Sunday, September 22, 2019

Kalo Gue Ikut KKN di Desa Penari


Di kantor gue ada geng horor. Tiap jam istirahat mereka akan berkerubung di meja salah satu personel, lalu nobar videonya Ewing HD. Seperti kaum horor lain, mereka terbagi menjadi beberapa kategori: ada yang jerit dan melompat mundur karena terkena jumpscare, ada yang sok menganalisis tentang jalan ceritanya, ada yang diam-diam merinding, ada yang terkagum-kagum, dan ada satu personel yang tiap selesai nonton nanya, ‘Tadi setannya sebelah mana sih?’

Gue? Jelas jadi orang yang menyaksikan mereka semua dari kejauhan sambil mendengus, ‘Dasar manusia-manusia lemah..’

Nggak deng, bercanda. Gue yang dari kejauhan dan mendengus, ‘Tadi setannya sebelah mana sih?’

Hehehe. Jangan bakar aku, kawan.

Suatu siang, grup watsap mendadak rame. Gue yang telat buka grup langsung scroll ke bagian bawah dan mendapati beberapa orang bilang, ‘Bagi link gan’. Gue langsung mikir, ‘Hmmmmmmmmm kasih ga eaaa?’

Padahal, gue juga kagak ngerti link apaan yang dia minta.

Sampai salah seorang dari mereka memberikan link cerita viral KKN di Desa Penari. Begitu gue klik, bagian pembuka dari cerita itu berisi:

Sebelumnya penulis udah minta izin sama yang punya cerita, tapi segala tempat dan nama akan disamarkan. Widya namanya. Ia tampak gugup dan menyendiri. Ia akan mengikuti KKN di kota B, Kabupaten K. Cerita ini bermula di tahun 2009...

Bentar, ini kenapa kayak cerita stensilan ya?

DI KOTA B DIA PASTI KETEMU MAS BRAM! JANGAN KE SANA DAN DATANGILAH MASJID UNTUK BERTAUBAT, WAHAI PENULIS.

Lo udah pada baca belum sih? (Kalo mau baca klik aja di sini). Terus terang, gara-gara baca cerita itu gue jadi pengen KKN deh. Jaman gue kuliah, fakultas gue nggak kedapetan KKN. Kami ada praktek sendiri di hutan selama satu bulan. Di sisi lain, temen-temen dari fakultas lain sering cerita serunya KKN. Dari yang ngebantuin bersihin wilayah situ, sampe ada yang cinlok segala. Gila, gara-gara KKN seseorang bisa dapetin jodoh. Lah, gue mah di hutan. Kemungkinan ketemu babi liar lebih gede dibanding ketemu jodoh. Pernah suatu waktu gue sama temen-temen lagi ngebuka lahan, kita ngeliat semak-semak goyang. Semua orang panik dan lari. ‘Awas ada babi! Kabur kabur babi!’

Gak lama kemudian, temen gue nongol dari balik semak. ‘Hehehe. Abis berak gue. Sori sori.’

Kami tetep kabur sambil teriak, ‘Babi! Babi!’

Berhubung gue belum pernah KKN, baca cerita horor itu ngebuat gue terbayang-bayang. Gimana ya, kalo gue ada di situasi itu? Berikut adalah beberapa adegan yang gue rasa bakalan terjadi kalo gue ikut KKN di Desa Penari:

cerita baru viral kkn di desa penari



WIDYA LAGI MANDI, NUR JAGAIN DI LUAR

Bagian bilik sangat lembab, kayu di dalamnya berlumut hitam. Di depannya ada kendi besar, terisi setengah air. Widya mengendus bau yang cukup amis. Di bilik sebelah, Kresnoadi, selayaknya anak masa kini yang keren nan berkepribadian super, mandi bawa hape. Hatinya remuk karena harus satu grup KKN bareng Anton yang kerjanya ngerokok doang. Dia pun menyetel lagu Didi Kempot berjudul Pamer Bojo.

Mengikuti alunan si Didi Kempot, Kresnoadi Chubby mulai bersenandung:

Dudu klambi anyaaar~
Sing neng njero lemarikuuuu~

Samar-samar suara orang bernyanyi terdengar oleh Widya. Dia shock dan hanya mampu bergeming. Tunggu? Ini bukan nyanyian. Lebih kayak erangan kuntilanak muntaber. Ap… apa? Sekilas ia mendengar kata “klambi anyar” (baju baru). Ia pun menanggalkan bajunya perlahan. Nyanyian kidung menggema di kepalanya. Ia memejamkan mata, dan teringat sosok perempuan itu. Perempuan yang kalau mendengar jenis suara seperti ini, akan berkata, ‘Pitch kontrol dijaga, goblok!’

Goblok… blok… blok.. Gema refleks suara Widya didengar Kresnoadi di bilik sebelah. Kresnoadi menghentikan nyanyiannya dan menangis di bawah kucuran air kendi. Widya keluar dan bertemu Nur.

‘Dengar po ora, Nur? Ono sing ambyar neng kene.’ (Denger nggak, Nur? Ada yang nangis di sini)

Nur menatap Widya dalam-dalam. Dia meletakkan tangannya ke pundak Widya, berusaha menguatkan. ‘Ah, paling sadbois biasa...’

Widya diam. Tidak percaya apa yang dia dengar dari sahabatnya itu.

‘Aku juga sempet nangis dikit tadi.’
‘Kamu patah hati, Nur?’
‘Suaranya jelek banget bangsat.’

 --
NGOPI DI RUMAH MBAH BUYUT

Di depan rumah, ada orang tua, kakek-kakek, berdiri seperti sudah tahu bahwa hari ini akan ada tamu yang berkunjung. Tidak ada yang tahu nama kakek ini, namun Pak Prabu memanggilnya Mbah Buyut (Berarti ada, Monyet!). Setelah pak Prabu menceritakan semuanya, wajah Mbah Buyut tampak biasa saja, seperti tidak tertarik dengan cerita pak Prabu.

Sesekali, Mbah Buyut terlihat menatap Widya, seperti mencuri pandang.
Kresnoadi pun membuka percakapan. ‘Mata dijaga,’

Dengan suara serak (mungkin gara-gara kegep Kresnoadi, kita juga gatau), Mbah Buyut masuk dan membawakan 6 gelas kopi. Kresnoadi menatapnya penuh curiga. Abis liatin Widya kok bawa-bawa kopi. Kayak yang sering diputer di reportase investigasi nih.

‘Monggo,’ kata Mbah Buyut. Matanya lagi-lagi memandang Widya.
‘OHOEK! OHOEK!’ Kresnoadi pura-pura batuk, membuat kode perlindungan.

Respon diterima. Widya menolak dan mengatakan tidak pernah meminum kopi (hihihi mampus lo yut!). Namun sayang, senyuman ganjil Mbah Buyut berhasil membuat Widya sungkan. Apalagi orang ini baru kita kenal dari Pak Prabu (huhuhu bangke lo yut!). Yowes, dengan penuh rasa tidak enak hati, Widya tetap meneguk kopi itu meski cuma sedikit.

Kopinya manis dan tercium aroma melati, kata Widya. Dia pun meminum habis kopi di hadapannya.

Wahyu dan Ayu kaget.
Pak Prabu tegang.

‘AUS APA DOYAN LO? HAHAHAHA!” Bacot emang Kresnoadi ini.

Tawa Kresnoadi membuat suasana jadi canggung. Mereka semua pun ikut tertawa, gak enak aja. Meski di dalam hatinya, mereka penasaran juga. Masa ada kopi manis beraroma melati? Akhirnya, mereka ikut mencoba kopi yang disiapkan. Tapi? Apa yang mereka berempat dapat? Rasa kopi yang pahit. Teramat pahit hingga tidak bisa ditolerin masuk ke tenggorokan. Wahyu dan Ayu geleng-geleng tidak karuan.

Tapi tidak dengan Kresnoadi.

Ia justru manggut-manggut. Seperti ada pikiran yang hendak dilontarkannya. ‘Hmmmm. Robusta ya ini? Dari Toraja?’ Sambil mengangkat kedua jempol, dia bilang, ‘Kopi Mbah Buyut, Numero Uno!’

Ia pun mengeluarkan hape dari sakunya dan bilang, ‘Foto dulu, Boy. Apdet stories dulu gue.’ Ya, Kresnoadi memang pecinta kopi, pengagum senja, penjudi bola.

‘Begini’ Mbah Buyut mulai menerangkan menggunakan bahasa jawa yang halus sekali.

Hingga tidak ada satupun di antara mereka yang mengerti.

Setengah jam kemudian, di depan rumah Mbah Buyut, mereka saling bisik, ‘Brengsek. Kenapa gak ada yang mau ngaku kalo kita gak ngerti bahasa dia dah?’

‘Lah, elo, Wid.’
‘Lah, elo dong, Yu.’
‘ELO ANJIR, Di!’
‘Dih, gue mah numpang ngopi. ELO ANJIR.’

Mereka pun pulang dengan tangan hampa.

--
Itu dua momen yang kebayang kalo gue ikut KKN di desa penari. Kaknya bukannya jadi seru, keberadaan gue bakalan jadi penghancur deh. Bisa bisa pas bagian Ayu nari, gue malah ngeluarin tape recorder sambil nge-rap. Hehehe. Abisnya gimana, namanya juga ngarep ikut KKN.

Lo sendiri, pengalaman KKN apa yang paling lo inget? Apakah seseru cerita viral KKN di Desa Penari ini? Atau jangan-jangan kayak gue lagi, belom pernah ngerasain yang namanya KKN. \:p/
Suka post ini? Bagikan ke:

Thursday, September 5, 2019

Menyiasati Desain Hape Jaman Sekarang dengan Custom Case Handphone Terbaik


Artikel ini membahas tentang apa saja manfaat menggunakan custom case handphone terbaik dan perbedaan desain hape sekarang dengan zaman dulu 

--
Percaya gak percaya, kalo lagi iseng, gue demen nontonin video-video review hape dan laptop. Ya, gue adalah bagian dari kaum pecinta teknologi bagian NDBK alias Nonton Doang Beli Kagak. Hal ini ngebuat gue sedikit banyak mengamati perkembangan hape. Mengamati yang gue maksud adalah menggumam “Hmmm keren juga nih desainnya” saat reviewer ngebuka bungkus hape dan mengalirkan ingus dari mata pas reviewernya bahas Snapdragon Quadcore… Octacore… Core…k Cuping…

Dan sekarang, gue jadi sadar satu hal: hape jaman sekarang gede-gede banget, men! Buset deh. Saking gedenya, hape jaman sekarang udah gamuat dikantongin lagi. Makenya aja udah harus dua tangan. Dibuat teleponan malah nutupin semuka-muka. Ini sih udah bukan handphone lagi, tapi lebih ke facephone.

Seinget gue, pas gue SMA desain hape tuh berlomba-lomba jadi yang paling kecil deh. Berhubung masa itu hape belum touchscreen, jadi lah “desain yang makin kecil” itu ngebikin keypad-nya dempet-dempet. Buat orang yang punya jempol super gede kayak gue, ngirim SMS (iya, SMS) jadi suka typo. Niat mau ngetik, “Hi, lagi apa?” malah jadi “Hi, lagi a;g0e-ag”

Pedih…

Well, kalo diinget-inget lagi, kadang kangen juga sih. Masa di mana bentuk hape masih random dan banyak banget variasinya. Ada N-gage yang kayak stik ps, Nokia N90 yang mirip handycam, Motorola yang bisa diflip dan bikin berasa jadi agen rahasia, atau malah communicator yang segede tempat pensil. Hal lain yang bikin kangen: kita bisa ngetik tanpa harus ngeliat hape. Saking apalnya letak keypad, jadi udah kebiasa (dan kadang ngetik sambil ngumpet-ngumpet biar gak ketahuan guru). Hahaha. Miss these old days.

Di masa kegelapan itu, gue pernah iseng sekali waktu beli hape touchscreen bekas. Merknya gue lupa. Tapi warnanya kombinasi biru dan abu-abu, lengkap dengan pulpen yang bisa dipakai menggambar. Pas pertama kali gue bawa ke sekolah, niat pamer gue langsung sukses menuai hujatan. Katanya, “Itu hape apa batu bata?” Gak terima, gue bales dengan, “Monyet! Kok lo bisa tahu?!”

Eeeh sekarang produsen hape malah berlomba-lomba bikin hape dengan ukuran gede. Bajingan.

Selain ukurannya yang membesar, layar hape sekarang juga dibikin gede. Gatau kenapa seolah-olah layar makin gede, hape makin canggih dan baru. Masalahnya, layar yang gede ini suka bikin gue katro sendiri. Gue pernah sekali waktu minjem Galaxy S9 temen, terus dalam hati ngomong, “Ini gimana caranya ya biar gue bisa megang tanpa nggak kepencet apa-apa…”

Emang apa salahnya sih kalo bentuk hape tuh kecil aja?

Seinget gue, dulu hape sengaja dibuat kecil biar gampang dibawa ke mana-mana deh. Jadi, ketika ada orang lain yang pengen nelpon, kita bisa dengan gampang ngerogoh kantong dan jawab panggilan dia. Sekarang, gara-gara hape segede bagong, kebanyakan orang naroh hapenya di tas. Belom lagi anak jaman sekarang hobi nge-silent. Jadi lah kita kagak denger apa-apa kalo ada telepon. Ya abisnya gimana? Kalo maksain ngantongin dengan ukuran segitu juga aneh. Kantong jadi gembung. Diliatnua pun gak asik. Yang ada orang-orang bakalan nanya, “Sejak kapan lo punya tumor di betis?”

galaxy note 10 lebih bagus pake custom case


Selain dari segi ukuran, gue juga merasa perusahaan pembuat hape ini kok kayak sok ide. Makin ke sini makin ngeluarin hape dengan warna-warna ajaib. Liat aja tuh hape Samsung Note yang paling terakhir. Warnanya udah kayak motor alay yang dicat metalik.

Entahlah. Mungkin orang-orang menganggap itu keren kali ya. Tapi gue mohon lah. Kalo bikin warna-warna begitu, tambahin juga warna basic kayak hitam dan putih. Gak perlu ngide dengan nyampurin warna macem-macem jadi satu.

Buat menyiasati yang gini-gini, gue sih mending pake custom case handphone tambahan. Tinggal bikin aja di Porinto. Abisnya kan sayang, kita udah naksir banget sama spesifikasi hapenya… eh malah ngagk sreg gara-gara desainnya yang begitu. Jadi ya mending gue bikin desain sendiri untuk menutupi warna ajaib tadi. Belum lagi kalau baterainya menggendut.

custom case handphone terbaik porinto


Well, paling nggak casing tambahan juga ngejaga si hape dari benturan ringan. Jadi kalo jatuh atau kebaret nggak langsung fisik hapenya. Lagian, make custom case juga ngebuat hape kita jadi “beda” dan gampang dikenalin dibanding hape orang yang sama. Kan kadang suka banyak tuh kalo pas nongkrong hapenya samaan, eh malah takut ketuker karena bentuknya mirip-mirip.

Kalo lo sendiri, lebih suka pake casing tambahan apa nggak?
Suka post ini? Bagikan ke: