Wednesday, March 27, 2019

Goodbye Keriba-Keribo! :(


kopdar blogger


Gue baru aja selesai ketemuan sama blogger murtad lain.
Namanya Tiar, pemilik planetyar.

Seperti blogger murtad pas ketemuan pada umumnya, kita ngomongin gimana awal mulanya bisa kenal, lalu zaman-zaman masih getol ngeblog. Tidak lupa sesi ngegosipin blogger yang jadi panutan kita semua. Mulai dari Siluman Capung, Ayam Sakit, dan Tulisan Wortel.

‘Coba cek berapa DA lo, Di!’’ Tiar mencet-mencet layar hapenya, ngetik alamat blog keriba-keribo di situs pengecekan DA dan PA, dua makhluk sakral yang jadi hidup matinya blogger buat nyari duit.

‘HAHAHAHA 15! Kecil amat!’ Tiar ketawa.
Gue ikut ketawa, biar dibilang gaul aja. Padahal nggak ngerti.

Katanya, DA yang bagus adalah yang di atas 20. Dengan memiliki DA segitu, seorang blogger dianggap mumpuni untuk menerima content placement. Ketika seorang blogger sudah memiliki DA di atas 30, maka ia termasuk sebagai dewa blog. Ketika ada brand melakukan penawaran “Kami tertarik dengan blog Anda. Kami menawarkan content placement dengan fee 300.000. Silakan balas email bila tertarik.”

7 menit gak dibalas, si brand email lagi. “Baik. Baik. Ampuni hamba, Tuan. 500 ribu akan saya beri.”

Begitu nikmat menjadi dewa blog.

Tiar ngetik nama blognya…
… DA-nya 13.

GELANDANGAN!

Mendapat angka sial seperti itu, mungkin brand akan memberikan penawaran dengan, “Mau content placement? Sebagai imbalan, Anda akan saya beri ikan asin 200 gram.”

Pedih.

Sebagai blogger murtad, tentu pembicaraan soal blog sebagai alat penghasil uang musnah begitu saja. Kami kembali ngomongin masalah blog dan tulis-menulis, sampai akhirnya, kami ngomongin soal pemilihan nama blog.

7 tahun lalu, saat gue memilih nama keriba-keribo sebagai alamat blog, gue nggak pernah ngerasa ada yang salah.

Tapi sekarang,
kok rasanya malu ya?

Beberapa bulan lalu, misalnya. Gue kenalan sama orang di kantor. Setelah asyik ngobrol dan gue merasa macho abis, seperti anak muda umumnya, dia nanya, ‘Eh, lo ada instagram?’

‘A-ada.’

Dengan antusias cewek ini ngeluarin hapenya. Dia natap gue, matanya gede kayak kucing minta dikasih makan. ‘Apa namanya?’

‘keribakeribo. Hehehe.’

‘EH APA KABAR RANGGA?!’ dia nyapa cowok yang lewat, lalu pergi ninggalin gue.

Esianjing.

Pas gue nengok, cowok itu temen gue. NAMANYA ASEP.

Sedih kalo diinget-inget mah.

Dengan nama blog seperti ini, gue juga jadi agak gimanaa gitu kalo pas interview cari kerja. Berikut adalah dialog yang biasanya terjadi:

HRD: Kamu mau lamar jadi content writer ya?
Gue: Iya, Mbak!
HRD: Sering nulis?
Gue: Iya, Mbak!
HRD: Punya blog?
Gue: Iya, Mbak!
HRD: (buka laptop, siap-siap ngetik) Namanya apa ya?
Gue: Keriba-keribo. Hehehe.
HRD: Kok nggak ada ya?

Pas gue liat laptopnya, dia ngetik
“KRIBAKRIBO.COM”

Gue: I-itu salah, Mbak. Pake ‘e’. Dua. Jadinya ‘ee’.
HRD: Ee’?
Gue: Iya, Mbak. Ee’
HRD: Kok agak bau ya?
Gue: Gimana, Mbak?
HRD: Ini kok masih nggak ada ya?
Gue: (mikir) Oh, pake tanda strip, Mbak.
HRD: Gimana?
Gue: Tulis nama saya aja mbak di google…

Peluang keterima kerja: -78%.

Setelah gue cerita gitu, Tiar juga ikutan mikir. Kok bisa ya, gue segoblok itu jaman dulu? Menurutnya, sewaktu masa-masa awal ngeblog, nama blog selalu ada formulanya.

Formula pertama, kata Tiar, adalah menggabungkan blog sebagai wadah/passion + nama pemilik.

Contoh: Planetyar
Asal: Planet + Tiar.

Nama blog: Galaksipungky
Asal: Galaksi + Pungky

Nama blog: Tulisanwortel
Asal: Tulisan (blog sebagai wadah menulis) + Wortel (??????)

Formula kedua, kata Tiar, adalah menggabungkan nama-nama hewan. Jenis nama seperti ini beredar setelah kambingjantan, blog Raditya Dika, meledak.

Contoh:

1. Siluman Capung √
2. Ayamsakit √
3. Tulisan wortel (????)

Oke, mungkin tulisanwortel masuk ke formula pertama (Siapa tahu nama asli pemilik blog ini adalah Heru Wortel??? Atau di formula kedua, paling tidak perubahan “hewan” menjadi “tumbuhan” masih deket).

Bandingkan dengan keriba-keribo.

Keriba-keribo.

DI KBBI AJA GAK ADA KATA “KERIBA”.

Kok gue ngaco amat ya?

Lihatlah nama blog dan media sosial saat ini, mereka semua menggunakan nama asli. Orang yang punya nama Sarah Puspita, misalnya. Akun instagramnya pasti bernama Sarahp. Paling jauh Sarahpspt. Disingkat konsonannya. (ya kalo yang disingkat huruf vokalnya jadi aneh sih. “Apa nama ig lo?” “AAUIA” “Monyet lo!”).

Di zaman sekarang, nggak ada nama norak kayak keriba-keribo. Apakah ini saat yang tepat untuk mengucapkan goodbye keriba-keribo? :(

Saat gue SMP dulu, guru komputer gue pernah ngajarin untuk buat blog. Dan semua anak kelas… ngasih nama serandom gue. Ada lah “DiaryPuspa”, “NyamukPutih”, “Marmutngesot”. Gak ada tuh pas guru gue nanya, dijawab: “Nama blog saya… Dwipurwoto.blogspot.com, Pak!”

Kalo ada, pasti udah dihardik habis-habisan.

Setelah diselidiki, ternyata penyebabnya karena di zaman dulu, orang-orang tampil di media sosial dengan persona. Orang menggunakan media sosial dengan identitas yang berbeda, atau setidaknya, sisi lain dari identitas kita. Itu lah sebabnya muncul kambingjantan, landakgaul, dan poconggg. Itu lah kenapa, ketika dulu kita daftar forum Kaskus, yang pertama terbersit adalah nama-nama aneh kayak Kecoa Buduk, Sapi Perjaka, Mobil Sampah. Gak pernah ada orang zaman dulu kepikiran buat Kaskus dengan username… Dedi Supriyadi.

ITU MAU BIKIN USERNAME KASKUS APA TES CPNS?

Saat ini, orang menggunakan dunia maya dengan personal branding. Kita lebih tertarik pada sosok yang nyata, dan dapat dipercaya. Sehingga penikmatnya merasa dekat dengan orang tersebut.

Well, kalau mau dipikir lebih jauh, “jenis nama” orang juga berpengaruh gak sih? Manusia di zaman gue remaja, punya nama yang terkesan kuno, dan kurang trendi. Semasa gue SMP, murid yang punya blog dengan nama “Purwoto.com” pasti akan langsung dihujat beramai-ramai.

ITU BLOG APA NOTARIS PPAT?
ITU COCOKNYA DI BILLBOARD DI BAWAH TULISAN “PAPAN REKLAME DAN PASANG IKLAN DI SINI”

Jahat.

Bandingkan dengan nama anak zaman sekarang. Annisa, Cristalishya, Alicia. Nama-nama yang keren dan bakalan langsung cocok jadi nama blog atau medsos. Perhatikan nama-nama ini, di dunia nyata, mereka semua dipanggil “Ica”. Ada apa, sih, dengan nama ica ini? Kenapa orangtua memutuskan ngebuat nama yang aneh-aneh kalau pada akhirnya mereka dipanggil…. Ica.

Yang lebih aneh adalah, kenapa gak ada orang yang beneran punya nama “Ica” di nama panjangnya. Apa susahnya naroh rangkaian tiga huruf “I” “C” dan “A” gitu. Sekalinya ada, pasti muncul huruf “H” di tengah-tengah. Jadi Icha.

EMANG APA PENGARUHNYA SATU HURUF GITU HEI?

Apa jadi nambah keren?

Nama: Acep
Ganti jadi: Achep.

TIDAK BERPENGARUH NYATA!
Suka post ini? Bagikan ke:

Sunday, March 17, 2019

Hal-hal yang Seharusnya Gue Pikirkan Ketika Gue Memikirkan Hal-hal yang Tidak Seharusnya Gue Pikirkan


Kemaren adalah minggu yang cukup menguras emosi. Ada beberapa hal yang bikin gue lumayan stres dan capek. Jeleknya, ketika menghadapi hal-hal kayak gini, otak gue sering nggak bisa diajak kerja sama. Masalah yang seharusnya berakhir di satu titik, justru berjalan ke mana-mana dan gamau berhenti. Gue mikirin penyebabnya, dan penyebabnya lebih jauh, dan apa yang akan terjadi kalau gue melakukan hal ini, dan apa yang terjadi kalau gue melakukan hal itu. Di pikiran gue seperti ada tinta yang menetes yang semakin lama semakin meluas, dan membuat semuanya jadi makin hitam dan rumit.

Pikiran buruk itu akhirnya membawa dampak selanjutnya. Mood jadi berantakan. Fisik juga nggak fresh karena males-malesan. Makanya, gue coba untuk ngebuat daftar dari hal-hal yang seharusnya gue pikirkan ketika gue memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya gue pikirkan ini. Jadi, ketika gue mulai overthinking, gue bisa baca daftar ini, dan nggak terseret ke lubang kegelapan terlalu jauh.

Satu. Bangun lebih pagi dari alarm dan matiin alarm-nya sebelum sempat bunyi. Punya waktu beberapa jam lebih untuk beraktivitas di pagi hari.

Dua. Buka pintu, mencium udara pagi, lalu menyadari kalau di atas keset ada kucing lucu yang tiduran. Gue melangkahinya, lalu dia berdiri dan menempelkan badannya di kaki.

Tiga. Ketawa canggung karena mengucapkan sebuah kata yang sama berbarengan dengan orang lain.

Empat. Ngeliatin mobil lewat sambil duduk sambil dengerin lagu pakai headset tanpa ada notifikasi dan orang yang mengganggu.

Lima. Tiduran di ruangan berkarpet sambil menonton band memainkan musik jazz seperti di Java Jazz 2014 ini.

Enam. Kopi darat dengan teman online yang udah lama kenal, lalu ngebahas hal yang biasa dibahas di dunia maya secara langsung.

Tujuh. Suara percikan api dari kayu yang dibakar di depan tenda. Ketika semua orang udah masuk ke perkemahan untuk tidur, dan tinggal kamu dan langit sedang cerah-cerahnya.

Delapan. Lagu yang kamu suka diputar secara tidak sengaja di radio.

Sembilan. Kaki yang dibasahi gelombang kecil di pesisir pantai. Dengan ritme yang sama. Berkali-kali. Dan suara ombak menerpa tebing di ujung sana.

Sepuluh. Kebiasaan gue dan teman-teman sewaktu kecil untuk melompati bayangan mobil dan motor ketika lari pagi.

Sebelas. Sendirian di lift yang di bagian atasnya ada CCTV. Tanpa sadar bergaya dan dadah-dadah ke sana.

Dua belas. Ucapan terima kasih dari pengisi bensin di SPBU.

Tiga belas. Perasaan melepas celana ketika seharian bekerja, sampai menimbulkan bekas garis-garis di daerah pinggang.

Empat belas. Bunyi adonan telur yang dimasukkan penggorengan penuh minyak. Momen di mana si abangnya memasukkan lidi dan memutarnya. Momen di mana gue bersiap merasakan gurih dan pedasnya sambal telur gulung.

Lima belas. Ide-ide yang bermunculan sewaktu mandi.

Enam belas. Perasaan ketika gue turun dari bus dan “Akhirnya, pulang kampung lagi!” Perjalanan menyusuri pecinan di kampung halaman. Beragam dialog dari orang yang bahasanya gue nggak paham. Tukang becak yang menawarkan jasanya.

Tujuh belas. Aroma roti bakar di pagi hari.

Delapan belas. Ingatan di mana gue main harvest moon berjam-jam sekali duduk. Teleponan sambil berpura-pura game itu bisa dimainkan secara online. Momen di mana kasetnya rusak, dan gue mengelapnya dengan kaos. Membalik Play Station supaya bisa dimainkan kembali.

Sembilan belas. Masuk ke kamar dalam keadaan capek, lalu mendapati bantal dan guling yang dingin.

Dua puluh. Perasaan setelah menemukan wallpaper baru yang cocok.

Ini lah dua puluh daftar yang bisa gue pikirkan ketika mulai mikirin hal-hal yang seharusnya nggak gue pikirin. Siapa tahu berguna buat lo ketika menghadapi masalah yang sama. Kalo ada yang mau nambahin, silakan tulis di kolom komentar ya. Buat nutup postingan ini, gue mau ngasih penggalan lirik All Time Low, "Maybe it's not my weekend, but it's gonna be my year."

Hope y'all have a great day! :)
Suka post ini? Bagikan ke: