Wednesday, January 31, 2018

Seperti Laki-Laki Berumur 25 Tahun

Aku menyukai pakaian yang kamu kenakan kemarin Senin. Karena diam-diam, aku merasa kalau kita, pada akhirnya, punya kemungkinan untuk bersama.

Aku menyukaimu seperti aku menyukai guling di musim hujan. Aku menyukaimu seperti aku menyukai caraku mengurung diri di dalam selimut. Aku menyukaimu seperti anak kecil yang meluncur di perosotan. Lalu ia ingin kembali naik. Lagi, dan lagi. Meskipun harus dari depan.

Aku menyukaimu seperti anak kecil menyukai kartun di minggu pagi. Menatap layar dengan mata bulat sempurna. Satu tangan memegang remote. Lalu menangis ketika salurannya diganti orang lain.

Aku menyukaimu seperti kucing menyukai elusan di bagian leher. Seperti anjing menyukai lemparan bola. Aku menyukaimu seperti Ed Sheeran menyukai microphone dan petikan gitarnya sendiri. Seperti Jakarta menyukai kendaraan-kendaraan yang berjalan lamban. Aku menyukaimu seperti kening menyukai sajadah.

Aku menyukaimu seperti tahun 2000-an di sore hari. Ketika sepeda es krim datang dengan nada khasnya. Aku berlari keluar. Satu kaki menginjak roda. Kepala di atas gerobak. Si Abang membuka tempat es krim, dan, wajahku diterpa asap putih yang dingin.

Aku menyukaimu seperti penjaga toko menyukai suara gerai yang ditutup. Gembok yang dipasang. Sisa lelah yang ditinggal di dalam toko. Di antara tumpukan uang dalam mesin kasir.

Aku menyukaimu seperti aku menyukai tertawa. Aku menyukaimu meskipun kamu tertawa, sedih, cemberut, menggembungkan pipi. Dan aku, masih saja tertawa melihat tingkahmu itu. Karena aku sudah tidak bisa berkata-kata lagi.

Aku menyukaimu seperti aku menyukai komedi. Kamu bagian yang tidak lucu. Dan biarkan aku menjadi biang kekacauan dari semua ini.

Aku menyukaimu seperti sutradara menyukai ‘Bungkus!’. Seperti pelukis menyukai goresan terakhir. Seperti penyair menyukai kangen dan senja. Seperti aku menyukai menulis, menghapus, lalu menulis kembali semua kata-kata tentang kamu. Aku menyukaimu seperti aku takut terlihat norak dengan kata-kata itu.

Aku menyukaimu sekalipun tanpa halo, tanpa ucapan selamat pagi, tanpa pertanyaan apa kabar setiap hari. Aku menyukaimu seperti aku merentangkan tangan lebar-lebar. Lalu kamu berdiri satu langkah di depanku. Lalu aku memelukmu dan tertawa. Karena aku tahu, itu hanya khayalanku saja. Aku menyukaimu seperti aku menyukai khayalan yang kubuat sendiri. Aku menyukaimu seperti aku benci mengakui ini.

Aku menyukaimu seperti laki-laki berumur 25 tahun,
yang sedang menyukai perempuan.
Suka post ini? Bagikan ke:

Saturday, January 20, 2018

Review Aplikasi Ruangguru: Ruangbelajar dan Saya Masih Mau Hidup

Pertama. Gue gatau apakah review aplikasi ruangguru ini bisa nggak bias. Karena eh karena… gue kerja di sana gitu lho! Aku masih ingin terima gaji bulan ini. *salim sama bosh

But stay tuned.
Gue akan coba kasih tahu dari berbagai sudut pandang.

--
Apa pentingnya pendidikan?

Well, gue adalah orang yang percaya bahwa pendidikan merupakan jawaban untuk banyak hal. Contohnya, ketika sehabis hujan di jalanan banyak genangan… EH ADA ORANG NGEBUT. Di saat itu lah kita ingin berkata, “SEKOLAH LO, WOY!”

Suka post ini? Bagikan ke:

Friday, January 19, 2018

Ayam Pemecah Belah Bangsa!

lagu anak ayam tekotek kotek


Pada awalnya, gue beranggapan kalau ayam adalah hewan yang baik. Kayaknya, dia adalah salah satu makhluk yang menghasilkan banyak manfaat buat kita.

Tapi tidak lagi, kawan.
Pikiran itu sudah sirna sejak beberapa hari yang lalu.

Setelah gue pikir ulang, ternyata ayam adalah hewan pemecah belah bangsa!

Ya, kamu tidak salah baca. Selama ini kita sudah diperdaya oleh kaum ayam. Dan kita tidak sadar! Saat membaca ini kamu mungkin masih bingung. Tapi tenang, kebingungan itu akan segera sirna. Gue akan membongkar kebusukan yang direncanakan ayam-ayam selama ini!

Jadi tolong, kalau kamu baca ini sambil main ayam (?), tinggalkan sejenak ayam itu.

Gue akan mulai di poin pertama. Ingat kah kamu tentang pertanyaan “Hayo, duluan ayam atau telur?” Ya, mungkin kamu pikir itu adalah pertanyaan yang dibuat oleh para ilmuwan untuk membuat kita berpikir akan teori evolusi. TAPI TIDAK! Ini adalah sabotase kaum ayam!

Ya, kalau kita pikir lebih jauh, kenapa harus ayam? Padahal bisa aja pertanyaan itu menjadi “Duluan telor apa cicak?” Atau kalau mau yang ekstrem, “Duluan mana: dia bilang putus, atau kamu harus pura-pura bikin bosen?" Tapi tidak, saudara-saudara! Ini adalah upaya licik para ayam yang ada di dunia! Gara-gara pertanyaan ini kita jadi berantem. Para manusia mulai terpecah menjadi dua. Tapi adakah di antara kita yang menyadarinya? Ayam keparat!

Tidak berhenti sampai di sana. Mereka juga menyusupkan ayam-ayam lemah untuk dikorbankan kepada kita. Untuk apa? Betul, kawan. Supaya kita berebutan kulit ayam KFC! Sudah tidak terhitung lagi berapa pasangan yang berantem gara-gara gak sengaja kemakan kulit ayamnya. Padahal… padahal gue pikir dia gak suka! Makanya kulit ayamnya disisihin! Eh, ternyata emang disisain buat terakhir! Sungguh keji sekali trik ayam ini. Gue doain mereka semua mati digoreng, gue makan, lalu masuk neraka dan digoreng terus gue makan lagi begitu gue mati.

Lihat betapa hebatnya mereka sampai-sampai memengaruhi kita hingga pihak KFC membuat berbagai eksperimen dengan ayam. Kayak ayam yang dikasih cokelat dan ayam dikejuin. Semula gue berpikir kalau ini adalah bentuk perlawanan kita. Tapi ternyata gue salah, sobat karibku. Ini justru semakin memperkeruh keadaan! Manusia semakin terbagi menjadi dua: Ada yang suka makan ayam dicocol, ada juga yang diguyur! Fuck! Gue gak liat celah ini. Kolonel Sanders pasti sedang dipatok ayam di liang lahat sana.

Beberapa hari yang lalu, gue ingin membuat perlawanan balik. Gue mengawali dengan ngajakin ngobrol temen-temen kantor soal ayam. Gue mulai dengan sebuah pertanyaan, “Eh, emang bunyi ayam kotek-kotek ya?”

“Mana ada!” salah satu temen gue dengan tegas tidak menerima.

Gue lalu membuka kenangan masa lalu. Gue inget ada lagu ayam yang judulnya “Tek kotek kotek anak ayam” Buat anak 90-an, pasti pernah ngerjain temennya dengan “lagu gak abis-abis” ini pake “Tek kotek kotek kotek anak ayam tujrun SEJUTA! Mati satu tinggai 999999!”

Gara-gara pertanyaan gue, perdebatan mulai terjadi.

Fianda, salah satu temen yang lain bilang, “Ayam kan berkokok, Di!”

Gue berdiri. “Mana ada ayam bunyi ‘Kokok! Kokok!’ Ayam keselek salak?”

Temen lain berargumen, “Kayaknya ayam kukuruyuk deh…”

Kami semua ngeliatin dia.

“…tapi itu ayam jago sih.”

“NAH KAN! AYAM JAGO ITU!” Semua sepakat.

“Jadi anak ayam kotek-kotek kan?!” Gue kembali ngotot. Membuka video Youtube lagu tersebut, lalu secara tidak sadar ikiut berjoget kayak anak kecil itu. Setan! Ayam pasti udah merasuki gue!


“Tapi mana ada anak ayam bunyi kotek-kotek, Adi.” Fianda tidak mau menyerah. “Anak ayam tuh cuit cuit! Gue yakin! Ayam yang kuning!”

“Berarti yang kotek-kotek ayam yang ijo!”

“Itukan dicat abangnya, Di!”

“Oh iya.”

“Jadi gimana?” Fianda membuka Youtube. Menekan keyword ‘Peternakan ayam’ dan mendengarkan ke seantero ruangan. “Nih, dengerin nih!”

Lalu anak ayamnya berbunyi…

Piyik…piyik… piyik…

“ANJENG! ANAK AYAM BUNYINYA PIYIK! PANTES ADA SEBUTAN AYAM PIYIK!”

Kami semua hening.

Ini kekalahan bagi umat manusia.

Di antara semua keheningan ini, Tedy bersuara, “Ayam bukannya petok petok ya?”

KAMI SUDAH HANCUR YA ALLAH?!
Suka post ini? Bagikan ke:

Saturday, January 13, 2018

Bagaimana Dua Orang LDR Bertemu

Lucu bagaimana dua orang bisa bertemu, berkenalan jarak jauh, hingga akhirnya menjalani long distance relationship.

Beberapa waktu belakangan, gue lagi baca bukunya Aziz Ansari, judulnya Modern Romance. Di sana dia membedah aspek romantisme dari generasi sebelum kita, sampai saat ini. Bagaimana teknologi mampu menggeser cara pandang kita akan pencarian jodoh.

Di dalam buku itu, Aziz mengatakan bahwa orang-orang di masa lalu mengartikan “jodoh” sebagai partner untuk berkembang biak. Supaya kita sebagai manusia dapat terus beregenerasi. Berbeda dengan sekarang di mana setiap orang sebisa mungkin menemukan “soulmate”. Mencari orang yang kita anggap paling sempurna.

Perbedaan pandangan ini akhirnya membuat kita mengubah cara-cara yang kita pakai dalam mencari pasangan. Orang zaman dulu, misalnya. Kebanyakan mendapatkan pasangan dari lingkungan di sekitarnya. Teman satu apartemen, tetangga, atau satu tempat kerja. Pokoknya, tempat-tempat yang mudah dijangkau sehari-hari.

Hal ini berkebalikan dengan zaman sekarang di mana kita bisa dengan sangat leluasa mencari the one, ke mana pun tanpa batasan geografis.

Buat gue ini menarik. Karena pada akhirnya, dengan berbagai sosial media dan aplikasi online dating, seseorang dapat saling tertarik dengan orang yang jauh. Berkenalan dengan orang-orang yang dia tidak pernah pikirkan sebelumnya. Bagi pasangan LDR, bandara adalah tempat yang sakral. Bagi pasangan yang beruntung, mungkin mereka akan kopi darat. Berpelukan di depan pintu kedatangan, lalu menikah dan hidup bahagia selamanya. Bagi pasangan yang gak beruntung-beruntung amat, mungkin salah satunya akan membeli tiket pesawat murah. Lalu sesampainya di bandara, kaget karena ternyata muka pacarnya kayak abon sapi.

Pertemuan orang-orang yang berhubungan jarak jauh selalu punya ceritanya sendiri-sendiri.

bagaimana dua orang ldr bertemu


Di dalam buku Modern Romance, dibahas pertama kali online dating muncul. Ternyata, cara kita “mencari pasangan” jarak jauh ini sudah ada sejak 1960-an. Tapi, karena di masa itu yang punya komputer dan internet baru dikit (menurut ngana?), jadi penggunanya pun sedikit. Baru deh di tahun 1980-1990an, ajang pencarian jodoh ini mulai masuk ke tabloid dan surat kabar. Gue bahkan masih ingat di saat gue kecil, di salah satu sesi tabloid langganan nyokap, ada kolom yang memajang berbagai foto cowok dan cewek, lengkap dengan profil dan nomor telepon yang dapat dihubungi.

Contoh:

Kresnoadi. 24 tahun. Seorang laki-laki yang berjiwa petualang. Ditandai dengan tiap turun dari angkot teriak, ‘MY TRIP… MY ADVENTURE?!’ Saya mencari perempuan yang ingin menjalani hubungan serius… dan desperate.Tertarik? Hubungi: 0823587xxx

Masalahnya, di era yang katanya serba canggih ini, banyaknya aplikasi online dating justru membawa dampak lain: kita jadi terlalu banyak punya pilihan. Hasilnya, pencarian soulmate terasa jauh, jauh lebih melelahkan. Semakin kita punya banyak ‘pilihan’ kepada orang lain, kita jadi semakin bertanya ‘Apakah yang sedang gue pilih sekarang adalah orang yang tepat?’

Padahal mungkin aja,
pertanyaan itu bisa dijawab seperti cara dua orang LDR yang bertemu: Percaya. 
Suka post ini? Bagikan ke:

Sunday, January 7, 2018

We'll Beat 2018!

Wah, kangen juga gue sama blog ini.

Kangen juga sama temen-temen semua. Kangen bisa nulis sembarangan. Bisa ngobrol dan bales-balesan komen di bawah. Atau malah nyambung ke sosial media yang lain. Masih pada idup kan? Hehehe.

How was your 2017 then?
Gue… yang penting masih idup deh. *pasrah

Malam tahun baru kemarin, gue ngajakin Ucup dan Alam buat nginep di rumah. Niatnya, kita bakalan begadang nontonin film horor sampe pagi. Sumpah, ide awalnya aja udah ngaco. Ide ini berawal karena gue inget saat gue pertama kali nginep buat tahun baruan di SMP. Waktu itu gue sama dua temen lainnya memutuskan untuk nginep dan gak tidur sampe pagi. Dan karena kami semua lemah, maka kami nonton film horor supaya ketakutan dan beneran gak tidur. Efeknya? YA BENERAN GAK TIDUR GITU LHO. Tiap ada petasan meledak, kita semua kaget jerit ‘APAAN TUH!’ sambil nutup satu mata dan nunjuk ke kamera a la Jaja Miharja.

Saat orang lain pada ledakin petasan dan teriak, ‘Wohoooo!’ kita malah ‘Wuhuhuhhuhu…’ di kamar sambil pelukan. Pedih.

Lanjut ke tahun baruan kemarin. Sambil nunggu Alam dateng, Ucup ngasih liat “film” yang sering dia tonton di waktu senggang. Sekedar ngasih informasi fisik, Ucup ini keturunan Arab, tinggi, dan gede… idungnya. Tipikal cowok-cowok tampan kalem gitu lah. Makanya, begitu dia ngomong gitu, dalam hati gue udah mikir, ‘Wah, pasti selera film si Ucup keren nih.’

Dia ngasih laptopnya ke gue. ‘Nih, Di. Lo tonton deh.’

Begitu gue liat…videonya berisi tentang sekelompok badut psikopat yang ngejar-ngejar warga pake gergaji mesin. Ada skenario lain di mana kelompok badut ini nakut-nakutin dengan bikin semacam ritual pemujaan setan. Yang paling sadis: ada orang yang dijebak di dalam minimarket yang disiapin “mayat” geletak berdarah-darah. Terus badut-badut berlumuran darah ini ngejar-ngejar pake senjata.

‘I…ini, Cup? Tontonan lo di waktu senggang?’ tanya gue, gak yakin.

‘Yoi.’ Jawab Ucup, santai. Nada ngomongnya kayak gue waktu jawab pertanyaan: ‘Numpang pipis ya?’

Buat yang penasaran pengin nonton, bisa langsung klik di sini aja ya.

Tapi setelah gue inget-inget lagi, selera gue sama Ucup ini kayaknya gak terlalu beda jauh deh.

Tontonan Ucup: Badut serem.
Tontonan Adi: Thomas kereta.

Yah, sama-sama dunia anak lah.

Begitu Alam dateng, semua seri badut terkutuk itu udah keburu abis duluan. Akhirnya kita cuma makan serabi, terus ngeliatin petasan samibil duduk di portal kompleks bawa kopi. Kalo lo sendiri gimana? Pada tidur atau malah konvoi keliling? Atau lo yang jualan petasannya?

--
Sebelum gue nulis bagian ini, rencananya di postingan ini gue mau bikin sedikit rekapan tentang apa yang udah gue kerjain di 2017, dan apa target gue selanjutnya. Entah kenapa, tahun ini rasanya gue semacam punya “bayangan” tentang apa yang mau gue kerjain. Apa yang mau gue kejar. Tentang petualangan apa yang mau gue jalanin. Nggak kayak tahun-tahun sebelumnya yang cenderung “liat nanti aja”. I don’t know, but I think this gonna be an exciting year for me! Well, I hope so for you guys. \(w)/

Tapi kayaknya cerita tentang itu bakalan gue tulis lain waktu deh. Entah kenapa gue kepikiran sesuatu. Sesuatu yang, berhubungan dengan “sihir” menulis. Terus terang, menulis, terutama di blog ini, adalah cara gue untuk membuka diri. Cara gue untuk ngobrol. Tempat yang, sangat personal bagi gue. Mungkin ada orang-orang yang ahli menggambar dan jago menuangkan pikirannya dengan lukisan. Atau videographer yang bisa mencurahkan perasaannya lewat visual. Dengan teknik pengambilan gambar. Dengan memasangkan lagu-lagu.

Tapi kayaknya,

buat gue menulis adalah media yang paling tepat. Kedekatan hubungan penulis dan pembacanya cuma sedekat kata-kata yang gue keluarkan. Cuma dari apa yang gue ketik. Dari apa yang lo tulis di kolom komentar di bawah, yang mungkin, akan menimbulkan berbagai ekspresi saat gue ngebacanya kembali. Mungkin cemberut. Mungkin pengin lempar laptop. Mungkin malah senyam-senyum karena, gue kadang nggak percaya, kalau apa yang gue tuangkan bisa tersampaikan dengan baik. Bisa bikin orang lain ngerasa apa yang gue rasain saat gue nulis tulisannya.

So here I give you a bunch of love and many thanks.
And together,
we’ll beat 2018!
Suka post ini? Bagikan ke: