Friday, September 28, 2018

Pesan untuk Orangtua: Bahaya Stunting dan Bom Waktu bagi Indonesia


Ada satu momen sewaktu SD yang bikin gue merasa beda. Momen itu bernama: Upacara. Ya, setiap senin, gue selalu berdiri di paling depan. Di antara teman-teman yang lain, gue adalah sosok yang paling dicari di senin pagi. Bukan karena gue ketua kelas, tapi karena gue… pendek.

Dan, gue benci menjadi pendek.

Dengan menjadi pendek, gue tidak boleh lupa membawa topi, dasi, dan segala perlengkapan lain yang dibutuhkan untuk upacara. Karena ada di posisi terdepan, udah pasti gue menjadi siswa yang paling mencuri perhatian guru di seberang. Atau dengan kata lain, gue mati pertama.

Hal ini menimbulkan dilema karena pas gue nengok ke belakang, ada beberapa teman yang lupa bawa atribut dan berhasil ngumpet dengan sukses. Gue masih ingat di suatu waktu, Ayu, temen sekelas, membantu gue dari hukuman setrap.

Dia menyerahkan dasinya ke gue. ‘Pake aja nih, Di. Gue kan ketutupan kerudung.’
‘Makasih, Yu!’ Gue nangis terharu.
‘Sama-sama…’ dia lalu nyengir, kayak cewek di sinetron, ‘… pendek.’

Gue nangis makin kenceng.

Hal lain yang bikin gue iri dengan status orang lain adalah, saat ketua kelas gue memimpin dan mengatur barisan. Sewaktu dia teriak, ‘Atur barisan. Lencang depaaan… Grak!’ Temen-temen gue di belakang dengan semangat langsung lencang depan. Kata ‘semangat’ itu maksudnya lencang-depan-dan-melampiaskan-hawa-nafsu-ke-bahu-orang-di-depan. Bahu gue penyok.

Dan gue gak bisa ninju siapa-siapa. :(

Satu-satunya kesempatan gue ikutan mukul adalah pas lencang kanan yang, kalau gue lakuin, artinya ngajak ribut anak kelas sebelah. Ini sesuai dengan peribahasa yang gue bikin sendiri: sudah bahu penyok tidak ada pelampiasan.

Menjadi pendek juga tidak asik ketika gue berada di lingkungan sosial. Selalu ada saat di mana teman kita bertanya, ‘Hah? Lo di mana sih?’ sambil pura-pura tidak melihat. Saat di mana gue hanya bisa menjawab pasrah ‘Di bawah’ sambil berharap menyikut testis seseorang bukanlah perbuatan dosa.

Kenapa sih mereka ngelakuin ini? Sisi minder gue muncul. Gue bahkan nggak pernah ngebales datengin temen gue yang tinggi dan hormat di depannya karena dia kayak tiang bendera.

Dengan menjadi pendek, kita juga harus siap mendapat julukan baru. Entah itu cebol, bantet, atau bogel. Di sisi lain, orang-orang pendek zaman sekarang mungkin akan mendapat julukan yang sedikit lebih keren: hobbit. Tapi, masa gue SD adalah zaman di mana setiap orang pendek mendapat akhiran ‘cil’ yang berarti ‘kecil’ pada namanya. Jadilah ketika itu gue sering dipanggil Acil. Adi kecil.

Untung pas kecil gue nggak botak. Bisa-bisa dipanggil Ayul. Adi tuyul.

Tentu, kekurangan ini ngebuat gue tidak percaya diri. Diam-diam, gue mencoba berbagai cara supaya tambah tinggi. Mulai dari minum susu setiap pagi (bukannya tambah tinggi, malah tambah mencret), mulai bergabung ekstrakulikuler basket, sampai minta Bokap untuk ngebeliin alat peninggi badan. Tahu, kan, alat di pusat kebugaran di mana kita harus tiduran, lalu memutar sebuah tuas dan si alat itu akan “menarik kepala dan kaki” secara bersamaan biar kita tinggi. Berhubung gue minta dibeliin Tamiya aja nunggu 2 minggu, maka niat terakhir itu gue ganti menjadi: minta temen narikin kepala.

Nambah tinggi enggak, leher gue jadi panjang.

Ya, semua orang pendek di luar sana pasti sadar bahwa menjadi pendek menjauhkan kita dari kata keren. Gue pernah sekali waktu menonton tayangan iklan sirup minyak ikan di mana ada cewek minta tolong cowok tinggi untuk ngambilin buku di lemari.

Sewaktu menonton itu, mata gue membulat lebar. Dalam hati gue bilang, ‘Wow.’

Beberapa hari setelahnya, Nyokap ngebeliin minyak ikan itu supaya gue tambah tinggi. Kayaknya dia salah nangkep deh. Seandainya Nyokap bawain si pemeran cewek, pasti gue akan lebih bahagia.

Tinggi badan gue tidak ada perubahan sampai gue masuk SMP. Zaman di mana kami, kaum laki-laki, mulai mengenal yang namanya perempuan. Dan itu artinya, gue nggak punya kesempatan sama sekali. Orang pendek mau ngapain coba? Kalau pelukan aja cuman nyampe di kaki. Dia jalan, gue nemplok di betis kayak koala.

Tinggi yang tidak seberapa ini juga ngebuat gue patah hati. Ketika itu, SMP gue sedang di perjalanan menuju Bandung untuk study tour. Kami singgah di pom bensin. Anak-anak populer banyak yang turun. Sementara gue dan Bobby hanya ngeliatin mereka dari kursi bus.

Tiba-tiba, dari belakang, gue mendengar cekikikan perempuan. Dia adalah Lona, salah satu dari daftar cewek populer di sekolah karena punya dua saudara kembar. Dia dan temannya meletakkan telunjuknya ke kaca bus. Di luar sana ada Bintang, cowok yang memang terkenal keren. Mereka berdua memuji kegantengannya lalu tertawa sendiri. Di saat gue berdiri menghadap belakang, Lona bilang, ‘Lo tahu gak, Di. Gue sebenernya juga mau sama lo. Asal lo tinggi aja.’

Gue gatau harus jawab apa. Alhasil, gue cuma ber ‘ooooh’. Kata ‘Oooh’ yang sama yang keluar ketika lubang pantat kamu ketusuk sesuatu.

Gue kembali duduk.
Saat itu, gue cuman mau pulang.

--
Beruntungnya, sekarang gue udah nggak separah dulu. Kayaknya, pertumbuhan gue cuman terlambat aja. Sewaktu SMA, gue mulai bisa "mengejar" pertumbuhan tinggi ini.

Tapi, tidak bagi penderita stunting.

Gara-gara kerja di bidang pendidikan, sekarang gue jadi tahu masalah stunting. Ya, stunting adalah penyakit kekurangan tinggi badan akibat kekurangan gizi. Awalnya, gue menganggap ini adalah permasalahan sepele. Cuma pendek aja. Terus kenapa?

Nyatanya, gue salah.

Perbedaan antara gue kecil dan teman-teman yang mengalami stunting ada pada: kekurangan gizi. Dan ini yang punya efek panjang. Karena kurang gizi, pada akhirnya, kemampuan kognitif mereka melemah. Pertumbuhannya terlambat. Ada satu film dokumenter yang dibuat narasi channel—Channel YouTubenya mbak Najwa Shihab—yang menggambarkan kondisi orang yang stunting.

Salah seorang pengidap stunting di Goronntalo (sumber: narasi.tv)


Pipit, seorang siswi berumur 15 tahun, bahkan jauh lebih pendek daripada Laura, adiknya sendiri yang berumur 13 tahun. Perbedaan tinggi badan mereka terpaut 20 sentimeter. Ika, Ibunya, mengaku kurang paham tentang pentingnya gizi sewaktu mengandung. Pipit sendiri lahir dengan panjang normal.

Saat usia 6 bulan, Pipit perlahan-lahan berubah.

Gerak-geriknya menjadi lambat. Cara dia berjalan, bekerja, menulis, jauh lebih lambat dari anak-anak sepantarannya. Sebelumnya, pihak posyandu sudah mengingatkan bahwa berat Pipit di bawah normal, tapi orangtuanya tidak tahu apa maksud dari ‘di bawah normal’ itu.

Selain Pipit, di Gorontalo juga ada Fitra. Teman kita yang lain pengidap stunting. Tingginya saat 9 tahun hanya 92 cm. Padahal, berdasarkan FAO, tinggi rata-rata di umur segitu mencapai 113 cm. Dan, kayak yang gue bilang, kekurangan gizi ini menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan otak yang terganggu. Dia menjadi tidak fokus ketika belajar. Perkembangannya pun terhambat.

Sekilas, mereka berdua mirip dengan orang-orang pendek lain.
Padahal, jauh berbeda.

hal yang berkaitan dengan stunting
stunting dan hal yang identik dengannya (sumber: narasi.tv)


Bisa jadi, di lingkungannya, dia akan mendapat bully, sama seperti yang gue dan orang pendek lain terima. Dia bisa saja dibilang cebol, pendek, kerdil. Padahal, secara biologis, penyakit keduanya berbeda. Kerdil bisa terjadi karena keturunan (hormon), tapi stunting adalah masalah pasokan makanan. Gizi yang tidak lengkap lah yang membuatnya seperti itu. Memang, ibu yang stunting punya peluang lebih besar untuk memiliki anak yang stunting juga. Tapi, itu bukan karena hormon si ibu. Melainkan tulang pinggul si ibu yang, karena stunting, punya ukuran lebih kecil dari normal. Hal ini membuat plasenta si ibu tidak berkembang maksimal. Alhasil, gizi yang diberikan si ibu ke anak sewaktu mengandung tidak optimal.

Mereka yang mengidap stunting memang lebih beresiko terkena penyakit stroke, ginjal, jantung, diabetes. Tapi,
bukan stunting penyebabnya.

Bukan stunting yang membuat dia tidak cerdas.
Bukan stunting yang membuat pergerakan dan pertumbuhannya terhambat.

Tapi makanan.

Stunting/pendek hanyalah salah satu gejala fisik yang terlihat. Mungkin mirip kayak bentol dan DBD. Bukan berarti bentol lah penyebab kita terkena Demam Berdarah. Tapi nyamuknya.

--
infografik stunting
penyebab dan pencegahan stunting (sumber: katadata.co.id)


Biarkan gue mengulang satu kalimat di awal tadi: awalnya, gue mengira stunting ini masalah sepele. Cuma satu/dua orang yang seperti itu. Terus kenapa?

Bisa aja gue membiarkannya dan itu akan menjadi masalah keluarga Pipit/Fitra aja. Masalahnya, ada 9 juta anak lain yang seperti mereka. Coba ingat deh. Berapa banyak anak kecil yang kamu liat di Instagram? Berapa banyak yang kamu teriakin, ‘Ih lucu!’ sewaktu melihat balita-balita ini berlari di mal sewaktu malam minggu?

Di antara 3 orang dari mereka, ada 1 yang mengalami stunting.

Dan ketika mereka sudah terlanjur tumbuh dewasa sebagai anak stunting, sangat kecil kemungkinannya untuk kembali normal. Padahal, ini berawal dari hal yang remeh; si orangtua yang kurang paham soal asupan gizi.

Gara-gara hal ini, bahkan negara sampai rugi 300 triliun/tahun.

Hal ini bisa jadi bom waktu bagi Indonesia.

Gue bisa membayangkan menjadi orangtua Fitra/Pipit ketika sadar anaknya stunting. Membayangkan setiap pagi, terbangun dan menatap anak gue yang tidak normal pertumbuhannya. Yang tidak baik perkembangan otaknya. Yang diledekin teman-temannya karena fisiknya pendek. Yang mendapatkan, semua yang gue rasakan sewaktu gue SD. Membayangkan psikologisnya terganggu. Membayangkan melihatnya berlari, dan mengetahui, bahwa yang dia alami adalah kesalahan gue sebelumnya.

Lalu bayangkan konflik lanjutan yang bisa terjadi; tetangga yang sering bertanya, ‘Kok kamu lebih kecil dari adekmu?’ orangtua yang menyalahkan satu sama lain, situasi di rumah, anak yang melihat tragedi itu, respon saudara kandungnya.

--
Sejujurnya, gue menulis ini karena mulai melihat banyak gerakan untuk menikah muda. Terus terang, gue sama sekali tidak masalah sama mereka. Gue hanya takut mereka tidak punya cukup pengetahuan akan hal ini. Gue hanya berharap, mereka tahu apa yang akan mereka hadapi; kemungkinan anaknya terkena stunting.

Kemungkinan mereka merasakan apa yang dirasakan orangtua Pipit dan Fitra.
Dan, ya, kita sangat bisa melakukan pencegahan stunting.

Here, I tell you.

gizi seimbang pencegah stunting
Yang dimaksud dengan gizi seimbang (sumber: Tirto.id)


Ketika kamu, atau istri kamu mengandung, pastikan dia mendapat asupan gizi yang cukup. Kalau bisa, berikan tablet darah minimal 90 tablet selama kehamilan (9 bulan). Yeah, saat ini, 1 dari 3 ibu yang hamil mengalami anemia. Karena sejatinya, anak bisa stunting kalau dia kurang gizi sejak 1000 Hari Pertama Kehidupan (270 hari pas di kandungan) dan 2 tahun pertama (730 hari pertama lahir).

Jadi, itu lah waktu yang tepat untuk mencegahnya.

Setelah lahir, cek tinggi badan si anak. Kalau dia kurang dari 48 cm, maka dia stunting. Dan gak usah panik. Kamu harus makan makanan bergizi cukup, lalu lakukan ASI eksklusif sampai 6 bulan pertama. Lakukan pengecekan rutin ke posyandu. Setelah lewat 6 bulan, si ibu bisa meneruskan ASI sampai 24 bulan, tapi kasih Makanan Pengganti Asi.

Intinya, sebagai orangtua, kamu harus menerapkan pola hidup bersih dan sehat, serta jaga gizi makanan sejak mengandung. Setengah piring untuk sayur dan buah, setengah piring untuk sumber protein (nabati/hewani), dan pastikan porsinya lebih banyak dibandingkan karbohidratnya.

Karena lebih baik kita cegah, sebelum stunting jadi megah. Jangan sampai pasrah, dan melihat anak tumbuh dengan lemah. Karena gue yakin, semua orang tua ingin anaknya sehat. Karena kelak, gue ingin anak gue sehat. Gue ingin Indonesia sehat.
Suka post ini? Bagikan ke:

Monday, September 17, 2018

Semoga Nggak Semencret Kemaren



Bener bener deh. Sampe sekarang belom kelar juga tulisan gue tentang Mengakhiri Cinta dalam 3 Episode. Oke, ketika gue bilang belum kelar, itu artinya… BELOM DITULIS SAMA SEKALI. Gimana mau jadi penulis handal coba? Hilang sudah momentum hamba. Sirna sudah panggung buat caper dan numpang tenar. Hehehe. But, I still wanna make this blogpost. So, here I am.

Di postingan kemarin, ada komen begini:

Hanna Ridha September 15, 2018 at 5:56 AM
Mungkin jadi banyak keraguan dalam menulis pengaruh dari kerjaan juga ya Bang Di? Jadi agak sulit untuk merubah haluan dari yang serius ke yang tidak serius kaya nulis di blog sendiri.

Nggak tahu juga sih ya. Sebenernya, kerjaan gue juga nggak seserius itu kok. Dan di kerjaan, gue juga jadi orang yang sama. Tetap membabi buta kayak biasa. Meskipun porsi babinya lebih gede daripada butanya sih.

Kayaknya, gue mulai agak “milih-milih” aja untuk ngepost sesuatu. Karena terbiasa nulis untuk kerja, perasaan perfeksionis jadi kebawa-bawa. Jadi takut salah atau gimana kali ya? Alhasil, malah gak nulis-nulis deh. Penyakit beginian nih yang nyebelin. :p

Masih lanjut dari post sebelumnya, kayaknya jadi banyak yang keinget awal mula ngeblog ya. Mulai dari yang pertama kali ngeblog ngeliat tutorial dari Youtube (Lihatlah perbedaan kasta kita, Sahabat. Gue ngeblog aja mainnya masih ebuddy. :(), ada yang ngerasa kalau tulisannya udah banyak berubah. Sampe Firman yang ikutan komen begini:

N Firmansyah September 7, 2018 at 10:43 AM
Gue jadi pengen nulis tentang pertama kali ngeblog. Tapi terus ingat projekan di Trello. What do you think?

Tanggapan:
Tulis aja deh, Man. Projekannya juga belum tentu jadi. Muahahaha.

Here’s a short version of mine: Gue inget banget kalo awal mula ngeblog itu karena salah satu senior di kampus lagi ngospek. Satu angkatan pada takut sama dia. Sampai pas di pensi kampus, gue ngeliat dia joget dengan gaya gorilla kesetrum. Tentu, gue gamau ingatan itu hilang begitu aja. Waktu dapet momen itu, gue kayak menggumam dalam hati, ‘Hmmm. Lihatlah. Lihat apa yang akan kulakukan nanti, Suratno.’

Akhirnya, gue cari tahu tentang blog dan mulai nulis deh.
Ya, awal gue ngeblog gak ada keren-kerennya sama sekali.

Selain ngomongin tulis-menulis, kayaknya sekarang mulai banyak juga yang tertarik untuk main podcast ya? Dan ya, sampe sekarang gue juga belum aktif lagi. Ngomong terus, Di! Ngomong! Muehehehe. Well, paling nggak omongan adalah doa lah ya. Jadi, ya, berdoa aja dulu. Nyari waktu rada kosong belakangan ini kok ya susahnya kayak mencret.

Dari minggu kemaren kerjaan emang lagi gila sih. Sampe rumah langsung tepar. Pas ada libur cuma bisa dipake buat kentut sama napas doang saking capeknya. Weekend dipake pacaran (bukan karena romantis, lebih ke takut dicekek aja).

How’s your week guys?

Hari minggu kemaren hidup gue dihabisi dengan nontonin semua review handphone masa kini. Karena udah beberapa bulan ini hape gue mendadak lemot, mau nggak mau gue mulai cekicek yang lain. Dari semua video yang gue tonton, gue punya satu kesimpulan: Apa tangan anak jaman sekarang segede hulk semua ya? Gila men. Hape jaman sekarang tuh gede-gede banget! Panjangnya aja kebanyakan 15cm. Setelah gue tanya temen, rata-rata hape mereka udah gak muat di kantong lagi. Terus selama ini mereka bawanya gimana? Dimasukin celana dalem? Enak sih ada standarnya (lho?).

Kalo ada yang punya rekomendasi hape kisaran 3-4 jutaan dengan fisik yang gak terlalu jumbo, boleh tolong kasih saran di bawah dong! Hape yang sekarang kayaknya udah terlalu uzur deh.

Selain dari ukurannya yang segede bagong, style hape masa kini juga emejing banget. Ada beberapa hape yang punya poni. Ini hape apa Andhika Kangen band? Mana poninya ngalangin layar lagi. Ngeliat video itu bawaannya pengen ngambil sisir. Gue nggak kebayang sih kalo guru piket gue jaman SMA ngeliat hape anak sekarang, pasti udah dipotong sambil jerit, ‘MANA KUPINGNYA! TUNJUKIN! BANDEL AMAT JADI COWOK!’

Eh hapenya jawab, ‘Aku cewek, Bu…’

Kayaknya gue kelewat norak deh. Setiap nonton video hape ini, pasti ada aja bagian yang bikin gue jerit, ‘INI APAAN BUSET!’ Sekarang kamera belakangnya aja ada dua biji. Gue kalo selfie aja bingung ngeliat ke arah mana. Gimana dua begini, bisa-bisa gue dikerjain hapenya. Pas moto, gue udah gaya, si kamera bilang, ‘Eits.. gue pake kamera yang bawah…’

Brengsek emang.

Udah dulu deh. Ini kok jadi ke mana-mana ya obrolan kita.
Semoga minggu ini baik deh. Dan gue nggak semencret kemaren.
Suka post ini? Bagikan ke:

Thursday, September 6, 2018

nyengir gede lagi...



Gue baru aja selesai nonton webseries Mengakhiri Cinta dalam 3 Episode…yang episode keempat. Ya, tolong jangan tanya gue kenapa judul webseries-nya rada gak nyambung sama aslinya. Ini sama aja kayak nonton Tendangan Si Madun… tapi yang nendang si Rohmat. Ya, jangan tanya gue siapa Rohmat dan ngapain dia nendang-nendang.

Eniwei, webseriesnya bagus banget. Emang deh kalo Yandy Laurens yang direct, hasilnya pasti kece pisan.

Dan ya, seharusnya sekarang gue lagi buat Dalam 5 Menit-nya Mengakhiri Cinta dalam 3 Episode ini. Harusnya postingan yang kamu baca adalah kegeblekan gue dalam merusak citra Dion Wiyoko dan Sheila Dara.

But, hell no.
Kayaknya, gue undur buat besok-besok aja deh.

Gue lagi mikir tentang menulis. Tentang blog ini. Gue rasanya lagi nggak enjoy banget buat nulis. Jaman dulu, ketika gue lagi buntu sama “nulis buat kerjaan”, langsung cari bacaan seru atau kabur ke blog ini. Menulis sesuka hati. Menuangkan apa yang mau gue sampaikan. Tanpa takut merasa salah. Tanpa takut merasa jelek. Tanpa merasa menulis adalah hal yang harus begini dan harus begitu.

Sampai lama-kelamaan, gue percaya ada orang-orang di sana yang, diam-diam, membaca tulisan di blog ini. Lalu kita berinteraksi. Tidak sedikit yang kemudian menjadi temen beneran di dunia nyata.

Tapi, akhir-akhir ini perasaan itu mulai hilang. Gue mulai ngerasa kalo “tulisan gue standar-nya harus segini”. Gue jadi sangat, sangat perfeksionis. Gue jadi sering menghapus tulisan. Menekan backspace. Memencet Ctrl + N. Gue jadi merasa harus membuat sesuatu yang bagus terus menerus, setidaknya untuk gue sendiri.

Dan ternyata, hal itu melelahkan.
Pengaruh lainnya: blog ini jarang apdet.

Gue malah jadi jauh, jauh tidak memikirkan diri sendiri. Gue menjadi terpaku pada “Gimana kalau orang lain baca tulisan ini?” dan “Apakah ini udah cukup sempurna untuk dibaca orang lain?” Padahal, tujuan utama blog ini adalah untuk bersenang-senang. Gue gak punya patokan apakah blog ini harus lucu terus, atau puitis terus, atau cerpen terus, atau terus-terusan jadi tulis yang bikin orang pengin muntah berjamaah.

Well, pada dasarnya, ini adalah blog gue dan seharusnya, gue bisa menulis selepas-lepasnya. Gue bisa menulis apapun yang gue rasakan. Sama kayak gue sewaktu pertama kali blog ini diciptakan.

--
Jadi, ada apdet apa aja?

Pertama. Gue lagi pengen, pengen banget bikin tulisan panjang lagi. Ya, ini beneran. Meskipun gue gatau apakah bakal jadi gak jelas kayak ebook sebelumnya. Tapi, semenjak gue gak terlalu aktif ngeblog, ada banyak hal yang pengin gue ceritain secara lengkap dan rinci.

Kedua. Podcast. Buat beberapa yang ngikutin instagram dan soundcloud gue, duluuu banget gue sering aplot podcast ke sana. Tapi, karena soundcloud gue terbatas, gue migrasi ke Instagram. Dan, karena merasa Instagram membuat gue “tidak leluasa” (terbatas 10 menit, formatnya video, dan harus di-slide), gue memutuskan untuk: bikin podcast di Spotify. Yah, ini sebenernya juga wacana lama (karena 102 km/jam fm, podcast gue yang di anchor, udah otomatis pindah ke Spotfy), tapi ke depannya bakal gue seriusin deh. Itung-itung buat ngasah skill ngomong yang ngaco ini. What do you think?

Ketiga. Gue pengin banget aktif lagi di sini. Di blog ini. Di tempat gue mencurahkan segalanya. Gue pengin kembali ke masa dulu, ketika awal-awal gue ngeblog (bukan balik skripsian terus digebok dosbing), tapi gue pengin perasaan itu muncul lagi. Perasaan buru-buru ketika membalik layar laptop, mengklik icon bergambar kertas di layar, lalu menekan keyboard sambil ketawa-tawa sendiran. Perasaan cemas karena ngerasa “udah lama banget deh nggak ngeblog” padahal kemaren baru posting. Perasasan berdebar ketika tahu ada komentar yang bertambah, dan gue menebak-nebak isinya.

Jadi, inilah gue. Kembali mengetik di depan laptop,
sambil nyengir gede lagi.
Suka post ini? Bagikan ke: