Sunday, December 17, 2017

mengingatnya lagi.

Gue percaya untuk menuliskan sesuatu, yang, berasal dari dalam hati, seseorang butuh kondisi khusus. Lagu-lagu kenangan yang membuat patah hati? Barang-barang lama yang tidak sengaja ditemukan kembali? Deadline pekerjaan yang harus diselesaikan? Lampu yang dibuat lebih remang? Paling tidak, sesuatu yang membantunya menjadi orang yang jujur pada dirinya sendiri.

Sudah tiga puluh menit sejak gue membuka ms word di depan.
Dan sampai sekarang, lembarnya masih kosong.

Suara burung bercuit di depan terdengar masuk ke kamar. Sesekali diselingi suara sapu yang bergesekan dengan aspal. Aneh. Gue yakin sebentar lagi hujan, tapi masih ada aja yang nyapu sore-sore. Gue menutup laptop, merebahkan diri di kasur sebelah, lalu membuka blog.

Membaca postingan-postingan lama terasa amat lucu buat gue. Bagaimana ketika itu, gue bisa dengan mudah menuliskan apa saja yang gue rasakan. Apa yang gue alami. Kejadian baik. Buruk. Memalukan. Atau bahkan pikiran-pikiran random yang entah datang dari mana.

Belakangan ini rasanya sulit buat gue menuliskan hal-hal seperti itu.

Entah jus kreatif gue yang semakin kering, atau memang blogging sudah mulai terasa kurang asik buat gue.

Dua hari lalu, gue tidak sengaja membuka salah satu blog favorit, dan menemukan tulisan ini. Tulisan yang membuat gue terhenyak cukup lama.

Jenny Lawson, si penulis, akhirnya merasakan salju di daerah Texas.

Dan gue merasakan harapan dari tulisan itu. Bagaimana caranya mendeskripsikan hujan dari pohon membuat gue termenung. Lalu, pelan-pelan, ada rasa hangat yang mengalir di dada. Semacam perasaan sendu yang bercampur dengan semangat pagi hari.

Kalau dipikir-pikir, aneh rasanya bagaimana hanya dengan membaca sebuah tulisan, tubuh kita bisa merespons dengan berbagai macam perasaan. Berbeda dengan film di mana kita dapat melihat karakter menangis terharu, lengkap dengan iringan musik bernada rendah yang membuat kita jadi sedih.

Bunyi jatuhnya air menuju genteng samar-samar terdengar. Satu. Dua. Tiga. Lalu gue membayangkan titik-titik air ini jatuh di genangan depan rumah. Pantulan pohon di genangan menjadi tidak jelas karena hujan mulai turun. Lalu suaranya menjadi tidak beraturan. Rintik-rintik air berubah menjadi hujan. Tirai di samping jendela terdorong. Angin dingin masuk ke dalam kamar. Gue meremas guling. Hari hujan datang lagi.

‘’Kenapa gue menulis?’ Gue bertanya sendiri dalam hati.

Sampai saat ini, mungkin ini adalah salah satu pertanyaan yang sulit gue jawab. Beberapa teman bertanya ‘Lo kenapa suka nulis?’ yang kemudian hanya gue jawab dengan ‘Ya suka aja.’ Sebagian lagi gue jawab dengan ‘Yah, namanya juga idup.’

Terus terang, kayaknya gue belum begitu tahu kenapa gue suka menulis. Kenapa gue mau duduk, diam berlama-lama menekan tuts ini, bahkan tanpa tahu siapa yang akan membaca tulisannya. Bahkan tanpa tahu apa ada orang yang benaran sudi mau baca tulisan beginian.

Anehnya, terkadang gue merasa sedih ketika punya hasrat menulis, tapi sama sekali gak tahu mau nulis apa. Rasanya seperti terlambat datang ke pertunjukan musik. Ada perasaan sesak dan kesal yang bercampur jadi satu. Ada semacam perasaan menyalahkan diri sendiri.

Gue kembali membuka tulisan lama di blog.

Mengingat beberapa momen yang pernah gue lewati beberapa tahun belakangan.
Gue tertawa di satu postingan.
Lalu terdiam lama di postingan lain.

Di momen ini, suara lain jadi terdengar lebih keras dari sebelumnya. Bunyi hujan di luar. Suara putaran kipas di sebelah. Suara petikan gitar di Spotify.

Atau mungkin ini?
Jawaban dari pertanyaan ‘Kenapa gue suka menulis’ sebenarnya adalah sesimpel,
supaya gue bisa mengingatnya lagi.
Suka post ini? Bagikan ke:

13 comments:

  1. Bete ngga sih semisal kita mengingat-ngingat lagi kenapa kita nulis. Jujur, gue belajar nulis biar bisa nerbitin buku, tapi semakin kesini, semakin sulit tujuan itu dan nggak bisa gue kejar. Berkali-kali, bahkan sering pertanyaan "kenapa gue nulis" hanya gue jawab dengan... namanya juga idup.

    ingin menangis sedu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tanpa harus nerbitin buku, bisa terus nulis apa pun itu keresahannya di blog, buat saya udah cukup, sih. Apalagi kita punya pilihan untuk nerbitin indie. Haha. :D

      Delete
  2. Kondisi yang tepat untuk menulis itu, gak lagi kebelet pup.

    Kenapa gue nulis? Gak guna lah cuma ngeluarin unek2. But gue kayak tersadar setelah ada beberapa komentar nyasar, 'wah kak..aku tuh...blabla....makasih tulisannya kak.....oh jadi gitu ya....'.

    Gak tahu gimana dan kapan tulisan bisa menghegemoni seseorang di antara derasnya dunia maya ini.

    ReplyDelete
  3. Sama, sih, suka heran sama diri sendiri buat jawab pertanyaan soal nulis itu. Saya akui, blog emang udah terasa aneh buat curhat dan kurang asyik lagi entah apa itu alasannya. Atau saya yang terlalu banyak mikir sebelum-sebelumnya. Entahlah. Syukurnya, sekarang udah cuek banget soal nulis di blog. Apa aja saya tulis selama saya nulisnya seneng, atau malah bahagia.

    Baca tulisan lama terus lihat perubahan gaya nulis dari tahun ke tahun, emang gitu. Tau-tau ketawa sendiri, tau-tau termenung. Hehe. Nulis terus aja, Di. Saya termasuk salah satu orang yang ngikutin kamu sejak lama. Jadi kamu tetep punya pembaca. Iya, saya tetep baca meskipun kadang nggak komentar. :)

    ReplyDelete
  4. Kenapa saya nulis (di blog)? Niat awal sih karena pengen share cerita dan dapet income dari nulis. Hehehe.

    Dulu mikirnya juga nulis itu gampang, nyatanya sama kaya yang loe rasain, Bang. Butuh waktu juga. Malah kadang saya bisa lebih dari 30 menit buat bikin paragraf pembuka di blog. Tulis-hapus-tulis-hapus mulu. :D

    ReplyDelete
  5. Nulis tadinya sesimpel pengen orang tau apa yg gua alami dan dgn gaya komedi berharap mereka terhibur. Tapi lama kelamaan gak begitu. Ada motivasi lain, misalnya dapet uang utk menyambung hidup, jadi portfolio buat lamar kerja, mengeluarkan toxic dalam kepala, dsb. Jadi kalo gua dapet pertanyaan "kenapa suka nulis?" Mungkin jawabannya adalah, butuh.

    ReplyDelete
  6. Ini merangkum semua keluhan gue tentang menulis dan blog dalam satu postingan. Duh kangen curhat lagi di blog *viva blogger curhat

    ReplyDelete
  7. Bener banget, Di. Butuh kondisi khusus dan mood yang mendukung. Kalau aku malah ketergantungan banget sih sama dua hal itu. Sama aja kalau kayak mau curhat sama teman, juga butuh dua hal di atas biar bisa benar-benar jujur dari hati.

    Kalau ditanya alasanku kenapa suka nulis, karena nulis membebaskanku. Aku nggak ngerasa dikekang, nggak diatur, walaupun makin ke sini nulis di blog udah nggak sebebas dulu sih. Huhuhuhu.

    ReplyDelete
  8. Baru baca sampai tengah dan baru ngeh, "itu di link sama judul tulisan, kok beda ya?"

    Baca tulisan lama emang kadang ngangenin sih Di. Sama. Momen-momen yang dulu kita rasain terus kita tulis di blog, jadi kerasa lagi.

    ReplyDelete
  9. Kenapa saya menulis? Bingung juga sih jawabnya bisa sampe sekarang aktif ngeblog. Ya gak aktif2 bgt sih, tapi tiap bulan ada kok. Hehehe

    ReplyDelete
  10. Menulis, membuat saya mengingat apa yang sudah terjadi, membantu otak melakukan tugasnya, karena kita sadar keterbatasan otak, sudah layaknya kita membantunya mengingat

    ReplyDelete
  11. kenapa aku nulis?

    kenapa ya?

    haha, aku juga nga tau.

    kalau aku inget-inget, setiap kali aku nulis itu karena aku kesepian, nga punya temen ngobrol, tapi pengen cerita.
    jadi kalau aku jarang nulis, berarti aku lagi punya temen buat diajakin cerita.

    ReplyDelete
  12. Tulisan yang ini kalau dibaca saat hujan sore-sore sambil mendengarkan lagu ERK dan makan Indomie, ternyata efeknya luar biasa...

    ...bikin mikir. Kenapa saya menulis? Karena saya punya manusia. Butuh wadah untuk menyalurkan ide gila. Sesimpel itu.

    ReplyDelete

Kalo kamu suka sama tulisannya, jangan lupa untuk bantu share dengan tekan tombol sosmed di atas yaa. \:D/

Untuk yang mau main dan ngobrol-ngobrol, silakan add LINE di: @crg7754y (pakai @). Salam kenal yosh! \(w)/