Wednesday, July 19, 2017

Bagaimana Cara Membantu Pekerjaan Konten Kreator Dengan ASUS ZenBook UX410UQ

Pop quiz. Di antara konten kreator blog berikut, tipe mana yang kamu banget:

a) Blogger yang menekuni teknik SEO untuk meningkatkan pengunjung blog
b) Yang mengandalkan kekuatan cerita (storytelling)
c) Yang baru mulai coba-coba ngeblog
d) Yang mengisi blognya dengan ikan koi dan bisa dikasih makan pengunjung

Kalo kamu memilih b, berarti kita sama. Dan berhubung kita punya kesamaan, let’s share something. Kalau kamu termasuk yang memilih c, tidak ada salahnya membaca tulisan ini sampai habis. Di sini gue mau berbagi apa yang gue tahu soal pembuatan konten sekaligus mau cerita banyak soal blogger-bloggeran ini. Siapa tahu berguna (atau malah menyesatkan?). Hehehe.

Bagian satu: kenapa cerita?

Jawaban versi keren: Dalam sebuah wawancara, A.S Laksana pernah bilang kalau pada dasarnya, setiap orang suka cerita. Cerita tidak akan mengancam pikiran. Beda kalau kita membagikan teori atau ideologi. Orang-orang cenderung akan waspada. Ini bener sih. Kemaren gue bilang ke Bokap, “Pak, abis makan piringnya cuci dong!’ Eh gue dilempar sabun. Waspada banget dia.

Jawaban versi gue: Soalnya gak ngerti SEO. Muahahahaha. *digampar*

Buat gue pribadi, mendengarkan cerita selalu menyenangkan. Cerita yang menarik selalu bikin gue penasaran. Sebagai seorang konten kreator yang kekuatannya lewat cerita seperti kita, hal ini jadi terbalik. Kita lah yang harus menyuguhkan cerita menarik untuk pembaca. Masalahnya, cerita yang menarik itu kayak apa? Apakah harus berbobot dengan tema berat? Apakah harus selalu yang informatif dan detail? Apakah ngambil rapot ke sekolah bukan cerita yang menarik?

Untuk menjawab ini, kita harus tahu formula dasar sebuah cerita. Cerita (yang baik), adalah perjalanan seorang karakter untuk mencapai tujuan, setelah melewati rintangan. Rumus sederhananya begini:

Cerita = Karakter + tujuan + halangan

Sekarang kembali ke pertanyaan awal: Apakah ini berarti cerita yang baik tidak harus “berat”? Apakah ngambil rapot bisa menjadi cerita yang menarik untuk dibaca? Jawabannya: ya.

Selama memenuhi ketiga elemen tersebut (karakter, tujuan, dan halangan), cerita akan menjadi menarik untuk diikuti. Contoh: Cerita ambil rapot. Dalam kasus ini, kita sudah punya 2 unsur, karakter (kita) dan tujuan (rapot). Untuk membuat ceritanya menarik, kita harus masukan “halangan” ke dalamnya. Bisa menjadi cerita tentang “Karakter utama yang sebenarnya udah tahu kalo dapet nilai jelek, sehingga mencari cara supaya nunggu di luar kelas dan ngebiarin Nyokap nemuin wali kelas sendiri”, misalnya. Sebaliknya, cerita anak ambil rapot tanpa halangan apa-apa akan membuat tulisan kita menjadi lurus dan kurang sedap untuk diikuti.

Cerita yang menarik juga selalu terdiri dari 3 babak: awalan, tengah, akhir. Jika kamu seorang blogger personal yang kontennya kebanyakan storytelling kayak gue, mengetahui unsur dasar bercerita kayak gini cukup penting. Ini supaya pembaca kamu tidak cepat bosan dan segera menutup jendela blog kamu.

Bagian Dua: Tantangan Blogger Personal

bikin konten yang out of the box
ketika harus cari ide untuk konten yang out of the box

Supaya lebih cihuy, bagian dua ini gue jadikan dalam poin-poin sebagai berikut:

SATU. SULIT DITEMUKAN

Blogger personal pada dasarnya lebih sulit ditemukan ketimbang konten kreator lain. Gue melihat ada beberapa faktor yang punya pengaruh terhadap ini. Pertama, nama website. Nama website yang sulit diingat/susah dihapal akan membuat orang lupa untuk kembali mengunjungi blog kita. Contoh: 2XY+3Z-2.blogspot.com

Faktor lain yang cukup berpengaruh adalah platform. Berbeda dengan YouTube, platform blogger ada bermacam-macam. Mulai dari blogger, tumblr, wordpress, medium, dan lain sebagainya. Berbeda dengan YouTube di mana viewer dan creator akan membuka situs www.youtube.com terlebih dahulu, reader di dunia blog sangat jarang membuka platform blog (www.wordpress.com, misalnya) dan cenderung langsung menuju website favoritnya.

Hal lainnya, di YouTube, kita akan mendapat rekomendasi video-video apa yang sedang hits. Ini memudahkan kita untuk menelusuri video dan channel lain yang ada di sana. Sementara di blog tidak. Kalau kita tidak tahu nama blognya, satu satunya jalan adalah dengan menelusuri orang-orang yang komentar di tulisan orang lain. Di samping itu, semua platform blog akan bermuara pada satu lingkaran besar yang bernama: google. Sedangkan untuk berada di halaman pertama google, ada konten kreator yang memang fokusnya SEO.

DUA. STRESSFUL

Haqi Achmad, penulis skenario 15 film layar lebar, menulis di blognya kalau menjadi full time writer bikin dia jadi stres. Jadwal tidur tidak menentu. Jarang berkomunikasi dan efeknya ngebuat emosi nggak stabil. Oke, mungkin kita bukan full time writer dan mentok-mentok paling pantat berasa panas doang karena kelamaan duduk. Tapi tidak bisa dipungkiri, semakin lama seseorang ngeblog, akan ada masanya di mana dia mulai merasa kalau menulis blog tidak ada untungnya.

Ini biasanya dialami oleh blogger personal yang pada awalnya memulai blog karena hobi menulis, lalu, lama-kelamaan merasa stuck. Tulisannya terus meningkat, tapi kok pengunjung yang datang dia-dia lagi. Apalagi setelah sekian lama ngeblog dia tidak mendapatkan profit apa-apa baik finansial maupun jodoh. Di tengah perenungan hidup, dia pun berhenti ngeblog dan memilih untuk menikah saja. Buset, berasa kawin kayak gosok gigi apa ya.

TIGA. ORANG MULAI MALAS BACA TULISAN

Ada kecenderungan di mana orang lebih suka konten yang berbau visual. Terus terang, ada kalanya gue juga begini. Kayaknya lebih enak melihat langsung dari gambar/video dibandingkan membaca kata per kata. Selain ngelihatnya udah capek duluan, kecepatan membaca orang yang berbeda ngebuat si pembaca tidak bisa memprediksi “berapa lama waktu yang akan dia habiskan untuk ngebaca satu postingan.” Beda kayak nonton film atau konten video. Sebelum nonton kita udah tahu, ‘Oh 10 menit. Ya udah deh nonton dulu bentar.’ Eh beres nonton ngeklik yang lain. Nonton lagi. Klik lagi. Beres beres sampe di Cianjur (Lah emang nontonnya di mana?).

EMPAT. OPPORTUNITY COST

Adanya biaya yang harus dibayar orang sewaktu membaca konten di blog kita. Ini ngebuat calon pembaca berpikir dulu, apakah dalam satu waktu, dia memilih untuk membaca blog, atau melakukan hal lain. Kayak ngeliatin insta story Awkarin, misalnya.

Bagian Tiga: Hal yang Bisa Dilakukan

cari ide bikin konten
Cari ide

Selain mengatasi halangan di atas dengan membuat nama website yang catchy dan bikin ciri khas, ada juga beberapa hal yang cukup menjadi perhatian gue belakangan ini. Salah satu cara untuk menghadapi tantangan tadi adalah: buat konten blog yang seperti snack. Maksudnya begini, bayangkan kamu hampir terlambat bekerja. Lari-larian supaya nggak terlambat, belum sarapan, dan gak sempet kalo harus beli makanan berat yang harus duduk santai dulu. Di saat itu, yang kita butuhkan adalah snack yang mengenyangkan, tapi tetap bisa dimakan tanpa perlu abisin banyak waktu.

Nah, kita bisa coba buat konten yang kayak gitu.

Konten yang sederhana, tidak membuang banyak waktu, tapi tetap mengenyangkan. Bentuknya? Bisa macam-macam.

Hal lainnya adalah, inovasi. Kalau kita sebelumnya terbiasa membuat cerita dalam bentuk tulisan, coba ubah ke dalam visual. Ini bukan berarti kita harus jago gambar, terus postingan kita isinya pegunungan semua. Bisa aja tetap berbentuk teks, tapi dalam format gambar. Inovasi ini bukan untuk ikut-ikutan, tapi supaya orang lebih mudah untuk mengonsumsi konten yang kita buat.

Walaupun banyak yang bilang soal pentingnya the man behind the gun, tapi menurut gue paling tidak kita tetap harus punya gun minimum sesuai sasaran kita. Kalau kita mau nembak gajah, ya harus punya senapan gajah. Gak bisa pake pistol aer. Yang ada sama gajahnya dipipisin. Kalau mau buat konten video effect, misalnya. Ya komputer kita minimal harus ada Adobe After Effect (atau perangkat lain yang bisa bikin spesial effect). Makanya, perangkat yang kita pakai juga penting.

[Mulai selanjutnya postingan ini akan meng-highlight fitur yang ada di ASUS ZenBook UX410UQ dan kenapa notebook ini sangat membantu konten kreator]

asus zenbook ux410uq


Gue mulai dari fisiknya ya. Jadi, ASUS ZenBook UX410UQ ini punya 2 varian warna: Rose Gold dan Quartz Grey. Desain bodinya yang elegan dan tipis ngebuat kita bakal lebih leluasa bikin konten di mana aja. Layarnya yang 14 inci (dengan chasis 13 inci. Ya, gue nggak salah tulis. Bezelnya yang cuma 6mm bikin layarnya bisa selebar itu.) dan tebalnya yang gak sampe 2 cm. Akuratnya 18.95mm. Ngebuat notebook ini jadi tipis abis. Sama lah kayak dompet gue pas akhir bulan.

asus zenbook ux410uq layar 14 inci


Jelas, dengan desain kayak gini, si notebook bakal gampang masuk ke dalam tas. Gak ribet, dan enteng karena cuman 1,4kg aja. Tahu gak apa untungnya desain ini bagi para konten kreator? Kita bisa bikin konten di mana aja! Nggak harus terus-terusan di kamar mengurung diri. Kejadian stres kayak kasusnya Haqi paling tidak bisa dicegah dengan sesekali bikin konten di tempat yang nyaman dan baru. Apalagi ada penelitian dari Stanford University yang bilang kalau jalan kaki akan meningkatkan kreativitas. Udah nggak stres, kontennya bakal fresh!

asus zenbook ukurannya tipis


Bahas soal layar udah pasti berkaitan sama warna dan mata. Biar gue kasih tahu versi ribetnya dulu. ASUS ZenBook UX410UQ ini udah Full HD 1080p, kerapatan layaranya 276 ppi. Dan punya angle view sampai 178o. Jadi diliat dari mana aja warnanya tetap cantik. Layarnya pun sudah mempunyai fitur range gamur dengan 72% NTSC. Maksudnya, tingkat keakuratan warna di notebook ini udah muantap. Sumpah, sampai saat ini, warna masih jadi salah satu masalah buat gue. Kenapa? Soalnya warna di laptop gue bakalan beda kalo dipindahin ke handphone. Kok gitu? Gue juga gatau! Rasanya tuh nyesek. Udah capek-capek ngedit di laptop, berasa cantik. Eh pas di-upload hasilnya kayak jeroan sapi. :(

fitur wide angle display asus zenbook


Namanya konten kreator pasti bakalan lama kalo udah di depan laptop. Kerennya, ASUS juga mikirin sampai ke situ. Makanya, dia ngebuat fitur yang bernama Eye Care Mode. Jadi, warna layarnya bisa di-setting mengurangi cahaya emisi lampu biru sampai 30%. Ini ngebuat mata kita aman meskipun cukup lama di depan laptop. Meskipun dibekali fitur ini, tetap jaga waktu di depan laptop ya. Jangan kemudian duduk ngedit video sampai 2 caturwulan. Bukannya sehat, yang ada ambeien.

asus zenbook aman bagi mata
Biru ketika Eye Care Mode Off

Nggak cuma di situ, ada juga fitur visual lain mulai dari mode normal (optimal bawaan pabrik), mode manual (bisa otak-atik sendiri), dan mode vivid. Mode vivid ini yang ngebuat warna dan tampilan visualnya jadi real. Kayak NYATA, padahal enggak. Kayak perhatiannya dia gitu. Kesannya NYATA, tahunya kamu yang GEER. Dia cuma nanya, ‘Kamu lagi apa?’ kamu balesnya ‘IYA AKU MAO NIKAH SAMA KAMU! BESOK!’

Untuk konten kreator, fitur ini cocok banget digunakan saat mengedit video atau foto. Jadi bakal gampang. Kalau mau ngedit foto mantan seakan-akan lagi kegigit zombie.

Salah satu yang kelihatannya sepele tapi penting dalam sebuah notebook bagi konten kreator adalah keyboard. Laptop gue contohnya. Karena paling sering dipencet, huruf ‘a’-nya gampang copot. Jadinya sering nggak kepencet dan harus hati-hati. Niatnya mau ngetik ‘Gaul’ hasilnya malah ‘Gul’. Kayak anak bola sok imut. Sementara desain ASUS ZenBook UX410UQ punya jarak tinggi tombol 1,6mm. Ini hampir 3 kali lebih tinggi dibanding kebanyakan notebook. Kebayang deh empuknya. Belum lagi adanya illuminated Chiclet di keyboard yang ngebuat kita tetap bisa melihat huruf pada keyboard meskipun dalam keadaan kurang cahaya.

keyboard asus zenbook
Perubahan keyboard ASUS ZenBook UX410UQ dalam keadaan terang/gelap

Meskipun gue tergolong konten kreator yang jarang menggunakan touchpad, tapi ada satu hal yang menarik dari punyanya si ZenBook ini. Selain tingkat responsive-nya yang kayak smartphone, touchpad-nya juga ada sensor sidik jari yang berfungsi sebagai pengaman. Jadi gak perlu ribet-ribet nulis password dan panik kalo ada orang yang ngedeket lagi deh. Hal lain yang agak bikin gue ogah pake touchpad adalah, kalo dipake kelamaan jadi anget. Itu bikin pergelangan gue aneh aja rasanya. Eh ternyata, di sisi touchpad ZenBook ini ada fitur yang namanya IceCool Technology yang bikin suhu notebook tetap ada di rentang 28 – 35oC. Udah bisa dimainin lama, nggak gampang panas pula. Tunggu, kok kayak ada yang aneh ya kalimat barusan?

Sekarang lanjut ke bagian dalamnya ya. ASUS ZenBook UX410UQ ini menggunakan OS Windows 10 dan processor Intel Core i7 7500. Atau dengan kata lain, ini udah setara dengan notebook premium. Kombinasi antara RAM 8GB, kartu grafisnya yang menggunakan NVIDIA GeForce 940MX, dan VGA 2GB tidak akan membuat si notebook nge-hang meskipun kita menggunakan beberapa aplikasi sekaligus. Mungkin ada yang sambil riset buka tab browser bejibun, liat-liat foto mantan, nulis, sambil ngedit foto. Semuanya bisa dijalani bareng-bareng. “Dalemannya” yang tangguh ini juga ngebuat kita bisa bereksplorasi dengan konten-konten lain selain cerita dalam bentuk tulisan.

spesifikasi asus zenbook ux410uq


Tapi apa gunanya spek bagus kalau gampang lowbat?

Nah, ini dia salah satu fungsi processor tadi. Intel Core i7 7500 dibuat sedemikian rupa supaya hemat daya. Akibatnya, baterainya yang berjenis polimer ini bisa bertahan antara 5 – 8 jam pemakaian. Lumayan banget sih ini. Kalau mau kerja di luar nggak perlu bawa charger. Ransel jadi makin ringan deh.

Gue yakin salah satu masalah konten kreator selain ide dan pembuatan konten adalah tempat nyimpen kontennya. Gue udah jadi saksi mata beberapa temen hampir selalu bawa harddisk eksternal ke mana-mana. Pas gue cek, ternyata dia emang tukang harddisk.

Terus terang gue punya masalah yang sama. Harddisk di laptop gue tinggal sisa 7GB! Ini bikin gue deg-degan setiap kali bikin apa-apa. Antara takut penuh, atau laptopnya meledug. Kalo laptop gue ultramen, pasti dia udah tinung-tinung. Kejadian kayak gini kayaknnya nggak akan terjadi kalau gue menggunakan ASUS ZenBook UX410UQ. Soalnya harddisk-nya 1TB (HDD) dan 128GB (SSD). Duh, bentar ya. Ini gue pengin nangis dulu…

spesifikasi asus zenbook ux410uq


Nggak selamanya konten kreator kerja terus. Pasti butuh hiburan juga. Di sini fungsi dari audio ASUS ZenBook UX410UQ. Dalam pembuatan audio, ASUS bekerja sama dengan Harman/Kardon yang membuat kualitas suaranya jernih dan mumpuni.

Karena kita akan sering bawa notebook ini jalan-jalan, udah pasti kita bakal kerja sambil numpang Wi-Fi. Dengan ASUS ZenBook UX410UQ ini, kita bisa mengangkat dagu ke atas seraya bergumam, ‘Hmmhhhmm… Kalian semua lambat sekali internetnya.’ a la sinetron. Soalnya, ZenBook ini dilengkapi Wi-Fi terbaru yang punya kecepatan 2,8 KALI LEBIH CEPET dari Wi-Fi pada umumnya. Betul sekali. Dua. Koma. Lapan. Udah numpang, ngenetnya ngebut pula. Oh, siapa yang tidak ingin?

ASUS ZenBook UX410UQ ini jelas akan membantu pekerjaan konten kreator. Stres akan hilang karena kita tidak di rumah terus (Kalau udah coba kerja di tempat baru dengan ZenBook dan masih stres sama pekerjaan, jual notebooknya. Mungkin pekerjaan kamu tidak selesai, tapi paling tidak kamu hepi dapet uang hasil jual ZenBook). Performanya yang tinggi juga ngebuat kita bisa berkreasi lebih dari storytelling. Mungkin cerita kita bisa diwujudkan dalam bentuk video, atau stop motion, atau cinemagraf. Yang pasti banyak “pintu” yang akan terbuka dengan ASUS ZenBook UX410UQ ini.

Kalo menurut kamu, apa sih tantangan sebagai blogger personal dalam bikin konten? Terus gimana caranya biar bisa jadi bagus? Coba diskusi yuk!
Suka post ini? Bagikan ke:

14 comments:

  1. aku juga suka dengan tipe blogger yang menggunakan storytelling mas, kesannya lebih mengalir aja, biar yang baca penasaran hehe.

    ReplyDelete
  2. Nulis kehidupan sehari-hari kadang ada elemen-elemen itu juga tanpa disadari. Gue baru nyadar ini sih. Setelah tau, lumayanlah bisa memperbaiki walaupun isinya nggak lebih dari cerita ngambil rapot.

    Tantangan yang paling sulit menurut gue yang sulit ditemukan. Susah sih karena gue nggak ngerti SEO, dan cerita yang gue tulis juga nggak SEO-SEO amat, jadinya nggak banyak yang tau. Di kelas juga nggak banyak yang tau gue punya blog. Huahaha. Akhirnya manfaatin sosmed aja yang followersnya nggak banyak-banyak amat.

    Mantap ini pembahasannya.

    ReplyDelete
  3. WAH PARAH. MASA GAK NGERTI SEO? KAN SUDAH ADA PANDUANNYA TINGGAL DONLOT. :(

    Berhubung gue blogger tipe D. Gue cukup nyimak dan baca sambil manggut-manggut aja nih.

    ReplyDelete
  4. bagus reviewnya...tak save as ah, sapa tau kalau ada lomba yang review macam ini bisa jadi referensi XD *boleh kagak ini?* wqwq

    keyboardnya bisa nyala? sepertinya ini laptop turunannya si jarvis punya iron man. mana speknya kelas dewa, lengkap sudah. bang, nanya bang....cara masang ikan koi di blog pegimana sik? *tampol - enggak - tampol....

    ReplyDelete
  5. Intinya, di. Tipe blogger apapun kita. Kita harus pandai mencari crowd untuk bisa melebarkan sayap.

    Seo bisa dipelajari. Tapi pembentukan crowd ini susah.

    Btw gue baca postingan ini sambil memakan sebuah ayam yang ditepungin loh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmm bener juga sih. Gue juga pengin melebarkan sayap. Ketemu yuk?

      Delete
  6. Kayaknya ada deh, Di, e-book tentang SEO dari blogger yang dibagiin gratis. Malah itu sampai 2 atau 3 part gitu. :|

    Gue juga termasuk blogger yang sering pakai teknik bercerita. Mau nyampein satu kalimat aja, kudu muter-muter dulu. Tapi, di situlah tantangannya. Gimana bikin pembaca betah sampai habis. Gaya naratornya juga kudu asyik. :D

    Laptopnya sumpah bikin mupeng. Laptop gue udah gembel bener ini karena baterai cepet lowbat. Alhasil seringnya dicolokin mulu gitu, atau malah lepas baterai. :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Loh kok malah muter-muter sih? Harusnya kan malah janagan dong. ._.

      Delete
  7. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  8. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Kalo kamu suka sama tulisannya, jangan lupa untuk bantu share dengan tekan tombol sosmed di atas yaa. \:D/

Untuk yang mau main dan ngobrol-ngobrol, silakan add LINE di: @crg7754y (pakai @). Salam kenal yosh! \(w)/