Tuesday, August 28, 2018

ternyata manusia itu kompleks ya...

sumber: id.pinterest.com/ctjorhannys


Manusia adalah makhluk yang kompleks. Kalimat ini masuk ke dalam pikiran gue sewaktu makan gudeg di pinggir jalan Malioboro. Gue membuka Spotify, menulis ‘Labirin’ di kolom pencarian, dan memutar lagu itu. Seiring dengan bait demi bait yang mengalun, gue mengembalikan ingatan sebelum perjalanan ini gue mulai.

Ketika itu pertengahan bulan Juli, dan gue kepikiran untuk pergi keluar kota. Seperti halnya orang yang hidup dalam rutinitas, gue ngerasa harus “menyetop” diri. Gue pengin liburan. Berhenti sebentar dari ritme yang udah biasa gue jalanin. Gue lalu ngebayangin hal ini: gue jalan santai di trotoar, memperhatikan kendaraan dan orang asing yang saling mengobrol dengan bahasa setempat. Gile, gue pasti kayak pengelana sejati. Sekaligus gembel sejati.

Kebetulan bulan depannya keluarga gue harus bayar pajak tanah yang ada di Jogja. Gue pun melancarkan aksi.

‘Udah, aku aja yang bayar,’ kata gue ke Bokap. Padahal niatnya pengen jalan-jalan aja.

‘Hmmmmm,’ Bokap berhenti untuk minum teh hangat di meja. ‘Yakin kamu?’

Gue mengangguk mantap.

‘Ya udah.’ Bokap meletakkan gelasnya ke meja. Rencana berhasil. Lalu, karena takut nyasar, gue minta alamatnya ke Bokap. Dia menjawab, ‘Lho, kamu lupa? Itu kan di dekat makam.’

Sebenarnya, gue tahu lokasi tanah itu. Masalahnya, gue gak mungkin mesen gojek lalu nulis di google maps: Deket makam keluarga Bapak saya.

Merasa cara tersebut terlalu kuno, gue minta bokap untuk memberitahu nama jalannya. Paling enggak, gue bisa lebih mudah mendeteksi buat mesen gojek nanti.

‘Bapak gak hapal nama jalannya,’ kata Bokap. Dia lalu membuka google maps di laptopnya. ‘Pokoknya dari makam agak ke barat sedikit, lalu ke utara.’

‘…’

Bokap berhasil menemukan lokasi tanah dengan google maps. ‘Nih, katanya, menunjuk sebuah areal berwarna hijau di antara atap-atap rumah.’

Karena gue berangkat masih bulan depan, nginget hal-hal kayak gini terlalu beresiko. Gue kembali bilang, ‘Kasih tahu nama jalannya aja, Pak. Kirim ke watsap aku. Nanti aku buka di hape.’

Bokap menatap mata gue dalam-dalam. ‘Makanya, ini kamu perhatiin…’

‘Tapi, Pak…’

‘Ya udah. Gini deh,’ kata Bokap, akhirnya luluh juga. ‘Google maps-nya di-print.’

‘…’

Dan di sini lah gue sekarang. Di dalam warung gudeg, di samping patung singa warna perak, melongo sendirian. Merasa asing dengan orang-orang di sekitar, entah kenapa ini nggak kayak yang gue bayangin di awal. Gue ngerasa pengen… pulang.

Mungkin ini ya yang membedakan cerita di film dan kehidupan nyata. Di film-film, motivasi karakter utama yang ngebuat dia bergerak, alur berjalan, konflik bermunculan. Kalo misalnya yang terjadi sama gue ditulis ke naskah Avenger, pasti gak seru.

Hulk: Tony, bantu aku! Thanos akan datang ke bumi!
Tony: Siap!

*Tony ke kamar mandi*

Tony: Bruce, gak jadi deh… mager gue.

*Hulk kena radang otak*

Ya, oke. Gue tahu, mungkin ini agak mustahil karena kalo dia tetep mager, thanos bakal ngebunuh. Maka coba kita ganti jadi:

Hulkk: Tony, bantu aku! Ayo kita bayar pajak!
Tony: Mager aing, Kang.
(Ini toni abang jual cendol apa begimana?)

Well, intinya, di cerita-cerita fiksi, karakter utama selalu punya “landasan” yang kuat untuk melakukan aksi. Alasan itu yang menggerakkannya. Apa yang dia pilih selalu didasarkan oleh masa lalu, dan hal-hal yang sedang menimpanya sekarang. Makanya, ada yang bilang kalau dunia fiksi lebih nyata dari dunia nyata.

Gue menatap sisa tulang ayam di piring. Memanggil mbaknya untuk membayar.

Ternyata, manusia itu kompleks ya...
...atau gue aja emang yang mager.
Suka post ini? Bagikan ke:

8 comments:

  1. Nggak, mungkin tanahnya yang kompleks. Biasanya dijaga satpam di gerbang masuknya.

    ReplyDelete
  2. Udah gitu fiksi harus masuk akal, kan (sekalipun surealis, harus ada logikanya). Kenyataan boleh enggak masuk akal. Dulu sering mikir bikin fiksi mah gampang, tinggal mengkhayal dan memperluas imajinasi, ternyata pas dicoba ... hahaha.

    ReplyDelete
  3. "GoogleMapsnya diprint"

    Di ss terus send via wa bisa. Atau lgsung share loc kan bisa juga.

    Yah, paling tidak dari sini kita tahu sifat Adi diturunkan oleh siapa.

    ReplyDelete
  4. Kalau nemu cewek cakep di jogja terus mau nganter ke makam sih, kayaknya bakal semangat tuh nyari makamnya dan gak ngelamun banyak hal di warung gudeg. Ya, kalau di pilem-pilem FTV sih begitu

    ReplyDelete
  5. bukannya udah sesuai keinginan tuh, di?
    pengelana sejati merangkap juga sebagai gembel.
    mantap

    harusnya lu ajak si mbak penjual gudeg buat ikutan ke tanah tujuan, di. sapa tau rumahnya disekitar sana. enggak jadi gembel deh

    ReplyDelete
  6. Kalau cewek bisa lebih kompleks lagi kayaknya, Di. Beruntunglah Anda terlahir sebagai lelaki. Kalau sebagai cewek, ketika duduk di warung gudeg, mungkin bukan pengin pulang. Bisa jadi pengin diet karena baru inget minggu ini berasa gendutan. Agak random emang.

    ReplyDelete
  7. kalo menurut ane mager adalah fiksi yang nyata
    yaa...rumusnya mager = tidur + ngimpi - motivasi

    ReplyDelete

Kalo kamu suka sama tulisannya, jangan lupa untuk bantu share dengan tekan tombol sosmed di atas yaa. \:D/

Untuk yang mau main dan ngobrol-ngobrol, silakan add LINE di: @crg7754y (pakai @). Salam kenal yosh! \(w)/