Friday, March 31, 2017

INILAH YANG TERJADI JIKA KRESNOADI JADI CEO TOKOPEDIA*

Gue masih salut bagaimana teknologi bisa memengaruhi cara hidup manusia. Bayangin deh. Di jaman manusia purba, kita hidup pindah dari gua ke gua, ngepanahin hewan-hewan buat dimakan, berkembang biak, laper, ngepanahin hewan lagi. Gitu terus sampe botak. Kalo diperhatiin, orang jaman dulu kerjanya cuman jalan-jalan, berburu. Nggak pernah ngaji. Parah! Semakin lama, kita sadar akan kebutuhan, mulai kenal yang namanya barter. Nuker beras dengan nanas, daging dengan sayur, bengkoang ama Xbox 360. 

Setelah muncul duit sebagai alat tukar, kita makin dipermudah. Mau belanja tinggal masukin dompet ke kantong. Jalan ke supermarket. Praktis. Sekarang? Jauh lebih enak lagi. Tinggal keluarin HAPENYA DOANG. Pencet sana pencet sini. Belanja online dari rumah. Lalu golar-goler deh. Meratapi kemiskinan dan penyesalan yang baru saja dilakukan sambil nunggu kurir. Gampang abis.

Gue pertama kali belanja online kira-kira hampir 10 tahun lalu, sekitar awal-awal masuk SMA. Waktu itu ecommerce belum serame sekarang. Gosip tentang penjual online yang suka nipu masih banyak. Dan satu-satunya tempat belanja online yang gue tahu adalah Forum Kaskus. Nggak kayak sekarang yang udah banyak banget. Bisa nyari di marketplace kayak Tokopedia, Bukalapak, Blibli. Atau kalau yang niat, bisa nyari akun online shop di Instagram kayak @gelangkulitexclusive, @kacamatakayu, @ui.cantik. Oke, yang terakhir kayaknya bukan akun jualan deh..

Tapi tahu gak apa yang lebih menyenangkan dari belanja online?

JUALAN ONLINE!

Salah satu mimpi gue emang punya toko dan dapat penghasilan dari jualan. Atau dalam bahasa gaul: entrepreneur. Yang mana bahasa Cekonya adalah podnikatel. Gue pun gatau gunanya nulis bahasa Ceko dari entrepreneur barusan, tapi siapa tahu ada orang Ceko yang gak sengaja nyasar ke blog ini, nemu bahasanya dipake lalu bangga dan bilang ke temen-temennya di kampus, ‘Tadi gue ga sengaja buka keriba-keribo.com… ADA PODNIKATEL BROO!!’

Mereka pun bersorak sorai kayak gini:



Nah, sebelum punya sendiri, gue merasa perlu untuk memperhatikan problem apa aja yang ada di e-commerce sekarang. Ini kayak jaga-jaga sebelum nanti gue punya toko sendiri. Biar lebih spesifik, gue akan ambil contoh Tokopedia. Kenapa Tokopedia? Soalnya kalo ui.cantik bukan e-commerce. Walaupun akunnya saya rekomendasikan untuk dicek. Jadi, anggap aja gue jadi penasehat CEO e-commerce dulu. Atau dalam versi ngarep… Inilah yang akan terjadi kalau Kresnoadi jadi CEO e-commerce Tokopedia.

Satu. Foto adalah koentji!

Buat pembeli, foto adalah salah satu indikator untuk meningkatkan kepercayaan kepada penjual. Ngeliat foto di e-commerce itu sama kayak kita di mall ngeliat baju dari luar etalase. Kita nggak bisa megang bahannya, ngerasain secara langsung. Tapi bisa mengira-ngira apakah barang itu cocok atau tidak sama kita. Makanya, foto barang yang dijual harus pas. Nggak boleh terlalu jelek, tapi juga jangan modal ambil dari google. Bayangkan ada toko online bernama “PAR CELL” jualan handphone Samsung Galaxy S8 dan SEMUA GAMBARNYA ngambil dari google. Sebagai pembeli, ini pasti bakal ngebuat kita bilang, ‘GUE JUGA TAHU SAMSUNG GALAXY S8 TUH YANG ITUU!!’ Ini sama kayak ada teman kita pamer, ‘Gue baru beli Samsung Galaxy S8 dong!” Lalu begitu kita udah tertarik dan nanya, “Oh ya? Kayak gimana tuh? Coba liat dong!” dia malah jawab, “Ya kayak yang di tv itu dah..”



Menampilkan barang dari google memang ngebuat toko lebih “rapih dan bagus”, tapi itu nggak nyata. Kayak ngeliat cewek cantik, wangi, tapi ternyata Raisa. Mustahil dimiliki. :(

Begitu juga sebaliknya. Jangan malah naroh foto dengan gambar yang terlalu gelap atau kecil sampai kita nggak bisa ngeliihat detail produknya. Ini kan produk jualan, bukan tersangka penjual cendol pake pewarna sarung. Kalau udah, kasih watermark deh. Supaya foto kita nggak disalahgunakan sama orang-orang. Karena foto adalah koentji!

Dua. Video!

Kalau foto sudah cihuy, sekarang lanjutkan dengan: video! Di era visual ini, video pastinya akan lebih memiberikan pengalaman yang berbeda untuk user. Kalo gue jadi CEO Tokopedia, gue akan sebisa mungkin memasang video di berbagai kategori dan meminta pada penjual untuk menampilkan video yang berkaitan dengan produk yang dijual. Ini pasti akan meningkatkan kenyamanan calon pembeli. Di samping itu, pembeli akan merasa kalau si penjual lebih aware dan paham akan produknya. Misal, jual handphone, sertakan video unboxing atau review handphone tersebut. Kalau yang dijual adalah barang-barang DIY, sertakan video cara penggunaannya. Sebaliknya, jangan kasih video yang tidak nyambung. Contoh: Jual kaos, tapi menampilkan video “Ini Dia Ekspresi Jokowi Saat Melihat Kambingnya Melahirkan!”

Letakkan di sini:



Jangan masukan video ini:



Tiga. Hilangkan “Barangnya Sesuai Gambar Gan”

Selain foto, review pembeli lain juga merupakan faktor penting sebelum pembeli memutuskan untuk masukin produknya ke keranjang belanja. Masalahnya, tidak jarang gue menemukan review di Tokopedia yang hanya sekadar “Barangnya sesuai gambar gan.”. Buat gue, ini sangat disayangkan. Kenapa? YA KARENA EMANG HARUSNYA GITU! Udah sepantasnya si penjual mengirim barang yang sesuai dengan gambar. Gak pernah kan kita ke sebuah restoran sushi, misalnya. Begitu makanannya dateng kita mengacungkan jempol dan bilang, ‘Wah sushi-nya sesuai gambar! Mantap nih restoran!’



Banyaknya jenis ulasan seperti ini mengindikasikan dua hal: 1) memang banyak penjual yang mengirim barang tidak sesuai (makanya begitu dapet yang sesuai gambar langsung bangga), atau 2) Pembeli tidak tahu harus mengisi apa. Untuk poin pertama tentu masalah ada pada tim kurasi Tokopedia supaya lebih selektif dalam menyeleksi penjual. Sementara untuk poin kedua, Tokopedia bisa memberikan “poin-poin ulasan detail” yang dapat diisi oleh pembeli. Misalnya, setelah si pembeli mengonfirmasi penerimaan barang, Tokopedia memberikan survei berupa “Seberapa baik kemasan yang diberikan penjual”, “Seberapa baik produk berfungsi”, “Seberapa baik komunikasi penjual?”. Lalu pembeli tinggal mengisi antara 1-5, dari yang paling buruk sampai paling baik. Baru setelahnya, si pembeli mengisi ulasannya seperti biasa.



Empat. AI AI AUOOOO!

Pernah gak ngerasa pengin suatu barang, tapi gatau namanya apa? Kayak misalnya kita liat orang bisa nulis pake pensil di hape, dengki, terus diam-diam pengin punya juga. Karena nyopet adalah tindak kejahatan, akhirnya kita memutuskan untuk beli. Masalahnya… kita nggak tahu nama benda itu apa. Alhasil nulis di kolom pencarian Tokopedia kayak gini:



Yang muncul malah pensil Barbie. :(

Inilah pentingnya customer service yang cepat tanggap. Sayangnya, terkadang kita harus menunggu 5-10 menit untuk mendapatkan jawaban dari CS. Dan bagi beberapa orang, ini kelamaan (kecuali CS-nya gebetan kamu). Nah, di sinilah fungsinya AI (Artificial Intelligence) dalam bentuk chatbots. Ini mungkin mirip-mirip aplikasi SimSimi jaman dulu di mana kita suka nanya-nanya sama dia. Tokopedia bisa kerjasama dengan start up di bidang ini. Di Indonesia sendiri ada kata.ai yang merupakan pindahan dari YesBoss. Dengan bantuan chatbots, dia jadi bisa menerjemahkan “pensil yang bisa dipake untuk nulis di hape” menjadi “stylus” hanya dalam waktu singkat. Penjual senang karena ketemu pembeli, pembeli pun jadi tahu dan bersorak, ‘AUOOOO!’



Ps: Dengan adanya chatbots, customer service dapat diberikan informasi yang sifatnya lebih personal. Seperti model pakaian yang sedang tren dijual, produk kecantikan  Alhasil, user merasa lebih diperhatikan.

Lima. Mana Paketku?



Meskipun Tokopedia merupakan marketplace dan bukan penjual, tapi dalam kaidah perdagangan mana pun, pembeli adalah raja. Dan seringkali si raja ini bertanya-tanya, ‘Mana paketku?’ Entah itu ke penjualnya langsung, ke Tokopedia, atau ke konter pulsa (kalo yang dia beli paket kuota internet). Nah, demi mengurangi hasrat si raja ngomong ‘mana paketku?’ terus, pihak Tokopedia dapat meningkatkan armada pengirimannya. Bisa dengan menambah agen dan bekerja sama dengan start up di bidang logistik kayak deliveree, atau yang lainnya. Atau memberikan kemudahan untuk dapat mengambil paket ke convenience store seperti indomaret dan alfamart. Hal ini akan membantu pembeli yang gak di rumah saat kurir datang.

Kira-kira ini 5 hal yang akan gue lakukan kalo jadi penasehat e-commerce Tokopedia. Atau kalo gue jadi CEO-nya sekalian. Hueheheh. Kalo menurut kamu apa yang harus dibagusin dari e-commerce di Indonesia? Yuk kita diskusi biar belanja online mmakin asoy! \(w)/

*) Tulisan ini diperuntukkan bagi iprice.co.id 
Suka post ini? Bagikan ke:

Wednesday, March 29, 2017

Mimpi, Waktu Indonesia Bercanda, dan Puisi Dari Kegelisahan

Terus terang, gue kangen nulis gajelas lagi. Setelah baca beberapa post terakhir kok kayaknya gue “serius” bener ya? Hohohoo. Aneh juga bacanya. Di tengah-tengah baca beberapa postingan itu, gue jadi diem sebentar, lalu mikir, “INI SIAPA YANG BAJAK BLOG GUE YAA?!!” Jadi inget dulu pernah main bajak-bajakan sama Wahai Para Shohabat. Dengan tidak elegan, si Yoga ngebajak blog gue dengan super cupu (cek postingannya di sini). Blog gue juga pernah dibajak tukang ember (baca di sini). Ya, tukang ember. Gue juga sedih kok nulisnya…

Kalo udah kayak gini gue jadi flashback sewaktu pertama kali bikin blog. Waktu itu gue awal-awal semester empat. Jaman-jamannya gue dapet mata kuliah Ekologi Hutan. Saat itu gue dapet kakak asisten dosen yang nyebelin. Badannya gede, ngomongnya sembarangan dan sok berkuasa. Biasalah, tipikal kakak senior yang pengin dihormati gitu. Gara-gara sikapnya itu, gue jadi menaruh perasaan sama dia. Perasaan pengin nusuk palanya pake tombak, tepatnya.

Masalahnya, dia kuat dan nyeremin. Ini sudah tentu kemungkinan organ gue yang mejret duluan meningkat 90% sebelum berhasil nusukin tombak. Alhasil, gue diam-diam semacam punya “dendam pribadi” yang tidak tersalurkan. Akhirnya gue mulai mencari pelampiasan yang asik (dan mengurangi resiko gue tewas lebih cepat, tentunya). Teriak-teriak di pinggir tebing jadi salah satu opsi waktu itu. Bayangin gue berdiri di pinggir tebing, ‘AAARRRGHHHH BANGSAAAAT?!! AUWOOOO!!!’ Gue ngerobek baju, lalu loncat masuk ke pedalaman hutan. Berubah jadi Tarzan. Malah gagal keren.

Hal lain yang terpikirkan adalah membuat grafiti; semacam coretan gaul di tembok menggunakan semprotan pilox. Tapi mengingat dendam gue yang rada panjang, entah butuh berapa banyak tembok. Kalo pun disingkat jadinya susah dimengerti: QXBL. Qu Sebel.

Alhasil, gue baru tahu ada yang namanya blog. Dan, seru juga bebas cerita di internet kayak gini. Sampai kemudian gue kenal temen-temen blogger lain, banyak sharing tentang penulisan dan cerita. Banyak yang menjadikan blog sebagai wadah untuk berlatih menulis. Sampai sini gue langsung nyadar… hina banget niat gue dulu ngeblog. Hehehe.

Anyway, ada beberapa hal yang pengin gue ceritain:

Satu. Belakangan ini gue mimpi aneh-aneh banget. Beberapa minggu lalu gue sempet mimpi dateng ke nikahannya Benakribo, yang mana orangnya aja udah berkembang biak. Di waktu yang berbeda, nggak kalah serem, gue mimpi kalo bokap meninggal. Gue udah di dalam liang kubur, sedih, deg-degan, menunggu jenazah bokap diturunkan. Anehnya, orang-orang malah nurunin beberapa jenazah sekaligus, ditumpuk secara vertikal… dan gak ada jenazah bokap. Begitu sadar kalo nggak ada jenazah bokap, gue jadi bingung dan makin deg-degan: kenapa gue bisa ada di dalam di liang kubur? Bangun-bangun keringetan.

Hari ini nggak kalah seru. Gue sama temen-temen ada di dalam rumah dengan seragam a la pemain paintball. Kami lagi menghadapi semacam teroris dan virus mematikan. Hampir berhasil ngebunuh semua teroris dengan aman, ada satu teroris yang berhasil kebunuh dan darahnya yang ada virus moncrot kena laba-laba. Gue bangun, dan karena ngerasa seru, nyoba “lanjutin” mimpinya. Dan berhasil! Gue bareng temen-temen yang tersisa ngelawan, dalam bahasa di dalam mimpi, "artphropoda beracun" di garasi belakang bekas rumah gue yang dulu. Dramatis abis… dan bener-bener gajelas.

Ada yang gitu juga nggak sih? Pernah ngalamin mimpi seru, terus kayak ngerasa pengin ngelanjutin mimpinya dan ternyata emang nyambung sama mimpi sebelumnya? Atau ada yang bisa ngartiin mimpi? Ini kayaknya juga gak bakal ada di primbon jawa deh.

Dua. Gue baru-baru aja nonton Waktu Indonesia Bercanda di NET. Dan ternyata kocak abis! Gue pikir awalnya semacam ILK gitu yang ngebahas topik-toppik dengan konyol, eh ternyata game show. Salah satu segmen terfavorit tentu Teka-Teki Sulit! Gue sampe ngakak-ngakak sendiri begitu tahu jawaban sebenarnya dari Cak Lontong. Buat yang masih mau waras, mending jangan ditonton deh. \:p/

Tiga. Sebuah puisi dari kegelisahan gue di pagi ini:

Bangun tidur dan bangun dari kasur
adalah dua hal yang berbeda.
Kadang kita sudah bangun dari kasur,
tapi masih tidur. Kadang kita
sudah bangun tidur, tapi belum mampu bangun dari kasur.
Karena bangun dari kasur butuh energi dari sarapan.
Untuk sarapan perlu bangun dari kasur.
Ah, sarapan cuma harapan.
Isi tudung saji cuma mimpi.
AKU LAPER!
Suka post ini? Bagikan ke:

Friday, March 24, 2017

Tentang Move On

Kayaknya masih ada yang salah kaprah soal move on deh. Menurutnya, move on sama dengan pindah. Maka orang ini berpikir untuk secepat-cepatnya mencari orang baru supaya bisa pindah. Buat gue pribadi, ini agak-agak nggak etis. Apakah memang dengan pindah ke hati yang baru kita sudah berhasil move on? Apakah dengan “naksir karena pengin move on” merupakan hal yang baik?

Gue pernah baca salah satu twit dari Ika Natassa yang bilang kalau adanya keberadaan orang lain untuk melengkapi kita itu hal yang aneh. Menurut Ika ini aneh banget. Seharusnya kita bisa “melengkapi” diri kita sendiri dulu. Bahagiakan diri kita sendiri dulu. Baru kemudian bersama orang itu, jalan bareng di satu jalur yang sama. Jatuh cinta bukan berarti dua orang cacat yang bergabung untuk saling melengkapi.

Dalam kasus move on, ini berarti seharusnya kita sudah berhasil pindah terlebih dahulu. Kita sudah bebas. Kita udah move on, baru cari orang lain. Bukannya datengin orang cakep, lalu bilang, ‘Eh gue lagi sedih nih. Temenin gue yuk. Perhatiin gue. Bikin gue sibuk sampe lupain mantan.” Buset enak bener. Situ Raja Arab?

Buat gue mungkin move on lebih ke menerima kali ya? Mungkin bisa berarti menerima kalo hape kita jadi nggak serame biasanya. Menerima kalo hari sabtu nggak sibuk nyari ide buat jalan. Menerima kalo kebiasaan-kebiasaan yang dulu dilakukan bareng, atau kebiasaan dia, udah nggak bisa kita liat lagi. Bagi beberapa orang, move on berarti menerima kalo nggak ada lagi yang bawain bakso ke rumah di saat hujan (apalagi kalo mantan lo tukang bakso).

Nyokap gue pernah cerita hal yang lucu banget soal beginian. Jadi, sewaktu kuliah, nyokap punya tampang primadona. Entah ada berapa banyak cowok yang suka nyamperin dan dateng ke rumah bude, tempat nyokap tinggal dulu. Singkat cerita, nyokap ketemu bokap, berkembang biak, jadilah Tiyo (abang gue) dan gue (Christiano Ronaldo). Sampai kemudian sewaktu nyokap pulang kerja, ada satu bapak-bapak nyamperin dan bilang kalo dia adalah temennya di kampus UGM dulu.

Si bapak-bapak ini (yang selanjutnya kita panggil dengan sebutan “babe”) lagi ada projekan di kantor nyokap. Nyokap akhirnya ngobrol-ngobrol-ngobrol sama si babe. Hingga beberapa minggu kemudian, si babe mengaku kalo dia dulu naksir nyokap. Momen pertemuan ini tentu membuat si babe berpikir: mimpi apa aku bisa ketemu dia lagi ya Allah?!

Gilanya, ternyata babe masih suka cerita KE ISTRI DAN ANAKNYA soal nyokap sampai saat itu. Saking antusiasnya ga sengaja ketemu nyokap, babe akhirnya ngajak nyokap ke rumah. Dia pengin ketemuin orang yang sering diceritain langsung ke anak dan istrinya. Ini bikin nyokap mikir: mimpi apa aku bisa ketemu dia lagi ya Allah?!

Babe pun lama kelamaan jadi suka SMS nyokap. Dan selayaknya cewek yang tidak peduli, nyokap hanya membalas dengan chat singkat seperti: ya, tks, *888# (INI MAU BALES SMS APA CEK PULSA YA ALLAH?!).

Melihat bokap yang mulai pasang kuda-kuda dan bersiap Kamehameha, nyokap akhirnya nge-block nomor si babe.

Kejadian ini ngebuat gue mikir… KAGAK BISA MIKIR APA-APA GUE ASTAGA. Serem gak sih? Setelah bertahun-tahun, sampe udah nikah dan brojol tapi masih ngomongin orang lain. Kalo suatu hari tiba-tiba bokap cerita tentang cewek lain selain nyokap, udah pasti respon gue adalah: “ngakak coeg. :v”

Lalu gue sentil buah pelirnya.

Makanya, menurut gue, cara terbaik untuk move on adalah dengan… ya menerima aja. Diem aja udah. Jalanin hidup kayak biasa. Move on mungkin sama kayak jatuh dari sepeda, lalu lecet dan kulitnya terkelupas. Mungkin saat berdarah kita bisa ngasih obat merah. Tapi nggak ada yang bisa kita lakukan saat menanti kulit baru kita tumbuh dan mengganti kulit lama yang terkelupas. Mungkin keliatan nggak ada usahanya. Tapi, emang itu kan esensi dari move on? Bagaimana kita hidup biasa aja tanpa ada usahanya.

Lucunya, ada orang yang saking pengin kelihatan udah move on, kemudian jadi sering pamer di sosial media dan justru terlihat norak. Seolah hidupnya gembira dan “lebih berwarna” tanpa adanya si mantan. Update foto di Instagram dengan quote “I’m strong woman!” disertai foto lagi dorong mobil pick up (ya bener juga sih?).

Well, kalau udah begini, pertanyaan paling banyak adalah: 
butuh waktu berapa lama untuk seseorang bisa move on?
Yang bisa jawab ya kita sendiri.
Suka post ini? Bagikan ke:

Monday, March 20, 2017

Kuta Adalah Kota Paling Kita

Berhubung nggak bisa bikin musikalisasi puisi (dan takut banyak kuping yang berakhir mengeluarkan nanah), akhirnya nyoba bikin versi visual ke puisi gue yang berjudul Kuta adalah Kota Paling Kita. Hasilnya ini:



Kalo ada yang ngerasa formatnya rada aneh, itu karena emang sengaja dibuat untuk dibuka di handphone. Jadi kalo mau lebih seru, nontonnya di hape dan full screen.

Enjoy! \(w)/


Suka post ini? Bagikan ke:

Friday, March 17, 2017

Video Esai Malam Minggu Miko

Entah ada angin apa nyokap tiba-tiba masuk kamar sambil ngabarin soal skip challenge. Ibu baca-baca itu bisa bikin stroke dan jantungan lho, katanya. Gue jelas setuju. Jantung yang terhimpit akan bikin kekurangan oksigen dan jadi sesak. Dampaknya mirip-mirip kayak kita pas udah ngantri bensin, sampe depan baru sadar kalo khusus pertamax. #HidupPremium

Skip challenge emang gila sih. Ada juga yang bilang kalau permainan skip challenge bisa bikin maag! Sadis! Terlebih kalo keasikan main sampe lupa makan. Di komen ini juga bilang kalo Skip Challenge ternyata udah dari lama:

fasyaulia March 13, 2017 at 7:53 PM
Asli ini challenge paling aneh ya, lucuk kagak, bagus kagak, menarik kagak, bikin orang mati iya. Dan katanya ini udah lama permainannya, cuma dulu tuh di bagian leher di pencetnya, sekarang di bagian dada. Tapi efeknya sama. Apaan banget dah. Meningan ngaji dan solat aja (yaiyeee) :P

Tanggapan:
Kebayang nggak jaman dulu yang diteken lehernya? Selain kejang-kejang, suaranya pasti jadi kayak teleponan pas lagi edge. Putus-putus. INI BIAR APAA SIH? Apa coba yang ada di pikiran si pencipta skip challenge ini pertama kali? “Mau liat aku cosplay jadi mujaer? Coloklah tenggorokanku!” Kalo gue yang nemuin Skip Challenge, kayaknya nggak bakal kepikiran untuk neken dada kayak gitu deh. Paling-paling neken punggung. Skip enggak, yang ada sendawa mulu gara-gara masuk angin. 

Dan sebuah komentar lain:

Beby Rischka March 14, 2017 at 10:15 AM
Itu kalok aku yg ngelakuin Skip Challenge keknya gak ngaruh deh, Di. Yg neken malah membal. :(
Tanggapan:
Lanjut ke topik lain aja ya..

--
Udah lama gue pengin bikin video yang rada “bener”. Setelah biasanya cuman bikin video flourish, akhirnya hasrat bikin video berat jatuh kepada video esai. Apalagi belakangan ini gue juga sering belajar lewat video-video esai. Kalo katanya Evan Puschak, video esai itu terdiri dari tiga karakter: menarik, singkat, dan berdasarkan fakta. Nah, rencana awalnya gue pengin ngebedah tentang hal-hal yang ada di FTV. Sampai pas nontonin beberapa film… otak gue nge-hang. Konsep video esai ini secara nggak langsung ngebuat gue harus ngegali dan riset lebih dalam. Atau dengan kata lain, INI BIKIN VIDEO APA SKRIPSI?!

Setelah memutuskan untuk nyimpen FTV-FTVan itu, gue pindah ke hal yang paling gue suka: komedi. Berhubung nggak bego-bego amat soal beginian, jadilah gue merasa lebih “pede” buat nyari tahu dan ngebedahnya. Alhasil, gue coba ngebedah kompleksitas joke yang ada di dalam serial Malam Minggu Miko-nya Raditya Dika. Kenapa Malam Malam Minggu Miko? Oh sudah barang tentu… karena pendek. Muahahaha.

Eh sewaktu proses ngerjainnya gue malah kesenengan sendiri. Bolak-balik ngulang nonton, nyatet, nonton sampe bego. Mungkin emang udah dari sananya suka belajar kali ya? Jadinya sewaktu nyari tahu malah bergairah dan timbul hasrat ingin buka celana (lho?).

So, there you go. Video esai pertama gue yang ngebedah komedi yang ada di dalam serial Malam Minggu Miko.




Biar kayak YouTuber-YouTuber gitu, gue mo nulis pake capslock: JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, EN SUBSRIBE BEYBEEEH?!


Kresnoadi, sign out!
Suka post ini? Bagikan ke:

Monday, March 13, 2017

Tentang Challenge #SkipChallenge?

Beberapa hari yang lalu gue baru tahu dari grup Faedah keriba-Keribo kalo lagi rame soal #skipchallenge. Ngebaca chat itu tentu aja bikin gue mikir: challenge apa lagi ini? Awalnya gue menduga kalau ini challenge untuk skip alias tidak melakukan challenge. Gue beranggapan kalau challenge ini adalah challenge supaya kita nggak melakukan challenge. Tapi kan ini challenge. Itu berarti kita harus melakukan challenge untuk nggak melakukan challenge. Oke sampai di sini gue mulai bingung..

Mengingat banyaknya challenge yang beredar, rasanya kayak butuh ‘istirahat’ sebentar dari segala challenge yang ada. Mulai dari flip bottle challenge, samyang challenge, babi challenge (oke itu celeng). Tapi ternyata bukan sodara-sodara! #SkipChalllenge bukanlah challenge untuk nggak challenge! #SkipChallenge yang lagi rame adalah challenge supaya kita ngerasain yang namanya skip. Alias… sakrotul maut!

Gue ngeliat beberapa videonya di Instagram dan langsung pengin nangis sendiri. UDAH GILA APA YA ORANG-ORANG INI?! Challenge ini dilakukan dengan satu orang berdiri di tembok, lalu ada temennya menekan dada sampe si orang itu kelojotan! Gue bener-bener gak sanggup ngebayanginnya. Apalagi kalo yang diteken Julia Perez.

Gue juga menyadari perbedaan respon orang-orang yang main ini. Ada yang pas diteken dadanya kemudian langsung lemes, jatuh, lalu kejang-kejang. Ada juga yang begitu diteken dadanya malah ngebales nabok. Biasanya pelakunya mbak-mbak yang kita nggak kenal di halte busway.

Satu hal yang gue heran adalah, begitu si orang terjatuh dan kejang-kejang, banyak di antara temannya yang ketawa dan memfoto si korban. Parah abis! Harusnya kan video! (lho?). Gue kalo jadi si yang neken udah pasti panik ngelihat temen gue nggak bisa napas dan kejang-kejang, lha ini kok malah ketawa gitu. Terus terang gue tidak tahu dampak biologis dari dada yang ditekan dengan kencang, tapi melihat si korban sampai kejang-kejang tanpa bilang, ‘Abdi udah 200 tahun nunggu tempat ini.. GROARRRGH!! KOPII!!!’ udah pasti badannya mengalami sesuatu yang buruk.

Nah, makanya supaya banyak yang tidak bermain challenge ini karena berbahaya, gue akan memodifikasi skip challenge supaya menjadi tantangan yang fun dan menyenangkan!

Ada beberapa teknik modifikasi yang dapat dilakukan. Pertama, yang melibatkan andil penonton. Yaitu saat si temennya meletakkan tangannya di dada si korban. Pada saat ini gunakanlah kesempatan untuk penonton bilang, ‘CIYEEEE!’ 

Dijamin kedua temen kamu tidak akan melanjutkan challenge laknat ini. Kecuali mereka saling naksir dan malah ciuman di depan papan tulis.

Cara kedua adalah dengan perubahan total. Ada beberapa tahap untuk membuat #skipchalllenge menjadi lebih seru dan tidak membayakan:

1) Berdirilah membelakangi tembok

2) Suruh teman kamu berdiri di samping kamu,

3) Taruh kedua tangan di depan dada seperti halnya hendak melakukan skip challenge

4) Suruh teman kamu melakukan hal yang sama

5) Langkahkan kaki ke kanan

6) Ayunkan tangan kanan kamu ke kanan

7) Suruh teman kamu melakukan hal yang sama

8) Ulangi langkah 5, 6, 7 ke arah kiri

9) Lakukan kegiatan ini diiringi dengan lagu Umi – Hadad Alwi


INTINYA: JANGAN PADA MAIN GINIAN KENAPA ANJIR GUE SEREM LIATNYA!!
Suka post ini? Bagikan ke:

Thursday, March 2, 2017

Tidak Merasa Bersalah Dengan HOOQ

review film jomblo


Ayam raksasa itu lari kocar-kacir. Berusaha kabur dari kejaran satpam ke taman, ke koridor, ke ruang tata usaha, sampai kemudian, secara tidak sengaja masuk ke dalam ruangan gelap. Merasa sudah aman, si ayam melepas kepalanya. Kepala aslinya terlihat kecil dibandingkan kostum ayam putih yang ia pakai.

Ruangan seketika menyala,
ternyata itu kelas kuliah.

Situasi canggung. Si dosen yang merasa mabuk karena semalam menenggak obat penenang bertanya ke mahasiswanya. Semua bersorak dan mengiyakan keberadaan ayam random tersebut. Dan, di antara mahasiswa itu, ada seseorang yang ia cari. Perempuan yang ia ingin tahu alamat rumahnya. Perempuan yang mengisi pikirannya belakangan ini.

‘Ada pesanan untuk Lani, dari Happy Chicken,’ kata si ayam kepada dosen.

Semua diam.
Si ayam joget di depan kelas.

Situasi awkward.

Mungkin ini maksud dari perkataan Doni sebelumnya. Mengetahui Olip, sahabatnya, tidak berani kenalan sama gebetannya, Doni bilang bahwa cinta bisa saja datang, atau memilih, atau pergi. Tapi satu hal yang cinta tidak bisa lakukan: menunggu. Dan inilah yang menjadi alasan Agus nekat lari-lari keliling kampus menggunakan kostum ayam. Perasaan yang Agus rasakan, sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi.

Masalahnya, Agus punya pacar.

Adegan ini membuat gue terpancing untuk mengikuti jalan cerita film Jomblo ini. Gue butuh jawaban atas tiga pertanyaan: 1) Kenapa Agus melakukan ini? 2) Ke mana ini akan berlanjut? Dan 3) Agus ke dukun mana sampe laku gitu?

Dan sebuah pertanyaan lain: Jika cinta tidak pernah salah, kenapa ia bisa datang ketika perasaan itu sedang diberikan kepada orang lain? Kenapa sewaktu Agus masih sama Rita, pacarnya, perasaan itu bisa muncul ke orang lain? Suasana kamar hening. Gue menekan headphone, memasuki dunia empat sahabat ini lebih dalam lagi. Olip yang berperang dengan diri sendiri untuk kenalan sama Asri. Doni yang ternyata jadian sama gebetannya Olip. Bimo yang kalo mabok ngebayangin wayang (iya ini gak penting). Serta Agus yang ada di persimpangan. Harus memilih antara Rita atau Lani.

Satu hal yang gue sadari adalah, Agus bertemu Lani saat hubungannya dengan Rita mulai renggang. Seperti yang Agus katakan saat bersama Rita, bulan pertama pacaran itu indah banget. Tapi, lama-kelamaan semua mulai berubah. Bulan berikutnya menjadi “masa adaptasi” bagi keduanya. Bulan kedua Agus harus dorong-dorong trolley nemenin Rita belanja. Bulan ketiga tontonan bola dan tinju favorit Agus harus diganti sama sinetron. Pokoknya, hidup Agus dipenuhi kebiasaan perempuan. Kalau begini terus, lama-lama Agus pipisnya jongkok. Sampai kemudian, sifat cemburuan Rita keluar. Di saat inilah sosok Lani datang. Dan ia merasa ada yang berbeda di dalam diri Lani.

Setelah gue pikir-pikir lagi, kayaknya sifat manusia emang gini deh. Ketika kita sedang mengalami masa suram. Terkena macet, misalnya. Kita emosi dan ingin segera pergi. Segera pindah ke jalanan yang sepi. Itulah sebabnya begitu jalanan di depan perempatan lengang, kita langsung tancap gas. Bahkan biar menambah kesan ngebut, beberapa orang nambahin sound effect sendiri pake mulut, ‘NGEEEEENNGG!!’

Lani mungkin jalanan di sebelah kanan yang lengang dan membuat Agus ingin segera pindah karena sudah lama “macet-macetan” sama Rita. Masalahnya, kita tidak tahu, apakah jalanan itu akan tetap lengang sampai ujung, atau sama dengan yang kita jalani sekarang. Atau malah ada motor yang knalpotnya nembak-nembak ke muka.

Agus pun menjalani keduanya.

Cerita terus berlanjut. Agus tetap pacaran sama Rita, dan sembunyi-sembunyi sama Lani. Sampai akhirnya Agus mengajak Lani pergi ke kafe untuk pertama kalinya. Di sini Lani tampil cantik. Ia ingin terlihat spesial untuk Agus. Situasi ini jelas bikin gue bilang: ‘KATANYA CEWEK KALO DANDAN BUAT DIRI SENDIRI?! HALAH NGIBUL!’

Suasana sepi. Agus dan Lani duduk berhadapan. Backsound mengalun pelan.

‘Saya mau putus,’ kata Agus. ‘Dan kita jangan ketemu lagi.’

‘Boleh aku tahu kenapa?’

Agus menunduk sebentar, kemudian menatap dalam mata Lani. Dia bilang: ‘Kayak guru matematika aja lu!’

‘Gimana?’

‘Saya mau putus,’ Agus menarik napas panjang. ‘Soalnya sayang sama Rita. Dia juga sayang sama saya. Saya sadar kamu tuh lebih dari dia, tapi itu bukan alasan seseorang untuk putusin pacarnya.’

‘Kata kamu aku lebih baik. Bukannya tiap orang mau yang terbaik?’

‘Iya. Tapi…’ Agus diam sebentar, lalu dengan ragu menjawab, ‘Kalau semua orang terus cari yang terbaik, suatu saat nanti juga saya bakal ninggalin kamu.’

Pernyataan Agus ini bikin gue diam lama. Gue menekan layar, mem-pause film yang sedang berputar. Lalu mikir sendiri. Gue juga sekarang baru aja menjalin hubungan sama seseorang. Dan, sama kata Agus sebelumnya, masa awal pacaran emang indah banget. Bawaannya kepikiran terus. Pengin bareng-bareng terus. Kalo salaman sama bokapnya pengin bilang, ‘SAYA TERIMA NIKAHNYA!’ Intinya, sama kayak yang dibilang Agus, gue bahagia banget. Lalu gue mencoba mikir lebih jauh. Mungkin dia emang bukan cewek tercantik, atau tersemok, atau ter-ter-ter yang lain. Tapi kalau kita selalu mencari yang lebih baik, yang lebih baru, yang lebih terus, mau sampai kapan? Ini kan yang menjadi masalah semua orang? Kita selalu merasa ingin memiliki lebih dari yang kita punya. Kita tidak pernah merasa cukup. Di awal hubungan ini, gue udah bilang kalau gue mau serius sama dia. Gue mau coba jadi orang yang terbuka. Mau cerita tentang hal-hal yang mungkin banyak orang tidak tahu. Karena sama yang sebelumnya, gue lebih banyak menyimpan itu sendirian. Dan itu nggak enak. Kayak ada semacam perasaan bersalah ketika kita justru tidak bisa percaya sama orang terdekat kita. Gue tahu ini masih sangat jauh, tapi yang pasti, gue tidak mau kembali menyimpan perasaan bersalah itu.

Gue menyelesaikan film Jomblo di layar ponsel, menutup aplikasi HOOQ,
dan berharap dia juga begitu.

nyantai nonton hooq aplikasi video streaming di  rumah

--
Belum lama ini gue emang lagi demen ngulik HOOQ. Aplikasi video streaming on demand. Gampangnya, HOOQ ini aplikasi buat nonton film dengan cara streaming. Ada beberapa hal yang bikin gue suka sama aplikasi kayak gini. Pertama, kalau Steve Jobs di pidatonya bilang bahwa iPod adalah perangkat yang bisa masukin 1000 lagu ke dalam kantung, HOOQ bisa masukin 10 ribu film ke dalam kantung. Ya, sepuluh ribu. SEPULUH RIBU COY! SINTING! KALO BELI GORENGAN DAPET LIMA! (lah terus kenapa?). Anggap satu film berdurasi dua jam. Itu berarti 10 ribu film sama dengan 20 ribu jam. Atau 833 hari. Atau itu berarti… beres nonton mata putih semua.

Dengan banyaknya jumlah film, udah pasti pilihannya bervariasi. Mulai dari serial Supergirl yang tayangnya beneran real time, The Mentalist, sampai yang lawas kayak Friends. Film-filmnya dari You’ve Got Mail, 50 First Dates, Final Destination, sampe The Avengers. Lucunya (atau kerennya), si HOOQ ini punya koleksi lengkap film-film Indonesia. Mulai dari AADC 2 (yang baru ada di HOOQ doang), sampai yang jadul banget kayak Warkop juga ada. Film Jomblo yang gue tonton barusan padahal termasuk film lama yang gue gatau harus nyari ke mana, eh ternyata ada aja. Dua film yang tidak sengaja gue temukan dan pengin tonton lagi adalah serial Selfie yang jadi salah satu favorit gue. Serta Panji Manusia Milenium. Yang penting jangan gabung jadi Panji Manusia Selfie aja.

review aplikasi hooq streaming video

Hal menarik lainnya tentu karena bisa dibawa ke mana-mana, kita gak bakal mati gaya kalo pas megang hape. Tinggal colok headset, idupin HOOQ, lalu tinggal bilang, ‘Enyah kau society!’ Hehehe. Ini cocok banget buat pemalas kayak gue. Kalo lagi di rumah, tinggal bangun, nyalain laptop, buka website-nya dan tonton sampe mata keriting. Kalo lagi males banget, ya rebahan aja di kasur, nonton di hape. Muahahah!

cinemagraf nonton hooq di stasiun

HOOQ ini juga bisa jadi sumber utama kita supaya nggak mati gaya di tempat umum. Kita kan sering banget nemuin mbak-mbak nonton drama korea di kereta gitu. Dengan HOOQ ini, gue gak mau kalah! Huahahaha! Begitu sampai stasiun, gue langsung buka HOOQ. Turun sampe peron, buka HOOQ lagi. Pas di dalem kereta, buka HOOQ… sambil mencet idung nahan aroma ketek penumpang lain.

cinemagraf nonton hooq di stasiun

Salah satu poin penting yang ada di HOOQ adalah, filmnya bisa di-download! Jadi sebelum pergi, ya download dulu biar hemat kuota. Bisa pake internet di rumah, atau nebeng WiFi tempat kerja, atau di rumah gebetan. Ini jelas akan menjadi poin plus di mata gebetan. Nanti tinggal bilang, ‘Nonton yuk?’ lalu kalau dibalas, ‘Tapi kan sekarang tanggal tua, aku nggak punya uang?’ tinggal kamu sambar, ‘YA NONTON DI HOOQ LAH! FILMNYA ANJAY! A EN JE A YE!’

Sambil nge-HOOQ, gebetan pun berhasil di-hook. Mantap!

biaya paket berlangganan hooq video streaming


Buat orangtua yang mau ngawasin anaknya, HOOQ emang belum dilengkapi dengan “mode anak”. Tapi bukan berarti si anak bebas nonton apa aja. Di dalamnya kamu bisa pilih kategori film Toddler, atau Little Kids, atau Big Kids. Film-filmnya udah disaring khusus untuk yang anak-anak.

review aplikasi hooq streaming video


Poin penting dari aplikasi ini buat gue adalah, HOOQ menjawab kegelisahan gue akan tontonan resmi. Sejujurnya, dari SMA gue suka nonton film bajakan. Seiring berjalannya waktu, gue mulai meninggalkan kebiasaan itu dan beralih ke download film atau menonton online dari website. Masalahnya, gue baru tahu kalau ternyata itu sama dengan pembajakan. Secara tidak langsung, ini dianggap ilegal alias tindak kejahatan. Sama kayak pake narkoba atau ninggalin tidur pas lagi seru-serunya chattingan. Jahat.

Lebih parahnya, setelah gue cari tahu lebih dalam, nonton film dengan cara seperti ini berarti melanggar Undang-Undang Hak Cipta pasal 72 ayat 1. Hukumannya? Pidana penjara minimal 1 bulan maksimal 7 tahun dan atau/ denda minimal 1 juta maksimal 5 MILYAR. Udah gilaaaa! Mana mau gue kena begituan. Ngebayangin gue diem doang sendirian di dalem penjara. Serem abis. Mending terpenjara cinta deh.


hukum mengunduh film bajakan


Gue jadi inget jaman di mana gue demen banget nonton film bajakan. Mungkin sewaktu nonton gue masih hepi-hepi aja. Tapi begitu ketemu temen dan ditanya, ‘Nonton di mana?’ gue langsung kelabakan. Mau jawab jujur bajakan, tapi kok nggak enak. Mau bilang di bioskop, tapi males ditanya yang lain-lain. Sama kayak gue dan hubungan gue di masa lalu, gue semacam punya perasaan bersalah ketika harus diam dan nggak cerita yang sebenarnya. Takut aja begitu ngaku, temen gue bales dengan, ‘Nonton di bajakan? Oh… TANGKAP DIA!’ lalu temen-temen polisinya loncat dari semak-semak, ngeluarin borgol, terus masukin gue ke penjara. Horor.

Untungnya sekarang hal itu tidak akan terjadi. Gue malah bisa nonton di mana aja dan kapan aja.
Dengan HOOQ, gue tidak perlu merasa bersalah lagi.  
Suka post ini? Bagikan ke: