Friday, May 19, 2017

Bagaimana Gue Mengatasi Rasa Takut Paling Dalam



Perasaan takut adalah salah satu musuh terbesar gue. Sewaktu SMA, gue pernah naksir diam-diam sama cewek yang hobi main basket. Gue masih ingat betapa takutnya gue untuk mengajak dia ngobrol. Berbagai pikiran buruk muncul begitu saja.

Sampai di satu titik, entah kenapa gue berpikir kalo gue belajar basket, gue akan merasa lebih percaya diri. Akhirnya gue sedikit demi sedikit nabung untuk beli bola basket. Satu hal yang baru gue tahu belakangan adalah, anak basket di kompleks gue main dengan peralatan lengkap: celana basket, sepatu basket. Bahkan ada beberapa di antara mereka yang menggunakan handband.

Mengetahui kenyataan ini, perasaan takut itu muncul kembali. Niat gue yang semula pengin main bareng mereka gue batalkan. Gue memilih untuk main sendiri setelah orang-orang ini selesai. Biasanya pukul 5 sore sampai magrib. Menggunakan kaos main dan celana pendek yang biasa dipakai untuk tidur. Karena nggak punya sepatu olahraga, gue memutuskan untuk pakai sendal jepit. Atau lebih sering nyeker tanpa alas kaki.

Sambil latihan nge-shoot, gue suka ngebayangin kata-kata apa yang akan gue pakai untuk ngobrol. Di sela-sela dribble, gue suka meyakinkan diri kalau besok, gue harus ngajak dia ke kantin. Kalau gue harus berani. Terkadang, di waktu hujan, gue suka berdiri di tengah lapangan, memegang bola basket, membayangkan kalau gue jadi orang lain dan melihat diri gue sendiri seperti dalam komik-komik basket. Agak menjijikkan memang.




Gara-gara keseringan nyeker di lantai beton, tumit kaki kiri gue lama-lama mengeras. Lalu, seiring berjalannya waktu, gue merasa kayak ada sesuatu yang tumbuh di dalam dagingnya dan menonjol keluar. Karena nggak ilang juga, akhirnya gue lapor Bokap.

‘Ini namanya mata ikan. Besok kita ke rumah sakit aja.’

‘Mata ikan?’ gue heran. Mata kok adanya di kaki.

Begitu ke rumah sakit, gue dijelasin sama dokternya. Penyakit gue ini timbul gara-gara gue jorok. Sering jalan kaki nyeker. Dan kalau nggak langsung ditanganin bakal infeksi.

Waktu itu, dibayangin gue, infeksi berarti kaki gue diamputasi.

‘Gimana? Kalau mau diproses langsung operasi sekarang aja?’ tanya dokternya ke Bokap.

‘OPERASI?’ Ini gue yang ngomong, dalam hati.

Bayangin aja, bagi gue di masa itu, infeksi berarti diamputasi. INI GIMANA OPERASI? Di kepala gue terputar adegan di mana gue tiduran di salah satu ruang bedah. Beberapa dokter menggunakan pakaian serba hijau. Lalu gambaran dokter lengkap dengan kacamata dan masker dan sarung tangan putih lagi megang gunting yang semakin lama semakin membesar.

Gue megangin tangan Bokap kenceng banget. Gak bisa ngomong apa-apa.

Bokap balik ngeliatin gue dan nanya, ‘Gimana kamu? Mau?’

Gue semakin meremas tangan bokap dengan kencang. Tangan gue basah. Mata gue mulai perih dan gue cuman diem nunduk. (iya, ini udah SMA dan iya, gue emang lemah).

Untungnya Bokap bisa ngebaca gelagat gue. Akhirnya dia minta waktu sampai minggu depan.

Semakin mendekati hari H, entah kenapa bayangan akan operasi ini semakin menyeramkan. Gue nanya-nanya ke temen deket tentang operasi, tanpa ngasih tahu kalo gue bakal operasi. Gue nyari berita tentang operasi, yang mana malah bikin gue tambah stres karena nemuin berita tentang orang yang gagal operasi dan meninggal. Iya, padahal gue operasi mata ikan di tumit. Gak mungkin ada orang yang tumitnya dibelek terus jantungnya berhenti. Kecuali pas mau ngebedah dokternya kepleset kulit pisang terus piso bedahnya nyolok dada gue.

Begitu hari H, gue baru tahu kalau sebelum dioperasi, kita akan dibius (dan baru tahu kalo di ruang bedah nggak ada kulit pisang geletak gitu aja). Bius ini bikin kita nggak berasa apa-apa. Gue yang udah megang kenceng besi ranjang kaget karena tiba-tiba dokternya bilang udah selesai. Ternyata sebentar banget dan bener-bener gak berasa sakit sama sekali.

‘Kok cepet, Dok?’
‘Iya nih. Lama nggak minum jamu. Hehehe.’

Dialog barusan hanya karangan belaka.

--



Gue baru menyadari ketakutan gue ini menurun dari Nyokap saat gue awal kuliah. Hampir mirip sama gue, Nyokap juga pernah punya benjolan. Bedanya, dia ada di payudara. Dan dia, jelas bukan mata ikan. Melainkan kanker. Rumah sakit pun udah nyuruh untuk segera operasi. Tapi Nyokap menolak.

Ketika ditanya, Nyokap seringkali cuman ketawa dan mengalihkan pembicaraan. Tapi gue tahu, jawabannya cuman semata-mata untuk ngebuat gue tenang. Gue tahu, dari sorot matanya, dia membayangkan hal-hal yang menyeramkan ketika operasi. Ekspresinya justru menjawab lebih banyak daripada omongannya. Lalu yang gue bisa lakukan adalah memegang tangannya, mengayunkannya ke sana kemari. Pura-pura membuatnya berjoget dan bercanda.

Padahal, diam-diam gue sakit juga.

Diam-diam gue membayangkan juga. Bertanya-tanya udah sejauh apa penyakit Nyokap. Kenapa dia tidak mau cerita selama ini. Apakah yang dia katakan soal kanker itu hanya benjolan biasa, atau kanker ganas yang selama ini ada banyak di berita bisa mematikan itu.

Diam-diam gue membayangkan hidup gue tanpa Nyokap. Gue tahu ini perasaan aneh dan jahat, tapi dia muncul begitu aja. Awalnya samar-samar, lalu lama-kelamaan menjadi jelas dan menyedihkan. Bagaimana tidak ada lagi orang yang masak sambil nyanyi-nyanyi. Tidak ada lagi ketukan pintu keras-keras, memaksa gue untuk makan saat masakannya selesai. Tidak ada lagi orang yang minta temenin beli telur, tapi sesampainya di supermarket malah beli telur, sayur, kecap, minyak, susu, kos-kosan. Tidak ada lagi orang yang duduk di ruang makan ketika minggu pagi, mendengarkan ceramah ustadz berbahasa jawa. Tidak ada lagi orang menyebalkan yang suka nanya masalah pribadi gue.

Dan jauh lebih menyebalkan,
saat pikiran ini datang.

Karena nggak mau operasi, akhirnya Nyokap mencari cara alternatif. Di salah satu jurnal ilmiah tertulis kalau salah satu obat kanker itu sarang semut. Sejenis tanaman yang hidup di daerah Papua. Warnanya yang cokelat dan berlubang-lubang ngebuat dia tampak kayak sarang semut.

Karena penulis jurnalnya salah satu temen Nyokap, dia ngehubungin langsung dan nanya-nanya. Pertama kali nyoba ngerebus (ketika itu kami beli yang udah bubuk, bukan yang masih mentah banget), aromanya dahsyat banget. Kayak ramuan tradisional Cina gitu. Rasanya pun pahit parah. Ritual merebus sarang semut di panci tanah liat mulai mengisi hari-hari gue.

Ajaibnya, lama kelamaan Nyokap benaran membaik. Setelah setahun nyobain sarang semut, ditambah ikut pengobatan alternatif, kondisi Nyokap berangsur normal. Ketakutan dan pikiran buruk gue pun ikut menghilang seiring dengan hilangnya benjolan di payudara Nyokap. 

--


Di saat mengetik ini, jam di dinding belakang menunjukkan pukul tiga pagi dan di meja gue ada Herbadrink sari temulawak. Gue mengangkat gelas, menyesapnya sedikit. Berharap khasiatnya yang dapat menjaga kesehatan hati bisa meresap ke hati gue.

Ketakutan gue kali ini berbeda.

Mungkin sewaktu kecil kita takut jatuh, atau takut disuntik, atau takut tabrakan saat belajar menyupir. Seiring bertambahnya usia, ketakutan kita tidak lagi sebatas hal-hal fisik. Ketakutan kita akan datang dari banyaknya pilihan yang ada. Takut salah menentukan jurusan kuliah. Takut apabila memutuskan untuk mengundur waktu satu tahun, tahun depan kita tetap tidak diterima di kampus yang diinginkan. Bagi orang yang hubungannya tidak sehat lagi, ketakutan untuk keluar dari hubungan bisa menjadi masalah tersendiri. Semakin kita dewasa, kita justru semakin takut bermimpi.

Dan yang paling gue takutkan saat ini adalah,
tidak bisa jujur dengan diri sendiri.

Gue adalah orang yang sangat takut untuk berbicara. Gue membutuhkan energi yang besar untuk mengungkapkan apa yang ada di hati. Kesulitan gue dalam berkomunikasi semata-mata karena gue takut salah ngomong. Gue takut kalau ternyata, orang itu tidak suka dengan apa yang gue katakan. Kalau gue mengucapkan hal tentang Jepang, misalnya. Gue selalu membayangkan apa yang ada di kepala dia tentang gue. Apakah dia akan menyangka gue kekanakan karena suka anime? Ataukah dia justru senang karena sebenarnya dia juga suka hal berbau Jepang?

Itulah kenapa, gue selalu sulit jujur dengan diri sendiri. Gue selalu berusaha membicarakan hal yang menyenangkan bagi orang lain.

Dan seringkali, hal ini menyiksa gue.

Ini menyiksa karena semakin lama, gue jadi menumpuk cerita-cerita yang gue punya. Dan ketika tumpukannya terlalu tinggi, gue butuh seseorang untuk bicara. Sayangnya, ketika itu terjadi, gue baru sadar kalau gue tidak punya siapa-siapa.

Gue tidak punya siapa-siapa untuk mendengar cerita gue yang sebenarnya. Cerita gue, bukan sebagai Adi Si Tukang Cengengesan. Bukan sebagai Adi yang hobi ketawa-ketiwi. Karena seringkali yang gue dapatkan setelah cerita justru cemoohan soal gue yang dianggap tidak seperti biasanya. Gue yang dianggap tidak asik lagi karena sok serius.

Dan itu menyakitkan.

Itu menyakitkan dan membuat gue semakin takut untuk mengeluarkan cerita-cerita yang sebenarnya. Dan pada akhirnya, putaran ini berlangsung terus dan terus dan membuat gue semakin tenggelam dalam pikiran buruk gue sendiri.

Gue mengambil gelas, meneguk herbadrink sari temulawak perlahan-lahan. Merasakan cairannya yang sedikit demi sedikit menghangatkan badan.

Mungkin untuk menghilangkan perasaan takut ini gue perlu suntikan obat bius seperti saat gue sekolah dulu. Atau melawan pahitnya dengan minum ramuan tradisional seperti yang dilakukan Nyokap. Atau mungkin, yang perlu gue lakukan adalah berterus terang. Menyelesaikan tulisan ini. Lalu menekan tombol publish.

--

*) tulisan ini dipersembahkan oleh herbadrink sari temulawak




Herbadrink Blog Compeition: Life Style Story with Sari Temulawak
Suka post ini? Bagikan ke:

22 comments:

  1. seger ya mas, kebetulan saya sukanya minum yang hangat, karena dulu pernah didiagnosa kena gangguan hati jadi sampai sekarang masih rutin minum herbadrink sari temulawak tapi saya minum yang sugar free mas, membatasi konsumsi gula juga biar sehat. hehe

    ReplyDelete
  2. Pengen nyoba minum itu karena ternyata bisa memelihara kesehatan hati. Semoga hati ini bisa diobati juga. #ciaaaaa

    Anxiety, gue juga sering gitu. Gak tahu mau cerita kesiapa. ujung-ujungnya ya nulis di blog lainnya (tumblr) cukup sekedar mengeluarkan apa yang ada di kepala.

    ReplyDelete
  3. "Gue yang suka ketawa, loncat ke sana ke sini nggak jelas itu, bukan gue yang sebenarnya. Itu yang gue lakukan untuk membuat orang-orang di sekitar gue senang."
    kok sama he, mas. wqwq
    aku juga gitu orangnya. ngga apa2 dibilang kayak orang bego beneran juga, yang penting mereka seneng.
    aku ngerasa kayak punya banyak keprbadian malah.

    yaiks, dari dulu nggak suka minum jamu-jamuan gitu. udah jelas yang namanya jamu dari dulu itu pait. buyung upik doang yang mendingan.

    ReplyDelete
  4. Dari yang mau nembak cewek, tiba-tiba kena mata ikan..
    Aku pernah kena mata ikan dan g sampe oprasi buat ngilanginnya, soalnya ya itu takut. Tapi untungnya saran dari temen yg udah mata ikan duluan, manjur dan berhasil mengusir si mata ikan dari kaki.

    Kita setipe lho, sok sok rame, cengagas cengenges, tapi sebenernya susah ngungkapin isi hati. Tapi aku baik-baik aja, menerima kekurangan diri sendiri dan berdamai dengannya. Karena tiap manusia itu unik.

    ReplyDelete
  5. lagi ngetren banget nih minuman kayaknya hahahaha

    ReplyDelete
  6. Keren kak, reviewnya tentang Tumbahan Sari Temulawak nya, sangat bermanfaat.

    ReplyDelete
  7. Aduh, Adi. Gak tau mau komen apa. Kalo kata Haris Hirawling yang Hehehe Cnd itu, "Bagus!"

    Sebagian keresahan gue soal ketakutan itu terwakilkan. Apalagi yang ngebahas soal Nyokap. Pengin langsung meluk ibuku. :)

    ReplyDelete
  8. Aduh Adi enggak tau mau komentar apa. tapi kalo kata si hirawling pasti cuma bilang "Bagus"

    Tapi, untuk persoalnya emak, kita sehati.

    ReplyDelete
  9. Kalau mau cerita, room chat-ku terbuka lebar ya, Di.

    ReplyDelete
  10. Bagus.

    Adi bisa cerita ke Rido kalau mau jujur tentang diri sendiri. Rido adalah teman yang baik. Adi juga, saya yakin, anak baik-baik. Jadi, kalian cocok jika saling membuka diri untuk berbicara dari hati ke hati.

    Nais gaes.

    ReplyDelete
  11. Ketika kamu ngerasa gak punya siapa-siapa, sehari 5x setidaknya Tuhan bersedia dengerin cerita-cerita Adi yang bukan anak cengengesan. Hehe sobijak tapi begitu nyatanya.

    Kalau aku pribadi sih, ada beberapa temen yang dirasa bisa dipercaya untuk cerita hal2 serius, gak sering sih tapi setidaknya ada yang dikeluarin (dan semisal itu penting), selebihnyaaaa disimpen sendiri dan seperti biasa kaya kamu, cengengesan aja depan orang lain mah hehehe.

    ReplyDelete

Kalo kamu suka sama tulisannya, jangan lupa untuk bantu share dengan tekan tombol sosmed di atas yaa. \:D/

Untuk yang mau main dan ngobrol-ngobrol, silakan add LINE di: @crg7754y (pakai @). Salam kenal yosh! \(w)/