Saturday, December 31, 2016

Kembali Sembarangan


It’s been a while since the last post.

Mau posting ngasal kembali deh. Seperti hari libur biasanya, gue kembali tepar. Beneran deh. Kebiasaan ini tuh kok ya makin lama makin nyebelin. Kayaknya badan gue udah disetting dan seolah tahu, ‘Wah, besok mau libur seminggu nih. Sakit ah.’ Aneh. Bener-bener aneh.

Gue sendiri masih ada beberapa utang postingan. Mulai dari Yogyakarta Story yang harusnya udah kelar sebelum libur Natal kemarin, dan postingan bareng temen-temen Wahai Para Shohabat (Daus, Iksan, Yoga) tentang Shohabat Award 2016. Berhubung udah lama gak posting sembarangan kayak gini, bisa lah diundur beberapa hari lagi (banyak alasan) :p.

Gue baru aja beres nonton Stand Up Juru Bicara-nya Panji di tv, lalu golar-goler sebentar sampe pukul 12 malam. Karena ngerasa udah lama gak nulis blog, akhirnya malah masak kopi dan bikin tulisan ini. Gatau deh ini mata bakal melek sampe kapan. Nais ide, Di.

Pada tahu berita soal pilot mabok itu kan ya? Itu sadis gak sih. Gue pertama kali tahu aja kaget setengah modar. Pas liat videonya, si pilot masuk ke pemeriksaan barang sambil jalan sempoyongan. Anehnya, setelah diperiksa, si pilot ini tidak terbukti menggunakan alkohol. Apakah ini berarti jalannya yang sempoyongan membuktikan bahwa… bumi itu tidak datar?

Nyokap, begitu tahu berita ini langsung panik. Dia keluar kamar sambil bawa bantal,

Nyokap: Dek, kamu tahu gak berita yang pilot itu?
Gue: Tahu, Bu.
Nyokap: Sadis ih! Untung aja jaman sekarang hape udah canggih! bisa langsung ngerekam di mana aja!
Gue: Maksudnya?
Nyokap: Iya, jadi kan videonya bisa langsung ketahuan…

Ya bener juga sih. Jaman Nyokap dulu hape cuman buat teleponan dan SMS. Jaman di mana orang mau transfer lagu harus dempetin hapenya lewat infrared. Makanya agak ga asik kalo ngeliat orang mabok mau nyetir pesawat malah dihadang, ‘Heh! Kamu mabok ya? Tukeran lagu yuk.’

Gue: Iya juga sih..
Nyokap: Serem ya. Udahlah, paling aman tuh naik kereta.

Tentu ini benar, wahai Ibundaku tercinta. Mau masinisnya mabok Momogi juga rel keretanya tetep gitu-gitu aja. Tapi kan bukan berarti masininsnya boleh mabok. Gimana kalo gara-gara mabok, keretanya gak berhenti di stasiun? Yang lebih ekstrem, gimana kalo keretanya... jalan mundur? Niatnya dari Jakarta ke Jogja, eh malah sampe Cilegon. Kan serem juga.

About the year…

Tahun ini kayaknya bisa dibilang merupakan tahun yang paling… brutal. Tahun ini adalah tahun di mana gue paling kurang tidur, paling sering sakit. Adanya tanggung jawab pekerjaan juga bikin gue jadi nggak sebebas jaman kuliah dulu. Di sisi lain, tahun ini juga menyenangkan karena di 2016 gue banyak banget belajar tentang hal-hal baru. Temen-temen blogger juga makin rame dan seru-seru (padahal makin jarang blogwalking). Gara-gara ada akun LINE, gue malah jadi dapet banyak temen baru dari orang yang suka baca (dan menyesal) blog ini. And finally, I really enjoy this year dengan segala kekampretannya. So I hope you do too.

Soal resolusi, terus terang gue rada-rada lupa resolusi tahun ini ada apa aja. Muahahaha. Well, at least kayaknya gue masih ada di ‘track’ yang bener deh. Dari awal tahun masih berusaha belajar menulis lebih baik lagi, cari-cari tahu tentang industri kreatif, nyoba nulis di wattpad, dan lain sebagainya. Mungkin ada beberapa hal yang belum kesampean kayak nyoba fotografi  dan lain lain tapi gakpapa. Let’s do that in 2017! GROAAR!!

Tiap orang punya pandangannya sendiri-sendiri terhadap resolusi. Ada yang merasa ini momen yang tidak penting, ada juga malah yang menunggu-nunggu momen ini buat berdoa. Buat gue sendiri, ngisi resolusi itu sesederhana mikirin “khayalan” kita aja sih. Tahun baru jadi momen gue buat ngayal-ngayal sambil nyengir sendirian di tengah malem. Curhat sama diri sendiri (dan Tuhan pastinya) tentang kepengenan kita. Kayak cewek pas lagi jalan di mal terus gak sengaja liat dress bagus dan ngomong dalam hati, ‘Ih, kok kayaknya lucu deh kalo gue punya gaun itu.’ Tentu isi doa gue gak persis kayak gitu. Gue kan pengennya rok (lho?).

Here’s my wishlist di 2017:

1) Gue mau nabung. Setelah sekian lama gagal dengan terhormat, tahun 2017 gue harus bisa belajar mengatur duit dengan lebih baik. Gue. Harus. Bisa. Nabung.

2) Gue pengin keluar negeri. Entahlah. Sebagai orang yang belum pernah naik pesawat (ya, ketawa aja gakpapa) tahun depan gue pengin nyoba keluar negeri. Bisa yang deket-deket kayak Singapura atau yang jauh sekalian kayak London atau Jepang. Dan gue janji sesampainya gue di sana, gue bakal… ngatain orang setempat pake bahasa indo. Muahahaha (sesat).

3) Pengin punya kamera segera dan belajar fotografi.

4) Pengin ngekos. Hahaha. It sounds really silly tapi gatau kenapa gue pengin aja. Hidup sendirian gitu kayak di film-film kok rasanya keren abis. Bergumul dengan segala suka-duka sebagai anak kos kayaknya bakal menyenangkan.

5) Gue mau lebih sering olahraga. Ini kayaknya bakal jadi salah satu concern gue di tahun depan deh. Gue. Kudu. Sehat. Gila aja ini badan dipake kerja terus sekalinya libur langsung drop. Gue belum tahu sih olahraga apa yang cocok sama kegiatan gue, tapi yang jelas gue mau hidup gue lebih sehat. Yosh!

6) Gue pengin punya YogaBook. Hahahah. Kan katanya kalau kita mau sesuatu, harus jelas dan terukur ya supaya Allah ngasihnya bisa lebih “gampang”. Jadi gue sebut merek aja sekalian. Tapi ya bener juga sih. Kalo kita doanya terlalu umum bisa jadi Allah malah nanya balik: “Ya laptop apa, kampret?”

7) Honda Jazz deh sekalian ya Allah. (mulai nggak tahu diri. Hehehehe).

8) Di atas itu semua, gue pengin orang-orang di sekitar gue tetap sehat dan bahagia dan gue bisa bikin mereka bangga dan seneng dengan kehadiran gue. 

There are mine. What about you?
Suka post ini? Bagikan ke:

Sunday, December 18, 2016

Yogyakarta Story - Prolog


Hal pertama yang ada di kepala kita setelah memesan tiket perjalanan adalah membayangkan identitas orang di sebelah kita. Apakah dia laki-laki atau perempuan. Bagaimana wajahnya. Berapa umurnya. Seperti apa aroma tubuhnya. Seberapa jauh perjalanannya. Di mana tujuannya.

Hari itu, gue sedang tidak ingin membayangkan siapapun. Gue hanya ingin merenung sepanjang perjalanan Jakarta - Yogyakarta. Meletakkan ransel hitam di kursi sebelah kanan. Diam di pinggir jendela bus, menatap pantulan diri gue sendiri, di balik gelapnya sisi jendela.

Mungkin orang-orang akan menganggap ini seperti dalam Eternal Sunshine of the Spotless Mind, atau bab Di Balik jendela buku Cinta Brontosaurus. Padahal, gue sama sekali tidak ada masalah sama percintaan. Gue hanya merasa, semakin kita bertambah umur, kita jadi sadar bahwa pilihan yang kita ambil akan menentukan masa depan kita. Ke kiri atau ke kanan. Karir atau pernikahan. Rumah atau mobil. Kebahagiaan atau kemapanan. Bagaimana ketika pilihan-pilihan itu kita tentukan, semuanya akan berpengaruh pada langkah yang diambil. Besar atau kecil. Sekarang atau nanti.

Dan gue pikir, 12 jam ke depan akan jadi waktu perenungan yang baik.

Gue ingin memikirkan,
apa yang harus gue lakukan ke depannya.

Sayangnya, perempuan setengah baya dengan kerudung pink dan kardus di tangannya membuat rencana gue gagal. Dia meletakkan kardus di lantai kursi sebelah kanan gue. ‘Mau ke mana?’

‘Jogja. Hehehe.’ Gue lalu memalingkan wajah ke kiri. Memasang headset.

Dari jendela, samar-samar terlihat bayangan si ibu ini yang sedang mengobrol dengan perempuan seumuran gue di kursi seberang kanan. Di belakangnya, puluhan mobil berderet diam. Jalan tol Jakarta sore kenapa macet gini. Apesnya lagi, lubang AC di bagian atas kursi gue bolong dan anginnya tepat mengarah ke kepala. Akhirnya gue memasang hodie, senderan di jendela, berusaha untuk merem.

Tapi gak bisa.
Akhirnya kembali nengok ke ibu di samping.

Gue paling gak suka situasi awkward gini. Duduk lama berduaan dengan orang yang sama sekali asing rasanya aneh banget. Mau ngapa-ngapain jadi serba salah. Mau ngajak ngobrol kesannya sok asik, tapi kalo diem aja garing banget.

‘Anak saya seumuran kamu, lho.’ Si ibu membuka pembicaraan. Untung aja.
Gue mematikan music player di hape. ‘Wah, masa?’
Si ibu mengangguk mantap. ’Iya. 26 tahun. Baru aja nikah bulan kemarin.’

Gue melihat raut wajah yang aneh dari si ibu. Seperti ingin berbicara sesuatu, tetapi menunggu dipancing. Akhirnya gue gajadi blang: ‘BODO!’ dan lebih memilih untuk kembali mengatakan, ‘Oh ya?’

‘Iya. Kamu udah nikah belum? Saya ini seumuran ibu kamu kan ya?’
Gue memerhatikan wajahnya lebih dalam. ‘Iya deh kayaknya. Ibu saya lima puluhan sih.’
‘Saya belom lima puluh!’ Si ibu nyamber cepet.

Gue kaget dengan respons si ibu. Dan menyesal kenapa beberapa detik sebelumnya gak nyamber: ‘SAYA JUGA BELOM DUA ENEM!’ Akhirnya gue bilang, ‘Saya belum nikah sih, Bu.’

Setelah mendengar jawaban gue itu, si Ibu ini tampak bersemangat (semangat pengin cerita, bukan mau nikahin gue). Dia kemudian bercerita panjang lebar tentang anaknya yang lulusan ITB. Mendapat beasiswa semasa kuliahnya. Bekerja di salah satu perusahaan minyak ternama. Anak sulungnya yang dia kenal penurut, dan jadi berubah semenjak mengenal perempuan pilihannya.

Gue sendiri agak kaget karena si ibu berani cerita hal-hal pribadi kayak gini ke gue yang bahkan namanya aja dia gatau. Atau mungkin dia memang sudah memendam ini sejak lama, tapi tidak tahu harus menceritakannya ke mana. Lagipula, itu kan enaknya cerita sama orang yang kita tidak kenal. Sehabis cerita, lega, dan hilang begitu saja seiring dengan perpisahan nanti.

Si ibu ini kemudian menceritakan tentang si perempuan ini. Tentang ia yang lulusan UNJ. Tentang ia yang sering datang ke rumah dan terus menerus minta dilamar. Bagaimana ia membuat si ibu marah untuk pertama kalinya. Bagaimana pada akhirnya, si ibu tidak tahan untuk berada di ruangan resepsi anaknya, dan memilih untuk pulang sebelum acara berakhir. Bagaimana ia punya dilema besar karena di satu sisi membencinya, tapi di sisi yang lain, anaknya begitu menyayanginya.

Mendengar cerita si ibu, gue malah jadi mengingat-ingat sendiri. Sejak jaman dulu, untungnya nyokap selalu oke-oke aja sama (mantan) pacar gue. Gue ga bisa ngebayangin apa yang akan terjadi kalau hal ini terjadi di hidup gue. Harus memilh di antara dua cewek yang bener-bener gue sayangin nantinya: nyokap dan istri.

Tentu teorinya gampang. Gue gamau dikutuk jadi batu, jadi milih nyokap. Tapi kenyataannya? Oh, gue bahkan gak sanggup buat sekadar mikirinnya.

Cerita ini terus berlanjut sepotong demi sepotong. Seperti rangkaian puzzle kecil-kecil yang gue susun sendiri. Terkadang cerita berhenti karena kami harus turun untuk makan malam. Terkadang, ceritanya terputus karena gue yang tidak tahu harus merespons apa, dan memilih untuk mengangguk saja.

Sampai pukul lima pagi, si ibu ini bersiap turun di Purworejo.
Sambil mengemasi barang-barang, dia bilang, ‘Kamu boleh percaya atau enggak ya, tapi sukses atau hancurnya seseorang itu gara-gara cewek lho.’

Waduh…

(bersambung)



Suka post ini? Bagikan ke:

Tuesday, December 6, 2016

3 Cara Supaya Main Twitter Jadi Seru Lagi



Beberapa orang bilang kalau Twitter sekarang udah tidak seseru jaman dulu. Alasannya beragam. Mulai karena muncul berbagai media sosial lain, orang-orang yang lebih banyak mengirimkan link, sampai gosip mengenai pengguna Twitter yang katanya terlalu serius.

Di sisi lain, untuk seorang pengguna Twitter, gue adalah orang yang cukup terlambat. Gue sama sekali tidak punya bayangan Twitter zaman dulu yang seru itu kayak gimana. Seingat gue, serunya Twitter zaman dulu adalah ketika kita balas-balasan menggunakan RT sampai ada yang mention: ‘Alay lo!’

TAPI JANGAN KENTUT!

*tiba-tiba ngamuk*

Buat yang masih punya akun twitter, kita masih bisa seru-seruan. Berikut salah 3 cara supaya main Twitter jadi terasa seru lagi:

Satu. Cari Twit Lama

Karena banyak yang mengatakan kalau Twitter di jaman dulu itu seru, kenapa enggak kita buka-buka twit di masa lalu? Ada dua cara untuk melihat twit masa lalu. Yang pertama adalah dengan mengisi “from:namaakun since:tahun-bulan-tanggal until:tahun-bulan-tanggal” di kolom pencarian. Contoh: from:keribakeribo since:2012-03-01 until:2012-04-01. Buat yang suka gonta-ganti nama akun, gak masalah. Kamu bisa tetap menggunakan nama akun twitter saat ini. Kenapa gue bisa tahu? Tentu hal itu disebabkan oleh… barusan gue nyobain. Sementara cara lainnya adalah dengan menggunakan keyword. Tinggal tulis di kolom pencarian “from:namaakun (spasi) keyword)” Contoh: from:keribakeribo kentut.

Berikut beberapa twit jadul gue:




Tanggapan:
SUMPAH ITU DIBAJAK!

Dua. Menggabungkan Twit

Kalo kamu bingung harus ngapain, coba main ke Tweet Mashup. Kamu bisa ngegabungin twit-twit kamu dan orang lain. Ini jelas punya beberapa keuntungan: 1) Kamu gak pelru mikir mau ngetwit apa, 2) Kalo pas nyoba ngegabungin sama akun twitter gebetan dan ternyata twitnya cocok, kita bakal cengar-cengir sendirian.

Adapun kerugian menggunakan cara ini adalah: Berasa gak punya temen.

Berikut beberapa sampel twit gabungan gue:



Tanggapan:
GIMANA GAK NYENGIR KALO COCOK GINI KAN?


Tanggapan:
KENAPA KOMIK GUE JADI NYAMBUNG KE ESKRIM?



Tanggapan:
Nah ini…

Tidak cuma itu. Akun yang kita kombinasikan akan berpengaruh terhadap ‘seberapa kerennya kita’. Jadi, pilihlah akun yang akan membuat kamu ‘naik level’. Contohnya seperti ini:





Tanggapan:
Gagah kan?

Tiga. Prediksi

Kalo kamu males mikir dan gatau mau ngegabungin sama siapa, sebaiknya coba gunakan your next tweet ini (dan gue puk-puk karena kayaknya hidup kamu sedih banget). Dengan menggunakan situs itu, kamu gak perlu repot-repot mikir mau ngetwit apa. Karena semuanya udah dibantuin. Mantab jiwa! 




Gimana? Asoy kan? Gue udah nih. Coba dong kalo kamu jadinya kayak gimana..

Suka post ini? Bagikan ke:

Thursday, December 1, 2016

KOMIK STRIP WAHAI PARA SHOHABAT (BAGIAN 2)



Beberapa hari lalu gue baru aja ngasih tahu soal projekan komik #WahaiParaShohabat. Mulai dari karakter-karakternya dan satu teaser. Nah, untuk yang belum tahu, udah ada tiga komik yang dipublish di blognya Yoga ini. Ceritanya sih kita emang mau bergiliran gitu. Nanti juga beberapa strip akan dimasukin ke blognya Daus dan Iksan. Karena menurut kita emang itu cara tergampang sih.

Setelah beberapa hari ditampilin di blognya Yoga. Ternyata projekan komik ini cukup mendapat berbagai respon. Biar gak ribet, gue bawa ke sini aja deh beberapa komentarnya:

ICHA HAIRUNNISA
November 29, 2016 at 2:19 PM
Oh. Jadi si Adi itu sangat polos ya di dunia nyata ya, Yog? Paling polos di antara kalian, selain yang paling.... tua. Okay noted.

AKU INGIN MEMBAKAR KARAKTER DAUUUUUUSS!!!!!! Ngeselin abis bangke. Apalagi komik yang ketiga. Itu komik ada jump scare-nya kayak film horror. Dan jump scare-nya pas di ending. Kan bajingak. Fotonya serem anjir. 

RAHAYU WULANDARI
November 29, 2016 at 2:11 PM
Wkakakakaaa bang daus terbully. Kasian.
Eh itu yang terakhir foto apaan. BAKAR AJA UDEH!

Komiknya lucu. Tokoh-tokohnya juga lucu.
Btw, ayam sakit kenapa ekspresinya ngeselin mulu ya. Kaya mara mara selalu. Kaya lagi PMS gitu.

Terus berkarya WPS! Uhh yeaaah

NADIAH RACHMANI
November 28, 2016 at 10:27 PM
TAEK, KOMIK STRIP YG TERAKHIR MAU DIBAKAR AJA BAWAANNYA, POTO LEGEND.

Si ayam sakit kok ngeselin ya? Bawaannya marah-marah mulu kaya emak-emak kekurangan uang

Wuaahhhh sukses terus proyek komik stripnya jangan mandek ditengah jalan, kasih suasana baru buat kehidupan perbloggeran, eaakk...

Tanggapan:
Tolong tenang. Apa salah Daus? Kenapa fotonya mau dibakar? Udah pada gila apa! Bayangkan perasaan orangtua Daus kalau fotonya dibakar. Bangga pasti (lho?). Foto Daus buat gue memang salah satu masterpiece. Tipikal foto yang bisa bikin orang ngangguk-ngangguk kalau dibawa ke pameran foto. Gue bahkan percaya fotografer national geographic kalo liat foto Daus bakal terperangah (dan bertanya ‘makhluk langka apa ini?’ dalam hati). Bagi kami berempat, foto itu juga merupakan alat untuk menggali inspirasi. Adapun cara untuk mendapatkan inspirasinya: tatap fotonya 2 menit (alam bawah sadar Anda akan menyuruh untuk boker) -> ke kamar mandilah -> lalu dapatkan inspirasi di sana.

Bonus foto legenda Daus:



Di sisi lain, ada juga yang malah care sama Daus. INI YANG SEHARUSNYA KITA LAKUKAN SEBAGAI UMAT MANUSIA?!

SANTO AHMAD
November 29, 2016 at 11:35 PM
Itu kenapa pas si Daus jawab abi-umi malah ditinggal, hahaha

Kan kasihan di tengah pulau sendirian si Dausnya mas.

Kelihatan banget si ichsan suka marah-marah, ngomongnya aja sambil teriak gitu heee.

Kalo kamu bisa berubah bentuk jadi capung apa gak takut dipatok sama ayam mas hahaha

Aku tunggu komik strip selanjutnya mas, semoga makin bagus dan lucu.

Tanggapan:
Kalau minggu depan Daus putus, besar kemungkinan penyebabnya adalah orang ini. Entah ini kabar baik atau buruk…

RAYA MIPI
December 1, 2016 at 9:11 AM
Gokil... udah pada bikin komik..
Ceritanya simple tapi lucu..

Ikutan webtoon challenge aja kak, siapa tahu ntar jadi webtoon resmi kayak TJC..

Tanggapan:
Apa itu Webtoon Challenge?

--
So, ini dia tiga strip lainnya dari komik Wahai Para Shohabat: 

Buku:


Cewek Cantik:


Kunci Motor:


--
Baca komik lainnya:

Suka post ini? Bagikan ke: