Saturday, June 24, 2017

Bianglara (part: 3)

Baca seluruh bagian Bianglara: klik di sini



SEPULUH – AMANDA

‘Lo inget lagi coba dosa-dosa lo ke mantan.’
‘Sialan lo, O.’

‘Tapi ini aneh banget sih. Mencurigakan. Pake ada tulisan “khusus pemberani” gini lagi. Apa maksudnya coba?’

Amanda memperhatikan benda itu sekali lagi. Baru kali ini dia mendapat hadiah aneh seperti ini. Dia berjalan ke sudut kamar, membuka semacam kotak besar berbentuk peti harta karun. Di dalamnya terdapat barang-barang pemberian mantannya sejak dulu. Mulai dari boneka pink panther, kacamata, sampai beanie hat. Dia memasukkan lempengan besi tersebut ke dalamnya.

Eh, tapi bener juga kata Vio, pikir Amanda. Kata-kata ‘khusus pemberani’ itu pasti ada alasannya. Kalau diliat-liat, ini bisa berarti salah satu di antara: a) mantan yang jail, b) sesuatu yang berkaitan dengan hantu. Amanda kembali mengingat perkataan Nyokap sebelumnya. Si orang yang memberikan lempengan besi ini seumuran sama Amanda. Laki-laki dengan kemeja flanel biru dan kacamata hitam. Oke, kayaknya tuyul gak ada yang setrendi itu deh.

Pilihannya tinggal yang pertama.

‘Gue nggak takut sih, tapi kok agak serem ya.’ Amanda naik ke kasur, duduk di sebelah Vio. ‘Apa jangan-jangan si anu ya, O?’

‘Si anu?’

‘Iya. Si anu ngerjain gue? Waktu itu kan putusnya nggak begitu baik.’

‘Masa sih anu? Tapi bukannya udah lo anuin?’

‘Iya sih. Tapi kan bisa aja dia sadar kalo udah gue anuin. Terus jadi bales anuin gue.’

‘Bener juga.’ Vio ngangguk-ngangguk, lalu diam sebentar. ‘Ini ngebahas anunya bisa udahan aja nggak?’

Oke, sebelum ada yang salah paham. Anu yang dimaksud Amanda dan Vio di sini adalah Jordi, mantan ketiga yang sebelumnya tidak mau diceritakan. Amanda memergoki Jordi selingkuh di parkiran sekolah. Ketika itu hubungan mereka lagi mesra-mesranya. Begitu ngelihat Jordi berduaan sama adik kelas, dia langsung copot dan melempar helm ke wajah Jordi. Dan karena hidup ini tidak seperti film Warkop DKI, helm yang dilempar nggak masuk ke kepala Jordi, tapi mentok ke tengkorak kepalanya. Abis digebok, Jordi jatuh pingsan.

Putus paling sadis sepanjang umat manusia.

Vio mengeluarkan hapenya. ‘Coba, coba, kita cek facebook si Jordi. Lo kapan sih terakhir berhubungan sama dia?’

‘Ya nggak pernah lah!’

‘Bukan berhubungan yang itu dodol!’

‘Oh.’ Amanda ketawa garing. Dia berpikir sebentar. ‘Abis lulus SMA udah jarang banget. Dia sempet minta maaf sih. Tapi gue gatau deh dia gimana abis itu.’ Amanda mendekatkan posisi duduknya ke Vio. Melihat layar yang menampilkan profile facebook Jordi. ‘Eh, itu kok fotonya kayak tulisan gitu sih dia? Coba liat dong bacaannya apa!’

Mereka bertatapan. Vio menekan Profie picture Jordi. Dan tulisan di profilnya adalah...

Experience is the best teacher.

Mereka muntah berjamaah.

Jordi sewaktu sekolah adalah tipikal anak gaul yang mudah berbaur dengan kalangan mana pun. Seragamnya tidak pernah dilipat ke dalam celana dan lebih suka nongkrong di kantin dibandingkan di kelas fisika. Dulu anaknya sangar, sekarang profile picture-nya jadi kutipan motivasi gini. Tampang sadis, hati teletubbies. Mau dibilang apa? ‘Hai. Kamu ganteng banget deh. Mukanya kayak times new roman.’

Vio menutup aplikasi Facebook.

‘Kayaknya nggak mungkin dia deh, Man.’

Perbincangan mengenai lempengan misterius itu akhirnya selesai pukul 7 malam. Vio harus pulang dan seketika itu Amanda sadar kalau kamarnya mendadak sepi. Dia membuka peti harta karun dan mengeluarkan lempengan besi. Membolak-baliknya. Melihat tanggal di besi tersebut, lalu melirik kalender. Sabtu depan dia tidak ada acara apa-apa. Di dalam hatinya dia merasa kalau siapapun ini tidak akan membuatnya takut secara fisik. Namun, di sisi lain, hatinya masih merasa janggal. Sekarang yang ada di kepalanya hanya Jordi.

Amanda berjalan ke meja depan kasurnya. Menyalakan laptop, membuka facebook sekali lagi. Ternyata beranda facebook lebih membuatnya tertarik. Ia baru ingat sudah satu (atau dua?) tahun tidak membuka facebook. Sampai hari ini tiba. Dan semuanya sudah berubah. Setahu Amanda, facebook adalah tempat untuk mencari teman. Saling tukar-tukaran status dan berbalas obrolan antar pengguna. Ia juga ingat sewaktu awal masuk SMA, ia seringkali janjian bersama Sarah, teman kelasnya, untuk online bareng dan main game yang ada di facebook. Tapi yang sekarang ia temukan adalah tempat berbagi video dan gambar-gambar yang entah dari mana.

Sampai ia menghentikan gerakan tangannya di mouse.

Kursornya berhenti di sebuah foto cowok. Seumur dirinya. Hasil share salah satu teman facebook.

‘Ih kok lucu?’ Amanda nyengir sambil menekan tombol like… ke foto kucing yang dimasukkan ke dalam cangkir. Di bawah foto si cowok itu.

Gagal fokus.

Amanda menggeser layarnya kembali ke atas. Fokus ke cowok itu.

Dwi Abdul Jalak Ahmad Luthfi Alias Kiting.

Entah apa yang ada di dalam pikiran dia, tapi Amanda merasa orang ini punya daya tarik tersendiri. Apalagi ekspresi wajahnya memancarkan aura kebahagiaan. Senyumnya lebar. Sampe-sampe ujung bibir nempel ke alis.

Masalahnya, apakah orang ini bisa membantu? Amanda membaca satu per satu komentarnya. Suara jantungnya mulai terdengar. Dia tahu, kalau orang asing yang memberikan besi ini berniat jahat, ilmu bela dirinya bisa menolongnya. Tapi bagaimana kalau orang asing ini menggunakan cara-cara lain? Sudah rahasia umum lagi bahwa ada orang yang bisa masukin paku ke dalam perut orang lain. Amanda menoleh ke lempengan sebesar kartu remi itu. Membayangkan benda tersebut masuk ke perutnya pasti serem banget. Dan bikin repot kalo buang air besar.

Perasaannya masih mengatakan kalau ada sesuatu yang aneh. Tapi apa? Amanda menekan nama Dwi Abdul Jalak Ahmad Luthfi Alias Kiting. Membaca informasi yang tertera di profilnya dengan teliti. Bersamaan dengan itu, Bu Ami, Nyokap Amanda, turun dari lantai dua. Ia jalan tergesa-gesa ke ruang tamu dan menyalakan tv. Sesekali mengecek grup whatsapp yang berisi ibu-ibu teman gosipnya di kantor, lalu memindahkan saluran televisi.

‘AAAKKKKK!’ jerit Bu Ami histeris, mengetahui berita pertunangan Raisa dengan Hamish Daud.

‘AAAAKKKHHH?!’ Di dalam kamar Amanda ikutan kaget karena mendengar teriakan Bu Ami. Dia berbalik badan dan melakukan pukulan sikut ke udara. ‘EAARRGH!’

--
SEBELAS – KITING
Salah satu kebiasaan unik yang terdapat di dalam diri Kiting adalah: dia jarang pakai baju. Ini bukan semata-mata karena dengan bugil dia merasa jadi macho. Tidak. Cewek aja jarang bilang ‘Ih machonyaa! Uwuwuw!’ ke atlet sumo dan lebih sering merespon dengan ‘Amit amit gue amit amit..’ sambil ngetok-ngetok meja kayu.

Kebiasaan ini dilakukan karena kulit Kiting sensitif, yang membuatnya jadi gampang berkeringat. Apalagi kalau lagi sauna.

Nah, karena sering berkeringat, mau tidak mau Kiting harus sering mencuci baju. Daripada harus sering nyuci dan cepat ngabisin deterjen, dia lebih memilih untuk bugil saja. Sungguh pemikiran yang ekonomis sekali.

Kiting meletakkan kantong plastik di lantai. Lalu dengan tangannya memberikan simbol kepada Ridho dan Soleh untuk duduk sila membentuk lingkaran. Mengajak mereka untuk melihat sirup pemberian pak RT.

Kiting membuka bajunya. ‘Lo nggak pada ngerasa gerah apa?’

‘Enggak sih, Bang,’ jawab Ridho, lalu lanjut mengaji di sebelahnya.

‘EH LO JANGAN SAMBIL NGAJI KENAPA?!’ Kiting panik ngelihatin Ridho. ‘Ehem. Bukan maksudnya gue ga bolehin lo ngaji ya. Tapi kan kita mau buka ini dulu. Lagian nanti kalo kisah hidup kita dijadiin film, dikiranya gue kepanasan gara-gara denger lo ngaji lagi. Lo tahu kan buat gue image itu penting?’

‘Enggak, sih, Bang,’ jawab Ridho lagi, polos bener.
‘Sama dong.' aku Kiting, sambil melihat kewibawaannya berceceran di lantai.

Mereka pun menangis dalam pelukan.

Setelah pelukan, Kiting berusaha mengumpulkan remah-remah wibawanya kembali dengan berkata, ‘Pokoknya gini. Kalo gue lagi kepanasan, lo jangan ngaji deket-deket gue. Oke, Do?’

‘Oh, iya, Bang. Maap, Bang Kiting.’

‘Ya udah. Sekarang kita buk-‘ Kiting nengok kiri, hendak mengambil bungkusan pemberian pak RT. Tapi yang ada malah Soleh yang sedang meneguk es sirup dengan penuh birahi. Dia menghabiskan minumannya dengan beberapa teguk. Meletakkan gelas di lantai, dan tanpa dosa berkata, ‘Ahhh… Enak, Bang.’ Tidak berhenti sampai di situ, Soleh menginjak remah-remah kepemimpinan Kiting yang belum terkumpul sepenuhnya dengan bertanya, ‘Mau?’

‘Mau dong!’ Ini Ridho yang jawab.

‘Mau gundulmu.’ Ini Kiting yang jawab, sambil merebut botol sirup dan membawanya ke kulkas.

Kita tidak akan pernah tahu ke mana hidup akan membawa kita. Kita mungkin sering mendengar success story dari orang-orang yang mengawali karirnya dengan ketidaksengajaan. Seorang artis yang bermula karena mengantarkan temannya casting. Musisi yang bertemu produser pada suatu kebetulan. Penulis yang berawal dari menulis buku harian. Persinggungan-persinggunan itu.

Kiting menatap lempengan besi yang sebelumnya ia taruh di atas kulkas. Dia sama sekali belum melihatnya karena menurutnya itu bukanlah barang yang penting. Tapi hal yang menurut kita tidak penting belum tentu tidak penting bagi hidup kita. Karena beberapa detik berikutnya Soleh memanggil dari kamar sebelah.

‘Bang, telepon tuh!’

--
DUA BELAS – HERMANTO
‘Dufan itu bukannya di Jakarta ya, Pak? Yang taman hiburan itu loh.’ Si anak kelas 6 SD mengembalikan lempengan besi ke Hermanto.

‘Kok bisa ya? Kita kan di Jogja. Apa salah tulis ya?’

Si anak hampir menggaruk muka Bapaknya sendiri, tapi masih ditahan. Akhirnya garuk kepalanya sendiri. ‘Duh. Bukan, Pak. Ini tulisannya Dufan. Nggak ada tulisan Jakartanya. Tapi Dufan itu di Jakarta.’ 

'Terus bapak harus gimana?'

bersambung..
Suka post ini? Bagikan ke:

10 comments:

  1. Kayaknya gua kudu baca part q dan part 2 nya dulu sebelum mengerti part 3 ini.
    Btw, pertunangan raisa dan hamish jadi bikin semua shock yaaah.

    ReplyDelete
  2. Gue belum baca yang part 1 & part 2 nya. Tapi kok senyum lebar sampe ujung bibir nempel ke alisnya ngeselin ya... Ngakak. Lols.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh. Baca dulu dongs kalo gitu. :)

      Delete
  3. Setelah baca part 3 ,kok gua jadi tergila-gila sama Ridho dan Soleh. Muka kaya times new roman kaya gimana njir

    ReplyDelete
  4. Anjir lah. Si Kiting ngingetin sama Ko Chin Teng-nya You Are The Apple of My Eye. Sedikit. Yang soal gak pake baju itu. Bedanya Ko Chin-Teng bugil total.

    Itu yang Hermanto bikin penasaran. Kok dia juga dapat ya? Ini jangan-jangan ada tokoh yang domisilinya di Samarinda lagi. Hehehehe cnd.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu... siapa lagi? Semacam orang gila di Semanggi kah?

      Delete
  5. Yah baru pengin komentar soal You're The Apple si Ko-Teng itu, udah dikomentarin Icha duluan. Tapi emang ada, sih, orang-orang kayak begitu. Tetangga gue buktinya tuh, bapak-bapak tambun gitu. Kayaknya emang gampang keringetan, beli makanan ke warteg pun gak pakai baju. Gue yang kebetulan lagi beli juga langsung enek. :(

    Pengin nimpalin sebagai anak, "Ya, Bapak harus ke Jakarta-lah! Gitu aje mikir!"~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue padahal nggak tambun tapi gampang keringetan juga. :(

      Delete

Kalo kamu suka sama tulisannya, jangan lupa untuk bantu share dengan tekan tombol sosmed di atas yaa. \:D/

Untuk yang mau main dan ngobrol-ngobrol, silakan add LINE di: @crg7754y (pakai @). Salam kenal yosh! \(w)/