Monday, December 25, 2017

Pembicaraan Saat Natal

Harusnya hari ini gue dekor kamar.
Harusnya.

Sampai begitu selesai mandi, Nyokap dari meja makan nanya, ‘Mau ke mana kamu?’ Entah kenapa Nyokap selalu nanya begitu tiap gue selesai mandi. Seakan-akan gue mandi kalau mau pergi doang. Cih. Kan emang. Hehehe.

‘Mau beli peralatan buat dekorasi kamar, Bu. Kenapa?’

‘Nanti sore aja ya. Kita makan siang di rumah Tante Ani dulu. Temenin ibu. Kan dia natalan, kita silaturahmi. Bapak soalnya belum mandi.’ Nyokap nengok ke kursi panjang di sebelah. Ada Bokap tiduran gak pake baju. Berasa di surga. Lalu terjadilah dialog abnormal antara Bokap dan anak:

Bokap: (cengengesan) Kan dia natalan. Nah, kamu nanti ke sana pakai baju koko sama peci dong.
Gue: (perasaan udah gak enak) Emang kenapa, Pak?
Bokap: Biar pas Idul Fitri dia ke sini pake kostum Santa Klaus. Hehehehehe.
Gue: YUK BU BERANGKAT!

Begitu sampai di rumah Tante Ani (tetangga sebelah rumah), ternyata udah ada beberapa tetangga lain. Tentu, karena dipenuhi oleh para orangtua, gue cuma diam di pojokan sambil megang hape. Sewaktu mulai tumbuh lumut di sekitar muka, ada satu pasangan tetangga datang. Si istri (yang mulai saat ini kita sebut sebagai ‘Tetangga 1’) langsung heboh: ‘DUH MAAF YA TELAT. TADI UDAH MUTER KE TIGA RUMAH! HIHIHIHIHI.’

Gue dalam hati: ‘Sial. Pasti udah dapet makanan banyak dia.’

Tetangga 1: ‘...UDAH DAPET BANYAK MAKANAN DONG KITA. HIHIHII.’

Suasana hening.

Nggak berapa lama, suasana kembali cair. Masalahnya, berhubung isinya orangtua semua, gue nggak ada temen ngobrol. Alhasil, gue cuman nguping di pojokan. Sampai kemudian gue menyadari kalau… obrolan orangtua ini kok abnormal sekali ya?

Berikut adalah rekapan pembicaraan orang-orangtua ini.

Pembicaraan 1:
Tetangga 1: Anak sekarang tuh lahirannya pada sesar loh. Anaknya temen aku aja kayak gitu!
Nyokap: Banyak masalah ya emangnya?
Tetangga 1: Enggak. Itu biar tetep terasa perawan aja.

Hening.

Tetangga 1: (heboh) Ih! Sekarang mah enak. Jadinya dokter bisa ngatur kapan anak bakal lahir. Udah kayak Tuhan, Cyin.

 Pembicaraan 2:

*Tante Ani ngasih kacang goreng ke para tamu*

Tante Ani: Gimana nih kacangnya? Hehehe.
Tetangga 1: Melempem! Kamu sih nggak minta ajarin aku! Hihihihihih.
Tante Ani: (tatapan membunuh) Hmmm. Gitu ya.
Nyokap: Kalau gitu masukin ke wedang ronde aja. Biar nggak ketahuan.

Pembicaraan 3:

*suasana sedang sibuk saling ngobrol*

Tetangga 1: Enak ya di sini…
Ibu-ibu lain: Kenapa, Bu?
Tetangga 1: Rame… Soalnya ada aku sih!
Ibu-ibu lain: ...
Tetangga 1: Bener deh. Kalo ada aku pasti rame.

Pembicaraan 4:

*Semua baris antri makan*

Tante Ani: Ayo, Di! Ini Tante bikin soto banjar. Tapi kuahnya pakai susu gitu. Kamu harus cobain!
Gue: Siap tante.
Tante Ani: Eh, kamu kenapa mondar-mandir?
Tetangga 1: Tadi kan aku udah dateng ke tiga rumah. Ini biar cepet turun nasi-nasi yang tadi. Biar langsung makan.
Gue: ...

Hening.

Pembicaraan 5:
Tante Ani: (ngeliatin piring) Ini pada udah ya? Biar saya taruh ke belakang dulu deh.
Nyokap: Udah, biar saya aja!
Tetangga 1: Hush! aku aja!
Tante Ani: NGGAK! BIAR SAYA!
Nyokap: SAYAAAA?!!
Tetangga 1: (menyundut dengkul Tante Ani dari belakang sampai jatuh) Sudah kubilang aku yang bawa ini ke dapur.

(Oke, yang bagian nyundut dengkul bercanda. Tapi dia beneran dia yang dapet)

Pembicaraan 6:
*Nyokap ngeliat bawang goreng yang gosong di atas meja*
Tetangga 1: (teriak heboh) WAH! GOSONG YA BAWANG GORENGNYA! KETAHUAN SIH EMANG YANG JARANG MASAK MAH!

*Tante Ani dateng dari dapur*

Tetangga 1: (senyum licik) Ni. Bagus tuh bawangnya. Hihihihih.
Tante Ani: (polos) Wah, makasih!


Selama ini gue pikir cuma anak muda yang kalo bercanda kurang ajar. Ternyata orangtua bisa kampret juga ya…
Suka post ini? Bagikan ke:

Sunday, December 17, 2017

mengingatnya lagi.

Gue percaya untuk menuliskan sesuatu, yang, berasal dari dalam hati, seseorang butuh kondisi khusus. Lagu-lagu kenangan yang membuat patah hati? Barang-barang lama yang tidak sengaja ditemukan kembali? Deadline pekerjaan yang harus diselesaikan? Lampu yang dibuat lebih remang? Paling tidak, sesuatu yang membantunya menjadi orang yang jujur pada dirinya sendiri.

Sudah tiga puluh menit sejak gue membuka ms word di depan.
Dan sampai sekarang, lembarnya masih kosong.

Suara burung bercuit di depan terdengar masuk ke kamar. Sesekali diselingi suara sapu yang bergesekan dengan aspal. Aneh. Gue yakin sebentar lagi hujan, tapi masih ada aja yang nyapu sore-sore. Gue menutup laptop, merebahkan diri di kasur sebelah, lalu membuka blog.

Membaca postingan-postingan lama terasa amat lucu buat gue. Bagaimana ketika itu, gue bisa dengan mudah menuliskan apa saja yang gue rasakan. Apa yang gue alami. Kejadian baik. Buruk. Memalukan. Atau bahkan pikiran-pikiran random yang entah datang dari mana.

Belakangan ini rasanya sulit buat gue menuliskan hal-hal seperti itu.

Entah jus kreatif gue yang semakin kering, atau memang blogging sudah mulai terasa kurang asik buat gue.

Dua hari lalu, gue tidak sengaja membuka salah satu blog favorit, dan menemukan tulisan ini. Tulisan yang membuat gue terhenyak cukup lama.

Jenny Lawson, si penulis, akhirnya merasakan salju di daerah Texas.

Dan gue merasakan harapan dari tulisan itu. Bagaimana caranya mendeskripsikan hujan dari pohon membuat gue termenung. Lalu, pelan-pelan, ada rasa hangat yang mengalir di dada. Semacam perasaan sendu yang bercampur dengan semangat pagi hari.

Kalau dipikir-pikir, aneh rasanya bagaimana hanya dengan membaca sebuah tulisan, tubuh kita bisa merespons dengan berbagai macam perasaan. Berbeda dengan film di mana kita dapat melihat karakter menangis terharu, lengkap dengan iringan musik bernada rendah yang membuat kita jadi sedih.

Bunyi jatuhnya air menuju genteng samar-samar terdengar. Satu. Dua. Tiga. Lalu gue membayangkan titik-titik air ini jatuh di genangan depan rumah. Pantulan pohon di genangan menjadi tidak jelas karena hujan mulai turun. Lalu suaranya menjadi tidak beraturan. Rintik-rintik air berubah menjadi hujan. Tirai di samping jendela terdorong. Angin dingin masuk ke dalam kamar. Gue meremas guling. Hari hujan datang lagi.

‘’Kenapa gue menulis?’ Gue bertanya sendiri dalam hati.

Sampai saat ini, mungkin ini adalah salah satu pertanyaan yang sulit gue jawab. Beberapa teman bertanya ‘Lo kenapa suka nulis?’ yang kemudian hanya gue jawab dengan ‘Ya suka aja.’ Sebagian lagi gue jawab dengan ‘Yah, namanya juga idup.’

Terus terang, kayaknya gue belum begitu tahu kenapa gue suka menulis. Kenapa gue mau duduk, diam berlama-lama menekan tuts ini, bahkan tanpa tahu siapa yang akan membaca tulisannya. Bahkan tanpa tahu apa ada orang yang benaran sudi mau baca tulisan beginian.

Anehnya, terkadang gue merasa sedih ketika punya hasrat menulis, tapi sama sekali gak tahu mau nulis apa. Rasanya seperti terlambat datang ke pertunjukan musik. Ada perasaan sesak dan kesal yang bercampur jadi satu. Ada semacam perasaan menyalahkan diri sendiri.

Gue kembali membuka tulisan lama di blog.

Mengingat beberapa momen yang pernah gue lewati beberapa tahun belakangan.
Gue tertawa di satu postingan.
Lalu terdiam lama di postingan lain.

Di momen ini, suara lain jadi terdengar lebih keras dari sebelumnya. Bunyi hujan di luar. Suara putaran kipas di sebelah. Suara petikan gitar di Spotify.

Atau mungkin ini?
Jawaban dari pertanyaan ‘Kenapa gue suka menulis’ sebenarnya adalah sesimpel,
supaya gue bisa mengingatnya lagi.
Suka post ini? Bagikan ke:

Friday, December 1, 2017

Kunci Sukses Pria Itu Dari Parfumnya. Kok Bisa?

Beberapa waktu belakangan, gue baru sadar mengenai bagaimana menjadi seorang pria sejati. Bukan, menjadi pria sejati bukan berarti badan kamu harus berotot, lalu minum minuman berenergi sampai tumpah-tumpah. Ternyata, untuk menjadi seorang pria sejati itu cukup mudah. Kuncinya: kita harus wangi.

Kemaren, salah satu teman gue baru aja curhat soal kencannya. ‘Sebenernya, sih, gue nyambung sama dia. Tapi… badannya bau.’ Temen gue ini lalu bercerita bagaimana dia harus menahan napas selama kencan. Betul juga sih. Agak nggak enak kalau kita nge-date dengan suara bindeng gara-gara mencet hidung sendiri. Dengan suara kayak nobita kejepit, ngomong apapun jadi tidak akan terasa romantis. ‘E… lepe tuu… (I love you too).’ Lalu dibalas oleh gebetan kamu dengan ‘KRESEK MANA KRESEK GUE MAO MUNTAHH?!!’

Setampan apapun pria, semacho apapun badannya, serapih apapun penampilannya, kalau nggak wangi rasanya nggak asik juga. Begitu nge-date, sebelum ciuman, ceweknya keburu nanya, ‘Kamu nyium bangkai kuda nggak sih daritadi?’ Langsung drop.

Selain akan menimbulkan kegagalan dalam dunia asmara, menurut gue, cowok yang bau badan akan mempunyai dampak buruk. Seperti misalnya:

1. Wawancara Kerja

Kamu baru aja lulus kuliah, baru lolos ujian psikotes dan sedang menghadapi sesi wawancara kerja. Tentu saja, selain kecocokan antara kebutuhan perusahaan dan skill yang kamu punya, perusahaan juga akan melihat personality kamu. Kalau begitu kamu masuk ruang wawancara langsung bikin tumbuhan di meja pada layu, sudah pasti kemungkinan kamu diterima bekerja akan menipis. Mungkin akan ada sesi awkward seperti ini:

Pewawancara (PW): Boleh ceritakan apa kelebihan dan kekurangan kamu?
Kamu (K): Saya terbiasa memimpin organisasi, Pak! Kata orang-orang sih saya kalo kerja sampe berdarah-darah!
PW: Kekurangan?
K: Saya terbiasa membuat hidung anak buah saya berdarah, Pak!

2. Ketika Presentasi

Bayangkan kamu adalah seseorang yang ingin presentasi di hadapan puluhan orang. Atau mempresentasikan hasil praktikum di depan teman-teman kelas. Setelah guru memanggil namamu, kamu maju ke depan. Di belakangmu ada lalat terbang-terbang. Di belakangnya lagi ada temen lain nyemprotin alat fogging.

Bau badan jelas akan menurunkan wibawa kamu saat presentasi. Bisa-bisa, ketika sesi tanya jawab, yang muncul malah pertanyaan Bagaimana-Cara-Bernapas-Ketika-Lubang-Idung-Disumpel-Pensil-2B

3. Ke Rumah Calon Mertua

Ini adalah hari pertama kali kamu ke rumah gebetan. Dan demi memenangkan hati orangtuanya, di tangan kamu sudah ada martabak manis kesukannya. Kamu mengetuk pintunya, dan berharap orangtuanya akan bilang, ‘Besok nikah! Mantab!’

Sayangnya, kamu lupa pakai parfum. Padahal banyak parfum pria murah di dunia ini.

Bukannya mendapat restu, Bapak gebetan malah nanya, “Ini martabak beli di mana? Kok baunya kayak plastik kebakar?’

Tentunya, kamu tidak mau hal-hal buruk seperti itu menimpa dan menurunkan tingkat kemachoan kamu sebagai pria. Nah, oleh karena itu, gue akan memberikan beberapa tips untuk menghilangkan bau badan dengan mudah!

Cara termudah supaya kamu tetap menjadi pria sejati meskipun bau adalah… pacaranlah sama Voldemort.



Cara kedua termudah… tentunya dengan pakai parfum dong! Tinggal semprot semprot semprot langsung deh mantap… nyamuk pada mati semua.

PAKENYA PARFUM YA JANGAN OBAT NYAMUK?!

Meskipun terkesan sederhana, ternyata ada berbagai jenis parfum berdasarkan banyaknya kandungan essence di dalamnya lho. Mulai dari yang bernama Eau Fraiche, sampai yang disebut dengan… minyak nyong nyong. Kagak lah.

Eau Fraiche adalah parfum yang tergolong cupu. Kandungan konsentratnya ada di bawah 2 persen. Kadar alkoholnya tinggi (gue baca di jurnal aja, nggak nyobain langsung). Sementara di atasnya ada yang disebut dengan Eau de Cologne yang memiliki kandungan konsentrat 2-4%. Kalau di pasaran, ini seringnya disebut Body Spray/Body Splash. Kalo di iklan-iklan pernah liat adegan cowok setengah bugil, lalu nyiramin semacam air ke badannya lalu terlihat bahagia. Nah, itu dia lagi make Eau de Cologne. Bukan buang-buang air.

Di tingkat atasnya lagi, ada Eau de Toilette. Meskipun namanya kayak toilet, tapi parfum jenis ini akan mampu bertahan setengah sampai satu hari. Kandungan konsentratnya antara 4-8%.

Selain itu, ada juga Eau de Perfume. Nah, jenis ini memiliki kadar alkohol yang cenderung sedikit dibandingkan jenis sebelumnya (emang dikit dari sananya, bukan gara-gara diminum). Wanginya bisa bertahan satu sampai dua hari. Kandungan konsentratnya 8-16%.

Di kasta tertinggi dunia parfum, ada yang namanya Extrait de Parfum. Parfum jenis ini punya kandungan essence antara 15-30%. Karena harganya udah termasuk mahal, kadang parfum jenis ini juga dipakai sebagai barang koleksi. Konon orang-orang yang menggunakan parfum jenis ini akan lebih mudah direstui orangtua pasangan.



Sekarang udah tahu kan bagaimana kunci menjadi seorang pria sejati?
Kalau kamu biasanya pakai parfum yang mana? Atau masih gosok-gosokin bawang putih biar baunya ketutup?
Suka post ini? Bagikan ke: