpulan cewek yang melakukan semacam senam. Beberapa ada yang menyusul gue dengan sepeda. Di indomaret, gue juga melihat orang-orang yang memakai sepatu roda sedang beristirahat.

Gue kembali melewati tempat kami janjian. Nggak ada orang.

Putaran kedua.

Keringat mulai bercucuran. Earphone di kuping menjadi basah. Mana ya Anya Geraldine? (KONSISTEN, BANG?)

Putaran ketiga.

Gue udah nggak fokus ke orang lain. Pergelangan kaki gue panas. Tapi gue ingat cerita bahwa Haruki Murakami suka berlari. Gue mepet ke kiri. Ke bagian dalam, biar larinya nggak terlalu jauh.

Putaran keempat.

SUMPAH LOH INI BELOM ADA YANG NYERAH JUGA?

Putaran kelima.

HALO? HANI, RATU, FANNY? APA KABAR? KENAPA KALIAN MASIH KUAT? APA AKU YANG TERLALU WANITA?

Putaran keenam.

Kaki gue mau resign. Dari kejauhan udah terlihat gerbang tempat kami janjian… yang masih kosong. Fahri pengkhianat. Katanya dia cuma kuat empat putaran. Apa ini konspirasi?

Gue udah engap banget. Haus. Telapak kaki panas dan terasa perih ketika diangkat. Sementara indomaret sudah terlewat jauh di belakang. Ratu, satu-satunya di antara kami yang bawa minum entah ada di mana. Sejak putaran sebelumnya, gue udah menurunkan kecepatan lari dan terkadang milih buat jalan.

Gue mutusin buat berhenti di tempat janjian.

TKP, ngambil dari google maps


Baju gue udah basah semua. Saking keringetannya, gue melepas earphone dan menyimpannya di celana. Aneh banget rasanya memakai earphone dengan telinga basah. Degup jantung gue berdetak lebih kencang, seperti genderang yang mau perang. Darah gue mengalir lebih cepat, dari ujung kaki ke ujung kepala. AKU SEDANG INGIN BERCINTA! (Kenapa malah nyanyi?).

Tidak berapa lama gue berdiri melemaskan kaki, Fahri datang. Mukanya pucat.

“Eh, lo udah capek?”

Gue mengangguk, susah bener jawab sambil ngatur napas.

“Beraph… pha puth.. tharan… lo?”

“En…haaammhhh,” jawab gue, sama ngos-ngosannya kayak Fahri.

“Ya udah istirahat dulu deh kita.”

Gue mengangguk lagi. Dalam hati gue bilang: BANGSAAAT! TRIK GUE KENAPA JADI LO YANG PAKE?!

“Minum di siapa, sih?” gue bertanya, padahal udah tahu jawabannya.

Lalu dunia berubah. Gue melihat orang-orang berlari di depan gue menjadi kabur. Pandangan gue, pelan-pelan menjadi oranye dan kemerahan. Menutupi penglihatan gue. Kenapa nih? Gue memejamkan mata. Gelap. Gue membuka mata. Merah. Lalu semakin lama semakin gelap. Kayak gak ada bedanya sama gue merem.

“Ri… Ri…” Tangan gue bergerak ke segala arah, tidak tahu posisi Fahri ada di mana. “Tolong cariin minum, Ri. Gue gak bisa liat apa-apa.”

Sekelebat gue mendengar suara “Lo kenapa?” Lalu Langkah kaki. Lalu “Bentar, Pak.” Lalu langkah kaki lagi yang menjauh.

“Ri?”

Buangsat sekarang gue sendirian kagak bisa liat apa-apa. Gue masih aja melek, tapi semuanya gelap. Apa ini yang orang-orang sebut black out? Sekelebat gue ingat di dekat gerbang ada mas-mas berbaju kuning yang sedang duduk beristirahat. Gue menggapai-gapai gak jelas kayak orang buta.

“Mas! Mas!” gue teriak asal.

Lalu gue mendapat jawaban.

“Mas, ada minum gak? Saya nggak bisa liat nih.”

Ya, gue mengakui pertanyaan itu cukup aneh. Kalau gue ada di posisi mas-mas itu juga gue pasti heran. Apa hubungannya gak bisa lihat sama minum? Kalau jadi dia, paling gue akan jawab: “Nih, kacamata silinder buat kamu.”

Mas-mas ini kemudian membantu gue merebahkan diri. Sekarang posisi gue tiduran telentang pasrah di hadapan mas-mas ini.

“Mas kenapa?” tanya mas-mas. Gue gak tahu ada berapa orang ada di sekitar gue saat ini. Tapi rasanya lebih dari satu.

“Gatau, Mas…” Gue menjawab sekenanya. Lalu gue bilang, “YAK, ANDA KENA PRANK!” lalu manggil teman-teman gue yang bawa kamera di balik pohon.

Kagak lah!

Ujung kaki gue tidak bisa digerakkan. Lalu kram ini merambat ke bagian betis dan pinggang. Setengah badan gue sudah mati rasa.

Sekelebat terdengar suara perempuan berbicara dengan Fahri.

Pengkhianat volume dua! Kenapa dia gak beli air?!

Si perempuan ini kemudian menyuruh gue menutup mata, lalu membimbing gue.

“Ikuti saya ya.” Dia bilang. “La ilaha illalah…”

Kagak anjer!

Dia memegang tangan gue dan membimbing membuat gerakan naik turun dengan posisi telentang. Napas gue juga diatur sesuai dengan gerakan tangan tersebut. Setelah berapa lama, kram gue mulai hilang. Gue mulai bisa merasakan pinggang dan betis. Gue kini bangun, membuat posisi duduk dengan kaki yang diselonjorkan ke depan. Masih mengikuti arahan mbak-mbak supercool ini. Sampai gue coba buka mata dan samar-samar semuanya kelihatan seperti semula.

Di sekeliling gue udah ada Hani, Ratu, Fanny, dan Ndek. Fahri belakangan datang membawa air es, disuruh oleh mbak-mbak macho untuk ditempelkan di bagian tulang punggung bawah gue.

Gue menatap mbak-mbak macho ini. Oh, engkaulah malaikat penyelamat nyawaku. Gue diem doang, gak tahu harus bereaksi gimana. Lalu dia pergi dan gue berterima kasih. Kayak adegan di komik-komik jepang, ketika jagoannya habis menyelamatkan karakter gak penting… yang abis lari di GBK dan kena black out.

“Kak Adi gak pernah pingsan ya?” Ratu nanya, memecah suasana hening.

Gue geleng-geleng. “Kenapa gitu?”

“Kalo pernah pingsan, tadi pasti udah pingsan.” Dia ngejelasin hal yang sungguh bikin makin jelas. Beneran. Makasih loh, Tu.

Kami lalu sepakat buat udahan dan jajan di Go Food Festival. Sampai kemudian, kami baru sadar satu hal: Gani belum ada.

Emang si betis bajingan!


--

Bab 2 Project Ch. udah selesai! 

Judulnya Kepada Andreas, Tulisan ini untuk Anda. Ngomongin soal pengalaman gue sewaktu naik ojek online. Ternyata, buat orang yang ke mana-mana bawa motor sendiri kayak gue, naik ojol pernah jadi persoalan tersendiri. Silakan dibaca di sini: https://karyakarsa.com/keribakeribo/proyek-ch-bab-2-kepada-andreas-tulisan-ini-untuk-anda

Share:

25 comments:

  1. Baru tahu si Anya suka lari malam di sana. Gagal ketemu dia, malah dapat pengalaman mau pingsan.

    Itu temen lu yang belasan putaran gila juga sih. Gue terakhir lari cuma 7-8 putaran paling mentok.

    Emang kalau belum pernah pingsan, bakalan berhenti di fase itu ya? Zaman gue baru lulus SMK, lari lima putaran nonstop tanpa jalan di GBK juga nyaris pingsan gitu mirip kayak yang lu deskripsiin. Syukurlah waktu itu lari bareng satu teman, jadinya ada yang bisa dimintai tolong beli air dan gue enggak jadi pingsan. Sekarang agak susah bayangin ketika lebih doyan joging sendirian, terus ngalamin begitu lagi.

    ReplyDelete
  2. Akhirnya ketemu Anya di Go Food Festival gak sih? Hahaha.

    Gue pernah hampir blackout juga pas lagi di pesawat nunggu turun. Pas orang-orang udah pada berdiri, gue berdiri juga buat ngambil koper di kabin, terus otot punggung gue ketarik dan sakit banget. Padahal AC di pesawat kan kenceng banget, tapi gue malah mandi keringat. Untung gak jadi pingsan karena aku akhirnya kembali sehat dan kuat setelah mama memberi... SAKATONIC ABC!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tolong bagian ketemu itu jangan menjadi konsumsi publik yha!

      GUE BACA SAKATONIC ABC KENAPA PAKE NADAAAA.

      Delete
  3. Woiii ngakak banget baca dr awal smpe akhir ya gustiiiii.. Mulai dr nyanyi2 smpe lawakmu bikin moodku baikan nih. Ahahahaa
    Lairnya 1 putaran aja kali mas, besok lagi nambah 2, kasian badan kan. Ku kira td pas ada mbak2 malaikat penolong supercool mo dikasih napas buatan. Hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Idih, enak aja. 1 putaran? Emangnya aku laki2 apaan... cyin?

      Delete
    2. Laaah daripada pengsan. Kan lebih malooošŸ¤£

      Delete
  4. Gue juga belum pernah pingsan sih, tapi kalo kena black out sekejap gitu pernah waktu lagi boker, ternyata lagi pemadaman bergilir dari PLN.

    Kalo untuk yang jarang olahraga, gue disaranin sepedaan dulu, kalo jarang olahraga dan langsung lari berkilo-kilometer gitu emang tubuh kita gak bakal kuat. Sepedaan juga enak, Raisa dan Awkarin katanya juga suka sepedaan, daripada cuma lihat Anya, gue mending lihat raisa dan awkarin sih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sih dokter gue juga tadinya nyaranin salah satunya sepedaan. Masalahnya gue gak punya sepeda. Huhuhuh.

      Delete
  5. Gue gatau harus ngakak apa sedih liat lu black out. Tapi apakah deskripsi si Ratu ini akurat? Gue belom pernah pingsan soalnya, jadi gatau fase-fasenya.

    Lari di GBK mayan juga ya. Gue baru sampe tahap wacana mau lari disana bareng komunitasnya temen gue. Btw, gue pikir tadi judulnya Black Out ini bakalan ngomongin mati lampu, ternyata bukan :)))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bentar, gue tanyain ke Ratu dulu.

      Delete
    2. Ratu udah jawab nih. Katanya, "kata tetangga aku sih gitu kak. haha."


      Sungguh pertemanan yang tidak bisa diandalkan!

      Delete
  6. Mas Adi mungkin badannya kaget, karena nggak terbiasa lari tau-tau lari 6 putaran karena diiming-imingi Anya Geraldin :))) jadi deh badannya kaget, hihi ~ tapi saya salut dengan usaha mas Adi untuk mencoba lari di GBK yang menurut saya nggak mudah (karena saya pernah coba 2 putaran saja rasanya mau give up) :"D

    Next time semoga nggak sampai black out lagi ya mas, kawatir juga kalau endingnya lebih parah dari sebelumnya. Nanti jadi nggak ada yang tulis cerita lucu lagi di blog Keriba keribo :)) sehat-sehat selalu mas ~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya gitu mbaaak. Huhuhuu. Ya, namanya juga lelaki macho. Apapun akan kulakukan demi Anya Ger... kebugaran tubuh. Hehehe.

      Delete
  7. asli ini tulisan balikin mood gw! Hahah kocak banget kak tulisnnya. Btw aku juga sama pernah ngalamin kaya gitu. Ga enak bangettt. Efeknya jadi ga lari-lari lagi deh. Padahal dulu rutin lari sampai akhirnya ngalamain black out jadi kapok hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, mbak yang udah sering lari aja jadi kapok. Ini gue yang baru lari sekali jadi kepikiran kapok juga. (padahal males aja)

      Delete
    2. hahaha jangan kapok (baca jangan males) terus aku ngucapin buat diri sendiri juga :D

      Delete
  8. baru paham kalau si Anya selalu melakukan lari malam demi untuk menyelamatkan diri ketika suatu saat ketika sedang di kepung warga, jadi lebih lihay ....gituh kan maksudnya?!

    ReplyDelete
    Replies
    1. KOMENTAR APA INI HEY MANG LEMBUUUUU. GUE GEBOK JUGA LU. *salim mang

      Delete
  9. Gw sejak drama corona ini belum berani lari lagi di luar ruangan. Udah kangen banget sama track CFD, GBK, dan stadion madya sebagai tempat gw latihan lari. Tapi ya mau gimana lagi. Aturan ada buat dipatuhi lah. Apalagi sebagai pelari gini, banyak race pada off. Semoga dirimu makin semangat ya buat lari. Puter GBK 10 kali lah nanti. Itu setara dengan 10 km kok. Pelan2 aja pakai pace yang stabil. Jangan ngebut di awal tapi setelah itu jalan. Semangat bro :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha iya ini juga kejadiannya antara oktober/november/desember kok. Gara2 kangen keluar jadi keinget cerita2 goib pas lagi di luar. Huhhuhu.

      Puter gbk 10 kali? kayaknya usus gue pada longsor deh itu.

      Delete
  10. Haha, aku seperempat putaran aja rasanya mau pingsanšŸ˜
    Nafasku pendek. Aku skoliosis, jadi tulang belakangku agak menekan paru-paruku. Pernah coba lari pagi, baru beberapa menit udah ngosh-ngoshan seperti lari berkilo-kilo meter. Akhirnya pulang aja, daripada pengsan di jalan. Pulangnya ngesot.. haha, nggak deng. Jalan kaki. Dulu waktu SMA, tiap ada olahraga lari, aku paling terakhir. Udah kasih surat dokter padahal, tapi tetep ikut lari juga.

    ReplyDelete
  11. Kalo aku sih bilangnya Gani ini tipe napas kuda. Masalah joging, tipe ini biasanya cukup populer dikalangan pelari. Kalo saya sih, mending ngga lari bareng sama tipe teman seperti itu. Mending sendiri dan ngikutin ritme kita sendiri. Karena kalau udah jarang lari, biasanya lari perdana betisnya kaget

    ReplyDelete
  12. Selalu salut sama orang yang bisa lari muterin GBK. sementara gue baru sekali muterin lapangan basket aja udah berasa lemah.. besoknya betis udah berasa encok.

    Btw, enak gak di bisa ngerasain pandangan gelap gulita?

    ReplyDelete
  13. Waw salut sama Gani yang bisa lari puterin GBK sampai belasan puteran gitu. Staminanya awet banget, berapa mAh ya?

    ReplyDelete

Suka dengan konten yg ada? Silakan sawer gue seikhlasnya dengan klik menu "Support gue!" di atas.

Dengan menyawer kamu akan mendapat email surat cinta dari Kresnoadi DH. Sungguh mantabi bukan?