Monday, May 1, 2017

Tulisan Fiksi Bohong

tulisan fiksi bohong


Sampai saat ini, gue masih bermimpi untuk jadi penulis atau komedian. Dua medium yang menurut gue tidak berbeda jauh. Penulis akan membuat komplain-komplain di hidupnya menjadi sebuah tulisan. Bisa menjadi sebuah cerita sedih, atau menginspirasi. Atau melihat perjalanan hidup gue, jatuhnya lebih ke cerita horor.

Begitu juga dengan komedian. Seorang pelawak akan membuat lelucon dari hal-hal yang dia alami. Tragedi yang dia pendam selama ini. Buat gue, pelawak adalah pencerita yang malu-malu. Gue selalu yakin ada hal-hal “tersembunyi” yang ia sampaikan lewat ceritanya.

Well, gue emang suka bercerita.

Dan gue malu. Seringkali gue terlalu takut untuk menyebarkan apa yang sudah gue tulis. Entah sudah berapa dering telepon yang gue dengar untuk merencanakan pertemuan. Entah sudah berapa coretan ide yang gue tulis untuk memberikan buku ini. Sewaktu di Dufan waktu itu. Atau menyelipkannya diam-diam saat menonton Guardian of the Galaxy di Senayan. Gue bahkan hampir melempar buku ini ke halaman rumahnya. Untung keburu ada tetangga yang teriak maling dan nimpuk sendal.

Tapi hari ini, tekad gue udah bulat.

--
Sampai saat ini, gue masih bermimpi untuk menjadi penulis atau komedian. Kayak yang gue pernah bilang, keduanya sama-sama pencerita. Keduanya mungkin malu-malu dan butuh media lain untuk bersuara. Sewaktu gue bekerja di Kumon, gue ingat betul pelajaran itu: kita tidak perlu bersuara untuk memberitahu sesuatu.

Kita hanya butuh satu jari telunjuk. Ketika kita sadar ada pekerjaan yang salah, yang perlu kita lakukan hanyalah menunjuk jawaban si anak kecil, lalu menunjuk kembali pertanyaannya satu per satu. Ini membuat si anak berpikir sendiri tanpa diberitahu begitu saja. Ini membuat rasa penasaran si anak terpakai untuk hal yang benar: mencari solusi atas masalah yang dia hadapi.

Gue jadi berpikir bahwa seharusnya hal ini juga bisa kita pakai untuk hal-hal lain. Contoh: Ketika salah beli ukuran sepatu. Tunjuk sepatu yang udah kita beli, lalu tunjuk pacar, lalu tunjuk sepatu yang kita inginkan. Hasil: Mata kelilipan sneakers.

Gue lalu bangun dan mengambil kacamata yang tertutup selimut. Saat membereskan kasur, gue agak kaget karena mendengar suara barang jatuh. Apa tuh? Gue menunduk ke bawah tempat tidur. Memanjangkan leher ke dalam. Aneh, kok gelap banget. Oh iya, lampunya belum dinyalain. Gue bangun, kejedot bentar, nyalain lampu, lalu kembali ke kolong tempat tidur.

Gue melihat sesuatu di ujung, dekat kaki tempat tidur. ‘Apaan tuh item-item?’ Gue nanya sendiri, dan anehnya jawab sendiri. ‘Jangan-jangan… dementor!’  Gue panik sendiri.

Abnormal sekali hidup ini.

Gue merogoh, mencoba menggapai benda itu pelan-pelan. Agak merinding juga karena kadang tangan gue menyentuh jaring-jaring halus. Sampai gue berhasil menarik benda itu keluar.

Benda itu,
Bando milik Salsa.

Gue mengusapnya, lalu diam sebentar. Entah kenapa barang ini masih ada di kamar gue. Gue dan Salsa bahkan sudah tidak pernah berkomunikasi sejak tujuh? Delapan bulan yang lalu? Pokoknya lama deh. Waktu itu dia sempat marah besar sama gue. Itu karena gue sok perhatian dengan bertanya mengenai perubahan poninya. Apa salahnya sih nanya poni ke orang botak pasien kanker?

Kelanjutannya, ya, dia ngamuk-ngamuk gak terima. Dia nge-block semua medsos gue. Telepon gue gak pernah diangkat. Rumah gue dikencingin. Kata orang-orang, dia langsung ngedit foto avatar twitternya jadi sebelahan sama Adipati Dolken. Idih, kan gue juga mau.

Beberapa hari kemudian, dia minta putus.

Udah pasti gue ngerasa bersalah banget. Erwin Schrodinger, filsuf dari jerman, pernah bilang kalau kata-kata itu ibarat galah tajam yang panjang. Terkadang kita mengarahkannya ke kiri, tapi yang kena imbas malah orang di sebelah kanan. Ini ternyata bener sih. Di dalam kasus gue, apa yang ingin gue tunjukkin adalah kalau gue perhatian sama dia. Gue pernah baca di salah satu artikel di internet kalau cewek suka dilihat perubahan di tubuhnya. Satu-satunya yang gue tahu waktu itu, rambutnya udah gak berponi lagi. Sayangnya, gue tidak tahu kalau efek samping dari kemoterapi itu ternyata bikin botak.

Gue udah berusaha minta maaf. Gue samperin langsung, tapi dia gamau ketemu. Untungnya lama kelamaan luluh juga. Dia baru keluar rumah setelah gue nulis permintaan maaf pake pilok di tembok rumahnya. Cewek memang sulit dimengerti.

Setelah itu hubungan kita mulai baik lagi. Meskipun dia belum mau balikan.

Dan untungnya, beberapa bulan setelah itu, kesehatannya membaik.
Abis itu gue malah jadi takut dan milih untuk menjauh aja.

Tapi gue masih tidak paham soal si bando ini. Gimana ceritanya coba bando ini bisa ada di kamar. Gue coba inget-inget sambil pergi ke dapur, mencuci si bando. Hmmm. Kalau melihat posisi jatuhnya bando ini, asumsi terngasal adalah kepala Salsa nyungsep di antara kasur dan tembok. Kepalanya berhasil diselametin keluar, tapi bandonya tetep nyangkut sampai barusan jatoh pas lagi beres-beres. Tapi… ngapain anjir? Gue bingung sendiri.

Gue coba buka hape, mengecek kontak di LINE. Lalu mengirim foto bando di tangan.

“IH KOK MASIH ADA?” tanya dia.
“Capslock jebol bu?”
“IYA NIH. EHEHEHE. GATAU CARANYA AKU…. EH ITU KOK MASIH ADA?”
“Nggak coba benerin di konter hape?” tanya gue, mulai keluar urat di kepala.
“KATA MAMA NGGAK RUSAK DEH. ANEH EMANG. EH JAWAB YA PERTANYAAN AKU!”
“Coba pencet bagian kiri bawah keyboardnya deh,” balas gue lagi. Urat di kepala udah berubah jadi bakso.
“Oh iya bisa. Hehehe.”
“MASIH AJA GAPTEK KAMU YA?”
“Capslock jebol pak?”
“Enggak. Hehehe.”
“Eh jawab dong itu pertanyaan aku!”

Gue lalu menceritakan semuanya lewat telepon. Mulai dari bangun tidur, sampai tentang gue yang keingat masalah kami waktu itu. Lucunya, ternyata, dia, sama seperti gue, sebenarnya tidak ingin putus komunikasi. Diam-diam dia masih suka membaca twit-twit gue. Dia belum jadian lagi (ini yang paling penting) dan dia sempat mencari bando itu, sampai kemudian beli bando baru dengan model yang sama.

Akhirnya kita janjian untuk ketemuan.

Aneh rasanya ketika kita ingin bertemu orang yang pernah kita sayangi setelah sekian lama. Gue berdiri di depan kaca, senyum-senyum sendiri.

Kesan apa yang mau gue kasih ke dia sewaktu ketemu nanti? Gue membuka lemari. Melihat pilihan baju yang ada. Putih-putih? Gue mau ketemu mantan, bukan pemburu hantu. Hitam-hitam? Lebih kayak mau ngelayat. Hitam putih? Kayak zebracross.

Di saat kayak gini, milih baju kok jadi persoalan yang rumit ya?

Satu minggu kemudian, gue udah berdiri di depan rak buku fiksi. Pilihan gue berakhir pada kaos hitam polos dan celana jeans biru. Menjadi nyaman kayaknya pilihan terbaik untuk situasi kayak gini. Sesekali gue mengeluarkan hape, mengecek jam. Masih dua puluh menit lagi sampai waktu ketemuan. Kalau dipikir-pikir, agak aneh juga memutuskan buat ketemuan di toko buku kayak gini.

Sambil menunggu, gue mengambil buku Critical Eleven. Oke, bagi sebagian orang, mungkin gue akan terlihat banci dengan mengambil buku romance seperti ini. Tapi mau gimana lagi? Menurut gue tidak ada buku yang terlalu “pas” untuk cowok kayak gue. Baca-baca buku personal literature a la Raditya Dika? Kesannya akan jadi seperti cowok yang kekurangan teman, penyendiri, dan kekanak-kanakan. Sastra? Uh, pasti dicap terlalu kaku. Baca buku OCD Deddy Corbuzier? Takut gak bisa tidur liat cover-nya.

Di dalam Critical Eleven ditulis bahwa saat naik pesawat, akan ada sebelas menit krusial yang bikin kita pasrah. Beberapa menit saat akan terbang, dan menit lainnya saat bersiap mendarat. Kalau buat gue, bagian paling pasrah pas pesawatnya delay.

“Penumpang dengan nomor penerbangan VY393 UU diharap menunggu karena penerbangan ditunda 15 menit..”
“Yaaaah… Abangnya mo pulang… Abangnya mo pulang…”

Oh, itu dia. Datang dengan totebag hitam bertuliskan “FUCK YOU, BITCH!” Ini kenapa dia jadi sangar gini ya. Gue lalu berputar ke belakang rak, berpura-pura tidak melihat. Dari kejauhan dia terlihat masih sama seperti Salsa yang terakhir kali gue ketemu. Badannya, ya, gitu-gitu aja. Kacamata bulat a la Uya Kuya. Celana jeans dan sneakers. Dan rambut sebahu yang sedikit dicat cokelat.

Dia ngeliat gue.

Dia senyum ke gue.

Mampus.

Jantung gue berhenti.

Senyumnya kayak bilang: “Fuck you, Di!”

Dobel mampus.

Gue menarik napas, naroh buku dengan sok cool abis, lalu melambaikan tangan. Di sela buku-buku yang ada, dia menyambut gue dengan hangat. Ini yang gue khawatirkan. Pertanyaan-pertanyaan di masa lalu, dan kenyataan bahwa dia masih seperti dulu bikin gue kalang kabut. Setelah beberapa pertanyaan kemudian, gue memberikan bandonya.

“Gimana?” tanya Salsa, langsung memasang benda itu di kepalanya.

Gue mundur satu langkah. “Kalo aku bilang ‘najis’ pasti kamu jitak kan? Jadi ‘bagus’ deh.”

“Ih kok gitu?!” Dia mendorong gue.

“Aaaaaaarrggghhh!!” seru gue, pura-pura mental ke belakang. “Masih macho aja kamu ya. Kalah aku nih.”

Dia ngegebuk gue. “Sialan!”

Entah apa yang gue rasakan waktu itu. Tapi rasanya kayak gue menemukan dia lagi. Gue tahu ada jeda setiap kali dia memilih kalimat tertentu. Gue juga tahu terkadang ada hening canggung di antara obrolan kami. Tapi, entah kenapa, gue tidak ingin hari itu cepat berakhir. Sampai kaki kami pegal dan akhirnya memilih untuk melanjutkan obrolan di salah satu kedai kopi. Stephen Hawking punya kebiasaan berhenti menulis di tengah-tengah paragraf supaya saat mengerjakan sesi selanjutnya, dia tidak stuck dan bisa langsung melanjutkan dengan cepat. Mungkin ini yang gue rasakan sekarang. Gue dan Salsa terakhir ketemu saat kami pertama kali makan di Roti Bakar Eddy. Saat itu kami bertaruh soal penyebab ramainya tempat ini. Gue bilang karena harganya murah, sementara dia karena makanannya enak. Di tengah obrolan, tetangga gue mengabarkan kalau rumah gue kebakaran. Gue pergi sewaktu dia di kamar mandi.

Yha, goblok memang.
Sama kayak gue, yang masih punya perasaan ke dia. Sampai sekarang.
Goblok memang.

--
Gue diam, menuang botol coca-cola ke dalam gelas dan meminumnya. Di depan gue, Salsa meletakkan buku yang baru aja gue kasih. “Bagus sih walaupun tulisan lo kayak tulisan dokter abis disetrum. Tapi… INI KENAPA PAKE NAMA GUE KAMPRET?!”

“Uhuk! Uhuk! Ehem!” Gue pura-pura keselek.

“DAN INI APA-APAAN STEPHEN HAWKING YA?!” Dia menunjuk paragraf akhir dari buku bersampul hitam itu. “Setahu gue yang kayak gitu Hemingway deh. Iya gak sih?”

“OHOHEK HOEK HOEK!!” Coca-cola muncrat dari lobang idung. Setelah agak tenang, gue bilang, “Yah, terus terang, gue pengin banget bisa bikin tulisan kayak gitu deh. Kayak buku-buku yang kesannya hasil riset mendalam. Yang biasa lo baca gitu. Tapi gue kan gatau harus nyari ke mana. Gue pikir lo nggak bakal sadar, Sa. Ampun. Jangan amputasi gue.” Gue menutup kepala dengan dua tangan, takut digebuk.

“YEE SI KAMPRET.” Matanya kembali berjalan di sepanjang tulisan. Sampai kemudian berhenti dan melanjutkan, “I-ini... Schrodinger juga bukannya yang kucing itu ya?”

Gue menggeleng tanda tidak tahu. Sambil nengok kanan-kiri. Kali aja ada kantong kresek yang pas untuk dipake ke muka gue.

Salsa kemudian mengetik sesuatu di handphone-nya, lalu memberikannya ke gue. Dia kemudian ngasih tahu kalau Schrodinger itu fisikawan asal Austria. Terkenal karena teori kucing schrodinger-nya yang menjelaskan fenomena fisika kuantum. Di saat ini, gue cuman bisa pura-pura haus dan terus miinum… dan berharap keselek lalu modar di tempat. Malunya itu lho.

Gue menutup buku, memasukkannya ke dalam tas. “Udah, udah, gak usah dibaca lagi. Malu gue.” Gue menatap wajahnya, berusaha merekam adegan ini di dalam kepala. Ekspresi wajahnya. Senyum-senyum pengin ngejitaknya. Caranya menunjuk layar handphone. Matanya yang cokelat. Dan di dalamnya, ada gue, yang berharap, kalau gue dan dia, akan jadi cerita yang lebih baik dari sekadar tulisan fiksi bohong ini.

Hening canggung.

“Kenapa, Di?”
“Enggak. Enggak ada apa-apa Salsa.”
Suka post ini? Bagikan ke:

24 comments:

  1. JADI INI INTINYA FIKSI ATAU NONFIKSI SI? GUA AMPUTASI JUGA NIH! *pencet tombol bagian kiri di bawah keyboard*

    Udah ga capslock lg, makasih ya abis baca tulisan ini jadi tau cara ngilangin capslock :)

    ReplyDelete
  2. Pusing, tapi nikmat kaya beru keluar gitu baca ini :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. INI MAKSUDNYA APA YA TOLONG DIPERJELAS!

      Delete
  3. gue juga bingung nih, jadi ini cerita nyata atau rekayasa belaka *eaa.

    eh btw tanyain salsa dong beli tote bag "FUCK YOU" nya dimana hwkwkwkw

    ReplyDelete
  4. Ketika sebuah fiksi terasa nyata, itu artinya tulisanmu berhasil. Hahaha

    Masih nggak bisa nyerna ini fiksi atau nyata.

    ReplyDelete
  5. Emang OCD itu ada bukunya, ya? Kavernya gambar Deddy pamer otot gitu? Gue malah baru tahu pas baca ini. *googling dulu ah*

    Salsa jadi liar gitu deh. Tapi kenapa tulisannya gak "HIDUP FEMINISME!" aja? Lebih keren gitu lho. :(

    ReplyDelete
  6. KAPSLOK nya zebol bang!

    salsa, tetep cantik kok bando itu di kepalamu *oposih

    ReplyDelete
    Replies
    1. INI KENAPA MALAH MENDADAK GOMBAL YAA?

      Delete
  7. Seinget gue, Schrodinger adanya di pelajaran Fisika atau Kimia deh. Kapan dia jadi filsafat?!

    Salsa nama panjangnya Salsaparilla bukan, ya?

    ReplyDelete
  8. gua bacanya agak bingung siih..
    Tapi...
    yaa...
    bagus kok

    ReplyDelete
  9. Setau gua sih Salsa itu tarian yang melengkung-lengkung kaya cacing kepanasan

    ReplyDelete
  10. Boleh nih kalau dibikin postingan tentang tutorial agar capslock nggak jebol. Hahaha

    Gue gagal paham. Kan milihnya ngobrol di kedai kopi, ya? Yang di minum kok Cola? Bukan kopi atau sejenisnya? Hmm.. :)

    Well, ceritanya bagus, Di! Gue malah bingung ini fiksi atau nyata? Coba deh lu jawabin tuh komen-komen di atas. Biar mereka nggak mati penasaran. Hahaha

    ReplyDelete
  11. Anjir nape adegan lo ketemu salsa di toko buku itu romantis menurut gue sih?
    Btw, gue pernah bikin tulisan fiksi pake nama asli dan gue kasih tau ke orangnya dan orangnya ketawa-tawa doang :D

    ReplyDelete

Kalo kamu suka sama tulisannya, jangan lupa untuk bantu share dengan tekan tombol sosmed di atas yaa. \:D/

Untuk yang mau main dan ngobrol-ngobrol, silakan add LINE di: @crg7754y (pakai @). Salam kenal yosh! \(w)/