Monday, May 22, 2017

Percaya Sama Kita

Postingan ini masih nyambung dikit sama tulisan yang sebelumnya.
Kalo belum baca, bisa klik link ini dulu.

Entah kenapa masih ada sisa pikiran dikit dan gue baru ketemu jawabannya tadi malem. Oke, biar gue buka dengan bilang kalau mungkin kamu udah sering denger kalimat tentang kehidupan artis yang tidak seperti apa yang kita lihat di layar kaca. Kita tahu kalau terkadang, feed Instagram seseorang lebih indah dibanding hidup orang itu. Keliatannya cakep, ternyata mukanya kayak rendang. Coklat-coklat benyek gitu. Orang yang kita lihat hepi-hepi aja, bisa jadi sedang menutupi sesuatu. Orang yang kita ledekin lalu ketawa-ketawa, bisa aja diam-diam memendam sakit hati. Begitu pulang, baru nyantet kamu pake boneka voodoo.

Maka dari itu,

gue mau minta tolong ke kamu supaya lebih peka sama orang-orang sekitar. Sama temen deket. Sama orang yang kamu sayang. Gue cukup beruntung karena dilahirkan di keluarga yang ngajarin soal kasih sayang (walaupun sering gagal. Hehehe). Gue cukup beruntung punya temen yang peduli. Gue cukup beruntung bisa menyalurkan keresahan lewat tulisan.

Tapi nggak semua orang seberuntung gue.
Nggak seberuntung kita.

Beberapa waktu lalu “penyakit” gue kambuh. Gue ngerasa sendiri. Gue ngerasa tidak punya siapa-siapa. Gue ngerasa tidak punya tempat untuk cerita. Lalu pikiran-pikiran buruk datang. Gue takut. Rasanya kayak terhisap ke dalam lubang yang gue buat sendiri, lalu terjebak dan gak bisa keluar. Dan semakin lama semuanya jadi semakin gelap dan bikin gue sesak napas. Sampai kemudian gue ketemu sama videonya Brandon Burchard soal mengatasi rasa takut (bisa cek di sini). Dan akhirnya gue berusaha jujur sama diri sendiri. Lalu jadi postingan yang kemarin.

Lucunya, tidak lama setelah itu terjadi, gue seperti ditunjukkin sama Allah. Gue didatengin temen-temen yang peduli. Lalu gue nonton Before I Fall, yang bercerita tentang apa yang terjadi kalau kamu menjalani hidup yang sama setiap hari. Nggak lama setelah itu, temen gue, yang selama ini gue anggap hidupnya tenteram. Duitnya segudang. Suka jalan-jalan. Akademisnya keren. Mendadak cerita kalau dia ngerasa selama ini hidupnya berantakan. Dia cerita panjang lebar soal masalahnya, soal keluarganya, soal orang-orang terdekatnya yang dia rasa tidak mensupport dia.

Entah kenapa semuanya kayak ngasih tahu hal yang sama. Kalau gue tidak sendirian.
Kalau kamu tidak sendiri.

Lalu gue mulai mikir. Kenapa ini bisa terjadi? Kenapa banyak orang yang memendam masalahnya sendirian? Sampai di salah satu sesi obrolan editor dan penulis (videonya disini, 37 menit) ngasih tahu kalau sekarang cara kita berekspresi udah mulai berubah. Attention span kita jadi jauh sangat rendah. Kita jadi gampang terdistraksi. Akibatnya, di dunia maya kita jadi sering menulis dengan buru-buru dan pendek. Dan di situ masalahnya: tulisan seseorang baru akan baik setelah beberapa kali editing. Kalau kita liat sesuatu lalu emosi dan gak suka, kita jadi bakal gampang komentar. Dan komentar kita pasti buruk karena apa yang kita tulis pertama kali adalah sampah yang ada di kepala kita.

Hal lain yang lebih gawat adalah, kita jadi pengin “terlihat”. Era yang ngebuat kita gampang berekspresi ini ngebuat kita jadi pengin kelihatan dan diapresiasi orang. Akhirnya, apapun informasi yang kita terima, kita pengin “pelintir” supaya perhatian orang lain tertuju pada kita. Entah itu dengan komentar lucu yang tidak nyambung, membuat komentar asal, minta pertamax, dan lain sebagainya. Apakah ini salah? Mugkin nggak bisa dibilang gitu juga.

Masalahnya, secara tidak langsung, kebiasaan ini membawa pengaruh di kehidupan nyata kita. Kita merasa pengin jadi orang yang diperhatiin. Kita jadi egois. Kita nggak mau dengerin cerita-cerita orang dan menganggapnya sepele. Padahal, satu hal yang mungkin kita tidak tahu, ketika ada orang yang ngomong “Gue mau cerita deh”, di sana ada dia yang sudah menurunkan egonya. Dia sudah jujur sama dirinya sendiri tentang perasaannya.

Dan dia,
sedang percaya sama kita.
Bukan orang lain.
Suka post ini? Bagikan ke:

7 comments:

  1. sebenarnya sih, kebahagiaan itu selalu dimulai dari hal-hal kecil, dari hal-hal yg terkadang disepelekan. Secara gak sadar juga, kayak ketika lo ngerasa gak punya siapa-siapa, itu juga udah nunjukin kalo hal kecil memanglah sangat dibutuhkan, semacam... perhatian, mungkin.

    oke bentar, nyambung gak nih?

    ReplyDelete
  2. Wow, kenapa postingan ini ditaruh di label sehari-hari, bukan di "lagi waras"? Cocok masuk label itu. Hehehe.

    Kalau lagi down banget, gue pun sama sering ngerasa sendirian. Untungnya perasaan-perasaan kayak gitu bertahannya cuma satu malam, besoknya lagi udah mereda.

    ReplyDelete
  3. Kalo di bahasa jawa itu sawang sinawang...orang yg kelihatan hidupnya lebih2 eh ternyata ada banyak kekurangan

    ReplyDelete
  4. Sy anggap ini bicara soal masalah yg dipendam yg kita anggap rahasia. Ada kalanya memang kita merasa tidak perlu menyampaikan hal itu pd org lain karena tdk mau dianggap lemah sampai rela menunggu lama org yg tepat utk bercerita dan sy mengalami itu. Sedih memang. Mungkin jika ketemu sama org dg masalah yg sama baru mau buka bukaan.

    ReplyDelete
  5. lagi curhat mendalam kayaknya :D

    ReplyDelete
  6. Baru pertama kali denger istilah muka kayak rendang,
    coklat-coklat benyek

    BUAHAHAHAHAHAHHAHAHAHAH XD

    Aku pribadi juga termasuk orang yang memendam masalah sendirian sih.
    Gapernah umbar di sosmed.
    Secara sosmed itu bukan diary yang gak bisa dibaca orang.
    Itu dibaca siapa aja wkwkwk

    palingan kalau terlalu berat, baru deh.. share dikit clue nya di blog. biar ada yang nyemangatin hihi

    soal percaya dan dipercayai aku termasuk yang punya banyak pengalaman deh. Apalagi temen-temen. rata-rata curhatnya ke aku masa wkwkwk. Entah karena bener bisa jadi pendengar yang baik, entah karena apa

    ReplyDelete
  7. Hm. Iya, sih. Semua orang sebetulnya pengin diapresiasi. Mungkin tingkatannya aja yang beda. Ada yang bisa diapresiasi sama keluarga aja udah cukup. Ada yang pengin jadi seleb. Dll.

    Kalo ada yang mau cerita, gue insya Allah selalu berusaha dengerin, sih. Bersyukurnya lagi, pas gue cerita juga ada yang dengerin. Biasanya sharing di grup nulis. Di situ tempatnya gak cuma buat berbagi soal tulisan aja. Berbagi keresahan hidup dan tempat curhatan juga bisa. :D

    Duh, ini jadi cerita di kolom komentar, kan.

    ReplyDelete

Kalo kamu suka sama tulisannya, jangan lupa untuk bantu share dengan tekan tombol sosmed di atas yaa. \:D/

Untuk yang mau main dan ngobrol-ngobrol, silakan add LINE di: @crg7754y (pakai @). Salam kenal yosh! \(w)/