Friday, February 10, 2017

Kembali Jadi Favorit

*SPOILER*

Setelah beres nulis dan baca ulang, gue baru sadar kalau tulisan ini banyak bahas soal agama. Masalahnya, gue merasa kalau agama adalah salah satu topik yang sensitif untuk dibahas. Jadi sebelumnya gue harap tidak ada di antara temen-temen yang salah tangkap dan tersinggung dengan tulisan ini. :)

--
Sejak kecil, entah kenapa, saya merasa hari jumat adalah hari yang spesial. Saya ingat di kelas enam SD, selepas jam 11 siang, satu kelas cowok selalu lomba membereskan kelas. Menaikkan kursi ke atas meja. Merentangkan gulungan karpet hijau sepanjang koridor. Saat itu, salat jumat sekolah kami dilakukan di koridor kelas enam. Jumat adalah satu-satunya hari dalam seminggu yang membuat saya punya rasa kebersamaan.

Memasuki SMP, pikiran saya akan hari jumat bergeser. Saya baru sadar bahwa di hari itu… kami pulang cepat. Salat jumat menjadi “jam pelajaran” terakhir kami. Tentu saja saat itu saya mulai bandel, tidak mendengarkan ceramah, dan memilih untuk dulu-duluan mencari tiang untuk senderan.

Jumat adalah hari favorit saya.

Sayangnya, belakangan ini saya merasa hari jumat bukanlah sesuatu yang saya senangi. Saya merasa, hari jumat, akhir-akhir ini menjadi kian panas. Segala carut marut politik ini merusak kesukaan saya terhadap hari jumat. Maka tadi siang, saya berjalan ke masjid dengan langkah lemas. Langit sangat gelap, dan saya mencari tempat kosong di pelataran masjid.

Saya duduk dengan malas. Sambil memejamkan mata, saya berharap ceramah hari ini lebih baik dari belakangan. Begitu menyebalkan mendengar orang yang teriak di atas mimbar, menyuruh kita melakukan sesuatu. Sementara kita hanya bisa diam, duduk, mungkin menguap, sambil mengumpat di dalam hati, “Kenapa sih gaya berteriak orang-orang ini selalu sama? Intonasinya? Penekanan kata-katanya? Kheitha… Sebhagay umat moshlem! Blablabla…”

Bukankah seharusnya orang itu tahu bahwa kami, makmumnya, yang hadir di hari jumat ini kebanyakan orang dewasa? Ada yang penuh masalah karena pekerjaannya sedang kusut. Mungkin ada yang baru putus cinta. Mungkin ada yang lagi bingung menentukan jurusan pilihan kuliahnya. Dan bukannya seharusnya orang itu tahu bahwa kami membutuhkan pencerahan, bukan teriakan atau perintah.

Atau mungkin orang itu selama ini merasa baik-baik saja karena tidak ada yang memberi masukan? Kita semua tahu bahwa khotbah jumat adalah ceramah yang berlangsung satu arah. Jadi apapun yang dia katakan, kami tidak punya kuasa untuk membantah. Well, selain karena aneh kalau jadinya dua arah: begitu dia bilang, ‘Apa jadinya jika kita terus berbuat dosa?!’ lalu ada seorang makmum mengacungkan tangan dan berseru, ‘Masuk neraka, Pak!’ lalu disambar lagi, ‘YAK! DUA JUTA RUPIAH UNTUK ANDA!!’

Tapi sejujurnya, saya masih merasa kalau orang-orang yang naik mimbar ini seharusnya dievaluasi. Tentu cukup dengan berdiskusi bersama teman-temannya, bukan dengan penjurian seperti Indonesian Idol. “Kamu tadi bagus pas ceramah, tapi coba beranikan untuk tatap mata makmum.” Atau “SAMPAI BERTEMU DI JAKARTA! MANTAP! John Mayer-nya Indonesia ini…”

Kalau saya di suatu hari punya kesempatan untuk menjadi khatib, mungkin saya akan mencari tahu, apakah dengan memilki mimbar dan mikropon, saya merasa berkuasa atas orang-orang yang mendengarkan? Apakah dengan memiliki kedua benda itu, saya jadi boleh berbicara seenaknya? Caranya semudah mendengarkan isi hati. Tidak perlu menunjuk salah seorang lalu berkata, “Ciyeee botak, pasti jago nyundul nih… Eits, nggak boleh ngomong.. Dosa lho.. Dosa.. Hihihi..” Khotbah malah kayak Kuis Dangdut. Hence, jika tatapan mata ingin membunuh, tangan yang hendak melempar saya pakai sendal, dan punggung yang menyender karena capek dan ngantuk itu membuat saya merasa lebih hebat. Mungkin ada saraf di kepala saya yang putus.

Suara mikropon menyadarkan lamunan saya.

Perasaan saya masih sama. Berpikir bahwa orang ini akan menggunakan intonasi yang itu-itu lagi. Berceramah dengan berteriak lagi. Melakukan perintah menggebu-gebu lagi.

Tapi saya salah.

Sebelum memulai khotbahnya, orang ini menyuruh merapatkan barisan. Mengisi saf yang kosong supaya orang yang berada di luar bisa masuk. Supaya tidak ada satupun di antara kami yang kehujanan ketika salat nanti.

Dan supaya, kami bisa mendengar suaranya yang lembut.

Ia membuka khotbahnya dengan sebuah pertanyaan sederhana: jika banyak dari kita yang tahu bahwa memakan babi dan anjing adalah perbuatan dosa, lalu bagaimana dengan memakan bangkai manusia sendiri?

Dia diam sebentar, suasana menjadi tenang. Tanpa menunggu adegan jawab, ‘Dosa, Pak!’ dan ‘DUA JUTA RUPIAH UNTUK ANDA!’ benar-benar terjadi, dia melanjutkan. Kali ini lebih pelan, ‘Kalau tahu jawabannya, kenapa masih banyak dari kita yang melakukannya?’

Saya masih memejamkan mata saat dia bertanya mengenai kita yang masih senang berburuk sangka. Soal kita yang senang membicarakan keburukan orang lain, daripada menyebarkan kebaikannya. Soal kita yang suka mencaci orang lain.

‘Kenapa?’ dia berbisik pelan. ‘Kenapa kita merasa sok suci dibandingkan orang lain?’

Saya membuka mata. Dan si orang ini, masih dengan intonasi halus, mengatakan bahwa dia, secara pribadi, bertanya apakah dengan menjadi ulama, atau kyai, atau ustaz, kemudian boleh merasa suci? Kenapa kita merasa, dengan memiliki pangkat itu, boleh menyebarkan aib orang lain. Kenapa kita, yang merasa lebih tinggi derajatnya, boleh memfitnah orang lain. Kenapa kita, bisa merasa lebih tinggi dari yang lain?

Suasana tiba-tiba sunyi.
Beberapa detik kemudian, saya menangis.

Saya bukan ustaz, atau ulama, atau orang religius, tapi entah kenapa dada saya sesak. Pandangan saya mulai kabur terhalang air mata. Aneh rasanya mendengar pertanyaan itu. Satu pertanyaan sederhana, yang, seketika membuat saya merasa jahat. Aneh rasanya lamunan saya beberapa menit yang lalu, diucapkan seseorang langsung di atas mimbar. Aneh rasanya buat saya, yang menduga hari ini akan mendapat ceramah berupa teriakan seperti biasanya, justru disodorkan pertanyaan seperti ini.

Kenapa kita begitu jahat?

Gerimis mulai turun perlahan-lahan. Saya, tanpa perlu melihat wajah orang-orang lain, sadar bahwa saya bukan satu-satunya orang yang menangis.

Sepertinya, mulai hari ini
Jumat kembali jadi hari favorit saya.
Share:

13 comments:

  1. masyaallah, hampir sama kaya saya pas jumat kemaren bang. lumayan "mak deg" kena di ati. sempet berkaca-kaca ni mata, tp ngga sampe nangis sih ^^

    materi kotbah jumat di masjid yg saya datengi kemaren salah satunya ttg sholat berjamaah. pak ustadz yg diatas mimbar sempet menyampaikan "kenapa kita sering malas-malasan buat pergi ke masjid, padahal setiap 1 langkah kaki kita ke masjid, allah akan mengangkat derajat kita 1X, memberikan 1 pahala dan menghapuskan 1 dosa."

    kadang kita merasa udah paling bener, tp kalau ada nasehat 1X yg langsung kena ke ati gitu juga rasanya jadi "manusia yg paling hina"

    ReplyDelete
  2. Gara2 politik nih ya khutbah malah jadi aneh. Untungnya di Balikpapan ustadnya ceramah pake materi yg netral2 aja, gak sok up to date dengan berita terkini.

    Harusnya pas ustadnya nanya 'kenapa?' Lo sautin, 'pertanyaan bagus!'

    ReplyDelete
  3. Beruntung sekali lu membagikan tulisan ini dan gue membacanya. Topik ceramah di masjid lu itu bikin gue merenung nih.

    Di masjid deket rumah atau deket kantor, ceramahnya masih sama. Pemimpin kafir-kafir terus. Sedih euy, tapi ya pas dia ceramah gak mungkin gue teriak, "HALAH TELEK PITIK!" :(

    ReplyDelete
  4. Apa mungkin para khotib itu minim konten ya ? padahal banyak banget hal lain yang bisa dibahas dan dibuat lebih menarik.

    ReplyDelete
  5. Khotib sekarang nyari topik buat khotbah mungkin ngambil dari berita media sosila yang lagi viral, udah gitu berita yang dibaca cuma dari satu arah/pihak doang.

    gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga~
    agama dijadikan tameng buat berpolitik. bener-bener nga mau modal ya "mereka"

    mengatas namakan seluruh umat, mengatas namakan ulama diseluruh dunia teriak-teriak minta buat bunuh orang kafir.

    sekalian aja kalau mau anti kafir, itu yang kerja dikantor yang punya atasan bukan muslim, mending resign. anti kafir kok setengah-setengah, kayak abg labil.

    ReplyDelete
  6. Bedanya khotib di pulau jawa dan kalimantan mungkin ini. Selama di Samarinda gue gak pernah nemuin khotib yg terlalu menggebu2 membahas berita terbaru, paling materi yg berdekatan dengan tanggal dan bulan aja. Nah, kalo di jawa lain lagi. Di sini hidup terasa berbeda keknya hahaha

    ReplyDelete
  7. Ikut mellow bacanya. Menurut aku malah ceramah lebih masuk kalau disampein secara halus dengan suara yg lembut, kalau ceramah sambil teriak-teriak yg ada serem, bukannya masuk terus dijadiin renungan mendingan balik gara-gara kesel duluan.

    ReplyDelete
  8. Beruntungnya dapet siraman rohani yang ngena dihati :)
    kalo dimasjid rumah gue, pas ceramah microfonnya dimatiin heheh
    jadi gue enggak tau isi ceramahnya :)

    ReplyDelete
  9. Sejak kapan si adi berubah pake kata ganti saya?
    Oiya lupa ini postingan untuk kategori 'lagi waras'
    Pesan moralnya adalah meski suatu saat kita udah jadi 'orang' entah itu kyai, publik figur, tokoh masyarakat, dll, kita ga boleh ngehimpun massa ato follower2 kita buat ngejudge sesuatu yes,

    ReplyDelete
  10. Ceramah yg antiklimaks Di. :D
    Aku sendiri lebih suka ceramah yg bikin jamaahnya untuk berpikir. Bukan dengan seruan perintah berintonasi tinggi.

    ReplyDelete
  11. Wah pengetahuan anyar nih. Baru denger ada tipikal ceramah kayak gitu. Eh atau sayanya aja yang gak merhatiin ya? Ha ha bisa jadi.

    ReplyDelete
  12. Gue di sekolah selama ini jarang dapet khutbah yang isinya kayak yang dikeluhin orang-orang. Apa selama ini gue tidur terus pas khutbah? Entahlah.

    ReplyDelete
  13. Ini tulisanmu Di? Adem ya bacanya kalau Adi lagi waras gini :)

    ReplyDelete

Kalo kamu suka sama tulisannya, jangan lupa untuk bantu share dengan tekan tombol sosmed di atas yaa. \:D/

Untuk yang mau main dan ngobrol-ngobrol, silakan add LINE di: @crg7754y (pakai @). Salam kenal yosh! \(w)/