Saturday, July 29, 2017

Apa Itu Aplikasi Anchor?

**UPDATED**

Gue sebenarnya udah tahu apa itu aplikasi Anchor agak lama, tapi belum sempet nyobain karena masih bikin podcast lewat Soundcloud. Berhubung akhirnya kemaren jatah upload di Soundcloud udah abis (di Soundcloud cuman bisa upload maksimal 3 jam), jadinya mulai sekarang podcast gue bakal pindah ke Anchor. Kenapa? Ya soalnya gratis gitu lho! Muahaha. *banci gratisan

Untuk alasan lengkap kenapanya gue ceritain langsung lewat Anchor. Di episode pertama gue juga ngomongin kebiasaan “aneh” gue dalam menonton film. Bisa didenger di sini:


Nah, sekarang ngomongin soal aplikasi Anchor dan podcastnya ya.

Pertama, apa itu podcast? Kalau gue cari di google, podcast adalah episode program yang tersedia di internet. Pada umumnya berupa rekaman audio, tapi sekarang ada juga yang formatnya video.

Kalau menurut kesotoyan gue, podcast tuh semacam ngobrol-ngobrol sendirian gak jelas lalu di-upload di internet. Muahahaha. Kalau mau liat hasil kekacauan gue di podcast, bisa klik di sini. Beberapa podcast di Indonesia yang gue tahu: Subjective-nya Iqbal Hariadi, Podcast Awal Minggu Adriano Qalbi, dan Ibu-Ibu Yakult. Sementara kalo di luar ada Novel Marketing, WTF Podcast, sama Full Frontal-nya Alex Gaskarth dan Jack Barakat yang ngebahas hal-hal “brutal”. Pewdiepie juga kalo gak salah pernah bikin podcast, tapi dalam format video.

Terus terang gue nggak begitu tahu banyak soal dunia podcast sih. Soalnya biasanya podcast-podcast itu berdurasi antara setengah sampe satu jam. Dan gue orangnya kudu fokus gitu kalo dengerin podcast. Jadinya malah bengong doang selama satu jam. Kalo ada temen-temen yang tahu podcast seru, bisa share di komentar bawah ya. :)

Oke, sekarang lanjut ke Anchor.

pertama kali coba bikin podcast dari anchor
Pura-puranya pertama kali nyoba aplikasi anchor

Aplikasi Anchor ini kurang lebih kayak sosial media, tapi berbasis podcast/audio. Tagline-nya “Radio, Reinvented”. Jadi kita kayak emang bikin semacam “radio versi kita sendiri.” Punya gue, karena ngelanjutin iseng-iseng yang dulu, akhirnya gue bikin station yang namanya 102KM/JAM FM.

review aplikasi podcast anchor


Di aplikasi Anchor ini kita bisa “nyampah” ngoceh sendirian selama 5 menit setiap segmennya. Nah, sama kayak Snapchat dan Instagram Stories, hasil siaran kita bakal ilang dalam kurun waktu 24 jam. Tapi kalo menurut kita seru, kita bisa gabungin beberapa segmen menjadi satu episode. Setelah disimpan menjadi episode, hasil siaran kita bisa didengar kapan aja.

cara bikin podcast di anchor


Salah satu enaknya aplikasi Anchor ini adalah kesederhanaan dan fiturnya yang lengkap. Gak perlu peralatan aneh. Gak butuh mic, kamera, gayung (YA NGAPAIN?!). Tinggal pencet tombol record, ngomong, udah deh. Bisa sambil salto, bisa tiduran, bugil juga asik. Paling digerebek warga setempat. Abis itu dimandiin. Pake gayung… mic… kamera.

Ya, oke. Udah adi. Fokus.

Kalo dari segi (Anchorer? Ngoceher? Tukang Bacot?) Selain hasil omongan kita sendiri, ada beberapa fitur yang bikin podcast kita jadi kayak radio beneran. Mulai dari bisa masukin lagu yang ada di itunes/Spotify (tapi lagu ini nggak bisa kita gabungin ke episode). Ada interlude (semacam suara/jingle yang biasanya ngebatasin antar segmen). Serunya lagi, kita juga bisa interview! Jadi kita bisa nelepon orang dan pembicaaraannya dimasukin ke dalam segmen. Udah kayak mbak-mbak radio beneran kan? Atau koruptor yang obroloannya disadap KPK. Seru abis!

Sementara dari segi pendengar, kita bisa ngasih “DM” berupa suara kita yang ditelepon langsung dari hape Cinta Laura. YA HAPE LO LAH! Fitur ini namanya call in. Nah, suara ini nantinya bisa dimasukin juga sama si (Anchorer? Ngoceher? Tukang Bacot?) ke dalam segmennya. Jadi misalnya sewaktu Tukang Bacot ngebahas sesuatu dan di ujungnya nanya, ‘Di sini ada yang punya podcast di anchor juga nggak? Sharing dong nama podcast lo apa dan ngebahas apa?’ dan lo call in, ‘Adaaaa! Iyahh… Sayahhh.. Ooohh.. Yess.. Oh noo..’ (ini kenapa kesannya porno ya?). Nanti si Tukang bacot bisa masukin suara ‘Sayah oh yess oh no…’ itu ke dalam stationnya biar didenger pendengar lain.

fitur aplikasi podcast anchor


Fitur lain buat pendengar adalah ngasih applause. Ini mirip-mirip sama “love” waktu lagi Instagram live gitu. Tapi bedanya… tepokan tangan. Eits, gak cuma tepokan tangan biasa sodara-sodara! Tepokan tangannya juga… bisa kedengeran! Mantap bukan! Gimana cara marketing gue? Agak sampah bukan?

tepuk tangan di anchor fm

Kalo lo ngerasa si Tukang Bacot rada ngebosenin, kita juga bisa “fast forward”  atau “rewind” siarannya sejauh 15 detik. Jadi menurut gue aplikasi anchor ini cukup keren sih buat mainan podcast ke depannya. Dan yang paling penting dari yang terpenting adalah… gratis (teteup).

Gue sendiri belum tahu banget sih 102km/jam FM mau dibikin apa. Gue sih penginnya podcast bisa jadi tempat kita ngobrol-ngobrol lebih deket aja. Sejauh ini yang kepikiran sama gue adalah sharing tentang buku/film yang gue suka. Soalnya gue baru sadar kalo gue jarang bahas hal-hal yang jadi “referensi” gue di blog ini deh. Atau ngebahas hal-hal random kayak di podcast gue soal cewek cakep ini ya? Hmmmm.

Buat episode 2, gue bakal ngomongin salah satu cerita pendek Ted Chiang yang berjudul The Truth About Fact, The Truth About Feeling dan bakal gue rekam sewaktu postingan ini publish. Kalo udah kelar mungkin apdetannya bakal gue taroh di sini juga.

So, yeah,
Welcome back to 102km/jam FM!

Ngueng! Ngueng!
(ceritanya suara ngebut).

--
Episode 2 soal teknologi masa depan dan cerpen Ted Chiang berjudul The Truth Of Fact, The Truth Of Feeling bisa didengar:

--
Download Aplikasi Anchor android:








Download aplikasi Anchor di apple:






Suka post ini? Bagikan ke:

Wednesday, July 26, 2017

Tuesday, July 25, 2017

Rekap Minggu Lalu

Mungkin ada di antara temen-temen yang belum tahu kalo gue lagi demen main Instagram. Jadi, biar kegabung sekalian, gue mau rekap beberapa mainan yang gue bikin di minggu lalu di sini.

Pertama, gue sempet bikin tulisan berjudul “Krayon”. Tentang… Hayo tebak tentang apa? (ngeselin). Karena gue nggak bisa bikin video, akhirnya tulisan itu gue jadikan semacam video voice over. Ini dia hasilnya:


Teks penuhnya sebagai berikut:

Di musim hujan kita bertemu. Pakaian kita basah waktu itu. Sambil menunggu reda, kamu berkata, ‘Aku sudah pamer tentang kamu dari lama. Aku tidak percaya, tapi kok jantungku mati rasa ya? Kita lalu mulai jalani sama-sama waktu itu.

Ed Sheeran pernah bilang kalau cinta bisa ubah dunia. Ternyata dia juga bisa ubah kamu. Atau aku yang baru tahu?

Hari ini kubaca satu tulisan. Katanya sepatah apapun krayon, warnanya akan tetap sama. Aku sekarang patah, tapi kenapa kamu yang berubah?

Di laci ada buku yang pernah kamu isi. Dengan lirik lagu dan beberapa kata sandi. Kamu menyerahkannya sewaktu kita akan berpisah. Tulisan memang abadi, tapi perasaan bisa mati. Aku tahu kamu pernah minta perhatian. Kedengarannya, seperti tanda-tanda kematian.

Hari ini kubaca satu tulisan yang bikin aku hampir mimisan. Sekarang aku cuma punya pena, dan hanya ingin bertanya, ‘Kenapa kamu lukai orang yang dulu kamu sukai?’

Di musim hujan kita bertemu. Pakaian kita basah waktu itu. Sambil menunggu reda, di sampingmu aku berdiri. ‘Tidak ada yang bisa menghalangi kita. Kecuali kita sendiri.’

--
Lucunya, sebenarnya, niat awal gue sebelum bikin tulisan itu adalah sok-sok ngebuat semacam lirik lagu. Sampai di tengah, gue baru sadar kalo gue gak paham sama sekali soal nada. Dan hasilnya puyeng karena 'KEMAREN YANG BAGIAN INI NADANYA GIMANA YA KAMPRET?!' Muahahah. Akhirnya malah jatuhnya jadi kayak cerita deh.

--
Minggu lalu juga gue sempat bikin podcast. Ngomongin soal acara tv Microphone Pelunas Utang. Ini sekaligus jadi podcast gue yang paling banyak ketawanya. Hahaha. :p

Full-nya bisa cek di sini: https://www.instagram.com/p/BWacFaSjKYw/

Kayaknya ini juga akan menjadi podcast terakhir yang di-upload penuh di Instagram deh. Selain akun soundcloud gue yang udah limit jumlah upload-nya (maksimal 3 jam). Gue juga lagi coba ngulik app baru yang bernama “Anchor.” Ini semacam aplikasi khusus untuk bikin podcast dengan gampang dan mobile. Gue sendiri baru nyobain bikin satu podcast di sana. Tapi mungkin akan gue bahas detailnya di postingan selanjutnya deh.

--
Berhubung kemaren sempat heboh gosip antara Bastian Steel dan Chelsea Islan, akhirnya gue iseng bikin surat terbuka untuk Bastian Steel. Surat terbukanya bisa dibaca di sini.

--
Sekarang bagian ngaconya ya. Minggu kemarin gue bikin semacam video yang mencontohkan beberapa gerakan tangan tidak penting tapi penuh makna. Silakan tonton di bawah ini:


A post shared by Kresnoadi DH (@keribakeribo) on

Belakangan gue juga sempat nyobain bikin blog ke dalam Instagram. Gue masukin tulisan yang ini, dan jadinya kayak gini. Sampai sekarang sih gue masih mencari format layout yang pas supaya bisa baca blog dengan enak lewat Instagram. Ada yang punya ide? :p 

Gue seneng banget sih karena minggu lalu berasa produktif banget. Bisa bikin banyak mainan walaupun nggak ada yang bener. Hehehe. Mudah-mudahan ke depannya masih sering nyempetin waktu buat bikin beginian. Hohoho. Last but not least, here i put my Instagram link again soalnya masih sepi banget. Hahahah. *promosi* 

Aaaaaaand, goodnight folks! \:p/
Suka post ini? Bagikan ke:

Wednesday, July 19, 2017

Bagaimana Cara Membantu Pekerjaan Konten Kreator Dengan ASUS ZenBook UX410UQ

Pop quiz. Di antara konten kreator blog berikut, tipe mana yang kamu banget:

a) Blogger yang menekuni teknik SEO untuk meningkatkan pengunjung blog
b) Yang mengandalkan kekuatan cerita (storytelling)
c) Yang baru mulai coba-coba ngeblog
d) Yang mengisi blognya dengan ikan koi dan bisa dikasih makan pengunjung

Kalo kamu memilih b, berarti kita sama. Dan berhubung kita punya kesamaan, let’s share something. Kalau kamu termasuk yang memilih c, tidak ada salahnya membaca tulisan ini sampai habis. Di sini gue mau berbagi apa yang gue tahu soal pembuatan konten sekaligus mau cerita banyak soal blogger-bloggeran ini. Siapa tahu berguna (atau malah menyesatkan?). Hehehe.

Bagian satu: kenapa cerita?

Jawaban versi keren: Dalam sebuah wawancara, A.S Laksana pernah bilang kalau pada dasarnya, setiap orang suka cerita. Cerita tidak akan mengancam pikiran. Beda kalau kita membagikan teori atau ideologi. Orang-orang cenderung akan waspada. Ini bener sih. Kemaren gue bilang ke Bokap, “Pak, abis makan piringnya cuci dong!’ Eh gue dilempar sabun. Waspada banget dia.

Jawaban versi gue: Soalnya gak ngerti SEO. Muahahahaha. *digampar*

Buat gue pribadi, mendengarkan cerita selalu menyenangkan. Cerita yang menarik selalu bikin gue penasaran. Sebagai seorang konten kreator yang kekuatannya lewat cerita seperti kita, hal ini jadi terbalik. Kita lah yang harus menyuguhkan cerita menarik untuk pembaca. Masalahnya, cerita yang menarik itu kayak apa? Apakah harus berbobot dengan tema berat? Apakah harus selalu yang informatif dan detail? Apakah ngambil rapot ke sekolah bukan cerita yang menarik?

Untuk menjawab ini, kita harus tahu formula dasar sebuah cerita. Cerita (yang baik), adalah perjalanan seorang karakter untuk mencapai tujuan, setelah melewati rintangan. Rumus sederhananya begini:

Cerita = Karakter + tujuan + halangan

Sekarang kembali ke pertanyaan awal: Apakah ini berarti cerita yang baik tidak harus “berat”? Apakah ngambil rapot bisa menjadi cerita yang menarik untuk dibaca? Jawabannya: ya.

Selama memenuhi ketiga elemen tersebut (karakter, tujuan, dan halangan), cerita akan menjadi menarik untuk diikuti. Contoh: Cerita ambil rapot. Dalam kasus ini, kita sudah punya 2 unsur, karakter (kita) dan tujuan (rapot). Untuk membuat ceritanya menarik, kita harus masukan “halangan” ke dalamnya. Bisa menjadi cerita tentang “Karakter utama yang sebenarnya udah tahu kalo dapet nilai jelek, sehingga mencari cara supaya nunggu di luar kelas dan ngebiarin Nyokap nemuin wali kelas sendiri”, misalnya. Sebaliknya, cerita anak ambil rapot tanpa halangan apa-apa akan membuat tulisan kita menjadi lurus dan kurang sedap untuk diikuti.

Cerita yang menarik juga selalu terdiri dari 3 babak: awalan, tengah, akhir. Jika kamu seorang blogger personal yang kontennya kebanyakan storytelling kayak gue, mengetahui unsur dasar bercerita kayak gini cukup penting. Ini supaya pembaca kamu tidak cepat bosan dan segera menutup jendela blog kamu.

Bagian Dua: Tantangan Blogger Personal

bikin konten yang out of the box
ketika harus cari ide untuk konten yang out of the box

Supaya lebih cihuy, bagian dua ini gue jadikan dalam poin-poin sebagai berikut:

SATU. SULIT DITEMUKAN

Blogger personal pada dasarnya lebih sulit ditemukan ketimbang konten kreator lain. Gue melihat ada beberapa faktor yang punya pengaruh terhadap ini. Pertama, nama website. Nama website yang sulit diingat/susah dihapal akan membuat orang lupa untuk kembali mengunjungi blog kita. Contoh: 2XY+3Z-2.blogspot.com

Faktor lain yang cukup berpengaruh adalah platform. Berbeda dengan YouTube, platform blogger ada bermacam-macam. Mulai dari blogger, tumblr, wordpress, medium, dan lain sebagainya. Berbeda dengan YouTube di mana viewer dan creator akan membuka situs www.youtube.com terlebih dahulu, reader di dunia blog sangat jarang membuka platform blog (www.wordpress.com, misalnya) dan cenderung langsung menuju website favoritnya.

Hal lainnya, di YouTube, kita akan mendapat rekomendasi video-video apa yang sedang hits. Ini memudahkan kita untuk menelusuri video dan channel lain yang ada di sana. Sementara di blog tidak. Kalau kita tidak tahu nama blognya, satu satunya jalan adalah dengan menelusuri orang-orang yang komentar di tulisan orang lain. Di samping itu, semua platform blog akan bermuara pada satu lingkaran besar yang bernama: google. Sedangkan untuk berada di halaman pertama google, ada konten kreator yang memang fokusnya SEO.

DUA. STRESSFUL

Haqi Achmad, penulis skenario 15 film layar lebar, menulis di blognya kalau menjadi full time writer bikin dia jadi stres. Jadwal tidur tidak menentu. Jarang berkomunikasi dan efeknya ngebuat emosi nggak stabil. Oke, mungkin kita bukan full time writer dan mentok-mentok paling pantat berasa panas doang karena kelamaan duduk. Tapi tidak bisa dipungkiri, semakin lama seseorang ngeblog, akan ada masanya di mana dia mulai merasa kalau menulis blog tidak ada untungnya.

Ini biasanya dialami oleh blogger personal yang pada awalnya memulai blog karena hobi menulis, lalu, lama-kelamaan merasa stuck. Tulisannya terus meningkat, tapi kok pengunjung yang datang dia-dia lagi. Apalagi setelah sekian lama ngeblog dia tidak mendapatkan profit apa-apa baik finansial maupun jodoh. Di tengah perenungan hidup, dia pun berhenti ngeblog dan memilih untuk menikah saja. Buset, berasa kawin kayak gosok gigi apa ya.

TIGA. ORANG MULAI MALAS BACA TULISAN

Ada kecenderungan di mana orang lebih suka konten yang berbau visual. Terus terang, ada kalanya gue juga begini. Kayaknya lebih enak melihat langsung dari gambar/video dibandingkan membaca kata per kata. Selain ngelihatnya udah capek duluan, kecepatan membaca orang yang berbeda ngebuat si pembaca tidak bisa memprediksi “berapa lama waktu yang akan dia habiskan untuk ngebaca satu postingan.” Beda kayak nonton film atau konten video. Sebelum nonton kita udah tahu, ‘Oh 10 menit. Ya udah deh nonton dulu bentar.’ Eh beres nonton ngeklik yang lain. Nonton lagi. Klik lagi. Beres beres sampe di Cianjur (Lah emang nontonnya di mana?).

EMPAT. OPPORTUNITY COST

Adanya biaya yang harus dibayar orang sewaktu membaca konten di blog kita. Ini ngebuat calon pembaca berpikir dulu, apakah dalam satu waktu, dia memilih untuk membaca blog, atau melakukan hal lain. Kayak ngeliatin insta story Awkarin, misalnya.

Bagian Tiga: Hal yang Bisa Dilakukan

cari ide bikin konten
Cari ide

Selain mengatasi halangan di atas dengan membuat nama website yang catchy dan bikin ciri khas, ada juga beberapa hal yang cukup menjadi perhatian gue belakangan ini. Salah satu cara untuk menghadapi tantangan tadi adalah: buat konten blog yang seperti snack. Maksudnya begini, bayangkan kamu hampir terlambat bekerja. Lari-larian supaya nggak terlambat, belum sarapan, dan gak sempet kalo harus beli makanan berat yang harus duduk santai dulu. Di saat itu, yang kita butuhkan adalah snack yang mengenyangkan, tapi tetap bisa dimakan tanpa perlu abisin banyak waktu.

Nah, kita bisa coba buat konten yang kayak gitu.

Konten yang sederhana, tidak membuang banyak waktu, tapi tetap mengenyangkan. Bentuknya? Bisa macam-macam.

Hal lainnya adalah, inovasi. Kalau kita sebelumnya terbiasa membuat cerita dalam bentuk tulisan, coba ubah ke dalam visual. Ini bukan berarti kita harus jago gambar, terus postingan kita isinya pegunungan semua. Bisa aja tetap berbentuk teks, tapi dalam format gambar. Inovasi ini bukan untuk ikut-ikutan, tapi supaya orang lebih mudah untuk mengonsumsi konten yang kita buat.

Walaupun banyak yang bilang soal pentingnya the man behind the gun, tapi menurut gue paling tidak kita tetap harus punya gun minimum sesuai sasaran kita. Kalau kita mau nembak gajah, ya harus punya senapan gajah. Gak bisa pake pistol aer. Yang ada sama gajahnya dipipisin. Kalau mau buat konten video effect, misalnya. Ya komputer kita minimal harus ada Adobe After Effect (atau perangkat lain yang bisa bikin spesial effect). Makanya, perangkat yang kita pakai juga penting.

[Mulai selanjutnya postingan ini akan meng-highlight fitur yang ada di ASUS ZenBook UX410UQ dan kenapa notebook ini sangat membantu konten kreator]

asus zenbook ux410uq


Gue mulai dari fisiknya ya. Jadi, ASUS ZenBook UX410UQ ini punya 2 varian warna: Rose Gold dan Quartz Grey. Desain bodinya yang elegan dan tipis ngebuat kita bakal lebih leluasa bikin konten di mana aja. Layarnya yang 14 inci (dengan chasis 13 inci. Ya, gue nggak salah tulis. Bezelnya yang cuma 6mm bikin layarnya bisa selebar itu.) dan tebalnya yang gak sampe 2 cm. Akuratnya 18.95mm. Ngebuat notebook ini jadi tipis abis. Sama lah kayak dompet gue pas akhir bulan.

asus zenbook ux410uq layar 14 inci


Jelas, dengan desain kayak gini, si notebook bakal gampang masuk ke dalam tas. Gak ribet, dan enteng karena cuman 1,4kg aja. Tahu gak apa untungnya desain ini bagi para konten kreator? Kita bisa bikin konten di mana aja! Nggak harus terus-terusan di kamar mengurung diri. Kejadian stres kayak kasusnya Haqi paling tidak bisa dicegah dengan sesekali bikin konten di tempat yang nyaman dan baru. Apalagi ada penelitian dari Stanford University yang bilang kalau jalan kaki akan meningkatkan kreativitas. Udah nggak stres, kontennya bakal fresh!

asus zenbook ukurannya tipis


Bahas soal layar udah pasti berkaitan sama warna dan mata. Biar gue kasih tahu versi ribetnya dulu. ASUS ZenBook UX410UQ ini udah Full HD 1080p, kerapatan layaranya 276 ppi. Dan punya angle view sampai 178o. Jadi diliat dari mana aja warnanya tetap cantik. Layarnya pun sudah mempunyai fitur range gamur dengan 72% NTSC. Maksudnya, tingkat keakuratan warna di notebook ini udah muantap. Sumpah, sampai saat ini, warna masih jadi salah satu masalah buat gue. Kenapa? Soalnya warna di laptop gue bakalan beda kalo dipindahin ke handphone. Kok gitu? Gue juga gatau! Rasanya tuh nyesek. Udah capek-capek ngedit di laptop, berasa cantik. Eh pas di-upload hasilnya kayak jeroan sapi. :(

fitur wide angle display asus zenbook


Namanya konten kreator pasti bakalan lama kalo udah di depan laptop. Kerennya, ASUS juga mikirin sampai ke situ. Makanya, dia ngebuat fitur yang bernama Eye Care Mode. Jadi, warna layarnya bisa di-setting mengurangi cahaya emisi lampu biru sampai 30%. Ini ngebuat mata kita aman meskipun cukup lama di depan laptop. Meskipun dibekali fitur ini, tetap jaga waktu di depan laptop ya. Jangan kemudian duduk ngedit video sampai 2 caturwulan. Bukannya sehat, yang ada ambeien.

asus zenbook aman bagi mata
Biru ketika Eye Care Mode Off

Nggak cuma di situ, ada juga fitur visual lain mulai dari mode normal (optimal bawaan pabrik), mode manual (bisa otak-atik sendiri), dan mode vivid. Mode vivid ini yang ngebuat warna dan tampilan visualnya jadi real. Kayak NYATA, padahal enggak. Kayak perhatiannya dia gitu. Kesannya NYATA, tahunya kamu yang GEER. Dia cuma nanya, ‘Kamu lagi apa?’ kamu balesnya ‘IYA AKU MAO NIKAH SAMA KAMU! BESOK!’

Untuk konten kreator, fitur ini cocok banget digunakan saat mengedit video atau foto. Jadi bakal gampang. Kalau mau ngedit foto mantan seakan-akan lagi kegigit zombie.

Salah satu yang kelihatannya sepele tapi penting dalam sebuah notebook bagi konten kreator adalah keyboard. Laptop gue contohnya. Karena paling sering dipencet, huruf ‘a’-nya gampang copot. Jadinya sering nggak kepencet dan harus hati-hati. Niatnya mau ngetik ‘Gaul’ hasilnya malah ‘Gul’. Kayak anak bola sok imut. Sementara desain ASUS ZenBook UX410UQ punya jarak tinggi tombol 1,6mm. Ini hampir 3 kali lebih tinggi dibanding kebanyakan notebook. Kebayang deh empuknya. Belum lagi adanya illuminated Chiclet di keyboard yang ngebuat kita tetap bisa melihat huruf pada keyboard meskipun dalam keadaan kurang cahaya.

keyboard asus zenbook
Perubahan keyboard ASUS ZenBook UX410UQ dalam keadaan terang/gelap

Meskipun gue tergolong konten kreator yang jarang menggunakan touchpad, tapi ada satu hal yang menarik dari punyanya si ZenBook ini. Selain tingkat responsive-nya yang kayak smartphone, touchpad-nya juga ada sensor sidik jari yang berfungsi sebagai pengaman. Jadi gak perlu ribet-ribet nulis password dan panik kalo ada orang yang ngedeket lagi deh. Hal lain yang agak bikin gue ogah pake touchpad adalah, kalo dipake kelamaan jadi anget. Itu bikin pergelangan gue aneh aja rasanya. Eh ternyata, di sisi touchpad ZenBook ini ada fitur yang namanya IceCool Technology yang bikin suhu notebook tetap ada di rentang 28 – 35oC. Udah bisa dimainin lama, nggak gampang panas pula. Tunggu, kok kayak ada yang aneh ya kalimat barusan?

Sekarang lanjut ke bagian dalamnya ya. ASUS ZenBook UX410UQ ini menggunakan OS Windows 10 dan processor Intel Core i7 7500. Atau dengan kata lain, ini udah setara dengan notebook premium. Kombinasi antara RAM 8GB, kartu grafisnya yang menggunakan NVIDIA GeForce 940MX, dan VGA 2GB tidak akan membuat si notebook nge-hang meskipun kita menggunakan beberapa aplikasi sekaligus. Mungkin ada yang sambil riset buka tab browser bejibun, liat-liat foto mantan, nulis, sambil ngedit foto. Semuanya bisa dijalani bareng-bareng. “Dalemannya” yang tangguh ini juga ngebuat kita bisa bereksplorasi dengan konten-konten lain selain cerita dalam bentuk tulisan.

spesifikasi asus zenbook ux410uq


Tapi apa gunanya spek bagus kalau gampang lowbat?

Nah, ini dia salah satu fungsi processor tadi. Intel Core i7 7500 dibuat sedemikian rupa supaya hemat daya. Akibatnya, baterainya yang berjenis polimer ini bisa bertahan antara 5 – 8 jam pemakaian. Lumayan banget sih ini. Kalau mau kerja di luar nggak perlu bawa charger. Ransel jadi makin ringan deh.

Gue yakin salah satu masalah konten kreator selain ide dan pembuatan konten adalah tempat nyimpen kontennya. Gue udah jadi saksi mata beberapa temen hampir selalu bawa harddisk eksternal ke mana-mana. Pas gue cek, ternyata dia emang tukang harddisk.

Terus terang gue punya masalah yang sama. Harddisk di laptop gue tinggal sisa 7GB! Ini bikin gue deg-degan setiap kali bikin apa-apa. Antara takut penuh, atau laptopnya meledug. Kalo laptop gue ultramen, pasti dia udah tinung-tinung. Kejadian kayak gini kayaknnya nggak akan terjadi kalau gue menggunakan ASUS ZenBook UX410UQ. Soalnya harddisk-nya 1TB (HDD) dan 128GB (SSD). Duh, bentar ya. Ini gue pengin nangis dulu…

spesifikasi asus zenbook ux410uq


Nggak selamanya konten kreator kerja terus. Pasti butuh hiburan juga. Di sini fungsi dari audio ASUS ZenBook UX410UQ. Dalam pembuatan audio, ASUS bekerja sama dengan Harman/Kardon yang membuat kualitas suaranya jernih dan mumpuni.

Karena kita akan sering bawa notebook ini jalan-jalan, udah pasti kita bakal kerja sambil numpang Wi-Fi. Dengan ASUS ZenBook UX410UQ ini, kita bisa mengangkat dagu ke atas seraya bergumam, ‘Hmmhhhmm… Kalian semua lambat sekali internetnya.’ a la sinetron. Soalnya, ZenBook ini dilengkapi Wi-Fi terbaru yang punya kecepatan 2,8 KALI LEBIH CEPET dari Wi-Fi pada umumnya. Betul sekali. Dua. Koma. Lapan. Udah numpang, ngenetnya ngebut pula. Oh, siapa yang tidak ingin?

ASUS ZenBook UX410UQ ini jelas akan membantu pekerjaan konten kreator. Stres akan hilang karena kita tidak di rumah terus (Kalau udah coba kerja di tempat baru dengan ZenBook dan masih stres sama pekerjaan, jual notebooknya. Mungkin pekerjaan kamu tidak selesai, tapi paling tidak kamu hepi dapet uang hasil jual ZenBook). Performanya yang tinggi juga ngebuat kita bisa berkreasi lebih dari storytelling. Mungkin cerita kita bisa diwujudkan dalam bentuk video, atau stop motion, atau cinemagraf. Yang pasti banyak “pintu” yang akan terbuka dengan ASUS ZenBook UX410UQ ini.

Kalo menurut kamu, apa sih tantangan sebagai blogger personal dalam bikin konten? Terus gimana caranya biar bisa jadi bagus? Coba diskusi yuk!
Suka post ini? Bagikan ke:

Sunday, July 16, 2017

Orangtua Saya Tidak Bilang I Love You Tapi Itu Tidak Apa-Apa

Gue baru tahu kalau Coldplay keluarin video lirik dari lagunya yang berjudul Miracles (Someone Special). Lagu itu bercerita tentang ayah yang percaya kalau anaknya bisa jadi seseorang yang spesial. Lirik pertamanya ‘My father said never give up son. Mohammad, Mahatma, and Nelson not scared to be strong.’

Sepanjang lagu, badan gue merinding.

Terus terang, gue terkadang iri dengan keluarga yang seperti itu. Menjadi bagian dari keluarga yang suportif, seru, dan saling dukung satu sama lain. Orangtua gue bukanlah tipikal yang seperti itu. Tidak ada ucapan ‘I love you’, ‘kamu jangan nyerah’, ‘kerja bagus’, ‘Ini baru anak Bapak/Ibu’, ‘Aku bangga sama kamu’. Mereka bukan orang yang memberi nasehat tentang kehidupan. Mereka bukan orangtua yang memberi semangat ketika gue down, mendukung ketika gue melakukan hal yang baik dan benar. Ikut bangga di saat gue mulai berhasil.

Dibanding apresiasi, yang sering keluar dari mulut orangtua gue justru kata ‘jangan’. ‘Jangan’ pertama keluar saat SMP, sewaktu gue mencari tahu apa itu internet. Jangan ke warnet, katanya. Entah apa alasannya. Lalu ‘jangan baca komik’ saat gue mulai suka baca. Jangan main kartu, ketika gue belajar card flourish. Dan berbagai ‘jangan’ yang lain. Belakangan, gue baca berita yang bilang kalau ini adalah bagaimana orangtua Asia mendidik anak. (berita tentang kenapa orangtua di Cina nggak bilang I love you: klik di sini.)

Kelihatannya memang menyebalkan. Karena kesannya kita harus bersusah-susah sendiri, berusaha diam-diam di belakang mereka sampai berhasil, baru mereka bangga ketika kita terkenal atau kaya atau sukses menurut versi mereka.

orangtua yang tidak bilang i love you


Padahal, bukan begitu.

Mereka bukan tidak sayang sama kita. Mereka hanya tidak tahu cara berkomunikasi. Gue sangat meyakini bahwa apa yang terjadi di masa lalu akan mempengaruhi hidup seseorang ke depannya. Mungkin sewaktu kanak-kanak, mereka terkekang. Tidak boleh ‘ngomong bebas’ sama pemerintah. Mendapatkan banyak ketakutan karena kerusuhan, tembak-menembak, inflasi, demo besar-besaran. Mendapat kegagalan entah dari pekerjaan, atau pendidikan. Mungkin sebagian ada yang usahanya gulung tikar. Pekerjaanya gagal dan punya tanggung jawab membiayai saudaranya karena di masa itu, Keluarga Berencana belum diterapkan dengan baik.

Hal-hal berat seperti itu, membuat mereka sulit berkomunikasi terang-terangan.

Mereka hanya tidak ingin berbagai tanggung jawab, tekanan, resiko, ketakukan, kegagalan yang mereka alami di masa lalu terjadi kepada kita. Bagi sebagian orangtua, ketakutan bahwa hal buruk akan menimpa anaknya menutupi kemauannya untuk menjadi orangtua yang suportif. Karena bagi mereka, hal-hal baru yang ada di masa sekarang adalah resiko. Dan dia tidak mau, anaknya jadi gagal karena itu.

Bandingkan dengan generasi kita yang sejak kecil menggunakan handphone. Belajar berkomunikasi dengan orang lain, bisa bicara dengan lebih terbuka. Terhubung ke mana pun dengan cepat. Bisa memilih informasi mana yang baik dan yang buruk, sesuai dengan keinginan kita.

orangtuan saya tidak bilang i love you tapi itu tidak apa-apa


Orangtua gue mungkin tidak blang I love you. Tidak mengapresiasi dengan kata-kata. Tidak ada saat gue down dan lebih banyak melarang dibandingkan mendukung. Gue tahu orangtua gue tidak bilang ‘kamu bagus’ dan selalu melihat hal-hal buruk dari apa yang susah payah gue kerjakan. Dan itu tidak apa-apa. Karena gue tahu, mereka mencari cara, melewati hal-hal berat di masa lampau, dengan segala keterbatasan teknologi yang mereka punya, untuk bekal hidup gue.

Gue tahu kalau cara mereka berkomunikasi bukan melalui kata-kata. Tapi lewat makanan yang selalu ada di bawah tudung saji. Lewat bangun setiap pagi. Lewat tulang punggung yang semakin lama semakin keropos karena berdiri di kereta. Lewat pulang malam-malam, berhadapan dengan dapur, lalu naik ke kasur dengan wajah yang dipaksakan tersenyum. Karena dengan itu, dia berkata: ‘Aku kerja keras. Kamu jangan mau kalah, ya. Pasti bisa juga.’
Suka post ini? Bagikan ke:

Thursday, July 13, 2017

Bianglara (part: 4)

Baca part 1 di sini: Bianglara Part 1

Segala hal tentang Bianglara: klik di sini
--
bianglara part 4 keriba-kekribo

TIGA BELAS – ENO DAN WINDY

‘Kamu semalem telepon?’
‘Iya.’
‘Kenapa?’
‘Nggakpapa.’
‘Hah?’
‘Masa ada yang email aku deh. Aneh gitu.’
‘Aneh gimana?’
‘Iya. Kirim foto Dufan gitu ke email. Aku takut di-hack Instagramnya.’

‘Kirim foto Dufan kok malah takut di-hack? Kalo aku mah pasti bales: “DASAR SOMBONG KAMU LAKNAT!” Eh, bentar deh. Dufan, ya? Kayak gimana coba fotonya? Forward deh.’ Eno menunggu beberapa saat sampai handphone-nya berbunyi ‘Ding!’ tanda email masuk. ‘Ini terus kamu bales apa?’

‘Enggak aku bales apa-apa. Takut. Hehe. Yohanes sih nyuruh aku ganti password IG. Katanya suka ada modus apa gitu yang nanti nge-hack akun aku. Terus foto-foto aku bakal diapus. Terus diganti namanya sama dia. Tapi sampe sekarang belum aku ganti. Takut lupa kalo bikin password banyak-banyak.’

‘Yah. Kok gitu? Harusnya bales aja.’
‘Emangnya kenapa deh?’
‘Ya siapa tahu ke-hack akun kamu.’
‘Ih kok gitu!’
‘Ya biar hapus foto akunya nggak ribet. Eh jangan, deh, jangan.’
‘Ih plin-plan dasar woo!’
‘Halo? Suaranya kok nggak jelas ya?’
‘Iya halo. Sekarang udah jelas belum?’
‘Udah sih. Tadi buat ngeles aja.’
‘Yeee! Kamu hari ini ngapain?’
‘Rahasia dong. Terus kamu itu jadinya gimana yang ke Dufan? Gamau coba dateng aja hari sabtu?’
‘Males banget sok-sok rahasia deh. Huu. Aku rahasia juga dong! Rasain. Week.’
‘Songong juga nih anak. Serius, Windy. Hari sabtu jadinya gimana?’

Windy merasa ada sesuatu yang menusuk perasaannya sewaktu mendengar Eno menyebut ‘Windy’. Bukan cuma ‘Win’ atau ‘Di.’ Walaupun lebih menusuk kalo dipanggil ‘Pemulung’ sih.

‘Ya nggak gimana-gimana, Eno. Masa email begini harus ditanggapin. Orang nggak jelas juga.’

‘Masa sih gak jelas? Siapa tahu, kan, itu hadiah. Atau kamu disuruh muter-muter pake kostum boneka Dufan yang monyet itu. Apa namanya? Ada santan-santannya gitu deh kalau gak salah. Lagian tadi kamu bilang ada tulisan “khusus pemberani”-nya. Nah, itu tuh. Siapa tahu-‘

‘Siapa tahu apa?’
‘Kamu jadi berani buat…’
‘Berani apa?’
‘Eh, kayaknya salah kirim deh itu dia. Bukan orang yang niat nge-hack gitu.’
‘Eh, tahu dari mana kamu? Sotoy. Wooo.’

‘Tahu dong! Aku gitu lho. Mana mungkin orang pemberani kayak aku gatau. Macho gini, nih. Liat aja nih otot bicep aku. Keras banget kayak kehidupan Jakarta. Ini deket ketek ada polantas lagi mengurai kemacetan. Emangnya kamu. Denger suara telepon aja malah kabur. Payah.’

Windy tertawa panjang, lalu membuat pembelaan, ‘Ya aku kan waktu itu kaget ya! Kamu sih lagian ngapain coba pake iseng nutup-nutup mata aku segala. Lagian abis itu aku kan ketawa. Daripada kamu coba? Sama kecoak aja takut. Lebih payah.’

‘Ya namanya juga surprise. Lagian aku nggak takut kecoak ya. Enak aja kamu.’
‘Bener ya?’
‘Ya maksudnya lebih ke… Kalo ada kecoak, bawaannya pengin naik meja, terus jerit “ALLAHUAKBAR!!” gitu doang. Apa salahnya coba?’
‘Ya itu takut namanya!’
‘Ya jangan ngamuk dong! Sabar. Aku datang dengan damai.’
‘Dasar lemah.’
‘Eh, songong ya. Enggak lemah aku. Coba aja kita ke Dufan, aku gak bakal teriak.’
‘Ye, dasar.’
‘Ya kalo pemberani kayak aku sih pasti bisa. Gatau deh kalo orang cemen kayak… Windy Windy siapa gitu.’
‘Enak aja! Aku juga berani woo.’
‘Apaan. Kamu aja denger suara telepon langsung kabur.’
‘Ungkit aja terus ya. Awas kamu!’
‘Terus kapan?’
‘Apanya?’
‘Dufan?’
‘Eh ini mau beneran?’
‘BODO AMAT!’

Windy tertawa. Campuran antara geli, excited, dan berharap dilahirkan di negara yang berbeda.

‘Ya… Boleh aja sih. Kapan emang?’
‘Sabtu gimana?’
‘Sama kayak ini dong?’
‘Iya dong! Kamu tahu gak? Sebenernya, kan, aku yang ngirim email itu.’
‘Serius kamu?’
‘Iyalah!’
‘Kok emailnya matikausemua@gmail.com?’
‘Eh, iya ya? Baru sadar aku. Aku, kan, biasanya pake nama sendiri. cristianoronaldo@gmail.com.’
‘Christiano Ronaldo dari Hongkong!’
‘Dari Portugal dia. Lagian, astaga, itu bahasa jaman kapan ya?’
‘Ini beneran kamu yang kirim? Jangan aneh-aneh ah.’
‘Sebentar, deh.’ Eno membuka gallery hapenya, mengecek kembali gambar yang dikirim Windy sebelumnya. ‘Ini kok serem juga ya?’

--
EMPAT BELAS – AMANDA DAN KITING

‘SERIUS LO CEWEK?’ Kiting memutar bajunya di udara, girang abis, kayak pembantu kurang gaji lalu didatangkan Thomas Jorgi secara tiba-tiba. Kiting merebut ponsel dari tangan Ridho. Wajahnya merah menahan tawa. Sebuah ekspresi yang menunjukkan: ‘Akhirnya, aku puber juga.’

‘Ehem. Eh, tunggu, Do. Tunggu.’ Kiting mengembalikan hapenya. ‘Ehem. Ehem. Gimana? Udah rada berat belom, Do?’ yang dibalas dengan ‘Turun, Bang! Yang harusnya berat tuh suara, gak perlu nginjek gue gini!’

‘Iya, betul. Saya Kiting yang itu.’ Akhirnya pembicaraan terjadi. Amanda kemudian menceritakan tentang benda misterius yang dikirimkan orang tak dikenal. Ridho sudah diusir dari ruangan setelah badannya jadi mendoan. Setelah berpikir lama, Kiting berusaha menjelaskan, ‘Saya belum pernah, sih, kalau mengecek siapa yang kirim barang gitu. Saya, kan, pemburu hantu, Mbak. Bukan kurir JNE.’

‘Maksudnya bukan kirim barang beneran.’ Amanda menyadari kesalahannya karena menelepon maniak ini. ‘Jampi-jampi gitu loh, Mas. Beberapa tahun lalu Ibu saya juga pernah mendapat kiriman aneh dari tetangga. Dari luar toples astor, eh dalemnya kerupuk udang. Sejak saat itu Ibu saya jadi emosian. Sedikit-sedikit marah. Saya coba cabut alisnya pas dia tidur aja marah. Saya gak mau jadi orang yang penuh emosi juga. Tolong bantu saya, Mas.’

‘Sebentar, sebentar, sebentar.’ Kiting diam agak lama. ‘Kalau begitu, saya harus periksa dulu apakah kamu sudah mengalami gejala jampi-jampi.’

‘Ge-gejala jampi-jampi?’
‘Betul. Setiap orang yang terkena jampi-jampi punya gejala tertentu.’
‘Kayak apa tuh, Mas?’
‘Sebelumnya, dengan mbak siapa saya berbicara?’
‘Amanda.’
‘Oke, mbak Amanda. Sekarang kita mulai pemeriksaan awal ya. Pertama, Amanda jomblo?’
‘Iya. Apakah itu termasuk tanda jampi-jampi?’
‘Enggak. Saya juga jomblo loh. Hehehe. Sekarang, bagaimana perasaan mbak Manda?’
‘Perasaan saya nggak enak sih…’
‘PERSIS! Itu tanda awal seseorang terkena jampi-jampi!’
‘Saya.. Nggak enak karena mas aneh…’
‘…’
‘Mas? Halo?’
‘Mbak bisa coba tolong foto barangnya aja nggak? Sambil nunggu, saya mau nangis dulu di belakang.’
‘O-oke, Mas. Ini saya kirim ya?’

Beberapa saat kemudian, Kiting terhenyak. Dia mengambil barang yang sama yang ada di atas kulkas, lalu kembali ke kamar. Ia menatapnya bergantian dengan foto di ponselnya. Apakah ini sebuah tanda kebesaran Tuhan? Apakah ini yang dinamakan jodoh? Senyum Kiting melebar. Matanya memancarkan bara api hitam yang menyala. Belakangan diketahui kalo beleknya Kiting emang banyak.

Kiting melihat peluang besar menantinya.

‘Saya tahu penyebabnya! Saya familiar dengan foto ini. Kita harus nge-date di Dufan. Ehem. Maksud saya, supaya jampi-jampinya hilang, saya harus melawan hantu ini di markasnya. Mbak tahu markasnya di mana? Betul sekali. Dufan.’

‘Mar-markas hantunya di Dufan? Hantunya kayak apa, Mas?’
‘Hantunya senang kalo kita berjod… Maksud saya, kamu pernah liat kan berita tentang kejadian seram di Dufan?’
‘Belum sih, Mas.’
‘PERSIS!’
‘Persis?’

‘Ya… berarti ini yang pertama! Saya tidak akan membiarkan hantu jenis baru ini melukai calon is…, eh, klien saya. Coba sekarang kamu pegang besi itu. Letakkan di tangan kanan kamu, lalu tutup mata.’

‘Udah, Mas. Terus?’
‘Apa yang ada di bayangan kamu?’
‘2 wajik, Mas.’

‘Maksud saya bayangan wujud gitu, Mbak Manda. Bukan kartu remi. Ayo, ayo, coba konsentrasi sekali lagi. Ayo kamu pasti bisa. Kalo sama-sama pasti kita bisa bangun rumah tang… GUNG INI KALO SAYA NGGAK BIKIN PAGAR GAIB UNTUK KAMU! Bayangkan pelan-pelan. Sosok tampan itu akan masuk ke dalam kepala kamu… Ayo. Gakpapa. Lemesin aja.’

‘Mas ini beneran nggak sih?’
‘Emangnya apa yang kamu bayangin?’
‘Nggak tahu, Mas. Kayak cowok…’
‘Iya?’
‘Nggak pake baju gitu…’
‘Terus?’
‘Mukanya…’
‘MUKANYA?’
‘Kayak…’
‘KAYAK???’
‘Monyet.’
‘Mo-monyet?’
‘Apa gorila ya ini? Berbulu gitu sih.’

‘Oke, oke. Ini sudah menunjukkan gejala itu. Sudah tidak bisa dipungkiri. Sebentar lagi mungkin mbak Amanda akan jadi orang yang emosian. Pemarah. Ini bisa jadi dari orang terdekat mbak. Kita nggak pernah tahu kan? Bisa aja ada orang yang keliatannya deket sama kita. Dia terus ada di samping kita, tahu segala hal tentang kita. Sering awasin kita, tapi gak berani bilang hal-hal jelek tentang kita. Akhirnya dipendem sampai numpuk…dan pengin jampi-jampi aja.’

‘Kok mas hapal banget?’
‘Kebetulan saya pernah digituin… sama ibu sendiri.’

Amanda mengingat kejadian kemarin. Jordi, kok, kayaknya terlalu lama untuk diungkit sekarang ya? Kayaknya nggak mungkin dia deh. Lalu dia teringat keanehan saat dia lari sore bareng Vio. Setiap momen si Vio selalu memotret Amanda. Dia teringat sewaktu tergelepar sehabis menendang tiang gawang, Vio merekamnya kesakitan terlebih dahulu, baru menolongnya. Vio juga selalu pengin dipanggil ‘Vi’, bukan ‘O’ seperti cara Amanda memanggilnya selama ini. Menurut Vio, panggilan ‘O’ lebih cocok untuk cowok. Karena cewek itu harusnya yang ada ‘I’-nya. Ya emang bener sih. Susilo. Santoso. Rosalia Indah. Semuanya pake ‘o’.

‘Terus saya harus gimana, Mas?’
‘Kita ketemu. Di Dufan. Sabtu ini.’

LIMA BELAS – JAKA

‘Aku pulang ya, Ma. Mau bertualang.’ Jaka mematikan telepon.
Mama menengok ke Ayah Jaka. ‘Skripsi ternyata beneran bisa bikin gila, Pa. Kasian anak kita.’
Suka post ini? Bagikan ke: