Saturday, July 21, 2018

When life gives you lemons?


Gue menatap gelas whisky yang baru diberikan bartender. Menempelkan tangan. Membuat telapak tangan gue basah karena embun di badan gelas. Mungkin saat ini, dari belakang, ada seorang perempuan yang diam-diam mengangkat handphone dan mengambil foto gue. Menguploadnya ke sosial media, dan memberikan caption: sendirian banget, Mas?

Pandangan gue mengarah ke lemon yang mengambang di dalam gelas: terombang-ambing tidak jelas di antara es berbentuk kubus.

Kepala gue masih sakit karena terlalu banyak tidur. Hal paling menyebalkan dari patah hati adalah karena tidak ada yang bisa kita lakukan untuk membuatnya sembuh kecuali tidur… dan merasakan sakitnya kembali setelah bangun.

Pikiran-pikiran di kepala gue bercabang begitu banyak,
dan semuanya saling mengikat satu sama lain.

Seharusnya, pada saat ini, tangan gue sudah bergerak meraih gelas. Meletakannya ke depan bibir. Mengalirkan cairan itu ke tenggorokan. Merasakan panasnya di dalam.

Atau seharusnya, gue sudah mematikan lampu. Menekan kepala dengan bantal. Menghalau denging yang berisik di telinga.

Tapi sekarang, yang bisa gue lakukan hanya memperhatikan kendaraan yang lewat di depan. Coba menikmati udara malam ini. Meluruskan satu demi satu cabang pikiran di kepala. Mendengarkan setiap bunyi yang ada; langkah kaki orang di belakang, seorang laki-laki dengan telepon genggam di telinganya, klakson mobil avanza itu, suara angin saat mobil itu akhirnya menyalip angkot.

Sekarang, gue nggak bisa pour a whisky on my lemons. Sekarang, di sebelah gue cuma ada sekaleng nescafe original. Sekarang, gue cuma bisa memasukkan cairan cokelat yang terlalu manis itu ke dalam mulut.

Bagaimana dulu gue melewati perasaan seperti ini?

Gue kembali mengingat. Memutar ulang memori yang gue punya. Merasakan sakitnya lagi. Bagi beberapa orang, patah hati bisa menjadi baju baja yang membuatnya lebih kuat dari sebelumnya. Bagi beberapa yang lain, patah hati membuat perasaan kita semakin tipis. Rasanya seperti bawang yang lapisannya terkupas setiap kali patah hati.

Dan setiap kali sembuh,
kita takut mengalaminya kembali.

Kita takut tidak bisa jatuh cinta lagi, lalu patah hati lagi, lalu jatuh cinta lagi. Kita takut tidak bisa memberikan perasaan kepada orang lain karena sebenarnya, jauh di dalam hati, kita sudah tidak punya apa-apa lagi. Mungkin ini yang menyebabkaan semakin dewasa seseorang, kita semakin malas untuk menemukan cinta yang baru.

Gue sebenarnya gak ngerti sama diri gue sendiri. Terkadang, hal yang begitu kecil bisa terasa sangat, sangat besar dan berarti buat gue. Ngebuat gue kecewa begitu aja. Dan semakin gue pikirkan, kekecewaan itu berubah menjadi lubang hitam dan menyedot gue ke dalamnya.

Gue tidak mengerti kenapa gue seringkali bertarung dengan pikiran-pikiran yang gue punya sendiri. Argumen yang satu menyangkal yang lain. Harapan melawan pengalaman pahit. Memori manis dan kehilangan. Realita dan keinginan. Pertanyaan yang setelah dijawab, menimbulkan pertanyaan-pertanyaan lain.

Mungkin saat ini dunia sedang memberikan gue lemon. Dan karena gue tidak punya whisky, gue hanya akan mengisapnya. Merasakan masamnya dalam-dalam. Perasaan yang sama yang pernah gue alami beberapa tahun lalu. Mungkin semuanya akan lebih mudah jika kita bisa mengontrol pikiran kita seperti menekan tombol settings, lalu clear history.

Tapi nggak, gue harus melewati ini.


Suka post ini? Bagikan ke:

Wednesday, July 18, 2018

Blog VS Youtube


Duh, gue udah gak apdet lagi deh sama dunia perbloggeran ini. Masih ada yang ngeblog gak sih? Kayaknya temen-temen blogger jaman gue udah pada ngilang ya? *salim sama blogger masa kini

Ya, ya, ya, tidak bisa dipungkiri, sekarang memang zamannya visual. Belakangan ini gue juga lebih sering nonton dibanding baca. Gue ngerasa energi gue untuk baca udah terkuras di kerjaan. Alhasil, buat kabur dari sana, gue milih nontonin video yang effort-nya terasa lebih kecil.

Nah, kalo udah ngomongin soal blog begini, pasti ada aja yang nyaut: “Lo gak mau bikin video di YouTube aja?”

Sebelum jawab pertanyaan itu, kita perlu tahu dulu perbedaan keduanya. Memangnya kenapa seseorang harus bikin video di YouTube? Apa bedanya sama nulis di blog? Karena paling tidak, buat gue sendiri, keduanya punya ciri khas masing-masing.

Ngeblog, misalnya. Buat gue, menulis di sini adalah kegiatan yang sangat, sangat personal. Ketika gue memutuskan untuk menekan ikon Microsoft word dan membuat postingan baru, sejatinya gue tidak punya tekanan tentang reaksi orang-orang yang baca. Semua tulisan di sini adalah suara jujur dari dalam hati gue (cailah). Gue cuma merasa butuh kanvas untuk menuangkan perasaan gue. Mungkin perasaan yang sama yang dirasakan pelukis ketika tiba-tiba pengin ngambil kuas dan nyorat-nyoret aja tanpa tahu tujuan akhirnya. Asal jangan ngelukis, ngelukis, ngelukis, tahu-tahu jadi setan. Kayak Ustaz Soleh Pati.

Bagi gue, keintiman dalam menulis merupakan romantisme tersendiri. Kita kayak dua orang yang ngobrol pelan-pelan. Pengalaman seorang pembaca pun pengalaman yang pribadi. Makanya, gak pernah liat kan orang baca novel… satu buku berdua. :p

Dan karena kita lagi ngobrol…
DENGERIN NIH. GUE TERIAK, KAN?!

Sori. Kekencengan ya?

Well, bagi beberapa penulis, kata-kata bisa menjadi keterbatasan tersendiri. Ada hal-hal yang terkadang sulit jika disampaikan dengan kalimat dan tulisan. Misalnya, gue abis makan Samyang dan pengin cerita pengalaman kepedesan. Kalo gue nulis ‘Hmmmhh…. Ahhh…. Mmhhh…. Huaahhh…’ kok kayak ada yang salah. Beda kalau pengalaman itu kita ceritakan dalam format video, misalnya.

Di samping itu, untuk membaca sebuah tulisan, kita memerlukan imajinasi yang cukup tinggi. Bagi sebagian orang, hal ini menguras energi dan bikin capek. Eka Kurniawan bahkan pernah ngomelin pembacanya gara-gara gak ngerti tulisannya tentang “hidung yang copot dari wajah, lalu melata di lantai” karena menurutnya itu terlalu aneh. Padahal, maksud Eka, ya tinggal bayangin aja. Pakai imajinasi Anda. Lalu masuki alam tidur anda… jauh lebih dalam.. jauh lebih dalam daripada sebelumnya…

Sekarang, YouTube.

Buat gue, YouTube adalah tempat yang pas kalau kamu ingin menampilkan karya secara serius. Dibandingkan postingan blog, medium visual seperti YouTube dan Instagram emang lebih cocok. Masalahnya, format video jauh, jauh lebih ribet.

Selain prosesnya yang panjang dan memakan waktu lama (nulis skrip, shooting, editing, upload), ada kemungkinan hal-hal yang kita inginkan di awal menghilang di antara proses tadi. Jerry Seinfeld bahkan bilang di interview-nya kalo salah satu hal tersulit sewaktu dia membuat series Seinfeld adalah memastikan apa yang lucu saat dia tulis, tetap lucu saat dibaca, saat diadegankan, juga saat diedit dan menjadi satu keutuhan video cerita yang panjang.

Jadi, sebenernya kedua medium blog dan Youtube ini memang gak bisa dibandingin gitu aja. Gak bisa dianggap yang satu lebih baik daripada yang lain. Karena… ya emang beda aja.

Lalu, buat pertanyaan: “Lo gak mau bikin video di YouTube aja?”
Jawaban gue adalah sebuah pertanyaan balik,
Tebak, dong? :p
Suka post ini? Bagikan ke:

Wednesday, July 11, 2018

Daftar 21 Pekerjaan yang Bisa Kamu Pilih Kalau Suka Menulis


Gue masih inget awal blog ini tercipta. Ketika itu masa ospek kampus dimulai. Gue adalah orang yang paling males sama konsep ospek-ospekan ini. Buat gue, definiisi ospek yang ngomelin junior dengan dalih “meningkatkan mental” itu aneh banget. Gak ada hubungannya antara diteriakin sama kekuatan mental seseorang. Nyokap gue aja di rumah gak pernah bilang, ‘Kamu tuh kalo makan yang bersih dong! Ibu tuh ngomong gini biar mental kamu kuat ya!’

Gara-gara ospek ini, ada salah seorang senior yang kami daulat sebagai public enemy. Kalo ngeliat dia di ujung lorong, kami ngibrit dan cari jalan lain. Kalo dia muncul di kantin, kami langsung kenyang dan pindah ke kantin anak Ekonomi.
Sekalinya kami ngumpul, dia jadi bahan perbincangan habis-habisan. Kadang ada yang sok berani bilang, ‘Kemaren gue gak sengaja ketemu dia! Gak bisa bedain muka sama pantatnya!’

‘Wah, parah!’ sahut yang lain. ‘Tuh orang kalo ngomong emang kayak lagi kentut!’

Pas dia ngospek, kami ketakutan lagi.

Ya, kami benci tapi cupu.

Gue, sebagai anak alim yang cinta perdamaian, tentu tidak akan ngomong langsung hal itu ke dia. Selain cinta damai, gue juga belum mau mati. Di sisi lain, dorongan perasaan ini begitu kuat. Gue pengen mengungkapkan segala isi hati ini, tapi gatau caranya. Apalagi sewaktu kampus gue ngundang Nidji, gue gak sengaja ngeliat dia joget… dan gayanya kayak kingkong kesurupan.

Setelah mencari berbagai cara pelampiasan untuk ngeledekin dia,
gue memutuskan untuk nulis kejadian itu.

Akhirnya, jadi deh blog ini.

Setelah sekarang gue pikir-pikir lagi ternyata… busuk juga ya niat gue. Hehehe. Jauh beda sama penulis lain yang mengawali kisahnya dengan berbagai cerita inspiratif, gue lebih ke desktruktif. Kalo orang nyebarin nilai positif, lah gue malah nyebarin kelaknatan.

Agak nggak enak kalo misalnya gue diundang ke Hitam Putih, lalu disuruh cerita hal ini. Gak mungkin gue jawab jujur dengan, ‘Waktu itu bikin blog karena ada orang yang mukanya kayak pantat!’ Bukannya ditepokin, yang ada gue diludahin massal.

Di masa itu, gue sama sekali gatau gunanya nulis di masa depan. Nulis? Emang kegiatan ini berguna dan nguntungin secara material?

Gue sama sekali gak tahu kalau ada prospek kerja yang berhubungan dengan menulis.

Sampai akhirnya, gue keterusan dan beneran berkecimpung di dunia tulis-menulis. Bekerja di “tempat ini” sedikit banyak mengubah pandangan gue soal tulis-menulis. Ternyata, banyak, lho, profesi yang berkaitan dengan dunia nulis. Dan ternyata… nulis itu susah mampus.

Makanya, postingan ini dibuat untuk kamu yang pengin tahu jenis-jenis pekerjaan yang berhubungan dengan dunia tulis-menulis. Jadi, kalau kamu sekarang suka nulis, kamu punya pilihan untuk ngebuat nulis jadi hal yang serius dan professional.

Gue akan buat daftar dari yang paling familiar dulu ya:

Satu. Penulis novel: Orang yang kerjanya nulis novel. Dapetin duitnya… ya dari omzet penjualan novel dan workshop penulisan.

Dua. Cerpenis: Orang yang kerjanya menuls cerpen. Bisa menjadikannya sebagai buku kumpulan cerpen, hasil kiriman ke berbagai media, atau memberikan workshop penulisan.

Tiga. Kolumnis: Orang yang rutin menulis di rubrik/kolom suatu media.

Empat. Penulis puisi: Orang yang kerjanya menulis puisi.

Lima. Jurnalis/reporter: Orang yang membuat berita. Jurnalis ini ada 2 tipe: 1) jurnalis lapangan—orang yang turun ke lapangan untuk mencari berita, melakukan interview, lalu membuat dan menyerahkannya ke tim di kantor, dan 2) jurnalis di dapur percetakan—bisaanya bertugas mencari berbagai sumber berita di kanal-kanal berita luar negeri, lalu membuatnya dalam versi “Indonesia”.

Enam. Penulis cerita komik: Di industri komik, ada 2 pola pengerjaan 1) komikus bekerja sendirian, dan 2) komikus bekerja sebagai tim. Di dalam tim ini, ada yang berperan sebagai leterrer, penggambar komik, pembuat cerita, dan lain-lain. Ranah seorang penulis bisa masuk ke dalam ‘pembuat cerita’ ini. Tugasnya, ya… membuat cerita si komik itu.

Tujuh. Pembuat lirik lagu: Iya, beneran. Kalo kamu pandai merangkai kata dengan bagus dan suka di industri musik, kamu bisa banget jadi pembuat lirik lagu (pencipta lagu).

Delapan. Penulis skenario layar lebar: Kalau kamu tertarik dengan industri film, kamu bisa memilih untuk bekerja sebagai penulis scenario layar lebar. Saat ini, dari riset iseng-iseng gue sih kayaknya masih sedikit orang yang berprofesi sebagai penulis skenario layar lebar (scriptwriter). Jadi, kesempatan kita masih sangat terbuka lebar. Tentu, berbeda dengan menulis cerpen dan novel, ada teknik tertenu dalam menulis skenario yang harus kamu pelajari.

Sembilan. Penulis naskah animasi: Tahu film animasi kan? Nah, sebelum itu dibuat, tentu harus ada naskah supaya tim animasi punya bayangan mau membuat adegan seperti apa. Ranah ini bisa kamu cari kalau suka di bidang animasi.

Sepuluh. Penulis skenario sinetron: Biasanya, pada satu sinetron, ada satu “tim penulis” yang terdiri dari beberapa anggota penulis dan satu “pemimpin”. Mereka saling membagi tugas untuk mengerjakan beberapa episode sekaligus, baru kemudian digabung dan dijahit supaya tidak terkesan sebagai episode yang “terlepas-lepas”. Sistem ini lah yang seringkali ngebuat alur cerita sinetron agak melompat-lompat. Meski begitu, percayalah kalau profesi ini sangat mengutungkan secara material. Tidak jarang penulis disewakan apartemen supaya bisa fokus menuliskan naskah sinetronnya.

Sebelas. Asisten tim penulis skenario: Seperti yang gue sebutkan di atas, dalam dunia sinetron, biasanya ada satu tim penulis yang bertugas. Kalau kamu belum bisa jadi ketua penulisnya, kamu masih punya kesempatan untuk tergabung ke dalam anggotanya.

Dua belas. Penulis skenario video digital/campaign: Di beberapa perusahaan, ada orang khusus yang bertugas membuat naskah ilkan yang sering kamu temui di YouTube atau berseliweran di media sosial. Meskipun banyak juga yang menggabungkan profesi ini dengan copywriter.

Tiga belas. Tim kreatif: Di setiap program televisi, ada tim kreatif yang bertanggung jawab terhadap “jalan cerita” acara itu. Nah, penulis sangat bisa masuk ke ranah ini. Karena dalam penggarapannya, kreatif harus membuat format acara dalam bentuk tulisan.

Empat belas. Social Media Officer: Bertugas memegang akun media sosial sebuah brand. Biasanya dia yang akan mengatur konten-konten seperti apa yang akan tayang. Mau upload foto apa di Instagram, mau ngetwit apa, mau apdet status apa. Dan biasanya, penulis lah yang lebih handal.

Lima belas. Content writer: Penulis konten di berbagai media. Bisa media cetak/majalah, maupun media digital. Profesi ini juga banyak dibutuhkan di dunia advertisement agency, start up, bahkan perusahaan besar juga banyak yang membutuhkan ini. Cakupannya pun sangat luas. Ada yang mencari dalam “genre” tertentu (penulis tekno, penulis akunting) maupun penulisan kreatif yang membahas segala hal.

Enam belas. Copywriter: Penulis naskah iklan. Tugasnya menuliskan “copy” atau tulisan yang berkaitan dengan iklan. Scope-nya sebenarnya cukup luas, dan berbeda-beda tiap perusahaan. Ada yang mengerjakan penulisan headline iklan di majalah, naskah adlibs di radio, tagline, mencari hestek, penulisan di banner iklan digital/billboard, penulisan caption social media, pembuatan jingle lagu suatu brand, penulisan teks di e-flyer, pembuatan naskah video digital, pokoknya konten teks yang ada di divisi marketing suatu perusahaan atau agency.

Tujuh belas. SEO Specialist: Agak sedikit berbeda, SEO Specialist lebih bertugas untuk membuat konten tulisan dan bagaimana tulisan itu ada di halaman pertama pencarian google. Selain itu, bisa juga membuat konten yang mendukung sebuah landing page tertentu supaya mudah terdeteksi mesin pencari google.

Delapan belas. Ghostwriter: Penulis yang membuatkan tulisan untuk orang lain, tanpa mencantumkan namanya. Berbeda dengan anonym, hasil karya ghostwriter akan diakui sebagai karya orang lain. Contoh, gue menulis novel untuk Tere Liye. Nantinya, novel itu akan diakui sebagai tulisan karya Tere Liye. Cakupan ghostwriter bisa berupa novel, atau tulisan digital lain.

Sembilan belas. UX writer: Sebenarnya, cakupan UX writer agak mirip dengan copywriter. Bedanya, seorang UX writer hanya mengedit/membuat tulisan untuk segala hal yang berhubungan dengan tampilan luar sebuah website/aplikasi. Contohnya, tulisan “subscribe” di YouTube. UX writer lah yang memutuskan kalau tombol itu cocok ditulis sebagai “subscribe” dan bukannya follow/ add to list. Iya, beneran ada kerjaan begini.

Dua puluh. Stand up Comedian: Betul, sebenarnya salah satu skill yang harus dimiliki Stand Up Comedian adalah bagaimana menulis yang ringkas, efektif, dan padat. Jadi, kalau kamu suka nulis dan komedi, bisa jadi ini profesi yang cocok buat kamu.

Dua puluh satu. Blogger: Sekarang banyak banget blogger yang bisa hidup “mandiri” karena memfokuskan dirinya dalam dunia blog. Susahnya, blogger yang murni “ngeblog” itu tidak hanya sekadar menulis. Mereka harus punya taste seperti arsitektur agar layout blognya bagus, pemahaman UI/UX designer agar pembaca nyaman dan punya pengalaman membaca yang cihuy, bisa fotografi agar tidak bosan, bisa videografi agar ada videonya, harus mengerti SEO agar tulisannya masuk page one, pokoknya pusing deh. Bentar… ini kenapa curhat ya?

Apalagi ya? Hmm pokoknya gitu deh. Setelah gue baca ulang, ternyata banyak amat ya. Padahal niatnya cuman mau share kerjaan yang sekiranya berhubungan dengan dunia tulis-menulis. Belum lagi pekerjaan turunannya kayak pembuat naskah pidato (iya, beneran ada lho itu), buzzer, dan lain-lain. Semoga, dengan mengetahui jenis pekerjaan ini, jadi agak terbuka kalau apa yang kamu kerjakan sekarang, sebenernya beneran ada gunanya kok. Muahahaha.

Sori kalo kepanjangan. Nanti kita ngobrol-ngobrol lagi ya. Ada beberapa hal seru yang gak sabar untuk gue ceritain.

See you on the next post!
Suka post ini? Bagikan ke:

Monday, July 2, 2018

Mengungkap Makna Cantik dari Lagu Lagi Syantik Siti Badriah


Siapa coba yang gatau Lagi Syantik? Pertama kali gue tahu ini, bokap nyetel pake SPEAKER STEREO di rumah. Gue yang masih setengah sadar langsung kaget. Sayup sayup gue denger kalimat ‘Lagi manjaaa~ Emang pengen dimanjaa~’ lengkap dengan dentuman bass dan bunyi semacam klakson angkot. Udah gila apa ya? Ini masih jam 7 gitu lho! Gue protes dari kamar, ‘Pak! Aku kan belom siap joget!’

Gue keluar kamar, ngeliat bokap tiduran di kursi panjang. Senyum dia ngembang gede. Ckckck. Gue cuma bisa geleng-geleng kepala, minum air putih di meja, lalu joget di depan tv.

‘’Nah gini kan enak kalo udah seger! Yihaaa!’

APAAN?!

Gak mungkin lah.
Mana mungkin sendiri.

Bokap gue ikut merem melek sambil goyangin jempol.

‘Emang lagi manjaaaaa,’ kata gue.
‘Lagi pengen dimanjaa!’ sahut Bokap gue, make gagang remot jadi mic.

Keluarga macam apa ini…

Oke, serius serius. Jujur, gue penasaran banget sama lagu ini. Ada beberapa pertanyaan yang langsung masuk ke kepala gue begitu denger lagu ini: 1) Kenapa tiap lagu ini muter… gue… refleks… Jog… TOLONG. JEMPOL. AARRRGGHHH! 2) Apa arti sebenarnya dari kata “cantik” yang ada di lagu ini?

Ya, betul. Buat gue sendiri, kata “cantik” itu sangat abstrak. Apakah yang berkulit putih itu cantik? Kalo gitu gue gak pernah tuh ngeliat orang kagum sama reptil, ‘Wuih! Cantik beut nih buaya albino!’ Sungguh aneh memang dunia ini. Tapi, kalau menilik dari penggunaan katanya, kayaknya orang syantik itu yang syuka minum syusyu deh.

Maka demi mencegah timbulnya kericuhan dan perpecahan (emangnya ada woy?), di sini, gue akan membedah lagu Lagi Syantik – Siti Badriah untuk menemukan definisi cantik yang sesungguhnya.

lagu lagi syantik siti badriah


Siti Badriah membuka lagu ini dengan menjatuhkan pasir pantai dengan alunan piano yang menggugah. Tatapan mata Siti tajam sekali. Seolah dia berkata, ‘Nih liat pasir ini… ngotorin tangan kan? Cih.’

opening lagi syantik siti badriah


Beberapa saat berselang, vokal masuk dengan lirik, ‘Emang lagi syantik… tik… tik…tik… tik… tik… tik… tik… tik…’ sampai kita yang nontonn teriak, ‘IYA CUKUP! UDAH!’

‘DAH… DAH… DAH… DAH…’

Video klip lalu berputar balik ke Siti yang masih buang-buang pasir. Apakah cewek syantik itu yang demen main tanah? Apa ini memberikan pesan bahwa seorang cewek cantik itu pekerja keras? Apa abis ini dia bakal ngaduk semen? Hmmm pertanyaan ini masih sulit kita jawab.

siti badriah live


Musik terus berdendang. Dan pada bagian ini, lagu sampai pada kalimat, ‘Hai sayangku. Hari ini aku syantik.

Ingat ya, syantik.
Pake ش

Oke, apabila kita liat pada frame tersebut, bisa dipastikan bahwa kedua orang di samping kanan dan kiri Siti adalah pasangan. Itu artinya, dalam lagu ini Siti menggambarkan sosok jomblo. Apa itu sebuah pertanda? Emang sih yang jomblo bakal lebih keliatan syantik. Makanya kadang kita sering liat cewek yang menurut cakep, eh begitu tahu dia punya cowok, mukanya pelan-pelan berubah jadi kayak muntahan tapir.

Lirik lagu selanjutnya adalah:
Syantik bagai bidadari. Bidadari di hatchimyuh.

Hmmm. Dengerin part ini, gue langsung merenung. Cantik bagai bidadari? Kayak gimana tuh? Karena jaman udah canggih, gue googling dengan kata kunci “bidadari”:

bidadari surga


G…gue kok ragu ya.

KENAPA ADA GAJAHNYA?!

Kalo emang bener bidadari kayak gitu, biarkan aku hidup lebih lama ya Allah…

Daripada terjebak pada hal-hal dan hipotesa asal kayak gini, gue memutuskan untuk langsung riset tentang lagu ini. Gue mengetik kata kunci “lagu lagi syantik”, memilh berita dari okezone ini, dan yang muncul adalah:



Sadis. Gue baru tahu kalau ternyata lagu ini udah dibuat setaun lalu. Mereka ternyata udah punya rencana underground untuk membuat lagu ini menjadi tenar. Sebuah trik yang mahajitu dari Yogi.

Bentar…

YOGI ITU SIAPE?!

yogi pendeta


Ternyata dalang di balik pembuatan lagu ini adalah seorang jenius. Dia bisa dengan lihai memasarkan barang sebrilian Kanye West. Atau tukang es kepal milo.

Apalagi setelah gue baca dari berita yang sama, ternyata pembuatan lagu ini hanya memakan waktu 4 jam saja. Ini beneran sadis sih.

pencipta lagu lagi syantik


DJ DONALD INI SIAPE?!

Gamau kehilangan jejak, gue cari “DJ Donald” di google:

dj donald pencipta lagu lagi syantik sibad


*nangis di pundak Sarah Azhari*

Udah pasti ini ngaco. Gak mungkin DJ Donald yang dimaksud itu Donald Trump. Mau jadi apa?

Dipicu rasa penasaran yang tinggi, gue ganti kata kunci jadi “DJ Donald lagu syantik” dan hasilnya:

dj donall lagi tamvan


Sudah barang tentu, gue klik yang kanan. Gak mugkin DJ Donald yang dimaksud yang lagi syantik full remix full bass hot.

Full bass hot.
Full. Bass. Hot.
BIAR APE ADA HOT HOTNYA?!

Setelah gambar yang kanan gue klik, link itu menuju ke sebuah video klip berjudul “BALASAN LAGISYANTIK – LAGU TAMVAN RPH & DJ DONALD FT SITI BADRIAH”

‘RPH? Apaan nih?’ batin gue bergejolak. Dada gue bergetar. Pantat gue ngeluarin cairan dikit. Gak sabar rasanya bisa ngeliat tampang orang-orang keren ini. Gue play videonya.

Lagu itu dibuka dengan…

rph management


Ternyata oh ternyata, RPH yang dimaksud adalah… Republik Pengvasa Hati.

*nangis di pundak Sarah Azhari yang satunya*

Ya, gue yakin maksudnya adalah Republik Penguasa Hati. Tapi kenapa huruf “u” dalam kata “penguasa” itu diganti jadi “v”? Dan kenapa hanya kata itu? Kenapa gak sekalian “Repvblik Pengvasa Hati?” Atau “Repvblic Pengvas4 h4T1?”

Kejanggalan lain gue temukan dalam judul lagu yang DJ Donald buat. Dia memberikan judul “Lagi Tamvan” yang mana berasal dari “Lagi Tampan”. Kenapa penggunaan huruf “v” di sini menggantikan huruf “p” sementara di manajemennya berfungsi sebagai pengganti huruf “u”. Kenapa dia gak ganti nama manajemennya jadi “Revublik Venguasa hati?” Atau “Revvblic Vengvas4 h4T1?”

Tunggu…
Atau sebenarnya…
Maksud dari “Lagi Tamvan” adalah…

 “Lagi Tamuan”

DIA SEBENERNYA TAMU!
Hmmmm. Kalau begitu, bisa jadi “lagi syantik” itu sebenernya bukan bermakna “lagi cantik” seperti yang selama ini kita pikirkan.

Jadi apa sebenernya makna cantik?
Kayaknya mending kita tanya langsung ke Yogi deh. Syalan memang.

Suka post ini? Bagikan ke: