Sunday, April 12, 2020

Potongan Salah Satu Cerita di Projek Baru Gue



Pindah kantor selalu terasa seperti baru pertama kali bekerja.

Paling nggak itu yang gue rasakan. Gue harus memahami struktur kantornya. Kebiasaan cara kerja pegawai di sana. Mengenal lingkungan dan mencari tahu karakter orang-orangnya. Supaya pas ngobrol kita bisa nyambung dan gue nggak dicap aneh. Alasan terakhir ini yang membuat gue selalu takut untuk mengeluarkan versi “benaran” dari diri gue.

“Kresnoadi ya?”

Gue mengangguk dan bersiap berdiri, tapi perempuan ini memberikan kode dengan tangannya. Menyuruh gue kembali duduk dan meninggalkan gue sendirian.

Beginilah kondisi kantor yang orang-orang sebut sebagai start up. Entah bagaimana ceritanya tahun ini kata ‘start up’ begitu populer. Sebuah istilah untuk perusahaan yang baru dirintis. Identik dengan anak muda, gairah, dan kreativitas.

Lihat tempat ini. Di belakang gue ada pohon palsu yang daunnya ditempel kertas dan lampu led. Di sebelahnya terdapat undakan yang digunakan sebagai tempat duduk. Entah untuk bekerja atau nongkrong. Gue duduk di bean bag hijau yang terlalu sedikit stereofoamnya. Membuat pantat gue longsor ke dalam. Berasa kayak duduk di wc jongkok.

Inget, ini hari pertama gue kerja di sini. Stay cool, Adi.

“Mbak,” kata gue, memanggil resepsionis yang berdiri di belakang meja bernuansa kayu. Nama perusahaan terpampang besar di bagian depannya. Rsepsionisnya terlihat jauh lebih muda dari gue.

“Iya, Mas?”

“Sabun di mana ya?” tanya gue. “MAO CEBOOK!!”

“Gimana, Mas?”

Gue akhirnya menggeleng. Mengatakan nggak jadi. Tentu bagian gue nanya sabun cuma ada di khayalan gue aja. Gue belum mau dicap freak. Gimana coba kalo mbaknya bales, “Oh, sabun? Ada di Pamulang, Mas. Rumah mas sendiri. Silakan pulang dan jangan gantungin celana dalem mas di mesin absen saya!”

Satu per satu karyawan mulai berdatangan. Anehnya, setiap kali orang-orang ini masuk dan menekan jarinya di mesin absen, gue gugup. Tampilan mereka gaul dan trendi abis. Ada yang pakai kemeja putih, berkacamata, dan celana bahan di atas mata kaki. Sementara yang cewek menggunakan baju yang gue nggak tahu namanya. Sebuah pakaian yang menimbulkan kesan profesional, tapi tetap asik dan nggak terlihat tua.

Gue sampai bingung sendiri. Ini kantor apa Street Gallery di Pondok Indah Mal sih?

Sementara gue, nyemplung di bean bag hijau ini dengan hodie, celana jeans, dan sepatu hitam. Lebih kayak mas-mas yang mau nyulik anak di Mothercare Pondok Indah Mal.

Lalu cowok ini masuk. Rambutnya kinclong karena pomade. Satu hal yang gue tahu pasti, orang yang menggunakan pomade pasti ke kantornya nggak naik motor kayak gue. Gimana coba rasanya pake pomade, lalu harus make helm di kepalanya? Yang tadinya potongan rambutnya undercut, sampai kantor jadi undertaker. Jatuh lemas dan lepek.

Pasti posisinya tinggi nih, pikir gue.

Kelak gue tahu namanya Ade dan kalimat yang paling sering keluar dari mulutnya adalah, “Astaghfirullah, Adi. Jangan lakukan itu.” Sungguh kalimat yang ambigu kalau didengar orang lain.

Lalu cewek ini masuk. Berbeda dengan si cowok pomade yang langsung absen, begitu sampai kantor dia disambut oleh resepsionis. Beberapa karyawan yang duduk di undakan juga menjerit kaget. Mereka berpelukan, seperti sahabat lama yang bertemu kembali.

Gue? Masih nyemplung di bean bag.

Kelak gue tahu nama cewek ini Dewi.
Dan gue punya cerita tentang dia.
--

Share:

28 comments:

  1. Okeh senpai. walo tidak tahu banyak mengenai genre buku, sepertinya ini mausk itungan komedi romance (mungkin), untuk intro cerita, ini sudah sangat....

    (komentar bakal kesambung saat udha tahu pojeknya secara lengkap)

    *atau mungkin nggak

    ReplyDelete
  2. Nah kan ngegantung gini ending nya,
    kan ingin tau kelanjutan mbak dewi jadinya :3

    ReplyDelete
  3. Nah, gue suka nih kalau ceritanya kayak gi

    ReplyDelete
    Replies
    1. ILANG WOY KOMENNYA WOOY KEPOTONG.

      Delete
    2. Azab bagi penulis yang bikin ending tulisan ngegantung, komennya juga ngegantung.

      Delete
    3. Iya setuju ini pembukanya membuat kita ingin me

      Delete
  4. Kata-kata Ade sungguh ambigu sekali.

    Hmm... Kira-kira cerita apa ya?

    ReplyDelete
  5. Kalau temen2 cowokku yang motoran tapi pake pomade, jadi dipakenya pas mereka sampe kantor Di. Mereka ke toilet dulu pake parfum dan pomade. Dan ini berlaku kalau kita maen juga. Demikian sekilas info pomade cabang Bandung.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, ternyata kehidupan di Bandung 5 tahun lebih maju daripada di Pamulang.

      Delete
  6. Kayaknya sambungan cerita ini bakalan lanjut ke bagian mba Dewi kena PHK deh.

    ReplyDelete
  7. Mbak Dewi sama Ade ada affair ya? Pokoknya harus cerita syurrrr

    ReplyDelete
  8. Iya, sih. Terlalu dini kalau hari pertama sudah buka topeng. Tapi kadang kalau ketemu sama yang sefrekuensi, suka susah buat nahan-nahan. :D

    Kayaknya bakal banyak postingan soal Dewi, nih. Numpang duduk sambil makan popcorn ya, Mas Adi. :D

    ReplyDelete
  9. Wah ada rahasia nih.. Apaan hayooo...

    ReplyDelete
  10. Aku yakin kalau cerita tentang Dewi adalah kejadia dia tanya di mana letak sabun. Tebakanku pokoknya gak boleh salah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tolong kalo mau nulis komentar di blog sebelumnya jangan ngelem dulu...

      Delete
  11. Endingnya bikin penasaran. Ditunggu nih kelanjutannya.:)

    ReplyDelete
  12. Wah, ceritanya sangat bikin kecanduan kayak indomi. Tolong dilanjutkan, kalau tidak...

    ReplyDelete
  13. Semoga projek barunya lancar yap. Ditunggu selalu karya-karyanya.

    Saya mulai suka nih sama karakter Ade, gaya bahasanya ga ke tebak.

    ReplyDelete

Suka dengan konten yg ada? Silakan sawer gue seikhlasnya dengan klik menu "Support gue!" di atas.

Dengan menyawer kamu akan mendapat email surat cinta dari Kresnoadi DH. Sungguh mantabi bukan?