Sunday, August 25, 2019

cerita sedih kecil ini


Semua orang telah tidur. Lampu meja di belakang laptop gue nyalakan.
Sekarang, gue sedang tidak ingin berbasa-basi.

Gue memang dikenal sebagai orang yang cuek. Acuh. Tidak punya pakaian lain selain kaos hitam dan celana panjang. Rambut jarang ditata. Beberapa orang bertanya apakah gue sudah mandi tepat setelah gue selesai mandi. Semua hal tadi dikombinasikan dengan tingkah gue yang selalu bercanda dan tertawa. Seakan-akan, hidup gue selalu asik dan menyenangkan. Beberapa orang menyatakan hidup gue tidak punya beban dan gue mengamininya.

Maka, tulisan ini gue buat.

Dalam sebuah wawancara, Sapardi pernah bilang kalau masa awal dia menulis adalah masa yang paling berat. Banyak penerbit yang berkata bahwa tulisannya tidak masuk akal. Ini yang membingungkan Sapardi. Pasalnya, semua tulisan itu dia buat berdasarkan kisah nyata. Dari sana, Sapardi belajar bahwa fiksi lebih nyata dari fakta.

Pandangan orang tentang gue yang begini gini, dan begitu gitu, bisa jadi adalah fiksi dalam kepala seseorang. Maka, ketika gue merasa sedih, seperti halnya respons penerbit kepada Sapardi, orang jadi tidak percaya dengan apa yang gue alami.

Tulisan ini gue buat sebagai pengingat bahwa gue pernah sangat, sangat merasa sedih dan kecewa. Bagaimana gue merasa hidup ini seperti fiksi. Bagaimana piring di dapur tiba-tiba pecah. Bagaimana lampu kamar hotel tiba-tiba berkedip. Bagaimana anak laki-laki berlari di lorong rumah sakit. Bagaimana perawat memperbolehkan keluarga masuk ke ruang ICU. Bagaimana kaca lebar di lorong itu memperlihatkan Bokap yang terbaring di dalam sana. Bagaimana bunyi semua peralatan rumah sakit di sekitar Bokap. Bagaimana lantunan ayat suci dikumandangkan keluarga. Bagaimana kotak obat dibuka terburu-buru. Bagaimana alat di sekitar Bokap ditekan, diputar, dimasukkan jarum suntik. Bagaimana perawat mengusir seorang anak karena jam besuk sudah habis. Bagaimana anak laki-laki tadi keluar dari ruangan, dan berjalan gontai di lorong. Bagaimana kaus kaki biru yang dikenakan sangat tidak matching dengan suasananya. Bagaimana gue memohon agar hidup bisa di-pause sebentar karena gue butuh istirahat. Bagaimana gue berbalik badan, meringkuk di tembok sambil menangis.

Senin yang lalu, dokter menceritakan kondisi Bokap. Pembuluh darah pangkal jantungnya tersumbat total. Dia berterus terang kalau 85%, bokap tidak akan selamat. Seharusnya, kata dokter, Bokap segera dibawa ke rumah sakit jantung untuk diberi tindakan, tapi karena ini dan itu, organ yang ini begini dan yang itu begitu, kondisinya tidak memungkinkan. Bokap hanya berbaring di ranjang. Mulutnya dimasukkan alat untuk membantu pernapasan sehingga tidak bisa bicara. Lengkap dengan alat yang ini untuk membantu ini, dan alat yang itu untuk membantu itu.

Sialnya, kondisi ini ditambah dengan pekerjaan kantor yang tidak kunjung selesai. Masalah ini yang harus diselesaikan dengan begini, dan masalah itu yang harus diselesaikan dengan begitu. Kesempatan bertemu Bokap pun sebatas pukul sebelas sampai satu siang, dan pukul lima sampai tujuh malam. Kesempatan yang selalu diawali dengan semoga, dan diakhiri dengan kenapa.

Senin sebelum tujuh malam, gue bercerita banyak. Di sebelahnya, gue mengingat masa sekolah. Saat gue dan Bokap sering main bulutangkis bareng di depan rumah. Saat gue yang menunggu Bokap datang membawa oleh-oleh sepulang dinas. Gue berterima kasih karena Bokap mengajarkan caranya mandiri. Mengajarkan caranya peduli dengan bertindak. Mengajarkan caranya menjadi baik, dan menutup telinga dari perkataan-perkataan orang lain.

Selasa pukul 10:33, Bokap mengajarkan makna kehilangan.
Bapak tahu aku sayang bapak, dan Allah lebih.
Suka post ini? Bagikan ke:

16 comments:

  1. Innalillahi wa inna ilaihi rajiuun.
    Semoga semua sakit yang kemarin menjadi penggugur dosa.
    Semoga semua amal ibadah yang dilakukan diterima Allah.
    Semoga diberi kelapangan kuburnya.

    Semoga keluarga yang ditinggalkan.......yang terbaik dari Allah.

    Subuh tadi suami dapat kabar, seorang teman dekat, sekamar kosnya waktu kuliah wafat. Jadi kembali berpikir tentang kehidupan dan kematian untuk diri sendiri, orang-orang terdekat+tersayang, dan yang mati.

    Semoga Allah ridha.

    ReplyDelete
  2. Emang rumusnya begitu kata para penulis. Fiksi harus masuk akal, sedangkan kenyataan boleh tidak. Dalam salah satu esai, Pak Sulak sempat menulis begini, "Di dalam fiksi, orang-orang tidak akan percaya dengan seseorang yang dulunya pembunuh dan terjerat kasus HAM mencalonkan diri sebagai presiden. Rakyat bodoh mana yang bersedia memilihnya? Pembaca jelas tidak dungu. Mereka tidak akan percaya dengan kisah semacam itu. Tapi di kenyataan, itu mungkin lumrah saja terjadi."

    Turut berduka cita, Di. Alfatihah. Aamiin.

    ReplyDelete
  3. Stay strong Di! He does not feel any pain no more and is in a much better place now! Keep your spirit in showing that you are a cool kid. Thanks for writing and sharing btw.

    ReplyDelete
  4. Aku selalu merasa sedikit lebih beruntung karena kehilangan alm bapak disaat aku masih kecil. Tidak terbayang bagaimana rasanya kehilangan orang yang teramat kita sayangi sepaket dengan semua kenangan2nya.

    Semoga bapaknya Bang Kribo ditempatkan disisi terbaik-Nya.
    Stay strong :)

    ReplyDelete
  5. Turut berduka, mas. Beliau pasti mendapatkan tempat yang baik di sisi-Nya. Karena sudah mendidik seorang anak laki-laki yang baik dan menginspirasiku untuk tetap semangat ngeblog.

    Terimakasih sudah mau berbagi dan menulis, mas Kresnoadi.

    ReplyDelete
  6. Inalillahiwainaillahirodjiun :')
    yang sabar tabah dan ikhlas yah..
    semoga beliau ditempatkan diantara orang - orang mulia di sisi-Nya. amin

    ReplyDelete
  7. Turut berduka yang sedalam-dalamnya, bang. Tetep jadi bang Adi yang semangat dan ngegas yak!

    ReplyDelete
  8. Innalilahi. Sing sabar. Sing kuat. Semoga beliau ditempatkan di sisi terbaik-Nya.

    ReplyDelete
  9. Innalillahi
    semoga di tempatkan di tempat yang terbaik
    semoga semua amal nya diterima Allah

    Be strong, Di

    ReplyDelete
  10. Innalilahi wa innaililahi rojiun. Turut berduka cita. Semoga amal ibadah bapak diterima Allah dan diampuni semua dosanya. Aamiin

    ReplyDelete
  11. Innalillahi wa innalillahi rojiun. Semoga segala amal ibadahnya diterima, sekarang bapak udah ga sakit. Semangat bang Adi!!!

    ReplyDelete
  12. Innalilahi wa innaililahi rojiun
    Bapak udah bahagia di sana dan ngga sakit lagi bang:')

    Allah sangat sayang bapak:))

    ReplyDelete
  13. Pergantian kata Gue ke Aku kerasa personal banget Di.

    Turut berduka cita ya, semangat dan ikhlassss! :)

    ReplyDelete
  14. Turut berduka cita ya Adi~
    its okay to be not okay. :)

    ReplyDelete
  15. Turut berduka cita, Bang. Bapak udah tenang dan bahagia di sana. :')

    ReplyDelete

Kalo kamu suka sama tulisannya, jangan lupa untuk bantu share dengan tekan tombol sosmed di atas yaa. \:D/

Untuk yang mau main dan ngobrol-ngobrol, silakan add LINE di: @crg7754y (pakai @). Salam kenal yosh! \(w)/