Friday, September 29, 2017

Jelajahin Pulau Derawan, Gue Nemu Keindahan Alam yang Tak Terlupakan

Ada satu daerah di Indonesia bagian utara yang semakin hari semakin menarik minat para wisatawan. Daerah mana kah itu? Oh, bukan. Bukan daerah kewanitaan. Tapi Derawan! Secara geografis, Derawan terletak di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Untuk bisa ke sana, kamu bisa menghanyutkan diri di Laut Jawa dan berharap terseret arus sampai sana. Tapi ribet. Atau, tentu saja, cara paling mudah adalah dengan naik pesawat. Apalagi menggunakan jasa maskapai penerbangan Kalstar.
sumber:thepresidentpostindonesia.com

Dengan menggunakan jasa Kalstar, kamu akan diantar menuju Bandara Kalimarau, Berau. Begitu sampe Bandara Kalimarau yang terkenal bersih dan nyaman, langsung terasa deh tuh hawa-hawa liburan. Bawaannya pengin ngerentangin tangan kayak di film-film traveling sambil teriak, 'MAMAAAH! CURHAT DONG!'.*

*Tips: supaya perjalanan kamu semakin seru, datanglah bersama teman-teman terdekat. Hindari bepergian bersama orang yang kamu belum kenal-kenal amat. Seperti misalnya, Jamaludin (SIAPA PULA ITU JAMALUDIN?!).
Dari Bandara, kamu bisa langsung menuju Pelabuhan Tanjung Batu yang tidak begitu jauh. Di sana udah banyak perahu yang bisa kamu sewa untuk menjelajahi Kepulauan Derawan.
sumber:ngetripmulu.com

Buat yang belum tahu, Kepulauan Derawan merupakan gugusan pulau-pulau kecil yang mempunyai keindahan alam luar biasa. Mulai dari Sangalaki, Biduk, Maratua, Nabuko. Nggak cuma di pulau-pulau itu, ada juga destinasi lain kayak gugusan karang Muaras, masimbung, tababinga, dan pinaka. Banyak abis kan? Dijamin alam yang ada di sini bakal bikin kita terhipnotis. Apalagi kalau perginya bareng Uya Kuya. Bisa-bisa habis dihipnotis, aib kamu kebongkar semua.
sumber:piknikasik.com

Kalo kamu emang hobi pergi wisata dan punya kesempatan berkunjung ke Kepulauan Derawan, cobain deh liat keindahan alam di Danau Labuan Cermin. Danau ini bukan sembarang danau. Keistimewan keindahan alamnya ada di airnya yang berwarna biru bening (bukan biru kecekek). Pohon-pohon rindang di sekelilingnya juga bikin suasana makin yahut. Menurut legenda yang beredar, konon berfoto di sini akan meningkatkan ketampanan sampai 86%. Terutama kalau pakai topeng Adipati Dolken.
Eits, nggak cuma itu. Keistimewaan tempat ini juga ditambah dengan adanya dua jenis air sekaligus. Ya, dua. Ada air tawar di bagian permukaan danau, dan air asin di bagian dasarnya.
Kalau masih belum puas juga, silakan datangin Pulau Maratua. Tempat puluhan lumba-lumba yang siap menunggu kamu untuk mengajak berenang bersama sambil melihat pemandangan dasar laut yang menakjubkan. Tips dari gue si master jalan-jalan: Demi keselamatan, jangan mau diajak berenang bareng lumba-lumba yang belum kamu kenal-kenal amat. Bisa jadi dia punya niat jahat! Abis diajak berenang, kamu dibawa ke pojokan. Ditawarin permen. Abis itu ketagihan dan disuruh bayar! Astaghfirullah! Di dunia ini kita harus hati-hati kawan!
Keseruan lain berenang bersama hewan laut juga bisa kamu temukan di Pulau Kakaban. Kali ini bukan lumba-lumba, melainkan ubur-ubur yang siap mengajak kamu menyelam menyusuri kedalaman. Kerennya, ubur-ubur di Pulau kakaban ini sangat jinak dan tidak menyengat.
sumber:generation-g.id

Setelah puas main air, kamu bisa mengunjungi Sangalaki. Pulau ini merupakan kawasan konservasi penyu dan berbagai hewan lain. Di sini kamu bisa berkeliling hutan yang merupakan rumah bagi burung maleo, kepiting kenari, dan juga biawak. Keistimewaan di Pulau ini adalah kamu bisa melihat puluhan penyu yang naik ke daratan untuk bertelur. Nggak cuma itu, kamu juga bisa ikut merasakan melepas anak-anak penyu menuju ke laut. Kurang cihuy apa coba?
Sebagai penutup perjalanan berkeliling Kepulauan Derawan, Pulau Gusung Paris adalah lokasi yang paling tepat. Kenapa? O jelas karena di Pulau Gusung Pasir kita bisa ngelihat matahari terbenam yang oke abis. Menatap sunset bersama kekasih sambil diterpa angin seraya berbisik, ‘Ngutang dulu ya, Sob.’
Itulah beberapa destinasi wisata dan aktivitas yang bisa kamu lakukan di Kepulauan Derawan. Cukup dengan tiket Kalstar di tangan, liburan tak terlupakan bisa kamu rasakan. Tunggu apa lagi? Buruan cari tiket Kalstar, sebelum kehabisan. Jangan lupa ajak gue ya. :p
Suka post ini? Bagikan ke:

Sunday, September 24, 2017

ngobrol-ngobrol random...

Tanggal berapa ini? Wah, udah lama juga ya nggak post di sini. Beberapa waktu lalu emang rasanya males banget untuk apdet blog. Bahkan untuk buka blog sendiri aja bawaannya pengin kentut (lho?). Kayaknya, emang ada masanya deh seorang blogger itu ‘hiatus’ bentar. Nggak apdet tulisan. Kabur sejenak dari dunia “personal blogging” ini.

Anywaaaay. Lagi pada sibuk apa nih? Sekarang tuh lagi masa apa sih? Baru-baru lulus kuliah gitu ya? Atau baru masuk kampus? Atau masih di dalam rahim ibunya?

Hmm gue mau cerita apa ya? Kita ngobrol-ngobrol random aja kali ya. Firstly, gue masih idup. Masih baik-baik aja. Masih telanjang kalau beli cendol (INI APA?). Selain menjalani kehidupan yang tetap merusak tatanan ekosistem dunia, satu bulan kemarin gue bikin tulisan yang akhirnya menjadi sebuah projek baru. Hasilnya kayak apa? Gue masih belum bisa gue kasih tahu. Soalnya… belum kelar. Muahahaha.

Mungkin beberapa teaser bakal gue publish dalam waktu dekat. So, tolong doain biar cepet beres ya. Yang jelas, I really enjoy making this story and I hope we will get the best result. Merdeka!

Lanjut. Sejak datang ke Popcon Asia beberapa waktu lalu, gue jadi mulai suka baca komik lagi. Dan gue kaget setengah mati kalau ternyata komik Indonesia keren-keren abis! Ini sinting sih. Pulang dari sana gue langsung ngefans sama comic artist bernama Alex Irzaqi. Acara itu sekaligus ngebuka pandangan gue akan dunia komik Indonesia. Salah satu situs favorit gue adalah Kosmik. Kalau pengin tahu cerita sewaktu di Popcon, gue sempet post di Instagram ini deh.

Selain Kosmik, gue juga baru install aplikasi Ciayo dan Webtoon (ya, gue emang telat abis). Alhasil, tiap weekend kerjaan gue bikin kepompong pake selimut terus scroll-scroll hape sampe modar.

Di Ciayo, salah satu komik favorit gue adalah Sampana, campuran antara sejarah dan action. Sementara dari webtoon, gue lagi demen sama Lara(s)hati. Those are two comics that you guys should try to read!

Nah, gara-gara komik ini, gue jadi mulai merhatiin hal-hal berbau jepang lainnya. Seperti misalnya: kenapa cewek jaman sekarang banyak yang pake celana gombrong kayak samurai X gitu?



Oke, maksud gue adalah lagu. Gue jadi ikutan demen dengerin J-Jazz. Sebagai informasi, J-Jazz adalah Japan Jazz, bukan Jember Jazz. (Ya, siapa tahu aja kan ada yang ngira gitu?) Gue lagi suka banget ngulang lagu-lagunya BohemianVoodoo. Pasang headset, duduk di samping jendela, siapin teh hangat. Beuh! Kalo pak Bondan tahu, dia pasti bilang ‘Hmmmm… MASUK ANGIN!!’

Lanjut ke topik lain. Belakangan ini gue menyadari sesuatu yang aneh. Nggak, ini gak ada kaitannya dengan hal-hal mistis. Seperti misalnya, abis nonton video awkarin, kepala terasa cenat-cenut dan ginjal mengalami pendarahan (horor).

Keanehan ini bernama kenangan.

Begini. Di era sosial media ini, kebiasaan kita sedikit banyak berubah. Sekarang, kita jauh lebih sering mengambil momen berupa foto dan video. Itu artinya, kita punya lebih banyak ‘stok’ kenangan di masa lalu dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Dan itu artinya, seharusnya kita bisa lebih banyak punya perasaan ‘nostalgic’ akan foto-foto tersebut. Akan berbagai hal yang telah kita abadikan.

Sekarang, bayangkan perasaan ini.

Perasaan ketika kita membuka buku tahunan yang telah lama kita simpan. Melihat kembali foto kita pada masa itu. Lengkap dengan quote yang kita bikin sendiri di bagian bawahnya. Sebuah foto, yang, membawa kita ke tempat nongkrong favorit di sekolah. Kepada kejahilan yang pernah kita lakukan. Kejar-kejaran sama guru piket, demi rambut yang tidak dicukur. Atau bahkan, mengejar murid yang bisa kita andalkan untuk mencontek sebelum guru datang.

Bayangkan perasaan yang kita dapat ketika menemukan kembali foto hasil photobox bersama teman-teman SMP. Lalu, lihatlah foto yang kita punya di hape. Foto-foto yang seharusnya punya fungsi yang sama: mengeluarkan kenangan masa lalu. Anehnya, gue merasa foto-foto di hape tidak punya ‘kenangan’ sekuat itu. Bahkan ada masanya gue bingung sendiri dengan foto itu lalu jerit, ‘INI KENAPA DI HAPE GUE ADA FOTO GEROBAK GORENGAN DAH?!’ gara-gara foto dari grup whatsapp yang otomatis masuk ke hape.

Padahal, sebagian besar waktu yang kita pakai saat ini adalah untuk mengabadikan kenangan. Apa ini perasaan gue aja ya? Atau karena saat ini, kita lebih jarang menikmati momennya? Apakah karena kita, terlalu sibuk dengan semua peralatan dan aktivitas mengabadikan momen ini? Sampai pada akhirnya, yang kita punya cuma foto. Cuma kumpulan gambar digital dengan berbagai warna. Tanpa ada kenangan di dalamnya (?).
Suka post ini? Bagikan ke:

Saturday, September 2, 2017

Senter = Olegabo

Kalau dihitung-hitung, rasanya udah agak lama juga keluarga gue nggak ngumpul semua. Berhubung besok ada pengajian untuk pernikahan Abang gue, jadilah dari kemarin kami berhasil kumpul lagi. Dan, tentu aja. Kalo udah ngumpul gini, pasti ada aja kejadian abnormal.

Karena kemaren gue capek ngecat beberapa bagian rumah. Jadinya hari ini gue berniat untuk bangun siang. Dari semalem kamar udah gue kunci, supaya Nyokap atau Bokap gak bisa masuk sembarangan. Eh bener aja. Tadi pagi Bokap sempet ngetok pintu, nyuruh gue lanjutin beberes rumah. Dengan teknik pura-pura tidur tingkat tinggi, gue diem aja kayak pengki. Rencana pun berhasil. Bokap berhenti ngetok pintu sampai beberapa saat kemudian… Bokap nyetel ‘You Raise Me Up’ lewat mini compo.

Karena gak enak sama Josh Groban yang ngerasa dibangunin (raise me up) mulu, gue terpaksa bangun deh.
Cerdas juga Bokap ini.

Lucunya, beres-beres hari ini malah bikin gue sadar kalau ternyata ada beberapa ‘bahasa’ bokap-nyokap yang bikin gue keliyengan. Entah kenapa bokap-nyokap kayak punya bahasa sendiri untuk beberapa benda YANG ANEHNYA DIPAKE BENDA LAIN. Vacuum cleaner, misalnya. Bokap menyebutnya dengan ‘sedotan’. Ini jelas rentan memicu kesalahpahaman. Gimana coba kalau gue anak yang polos dan sangat berbakti. Begitu Bokap nyuruh gue beresin lemari tv, gue malah niupin debu pake sedotan Okky Jelly Drink (soalnya lebih gede dari sedotan ale-ale).

Beberapa benda lain juga kadang bikin gue bingung. Senter, misalnya. Bokap menyebutnya dengan ‘baterai’. Gue jadi ingat rumah kami pernah mati lampu, Bokap kemudian panik meraba-raba sekitar sambil nanya ‘Mana baterai?! Mana?’ Sebagai anak teladan gue menjawab, ‘Pake yang di remot aja dulu.’

Dalam keluarga kami, ‘menelepon’ pun berganti dengan ‘ngebel’. Contoh penggunannya adalah seperti ini: ‘Sebentar, ya. Ibu ta’ ngebel rumahnya Mbak Evelin dulu….’

Gue sendiri masih tidak paham dengan bahasa-bahasa ini. Apakah ini bahasa jawa? Kalaupun iya… KENAPA JUGA HARUS PAKE BENDA LAIN YANG ADA NAMANYA?!

Emangnya nggak bisa pake bahasa baru yang belum ada gitu? Misalnya: Senter = Olegabo, Vacuum cleaner = Mulyadi (Oke, kok ini malah kayak nama orang ya?). Pokoknya gitu deh.

Salah satu benda yang namanya berganti dengan cukup lucu buat gue adalah mikrofon/speaker. Bokap dan Nyokap sering banget nyebut mic/speaker/toa dengan… Halo-halo.

Ya. Halo-halo.

‘Wah keren banget! Ruth Sahanya nyanyinya pake… halo-halo warna pink.’

Sungguh tidak elit.

Dan kenapa juga gue kepikiran Ruth Sahanya.

Tidak berhenti sampai penggunaan kata benda. Bokap juga terbalik dalam urusan warna. Dia menyebut warna biru sebagai hijau, dan hijau sebagai biru. Ini sempat beberapa kali menimbulkan konflik.

‘Tolong ambilin baju yang warna biru dong.’
‘Nih.’
‘ITU IJO!’
‘i… ni bukannya biru?’
‘ITU IJO! BISA LIAT GAK KAMU?!’
‘O-oke.’ Lalu gue masuk kamar mandi. Nge-flush diri sendiri.

Nah, buat yang merasa orang jawa, tolong bantu gue memecahkan masalah ini dong. Atau setidaknya, tolong kasih tahu gue, kalau keanehan ini bukan milik gue sendiri.

--
On another note, gue baru aja mereview buku terbarunya Andrea Hirata yang berjudul Sirkus Pohon. Bisa pake apikasi anchor ke station 102km/jam FM. Atau langsung denger di sini:


Suka post ini? Bagikan ke: