Thursday, April 28, 2016

Parah lo! Cuih!

Setiap laki-laki pasti pengin dirinya jantan. Itu sudah terbukti dari kebanyakan anak kecil yang bermimpi untuk menjadi pahlawan super. Sampai-sampai sewaktu kecil kita demen banget ngebisikin ke temen, ‘Ssst.. jangan bilang siapa-siapa ya. Gue ranger merah.’ Kalimat itu biasanya diakhiri dengan ekspresi temen kita yang berarti mulai-besok-lo-bukan-temen-gue-ya. Nah, masalahnya, selama hidup dan mencoba jadi pahlawan, sekarang gue sampai pada kesimpulan: gue bukan orang yang suka pertarungan.

Terus terang, gue selalu iri sama orang yang bisa tiba-tiba ngamuk bilang, ‘WOY LO NGAPAIN TEMEN GUE LO KAMPRET!’ Dibanding berteriak dengan rusuh kayak gitu, biasanya gue malah balik nanya ke temen, ‘Emang lo diapain? Masih banyak yang lebih sengsara, Bro.’

Betul, gue emang cemen aja.

Ada ga sih di antara temen-temen yang kayak gue? Gimana sih caranya jadi keren gitu? Kesannya kan macho gitu. Ada motor yang nyerempet dan bikin spion rusak, langsung buka spion mobil dan jerit, ‘BERENTI LO! GUE TABRAK PANTAT LO?! MAU LO APAAN KAMPRET!!’ Kalo gue yang digituin, paling cuman ngelus dada dan ngomong, ‘Apa salah hamba ya Allah… Kenapa harus spion hamba… Kenapaa…’

Tapi, orang kayak gue, biasanya malah cenderung berperilaku ‘licik’. Kalo udah dongkol banget, gue bisa membalas dendam sampai ‘di luar batas’. Hehehe. Waktu itu aja pas SMP, pas lagi heboh-hebohnya permainan smack down (dan gue jadi bahan bully-annya), gue dan Bobby, salah seorang temen deket, berniat membalas kelakuan busuk si Dio.

Berhubung udah gak tahan lagi sama Dio yang sering nyekek, nendang, nampol, dengan alasan lagi main smekdon, gue dan Bobby merencakanan suatu kebusukan.

Ketika itu, Dio baru selesai menghabisi kami dan kecapekan. Karena males ke kantin, dia menyuruh gue dan Bobby untuk membelikan sebungkus siomay.

‘Ya udah, beli berapa rebu?’ Gue bertanya dengan bete.
‘Terserah lo deh. Laper banget gue.’

Gue dan Bobby saling beradu pandangan, menunggu duit dari Dio.

‘Kok malah pada diem sih?’ Dio berlari ke arah lemari di belakang meja guru, berpura-pura memantul, lalu menjerit, ‘CIAAAAT!!’ sambil loncat dan menyekek Bobby. Bpbby lalu loncat dan berakting kebanting sendiri. ‘Semekannya Randy Orton tuh,’ kata Dio, sok cool.

‘Wah langitnya cerah!’ seru gue, menunjuk langit di luar. Pura-pura ga liat dan kabur dari Dio.

smack down randy orton
jurusnya Randy Orton

Sesampainya di kantin, gue dan Bobby udah kesel abis sama Dio. Selain sering nge-bully kita, dia juga ga ngasih duit buat siomay ini. Kami pun terpaksa patungan masing-masing dua ribu buat si Dio kampret. Di tengah-tengah proses menunggu siomay, abangnya nanya, ‘Make saos nggak, Dek?’

Gue dan Bobby bertatapan.

Entah bisikan setan dari mana, kami pun bilang, ‘Pake, Bang! Banyakin biar mencet!’

Si abang pun mengangkat botol saos sambel dan mengocok-ngocoknya di udara, membuat sambal jatuh ke dalam plastik. ‘Segini?’ tanya si abang. Lalu, Bobby, dengan penuh aura dendam kesumat mengambil botol dari si abang dan menuang sambalnya sendiri.

Sekarang, siomay yang biasanya berwarna coklat kini berubah jadi merah. Siomay neraka.

Ngeliat siomay yang kemerahan ini kami ketawa ngikik sendiri. Ngebayangin Dio bakal sakit perut.

‘Rasain lo, Yo!’ seru Bobby, nunjuk ke siomay.
‘Au! Rasain lo Yo!’ seru gue, ikut-ikutan doang.
‘Eh, lo mo yang lebih sadis ga?’
‘Hah? Lebih sadis gimana?’

‘Gini..’ Bobby lalu melipat plastik siomay ke arah luar, membuat gampang dimasukin sesuatu. Bobby memonyongkan bibirnya, kemudian, ‘CUIH!’ dia ngeludahin siomay tersebut. Gue udah gabisa bedain mana Bobby mana Tapasya di serial Uttaran.

‘Buset! Astaghfirullah, Bob!’ Gue geleng-geleng kepala. ‘Cuih!’

Saat itu gue sadar, aura jahat gampang menular.

Sesampainya di kelas, kami menyerahkan siomay tersebut ke Dio. Anehnya, Dio seneng-seneng aja dan malah bilang, ‘Anjer! Lo tahu aja gue demen pedes! Mantap kampret!!’

--
Pesan yang dapat dipetik: Dendam bisa membawa kebahagiaan bagi orang lain.
Pesan dua yang dapat dipetik: Daripada dendam, lebih baik berlatih semekan Randy Orton.
Suka post ini? Bagikan ke:

Sunday, April 24, 2016

Ada Apa Dengan Cinta 2 - Jika Rangga Adalah Saya

Hari sabtu kemarin baru aja digelar acara red carpet untuk film Ada Apa Dengan Cinta 2. Film ini emang udah heboh banget dibicarain di mana-mana. Dan terus terang, di tengah kehebohan orang-orang ini, gue cuman cengo doang. Gimana enggak, YANG PERTAMA AJA GUE BELUM NONTON!! *banting keyboard*

Mari kita salahkan semua ini pada tanggal tayang film tersebut. Soalnya, masa-masa AADC rilis di bioskop itu gue baru berumur sembilan tahun. Itu berarti sekitar kelas 5 SD. Yang mana gue lebih tertarik nangkepin belalang dibanding nonton ke bioskop.

Tidak ingin dikucilkan dan dibakar massa, hari ini gue memutuskan untuk menonton film Ada Apa Dengan Cinta yang pertama. Dan hasilnya? KAMPRET KENAPA DULU GUE MALAH NYARI BELALANG DAH?! Puisi-puisi keren bertebaran karya mas Rako Prijanto (asli ini sok akrab abis), cerita dan settingnya juga sangat real. Tidak berlebihan, tapi dramanya juga dapet. Akting para pemainnya juga keren abis. Nggak kayak yang gue liat di tipi, di mana begitu dapet kabar buruk, si aktor langsung melotot ke kamera udah kayak orang ngeden. ‘MMHH… KENAPAHH… KENAPA INI SEMUA BISA TERJADIIHHH… HMMFF…’

poster film aadc 2


Nah, menelisik dari film Ada Apa Dengan Cinta pertama, gue jadi menebak-nebak jalan cerita di film yang Ada Apa Dengan Cinta yang kedua. Mungkin, pertemuan antara Rangga dan Cinta setelah 14 tahun akan membuatnya jadi seperti ini:

SKENARIO KEREN:

Rangga sudah menunggu lebih dari satu jam di dalam kafe itu. Di sana, ia teringat akan kencannya dengan Cinta empat belas tahun yang lalu. Saat di mana ia mendengarkan Cinta mengubah puisinya menjadi bernada. Saat pertama kali ia tahu kalau suara Cinta, menenangkan. Rangga tahu Cinta akan marah, tetapi ia berusaha menghilangkan perasaan itu. Rangga tahu, bahwa seharusnya, ia memberikan kabar semenjak kepergiannya. Ia sudah berjanji akan kembali setelah satu purnama, seperti yang ia tuliskan pada halaman terakhir di buku yang ia berikan kepada Cinta di bandara.

‘Maksud kamu apa sih?’ Cinta meletakkan tasnya dengan kasar di meja. ‘Ini yang kamu bilang satu purnama?’

Rangga hanya diam. Raut wajah Cinta masih sama seperti yang ia kenal. Cinta yang berisik dan membuatnya ingin segera pergi.

‘Bukan itu.’

‘Terus apa?’ Cinta merogoh isi tasnya lalu mengeluarkan buku berjudul Aku. ‘Ngasih buku puisi? Basi!’

‘Cinta,’ bisik Rangga, pelan dan datar. Rangga memegang tangan kiri Cinta. ‘Saya sayang sama kamu. Sayang sekali.’

‘Kamu sadar nggak sih sekarang itu udah berapa lama? Emangnya sesusah itu ngasih kabar? Setelah semua yang kamu lakukan… kamu jahat!’

Cinta tidak sadar ujung-ujung matanya basah.

Rangga menyodorkan tisue. ‘Nih.’

Lalu, suasana menjadi hening. Seperti ada batas yang menengahi keduanya. Seperti bandara dan udara yang memisahkan New York dan Jakarta. Meja itu, menjadi batas antara masa lalu dan saat ini. Seolah ia melihat Cinta dengan seragam putih abu-abu, dengan lengan yang dilipat satu kali ke atas. Cinta meletakkan tisue yang sudah basah di sebelah tasnya. Kini Rangga menyadari, Cinta yang di hadapannya, bukanlah Cinta yang kemarin. Terkadang kita lupa, seberapa rindunya kita dengan seseorang, ada kemungkinan, waktu yang berjalan telah mengubah orang itu. Sayangnya, seringkali perubahan-perubahan itu datang untuk mengagetkan kita.

‘Kamu apa kabar?’

Lihat tanda tanya itu, Cinta. Jurang antara kebodohan dan keinginanku
memilikimu sekali lagi.

--
Gila. Pasti hasilnya bakal keren banget gitu kali ya? Rangga yang cool dan Cinta yang rapuh. Bayangkan kalo yang jadi Rangga itu anak cemen kayak gue. Mungkin hasilnya bakal begini:

SKENARIO GEMBEL

Gue dan Cinta sudah duduk berhadap-hadapan. Di depan meja ada ice lemon tea, yang dari tadi gue incar. Pengin gue minum, tapi momennya lagi nggak pas gini. Perjalanan dari rumah ke sini macet banget padahal udah make gojek. Gila aja kali gue nggak aus.

‘MAKSUD KAMU APA SIH?’ Cinta tiba-tiba bertanya dengan penuh napsu.

‘Hah?! Ma-maksud apaan nih, Cin?’ Gue menelan ludah. Lumayan deh, ngurang-ngurangin aus. ‘Eh, sori sori. Kayaknya nggak enak ya kalo cin. Kesannya saya kayak belok gitu, Cyin. Maksud kamu apa sih, Ta?’

‘JADI INI YANG KAMU BILANG SATU PURNAMA?’ Cinta menatap gue dengan tatapan tajam. Gue memerhatikan sekeliling. Alhamdulillah, ga ada benda tajam.

Gue menggaruk kepala. Udah nggak tahu lagi harus ngapain. ‘Bu-bukan gitu. Kamu denger dulu penjelasan saya.’

‘DIAM KAU ADOLFO!!’

Gue pengin membalas dengan ‘APA KAU RUDY SOEDJARWO?!’  tapi ini kan Ada Apa Dengan Cinta, bukan telenovela. Alhasil, gue mengacuhkan perkataannya.

‘Kamu tahu gak? Apa yang kamu lakukan ke saya selama ini…’ Cinta diam sebentar, kemudian melanjutkan, ‘Yang kamu lakukan itu… jahat!’

Cinta menutup wajah dengan kedua tangannya.

Gue jadi serba salah. Apa coba yang harus dikatakan seorang laki-laki di depan cewek yang menangis gara-gara dia? Gak mungkin juga gue bilang, ‘Udah, udah, jangan nangis. Cowok emang gitu.’ Lah bisa-bisa gue disundul.

Akhirnya, gue membelai rambutnya.

‘Cinta,’ kata gue pelan. Gue menghela napas panjang. ‘Saya sayang sama kamu. Sayang sekali.’

Cinta pelan-pelan membuka tangannya. Terihat matanya sembap dan merah. ‘Oh ya?’ tanyanya.

‘Iya. Sayang sekali JAWABAN ANDA KURANG TEPAT! HUAHAHAHAHA!! SAMPAI BERTEMU DI KESEMPATAN SELANJUTNYA!!’

--
Gimana? Hancur kan? Jadi, udah tahu kan kenapa gue gak cocok jadi pemain film kayak Rangga gitu? Semoga aja di AADC 2 nanti ga ada drama-drama gembel kayak gitu. Katanya sih bakal rilis serentak tanggal 28 nanti ya? Hmmm ga sabar nih pengin cepet-cepet nonton! \(w)/
Suka post ini? Bagikan ke:

Friday, April 22, 2016

YouTuber Paling Favorit 2016! Plung!

Belakangan ini lagi rame banget sama fenomena orang bikin video di YouTube. Gue sendiri adalah salah satu orang yang demen nontonin video-video di YouTube. Salah satu format video yang lagi rame adalah video dengan konten vlog atau video blog. Video yang berisi keseharian si pengunggah. Mirip-mirip sama personal blog, tetapi ditampilkan dengan format video.

Gue sendiri ga masalah sama format apapun yang mereka unggah. Karena, well, blog gue juga isinya cuman kegiatan sehari-hari dan curhatan sana sini. Hohoho. Tetapi satu hal yang gue sadari dari para YouTuber ini adalah, mereka mempunyai kata-kata ciri khas untuk dirinya sendiri. Mulai dari ‘CIAAA!’, ‘BOOM!!’, ‘DEERR!’, ‘OOOWW!!’, ‘PLUNG! Legaa..’ (Oke, yang terakhir kayaknya ciri khas di kamar mandi).

Suka post ini? Bagikan ke:

Sunday, April 17, 2016

Update dengan Mata Sepet

Gue mengetik ini dengan mata yang udah sepet mampus. Seminggu ini gue kurang tidur. Setiap hari pulang ke rumah pukul dua pagi. Istirahat bentar, terus tidur dan bangun pukul lima. Nyalain komputer, agak siangan dikit pergi kerja. Lalu ulangi ampe sakrotul maut.

tips dan trik mata sepet
tatap mata ojan..

Sejak cukur kumis, tindakan orang-orang emang pada beda. Awal-awal gue cukur, Nyokap sempet syok. Bokap, karena lagi di Jogja, jadi nggak tahu. Abang gue, pertama kali ngeliat gue cukur kumis, komennya, ‘SI TOLOL NGAPAIN DICUKUR POLOS GITU DAH!’

Hina sekali diriku ini..

Hari demi hari gue lewati tanpa kumis. Berasa ada yang aneh aja gitu. Tiap gue ngaca, bawaannya pengin nyanyi, ‘KUMISKU DULUUU TAK BEGINII KINI SUDAH TAK ADA LAGII..’ Hal aneh lainnya adalah beberapa hari setelah hilangnya kumis gue, gue mendadak kena flu. Kayaknya ingus gue mengambil kesempatan ini supaya bisa meleber turun dengan mantap. Dasar ingus tidak berpendidikan!

Ngebaca komentar di postingan kemaren, bukannya bikin gue seneng, yang ada malah bikin gue pengin gantung diri. Dari yang bilang gue mirip bencong lah, perawan lah, Aliando lah (Oke, yang terakhir gue boong). Tapi intinya adalah… MAKASIH LOH YA UDAH CACI MAKI KUMIS GUE GITU.

But hey, times goes away dan sekarang kumis gue udah ada lagi! Akhirnya bisa nyapu make mulut lagi deh..

--
Di tengah kepadatan ini, akhirnya hari ini gue bisa ke toko buku lagi. Kayaknya hiburan gue emang secetek itu deh. Ke toko buku aja udah girang banget. Tadi aja cuman ke toko buku, terus pergi ngopi sambil baca buku yang kemaren belum sempet gue selesein. Gue juga nyobain beli bukunya John Green.

Betul, gue emang telat banget.

Rencananya sih abis ini baru mau gue baca. Ada yang udah punya atau suka sama karya-karyanya John Green gak? Selain itu, gue juga beli buku kumpulan puisinya Lang Leav yang Love & Misadventure. Dan gara-gara itu, gue langsung kepikiran untuk ngebaca ulang tulisan ini.

Hasilnya, barusan jadi deh tiga musikalisasi ini:


--
Tambahan. Barusan ada yang mau nyoba download ebook gue yang Teka-Teki dan ternyata link-nya udah mati. Jadi mulai sekarang kalo masih ada yang mau nyoba main, langsung email aja ya ke kresnoadidh@gmail.com biar gue kirim langsung. Yang penting bayar dengan ngetwit ya.

Oke then, besok harus kondangan nih. Have a goodnight folks! \(w)/
Suka post ini? Bagikan ke:

Sunday, April 10, 2016

Panduan Mencukur Kumis yang Aman dan Benar

Sejak lahir ke dunia ini, gue belum pernah mencukur kumis sama sekali. Sampai tibalah hari itu. Hari di mana gue teriak, ‘Kumis gue masuk ke mulut! Bajingan!’

Betul, saking panjangnya kumis gue sampe suka masuk-masuk ke mulut. Ya, ketawa aja gapapa.

Tidak ingin meninggal karena keselek kumis sendiri, gue pun mengambil keputusan genting: membasmi bulu-bulu biadab tersebut.

Berhubung belum pernah cukuran sama sekali, gue kemudian mencari referensi tentang bagaimana dan apa saja hal-hal yang dibutuhkan dalam mencukur kumis. Sewaktu mengetik ini, kumis gue telah terbaring lemas di liang pemakaman. Bagian atas bibir gue udah botak. Ingus gue kini bisa mengalir dengan lancar (Entah ini bisa dibanggakan atau tidak, tapi yang jelas gue sukses cukuran! Uyeah!).

Oleh karena itu, setelah melalui pengalaman spiritual ini (spiritual bapakmu!) gue akan memandu kamu semua yang ingin mencukur kumis. Sebelum mulai mencukur, siapkanlah alat dan bahan berikut:

Bahan yang dibutuhkan: 
1) Kumis 
2) Sabun cukur kumis 
3) Hati yang lapang

Alat yang dibutuhkan: 
1) Pisau cukur kumis 
2) Cermin 
3) Andhika Kangen Band

Kresnoadi keriba-keribo cara mencukur yang aman
beberapa detik sebelum menyesal
Kresnoadi keriba-keribo cara mencukur yang aman
licin

Satu hal yang perlu diingat adalah, meskipun sama-sama bulu, tapi langkah di bawah ini tidak cocok diaplikasikan untuk bulu-bulu lain selain kumis. Seperti misalnya, bulu… kan. Nah, kalo itu mandi bukan cukuran. Berikut adalah langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencukur kumis dengan aman dan benar:

1). Pastikan kamu siap mental. Keluarkan tekad dan hati yang lapang. Jika ini adalah cukuran pertama kamu, tegarkan hatimu. Karena dampak dari mencukur kumis akan muncul bukan pada saat prosesi cukuran, melainkan setelahnya. Saat selesai cukuran, pas lagi nongkrong sama temen-temen, respon mereka bakalan, ‘AHAHAHA! MANA KUMIS LO?! GAK COCOK!’ atau ‘ANJIR! SOK MUDA LO?!’ atau juga ‘BALIKIN DUIT GUE!’ Kalau sebelumnya kamu emang abis ngutang.

2). Foto wajah kamu sebelum bercukur.

3). Basuhlah wajah kamu dengan air dingin. Gunakan sabun/foam pencukur kumis, lalu usapkan pada bagian atas bibir (kecuali di kumis kamu ada jerawat, boleh menggunakan sabun muka sekalian). Pastikan seluruh kumis kamu tertutupi dengan sabun/foam. Hal ini supaya pada waktu proses mencukur, kulit kamu tidak iritasi. Hal yang perlu diingat adalah pemilihan sabun yang dipakai. Apabila kamu tidak memiliki foam khusus untuk mencukur kumis, sebaiknya gunakan sabun mandi biasa atau sabun muka. Jangan memakai sabun cuci piring, yang ada nanti kumis kamu jadi keset.

4). Berdirilah di depan cermin. Pandangi wajahmu baik-baik. Ingat, kumis adalah ciri lelaki dewasa. Jadi, tidak perlu norak dengan mengucap, ‘Anjaaay.. ganteng juga gue.’ sambil ngusap-ngusap dagu.

5). Siapkan Andhika Kangen Band di luar kamar mandi buat jaga-jaga.

6). Ambil pisau cukur. Pastikan kamu menggunakan pisau cukur yang tajam. Arahkan pisau tersebut dari atas (maksudnya dari bagian atas kumis, tidak perlu dari jidat), tekan, lalu tarik ke bawah, mendekati bibir. Bilas kumis-kumis dan foam yang menempel di pisau cukur (untuk menambah efek dramatis, sambil membilas boleh sekalian jerit, ‘MAMPOS LO KUMIS!! HAHAHAHA!! PERGI KAU MAKHLUK LAKNAT!!’)

7). Ulangi langkah ketujuh sampai semua kumis lenyap tak tersisa.

8). Foto wajah kamu, lalu upload ke Instagram. Bersiaplah mendapatkan banyak like dengan rata-rata komentar, ‘SI ANJEEENG CUKUR KUMIS?! MUAHAHAHA! UDAH GAK BISA MATIL DONG KAYAK LELE??’

9). Buka pintu kamar mandi, lihat wajah Andhika Kangen Band. Segera lakukan sujud sukur.

Dalam beberapa hari, mungkin kamu belum terbiasa dengan hilangnya kumis ini. Kamu mungkin masih sering kagok melihat muka kamu yang berubah setiap kali ngaca. Kamu mungkin masih suka ngusap-ngusap bagian atas bibir sambil tertawa kecil, ‘Hihihihi. Kok tajem-tajem gini. Hihihihihi.’ Tapi, tidak perlu khawatir. Memang di situlah intinya. Kita harus terbiasa dengan kehilangan. Karena sejatinya, kumis yang tampak bisa dicukur, tapi kenangannya akan selalu tertanam di benak kita.

Salam,
Kresnoadi DH, lagi menahan hasrat untuk mecahin kaca.
Suka post ini? Bagikan ke:

Monday, April 4, 2016

J.



Di dunia ini ada tiga jenis laki-laki.

Laki-laki pertama adalah yang berusaha membuat dirinya sukses terlebih dahulu. Sampai kemudian memilih calon pasangan yang dirasa pantas. Lelaki kedua, adalah mereka yang sering bergonta-ganti pasangan. Berpetualang dari satu perempuan ke perempuan lain, sampai akhirnya, ia menemukan sosok the one. Laki-laki ketiga, adalah mereka yang percaya bahwa orang yang ada di sampingnya setiap bangun pagi nanti, yang akan main monopoli bareng, pergi belanja, minta temenin ke salon, mengurus cicilan rumah, bisa dipikirkan dalam hitungan menit. Laki-laki yang percaya bahwa the one, bisa datang begitu saja.

Laki-laki ini adalah Leo.

Suka post ini? Bagikan ke:

Friday, April 1, 2016

[Anomali] Belajar Membangun Latar yang Komedik bareng Roy Saputra

Ada yang berbeda dari Anomali kali ini! Kalo biasanya gue mengundang orang-orang jenius ke dalam studio, tapi karena kesibukannya yang sangat super, sekarang, gue yang akan nyamperin pembicara kita ke kantornya. Untungnya, di sela-sela jam istirahat makan siang, dia masih mau gue ajak ngobrol-ngobrol soal menulis dan komedi.

Siapa lagi kalo bukan Roy Saputra, seorang penulis komedi yang salah satu bukunya sudah diangkat ke layar lebar! Selain pekerja kantoran, Roy juga lagi merintis usaha dan baru pulang honeymoon di Jepang. Meski sudah menyatakan diri vakum dari dunia menulis buku secara fisik, di sela kesibukannya itu, Roy masih berusaha rutin menulis di saputraroy.com, blog yang berisikan keresahan serta hal campur aduk lainnya. Anomali adalah abnormal interview with Kresnoadi. Sebuah talkshow yang dilakukan secara serius dan membutuhkan imajinasi pembacanya. Jadi, tanpa perlu berlama-lama lagi, inilah episode ketiga dari anomali. Wahai Roy Saputra! Tunjukkan pesonamu!

saputra roy di jepang
sumber

Suka post ini? Bagikan ke: