Monday, April 20, 2020

Ngomongin Karyakarsa


Beberapa bulan yang lalu gue menyadari ada perubahan di Gramedia. Persis di sebelah Gramedia Pondok Indah Mal, tiba-tiba dibangun café yang tersambung ke toko bukunya. Gue langsung mengabarkan ini ke temen-temen dengan heboh. Buat gue yang pemalas, ini konsep yang keren abis. Gue bisa beli buku sekaligus dapat tempat baca bukunya tanpa harus mikir mau ke mana lagi.

“Bisa jadi gitu, tapi bisa hal lain,” balas Gideon di grup Whatsapp setelah gue berpamer ria. “Bisa aja dia mau ngubah model bisnisnya buat narik pengunjung.”

Asumsi Gideon bisa jadi benar atau salah. Pembahasan di grup berhenti seiring gue yang masuk ke café. Gue mau baca buku Latihan Tidur yang baru aja gue beli di sebelah.

Gue mengangkat tangan, memanggil pramusaji. “Mas, biasa ya!”

“ANDA KAN BARU PERTAMA KALI KE SINI HEY!”

"Oiya..."

Anehnya, seiring berjalannya waktu, gue merasa posisi rak di Gramedia nggak sama lagi. Pikiran pertama gue mungkin sama kayak kamu. Oh, tata letaknya diubah biar suasananya segar dan terasa baru. Tapi, gue baru ngeh kalau di beberapa toko buku yang gue datangin, tahu-tahu menjual peralatan outdoor. Gue bahkan pernah ke Gramedia BSD dan ngeliat dia jualan tenda camping.

Ya, Anda tidak salah baca, Sahabat. Tenda camping. Di toko buku.

Karena penasaran, gue samperin itu tenda camping warna biru. Gue buka resletingnya dan masukin kepala gue. Siapa tahu aja itu tenda sebenernya nggak dijual. Tapi emang lagi ada Fiersa Besari lagi nginep aja.

Berhubung nggak ada Fiersa Besari (menurut lo?), gue coba tanya ke mas-mas yang jaga.

“Mas, ini tenda camping-nya dijual?”

“Coba tanya hatimu skali lagiiiiii~”

Lah, malah mas-masnya yang Fiersa Besari.

Sungguh absurd sekali tulisan ini sodara!

Intinya, segala hal ini membawa gue kepada satu kesimpulan: ada yang berubah dengan industri buku.

Gue nggak tahu apakah perubahan ini membawa kabar baik atau buruk. Tapi buat gue begini: buku, adalah salah satu bentuk media hiburan. Form of entertainment. Sama kayak bioskop, langganan lagu di Spotify, Netflix, langganan koran, pentas seni, ikut kelas olahraga, dan berbagai media hiburan lain yang terus bermunculan. Artinya, kompetitor buku semakin banyak. Artinya, pilihan orang untuk menghabiskan uang lima puluh ribu semakin luas. Untuk membeli sebuah buku, kita harus membayar opportunity cost yang beragam.

Dari sisi penulis, masalah yang muncul beda lagi.

Gue coba mulai dari yang paling basic, image. Seorang penulis bukanlah image yang cukup keren untuk sebuah profesi. Karena output dari penulis berupa tulisan (ya iya tong!), pandangan yang beredar di masyarakat adalah “menulis itu gampang”. Apa susahnya, sih, nulis? Lagipula semua informasi, kan, udah ada. Kalau penulis butuh riset, tinggal buka google, dan masalahnya selesai. Hal ini berimbas pada satu hal: upah yang minim.

Dalam lingkup kerja profesional, posisi penulis bisa dikatakan agak miris. Ketika di awal kita sudah mendapatkan standar upah yang rendah, karir penulis di sebuah perusahaan bisa dengan mudah mentok begitu aja. Kalau itu yang terjadi, nggak ada yang bisa dia lakukan lagi. Bagi anak-anak desain, mungkin ada yang namanya lead designer. Tapi sangat susah untuk menemukan lead writer.

Artinya apa? Udah miskin, susah naek jabatan pula. Huhuhu.

Di sisi lain, jika kamu memutuskan menjadi seorang penulis novel, kamu membutuhkan banyak waktu untuk menyelesaikan satu buku. Bisa 3 bulan, 6 bulan, 1 tahun, 2 tahun. Itupun belum tentu diterima penerbit. Empat tahun lalu gue pernah coba mengirimkan satu naskah ke penerbit. Dan mereka, karena begitu banyak naskah yang masuk, baru bisa memberikan kabar 3 bulan setelah naskah gue kirim.

Dan iya, naskah gue nggak tembus. Mari kita nangis berjamaah.
Belum lagi potongan pajak berlipat yang diterima buku. Pasti ada alasannya mengapa Tere Liye dan Eka Kurniawan sampai sebegitunya tentang hal ini. Dalam writer talk yang dibuat Ernest Prakasa, Raditya Dika bilang, “Sekarang aja buku-buku gue perlu nunggu beberapa bulan sampai royalti gue bisa dicairin. FYI, supaya bisa dicairin royalti buku harus lebih dari 250 ribu perak!”

Terlepas dari buku-bukunya Raditya Dika yang udah lawas, tetap aja kalimat itu bikin calon penulis bergidik.

Dibandingkan profesi lain, penulis juga lebih susah untuk “ngamen”. Seorang penyanyi, misalnya, yang bisa ngamen secara harfiah. Atau desainer yang bisa membuka commission sesuai keinginan pemesan. Buat ngelakuin itu, penulis butuh effort yang lebih. Nggak mungkin juga kita bilang, “Hari ini lo ulang tahun? Nih, gue tulisin ucapan. Kalo pendek 25 ribu, panjang 50 ribu!”

Yang ada digamparin bolak-balik.

Pasti ada alasannya kenapa penulis masuk ke dalam salah satu profesi yang paling depresif. Kebanyakan penulis merupakan lone wolf. Kehidupan seorang penulis adalah kehidupan seorang penyendiri. Bagi beberapa penulis, bisa jadi proses menulis membuatnya lupa akan hal-hal di sekitarnya kayak makan, atau tidur, atau bersosialisasi. Maka, ada kemungkinan kondisi fisik atau mentalnya terganggu.

Meski begitu, pasti adalah alasannya kenapa penulis tetap ada.

Maka, sebagai penulis, yang gue perlukan hanya memutar otak lebih jauh. (Oke, kayaknya di sini mulai ketahuan deh arah tulisan ini). Dengan adanya platform seperti Karyakarsa, penulis diberikan wadah menuangkan karya-karya tulisnya. Di sisi lain, pembaca bisa memberikan dukungan kepada penulis secara langsung. Interaksi antara penulis dan pembaca juga semakin rekat karena ada konten-konten eksklusif yang ditujukan kepada mereka yang memberikan dukungan tersebut.

Sederhananya: penulis diberi kesempatan untuk hidup dari karyanya.

Buat kamu yang belum kenal gue, bisa ikutin aja halaman Karyakarsa gue. Tenang aja. Di sana akan banyak konten yang bisa diakses secara gratis. Buat kamu yang udah tahu siapa gue dan pengin memberikan dukungan, kamu bisa bebas memilih: memberikan dukungan setiap bulan, atau sumbangan lepas, atau sawer seikhlasnya melalui Saweria.

Bantu gue terus menulis dan punya Nintendo Switch lewat dukunganmu!



*) tulisan ini pertama kali di-publish di Karyakarsa.com/keribakeribo.

--
Selama ini gue menyadari kalau kelemahan terbesar gue adalah cuek. Ketika bikin tulisan “beneran” atau postingan yang memang niat di Instagram, gue nggak pernah mengarsipkannya secara serius. Jadi lah karya gue mencar-mencar nggak karuan.

Mulai saat ini, gue pengin merapikan semuanya satu per satu di halaman karyakarsa. Selain biar orang bisa membedakan antara tulisan benaran dan bukan, gue jadi punya semacam arsip yang jelas terhadap karya-karya yang gue bikin.

Halaman karyakarsa itu pun akan menjadi medium perjalanan karya tulisan gue selanjutnya. Mungkin aja gue akan menyebarkan draft 1 dari salah satu bab, atau memberitahu referensi buku maupun tontonan, atau playlist lagu yang gue dengar saat mengerjakan proyek tulisan selanjutnya.

Di samping itu, gue juga akan memberikan kiat-kiat seputar penulisan. Mulai dari cara mencari ide, membuat tulisan komedi, dan sebagainya. Berhubung ilmu gue cetek, hal-hal teknis kayak ini akan gue buat berdasarkan kepada pengalaman gue ya.

Buat kamu yang tidak bisa mendukung, tenang aja. Perjalanan gue menulis proyek terbaru bakal dibuka secara gratis. Tulisan yang ada di sana pun nantinya akan gue publish ulang di blog ini. Meskipun, kayaknya tetap lebih enak kalau kamu baca di sana, biar lebih dapat feel-nya dan terasa fresh from the oven.

Cara main di Karyakarsa adalah seperti ini: setiap orang yang mendukung creator (gue), akan mendapatkan akses ke semua konten selama satu bulan. Tidak menutup kemungkinan, ada juga konten yang sifatnya berbayar satuan. Artinya, apabila kamu pengin melihat konten itu, kamu harus membayar terlebih dahulu seharga tertentu.

Tentunya, mereka yang mendukung di Karyakarsa akan mendapat keuntungan. Selain akses terhadap konten eksklusif dari gue (atau yang terlalu tidak layak tayang :p), mereka akan gue ajak “main-main” lebih dalam. Mungkin gue akan menyebarkan survei kepada mereka, atau mewawancarai dan memasukkan hasilnya ke dalam proyek terbaru gue, atau beberapa hal lain yang masih rahasia. \:p/

Di tulisan ini juga gue mau ngucapin makasih buat temen-temen yang udah nyawer gue lewat Saweria. Mereka yang menyawer akan mendapat email berupa surat cinta dari gue.

Akhir kata, untuk mengunjungi halaman karyakarsa, kamu bisa menekan tab “Karya” di bagian atas, maupun klik halaman Karyakarsa keribakeribo ini.

Sampai ketemu di Karyakarsa!

Share:

18 comments:

  1. Haris pun kemarin gue liat sudah bikin juga. Dan kayaknya beliau gunain yang satuan ya bayarnya untuk baca lebih lanjut kontennya. JADI KEPIKIRAN BUAT JUGA WKWKWK

    ReplyDelete
  2. Gu udah nyoba liat2, dan sistemnya sebelum daftar harus nunggu approval dulu ya, kalo gue daftar sulit buat lolos seleksi deh hahahah.

    Senpai adi ini nemu aja ya yang beginian. Pange bener, eh bangke bener.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya pak harus nunggu approval dulu. Hahaha sial dah.

      Delete
  3. behahahahaa. tukang komik yaaaaaaaaaa. LUCUK INI DONGENGNYA hw hw hw. ini situsnya dotkom mameeeen, serem. euG nemu ini karena ada keribo BlogWalking ke si Wordpress euG noh. okok, otewe intip karyakarsa ye

    ReplyDelete
  4. Keren, Di. Kemarin sempat mampir ke sana waktu Reyhan Ismail ngetwit. Semangat, Senpai!

    ReplyDelete
  5. Barusan ngintip bentar ke tab karyanya, semangat mas. Kerenlah inisiatifnya.

    Btw soal tulisan jadi murah juga pernah ramai dibahas para blogger yang sering dapat content placement.

    ReplyDelete
  6. Sempet punya pemikiran kaya gitu, dulu sebelum ngeblog: nulis gampang ya. Eh, pas beneran nyoba nulis, ya Allah, ternyata susah. Ini baru level blog recehan doang lho, yang mana cuma seputar cerita sehari-hari gitu. Apa kabar yang bisa nerbitin buku dan harus berbulan-bulan (atau bahkan bertahun-tahun) buat bikin draft. I salute you, lah!

    Dah dapet berapa duit nih, Di, dari Sawerndah? Eh, saweria maksudnya? *lucu yang gagal*

    ReplyDelete
  7. As always
    paling enak baca blog lo, bang.

    wow sungguh kudet gue baru tau Karyakarsa.

    Akan ku saweria asalkan disawer juga *loh* :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha jadi saling menyawer ya. MUSIK BAAANG!

      Delete
  8. Baru tau tentang Karyakarsa ini. Bagus banget menurutku, bisa menjadi wadah buat penulis untuk berkreasi dan mendapatkan sedikit keuntungan.

    ReplyDelete
  9. Saya baru tau ada Karyakarsa hehe, bagus juga idenya, jadi para penulis seperti mas Adi bisa lebih fokus berkarya karena ada goals yang bisa dibuat di sana :)

    Semoga goals-goals yang mas Adi kejar bisa segera tercapai sesuai dengan harapan :D

    ReplyDelete
  10. Gue udah dapet surat cinta dan nyawer. Hahaha. Tapi ya bener sih, temen-temen gue yang bahkan penulis buku aja kadang cerita soal gimana susahnya nembus penerbit. Nggak tembus di satu oenerbit, dia lempar lagi naskahnya du penerbit lain.

    Soal karyakarsa dan mengarsipkan gue jadi kepikiran untuk menaruh arsip tulisan gue di sana juga. Tapi pengennya dimodif dulu hahaha.

    ReplyDelete
  11. Smooth banget ini alur tulisannya, Mas Adi. Semoga sukses di Karyakarsa, ya. :D

    ReplyDelete

Suka dengan konten yg ada? Silakan sawer gue seikhlasnya dengan klik menu "Support gue!" di atas.

Dengan menyawer kamu akan mendapat email surat cinta dari Kresnoadi DH. Sungguh mantabi bukan?