Saturday, July 21, 2018

When life gives you lemons?


Gue menatap gelas whisky yang baru diberikan bartender. Menempelkan tangan. Membuat telapak tangan gue basah karena embun di badan gelas. Mungkin saat ini, dari belakang, ada seorang perempuan yang diam-diam mengangkat handphone dan mengambil foto gue. Menguploadnya ke sosial media, dan memberikan caption: sendirian banget, Mas?

Pandangan gue mengarah ke lemon yang mengambang di dalam gelas: terombang-ambing tidak jelas di antara es berbentuk kubus.

Kepala gue masih sakit karena terlalu banyak tidur. Hal paling menyebalkan dari patah hati adalah karena tidak ada yang bisa kita lakukan untuk membuatnya sembuh kecuali tidur… dan merasakan sakitnya kembali setelah bangun.

Pikiran-pikiran di kepala gue bercabang begitu banyak,
dan semuanya saling mengikat satu sama lain.

Seharusnya, pada saat ini, tangan gue sudah bergerak meraih gelas. Meletakannya ke depan bibir. Mengalirkan cairan itu ke tenggorokan. Merasakan panasnya di dalam.

Atau seharusnya, gue sudah mematikan lampu. Menekan kepala dengan bantal. Menghalau denging yang berisik di telinga.

Tapi sekarang, yang bisa gue lakukan hanya memperhatikan kendaraan yang lewat di depan. Coba menikmati udara malam ini. Meluruskan satu demi satu cabang pikiran di kepala. Mendengarkan setiap bunyi yang ada; langkah kaki orang di belakang, seorang laki-laki dengan telepon genggam di telinganya, klakson mobil avanza itu, suara angin saat mobil itu akhirnya menyalip angkot.

Sekarang, gue nggak bisa pour a whisky on my lemons. Sekarang, di sebelah gue cuma ada sekaleng nescafe original. Sekarang, gue cuma bisa memasukkan cairan cokelat yang terlalu manis itu ke dalam mulut.

Bagaimana dulu gue melewati perasaan seperti ini?

Gue kembali mengingat. Memutar ulang memori yang gue punya. Merasakan sakitnya lagi. Bagi beberapa orang, patah hati bisa menjadi baju baja yang membuatnya lebih kuat dari sebelumnya. Bagi beberapa yang lain, patah hati membuat perasaan kita semakin tipis. Rasanya seperti bawang yang lapisannya terkupas setiap kali patah hati.

Dan setiap kali sembuh,
kita takut mengalaminya kembali.

Kita takut tidak bisa jatuh cinta lagi, lalu patah hati lagi, lalu jatuh cinta lagi. Kita takut tidak bisa memberikan perasaan kepada orang lain karena sebenarnya, jauh di dalam hati, kita sudah tidak punya apa-apa lagi. Mungkin ini yang menyebabkaan semakin dewasa seseorang, kita semakin malas untuk menemukan cinta yang baru.

Gue sebenarnya gak ngerti sama diri gue sendiri. Terkadang, hal yang begitu kecil bisa terasa sangat, sangat besar dan berarti buat gue. Ngebuat gue kecewa begitu aja. Dan semakin gue pikirkan, kekecewaan itu berubah menjadi lubang hitam dan menyedot gue ke dalamnya.

Gue tidak mengerti kenapa gue seringkali bertarung dengan pikiran-pikiran yang gue punya sendiri. Argumen yang satu menyangkal yang lain. Harapan melawan pengalaman pahit. Memori manis dan kehilangan. Realita dan keinginan. Pertanyaan yang setelah dijawab, menimbulkan pertanyaan-pertanyaan lain.

Mungkin saat ini dunia sedang memberikan gue lemon. Dan karena gue tidak punya whisky, gue hanya akan mengisapnya. Merasakan masamnya dalam-dalam. Perasaan yang sama yang pernah gue alami beberapa tahun lalu. Mungkin semuanya akan lebih mudah jika kita bisa mengontrol pikiran kita seperti menekan tombol settings, lalu clear history.

Tapi nggak, gue harus melewati ini.


Suka post ini? Bagikan ke:

11 comments:

  1. Hai keriba keribo.
    Long time berkunjung ke sini.
    Jadi lebih suka nescafe atau whisky nih?

    ReplyDelete
  2. duuuh, sedang patah hati mas ? kamu kerena aja, lg patah hati bisa nulis begini.. kalo aku boro2... yg ada makian semua kali kalo aku coba tulis hahahaha... yo wis toh, ibarat luka, masih basah, jadi masih sakit bangeeet... inget pengalamanku pas patah hati zaman smu... bikin maluuuu.. bisa2nya aku nangis di kelassss huaaaaahhh... kalo cinta banget ama cowo, sebisa mungkin jgn ditunjukin sampe segitunya ;p..

    ReplyDelete
  3. Lagi patah hati, tapi masih bisa nulis kayak begini. Ntaps bang.

    Aku gabisa minum nescafe original. Abis minum, perut langsung mules huhuu

    ReplyDelete
  4. Kenapa ya, kalau baca tulisan patah hati punya orang lain gue merasa kagum. Sementara pas baca tulisan patah hati punya gue sendiri, gue merasa jijay dan geli sendiri. Huhuhu. :(

    ReplyDelete
  5. Mungkin ini yang menyebabkaan semakin dewasa seseorang, kita semakin malas untuk menemukan cinta yang baru.-> dan sering kali karna seringnya hati patah n tersakiti, berujung pada heartless :')

    ReplyDelete
  6. Mungkin karena itu ya, semakin bawang dikupas-kupas. Rasanya jadi semakin pengen nangis.

    Gw sndiri nggk bisa ngebayangin di, gimana sakitnya patah hati orang yg sdah berkali-kali jatuh cinta dan berkali2 di patahkan hatinya. Smenjak terakhir kali gw jatuh cinta dan dkecewakan bhkan sbelum mngungkapkan, rasanya gw udah gak berani lagi buat jatuh cinta lagi. Truhannya antara berakhir dengan komitmen dengan masa depan dengan hari2 buruk untuk melupakan. Trlalu beresiko.

    ReplyDelete
  7. I used to try to forget her
    But now I smile when I remember
    Leaves are falling, it's September
    The night came in and made her shiver
    I told her she could have my jacket
    Wrapped it tight around her shoulders
    And I was so young 'til she kissed me
    Like a whiskey, like a whiskey~~

    Tetep semangat bang adi!

    ReplyDelete
  8. Semua pasti berlalu bang, semua kenangan manis akan tenggelam oleh waktu. Jadi intinya move on bang! hehe

    ReplyDelete

Kalo kamu suka sama tulisannya, jangan lupa untuk bantu share dengan tekan tombol sosmed di atas yaa. \:D/

Untuk yang mau main dan ngobrol-ngobrol, silakan add LINE di: @crg7754y (pakai @). Salam kenal yosh! \(w)/