Friday, June 30, 2017

Tulisan-Tulisan Instagram Ini..

Hey! Apa kabar? Bagi oleh-oleeeeeh! *dateng dateng malak*

Cuma mau share kalo gue sekarang lagi demen main Instgram. Telat banget ya? Hehehe. Abisnya gimana dong. Kemaren-kemaren masih betah main Twitter. Sampai beberapa hari ke belakang mulai nyadar kalo tulisan yang ada di Twitter kayak gampang “disetir” gitu deh. I’m no offense buat yang masih suka main Twitter, tapi Instagram beneran seru! *teteup*

Nah, berhubung gue masih takut ngerusak Instagram dengan kebinalan gue, jadilah akun gue itu diisi sama tulisan-tulisan gak jelas. Karena agak panjang, jadi sekalian gue taruh sini aja deh:

--
Jatuh Cinta Anak Millennial

Orangtua berkata pertemuan kita norak. Berawal dari sosial media, siapa yang bisa tebak?

Meminta nama akun sama groginya seperti minta nomor telepon di tahun 2000. Menelepon mungkin sama seperti mention. Aku hanya diam melihat profile picture-mu. Sampai tidak sengaja menekan gambarmu dua kali. Memberikanmu notifikasi.

Lalu kamu kirim cinta di foto terakhirku dan itu membuatku nge-dab di depan handphone. Sikutku kepentok ujung meja, setrumannya sampai ke dada. Perasaanku juga.

Temanmu ternyata temanku. Pertemuan kita berawal di salah satu tempat makan Jakarta Selatan. Kubilang ‘Alismu kayak bulan sabit.’ Kamu memukulku sedikit dan kita membuktikannya lewat internet. Menggeser halaman demi halaman google. Dan malam itu kita tertawa puas karena malah ngelihatin meme.

Sepulangnya ku-uninstall Tinder. Aku tidak lagi minder. Kita mulai dekat. Sering chat. Tukar-tukaran sticker dan emoji. Ini bagaimana jatuh cinta bekerja pada anak millennial.

Mari kita keliling dunia. Buat travel vlog kalau bisa. Kamu yang buka Traveloka. Dan aku yang siapkan kamera.

Aku akan melakukan apa saja. Abaikan semua DM dan mari kita setel musik EDM. Berjoget tanpa kenal lelah. Karena kita tidak ke club dan hanya di rumah. Netflix atau YouTube tidak masalah.

Atau biarkan aku sekarat karena makan Samyang, sayang. Mukaku merah, lidahku berdarah. Kamu teriak Yawla. Kita berdua YOLO.

Orangtua berkata pertemuan kita norak, tapi siapa yang bisa tebak. Awalnya terlihat asal, akhirnya jadi relationship goal. Inilah bagaimana jatuh cinta bekerja pada anak millennial.

--
Dan sebuah tulisan untuk lebaran:

Aku minta maaf.
Maaf ya,

untuk huruf a di laptop yang terlalu sering aku tekan, sampai rusak dan gampang lepas dari tempatnya.

Maaf untuk kipas angin yang kupaksa terus menyala setiap hari, karena aku gampang kegerahan. Maaf untuk mata, yang terlalu sering dipakai terjaga, sampai bagian bawahnya jadi hitam. Maaf untuk mata-mata lain yang terpaksa terbuka, karena keberisikan malam-malam. Maaf untuk pintu yang semakin hari, mungkin semakin menipis lapisannya. Karena harus diketuk keras-keras supaya aku bisa bangun pagi.

Maaf untuk buku-buku yang belum sempat dibaca. Maaf untuk kuota yang terlalu cepat dihabiskan. Disia-siakan tanpa memikirkannya lebih lanjut. Maaf untuk handphone yang sering kupakai meskipun sedang dicas. Maaf untuk sepeda motor yang jarang kucuci. Aku sendiri jarang mandi. Aku minta maaf.

Maaf untuk rambut yang jarang kupikirkan. Maaf untuk telinga-telinga yang tidak sengaja mendengarku bernyanyi. Dan mungkin harus mendengarkannya lagi, dan lagi. Atau kamu boleh saja memilih untuk pergi.

Maaf untuk tangan yang menahanku dan mulut yang ‘Ngapain sih lo, Di?’ karena tindakanku yang mulai ngaco. Dan pada akhirnya aku hanya tertawa karena tidak tahu harus ngapain lagi.

Maaf untuk kamu.
Siapapun kamu, yang baca ini.

--
Tulisan pertama itu terinspirasi dari video musiknya Ryan Higa yang berjudul Millennial Love. Bisa ditonton di sini. Sementara yang kedua, gatau juga sih. Iseng-iseng nulis dalam rangka lebaran dan maaf-maafan. Kadang kita kan terlalu mikirin hal-hal besar padahal bisa aja ada hal kecil yang nggak kita sadarin. So, that’s the result. :p

Jadi begitulah. Tulisan-tulisan di Instagaam gue. Kalo mau follow bisa ke sini ya. Masih baru main, jadi masih sepi. Hehehe. Last but not least, mohon maaf lahir dan batin ya! Selamat lebaran dan liburan! \(w)/

Hayo,  belum maaf-maafan sama siapa? :p
Suka post ini? Bagikan ke:

Monday, June 26, 2017

Saturday, June 24, 2017

Bianglara (part: 3)

Baca seluruh bagian Bianglara: klik di sini



SEPULUH – AMANDA

‘Lo inget lagi coba dosa-dosa lo ke mantan.’
‘Sialan lo, O.’

‘Tapi ini aneh banget sih. Mencurigakan. Pake ada tulisan “khusus pemberani” gini lagi. Apa maksudnya coba?’

Amanda memperhatikan benda itu sekali lagi. Baru kali ini dia mendapat hadiah aneh seperti ini. Dia berjalan ke sudut kamar, membuka semacam kotak besar berbentuk peti harta karun. Di dalamnya terdapat barang-barang pemberian mantannya sejak dulu. Mulai dari boneka pink panther, kacamata, sampai beanie hat. Dia memasukkan lempengan besi tersebut ke dalamnya.

Eh, tapi bener juga kata Vio, pikir Amanda. Kata-kata ‘khusus pemberani’ itu pasti ada alasannya. Kalau diliat-liat, ini bisa berarti salah satu di antara: a) mantan yang jail, b) sesuatu yang berkaitan dengan hantu. Amanda kembali mengingat perkataan Nyokap sebelumnya. Si orang yang memberikan lempengan besi ini seumuran sama Amanda. Laki-laki dengan kemeja flanel biru dan kacamata hitam. Oke, kayaknya tuyul gak ada yang setrendi itu deh.

Pilihannya tinggal yang pertama.

‘Gue nggak takut sih, tapi kok agak serem ya.’ Amanda naik ke kasur, duduk di sebelah Vio. ‘Apa jangan-jangan si anu ya, O?’

‘Si anu?’

‘Iya. Si anu ngerjain gue? Waktu itu kan putusnya nggak begitu baik.’

‘Masa sih anu? Tapi bukannya udah lo anuin?’

‘Iya sih. Tapi kan bisa aja dia sadar kalo udah gue anuin. Terus jadi bales anuin gue.’

‘Bener juga.’ Vio ngangguk-ngangguk, lalu diam sebentar. ‘Ini ngebahas anunya bisa udahan aja nggak?’

Oke, sebelum ada yang salah paham. Anu yang dimaksud Amanda dan Vio di sini adalah Jordi, mantan ketiga yang sebelumnya tidak mau diceritakan. Amanda memergoki Jordi selingkuh di parkiran sekolah. Ketika itu hubungan mereka lagi mesra-mesranya. Begitu ngelihat Jordi berduaan sama adik kelas, dia langsung copot dan melempar helm ke wajah Jordi. Dan karena hidup ini tidak seperti film Warkop DKI, helm yang dilempar nggak masuk ke kepala Jordi, tapi mentok ke tengkorak kepalanya. Abis digebok, Jordi jatuh pingsan.

Putus paling sadis sepanjang umat manusia.

Vio mengeluarkan hapenya. ‘Coba, coba, kita cek facebook si Jordi. Lo kapan sih terakhir berhubungan sama dia?’

‘Ya nggak pernah lah!’

‘Bukan berhubungan yang itu dodol!’

‘Oh.’ Amanda ketawa garing. Dia berpikir sebentar. ‘Abis lulus SMA udah jarang banget. Dia sempet minta maaf sih. Tapi gue gatau deh dia gimana abis itu.’ Amanda mendekatkan posisi duduknya ke Vio. Melihat layar yang menampilkan profile facebook Jordi. ‘Eh, itu kok fotonya kayak tulisan gitu sih dia? Coba liat dong bacaannya apa!’

Mereka bertatapan. Vio menekan Profie picture Jordi. Dan tulisan di profilnya adalah...

Experience is the best teacher.

Mereka muntah berjamaah.

Jordi sewaktu sekolah adalah tipikal anak gaul yang mudah berbaur dengan kalangan mana pun. Seragamnya tidak pernah dilipat ke dalam celana dan lebih suka nongkrong di kantin dibandingkan di kelas fisika. Dulu anaknya sangar, sekarang profile picture-nya jadi kutipan motivasi gini. Tampang sadis, hati teletubbies. Mau dibilang apa? ‘Hai. Kamu ganteng banget deh. Mukanya kayak times new roman.’

Vio menutup aplikasi Facebook.

‘Kayaknya nggak mungkin dia deh, Man.’

Perbincangan mengenai lempengan misterius itu akhirnya selesai pukul 7 malam. Vio harus pulang dan seketika itu Amanda sadar kalau kamarnya mendadak sepi. Dia membuka peti harta karun dan mengeluarkan lempengan besi. Membolak-baliknya. Melihat tanggal di besi tersebut, lalu melirik kalender. Sabtu depan dia tidak ada acara apa-apa. Di dalam hatinya dia merasa kalau siapapun ini tidak akan membuatnya takut secara fisik. Namun, di sisi lain, hatinya masih merasa janggal. Sekarang yang ada di kepalanya hanya Jordi.

Amanda berjalan ke meja depan kasurnya. Menyalakan laptop, membuka facebook sekali lagi. Ternyata beranda facebook lebih membuatnya tertarik. Ia baru ingat sudah satu (atau dua?) tahun tidak membuka facebook. Sampai hari ini tiba. Dan semuanya sudah berubah. Setahu Amanda, facebook adalah tempat untuk mencari teman. Saling tukar-tukaran status dan berbalas obrolan antar pengguna. Ia juga ingat sewaktu awal masuk SMA, ia seringkali janjian bersama Sarah, teman kelasnya, untuk online bareng dan main game yang ada di facebook. Tapi yang sekarang ia temukan adalah tempat berbagi video dan gambar-gambar yang entah dari mana.

Sampai ia menghentikan gerakan tangannya di mouse.

Kursornya berhenti di sebuah foto cowok. Seumur dirinya. Hasil share salah satu teman facebook.

‘Ih kok lucu?’ Amanda nyengir sambil menekan tombol like… ke foto kucing yang dimasukkan ke dalam cangkir. Di bawah foto si cowok itu.

Gagal fokus.

Amanda menggeser layarnya kembali ke atas. Fokus ke cowok itu.

Dwi Abdul Jalak Ahmad Luthfi Alias Kiting.

Entah apa yang ada di dalam pikiran dia, tapi Amanda merasa orang ini punya daya tarik tersendiri. Apalagi ekspresi wajahnya memancarkan aura kebahagiaan. Senyumnya lebar. Sampe-sampe ujung bibir nempel ke alis.

Masalahnya, apakah orang ini bisa membantu? Amanda membaca satu per satu komentarnya. Suara jantungnya mulai terdengar. Dia tahu, kalau orang asing yang memberikan besi ini berniat jahat, ilmu bela dirinya bisa menolongnya. Tapi bagaimana kalau orang asing ini menggunakan cara-cara lain? Sudah rahasia umum lagi bahwa ada orang yang bisa masukin paku ke dalam perut orang lain. Amanda menoleh ke lempengan sebesar kartu remi itu. Membayangkan benda tersebut masuk ke perutnya pasti serem banget. Dan bikin repot kalo buang air besar.

Perasaannya masih mengatakan kalau ada sesuatu yang aneh. Tapi apa? Amanda menekan nama Dwi Abdul Jalak Ahmad Luthfi Alias Kiting. Membaca informasi yang tertera di profilnya dengan teliti. Bersamaan dengan itu, Bu Ami, Nyokap Amanda, turun dari lantai dua. Ia jalan tergesa-gesa ke ruang tamu dan menyalakan tv. Sesekali mengecek grup whatsapp yang berisi ibu-ibu teman gosipnya di kantor, lalu memindahkan saluran televisi.

‘AAAKKKKK!’ jerit Bu Ami histeris, mengetahui berita pertunangan Raisa dengan Hamish Daud.

‘AAAAKKKHHH?!’ Di dalam kamar Amanda ikutan kaget karena mendengar teriakan Bu Ami. Dia berbalik badan dan melakukan pukulan sikut ke udara. ‘EAARRGH!’

--
SEBELAS – KITING
Salah satu kebiasaan unik yang terdapat di dalam diri Kiting adalah: dia jarang pakai baju. Ini bukan semata-mata karena dengan bugil dia merasa jadi macho. Tidak. Cewek aja jarang bilang ‘Ih machonyaa! Uwuwuw!’ ke atlet sumo dan lebih sering merespon dengan ‘Amit amit gue amit amit..’ sambil ngetok-ngetok meja kayu.

Kebiasaan ini dilakukan karena kulit Kiting sensitif, yang membuatnya jadi gampang berkeringat. Apalagi kalau lagi sauna.

Nah, karena sering berkeringat, mau tidak mau Kiting harus sering mencuci baju. Daripada harus sering nyuci dan cepat ngabisin deterjen, dia lebih memilih untuk bugil saja. Sungguh pemikiran yang ekonomis sekali.

Kiting meletakkan kantong plastik di lantai. Lalu dengan tangannya memberikan simbol kepada Ridho dan Soleh untuk duduk sila membentuk lingkaran. Mengajak mereka untuk melihat sirup pemberian pak RT.

Kiting membuka bajunya. ‘Lo nggak pada ngerasa gerah apa?’

‘Enggak sih, Bang,’ jawab Ridho, lalu lanjut mengaji di sebelahnya.

‘EH LO JANGAN SAMBIL NGAJI KENAPA?!’ Kiting panik ngelihatin Ridho. ‘Ehem. Bukan maksudnya gue ga bolehin lo ngaji ya. Tapi kan kita mau buka ini dulu. Lagian nanti kalo kisah hidup kita dijadiin film, dikiranya gue kepanasan gara-gara denger lo ngaji lagi. Lo tahu kan buat gue image itu penting?’

‘Enggak, sih, Bang,’ jawab Ridho lagi, polos bener.
‘Sama dong.' aku Kiting, sambil melihat kewibawaannya berceceran di lantai.

Mereka pun menangis dalam pelukan.

Setelah pelukan, Kiting berusaha mengumpulkan remah-remah wibawanya kembali dengan berkata, ‘Pokoknya gini. Kalo gue lagi kepanasan, lo jangan ngaji deket-deket gue. Oke, Do?’

‘Oh, iya, Bang. Maap, Bang Kiting.’

‘Ya udah. Sekarang kita buk-‘ Kiting nengok kiri, hendak mengambil bungkusan pemberian pak RT. Tapi yang ada malah Soleh yang sedang meneguk es sirup dengan penuh birahi. Dia menghabiskan minumannya dengan beberapa teguk. Meletakkan gelas di lantai, dan tanpa dosa berkata, ‘Ahhh… Enak, Bang.’ Tidak berhenti sampai di situ, Soleh menginjak remah-remah kepemimpinan Kiting yang belum terkumpul sepenuhnya dengan bertanya, ‘Mau?’

‘Mau dong!’ Ini Ridho yang jawab.

‘Mau gundulmu.’ Ini Kiting yang jawab, sambil merebut botol sirup dan membawanya ke kulkas.

Kita tidak akan pernah tahu ke mana hidup akan membawa kita. Kita mungkin sering mendengar success story dari orang-orang yang mengawali karirnya dengan ketidaksengajaan. Seorang artis yang bermula karena mengantarkan temannya casting. Musisi yang bertemu produser pada suatu kebetulan. Penulis yang berawal dari menulis buku harian. Persinggungan-persinggunan itu.

Kiting menatap lempengan besi yang sebelumnya ia taruh di atas kulkas. Dia sama sekali belum melihatnya karena menurutnya itu bukanlah barang yang penting. Tapi hal yang menurut kita tidak penting belum tentu tidak penting bagi hidup kita. Karena beberapa detik berikutnya Soleh memanggil dari kamar sebelah.

‘Bang, telepon tuh!’

--
DUA BELAS – HERMANTO
‘Dufan itu bukannya di Jakarta ya, Pak? Yang taman hiburan itu loh.’ Si anak kelas 6 SD mengembalikan lempengan besi ke Hermanto.

‘Kok bisa ya? Kita kan di Jogja. Apa salah tulis ya?’

Si anak hampir menggaruk muka Bapaknya sendiri, tapi masih ditahan. Akhirnya garuk kepalanya sendiri. ‘Duh. Bukan, Pak. Ini tulisannya Dufan. Nggak ada tulisan Jakartanya. Tapi Dufan itu di Jakarta.’ 

'Terus bapak harus gimana?'

bersambung..
Suka post ini? Bagikan ke:

Thursday, June 22, 2017

Ini Alasan Kenapa Jaket Parka Bisa Meningkatkan Kegantengan Cowok*

Gue suka tank top.
Diperjelas, gue suka pake tank top.
Oke, sebelum semuanya mikir kalo gue punya kelainan orientasi seksual, tank top yang gue maksud adalah tank top buat cowok. Bukan tank top yang dipake cewek pas lari pagi gitu. Kalo itu gue suka ngeliatinnya doang. Hehehe.
Sejujurnya, yang ngebuat gue demen sama tank top itu karena rasanya adem. Begitu dipake langsung berasa dingin dingin semriwing. Asoy abis. Berasa nggak pake baju! Gue pernah sekali nongkrong make tank top bareng temen-temen dan kebanyakan dari mereka muji, ‘Najis lo.’ Singkat, padat, dan bikin pengin bunuh diri.
Nah, belakangan gue baru sadar kalau gue dan tank top sepertinya bukan pasangan yang cocok. Ya, dengan badan gue yang kurus, gue ngerasa make tank top ngebuat gue kayak “telanjang”. Apalagi ditambah postur badan gue yang kurus. Mungkin yang dirasain badan gue sama kayak yang dirasain kaki gue waktu make sendal hotel buat maen. Pantes aja udel gue kapalan (lho?).
Lalu akhirnya gue ketemu sama jaket parka. Sewaktu pertama ngeliat, gue awalnya mikir, ‘Oh, ya udah. Jaket lain yang ada di muka bumi. Oke.’ Tapi makin lama kok gue menyadari kalo jaket ini kayak punya sisi magis. Jaket ini kayak punya daya tarik tersendiri.
Kok keren juga ya?
Gue mulai searching di google.
Gue ngeliatin foto orang-orang yang pada pake jaket parka. Ganteng abis.
Gue ngaca. Gantengnya udah abis!
Gue lalu mulai mikir. Kenapa ya jaket ini bisa bikin cowok keliatan lebih ganteng satu tingkat? Lalu apakah kalo gue make ini kegantengan gue akan setara dengan Adipati Dolken? Atau malah jadi kayak jempolnya Adipati Dolken? Gue lalu nyari tahu lebih dalam. Dan hasilnya? Ternyata emang mendukung kegantengan pemakainya!
Biar gak penasaran, biar gue jabarkan hasil riset mengenai kenapa jaket parka mampu meningkatkan kegantengan pria.
Sejarah


Gue baru tahu kalau jaket parka ini sebetulnya adalah jaket yang didesain untuk militer angkatan udara. Di sumber yang lain malah dipakai oleh orang es kimo di Kutub Utara. Dan apa artinya itu? Ya ganteng lah! Gue pernah suatu hari ngasih minum air dingin ke temen lalu dia nanya, ‘Dari mana nih?’ Lalu gue jawab ‘Dari dapur.’ Lalu dia balas lagi, ‘Ganteng emang lo, Di.’
GUE CUMAN NGAMBIL AER DARI DAPUR LANGSUNG JADI GANTENG.
Bayangkan gue ambil air dingin dari Kutub Utara. Sambil make jaket parka. Beuh, dijamin temen gue keburu dehidrasi.
Oke, secara teknis jaket ini emang untuk menghilangkan hawa dingin. Tapi bukan berarti anak tropis kayak kita gak bisa make. Yang perlu kita lakukan hanyalah memilih bahan yang tepat. Carilah jaket parka yang berbahan katun dan cari yang nggak ada lapisan bahan lagi di dalamnya.
Modelnya Simpel


Salah satu yang bikin pemakai jaket ini tambah ganteng adalah desainnya yang simpel. Biasanya hanya terdiri dari kombinasi warna polos. Gak ada desain sok keren yang berlebihan. Di belakangnya juga gak ada tempelan sticker happy family (Emangnya mobil!).
Karena ukurannya yang oversized, make jaket parka bakal ngebuat orang yang badannya kurus kayak gue jadi lebih berisi. Paling enggak kemachoan saat foto meningkat 40%. Walaupun pas liat mukanya bakal turun jadi -78%.
Fungsional


Karena memang didesain untuk menghadapi cuaca ekstrim, desain jaket parka biasanya gak sembarangan. Kantongnya yang banyak akan sangat menguntungkan. Terlebih bagi cowok yang sering dititipin hape, power bank, casan, ((masa depan)) sama pacarnya. Tinggal kantongin aja semuanya. Lalu bersiaplah mendapat ‘Uh, ganteng banget sih pacar aku uwuwuw’ dari cewek kamu.
Disadari atau tidak, kantung ini pun bisa menjadi alat untuk memperkuat keharmonisan hubungan kamu sama si pacar.
Caranya dengan meletakkan hape si pacar ke salah satu kantung, lalu suruh dia untuk nebak. Begitu tebakan dia salah, monyongin bibir dan katakan, ‘SALAH! Cium dulu! Weeek!’
Nah, udah jelas kan kalau jaket parka bakal meningkatkan kegantengan si pemakai. Udah ah, sekarang gue mau cari jaket parka pria koleksi MatahariMall dulu.
--
Sumber gambar:
https://jurnal.maskoolin.com/jurnal/fashion/fashion-advice/mengenal-5-jenis-jaket-parka/
https://id.pinterest.com/pin/467107792576117738/
https://www.mataharimall.com/fashion-jaket-parka-pria-navy-1503151.html

Suka post ini? Bagikan ke:

Wednesday, June 14, 2017

IMAM - Cerita Pendek

cerita pendek horor komedi


Gue tahu seharusnya di Bulan Puasa setan pada dikerangkeng, tapi kenapa dari tadi timbul perasaan aneh? Di belakang tidak ada orang. Hanya bayangan gue yang memanjang jauh. Seperti orang kurus hitam yang jangkung mengikuti. Keringat mulai turun. Gue mempercepat langkah. Belum keliatan juga ujung lorong ini. Semoga di kampung halaman, Nyokap nggak nyenggol piring sampe pecah.

Detak jantung gue mulai terdengar. Oke, gue mengambil headset. Memasangnya ke hape. Pantulan wajah gue di layar kok pucat? Ah, pasti gara-gara lapar puasa doang. Sekilas terlihat sekarang pukul 4 sore. Sembarang lagu gue putar. Intronya gitar akustik. Gue gatau ini lagu apa. Bodo amat, yang penting perasaan gue nggak kosong. Katanya setan gampang masuk ke orang yang pikirannya kosong.

Gue jalan cepet. Pengen lari, tapi takut tiba-tiba ada orang yang ngelihat dan malah curiga. Ini gue kenapa sih? Semoga nggak ada apa-apa. Atau keluarga gue yang kenapa-napa? Atau pacar gue? Perasaan apa ini.

Oke, oke. Itu di depan ada masjid. Atau mushola? Ah, gue gatau bedanya. Kecil. Di dalam gang. Di antara rumah-rumah yang penghuninya nggak tahu ke mana. Bulan puasa kok nggak pada ke masjid? Aneh. Sekarang minggu ke berapa sih? Gue lalu inget. Kayaknya ini baru ketiga kalinya gue ke masjid di bulan puasa ini.

Gue mencopot sepatu, matiin lagu. Kaca masjidnya gelap. Jadi gue harus menempelkan wajah dan melihatnya dari dekat. Kosong. Cuma satu sajadah hijau di dua saf depan dan semacam korden pembatas antara laki-laki dan perempuan.

Pintunya gue buka.

Bisa.

Gue mau sujud sukur.

Eh eh eh ada orang. Gajadi gajadi. Mission aborted.

‘Misi, Pak.’ Gue nunduk sambil nyengir. Dia diem aja. Ekspresinya datar. Mungkin dia mikir kenapa gue nyembah keset. Ah tapi bodo amat. Seenggaknya gue nggak sendiri.

Suara air keran ngucur. Gue ambil wudhu. Basuh tangan. Sat, set, sat, set. Kaki kanan. Kaki kiri. Beres. Masuk ke masjid. Ambil tempat di saf kedua, paling pojok kiri. Naroh tas. Hape dan headset gue taroh di atas tas. Orang tadi ke mana? Tunggu dia dulu deh.

Kok nggak muncul juga? Buka pintu, ngecek keluar. Sendalnya nggak ada. Maunya apa sih orang itu? Gue akhirnya kembali ke dalam. Jalan ke tempat tas. Terdengar suara pintu tertutup di belakang. Bunyi jantung gue mulai mengeras lagi. Ya Allah, ini kenapa lagi?

Gue salat sunnah dua rakaat dulu deh.

Allahu akbar.

Hening. Gue mulai baca surat-surat di dalam hati. Samar-samar terdengar suara kucuran air dari balik tembok sebelah kiri. Surat-surat gue baca makin kenceng di dalam hati. Oke, emang ga bakal ngaruh sama dunia asli. Tapi mau gimana? Suara air berhenti tiba-tiba. Ganti jadi langkah kaki. Lalu bunyi keset yang digesek dengan kaki.

Gue makin cepet baca surat. Nggak fokus. Iya, gue emang cemen.

Rukuk, sujud, bangkit lagi.

Bunyi pintu ditutup.

Bulu kuduk gue berdiri. Gue menghadap bawah. Tadi lagi baca surat apa ya? Astaghfirullah. Gue mengulang lagi. Terdengar langkah kaki pelan-pelan. Semakin deket ke arah gue. Gue berusaha tenang, tapi badan gue kayak jadi kaku.

PLOK! Pundak gue ditepok.

Oke, ternyata orang. Bukan aneh-aneh. Walaupun gue pernah baca cerita tentang jin yang suka tiba-tiba muncul di dalam masjid. Tapi gue juga pernah nonton film horor tentang setan yang jadi makmum. Shit, kenapa mikirin ginian. Solat yang khusyuk. Solat.

Oke, oke, tarik napas. Lepas. Sekarang harus fokus jadi imam. Siapapun dia. Siapapun makhluk di belakang gue.

Tapi…

Gue kan lagi solat sunnah.

INI GIMANA NGIMAMINNYA YA ALLAH?! Gue pengin nangis.

Gue mikir satu detik. Dua detik…

AKU HARUS APA YA ALLAH?!

Gue bener-bener gatau harus ngapain. Ini momen canggung abis. Rasanya serba salah. Mau balik badan dan ngasih tahu, tapi takut dia jantungan. Apa gue kasih tahu dengan cara “kode”. Melakukan gerakan pantomim misalnya? Gaya lagi ngelap kaca (apasih namanya gerakan yang kayak nempelin tangan di kaca itu?). Siapa tahu dia jadi sadar kalo gue bukan lagi solat. Atau… gimana kalo dia ternyata makmum yang taat dan MALAH IKUT PANTOMIM? Bukannya solat, malah ngelap kaca bareng. Hmm apa gue lanjutin aja? Nanti begitu dia sujud, gue langsung kabur sambil merangkak tanpa sepengetahuan dia.

Setelah satu hembusan napas, gue beraniin diri untuk balik badan pelan-pelan. Tentu saja, bapak-bapak di depan kaget. Gue juga kaget. Kita berdua kaget. Kita depan-depanan sambil posisi berdiri. Gue senyum. Bapak ini balas senyum. Gue ngedeketin bibir gue ke bibir dia. Gue ditendang. Kalo di cerita cinta, adegan ini harusnya happy ending. Tapi kalo di sini kok jadinya menjijikkan ya? Malah kayak pocong homo yang lupa dikafanin.

Gue akhirnya balik ke tempat wudhu. Salah tingkah. Meratapi nasib. Mungkin di kampung halaman Nyokap emang baru aja nyenggol piring sampe pecah.

Dan buat si bapak, bentar lagi gue bales lo.

--
Touch me on:
Suka post ini? Bagikan ke:

Monday, June 12, 2017

Ketika Aku Nggak Khusyuk..

EYOOOO!

Udah berapa lama sih puasa? Semoga lancar semua ya yang pada puasa. Gue kok ngerasa bulan puasa sekarang lebih sering hujan ya? Kayaknya tahun-tahun lalu nggak gini deh. Apalagi kalo ujannya udah di waktu buka gitu. Jatohnya malah jadi males ke mana-mana. Udah aja geletak di samping pelukan kolak tercinta. Hehehe.

Gue rada bersyukur sih bulan puasa sekarang rambut gue pendek. Ini ngebuat peluang rambut gue keinjek pas abis sujud berkurang drastis. Nggak kayak tahun-tahun sebelumnya, di mana gue suka nggak fokus teraweh gara-gara sibuk mikirin waktu yang pas buat berdiri abis sujud. Jadi kadang harus ngelirik orang di saf depan dulu. Nggak enak aja gitu kan. Lagi di tengah keheningan tiba-tiba gue, ‘Allahu… ADOH ADOH MAS! MAJUAN MAS?!’

Kalo dipikir-pikir ternyata emang banyak sih penyebab gue bisa gak fokus salat (Sesat. Hehehe. :p). Tapi beneran deh. Jaman gue SD, waktu Ramadan bertepatan dengan tayangnya acara smackdown di tv. Gara-gara acara itu, cara bermain kami sewaktu di masjid sampai ikut kebawa. Kadang ada aja yang usil entah dengan alasan apa suka nginjek-nginjek kaki. Gue jadi fokus ngintip ke kaki dia. Kalo dia mulai angkat kaki dikit, kaki gue siap-siap ngindar. Eh ujungnya malah jadi saling saut, ‘Et… Ett… Eaa… Eaaa..’ sambil berusaha menghindari injekan kaki lawan. Absurd abis.

Hal lain yang biasa ngebuat gue gak khusyuk adalah ketika gue mulai salat sendiri, lalu gue merasa ada orang lain di belakang yang datang. Entah kenapa gue ngerasa kayak muncul aura jahat yang siap-siap menepuk gue buat ngejadiin imam. Biasanya kalo udah mulai denger ada yang wudhu, gue jadi suka cepet-cepet gitu. Hehehe. Tolong ini jangan ditiru ya.

Anyway, gue kemaren sempet bikin cerita horor komedi tentang itu. Dari pengalaman benaran gue saat jadi imam dadakan. Gue taruh di insta story. Kalo beruntung mungkin masih bisa dibaca di sini ya. \:p/



Ngomongin soal bulan puasa, gue baru menyadari sesuatu belakangan ini. Kok kayaknya sirup terlihat menggiurkan banget sewaktu bulan Ramadan ya? Padahal kayaknya di bulan-bulan biasa gue gak pernah tuh minum sirup. Paling banter juga es teh manis. Aneh gak sih? Sekarang kayaknya siang bolong bawaannya langsung ngebayangin sirup jeruk lengkap dengan esnya yang diaduk pakai sendok besi sampe bunyi gitu. Apalagi ada embun-embun di gelasnya. Padahal ya ASLINYA GUE GAK PERNAH MINUM BEGITUAN GITU LHO.

Apa emang gitu ya? Padahal kan sirup bukan minuman spesial. Beda sama es blewah, misalnya. Yang emang cuman ada pas bulan puasa doang. Kita tidak mungkin menemukan ibu-ibu abis senam Zumba ngomong ke ibu-ibu lain, ‘Gerah ya, Jeung. Es blewah enak nih?’

Buat gue, salah satu golongan paling menyebalkan di bulan puasa itu yang suka pamer bau mulutnya. Suka nge-hah-in orang pakai embel-embel “Cium nih bau surga!” Ada apa sih dengan orang-orang ini? Emangnya mereka beneran yakin surga baunya kayak jempol kaki ketumpahan asam sulfat gitu? Kalo emang kayak gitu gue agak ragu alasan orang-orang pada mau bom bunuh diri biar masuk surga.

‘Ledakkanlah dirimu! Biar bisa nyium ini selamanya! HAHHH?!!’
 Yang ada bukannya nurut malah bales, ‘Maaf, Pak. Mulutnya bisa di-flush dulu?’

--
Lanjut ngomongin Bianglara. Buat yang belum baca part 2, bisa klik ini.

Gue cuman mau share beberapa film yang lagi gue tonton untuk ngebayangin ceritanya bakal kayak apa. Pertama, gue lagi ngefans berat sama Aziz Ansari gara-gara ngikutin serial Master Of None. Ini kayaknya gue jadikan serial favorit nomor satu deh sekarang. Muehehe. Itu gila sih. Keberanian dia milih tema, gimana dia bikin joke cerdik pake social commentary. Belum lagi ada scene dan pemilihan cerita yang “gak kepikiran”. Mulai dari pake warna item putih. Nggak pake bahasa inggris untuk episode pilot (Bayangin ini episode pilot cuy!). Ada juga episode yang nggak ada suaranya sampe bikin mikir ‘Ini apa speaker gue yang rusak ya?’ Itu semua sinting! Adegan favorit? Tentu pas lagi di dalam taksi, sehabis nganterin Francesca pulang ke hotel. Kayaknya semua orang pasti pernah ngalamin momen itu deh. Hohoho.

Film-film yang selanjutnya menunggu untuk gue bedah dan dijadiin referensi untuk Bianglara ada Warmbodies, Shaun Of The Dead, The World’s End, What We Do In The Shadow dan Miss Perergrine’s Home For Peculiar Children. Gatau deh ke dapannya bakal nambah kayak gimana. Kira-kira kebayang gak bakal gimana? \:p/

Anywaaaay, satu berita yang bikin gue semangat belakangan ini adalah: Simon Pegg sama Nick Frost bikin pH sendiri di UK! Wohooo! Mereka juga udah ngasih bocoran soal film pertamanya. Apa itu? Horor komedi! Judulnya Slaughterhouse Rulez. Gilaaaaa! Belum lagi bentar lagi Baby Driver-nya Edgar Wright tayang. Ini kudu semangat 1000000%! Muahaha! \(w)/

--
Well, how’s it going in your life? Ada kejadian seru gak di bulan puasa ini? Apa malah ada yang udah bolong? Coba cerita aja di kolom komen. Lemme know ya!

Ciao! Happy fasting everybody! :)
Suka post ini? Bagikan ke:

Wednesday, June 7, 2017

BIANGLARA (part: 2)

Baca part 1 di sini
Baca segala hal mengenai Bianglara di sini

bianglara novel komedi apocalypse terbaru kresnoadi keribakeribo

TUJUH - ENO

Ini sudah pukul sebelas sekaligus ke empat kalinya Eno bolak-balik kamar mandi. Buat dia, ini jadi hari galau paling aneh sedunia. Dua tahun lalu, ketika putus dengan Milly, Eno cuman diam di dalam kamar. Tanpa suara sama sekali. Ia membuka Twitter mantannya. Membaca status mantannya itu berulang-ulang. Terkadang berkomentar dalam hati. Terkadang komentarnya dia balas dengan pikiran-pikiran lain yang datang. Beberapa bulan lalu, ketika sadar kalau pada akhirnya dia akan lulus dan berpisah dengan teman-teman kampusnya, dia duduk sendirian di ruang himpunan. Menatap jam yang bergerak detik demi detik ke arah kanan. Memperhatikan foto-foto lama yang tertempel di dinding saat mereka rapat. Teman-temannya bergaya dengan berbagai pose, sementara Eno di pojok sendiri. Mukanya terpotong setengah.

Sekarang, galau malah sakit perut.

Di rumah Eno tinggal sendiri. Orangtuanya sudah pensiun dan memilih untuk tinggal di Yogyakarta. Eno berdiri di depan cermin. Dia memperhatikan dirinya sendiri menggunakan handuk warna biru dari pantulan cermin. Dia memandangi wajahnya dari atas sampai bawah. Lalu perlahan-lahan membayangkan sosok Windy berdiri di belakangnya, mantannya yang baru saja putus dua hari lalu. Setelah delapan bulan pacaran, Eno baru sadar kalau Windy ternyata berbeda dari apa yang selama ini dia kira. Atau mungkin, Eno yang berbeda di mata Windy.

Bayangan Windy samar-samar berbalik badan, kemudian naik ke atas kasur. Perempuan itu duduk bersender di tembok, meluruskan kakinya ke depan, seperti yang biasa ia lakukan ketika pacaran dulu. Eno bisa melihatnya lewat pantulan cermin di depan. Windy menarik selimut, menutup kedua ujung kakinya. Rasa galau itu datang lagi. Eno balik badan, kemudian duduk di samping Windy.

‘No,’ bisik Windy, pelan-pelan menutup kepala Eno dengan selimut.

Eno berusaha melepaskan selimut di kepalanya. ‘I-ya?’

‘BRENGSEK LO!’ Windy loncat dan nemplok ke muka Eno.

Eno menjerit. Jantungnya memompa cepat. Dia mengayunkan tangannya ke sana ke mari. Sepersekian detik berikutnya, dia lompat dan menyadari bahwa sosok Windy yang dia bayangkan adalah kecoak. Secara refleks Eno melepas handuknya, lalu menyelepet kecoak yang ada di tembok. ‘MAMPUS LO! MAMPUS!’ tapi si kecoak berhasil terbang dan nemplok ke sisi dinding sebelah kanan. Sepersekian detik berikutnya Eno sadar kalau pertahanannya terbuka lebar. Dia tidak mau kecoak itu terbang ke tempat terlarang di badannya. Akhirnya dia cepat-cepat memakai handuk dan menyambar semprotan kecoak di bawah meja.

Eno mengarahkan semprotan itu ke kecoak yang lagi santai di dinding. Tangannya gemetar.

‘MAMPOS LO!’ Saking paniknya, bukannya nyemprot, Eno malah ngelempar semprotannya dari jauh. Beruntung headshot. Ketabok pas di kepalanya. Kecoaknya tepar dan jatuh ke bawah kasur. Eno ngos-ngosan. ‘AKU GAK BERENGSEK! MAAFIN AKU WIN! MAAFIN!’ Eno gagal fokus.

Imajinasi Eno memang suka berlebihan. Mungkin ini yang menyebabkan dia memilih untuk jadi penulis. Atau gara-gara jadi penulis dia jadi suka berimajinasi berlebihan kayak gini. Entahlah, tapi yang jelas khayalannya membuat dia seringkali lupa pada hal di sekitarnya. Pikirannya kembali ke Windy. Seperti lensa kamera yang sedang mengatur titik fokusnya dari buram menjadi jelas. Bayangan itu pelan-pelan menjadi jelas. Gambaran itu adalah dua hari yang lalu. Ketika mereka duduk di taman Central Park. Ketika pada awalnya, mereka tertawa menyaksikan anak kecil yang bermain bola plastik warna merah. Kemudian, seperti layaknya pasangan yang sedang kasmaran lain, mereka membahas masa depan. Lalu Eno bercerita tentang harapan-harapannya. Tentang wajah anak mereka nantinya. ‘Pasti mirip bapaknya!’ seru Eno sambil menunjuk hidung sendiri, bangga banget. Lalu Windy yang justru tidak setuju dan dibalas dengan Eno yang berusaha bercanda dengan bilang ‘Emang kamu gak suka kalo anak kamu mukanya kayak gado-gado gini?’ Lalu obrolan-obrolan itu berbelok sedikit demi sedikit. Mengubah tawa yang beberapa saat lalu menjadi hening yang tidak mengenakkan. Windy belum siap dengan komitmen, atau Eno yang terlalu buru-buru membicarakan masa depan dan tidak realistis.

Dan hubungan delapan bulan itu berakhir begitu saja.
Mereka memutuskan untuk jadi teman dulu.
Sampai keduanya sama-sama siap.

Itu yang dikatakan Eno, tapi di dalam hati dia merasa kalau itu terlalu klise. Alasan yang mengada-ada. Tapi memang kenyataannya seperti itu. Mau gimana lagi.

Eno melepas handuk, membuka lemari, lalu menggunakan baju untuk tidur.

Handphone-nya berbunyi.

Dan untuk kedua kalinya, dia mengambilnya. Dan memutuskan untuk tidak bisa tidur lagi.

Ternyata bunyi handphone barusan merupakan pesan dari Ibunya untuk mengunci pintu. Orangtuanya memang sering mengatakan hal-hal seperti ini. Jangan lupa mengunci pintu. Menutup jendela supaya tidak ada nyamuk yang masuk. Mematikan AC di ruangan yang tidak perlu. Dia sendiri sebetulnya bukan tipikal anak manja. Sudah satu tahun Eno tinggal sendiri dan belum ada kejadian aneh yang menimpanya. Satu-satunya yang menjadi sumber masalah adalah sifat pelupanya yang mencapai level ultimate. Jangan heran kalau Eno bisa bengong di depan keranjang belanja minimarket karena mendadak lupa mau beli apa. Atau tiba-tiba pergi ke dapur, membuka kulkas, lalu malah nanya sendiri, ‘Gue tadi mau ngapain ya ke sini?’ Lalu kembali ke kamar dan berpikir ‘Tadi kayaknya ada yang mau diambil deh di dapur.’ Lalu kembali ke dapur nanya, 'Tadi gue mau ngapain ya?'. Begitu terus sampai ajal menanti. Atau yang paling sering, bersiap pergi, mengambil kunci mobil, menaruhnya di dapur, pergi pipis ke kamar mandi sebentar, lalu berjalan ke depan mobil kesayangannya dan bersimpuh, ‘DI MANA KUNCI MOBIL GUEEE?!’

Setelah membalas pesan Ibunya, Eno melihat satu notifikasi DM Twitter di bagian atas ponselnya.

Dia duduk di pinggir kasur, lalu menekan gambar burung biru di layar.
Mudah-mudahan bukan dari Windy, pikirnya.

Eno memperhatikan akun itu. Sedikit lega karena ternyata benaran bukan Windy. Di sisi lain, dia merasa heran karena akun tersebut asing. Nama akunnya kayak nomor telepon. Foto profilnya telur dengan background biru. Seperti akun Twitter yang baru dibuat, dengan jumlah tweets 13 yang kebanyakan berisi pujian terhadap artis Korea. Seperti ‘G Dragon keren abis!’ lalu di bawahnya ‘EXO I LOVE YOU!’ lalu di bawahnya lagi ‘Nggak pernah nyesel nonton Cak Lontong!’ Yang terakhir ini kok mental sendiri ya.

Eno awalnya malas meladeni orang seperti ini. Tetapi dia teringat dengan salah satu video yang ditontonnya beberapa hari lalu di YouTube. Ada seorang komedian Inggris bernama James Veitch yang kerjaannya balas-balasin email spam. Email yang tadinya mau mencoba menipu, malah dikerjain balik sama dia. Ketika itu Eno ketawa sampai keluar air mata gara-gara keisengan Veitch ini. Eno akhirnya mencoba mengikuti permainan si orang asing, ikut coba ngerjain balik. Lumayan, pikinya, paling tidak satu hiburan di tengah kegalauannya ini.

08778392xxx: Hei.
Eno: Iya hei juga.
08778392xxx: Passwordnya?
Eno: Susu hitam kental manis… Enak rasanya?
08778392xxx: SELAMAT ANDA MENDAPATKAN HADIAH DUA JUTA RUPIAH!
Eno: …
08778392xxx: Image attached

Eno membuka gambar tersebut. Tampak sesosok ibu-ibu gemuk dengan daster kuning memegang pisau. ‘Hah? Apa nih?’ tanya Eno. Seolah bisa baca pikiran, orang asing tersebut menjawab.

08778392xxx: Sori. Salah kirim. Itu foto nyokap pas lebaran. Hehehe.
Eno: …
Eno: Saya udah panik lho, Mas.
Eno: Eh, Mbak.
Eno: Atau kalau diliat dari avatarnya, wahai Makhluk Monokotil.
08778392xxx: ((Makhluk Monokotil))
08778392xxx: Image attached

Kali ini sebuah gambar menyerupai kartu nama berwarna perak. Pantulan cahayanya membuat si benda ini terlihat seperti besi. Atau memang besi? Di tengahnya ada tulisan “Dufan” berwarna merah dan bagian bawahnya 11/5/2017. Minggu depan? Eno tidak mengerti sama sekali maksud dari gambar ini. Caption dari foto itu tertulis: khusus pemberani.

Eno: Saya jarang ke Dufan. Makasih voucher diskonnya.
Eno: :)
Eno: Beneran, deh. Saya pernah bawa gebetan, sampe di istana boneka aja gemeter. Udah kayak bit stand up-nya Raditya Dika.
Eno: Tapi saya gak sampe loncat berenang gitu lah. Cemen bener.
Eno: Saya gak bisa berenang.
Eno: Hehehe.
Eno: Mas? Mbak? Monokotil?

Lalu DM Twitter ini berakhir begitu saja. Tidak ada balasan, tidak ada petunjuk apapun selain gambar Dufan dan ibu-ibu berdaster yang sedang menyiapkan masakan Lebaran. Niat untuk ngerjain orang seperti James Veitch malah berakhir kayak om-om desperate yang lagi gombalin anak di bawah umur.

Eno lalu tidur. Di kepalanya tersimpan banyak hal aneh hari ini.

--
DELAPAN - WINDY
Yohanes pulang setelah mengantarkan Windy ke depan rumah. Ebem dan pacarnya ikut bersama Yohanes. Windy masuk menenteng tiga plastik penuh baju bekas photoshoot-nya tadi.

Begitu sampai di kamar, ia meletakkan kacamata di meja lalu melompat ke kasur. Hari ini sebenarnya dia ingin diam saja di rumah. Dia merasa butuh refreshing. Ada masanya bagi setiap orang untuk menyisihkan waktu untuk diri sendiri. Kalau saja tidak ada kerjaan, mungkin Windy sudah menonton film apapun yang ada di laptopnya sambil minum cokelat hangat seharian.

Pada akhirnya Windy mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu led di tembok kamarnya. Di dalam kepalanya terputar pikiran soal komitmen. Tentang perkataan Eno dua hari lalu. Apa iya dia yang salah karena tidak berani membahas masa depan? Tapi untuk apa pura-pura bahagia ngomongin masa depan kalau belum tentu benaran terjadi? Bukannya banyak orang patah hati gara-gara punya harapan yang berlebihan?

Mungkin bagi Windy masa depan adalah sesuatu yang samar. Sewaktu kita masih 17 tahun, pandangan kita akan masa depan masih gelap dan tidak jelas. Ketidakjelasan ini yang membuat apa yang kita lakukan di saat itu menjadi seru. Kita bisa dikagetkan oleh dampak dari perbuatan kita. Ini berkebalikan sewaktu kita dewasa. Semakin kita dewasa, masa depan kita mulai terlihat sedikit demi sedikit. Kita jadi bakal susah untuk “kaget”. Ketika dewasa, apa yang kita lakukan akan jauh lebih ketebak efeknya bagi hidup kita di masa depan.

Windy melihat ini di dalam orangtuanya.
Dan dia tidak mau seperti itu.

Dia menatap foto-fotonya di Instagram bersama Eno. Salah satu keribetan yang perlu dilalui orang setelah putus adalah memutuskan untuk menghapus foto mantan dari sosial media kita. Satu foto dia tekan. Terpampang wajah Eno yang mengangkat satu tusuk sate taichan sambil menaikkan otot tangan kanannya yang tidak ada itu. Tapi di mata Windy, foto itu lebih dari sekadar Eno yang makan sate. Itu adalah pertama kali Eno mau diajak makan pedas bersama. Di dalam foto mungkin wajah Eno terlihat nyengir lebar. Tapi yang orang lain tidak bisa lihat adalah, tiga detik setelah pose itu, Eno tersedak dan langsung menghabiskan dua botol air dingin. Matanya yang berair. Dan sepanjang perjalanan pulang di mana Windy ngeledekin Eno yang sok kuat makan pedas dan mereka bernyanyi berdua di dalam mobil. Bagi beberapa orang, foto mungkin punya arti yang lebih dalam daripada sekadar gambar.

Bersamaan dengan itu, masuk sebuah email ke hapenya. Windy merengut karena biasanya email endorsement harus berjudul sesuai dengan format yang dia berikan: Endorse – Nama Barang.  Tapi email ini berjudul “khusus pemberani”. Dia membukanya. Di dalamnya, terdapat sebuah foto lempengan besi dengan tulisan “Dufan” dan tanggal minggu depan.

‘Kok gue takut ya?’ tanya Windy ke Yohanes di telepon, sesaat setelah dia menceritakan email barusan.
‘Diemin aja udah. Orang iseng kali.’
‘Masa sih?’ Windy gak percaya.
‘Iya. Atau sekarang gini aja. Lo ganti password Instagram aja. Daripada kenapa-kenapa.’
‘Kenapa-kenapa gimana?’
‘Ya di-hack. Instagram lo diambil alih orang lain. Dipake upload foto sembarangan.’

‘Foto gue emang kurang sembarangan apa lagi?’ Windy lalu tertawa, mengingat sebagian besar fotonya memang dipenuhi gaya aneh. Mulai dari foto dengan gaya lidah melet. Video dirinya sedang memutarkan badan di tengah mal. Sampai menekan pipinya yang dia gembungkan sendiri. ‘Oke deh, Nes. Thank you ya.’

Windy mematikan telepon.

Sebenarnya agak aneh Windy menelepon Yohanes. Meskipun Yohanes fotografernya, tapi dia jarang membahas hal-hal pribadi kayak gini. Ternyata nggak ada Eno ada pengaruhnya juga untuk dia, pikirnya. Apa biarin aja ya di-hack? Biar foto-foto yang ada dihapus sekalian? Windy cemberut, lalu bicara sendiri. ‘Hack aja hack. Huu. Upload sana foto yang lebih penting! Apakek. Meme kek. Atau video-video jomblo yang endingnya item putih sambil nangis sekalian!’

Windy mendekatkan hapenya, membuat pantulan cahayanya mengenai wajahnya. Lalu, dengan ragu-ragu menelepon Eno.

Satu panggilan.
Dua panggilan.
Tiga panggilan.

Tidak ada jawaban.

Windy menutup kepalanya dengan bantal.

Tangan kanannya mengambil hape, memotret dirinya sendiri.
Kemudian di-upload di Instagram.

--
SEMBILAN – JAKA
Setelah mobil itu menghilang, Jaka keluar rumah. Dia mengambil lempengan besi itu dan membawanya ke kamar. Bentuknya seukuran hape, tapi lebih tipis dan berat. Kayak plat nomor versi mini. Jaka mengangkat lempengan itu ke bawah sinar lampu, seolah mengecek uang palsu. Di satu sisinya terdapat gambar mata yang menonjol keluar. Sementara di sisi satunya tertulis “Dufan” dan tanggal minggu depan di bagian bawah.

Untuk berjaga-jaga, Jaka memotret lempengan besi itu. Dia membuka laptop dan menyimpan file-nya di sana.

Sekitar pukul tiga sore, Rafi dan Lukman pulang. Jaka mencegatnya di depan pintu.

‘Fi! Lo harus tahu gue nemu apa!’ Jaka mengangkat lempengan besi.

‘Apaan tuh?’ tanya Rafi. Lukman menutup pintu pagar, lalu ikut menghampiri Jaka. Jaka mengajak mereka ke kamarnya.

‘Hmmm… Dari beratnya, sih, bukan Alumunium,’ jelas Jaka.

Lukman nyamber, ‘Hmmmm… Dari warnanya juga bukan daun pisang sih.’

‘Sial lo,’ balas Jaka lagi. ‘Maksudnya, walaupun warnanya kayak alumunium, tapi bukan alumunium. Gitu lah.’

Rafi mengangguk padahal tampangnya masih bingung. Jaka menyerahkan lempengan besi itu ke mereka. Kayak ikan koi yang dilempar pelet, Rafi dan Lukman langsung berebut memegang lempengan besi tipis itu. Mereka agak kaget karena lempengan itu lebih berat dari yang mereka bayangkan. Jaka kemudian bercerita soal mobil yang datang ke depan rumah dan diam-diam meletakannya ke sela-sela pintu pagar.

‘Wah ada lambang mata!’ Lukman kembali sok jadi detektif.

‘Tandanya apa, Man?’ tanya Rafi.

‘Serem euy. Kayak dipelototin gitu.’

Hening.

Jaka beranggapan kalau lempengan besi ini pasti tidak cuma satu. Sengaja dibagikan ke orang-orang terpilih. Kayak di Now You See Me gitu, kata Jaka. Sementara menurut Rafi, lempengan besi ini lebih mirip kayak brosur tukang servis mesin cuci yang suka dibagikan ke rumah-rumah. Pendapat ini didukung oleh Lukman yang menunjuk tulisan Dufan dan tanggal yang ada di bagian belakang lambang mata tersebut.

‘Ada yang mau nyobain dateng gak? Siapa tahu aja diskon?’ tanya Jaka.

Rafi dan Lukman saling tatap-tatapan, lalu menggeleng.

‘Gue mah sebenernya mau,’ jawab Rafi.’ Tapi Pak Tanto minta buru-buru gue nyelesain revisi, euy. Lagi belum mau meninggal nih.’

‘Gue juga, Jak.’ Kali ini Lukman yang ngomong. ‘Takut dikira homo kalo malem minggu ke Dufan bareng lo.’

Rafi kemudian menyarankan Jaka untuk datang. Menurutnya, paling tidak Jaka bisa kembali ke Jakarta, daripada gak jelas juga di sini ngapain. Bener juga sih, batin Jaka. Kan seru juga kalo tiba-tiba ini petualangan. Kalo kata Forrest Gump kan “Life is a box of chocolates. You never know what you’re gonna get.” Lagi-lagi Jaka mengutip sembarangan. Padahal gak tau apa hubungannya Dufan sama cokelat.

‘Nah, pas juga, sih, momennya.’ Lukman berusaha mengingat sesuatu. ‘Lo, kan, katanya lagi pengen yang leher lebih panjang dari jerapah gitu.’

Jaka nimpuk Lukman pake buku. ‘Leher yang akan lebih sering melihat ke atas, kali. Film 5cm woi itu. Pada gak nonton apa?’

Rafi dan Lukman pura-pura bersiul.

Jaka mengambil besi itu dari genggaman Rafi. Diam-diam tersenyum membayangkan sesuatu yang besar di depan sana. Di tengah keheningan, dia membuka mulutnya, ‘Kalo gue diculik gimana?’

bersambung..
Suka post ini? Bagikan ke: