Tuesday, June 30, 2020

204

keluar kamar kos


Buat orang yang gak suka bergaul dan malas ke mana-mana ini, kamar itu udah kayak markas. Semacam shelter suci yang tidak bisa gue tunjukkan begitu aja ke sembarang orang. Maka, ketika gue memutuskan untuk keluar dari kosan, rasanya kayak ada yang aneh.

Semenjak di rumah aja ini, berkali-kali gue mikir untuk keluar dari kosan. Kayaknya mubazir aja gue bayar tapi nggak ditempatin selama berbulan-bulan. Semangat tidak mau rugi menggelora dalam dada. Pertimbangan gue sederhana: uangnya bisa dipakai untuk hal lain.

Begitu gue ke kosan untuk ngambilin barang, perasaan berat itu muncul.

Sebut gue sentimental. Tapi semuanya datang begitu aja. Kamar kosong dengan sprei biru yang gue lihat pertama kali, kini kondisinya sudah berubah jauh.

Hari pertama masuk kosan gue rayakan dengan membeli sprei baru.

Lalu, satu demi satu barang lain masuk. Kamera dan perlengkapannya, speaker kotak, meja, kursi, dispenser dan galon, karpet, lampu, lampu lainnya, toples dan kopi, toples dan kopi lainnya lagi, sapu kecil yang tidak pernah terpakai, talenan yang “Shit! Gue makan buah aja kali ya biar sehat!” hingga akhirnya gue masukkan ke dalam troli dan berakhir di bawah jemuran. Plastik yang terkumpul dan gue lipat menjadi segitiga. Tempat sampah dari kardus dispenser. Struk belanjaan yang memenuhi laci. Koin-koin bekas kembalian yang bertumpukan.

Pelan-pelan, kamar itu jadi beda.

Dia bukan sekadar tempat untuk tidur. Di situ ada lampu tidur yang menemani gue bangun. Ada gue yang sok narsis dan bergaya di depan kaca tanpa perlu insecure. Ada lembar demi lembar microsoft word yang terisi cerita. Ada episode-episode podcast yang diunggah. Ada melodi yang bersahutan. Ada pikiran yang melayang-layang. Ada “I love you too.”. Ada “Aku nggak mau bahas ini sekarang.” Ada kekecewaan yang bergeletak. Ada marah yang berantakan. Ada kangen yang disembunyikan. Ada kangen yang ditumpahkan. Ada suara-suara samar di balik bed cover.

Gue mengemas barang-barang. Dan di sini ironisnya. Saat meninggalkan kamar kos, kita seperti dipaksa untuk memilih: mana kenangan yang layak dibawa pulang, dan mana yang sebaiknya kita tinggal. Sobekan tiket bioskop gue masukan ke kantung plastik, bersama tumpukan struk belanja yang tintanya sudah pudar. Karcis KRL? lempar ke plastik pembuangan. Laporan pemeriksaan dokter semasa pneumothorax dahulu? Bawa pulang. Jepit rambut patah? Lempar. Milo oleh-oleh? Masukin. Sendal jepit? Buang. Kartu SIM yang masa berlakunya sudah habis? Pungut kembali. Pot bunga berbentuk Groot? Letakkan di pinggir jendela. Mudah-mudahan dia tumbuh dan bahagia.

Sekarang, kamar sudah kembali seperti saat gue datang: lantai bersih tanpa karpet. Tempat tidur dengan sprei biru. Gue mengontak mbak Nur, penjaga kosan. Matanya berkaca-kaca, entah betulan entah gue yang terlalu terbawa perasaan aja. Katanya, belakangan banyak anak kos yang keluar karena pandemi.

Kata Timothy Goodman, hidup adalah soal merasakan berbagai pengalaman di muka bumi. Seperti halnya memasak, kita mencicipi berbagai rasa di dunia ini. Menariknya, dalam hidup, kita tidak tahu makanan seperti apa yang dihidangkan ke atas meja. Terkadang rasanya bisa aneh, atau hambar, atau malah lezat dan bikin kita terbayang-bayang sampai keesokan harinya. Tapi, itulah esensi sebenarnya dari hidup: merasakan. Buat gue, hidup bukan soal dulu-duluan menghabiskan makanan atau tentang siapa yang berhasil makan lebih banyak. Melainkan bagaimana kita bisa merasakan tiap hidangannya.

Pintu kamar 204 ditutup. Gue berpamitan.

Semoga gue mendapatkan penggantinya.

Semoga dia mendapatkan pengganti gue.

Share:

8 comments:

  1. Sangat gampang beres-beres pindah kos-kosan, yang susah itu membersihkan kenangannya… #talijiwo

    -Sujiwo Tejo

    ReplyDelete
  2. pindah dari kosan yang udah lama dihuni itu emang beda banget, rasanya tu semua kenangan kemageran muncul wkwk

    ReplyDelete
  3. jadi pingin ikut pindah, tapi masih betah, tapi masih banyak tapinya, :)

    ReplyDelete
  4. Selamat say goodbye sama kosan, mas Adi 😁

    Tau banget rasanya harus packing sambil pilah-pilih barang mana yang mau dibawa dan mana yang mau dibuang. Semacam harus memilih berdasarkan kenangannya daripada fungsinya kadang 😂

    ReplyDelete
  5. AAAAAAA gue suka banget quotes terakhirnya. Itu bener sih!! Wkwkwkw. Jadi gue patut bersyukur ya karena pernah merasakan nikmat hidup yang menurut gue begitu lezat saat gue ngelakuinnya, ah emang bikin sedih tapi ya seenggaknya pernah ngerasain. Nikmat duniawi hehehe

    ReplyDelete
  6. Eh lu tau gak selama ini kamar 205 kosong!

    Btw, suara-suara samar di balik bed cover itu suara apa? Desahan?

    ReplyDelete
  7. Emosional sekali tulisan ini. Saya suka! Untuk orang yang tidak pernah pindah kosan, memvawa barang-barang satu persatu ke dalam kosan seperti membawa kenangan itu benar.

    Jadi mau cerita kamarvkosan gur yang sekarang udah dirubuhin sekosan kosannya. Kenangannya hancur seiring bangunannya rata dengan tanah dan kemudian dibangun lagi yang baru.

    ReplyDelete
  8. gue sering ngerantau.
    tapi kalo untuk nge kos, rasanya cuman pas saat di kampung inggris doang. kalo di negara lain, jatohnya jadi ngontrak, karena di isi sama banyak orang.

    gue mungkin enggak se-semimental seperti elu gitu sih
    ngerasanya. ya hidup harus berjalan terus. kenangan yang tercipta, yaudah. paling hanya jadi cerita ke orang lain aja.

    semoga menemukan tempat semenyangkan seperti 204 lagi

    ReplyDelete

Suka dengan konten yg ada? Silakan sawer gue seikhlasnya dengan klik menu "Support gue!" di atas.

Dengan menyawer kamu akan mendapat email surat cinta dari Kresnoadi DH. Sungguh mantabi bukan?