Sunday, August 27, 2017

MALAM MINGGU SIAL

Seharusnya gue udah di rumah, meluk guling sambil gegoleran. Kenyatannya, sekarang gue di McDonalds BSD. Menunggu kesabaran yang mulai muncul sedikit demi sedikit.

Rencananya, malam ini gue cuman mau nonton Bad Genius, film Thailand tentang aksi anak SMA mencontek ujian, sekalian cari inspirasi untuk salah satu kerjaan. Tapi sayang seribu kancut, kita hanya bisa berencana. Warna kancut yang menentukan (lho?).

Kesialan gue dimulai sewaktu duduk di dalam studio bioskop. Gue milih posisi di bagian C, dekat tangga bagian tengah. Begitu filmnya mulai, gue sibuk menaruh tas di bawah kursi. Melepas headset, dan menaruh jaket di atas paha. Masih terbayang jelas di kepala gue. Di tengah kegelapan, terjadi semacam perdebatan antara gue sendiri.

‘Di, headset-nya taroh di tas aja. Berantakan amat jadi orang!’
Lalu gue membalas, ‘Mager, euy.’

Akhirnya, gue menonton dengan posisi duduk, lalu menutupi paha dengan headset dan jaket. Udah kayak ayam lagi ngerem.

Begitu filmnya abis, headset gue ilang.

Ya, ilang.

ILANG NJING! *emosi*

Gue sama sekali gatau ke mana tuh headset kabur. Gue udah ubek-ubek ke bawah kursi, ke kanan, ke kiri sampai studio mulai kosong, tapi nggak ada juga. Karena film ini bukan film-film Marvel yang ada bagian after credit-nya, alhasil mas-mas di bawah memandangi gue dengan tatapan penuh kelaknatan.

Emosi level: 13%.

Demi mengobati kebetean, gue berniat membeli komik terbitan Kosmik yang belakangan ini lagi demen banget gue bacain secara online.

Gue ke gramedia,
Eh komiknya nggak ada.

Emosi level 26%.

Jam menunjukkan pukul 10:15 malam. Perut udah laper dan toko-toko mulai tutup. Gue kemudian berniat langsung pulang dan melanjutkan pekerjaan di rumah aja (rencana awalnya mau di sana).

Begitu di parkiran,
ban motor gue bocor.

Emosi level: 45%.

Oke, oke. Ini bikin gue makin memutuskan untuk ngelanjutin kerjaan di rumah. Ada rasa-rasa tidak enak ketika kita harus dorong motor di malam minggu. Apalagi helm gue bagian kacanya sering turun sendiri. Dilema antara terus mendorong motor atau berhenti buat naikin kaca helm.

Gue baru ingat kalau dekat sini ada pom bensin. Gue semangat lagi. Paling enggak, bannya bisa gue isi angin dulu supaya motornya bisa gue naikin sampai ke bengkel.

Begitu sampai pom bensin,
adanya angin Nitrogen.

Terus terang gue gatau apa bedanya angin nitrogen dan angin standar yang ditiup gitu. Tapi ngelihat peralatannya yang keren dan namanya yang kimia abis, gue serem juga. Takutnya bukan keisi angin, yang ada motor gue dipenuhi unsur periodik.

Emosi level: 47%.

Lalu satu per satu orang mulai menghampiri.

Orang pertama adalah pengendara motor gede (gue bukan anak motor sejati, jadi semua motor yang ber-kopling gue bilang motor gede. Motor orang ini bukan moge yang Harley Davidson gitu).

‘Kenapa, Mas?’ tanya dia.’
‘Bocor, Mas. Nggak bisa dinaikin.’
‘Oalah,’ katanya dengan nada iba. ‘Saya bantu setut ya.’

Setut, dalam bahasa motor berarti bantu ngedorongin motor lain dengan kaki. Kalau kamu pernah ngelihat ada dua motor dempet-dempetan kemudian kaki pengendara motor belakangnya nempel di pijakan kaki motor depan atau knalpot, itu berarti dia lagi setut, bukan kawin.

Gue menunjuk ban belakang sambil ketawa canggung. ‘Bannya, Mas. Bocor. Nggak bisa. Makasih ya.’
‘Wah bocor ya,’ katanya lagi, masih dengan nada iba. ‘Saya setut ya.’
‘SAYA GAMPAR MAU GAK MAS?’

Masnya alhamdullillah pergi.

Gue masih dorong motor, sampai dengkul gue panas. Kali ini pengendara motor bebek menghampiri.

‘Kenapa, Mas?’
‘Bocor. Hehe.’
‘Oh bocor ya.’ Dia senyum canggung. NGUEEENNGG. Dia langsung ngebut karena tahu nggak bisa ngebantu.

Sakit, tapi nggak berdarah.

Gue lanjut dorong. Dengkul berasa kebakar. Saking capeknya, rasanya gue pengin berguling di pinggir jalan. Pura-pura cedera hamstring.

Kali ini, sopir Uber motor yang berhenti.

‘Mau saya setut nggak, Mas?’
‘Wah. Makasih, Mas. Tapi ini bocor. Tambal ban di sekitar sini di mana ya, Mas?’ Gue kali ini nanya. Jenius abis.

Masnya mikir bentar, lalu dengan kesotoyan tingkat tinggi, dia menjawab mantap. ‘Deket Ora Et Labora!’

Sebetulnya, Ora Et Labora ini berbeda jauh dengan arah gue pulang. Tapi berhubung dia bilang dekat sana ada, gue akhirnya berbelok ke kanan. Menuju lampu merah di depan. Gue ngelus-ngelus kaki. Sabar ya, Ki. Bentar lagi paling beri-beri.

Mas-mas Uber kemudian melanjutkan perjalanan. Gue, karena udah gak tahan, dan diiming-imingi dengan Tukang-Tambal-Ban-Tinggal-Perempatan-Belok-Kanan memutuskan buat naikin motor. Jalan njot-njotan, nyalain sein kiri. Gelap-gelapan. Oh, betapa mesranya malam mingguku.

Demi mempersingkat waktu, dan melupakan memori kelam yang baru saja terjadi, gue langsung aja bilang kalau ‘BIADAB MANA ADA TUKANG TAMBAL BAN  DEKET ORA ET LABORA!’ Di sini emosi level gue udah mencapai 76%. Gue udah muter menyusuri sepanjang jalan. Batok dengkul gue sempet jatoh dua kali, untung sempet keambil dan gue pasang lagi. Persetan dengan dorong motor. Mulai sekarang, sejauh apapun tukangnya, motornya gue naikin. Nanti begitu ada bengkel, langsung aja gue ganti ban dalamnya.

Belum nemu bengkel,
ternyata gue ngelewatin pom bensin. Lagi.

Kali ini ada pengisian anginnya.
Gue nangis terharu.

Dengan gagah berani gue parkir di tempat parkir mobil, menunggu antrian selang pengisian angin. Biarin aja. Kalo ada pengendara mobil yang nanya, 'Ngapain, Mas?' langsung gue tinju aja lubang hidungnya. Sampai akhirnya tiba giiran gue. Dengan posisi jongkok di samping ban, gue mengisi dengan penuh khidmat. Cuss. Cusss. Begitu bunyi angin yang masuk ke ban.

Lalu ban gue meledak. Beneran.

Di situ, tangisan haru gue berubah jadi tangisan Annabelle. Perut udah laper banget dan sekarang udah jam 11 malam. Rasanya pengin gue tinggal aja itu motor, lalu gentayangin orang-orang BSD.

Ketika itu gue sadar kalau jongkok lama di pinggir motor membuat orang lain bertanya-tanya. Salah seorang ibu berseragam pertamina dan satu supir gojek nanya keadaan gue. Satu pengendara motor di belakangnya nanya ‘Udah belom, Bang, mompanya?’

‘Udah kok. Hehehehe,’ balas gue sambil memberikan selang pompa. Dan mencari kesempatan untuk mengikat leher Abang ini dengan selang pompa angin.

Beruntungnya, lamunan gue dibuyarkan oleh si ibu pertamina. Dan dia… ternyata tahu nomor telepon tukang tambal ban keliling! Gila! Saat itu gue menyadari dua kegilaan yang bikin gue shock abis. Kegilaan 1) ternyata bidadari bisa berbentuk ibu-ibu pom bensin, dan 2) Gue baru tahu ada tukang tambal ban keliling. Gila... kurang kerjaan amat dia.

Gue nyengir girang. Bilang terima kasih ke mereka (Kecuali cowok yang cuman pengin selang pompa, fucker!). Mereka pun pergi, gue telepon pak Subur, tukang tambal ban keliling itu.

Tapi hape gue mati.
Tingkat emosi jiwa: 100%.

Kali ini, gue mulai punya niat pengin ngelilitin selang pompa... ke leher sendiri. Sebelum hal itu terjadi, gue kembali masuk ke minimarket. Jajan dan ngambil uang di ATM 100 ribu.

Tapi yang keambil 1 juta.
SIAL AMAT DAH MALAM MINGGU GUE.
Suka post ini? Bagikan ke:

Monday, August 14, 2017

Thursday, August 10, 2017

My Kancut Moment

Kadang gue ngerasa pertemuan yang ada di FTV itu terlalu mengada-ada. Semuanya dimulai dari cewek naik motor di tengah jalan, ngomel-ngomel sendirian sampe gak sengaja nyenggol manajer perusahaan bonafit. Beberapa minggu kemudian, dengkul manajernya tetanus. Abis ketabrak kena infeksi.

Kayaknya, selalu saja ada “pertemuan aneh” yang mengawali dua orang untuk akhirnya bersama di FTV.

Anehnya, beberapa waktu lalu, gue iseng baca ulang buku Menuju(h). Dan di salah satu babnya menceritakan tentang lollipop moment. Seseorang di Kanada yang akhirnya bertemu dengan jodohnya karena lollipop.

Dan itu terjadi,
di dunia nyata.

Kalau dipikir lebih jauh, kayaknya setiap orang punya momen-momen kayak gini deh. Hanya kita terlalu asing untuk menganggap itu kebetulan. Kayak misalnya, lagi jalan, lalu nggak sengaja depan-depanan sama orang yang tidak kita kenal. Kita belok kanan, eh dia juga. Kita ke kiri, dia juga. Akhirnya malah jadi tos dada (lho?).

Peristiwa ini terjadi ketika gue pertengahan kuliah. Gue lupa bagaimana awalnya bisa tahu identitas si cewek ini. Satu hal yang gue ingat, ada salah satu teman yang menunjuknya dari jauh. “Tuh, Di. Yang itu.” Gue cuman ngangguk-ngangguk aja ketika itu. Ini kita ngeliatin cewek kayak perampok yang lagi merhatiin rumah korban.

‘Kosong, Di.’
‘Hah?’
‘Sikat!’
‘Lo pikir apaan main sikat-sikat!’
‘NYEBRANG, BEGO!’

Gara-gara fokus sama cewek itu, gue lupa kalo kita lagi mau nyeberang ke arah kelas.

Lalu semuanya berjalan biasa aja. Gue mulai tahu identitas si cewek ini dari temen gue. Di mana kosannya. Jurusannya apa. Tapi gue belum secara resmi kenalan sama dia. Bahkan bisa dibilang, dia gatau gue siapa. Ini kenapa belum apa-apa gue udah bertepuk sebelah tangan gini ya.

Sampai tibalah saat itu.
Lolipop momen yang ditunggu-tunggu.

Ketika itu gue lagi belanja kebutuhan rumah di Giant Bogor sendirian. Nenteng-nenteng keranjang belanja. Ngecek harga cabe. Nangis. Sampai gue lihat di koridor seberang ada si cewek ini lagi merhatiin baju. Lihat pola ini. Gue sendirian ngedumel tentang harga cabe. Sementara dia di seberang lagi diem. Seandainya di dalam sini ada motor matic, gue jamin dua minggu lagi gue bakal jadian sama dia. Atau paling nggak direkrut jadi SPG Honda lah.

Karena waktu itu statusnya belum sama-sama kenal, akhirnya pelan-pelan gue jalan ke mulut koridor baju. Berhenti di perempatan, di kotak yang berisi celana jeans. Biar nggak keliatan kayak tukang hipnotis, gue pura-pura megang celana jeansnya sambil ngelirik ke arah dia. Menunggu momentum yang pas.

Dia mengambil satu baju, lalu ditempelkan di depan badannya.

‘Iya, iya. Bagus.’ Gue bergumam sendiri.
‘Mau yang ini, Mas?’

Suara siapa tuh? Gue nengok kanan. Ada mbak-mbak SPG Honda naik motor nawarin jeans. Oke, ini gue ngayalnya kelewatan deh.

Oke, oke. Gue mikir lebih jauh.

Sekarang kan posisinya nggak sama-sama kenal. Dia nggak tahu gue, gue juga nggak tahu dia. Seharusnya tinggal bilang ‘Eh, gue kayak pernah liat lo ya di kampus?’ lalu kenalan seperti layaknya manusia pada umumnya. Lagian kan gak ada maksud aneh-aneh. Jadi gak perlu nyamperin dan ‘EH, INI BAJU GUE DULU YA YANG NEMU!’ sambil tarik-tarikan daster di Giant.

Gue maju satu langkah. Ngedeketin pelan-pelan. Udah kayak cheetah yang mau nyergap buruannya. Setelah satu tarikan napas, gue bilang sama diri sendiri, ‘Ya udah lah ya.’ Lalu masuk ke koridor dia.

Lalu, gue semacam berubah menjadi Tony Stark di dalam Iron Man. Di depan mata gue muncul statistik jarak, persentasi keberhasilan, dan dia lagi ngapain.

Jarak 5 meter. Dia masih milih baju. Persentasi keberhasilan 80%.
Jarak 3 meter. Dia naruh kembali bajunya. Persentasi keberhasilan 50%.
Jarak 1 meter. Dia ngambil… CELANA DALEM RENDA-RENDA WARNA MERAH.

LALU DITEMPELIN KE SELANGKANGANNYA.

Persentasi keberhasilan -58%. Mission aborted.

Gue jalan ngelewatin dia gitu aja. Di ujung koridor, gue pura-pura ngecek hape sambil balik badan. Dia meletakkan celana dalam itu ke dalam keranjangnya. Lalu berjalan pergi.

Gue liat keranjang belanja gue: isinya cabe, gula, sama stok mie satu minggu.

Akhirnya gue menyerah. Masuk ke antrian kasir sambil celingak-celinguk. Kali aja ada motor matic yang bisa gue pakai untuk nabrak.
Suka post ini? Bagikan ke:

Tuesday, August 1, 2017

Daftar YouTuber Terbaik 2017

Iya iya iya IYA BETUL! *dateng dateng rusuh*

Tahun lalu gue pernah bikin daftar YouTuber terbaik 2016 versi gue. Karena belakangan ini gue sempat posting video, maka inilah saatnya. Gue akan kembali membuat daftar laknat itu. Huhahahah!

Sejujurnya, sejak awal tahun, intensitas nonton YouTube gue jauh lebih tinggi dibanding nonton tv… dan metube. Beberapa channel di bawah juga gue temuin baru-baru aja. Tapi bukan berarti dia aktif tahun ini, bisa aja karena emang gue yang gaptek dan baru tahu.

Biar kesannya lebih “rame”, daftar YouTuber terbaik 2017 kali ini gue bikin dari berbagai genre kali ya? Sebagian mungkin ada yang temen-temen udah tahu. Dan sebagian lagi ada yang GILA LO HARUS TAHU MEN INI KEREN ABIS!

Oke, tanpa penuh bacot lebih lama. Ini dia daftar YouTuber terbaik tahun 2017 versi on the kos!

Merrel Twins


Merrel Twins ini sebenarnya gue udah tahu sejak nonton di channel-nya D-Trix. Isinya kebanyakan challenge, sketsa komedi, dan nyanyi gitu. Sewaktu pertama nonton di channel D-trix gue mikir, ‘Oh. Kembar. Hmmm. Oke.’ Terus gue cek ke channel-nya dia dan respon gue masih ‘Hmmm. Kembar ya.’ (Ya, respon gue emang cenderung tolol). Tapi lama-kelamaan gue nonton video-videonya yang lain dan respon gue langsung melejit jadi, ‘ANJER DIA KEMBAR, MEN!’

Saking sukanya gue sampai kehilangan kata-kata gitu deh. Yang bikin gue suka adalah… mereka baik (komentar macam apa ini!). Tapi serius deh. Kalo kamu nonton videonya pertama kali, mungkin ngerasa kalo mereka biasa aja. Tapi kalo udah kenal, keliatan kok kalo mereka anaknya baik. Ini gue ngomong seakan-akan kayak orang yang bakal diundang ke acara ulang tahunnya aja ya. Pokoknya gitu deh.

Peter McKinnon


Gue tahu Peter McKinnon ini karena dia cardist, alias tukang main kartu banyak gaya kayak gue. Tapi sekarang melebarkan sayap jadi tukang foto sama video. Gue suka banget video tutorial yang dia bikin. Gampang dimengerti dan gak bikin manusia berotak dangkal kayak gue ngeluarin asap dari kepala.

Oya, Kalo dia bikin vlog, shot-shotnya rematik.

CINEMATIK WOY!

Grable424


Grable424 ini sebetulnya baru gue temuin beberapa waktu lalu. Kira-kira 2 menit lah.. Dan belakangan baru sadar kalau dia udah nggak begitu apdet. Entah lupa password, atau emang bikin videonya susah. Channel-nya cocok banget buat yang mau belajar video editing. Bukan, dia bukan channel tutorial gitu. Tapi isinya trailer-trailer film yang dia bikin sendiri. Video favorit gue, tentu aja trailer Marvel yang GILA INI KENAPA GAK DIREKRUT AJA BUSET!

Pokoknya, trailer yang dia bikin tuh kayak nyatu banget antara musik, visual, sama jalan ceritanya. Tanpa perlu pake transisi-transisi gaul yang dari pantai tahu-tahu nge-zoom ke rumah makan padang.

Just Write



Gue susah banget menentukan siapa di antara channel edukasi. Tapi belakangan ini gue lagi demen nontonin si Just Write ini. Soalnya, video esainya kebanyakan membedah karya seni dan apa yang bisa “penulis” ambil dari sana. Meskipun ada beberapa channel video esai lain yang juga gue favoritin kayak Every Frame Is A Painting, Nerdwriter1, Storyteller. Buat akun edukasi animasi, mungkin antara in a nut shell, secondthoughts, dan Life Noggin.

Kresnoadi



Oh, ini jelas karena punya sendiri harus dibanggakan. Muahahaha. Video baru nih nontonin lagu dan filmnya Mimi Peri. *digaplok

Ritchie Ollie



Gue sempet ngomongin kalimat pembuka di anchor gue tentang Ritchie Ollie. Gue demen banget cara dia bercerita di video-videonya. Channel-nya kebanyakan berisi perjalanan dia di tempat-tempat tertentu, atau semacam visual poem. Yang bikin gue suka banget sama dia adalah, video-videonya penuh perasaan. Gatau kenapa kayak bikin hati gue nyess gitu. Kayak gak sengaja duduk di tempat basah. Pantat langsung berasa nyesss. Dan apa yang bikin orang ini menyebalkan? Dia masih muda cuy! Gimana nggak minta dirajam coba?

Wave of Good Noise



Buat yang terakhir ini sebetulnya gue bingung harus naroh siapa di antara ini, Alexrainbird, SleepMusic, Majestic Casual, dan MOSTLY String. Tapi berhubung pas gue cek ke histori channel ini yang ada di paling atas, akhirnya gue nobatkan dia sebagai jawaranya. Hohoho. Walaupun gue gak pernah denger nama penyanyinya, tapi biasanya gue selalu percaya ke channel ini buat nemenin nulis atau kerja. Mungkin kalo tiba-tiba di channel-nya dia ada Ungu - Demi Waktu juga rasanya tetep syahdu.

Gimana daftar YouTuber terbaik buat tahun ini? Ini kayaknya campur-campur banget ya? Hahaha. Mulai dari komedi sketsa, video esai, sampai ke channel yang ngumpulin lagu-lagu. Tapi mau bagaimana pun juga, tetep aja channel paling keren adalah punya sendiri dong. Iya, oke, jangan timpuk saya. Tolong. AAAAKKKK?!!

Kalo kamu, akhir-akhir ini lagi suka nontonin YouTube-nya siapa? Atau malah nonton MeTube?
Suka post ini? Bagikan ke: