Friday, May 22, 2020

Kenapa Gue Sebel Sama Corona dan Untungnya Layanan Rapid Test

Udah tiga bulan gue mendekam di rumah. Kerja di rumah. Main di rumah. Ngapa-ngapain di rumah. Saking lamanya di rumah, kayaknya gue udah lupa rute-rute jalan deh. Bisa-bisa begitu semua ini berlalu dan gue pengin ke Pondok Indah Mall, gara-gara lupa jalan gue malah nyasar ke Pondok Pesantren. Gue tersesat ke jalan yang lurus.

Kalau rumah gue segede Nia Ramadani sih seru-seru aja (ya, saking gedenya, dia pernah nyasar di rumahnya Ardi Bakrie. Beneran. Nih beritanya: Nia Ramadani nyasar di rumahnya sendiri). Di situ ditulis kalau dia “salah jalan keluar”. Harusnya belok kiri, eh dia ke kanan. Nyasar deh. Lah rumah gue? Kalau pun pintu keluar gue di kiri dan gue ke kanan, paling mentok-mentok nyundul jemuran.

Di berita itu juga tertulis kalau kasur Nia Ramadani berukuran 4 meter. Ini kasur sama kos-kosan gue gedean kasurnya Nia Ramadani. Jadi kepikiran, kasur sebesar itu dipakai untuk apa aja ya? Hmmmm. Pasti dipakai untuk ngegebukin pakai raket rotan dong. Berotot berotot deh tuh tangan. Dengan kasur sebesar itu, Nia Ramadani pasti nggak pernah ngerasain lagi tidur, lalu badan berasa kayak mau jatuh, kaget, dan kebangun sendiri.

“Astaghfirullah! Hampir aja!” sambil nepuk-nepuk dada.

Sumber: https://ragamhandicraftrajapolah.wordpress.com/


Sementara gue? Ya, gitu-gitu aja. Rute perjalanan gue cuma kamar – meja makan – kamar mandi. Di rumah juga gue cuma berdua sama Nyokap. Kalau udah kelamaan di rumah kayak gini, obrolan jadi nggak seru. Berikut adalah cuplikan dialog yang biasa terjadi antara gue dan Nyokap.

Gue: lagi ngapain, Bu?

Nyokap: (mem-pause lagu-lagu jawa dari youtube di hape) Hah?

Gue: Nggak jadi deh.

Nyokap: Sakarepmu!

 

Lah, dia ngegas.

Inti dari segala intinya: gue mulai bosan.

--

Pertama kali kabar corona masuk ke Indonesia, gue lagi di kantor. Di grup divisi kami, salah satu teman kerja nge-share video berisi pengumuman dari Presiden Joko Widodo bahwa ada warga Depok yang positif terjangkit corona.

Virus yang bermula akhir Desember tahun lalu di China, sekarang udah masuk Indonesia. Ketakukan akan penyakit misterius ini mulai nyata.

Situasi langsung chaos.

Berhubung tempat gue bekerja adalah start up yang berbasis pendidikan, kami berbagi tugas. Tim media sosial dan penulis menaikkan tulisan tentang ciri orang yang terkena virus corona dan pencegahannya. Desainer menggambar dan membuat infografik. Beberapa yang lain berinisiatif membeli sabun dan hand sanitizer. Semua sibuk. Satu-satunya yang diam di ruangan cuma telepon di sebelah gue.

Hari itu berlanjut dari riset ke riset. Karena corona, kerjaan gue cuma baca-baca jurnal yang berhubungan dengan virus ini. Mencari tahu apa saja jenis-jenis virus serupa yang pernah muncul. Gimana cara virus ini menyebar. Kayak apa reaksi orang terhadap itu. Sampai gimana penanganan berbagai negara. Gue yang awalnya parno, sekarang mulai bisa lebih santai meskipun tetap waspada. Ternyata benar kata orang, kalau udah kenal, kita jadi nggak grogi. Makanya, ngobrol. Jangan nebak-nebak dari jauh aja.

Fokus, Fulgoso!

Pencarian-pencarian ini membuka mata gue terhadap beberapa hal. Pertama, kenyataan bahwa hidup kita terus berubah dan perubahan-perubahan ini, mulai dari kepadatan penduduk, ekosistem, iklim, global warming, dan teknologi, mau tidak mau juga akan berimbas pada satu hal: penemuan penyakit baru.

Pertengahan tahun lalu, Kelsey Piper menulis bahwa pengaruh urbanisasi dan perubahan iklim akan berdampak pada habitat nyamuk yang meningkat pesat. Artinya, penyakit kayak zika, cikungunya, demam berdarah bakalan makin parah. Masih gara-gara ini, penelitian nature microbiology berjudul Past and Future Spread of the Arbovirus Vectors Aedes aegypti and Aedes albopicus bilang kalau di tahun 2050, nyamuk Aedes aegypti akan menginvasi 19,91-23,45 juta kilometer.

Penemuan yang kedua adalah perilaku warga menanggapi ini. Mulai dari harga masker dan hand sanitizer yang mendadak mahal gara-gara ada penimbun yang bikin kita menghela napas seraya berucap, “Astaghfirullah” sampai penimbun yang meratapi nasib karena maskernya tidak laku dan bikin kita menghela napas sambil, “Astaghfirullah, mampos!”

Ini gue, bukan penimbun

Di era post truth ini, banyaknya informasi bikin kita kalang kabut dan keliyengan sendiri. Pagi hari ada berita kalau corona adalah virus yang bisa disembuhkan dengan minum air panas, lalu sorenya ada berita lain yang membantah. Besoknya, tersebar berita bahwa virus corona adalah buatan elit global. Sengaja dibuat untuk menebar ketakutan. Berita-berita yang semakin dibaca malah semakin bikin stres.

Kebebasan kita, tuh, udah terkekang dengan di rumah terus. Eh, begitu buka hape untuk refreshing, malah makin emosyen.

Saat kayak gini, gue keinget satu kalimat yang pernah ditulis Pandji Pragiwaksono di blognya. “Save the cow,” Dia mengumpamakan kalau kita lagi di jalan, lalu melihat sapi terjebak di lumpur, yang pertama kali dilakukan adalah selametin dulu sapinya. Baru mikir, kenapa si sapi bisa ada di sana? Apakah si sapi begini gara-gara predator? Atau ada orang iseng? Atau sapinya diceburin sama eLiT 9l0B4L? Lih    de   mas ug .

Kan! Tulisan gue jadi ilang-ilangan! Pasti ini ulah elit global yang baca dan mengincar gue!

Seruan PSBB yang setengah-setengah juga bikin kita bingung sendiri. Sebetulnya, boleh nggak, sih, kita keluar? Seberapa ketat seseorang dianggap melanggar PSBB? Kalau di jalan ada operasi penertiban PSBB, seperti apa caranya? Kayak penilangan motor? Penilangan motor bukannya bikin macet yang mana kalo macet berarti dempet-dempet dan dempet-dempet berarti ngumpul dan ngumpul bukannya gak boleh? Apa operasi penertiban ini sengaja diciptakan untuk menebar ketakutan? Biar para pengendara motor dari jauh udah. “Astaghfirullah! Petugas keamanan!” lalu deg-degan dan puter balik? Apakah operasi ini buatan elit global yang menguntungkan 8iLl gAt3S?

Memasuki bulan keempat ini, rasanya kita sudah bergerak sendiri-sendiri. Yang memutuskan di rumah, ya di rumah. Yang berjuang sebagai tenaga medis, membantu di lapangan. Yang merasa ini buatan elit global… install windows bajakan biar bill gates sebel? APA KONTRIBUSI ANDA HEEEEYY?!

Agak menyedihkan melihat orang-orang ini acuh dan menganggap korban sebatas angka-angka yang beredar di internet. Tidak bisa dimungkiri banyak yang pendapatannya berkurang, atau pekerjaannya menghilang, atau pendidikannya terhambat gara-gara ini.

Buat gue, virus ini menelanjangi aspek kemanusiaan. Mempertebal gambaran kita sebagai manusia. Mana yang baik, yang tulus, yang memanfaatkan keuntungan, yang picik, yang pasrah dan nggak bisa berbuat apa-apa. Semua jadi terlihat dengan jelas.

Sekarang, tiap orang cuma bisa membantu sesuai porsinya masing-masing. Berusaha untuk tidak menulari yang lain, dan yang merasa punya gejala terjangkit virus, kamu bisa melakukan rapid test supaya tidak menebak-nebak kondisimu sendiri.


Buat kamu yang ada di Jabodetabek, Halodoc, sebuah start up kesehatan, membantumu untuk melakukan uji layanan rapid test. Caranya gampang banget. Kamu tinggal buka aplikasinya, lalu cek lokasi rapid test drive, pilih waktu dan tempat. Dan tinggal unggah foto KTP (untuk orang dewasa) dan KK (untuk di bawah umur). Hasil pemeriksaannya akan keluar satu hari setelah kamu periksa melalui SMS atau aplikasi.

Ngomongin Halodoc, gue pernah kehabisan stok obat untuk paru-paru di rumah sakit. Sementara gue harus minum obat di hari itu, atau gue harus mengulang proses penyembuhan selama enam bulan. Akhirnya, gue coba beli lewat Halodoc, dan ternyata ada. Aplikasinya secara otomatis mencari apotek terdekat yang punya obat yang gue cari. Beruntung banget gue sore itu.

Semoga kali ini dan besok, kita masih punya keberuntungan itu.


Share:

1 comment:

  1. PSBB? Intinya jangan keluar kalau emang ga urgent sungguh. Ya, perlu kesadaran dari diri sendiri sih kalo begini. Keknya nunggu pada kenak dulu baru pada sadar aowokwowkowkw.

    ReplyDelete

Suka dengan konten yg ada? Silakan sawer gue seikhlasnya dengan klik menu "Support gue!" di atas.

Dengan menyawer kamu akan mendapat email surat cinta dari Kresnoadi DH. Sungguh mantabi bukan?