Thursday, January 19, 2017

Tentang Cerpen Percakapan Terakhir Ketika Hujan Di Restoran Cepat Saji



Baru sadar kalau ternyata tahun lalu sempet bikin cerpen. Waktu itu karena ada projekan iseng-iseng untuk bikin tulisan berlatar lift bareng temen-temen Wahai Para Shohabat. Cerpennya sendiri bisa dibaca di sini: J.

Karena ngerasa udah lama nggak nyoba bikin cerpen, akhirnya beberapa waktu lalu sempet tertarik untuk bikin lagi. Salah satu dorongan terbesar gue adalah film La La Land (buat yang belum nonton, harus cobain!). Dari film itu gue belajar banyak banget. Mulai dari cara bercerita (secara skenario) maupun visual yang ditawarkan. Caranya Chazzele memainkan cahaya, mengatur tempo lagu sebagai pengubah mood, dan pergerakan kamera. Kombinasi ketiga ini bikin gue eyegasme. Rasanya mata gue pengin mojrot keluar. Ini jadi salah satu film tersinting yang pernah gue tonton. Sekaligus jadi film pertama yang gue tonton dua kali di bioskop! Muahaha.

Salah dua inspirasinya adalah, tentu saja trilogy Before-nya Richard Linklater. Makanya, gue mau nyoba bikin cerpen yang ngobrol doang. Selain ikut-ikutan sama film itu, alasan lainnya tentu saja karena… males. *digampar rame-rame*

Sebenernya sih di postingan ini mau ngasih tahu itu doang. Hahaha. Tapi kayaknya agak gimana gitu kalo nggak ada pembukaan. Selain itu, gue juga mau minta tolong temen-temen yang mau baca untuk ngetwit dulu sebelum baca. Jadi biar nggak kaget kalo tiba-tiba disuruh nyambungin ke Twitter. Soalnya, emang diminta untuk ngetwit dulu. Hehehe.

Hence, this is my short story called “Percakapan Terakhir Ketika Hujan di Restoran Cepat Saji”: http://bit.ly/2iF5Qcp

Kalo ada yang punya akun Wattpad, click here: http://bit.ly/2k6Mi0O

Hope you enjoy it and see you on the next post! \(w)/



Suka post ini? Bagikan ke:

Thursday, January 12, 2017

Drama Virus Laptop... Atau Malware?


Semua bermula dari siang tadi, saat Wonder Share Video Converter gue eror. Tiba-tiba aja ada salah satu plugin yang ilang. Kalo bingung, bayangin aja lagi buka Microsoft word, tapi tombol ‘INSERT’-nya gak ada. Karena lagi butuh sesuatu, akhirnya gue uninstall (dari awal udah sotoy) dan milih buat cari versi yang lebih update. Gue pun selayaknya anak muda pada umumnya dengan santainya ngetik ‘Free download wondershare video converter + FULL CRACK’ (Dari awal udah mengajarkan kesesatan. Sungguh pembuka postingan yang buruk pemirsa).

Lalu muncul:

Wonder Share Video Converter 9.0
Wonder Share Video Converter 8.0
Wonder_Woman_Hot_SMA_3_Kediri.3GP

Tanpa pikir panjang, gue pun mengarahkan kursor dan meng-klik web yang ketiga pertama. Setelah baca-baca dikit (disertai ketegangan waktu milih tombol ‘download’ mana yang bener), gue berhasil juga donlot file itu. Dalam hati gue udah girang karena kerjaan gue bakal beres dengan cepet. Sampe pas lagi nginstall aplikasinya, tiba-tiba muncul huruf rusia di desktop. Microsoft Edge kebuka sendiri dan memunculkan situs “wizzcaster.com”. Situs di Opera dan Chrome juga berubah jadi rambler.ru (“ru” maksudnya domain Rusia, sama kayak kita .id.) Nggak lama banyak aplikasi baru yang tiba-tiba ke-install sendiri dan langsung kebuka. INI FIX LAPTOP GUE KENA VIRUS RUSIA!

Mana kerjaan belum sempet di-save. Badan pun lemes seketika.

Mumpung orang rusia bahasanya beda, di sini gue mau bilang: Rusia sempak lo!

Untungnya, Alam, temen deket gue semasa kuliah ngerti soal beginian. Gue langsung telepon dia..

Gue: ALAM HELP ME LAPTOP GUE KENA VIRUS RUSIA!!!
Alam: Virus apa malware, Di?

*googling 2 jam*

Gue: ALAM LAPTOP GUE DIBANGSATIN RUSIA!!

Alam selayaknya dokter segera menenangkan gue. Tentu dengan bilang, ‘Santai, Di. Santai’ dan bukannya: ‘Mohon bersabar… ini ujian… mohon bersabar…’

Alam: Oke, Di. Sekarang lo ikutin kata-kata gue!
Gue: (gugup) Oke!
Alam: Matiin koneksi internet!

*gue matiin sambungan WiFI*

Alam: Matiin teleponnya!

*matiin telepon*

Gue: (menyadari sesuatu) ALAM INI KALO DIMATIIN KITA GIMANA NGOBROLNYA?!!

Setelah menelepon kembali, ternyata Alam menyuruh gue untuk memotret layar laptop dan ngirim ke LINE. Alam kemudian mendiagnosis kalau ada beberapa file yang mencurigakan (yang kalo gue baca emang mencurigakan banget sih):





MAS RIZAL INI SIAPEEEEE YA ALLAH?!

Dia kemudian nyuruh gue uninstall aplikasi-aplikasi keparat itu. Anehnya, tidak semua aplikasi bisa di-uninstall. Ini mungkin kayak udah diputusin, tapi dianya gak terima. Jadi masih mau bareng-bareng terus. Sampai di satu percakapan, Alam bilang kalo untuk ngilangin aplikasi sisa itu harus dilakukan cara 'redirect manual'.

Setelah dijelasin, ternyata itu adalah cara ‘maksa uninstall’. Jelas, dari kalimatnya, gue yakin prosedur ‘pemaksaan uninstall’ ini bakal jauh lebih ribet, pusing, dan panjang. Kalau proses uninstall biasa ibarat kita bilang putus, mungkin langkah ini kayak kita datengin rumahnya, lalu bilang, ‘Hei jalang! Enyah kau dari hidupku!’

Gue gak yakin bakal sanggup ngegituin orang (atau dalam kasus ini virus, atau malware (?)). Malah menurut gue, besar kemungkinan kalo kita gituin, si orang atau virus atau malware (?) ini akan balas dendam di masa depan. Bisa jadi gue akan dikirimkan virus (atau malware?) yang lebih sadis. Atau dikirimin foto mesra dia sama pacar barunya. Bentar, ini kok analoginya jadi ke mana-mana ya..

Jadi, setelah mengetahui gue yang orangnya nggak tegaan (dan gak punya cukup kepintaran untuk menangkap maksud Alam), dia akhirnya memilih jalan lain. Dia menyuruh gue untuk menginstall dua anti-malware. Ya, di ujung ini gue baru tahu kalo ternyata yang ngerusak laptop gue bukan virus, tapi malware.

LAGIAN APA PENTINGNYA VIRUS SAMA MALWARE INI YA ALLAH?!

Sampai malam ini, laptop gue udah lumayan bener. Udah nggak ada aplikasi yang tiba-tiba nongol. Microsoft Edge udah gak ngeluarin wizzcaster lagi. Masalahnya tinggal Opera gue yang masih buka rambler.ru tiap nyari apapun di google. 

Setelah mengalami drama virus laptop... atau malware (?) ini gue kok ngerasa jadi nggak begitu suka sama genre drama ya.
Suka post ini? Bagikan ke:

Sunday, January 8, 2017

Dear Teman-Teman Perokok Sebangsa dan Setanah Air...


Dear teman-teman perokok sebangsa dan setanah air…

Saya tidak pernah punya masalah pribadi dengan Anda tapi tahukah Anda bahwa di dunia ini ada dua golongan manusia? Yang pertama adalah mereka yang ketika ada temennya ngerokok di deketnya, langsung ngamuk-ngamuk teriak, ‘JAUH-JAUH DONG NGEROKOKNYA!’ sambil nampol mukanya pake sapu ijuk (Oke, gak selebay itu juga). Sementara yang kedua adalah golongan orang yang ketika ada temennya ngerokok di deketnya, dia cuman diem aja. Santai, tenang, seakan tidak ada masalah. Padahal lagi nahan napas. Tidak jarang ngehembus napasnya dilama-lamain ampe mukanya biru. Terlebih kalo dia abis ketahuan nyopet dan digebukin orang sekitar.

Orang kedua itu adalah saya.

Dear teman-teman perokok sebangsa dan setanah air…

Kita semua sudah tahu bahwa dampak dari perokok pasif lebih parah dibandingkan dengan perokok aktif. Tapi kenapa ada oknum perokok yang justru menggunakan hal itu sebagai lelucon ‘Daripada lo di deket gue jadi perokok pasif, mending jadi perokok aktif aja kayak gue. HAHAHA!’

Ketahuilah kawan, lelucon itu sama sekali tidak lucu. Karena eh karena… YA LO YANG NGEROKOK KENAPA GUE YANG RIBET ANJIR! Ehem, maaf capslock saya jebol. Maka dengan tulisan ini, saya ingin membuat penawaran. Jika Anda boleh mengeluarkan asap berbau di dekat saya, izinkan saya juga boleh mengarahkan pantat saya di depan wajah Anda dan mengentuti Anda sebanyak Anda mengeluarkan asap. Mungkin kentut saya tidak berasap seperti rokok anda, tapi tidak apa-apa. Keduanya sama-sama beracun kok. Dan mungkin, seperti yang anda lakukan saat merokok, sesekali saya akan dengan bangga bilang, "Wih, liat nih! Liat! Kentut gue bentuknya ‘O’!"

Dear teman-teman perokok sebangsa dan setanah air…

Saya yakin tidak semua dari Anda berperilaku buruk. Bahkan beberapa di antara Anda ada yang memperlakukan rokok seperti makanan pencuci mulut: dikerjakan sehabis makan. Wow, ini sungguh brilian. JIka ahli gizi menyebutkan 4 sehat 5 sempurna dengan makanan pokok, lauk, sayur, dan buah. Anda menggantinya menjadi makanan pokok, lauk, sayur… dan rokok. Ini benar-benar penemuan yang inovatif.

Dear teman-teman perokok sebangsa dan setanah air…

Saya tidak mengerti proses ilmiah yang terjadi tapi entah kenapa ada di antara kalian yang abis makan mulutnya suka ngerasa asem… PADAHAL YANG LO MAKAN AYAM BAKAR KAMPRET.  Dan kenapa rasa asam itu dapat dihilangkan menggunakan rokok. ‘Bentar, bentar… ini mulut gue asem… Ngerokok dulu ya?’ ujar salah satu dari anda, yang kemudian mengeluarkan sebatang rokok, dan menyingkirkan ketek penumpang busway dari depan hidung anda.

Dear teman-teman perokok yang saya cintai…

Kalau lah memang merokok dapat digunakan sebagai penawar asam, ini jelas harus kita kembangkan! Kita bisa menerapkan ilmu ini ke dalam industri medis. Seperti misalnya, mengobati orang yang kena asam urat. Tolong jangan remehkan argumen saya. Bukan tidak mungkin metode ini benar-benar terjadi. Di masa depan, ketika ada orang yang kakinya membengkak, terasa nyeri dan panas di persendian, dia tinggal jalan ke pojokan, jongkok… lalu ngisep Sam Soe.

Dear teman-teman perokok sebangsa dan setanah air…

Setelah saya cari tahu, ternyata ada beberapa hal mendasar yang membuat rokok menjadi benda yang membuat si pemakai terlihat bertambah keren. Pertama, ukuran. Rokok yang ukurannya kecil ngebuat dia bisa dipegang dengan dua jari. Bayangkan jika ukuran rokok segede pohon kelapa. Kalo ukurannya segini, sepertinya rokok bukannya diisap malah dipanjat. Hal kedua yang membuat perokok tampak keren adalah: asap. Betul sekali, semua hal yang menyemburkan asap selalu terlihat keren. Perokok, naga, orang bakar sampah. Pokoknya gitu deh. Nah, coba bayangkan jika yang keluar dari mulut perokok bukanlah asap, melainkan kata-kata motivasi. Pasti kesannya jadi sotoy. Nanti si orang ini ngebakar rokok, diisap, lalu bilang, ‘Yang diperlukan dari move on bukanlah melupakan tapi merelakan.’

Minta digampar kan orang-orang kayak gini?

Dear teman-teman perokok sebangsa dan setanah air…

Hal ketiga yang bikin perokok terlihat keren adalah: ekspresi. Lihatlah foto orang-orang yang sedang mengembuskan asap rokok, atau abang-abang di pinggir jalan yang duduk santai sambil menjepit sebatang rokok. Orang-orang ini kelihatan cool saat memegang rokok karena ekspresinya yang datar dan kosong. Seolah sedang berpikir, ‘Ini kenapa ya mulut gue asem abis makan ayam bakar?’ Entahlah, saya pun gatau jawabannya.

Dear teman-teman perokok yang berbahagia..

Sejujurnya saya iri dengan anda. Anda punya satuan waktu sendiri yang tidak dimiliki golongan lain. Biasanya dinamakan dengan ‘sebatang dulu’ atau istilah gaulnya: ‘sebat duls.’ Kenapa saya iri? O jelas karena sewaktu anda menggunakan waktu anda untuk jongkok dan ngerokok… saya gatau kudu ngapain. Jongkok di samping anda jelaslah bukan ide yang baik. Apalagi kalau saya mengeluarkan erangan, ‘Enggh… Engghh…’ seperti orang ngeden. (Lihat kembali bagian: LO YANG NGEROKOK KENAPA GUE YANG RIBET ANJIR!). Hal lain jelas karena saya juga ingin punya satuan waktu sendiri. Tapi ungkapan, ‘Bentar, gue napas tiga tarikan lagi ya’  tampaknya malah terdengar seperti orang kena serangan asma.

Dear teman-teman perokok sebangsa dan setanah air…

Kenapa ada di antara oknum anda yang suka ngerokok di motor? Apakah tidak cukup merokok di tempat nongkrong? Atau di tempat nongkrong anda bukannya ngerokok malah manasin motor? Jika benar begitu, tidak heran jika anda sampai tidak tahu bahwa di dunia ini ada sesuatu yang dinamakan angin. Ya, betul sekali. Udara bergerak itulah yang membuat abu rokok yang anda sentil-sentil di motor BISA KENA MATA ORANG DI BELAKANG, CUK!. Jadi saran saya, selalu ingatlah untuk merokok di tempat nongkrong. Atau jika masih ngotot ingin merokok di motor, gunakanlah motor yang tidak membahayakan orang di belakang. Seperti misalnya, merokoklah di motor Timezone.

Oh, jika Anda masih maksa untuk ngerokok di motor sambil jalan,
cobalah untuk merokok sambil mengenakan helm full face.
Suka post ini? Bagikan ke:

Tuesday, January 3, 2017

Yogyakarta Story - Nyasar di Taman Sari


--
Gue masih mengingat tulisan Joko Pinurbo yang bilang kalo Jogja terbuat dari rindu, angkringan, dan pulang. Waktu menunjukkan pukul 8 pagi saat bus masuk ke terminal. Di tengah-tengah ngayal, dari jendela terlihat dua anak kecil memegang kertas sambil lompat-lompat kecil. Wah ini nih yang lagi heboh. Tulisannya: ‘HARAP TENANG ADA UJIAN!’ Kagaklah. Om Telolet Om.

Begitu turun dari bus, gue langsung jalan keluar terminal. Berdiri di trotar, nengok kanan-kiri. Gue emang gak ada rencana sama sekali di Jogja ini mau ke mana. Yang ada di pikiran gue saat berangkat cuman mau pergi aja ke suatu tempat buat refreshing. Karena ada temen yang kerja di Jogja, akhirnya gue mutusin buat ke sini deh. Di situ gue mulai mikir, ‘Jadi gini perasaan orang-orang yang suka jalan-jalan tanpa mikir panjang?’

Adrenalin gue terpacu.
3 menit kemudian…

‘INI TERUS KE MANA?!’

Selama ini gue ngebayangin orang yang traveling ngedadak itu keren abis. Bakal ketemu hal-hal luar biasa, unik, seru. Nyasar sendirian, pergi ke tempat baru, ngobrol sama penduduk setempat, ngejinakin bom, ganti kelamin. Pokoknya kegiatan yang gak pernah gue bayangin sebelumnya. Tapi kenyataannya, di belakang gue cuman ada bocah telolet sama tukang ojek. Krik krik abis.

‘TERUS INI KE MANA YA ALLAH?!!’

*telentang di jalan raya*

Untungnya, zaman sekarang ini kita sangat diuntungkan dengan teknologi. Berbekal kuota internet dan ingatan akan iklan di tv, akhirnya gue ngeluarin hape, terus bilang, ‘Oke google! Tempat seru daerah sini!’ Google jawab, ‘DAERAH SINI MANA SEMPAK?!’

Singkat cerita, google bilang kalau ada satu tempat yang mirip-mirip kayak Malioboro, tapi versi lebih sepi dan banyak bule. Katanya di sana kita bisa ngelihat ibu-ibu bikin batik di depan rumah. Goks. Gue langsung mesen gojek buat ke sana. Namanya Prawirotaman.

‘Nah jalan ini Mas namanya Prawirotaman,’ jelas tukang Gojek sambil membelokkan motor ke jalan sebelah kanan.
‘Ooh ini toh Prawirotaman.’
‘Iya, Mas. Ini Prawirotaman.’

Di sini gue mulai kagum sama cara orang Jogja ngomong. Kesannya lembut dan penuh kesopanan. Kalo di Jakarta, yang ada gue udah disautin, ‘INI PRAWIROTAMAN, BROTHER!’

‘Ya udah. Saya depan sini aja, Bang.’ Gue menunjuk asal.




Jalan Prawirotaman ini kayak jalan yang ada di dalam perumahan biasa. Di dalamnya berisi deretan penginapan dan kafe buat nongkrong gaul. Beberapa kali juga terlihat tempat untuk minum bir. Pantesan kata google di sini banyak bule. Karena masih pagi, tempat ngopi yang ada juga masih pada tutup. Gue pun menyusuri jalan ini dan berhenti di salah satu tempat makan gudeg (emang gak matching dari tempat bir ke warung gudeg).

Sampai saat ini gue masih berpikir, ‘Apa bener kayak gini yang biasa orang-orang lakuin pas traveling ngasal?’ Gue menatap piring bekas gudeg yang baru saja gue habiskan. Ngetuk-ngetuk pulpen di meja, sok-sok mikir mau nulis. Padahal, ini cuman alibi biar yang punya warung gak curiga dan mengira gue kesurupan gara-gara bengong doang.

Pertanyaan selanjutnya pun muncul: ‘Gue mau ke mana?’ Pertanyaan ini terus berputar-putar di kepala gue. Satu-satunya tempat yang gue tahu di sini ya Malioboro dan candi Prambanan. Tapi kayaknya ga seru banget. Gue mau ke tempat yang lebih… ajaib.

Gue. Mau. Ke mana.

Gue mau ke mana… Gue mau ke mana… Gue mau ke mana… Saking putus asanya (atau begonya?) gue malah baca-baca blog traveling. Di salah satu blog diitulis kalau kita ingin jalan-jalan tanpa daftar pergi yang jelas, coba aja tanya ke penduduk lokal. Aha! Bener juga. Walaupun nanya ‘Bu, gue mau ke mana?’ ke ibu-ibu tukang gudeg bisa-bisa malah dijawab, ‘Narkoba kamu ya!’

Singkat cerita, gue jalan kaki ke Taman Sari.

Taman Sari sejauh yang gue tahu adalah kompleks tempat raja jaman dulu ngegaul (ingat ya, raja jaman dulu. Jadi ga ada Ian Kasela nyanyi, ‘Cinderella pun tiba! Dengan kereta kencana!’). Taman Sari terdiri dari tiga kolam untuk berendam dan beberapa lorong bawah tanah untuk… ke bawah tanah.

Karena lagi musim liburan, tempat ini rame banget. Sewaktu ngantri tiket, terlihat berbagai jenis manusia. Ada tampang-tampang orang jogja asli, ada yang bule, ada orang cina. Gembel sendirian kayak gue melengkapi keragaman ekosistem manusia yang ada.

‘Sendiri, Mas?’ tanya mbak-mbak di loket karcis.

Gue mengangguk.

Si mbak menaikkan lima jarinya sambil senyum lebar.
Gue bales ngedadahin kecil mbaknya.

‘Lima ribu, Mas. Hehehehe.’
‘Oh.’ Gue ngasih gocengan sambil nyengir maksa. ‘Hehehehehe.’ Lalu mengumpat pelan seiring dengan gue yang menjauhi kasir, ‘Anjing malu gue anjing malu gue anjing malu gue.’

Belakangan gue baru tahu kalau ada orang yang bawa kamera akan dikenakan biaya masuk lebih mahal. Berhubung dalam jalan-jalan ngasal kali ini gue cuman make kamera hape, jadi cuman lima ribu aja.

Memasuki area kolam, banyak pengunjung yang duduk di tangga. Pas ngelihat orang-orang ini dari kejauhan, adrenalin gue kembali meningkat. ‘Pasti ada sesuatu nih!’

Biar menyatu dengan populasi yang ada, gue ikutan duduk.

Orang-orang ini kebanyakan datang dengan rombongan besar. Di beberapa lokasi teriihat ada petugas sedang memberikan penjelasan soal si Taman Sari ini. Mikir ini spot yang keren, gue langsung mengeluarkan tripod, memasang hape, dan meletakkannya di bagian kanan tangga. Gue beranggapan kalau bikin timelapse di sini akan jadi video yang keren. Gue membayangkan akan mendapat video orang-orang turun tangga dan pergi berpencaran ke kolam-kolam yang ada di depan.

Beberapa menit mati gaya nungguin si hape ngerekam, gue baru inget kalau aturan dasar dalam membuat timelapse adalah… objeknya harus bergerak. Sementara orang-orang di depan gue ini kebanyakan duduk-duduk buat… ngadem.

YA GIMANA MO JADI TIMELAPSE KEREN.

Ekspektasi: Video orang silih berganti mencar ke kolam-kolam.
Realita: Video orang duduk ngadem pacaran.

Sebelum timbul rasa dengki, gue memutuskan untuk pergi menjelajah kolam-kolam.


A video posted by Kresnoadi DH (@keribakeribo) on

Kolam-kolam di sini sama kayak kolam renang di kebanyakan tempat jaman sekarang. Bedanya, ornamen yang ada terkesan ‘jadul’. Pancurannya dari naga, tempatnya juga ada beberapa blok. Dan setiap mau ‘pindah’ ke kolam yang lain, kita harus melewati sebuah bangunan dengan dua lantai. Sampai postingan ini selesai ditulis, gue masih gatau apa beda dari ketiga kolam itu. Satu hal yang gue tahu adalah, kolam-kolam ini sekarang udah gak dipakai untuk berendam selir kerajaan dan cuman boleh buat foto. Fotonya pun hanya boleh di sekitar kolam. Gak boleh gaya salto nyemplung ke kolam, atau gaya ekstrem seperti masukin kepala ke mulut patung naga sambil pura-pura kegigit.

Puas berkeliling, gue beranjak untuk pulang.

Sampai di tempat keluar, seorang tour guide bilang, ‘Karcisnya jangan sampe ilang lho. Bisa dipake untuk ke tempat bawah tanah.’




Setelah ngobrol sebentar, gue baru tahu kalau Taman Sari ternyata bukan sekedar kolam-kolam ini, melainkan kompleks kerajaannya. Jadi, banyak bangunan dan ruangan di sekitar sini yang bisa dikunjungi. Rumah-rumah penduduk di sekitar juga dijadiin tempat seni kayak jualan batik dan kaus-kaus lukis khas tempat ini.

Salah satu pengamen di sudut lorong bawah tanah Taman Sari (ps: GUE YANG FOTO!)

Di tempat gue berdiri, banyak cabang yang bikin gue pusing.

Di salah satu cabang terdapat rombongan anak sekolah. Di sini gue langsung kepikiran, ‘Aha! Ikutin rombongan ini aja!’ Selain ada tour guide-nya, gue juga gak bakalan nyasar. Mereka kemudian berbelok ke lorong sebelah kanan. Tapi begitu mau ngikutin mereka, seperti ada dorongan batin yang membalas, ‘Ya elah, ngapain sih ngikutin mereka? Jalan aja udah sendiri.’

Gue kemudian mikir lebih lanjut. Bener juga ya. Bukannya esensi dari jalan-jalan ngedadak adalah ‘nyasarin diri’? Membebaskan diri jalan secara asal ke mana aja? 

Berbekal ilmu sotoy, gue akhirnya belok ke kiri.

Terus terang, tempatnya rada bikin pusing. Jalannya mirip kayak labirin. Ditambah ilmu jelajah gue yang tidak seberapa… 7 menit kemudian gue tiba-tiba balik ke tempat semula.

‘Lah kok tukang es kelapa ini lagi?’ Gue garuk-garuk kepala sendiri.

Gue sotoy belok kanan.
4 menit kemudian…

‘KENAPA KE SINI LAGI KANCUT?!’

Entah apa yang terjadi tahu-tahu gue udah di tempat semula. Gue mikir ulang, perasaan tadi banyak tempat yang belum gue jelajahi. Sempat mengira abang tukang es kelapa menggunakan ilmu hitam buat jampi-jampi gue, tapi pikiran hina itu segera gue usir dengan cara… jajan es kelapa.

Gue masuk ke jalan sebelah kiri lagi.

Kali ini lebih sotoy, gue coba masuk-masuk ke jalan yang lebih kecil. Setelah beberapa belokan, ternyata gue benaran menemukan bangunan kosong. Beberapa tempat rada horor sih. Soalnya, kesannya kayak perumahan baru yang rumah-rumahnya belum selesai dibangun, kemudian udah ditinggal sama tukangnya (Apa ini sebenernya gue nyasar ke kompleks sebelah?). Di salah satu ruangan, gue ketemu dua cewek. Dari gelagatnya dia kayak udah hapal daerah sini. Gue baru mau ngajak ngobrol dan nanya jalan keluar sampai cewek yang lebih gendut menunjuk pojok ruangan dan bilang, ‘Ah! Di sini nih pasti tempat selir-selir itu make kemben abis berenang!’ Si cewek kemudian meragain kayak lagi make kemben.

Gue gajadi nanya,
dan berpikir untuk gabung ke rombongan anak sekolah.

Bersambung…
Suka post ini? Bagikan ke: