Monday, December 2, 2019

Tulisan untuk Bapak


Gue masih ingat saat Nyokap kehabisan kata tiga bulan lalu. Dia masuk kamar kerja gue, lalu berdiri dan mengeluh. “Bisa tolong kamu yang bikin kata-katanya nggak, Dek? Ibu takut nggak sanggup.”

Gue menengok, melihat raut wajahnya.
Wajah yang khawatir dilahap kata-katanya sendiri.

Gue lalu membayangkan dua halaman kosong di sebuah buku. Tempat di mana kata-kata itu akan tergeletak selamanya.

“Iya, nanti aku bantu deh,” jawab gue.

Nyokap lalu nyengir. Lepas dari jaring kata-kata yang ia takutkan, lalu berjingkrak keluar. Di pikiran gue, dua halaman itu masih kosong.

Namun, seperti Nyokap biasanya, pikirannya tak pernah mati. Dia menyala dan mengobarkan mata. Malamnya, dia ngabarin kalau tulisannya udah selesai. Gue nggak perlu bikin apa-apa lagi.

“Ibu bikin tulisan biasa aja deh,” kalimat yang gue balas dengan hehehe. Dia memperlihatkan hasil tulisannya, dan kami sepakat meletakkannya di dua halaman kosong tersebut, lengkap dengan tambahan satu gambar.

Kemarin, gue baca lagi tulisan itu dalam bentuk buku. Sebagaimana yang suka gue tulis di blog ini, gue punya cita-cita menerbitkan buku komedi. Jadi, ketika memegang buku ini, rasanya agak aneh. Di satu sisi gue kayak, “Oh, gini toh memproduksi buku. Memegang fisiknya. Membalik halamannya satu per satu.” Gue bisa dengan sangat narsis ngebuka buku itu malam-malam, tanpa sepengetahuan siapapun, untuk gue baca sendiri. Di sisi lain gue kayak, “Apa ini nggak terlalu serius untuk seorang Kresnoadi?”

Anehnya, setelah ngeliat bentuk fisiknya, timbul perasaan untuk mengisi dua halaman yang udah penuh itu.
Maka, inilah tulisan versi gue:

--
Ketika mata bertemu mata. Gema bersuara sunyi. Aku selalu bisa merasakannya. Kapan dia marah, kapan ia setuju, kapan ia merasa bangga, kapan ia khawatir. Sewaktu aku sekolah dahulu, dia tidak pernah mau kalah. Duduk di meja, laptop ia buka di sebelah telepon. Mempelajari Teknik AutoCAD dari CD yang entah dibeli di mana.

Kami jarang bicara.

Tapi ketika mata bertemu mata, gema bersuara sunyi, aku mampu merasakannya. Sewaktu aku sekolah dahulu, internet mengajakku main di ruko depan kompleks. Bapak menjemputku dan bertanya, “Dari kapan di sini?”

Pertanyaan yang kujawab dengan masuk kamar sampai sore.
Gemetar seluruh tubuh.

Kami sungkan cerita.

Tapi ketika mata bertemu mata, gema bersuara sunyi, aku sanggup melihatnya. Sewaktu aku selesai sekolah dahulu, Bapak keluar dari mobil kijang tua itu. Duduk berdua bersama ibu di tikar piknik, di sebelah penjaja boneka wisuda. “Sebelum pulang kita foto dulu ya.”

Senyumnya tidak bisa dibeli dengan SPP.

Maka ketika mata bertemu mata, gema bersuara sepi, dan organ-organ tak kuat lagi, aku ingin duduk di sebelahnya. Membaurkan al fatihah ke tengah awan. Yang menjadikannya hujan. Yang menjadikannya subur di jalan yang aku pijak.

--
Gue dulu punya cita-cita menerbitkan buku komedi.
Buku pertama gue malah buku yasin. Hidup gue yang komedi.



Dunia memang cuma tempat main dan senda gurau belaka [6:32]
Suka post ini? Bagikan ke:

5 comments:

  1. Pengen ketawa tapi haru juga.
    Gue nggak siap deh kehilangan bapak apalagi nulis kata-kata kayak lo gitu.

    ReplyDelete
  2. Hawadis, Yoga A.S., N Firmansyah, and 30 others like this.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue jadi kepikiran sama nama Yoga yang kepanjangannya disingkat begitu, kayaknya keren kalo 'A.S' jadi ciri khas gitu, atau bisa dengan simbol kartu AS di kartu remi sebagai ciri khasnya. Mending foto profil yoga pake kartu remi aja deh.

      Haduh malah jadi gini..

      _______

      Jujur, sekarang keluarga gue masih lengkap, dan baca ini perasaan gue berasa kacau; berasa takut & gak siap kalo suatu waktu merasakan kehilangan juga.

      Delete

Kalo kamu suka sama tulisannya, jangan lupa untuk bantu share dengan tekan tombol sosmed di atas yaa. \:D/

Untuk yang mau main dan ngobrol-ngobrol, silakan add LINE di: @crg7754y (pakai @). Salam kenal yosh! \(w)/