Sunday, October 30, 2016

Roger Rabbit

lagu roger rabbit sleeping with sirens


‘Coba lagu ini deh.’

Gue terbangun, beranjak duduk dan menyalakan laptop. Ini adalah pertama kalinya gue meminta rekomendasi lagu dari dia, yang memang suka datang ke konser musik secara langsung. Gue memasang headphone, lalu menekan tombol play.

‘Ini yang nyanyi cewek?’

‘Bukan. Hahahaha.’ Gue hanya membaca pesan yang dia kirim, tapi entah kenapa tawa khasnya seperti terdengar di kamar ini.

Malam itu, gue memutar Roger Rabbit berulang, dan berulang kali sampai ketiduran.

--
Gue percaya lagu yang sering didengar seseorang mencerminkan kepribadian orang itu. Contohnya, orang yang sering mendengarkan musik beraliran pop, biasanya hidupnya santai dan nggak aneh-aneh. Orang yang suka dengerin lagu-lagu metal, orangnya cenderung ‘liar’ dan lebih spontan. Orang yang suka dengerin lagu india, kalo liat pohon mangga bawaannya pengin joget.

Gara-gara tulisan ini, gue jadi inget sesuatu tentang lagu.

Lagu atau musik adalah elemen penting dalam hidup kita. Gue percaya hidup tanpa musik sama kayak sayur asem tanpa sayur. Asem. Disadari atau tidak, lagu seringkali dijadikan penanda momen-momen tertentu. My Heart Will Go On-nya Celline Dion, misalnya. Begitu kita denger lagu itu, pasti langsung kebayang adegan Jack memeluk Rose di ujung kapal. Di sisi lain, dengerin lagu Vagetoz ngebikin kita inget FTV di SCTV.

Setiap orang pasti punya lagu kenangannya tersendiri. Entah itu lagu yang ngebikin dia galau, atau malah ngebuat si orang tersebut mesem-mesem gerogotin ujung bantal sendirian. Karena lagu tersebut, seringkali dinyanyikan bersama kekasihnya di dalam mobil. Tipikal lagu romantis yang akan diingat terus menerus sampai tua.

Gue sendiri tidak pernah punya lagu seperti itu.
Sampai hidup gue bersinggungan dengan dia.

Saat itu, gue baru-baru aja jadian sama dia. Si perempuan ini, sama seperti gue, punya pemikiran yang menganggap lagu yang didengarkan seseorang akan menunjukkan identitas orang tersebut. Dan di masa itu, kami memutuskan untuk ‘melihat isi playlist masing-masing’. Dengan mengetahui lagu apa yang sering dia dengarkan, paling tidak gue jadi tahu dunia dia. Kita jadi sama-sama tahu suara yang mengalun di hari-hari kita. Buat dia, mungkin ini biasa aja. Tapi buat gue, ini MIMPI BURUK. Gile aja. Masa itu adalah masa di mana gue sama sekali gak ngerti soal lagu-lagu luar negeri. Kalau pun ada lagu luar negeri, ya paling lagu yang lagi rame. Kayak Jason Mraz dan Bruno Mars.

Dia menyodorkan iPhone-nya. ‘Nih.’
‘O-oke.’ Gue menjawab ragu. Mengambil hapenya, lalu menyerahkan hape gue.

Saat itu gue menyesal kenapa dulu gue gak beli Esia Hidayah aja.

Gue melihat playlist di hapenya, lalu menggeser-geser layarnya. ‘Hmmm. Ini toh…’ Gue mengangguk, pura-pura stay cool. Padahal dalam hati jerit: LAGU PAAN NEH?!

Hampir semua lagu di playlist-nya tidak ada yang gue tahu. Paling yang gue familiar cuman band-band seperti Simple Plan dan Boys Like Girls. Sisanya sama sekali asing.

Gue menatap wajahnya. Dia mengembalikan hape gue. Ekspresinya datar.
Saat itu gue menyesal kenapa gak ngasih kantong kresek buat dia muntah.

Lalu hidup berjalan seperti biasanya. Kami tetep jalan bareng, makan, nonton. Seperti pasangan lain pada umumnya. Tapi di sela-sela itu, seperti ada perasaan yang mengganjal di dalam hati gue. Rasanya kayak… gue kok pengin ya, menyamakan referensi lagu-lagu kita. Gue pengin ada di satu ‘playlist’ yang sama bareng dia. Terlebih dia adalah orang yang cukup sering ikut nonton festival musik secara langsung. Gue pengin kayak orang-orang yang bisa diskusi bareng tentang penyanyi idolanya. Tentang si orang ini lagi bikin album apa. Gimana perubahan musiknya dari tahun ke tahun. Apa yang terjadi sampe harus mengganti personel. Intinya, gue pengin bisa lebih nyambung sama dia. Apalagi kita punya pemikiran yang sama soal musik yang melambangkan identitas seseorang.

Karena itu, di suatu malam, gue nge-LINE dia untuk minta rekomendasi lagu yang pas.

‘Coba lagu ini deh,’ tulisnya di LINE. Dia menyarankan gue untuk mendengarkan lagu Sleeping With Sirens yang berjudul Roger Rabbit.

‘Ini kok ada scene-scene-nya gitu?’
‘Iyaaa itu dia EP.’

Gue gatau apa itu EP. Tapi berhubung lagi males kelihatan dungu, gue memilih untuk bangun, beranjak duduk dan menyalakan laptop. Gue memasang headphone, lalu menekan tombol play.

Nobody’s gonna love you if
You can’t display a way to capture this

Nobody’s gonna hold your hand
And guide you through no it’s up for you to understand

Gue membuka mata. Tersenyum, lalu mengetik: ‘Ini yang nyanyi cewek?’

‘Bukan. Hahahaha.’ Entah kenapa tawa khasnya seperti terdengar di kamar ini. Lalu gantian gue yang tertawa, setelah mengetahui kalau band tersebut sebenarnya beraliran post-hardcore yang biasa manggung sambil teriak-teriak.

Gue mematikan lampu.
Malam itu, gue memutar Roger Rabbit berulang, dan berulang kali sampai ketiduran.

Terima kasih, sudah memberikan lagu manis ini.
Suka post ini? Bagikan ke:

Friday, October 28, 2016

Gue dan Pikiran Random di Pagi Hari

kresnoadi dan pikiran random di dalam kepalanya yang kribo


Lagi mau nulis random ah. Dari beberapa hari belakang, lagi banyak banget pikiran di kepala yang aneh-aneh. Here you go:

Satu. Gue lagi seneng banget dengerin lagunya Monita Tahalea yang di Dandelion. Kok ya bagus-bagus semua gitu. Penasaran, akhirnya buka-buka YouTube-nya dia. Terus ketemu video ini. Gatau kenapa gue paling demen deh ngelihat proses ‘di balik layar’ pembuatan sesuatu. Entah itu musik, film, atau apapun. Waktu nonton Warkop DKI gue malah ketawa paling kenceng pas behind the scene. Bagian-bagian itu terkadang bikin gue mikir kalau film, atau musik, atau tulisan yang dihasilkan tuh ternyata cuman lapisan paling luar. Dan buat gue, menyelam ke dalamnya adalah hal yang sangat menyenangkan.

Dua. Gue sempet mikir kayaknya kalo kita bisa makan musik enak kali ya? Pagi-pagi sarapan pake suaranya Raisa, terus kenyang. Gak perlu makan nasi lagi. Lagian kayaknya semua orang pasti dengerin musik deh.  Tapi ya rada aneh juga sih buat fans-nya Adelle. Nangis dan kekenyangan kayaknya bukan kombinasi yang cocok deh.

Tiga. Kalo jaman dulu ada cerita tentang orang-orang yang memasukkan kertas ke dalam botol lalu dihanyutin ke laut. Apakah di masa depan bakalan ada orang yang masukin hard disk ke botol lalu dihanyutin ke laut?

Empat. Beberapa hari yang lalu, bokapnya temen deket gue meninggal. Dan gue shock. Setahu gue, orang ini tidak pernah ada tanda-tanda punya penyakit tertentu. Gue juga belum pernah mendengar cerita tentang dia yang sering keluar masuk rumah sakit. But when it happens, ya it happens. Kita, dengan segala rutinitas yang kita lakukan, terkadang tidak pernah menyadarinya. Atau mungkin pura-pura tidak sadar. Kita terlalu sibuk sampai tidak ingat kalau di dunia ini ada sesuatu yang dinamakan Kematian. Alasannya mungkin karena kita tidak bisa merasakannya, tidak melihat tanda-tandanya. Kita hanya bisa naik tangga, masuk mobil, ketimpuk batu. Tapi kita tidak pernah mau tahu bahwa di sela-sela itu semua, ada Kematian yang bisa saja menyusup.

Lima. Abis nonton Doctor Strange, terus jadi mikir aneh soal waktu. Kalau tujuh detik masa depan adalah waktu di mana kalimat ini selesai, berarti orang yang memikirkan masa depan harus memikirkan masa lalu?

Enam. Gue kok sebel banget ya sama pengendara motor bebek yang memodifikasi knalpotnya jadi racing. Dia mikir apa sih? Apa dia merasa dengan bikin suara motornya jadi berisik bakal menimbulkan kesan macho dan didambakan cewek? Kalopun iya, bukannya itu sia-sia ya? ‘Wah motor kamu keren!’ lalu dua menit kemudian, ‘KAMU NGOMONG APA? HAHH? YANG KENCENG DOONG NGOMONGNYA?!!’

Tujuh. Selamat Hari Blogger Nasional! Kemaren ding. Semoga gue tetep rajin ngeblog dan gak menghancurkan masa depan kawula muda Indonesia.

Delapan. Gue lagi mau bikin sesuatu sama temen-temen Wahai Para Shohabat. Sampai saat ini sih belum bisa dikasih tahu lebih detail. Tapi, kalo gue kasih satu gambar, kira-kira bisa nebak nggak? 


Suka post ini? Bagikan ke:

Monday, October 24, 2016

5 Kejadian Sehari-hari yang Bikin Sadar Kalo Tanda Tanda Kiamat itu Nyata!

tanda tanda kiamat yang ada di sekitar kita.


Ada yang bilang cuaca gak karuan belakangan ini gara-gara dunia udah tua. Gara-gara buminya udah tua, jadi gak seimbang, dan tidak terkontrol seperti dulu lagi. Temen kantor gue bilang kalo ini adalah salah satu tanda tanda kiamat. Dia bilang begitu sambil manasin motor dengan santai. Seolah hari kiamat sama kayak hari biasa. Gue jadi curiga jangan-jangan pas kiamat beneran, temen gue ini malah pusing sendiri. ‘Ya elah, kiamat lagi. Bisa telat ngantor nih gue…’

Seburuk-buruknya keadaan sekarang, gue sendiri belom siap kalo kiamat ada dalam waktu dekat. Bayangin aja, kiamat digambarkan dengan gunung yang terbang, bumi kebelah. Orang lari pontang-panting. Suasananya pasti crowded abis. Gue ngeliat cewek lari-larian pas ngejar diskon aja udah pengin muntah. Gimana ini? Udah pasti bikin gak bisa mikir, stres, terus tahu-tahu mati ketiban genteng. Kalo gue (amit-amit cuy!) mati dalam kondisi panik kayak gitu pasti gak enak banget. Bisa-bisa gue grogi sampe ke alam kubur. Nanti ada malaikat nanya, ‘Man Robbuka?’ gue malah kaget dan refleks bilang, ‘Amin!’

Orang bilang tanda-tanda kiamat semakin lama semakin sering terkuak. Gue sendiri menyadarinya, karena gue pernah mengalami beberapa kiamat kecil. Oke, mungkin kiamat kecil yang gue maksud tidak sama kayak tenggelem di lahar panas, selamat dari bom bunuh diri, dan hal-hal ekstrem lain. Tapi, buat gue hal-hal kayak gini juga termasuk kiamat kecil. Jadi biar Senpai Kresnoadi jelaskan. Ini dia, 5 Kejadian Sehari-hari yang Bikin Sadar Kalo Tanda-Tanda Kiamat itu Nyata!

Satu. Terjebak di Kamar Mandi

Apa yang paling ditakuti anak-anak kecil? Hukuman kurungan kamar mandi! Beberapa orang tua secara sporadis melakukan ini kalo anaknya bandel. Memasukannya ke kamar mandi, dikunciin, dan ditinggal begitu saja. Jangka waktu hukumannya pun bervariasi. Orangtua yang gak tegaan, biasanya mengurung anaknya selama 10 menit. Orang tua agak sadis, berani mengurung anaknya sampai setengah jam. Orangtua berjiwa ibu tiri, mengurung anaknya di kamar mandi, lalu diam-diam menyemprotkan gas beracun dari luar.

Gue sendiri beruntung tidak pernah mendapat perilaku seperti itu. Tapi tidak dengan temen-temen gue. Semasa kecil, gue berada di lingkungan yang anak-anaknya pernah mengalami masa ini. Ada yang baru dikurung udah langsung nangis karena panik. Tapi ada juga yang berjiwa pemberontak. Dikurung malah boker, terus gak disiram.

Mendengar berbagai cerita itu kok kayaknya seru ya? Di dalam diri gue pun mulai tumbuh benih-benih kedengkian. Gatau kenapa, paling tidak gue pengin ngerasain mandi dengan pintu dikunci. Sebenernya di kamar mandi gue ada slot yang dapat mengunci dari dalam, tapi sampai SMP gue gak pernah mandi sambil dikunci. Alasannya… gak berani aja.

Bayangkan dari kecil sampe SMP gue gak pernah mandi dengan pintu dikunci! Bayangkan betapa kagetnya lagi nyanyi di kamar mandi, terus tiba-tiba... BRAK! Tri Utami ngomong di pinggir pintu ‘Pitch control kamu gak bagus! ELIMINASI!’ Bayangkan anak polos ini mengalami tekanan yang begitu besar!


Sampai akhirnya gue memberanikan diri.

Untuk pertama kalinya gue mengunci kamar mandi dari dalam. Gue memutar slotnya ke kanan, lalu bunyi ‘CKLAK!’ Gue deg-degan bahagia, menarik pintu sekali, dua kali, memastikan sudah terkunci.

GUE AKHIRNYA MANDI SAMBIL DIKUNCI MEEEN!

Mandi paling bahagia pun terjadi. Gue yang tadinya nyanyi di kamar mandi sambil waswas, sekarang langsung berniat bikin album. Puas mandi dan mencatatkan rekor sebagai mandi paling khusyuk sepanjang SMP, gue handukan, lalu memutar slotnya.

Tapi kok gak bisa?

Gue putar lebih kencang, tapi slotnya keras. Terasa kayak udah mentok. Gue pun memutar ke arah sebaliknya. Tapi selotnya tetep gak gerak. Gue berusaha mengingat arah sewaktu slot ini gue kunci. Tapi emang dasarnya bolot, gue sama sekali gak bisa bedain kanan sama kiri. ‘AAKKHH!!’ Gue jerit stres, sambil nyabunin badan. Masih gak menemukan jalan keluar, gue diem sebentar, duduk di kloset, lalu gue ********* (sengaja disensor biar pada nggak tahu).

Satu jam kemudian, bokap membobol ventilasi kamar mandi, dan masuk ke dalam.
Gue pun selamat dari kiamat kecil.

Dua. Kartu ATM Ketelen

Bagi orang yang males bawa duit cash kayak gue, kartu ATM cukup punya peranan penting. Maka hari-hari saat kartu ATM ketelen adalah hari kiamat bagi gue. Apalagi kalau ketelennya di ATM publik kayak mall atau pom bensin gitu. Udah deh, ngurusnya ribet. Duit nggak ada. Mau ngambil… lha kartu ATM-nya ada di dalem. :(

Masa di mana ATM kita ketelen adalah masa paling menyedihkan sebagai umat manusia. Maka sudah sepatutnya Pemerintah memikirkan nasib orang-orang kayak gini. Dibikinin lagu dangdut kek supaya hidupnya lebih semangat. Kalau ada lagu ‘Lebih Baik Sakit Gigi Daripada Sakit Hati’ paling tidak bikin ‘Lebih Baik Sakit Hati Daripada Kartu ATM-nya Ketelen’.

Seharusnya perjuangan orang-orang yang bertahan hidup semasa kartu ATM-nya ketelen diberikan apresiasi. Kalau para pahlawan nasional diberikan tanda berupa tiang dan bendera di makamnya. Lakukan juga hal yang sama. Paling tidak berikan tanda di samping makam orang-orang ini berupa… ATM Center.

Tiga. Belajar Nyetir Mobil Sama Orang Tua… yang Udah Tua… Refleksnya Lambat… Tapi Panikan

Sesuai judulnya, hari kiamat akan datang ketika kita baru belajar nyetir, lalu di sebelah kita ada orang tua… yang udah beneran tua… dan refleksnya lambat… dan panikan.

Selain hari terasa sangat lambat, belajar nyetir sama orang tua itu selalu salah. Baru nge-gas udah heboh, ‘GASNYA PELAN-PELAN!’ Belok dikit, jerit, ‘LIAT KANAN!’ Belajar nyetir bareng orangtua juga membuat kita dipaksa menjadi supir taksi yang bawa kendaraan harus mulus banget. Mengoper gigi dengan pas, menekan gas perlahan dan teratur. Nggak boleh tiba-tiba nyalip, tiba-tiba belok, apalagi tiba-tiba backflip.

AH POKOKNYA KIAMAT LAH!

Empat. Ngantri di Kasir

Anak-anak seumuran gue pasti pernah punya masa di mana Nyokap minta temenin belanja, nyuruh ngantri di kasir, lalu dia tba-tiba pergi. Pada mulanya, kita semua akan tenang-tenang saja. Sampai orang di depan kita mulai maju satu per satu dan Nyokap masih gak ada. Di saat itu, kita merasa hari kiamat akan tiba. Sangkakala ditiup, dan kasir berubah wujud menjadi dajjal. Kalau diurutkan, kira-kira beginilah isi hati kita saat mengantri dan ditinggal nyokap:

Sisa empat orang di depan: Duh, lama deh nih. Orang depan belanja banyak banget lagi.
Sisa tiga orang di depan: Nyokap kok belum dateng ya?
Sisa dua orang di depan: Ibu mana......
Sisa satu orang di depan: CABUT NYAWAKU YA ALLAAAAAAAHHH?!!

Lima. *********
Sengaja disensor biar nggak ada yang tahu.

--
Nah, itu lima hal yang menurut gue termasuk ke dalam kiamat kecil. Seperti yang udah gue bilang, tanda tanda kiamat itu nyata selama kita dapat merasakannya. Apa yang bagi kita kiamat, bisa jadi bagi orang lain cuma hal cemen semata. Semoga kita semua dijauhkan dari hari-hari kiamat yang menyeramkan ini. By the way, kiamat receh versi lo apa?  ^__^

--
Baca kiamat receh lainnya!

Suka post ini? Bagikan ke:

Sunday, October 23, 2016

Niatnya Sih Quick Updates, Tapi Kok Malah Panjang?

kurio aplikasi berita yang tidak ada hoax.


Lagi stuck bikin buat esai komedi, terus kabur ke sini deh. Muehehhe. Udah lama juga nggak nulis random. Pertama, film-film yang lagi tayang ini bagus-bagus banget ya? Mulai dari Snowden sampai Inferno. Gue emang paling suka film yang based on true story kayak Snowden gitu. Bagian paling favorit dari film-film seperti itu, tentu saja pas orang aslinya muncul ke dalam film. Rasanya kayak pengin bilang, ‘Brengsek! Ternyata ada beneran!’ Hal yang sama juga terjadi pas gue nonton Sundul Gan. Padahal mah di awal juga udah dikasih tahu kalo emang based on true story. Hehehe.

Buat yang belum tahu Snowden, film itu bercerita tentang seorang whistle blower yang berani mengungkap ‘rahasia jahat’ yang disimpan Amerika. Atau kalau dalam bahasa kita biasa disebut… comel. Spoiler dikit, katanya sih segala yang ada di Internet itu dibacain satu per satu sama Amerika. So, here’s a line for you, US:

“Ashadualla ilahailallah wa ashadu anna muhammadarrasulullah..”

Ngomong-ngomong soal Snowden yang keren abis itu. Gue nggak kebayang sih pas kejadian aslinya beneran berlangsung. Dia kok ya seberani itu ya mau mengungkap fakta-fakta yang ada (terlepas dari bener atau enggaknya ya). Hampir mirip kayak si Snowden, gue sendiri pas kecil pernah sok-sokan berlagak jadi whistle blower. Jadi, waktu itu SD pelajaran matematika. Pas udah mau bel pulang, gue tiba-tiba keinget kalo ada peer yang belum dikumpulin. Ya udah, dengan polosnya gue ngacungin jari dan bilang, ‘Bu, peer minggu lalu gak dikumpulin?’

Dua minggu setelah itu, gue terbang ke Moskow gara-gara mau dibunuh temen sekelas.

Another update: gue baru sadar kalo jangka pemakaian nama LINE @ gue udah abis. Beberapa hari lalu, ada dua orang temen yang nanyain. Gue udah ngotot dan nyuruh mereka nyari di @keribakeribo. Terus dia bilang nggak nemu. Pas gue cek lagi, ternyata emang udah gak pake itu. Ehehehe. Aku emang pantas dikucilkan.

Jadi, buat temen-temen yang mau main, silakan aja add LINE di: @crg7754y (Pake '@' ya!). Nanti bakal nemu yang gambarnya kayak gini:



Mudah-mudahan sih gue bakal lebih sering ngurus dan ngirim foto-foto ajaib lagi. Bersiaplah. \:p/

Belakangan ini juga lagi heboh soal clown sighting. Ituloh, penampakan badut yang ada di mana-mana. Ada yang bawa-bawa piso segala. Serem abis. Adanya fenomena ini semakin memperkuat kecurigaan gue bahwa BADUT ITU JAHAT, GAES! Dari tingkahnya aja udah aneh. Ke tengah jalan, joget-joget sendirian kayak orang sakau (ya kan emang gitu!).

Terus karena kemaren lagi ga ada kerjaan, gue iseng-iseng deh bikin beginian. Semoga ini ngebantu temen-temen dari marabahaya badut di Indonesia! Lindungi kerabat Anda sekarang juga! Allahuakbar!




--
Terakhir, kemaren gue abis main ke tempatnya (atau bukan ya?) start up Kurio di daerah Jakarta Barat. Jadi, Kurio itu adalah sejenis news aggregator gitu. Mereka mencari berita-berita yang beredar di internet, menyaring, kemudian menyebarkannya kembali. Gue sih seneng make ini soalnya berita di dalamnya gak cuma dari satu sumber aja. Dan karena udah diseleksi, berita yang ada gak ngasal dan heboh di judul doang. Kan banyak tuh jaman sekarang berita yang judulnya menggelegar, tapi isinya gak nyambung. Misalnya:

‘Inilah 13 Foto Menakjubkan yang Ada di Muka Bumi! Nomor 6 Bikin Mata Kamu Mencolot Keluar!!’

Pas dicek, nomor 6-nya foto Zaskia Gotik.
Atau berita yang emang dari judulnya aja udah aneh:

‘SUNGGUH KASIHAN PEREMPUAN INI! TERBAKAR DI RANJANG KARENA MENNDAPAT INSTRUKSI KALAU MELIHAT API ANDA AKAN TERTIDUR DARI UYA KUYA!’

aku dan aplikasi kurioku
Aku dan Kurioku... dan entah kenapa gue gerogotin hape

So, buat yang males dapet berita kayak gitu, silakan cobain pake Kurio aja. Donlot di sini: download aplikasi Kurio.

--
Well, segini aja deh. Ini niatnya quick updates doang tapi kok malah jadi panjang juga ya.
See you tomorrow and happy Sunday! \(w)/
Suka post ini? Bagikan ke:

Friday, October 21, 2016

This Fuckin Disease

cara mengatasi penyakit mental.

I don’t’ do motivate.
No, I really don’t.

Terus terang, gue paling nggak bisa motivasi orang. Nyuruh orang untuk berbuat baik dengan kata-kata bijak itu susah banget. Melihat track record yang ada, kayaknya gue lebih sering menyesatkan orang lain deh. But now, I should do that. Gue merasa harus memotivasi diri gue sendiri. Jadi, kayaknya, tulisan ini akan jauh berbeda dari biasanya. Tulisan ini akan menjadi sesuatu yang gue buka dan gue buka kembali, kalau suatu saat nanti gue down. Jadi kalo ada temen-temen yang nggak sengaja baca ini dan berharap mendapatkan sesuatu yang lucu, lebih baik cari post lain aja ya. Hehehe.

Dulu banget gue pernah menulis tentang keanehan yang ada di dalam diri gue. Tentang gue yang selalu caper dan merasa terus kesepian. Tentang gue yang merasa sendirian. Gue gatau apa istilahnya, tapi penyakit mental ini lama-lama bikin gue capek. Well, I know it kinda sucks to share it here and make it public. Tapi gatau kenapa gue merasa ada dorongan untuk melakukannya. Gue merasa dengan menjadikan ini sebagai konsumsi publik, paling tidak membuat gue merasa tidak sendirian.

Belakangan ini penyakit itu muncul lagi. Gue merasa kalau gue gak punya temen. Gue merasa kalau gue nggak punya keluarga. Gue tidak memiliki ayah, tidak memiliki ibu, tidak memiliki saudara kandung. This fucking disease menggerogoti gue sedikit demi sedikit. Gue merasa tidak punya siapa-siapa. I don’t have any hand to grab with to cross the road. Gue, perlahan-lahan dihisap masuk ke dalam lubang gelap yang ada di dalam pikiran gue sendiri.

Dan ini menyakitkan.

Terkadang, di suatu malam, gue mengeluarkannya sebagai bentuk kemarahan. Gue mengambil bantal, melemparnya ke dinding sekeras mungkin. Berharap penyakit ini ikut keluar, terlempar dan pecah di tembok kamar. Di waktu yang berbeda, gue mengeluarkannya menjadi kesedihan. Masuk ke kamar, mengunci pintu dari dalam. Masuk ke dalam selimut, masih dengan pakaian kerja, lalu diam menatap pintu yang ada di depan. Sampai kemudian mata gue panas, menangis, dan akhirnya terbangun dengan kepala sakit. Gue pikir hal seperti ini cuma ada di sinetron-sinetron, tapi ternyata tidak. Ini benaran ada. Dan sayangnya, ada di diri gue.

Penyakit ini pun punya rentang yang sangat lebar. Di satu waktu, gue bisa sembuh hanya dengan mendengarkan lagu-lagu ceria, atau menonton film lucu. Di waktu yang lain, penyakit ini bisa sangat parah. Ia bisa membuat gue berpikir kalau every conversation in this whole world is bullshit. Gue sempat berpikir bahwa tidak ada percakapan yang murni. Tidak ada dua orang yang mengobrol, murni karena ingin bercakap-cakap. Semua obrolan di dunia ini terjadi karena salah satunya ingin mendapat untung. Seorang kawan yang menceritakan kelahiran anaknya, terjadi karena dia ingin diberikan ucapan selamat. Seorang teman yang gak kenal-kenal banget, ngechat karena si orang ini lagi kesepian, atau ada kondisi yang mengharuskan dia untuk pura-pura sibuk main hape. Dua orang asing yang mengobrol di bandara, terjadi karena sama-sama tidak tahu harus membunuh waktu dengan cara apa, akibat pesawatnya delay.

Gue sempat berpikir bahwa tidak ada orang yang benar-benar peduli terhadap orang lain, kecuali itu menguntungkan dia.

I know that was an evil thought,
and I really hate it.

Masalahnya, kondisi ini diperparah dengan gue yang introvert. Gue yang susah untuk menceritakan apa yang gue rasakan kepada orang lain. Gue yang susah percaya orang lain, karena beberapa kali dibohongi. (I really don’t understand with those kind of friends yang kita harus bilang, ‘tapi jangan cerita ke orang-orang ya’ di akhir cerita supaya apa yang kita ceritain nggak disebar. Hey, you are my friend and you don’t know what should you keep or share? What kind of friend is that?).

Oleh karena itu, gue mulai belajar sedikit demi sedikit untuk terbuka. Gue juga mencari tahu tentang orang-orang yang punya ‘masalah’ yang sama kayak gue. Karena terlepas dari benar atau salahnya, persamaan selalu membuat kita merasa lebih kuat kan? Akhirnya, gue jadi sering baca-baca tulisannya Jenny Lawson, yang punya masalah depresi. Gue cari artikel dan nonton stand up-nya Tig Notaro, yang pernah divonis mati karena kanker payudara dan sempat bikin dia stres berat. Gue berkali-kali nonton My Drunk Kitchen-nya Hannah Hart, yang juga punya mental illness, dan harus tumbuh dengan melihat sosok ibu yang mengalami schizophrenia.

Gue tahu gue harus lebih terbuka dan itulah kenapa gue memutuskan untuk bikin tulisan ini. Gue sadar kalau gue harus berdamai dengan ini. Gue harus sadar kalau gue, sebenarnya tidak apa-apa dengan perasaan kesepian ini. Kalau gue harus berdiri, bukan untuk membuktikan kepada siapapun. Melainkan karena gue memang ingin berdiri.

I know I can beat this fuckin disease.
Fuck you, Loneliness!
Suka post ini? Bagikan ke:

Sunday, October 16, 2016

Rambut

podcast keriba-keribo membahas soal rambut.


Beberapa kali sempet ubah-ubah gaya podcast, kayaknya gue baru menemukan formula yang pas deh. Gue memutuskan supaya tidak ada lagi sesi tanya jawab. Gue memutuskan untuk tidak lagi bercerita heboh sendiri kayak orang mabok. Gue memutuskan untuk menghilangkan sesi baca-baca berita gajelas. Gue memutuskan untuk memangkas durasinya.

Setelah mencoba ini itu, gue baru sadar kalau sebetulnya, yang gue suka selama ini adalah bercerita. Dan podcast hanyalah salah satu mediumnya. Jadi, daripada ribet mikir harus ada ini dan itu… kenapa gue gak memperkuat penceritaannya aja? Gue gatau sih apakah dengan begini podcastnya jadi lebih bagus apa makin rusak. Hehehe.

Well, podcast kali ini gue bercerita soal rambut. Hal yang kayaknya menjadi salah satu elemen besar di blog ini. Gue coba menceritakan pengalaman gue dari kecil, saat rambut gue masih lurus. Saat gue krisis identitas sama gaya rambut (sumpah, gak penting abis ya?). Gue coba menceritakan kebingungan gue tentang anggapan bahwa rambut itu mahkota perempuan. Dan tentunya, gak kayak podcast lain, di podcast keriba-keribo ini… gue gak yakin temen-temen bakalan dapet sesuatu. Muahahaha. :D




Jadi soal rambut-rambutan ini, menurut temen-temen gimana?
Suka post ini? Bagikan ke:

Wednesday, October 12, 2016

Daftar 4 Makanan Favorit yang Bisa Kamu Temukan di Kota Blitar!*

Daftar 4 Makanan Favorit yang Bisa Kamu Temukan di Kota Blitar!


Kita semua tahu ada dua acara televisi yang wajib ditayangkan setiap akhir pekan: acara jalan-jalan, dan makan-makan. Dulu, setiap weekend, gue punya satu kebiasaan aneh kalo nonton acara kuliner. Sewaktu lagu intronya dimulai, gue refleks ke dapur, mengambil piring, mencentong nasi, lalu mengambil lauk seadanya.

Gue sok-sokan nonton acara makan,
sambil ikutan makan.

Ada dua alasan yang mendasari ini. 1) Gue berasa ngedate bareng host-nya, 2) Makanan gue berasa jadi lebih enak. Karena rada geli punya pasangan ngedate yang suka bilang ‘MAKNYOS!’ setiap selesai menyuap sendok ke mulutnya, gue lebih sering memakai alasan yang kedua.

Ada yang gitu juga nggak sih? Walaupun di piring kita cuman nasi sama tempe, tapi gara-gara ngeliat layar tv ada Grilled Salmon with Lime Butter Sauce ngebuat tempe gue jadi rasa salmon.

Nah, karena lagi gak ada makanan dan bukan lagi akhir pekan, sekarang gue bingung deh. Di tv cuman ada acara sinetron yang isinya mertua ngomelin menantu. Gak asik abis. Kalo begini, bisa-bisa tempe gue jadi rasa ingin memaki, tapi ku tak sanggup.

Ke mana acara makan-makan saat gue butuh! Di mana letak keadilan!

Di saat udah pasrah kayak gini, tiba-tiba gue kepikiran sesuatu. Gimana kalo gue cari sendiri makanan-makanan itu di internet? Aha! Gue bikin aja wisata kuliner virtual sendiri! Jenius! Mantap!

Supaya makanan gue jadi lezat dan menggugah selera, gue pun googling makanan-makanan yang ada di… Blitar. Oke, emang terkesan tak senada. Tapi kita ada di era antimainstream, Bung! Zaman di mana melakukan segala sesuatu yang tidak wajar adalah keren! Zaman di mana orang lebih demen dengerin lagu EDM dibanding pop! Zaman di mana orang lebih seneng ngegombal pake bahasa inggris dibanding Indonesia. Karena… ya itu jadi bikin keren gitu lho. Gak percaya? Berikut perbedaan hasil gombalan antara bahasa Indonesia dan inggris:

Cowok: You know why my room looks so small? Because your heart is too big to stay here.
Cewek: Aw! You’re so cute! :*

Bandingkan…

Cowok: Kamu tahu gak kenapa ruangan ini kecil banget? Soalnya, kepenuhan diisi hati kamu.
Cewek: Gue unfriend lu!

Oke, kembali ke Blitar. Pertanyaan pertama adalah: siapa yang tidak tahu Kota Blitar?
Gue.

Oke, lima menit lalu gue emang gatau apa itu Blitar. Tapi itulah gunanya internet! Kota bersejarah ini letaknya di bagian barat daya dari Kota Surabaya yaitu sekitar 167 km, di bagian barat dari Kota Malang dan di bagian selatan dari Provinsi Jawa Timur. Kota Blitar ini mendapatkan beberapa julukan yakni Kota Proklamator yang merupakan kota lahirnya proklamator Indonesia sekaligus Presiden pertama yakni Ir. Soekarno, Kota Patria dan Kota Peta (Pembela Tanah Air) di mana pasa saat itu rakyat Indonesia melakukan perlawanan terhadap para penjajah Jepang.

Sungguh informatif bukan?

Nah, buat yang suka pantai, Blitar ini kota yang pas banget.  Di sana ada Pantai Tambakrejo, Pantai Jolosutro, Pantai Pangi Blitar, Pantai Serang Blitar dan Pantai Peh Pulo Blitar.

Selain pantai, tahu gak apalagi hal asik yang ada di Kota Blitar? Hotel murah Blitar! Tapi, karena sekarang gue lagi fokus ke makanan, mari kita skip aja bagian ini. Mending cek di traveloka aja urusn hotel per hotelan ini biar cepet. (Ingat, dalam tulisan di blog, konten itu prioritas).

So, here they are. Daftar 4 Makanan Favorit yang Bisa Kamu Temukan di Kota Blitar!

Satu. Es Mini


Es Mini adalah nama tempat yang menyediakan berbagai macam pipa paralon. Kagaklah! Dari namanya aja udah ketahuan. Di Es Mini, terdapat berbagai macam es. Kayak es kopyor, es rumput laut, es gula asem. Kalo es buat yang dinginin ikan gitu kayaknya sih nggak ada.

Selain menyajikan banyak es, di Es Mini juga ada makanan seperti nasi rawon, ayam bumbu rujak, nasi rames. Harga makanannya mulai dari 8 ribu per porsi. Tempatnya sendiri bisa dicari di di Jl. Wahidin 14A, Blitar.

Dua. Soto Daging Bok Ireng Blitar



Apa? Hujan-hujan gini males makan es? Jangan khawatir! Di Bltar juga ada soto yang mantap. Namanya Soto Daging Bok Ireng Blitar. Katanya sih ini favoritnya anak-anak gahul Blitar. Kalo kamu pengin menikmati kelezatannya, silakan datang antara pukul 08.00 sampai 14.00.

Mantapnya, soto ini murah banget. Harganya cuman 6 ribu perak. Anjir, sih, ini kalo di Jakarta bisa abis cuman buat parkir doang. Ealah di Blitar udah puas menikmati hangatnya soto daging. Kalo yang penasaran dan pengin nyobain, Soto Daging Bok Ireng ini berada di Jalan Cokroaminoto, Blitar.

Tiga. Warung Pecel Mbok Bari 6


Di Kota Blitar pun terdapat makanan pecel yang dahsyat. Ini jelas kesukaan orang Jawa kayak gue. Salah satu tempat makan yang menyediakan pecel enak yaitu Warung Pecel Mbok Bari 6. Kelezatan pecelnya pun tidak perlu diragukan lagi. Rasanya akan menggoyangkan lidah. Kadang-kadang malah ada yang nyawer.

Harganya? Ya elah. Goceng doang cuy. Goks. Selain itu, ada beberapa lauk yang bisa kamu tambahkan ke atas pecel. Kayak tahu, ayam goreng, tempe, gorengan, dan telur yang sudah dibumbui pedas ataupun dengan kecap. Kalo kamu anaknya iseng, bisa juga ditambahin nasi padang. Ya tapi ngapain.

Pecel Mbok Bari ini ada di Jl. Ir. Soekarno No. 93, Blitar – Jawa Timur.

Empat. Rujak Petis Ngegong


Tempat kuliner satu ini bernama Rujak Petis Ngegong. Bentuknya sama kayak rujak cingur, tapi gak pake cingur. Tapi ini juga bukan rujak. Bingung? Yah pokoknya rujak yang ada di rujak cingur, tapi gak ada cingurnya. Isinya lebih ke sayuran, tempe, sama tahu. Gitu.

Soal harga, Rujak Petis Ngegong ini sama kayak pecel. Cukup goceng aja alias 5 ribu perak. Tempat rujak ini berada di kawasan Ngegong.

--
Nah, itu tadi daftar 4 makanan favorit yang bisa kamu temukan di Kota Blitar. Asik juga sih makan sambil nyari-nyari info kuliner gini. Pengetahuan dapet. Gambar-gambar yang bikin ngenyangin juga dapet. Makanan di piring sendiri aja yang lupa dimakan. Rugi Bandar. :(

Abis kulineran virtual ke Kota Blitar, enaknya besok ke mana lagi ya? London? Birmingham? Hmmm boleh juga tuh, Ungaran. Tunggu aja postingan lainnya. Yang jelas, tinggalin komentar dengan baik, dan ingat supaya terus makan biar asam lambung nggak naik. Dan supaya kita tetep bisa jalan-jalan dan makan-makan lagi. Puokoke, Maknyus! 

-- 
sumber gambar: 
kulinermudikddb.ucontest.info 
tempatkulinerdiindonesia68.blogspot.com 
ilmuagama.net 
panduaji.net
Suka post ini? Bagikan ke: