Sunday, February 28, 2016

Menjawab Kepergian Tulus Melalui Video Musik Tulus - Pamit

Beberapa hari lalu, di beranda Twitter gue lagi rame banget yang ngetwit dengan hashtag #TULUSpamit. Saat itu, gue langsung sedih karena penyanyi idola gue itu akan meninggalkan industri musik tanah air. Padahal, gue belum bangkit dari kesedihan semenjak pamitnya Kumel dari dunia ini. Didorong oleh rasa penasaran, gue mencari tahu alasan kepergian Tulus ini. Gue pun baca dari satu twit ke twit lain, sampai pada akhirnya gue tahu kalau ternyata Pamit adalah single terbarunya Tulus di album ketiga nanti. Gue langsung lega setengah mencret.

cover single terbaru Tulus Berjudul Pamit


Setelah mencari tahu ke sana ke mari, gue pun mendengarkan lagu ini melalui video lirik yang diunggah Tulus. Ternyata, lagu ini menceritakan tentang Tulus yang ijin mau lari pagi ke nyokapnya, tapi malah main game online ke warnet.

KAGAKLAH!

Lagu ini bercerita tentang sepasang kekasih yang tidak kuat menjalani hubungan LDR, lalu putus dan berharap menjadi teman baik.

Meskipun sudah mendengarkan lagu ini, tapi insting detektif gue mengatakan ada hal yang belum terungkap. Ada sebuah pertanyaan yang belum terjawab: Sebenarnya, Tulus mau ke mana?

Tidak perlu menunggu lama sampai kemudian musik video dari lagu ini dirilis. Gue pun segera melakukan sinkronisasi antara lirik lagu dengan cuplikan-cuplikan di video untuk menjawab pertanyaan “Tulus pamit emang mau ke mana?” ini. Lalu, setelah melakukan kajian mendalam, gue akhirnya sampai pada kesimpulan yang mengejutkan. Berikut akan gue bongkar satu per satu:

Video dibuka dengan jalanan bersalju dan mobil yang berlalu-lalang. Lalu, Tulus keluar dari mobil berwarna merah, mengenakan setelan serba hitam dan masuk ke rumah. Dia kemudian mengambil satu kartu dari tumpukan di meja, lalu menunjukkan ke kamera dan berkata, ‘INI KAN KARTU ANDA?! SEMPURNAA!!’

Oke, kayaknya gue salah video deh.

Awalnya, kamera menyorot Tulus yang sedang menatap nanar ke jendela dari belakang. Kemudian, kita dikasih liat segala perabotan yang ada di ruang makan. Mulai dari kompor, meja makan, dan cangkir yang tidak ada isinya.

Lalu, Tulus cuci muka di wastafel.

Sekali lagi gue ulang,
TULUS CUCI MUKAAAA?!! TULUS MO PAMIT AJA CUCI MUKA DULU GOKILLL!! Ini sungguh di luar dugaan.

Setelah cuci muka dan merasa tampan, Tulus mengambil jaket, mematikan lampu, kemudian keluar rumah. Jadi, kalau kita lakukan reka ulang kejadian: Tulus pulang -> cuci muka ->  Tulus pergi lagi. Hmmm sungguh misterius sekali. Pasti ada maksud tersembunyi di balik cuci mukanya Tulus. Karena ini tidak mungkin terjadi pada orang biasa. Gue kalo abis maen sama temen kompleks lalu pulang buat cuci muka dan balik main lagi, udah pasti diomelin nyokap, ‘KAMU TUH DEK KERJANYA KOK YA BOLAK BALIK BOLAK BALIK MULU?!’

Jadi, sepenting apakah cuci muka bagi Tulus sampai harus pulang dulu ke rumah? Mari kita lanjutkan.

Sebuah instrumen dimainkan. Video memperlihatkan daerah kompleks tempat tinggal Tulus yang sedang dihujani salju. Tulus jalan di tengah jalan, lalu musik memainkan suara Tulus, ‘Uuuuuuuu… Uuuuuuu..’

Lalu dimulailah lagu ini dengan lirik ‘Tubuh saling bersandar ke arah mata angin berbeda. Kau menunggu datangnya malam, saat ku menanti fajar.’ Sambil video menayangkan adegan Tulus yang sedang duduk sendirian di meja makan. Ya, di sini mulai terungkap bahwa sebenarnya Tulus lagi nungguin si Fajar. Tadi dia pulang ke rumah buat ngajakin Fajar makan bareng, tapi Fajar gak ada. Akhirnya Tulus cuci muka, lalu pergi makan sendiri. Pertanyaan selanjutnya yang timbul adalah: Siapa itu Fajar? Kenapa dia menghilang begitu saja tanpa ngabarin Tulus?

Selanjutnya lagu tersebut berbunyi, ‘Sudah coba berbagai cara, agar kita tetap bersama.’ Dengan gambar video yaitu Tulus yang keluar tempat makan, lalu ke stasiun dan naik kereta. Di sini, gue mulai yakin kalau Tulus lagi nyari si Fajar. Nyusahin banget tuh orang sampe Tulus harus bersusah payah gini.

Tulus kemudian sampai di satu tempat, menyeberang jalan tanpa menengok kanan kiri, sambil musik memainkan ‘Yang tersisa dari kisah ini, hanya kau takut ku hilang.'

Di scene ini, Tulus tampak cemas sekali sampai nyeberang gak liat-liat. Gue masih mikir penyebab ini semua adalah si Fajar. Tapi alasannya masih belum ditemukan.

Sesampainya di tengah hamparan salju, tiba-tiba Tulus nyanyi, ‘IZINKAN AKU PERGI DULU!!’ 
Lalu Tulus pergi.

Jika kita rekap maka kejadiannya adalah seperti ini: Tulus pulang -> Mau jemput Fajar buat makan bareng -> Fajar gak ada -> Tulus cuci muka -> Tulus akhirnya makan sendiri -> Tulus nyariin Fajar sampe naik kereta -> Karena udah stres gak ketemu-ketemu, akhirnya Tulus memilih untuk teriak di tengah jalan, ‘IZINKAN AKU PERGI DULU!’

Apabila kita melihat ini secara keseluruhan, gue rasa Fajar adalah seseorang yang begitu penting di dalam hidup Tulus. Tulus sebetulnya pengin pamit sama Fajar, tapi Fajar gak ada. Setelah dicariin ke mana-mana, capek, akhirnya Tulus jerit-jerit di tengah jalan. Ini persis kayak yang gue lakukan kalo mau maen dan males nyari nyokap. Biasanya gue cuman teriak dari garasi, ‘Bu, mo maen!!’

Tapi, kemudian video menunjukkan kalau Tulus galau. Musik memainkan ‘Sudah coba berbagai cara. Agar kita tetap bersama.’ Yang diikuti dengan kamera bergoyang-goyang tidak tentu, lalu sekelebat terlihat wajah Tulus yang tampak gelisah. Ini mencerminkan satu dari dua kemungkinan berikut:  1) Tulus masih gak enak sama Fajar, dia merasa harus kembali mencari si Fajar dan minta ijin untuk pamit, atau 2) Kameramennya gemeteran gara-gara shooting di tempat bersalju.

Selang beberapa saat, Tulus kembali nanyi di tengah salju sambil kedinginan. Dengan muka pucat, Tulus berusaha melantunkan, ‘Yang tersisa dari kisah ini hanya kau takut kuhilang.

Fix. Ini semakin jelas. Tulus nyariin Fajar karena takutnya nanti Fajar bingung dan merasa kehilangan. Kenapa? Sampai saat ini hipotesa gue menyatakan kalau ini berarti Tulus akan pergi ke tempat yang jauh. Ke tempat yang susah sinyal sampai tidak bisa dihubungi dan dicari. Makanya, Tulus gak mau si Fajar merasa kehilangan. Sungguh benar-benar lelaki idaman sekali Tulus ini.

Video kemudian menggambarkan Tulus yang pergi ke sana ke mari. Mencari ke sudut taman yang bersalju, menyeberang jalan, lalu sesekali kamera bergoyang tidak karuan (ini kayaknya emang kameramennya udah laper deh). Sampai kemudian Tulus benar-benar pusing dan kecapekan sehingga memilih untuk teriak lagi, ‘IZINKAN AKU PERGI DULUUUU~ YANG BERUBAH HANYA KAU TAK LAGI MILIKKU?!!’

Tulus, dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, melanjutkan nyanyiannya di tengah hamparan salju sambil mengepulkan asap dingin dari mulutnya, ‘KAU MASIH BISA MELIHATKU, KAU HARUS PERCAYA KU TETAP TEMAN BAIKMU!!’ Lagu tersebut ditutup dengan Tulus yang meronta-ronta, ‘AAAWWWH… UUUWW... OWOWOWOHH… OOHOHUOOOWHH..’

Jadi, kesimpulan yang gue dapat dari video ini adalah: Tulus mau pamit sama si Fajar karena dia bakal pergi jauh. Ke sebuah tempat yang susah dihubungin, tetapi si Fajar tetep bisa liat. Yak, betul sekali, Tulus mau jadi pemain debus di pedalaman Banten. Tulus akan tinggal di sana yang notabene nggak ada sinyal, tapi si Fajar tetep bisa nonton dia karena setelah menguasai ilmu kebal, Tulus bakal praktek dari metro mini ke metro mini. Yeah! Hidup Tulus!

--
Buat yang mau nonton video musiknya, silakan klik di sini. Sumpah, lagu ini akan membuat lo berhenti melakukan aktivitas apapun, lalu mendengarnya dengan penuh penghayatan.

Ps: Efek samping dari denger lagu Pamit dari Tulus adalah, tiap mau ke warung, jadi refleks bilang ke nyokap, ‘IZINKAN AKU PERGI DULUU~ YANG BERUBAH HANYA KU TAK LAGI MILIKMU?!!’
Suka post ini? Bagikan ke:

Friday, February 26, 2016

PKK EP.3 - CHITATO RASA INDOMIE GORENG, RIO HARYANTO, DAN MASA SD




Setelah mendengar ulang podcast yang ini, berikut beberapa hal yang gue tangkap secara random:

Satu. Gue napsu amat ngomong ‘Lolos’ di menit ke 17:23

Dua. Seringkali terdengar suara srat-srot uhuk-uhuk.

Tiga. Gue baru sadar alasan Chitato bikin inovasi dengan mengeluarkan produk rasa Indomie Goreng. Soalnya, kalo pake indomie rebus, nanti melempem.

Empat. Gue masih mikir bagaimana seseorang mengendarai sepeda sampai punggungnya bisa kejedot jok sepeda.

Lima. Entah kenapa gue nyebut kata 'Cinderella' di situ.

Bonus foto mobil Rio Haryanto:


mobil rio haryanto mirip metro mini

Suka post ini? Bagikan ke:

Thursday, February 25, 2016

Jangan Lakukan Hal Ini Jika Hewan Peliharaan Kamu Mati

Begitu pulang kantor hari selasa kemarin, nyokap langsung masuk ke kamar. Masih mengenakan pakaian kerja dan nenteng tas, dia ngebuka pintu dan bilang, ‘Kamu salah tuh?!’

Nyokap dateng-dateng langsung ngasih tahu kesalahan gue, ini semacam malaikat pencatat amal buruk.

Ternyata, nyokap baru aja baca postingan tentang kematian Kumel (Ya, ini tambah meyakinkan gue untuk segera ganti nama blog), dan meminta gue untuk segera melakukan klarifikasi. Selain nyokap, sebetulnya banyak juga temen-temen yang salah mengira tentang prosesi pemakaman jenazah Kumel.

Salah satunya komentar ini:
Turut berduka atas kematian Kumel. :')

Eh, itu kalo dimasukin kardus berarti nggak dikubur, Di? Bukannya hewan juga tetep dikubur, ya? Hm. Gatau juga deh. Hehehe.

Regards,
Yoggaas Akbar

dan ini:

Hais... gue turut berduka atas kepergian mendiang Kumel, Di. Tapi gue gak habis pikir sama cara pemakamannya si Kumel yang diberi ke petugas kebersihan kompleks, sih. Lebih baik dikubur supaya dia tenang :')
Gue juga pernah mengalami hal yang sama. Hanya saja bedanya kucing gue kabur dari rumah karena cemburu sama kucing baru, yang dipungut oleh adik gue dari tempat sampah. Sesekali gue masih nyebut nama kucing gue itu, Tendo :')

Regards,
Reza Andrian

Jawab:
Jadi, biar gue klarifikasi sedikit. Penyerahan jenazah Kumel kepada Bang Arman sang tukang sampah kompleks itu bermaksud supaya dia yang nguburin. Karena, well, GUE GATAU CARA NGUBUR MAKE GOLOK!! Maka dengan ini gue tegaskan bahwasannya Kumel tidak dibuang ke bak sampah dan didaur ulang menjadi kantung plastik.

Tambahan dari Nyokap: ‘Orang Bang Arman udah dikasih seratus ribu?!’

Mari kita doakan semoga Bang Arman menjalankan amanahnya dengan baik. Karena ngebuang hewan peliharaan ke bak sampah merupakan perbuatan yang keji. Jadi, jangan lakukan hal ini jika hewan peliharaan kamu mati.

Kucing tidur paling lucu di dunia
Auratku..


Anyway, kemarin ada juga yang nanya soal penyebab kematian Kumel. BAHKAN ADA YANG NUDUH GUE LUPA NGASIH MAKAN?!!

SELAMAT JALAN, KUMEL

INI POSTINGAN APAAAAAAAA? Sedih sih. Tapi banyakan ngakaknya. Apalagi yang bagian golok itu. Hahahahahahahahhaha. Btw penyebab kematiannya Kumel apa? Udah diotopsi? :( *ini apa dah*

Turut berduka cita deh, Di. Semoga si Kumel mendapat betina-betina semok dan bidadari-bidadari kucing di surga sana yaaaa :')

Regards,
Icha Hairunnisa

Dan ini:

Ya Allah kenapa secepat ini, Kumel? Semoga Alm. Kumel diterima di sisi-Nya ya, Di. Semoga arwahnya nggak gentayangan dan berusaha menghantui lo, minta pertanggung jawaban karena lupa ngasih makan, makanya mati -_-

Regards,
Rizqi Alam

Jawab:
Perihal kematian Kumel sendiri, sampai sekarang juga masih menjadi misteri. Gue yang sekarang masih sering dirundung duka, tidak mampu berpikir jernih. Sampai saat ini, hati gue masih merasakan kepedihan yang mendalam. Setiap abis makan ayam goreng, gue refleks keluar garasi sambil manggil, ‘Kumel! Kumel! Makanan favoritmu telah tiba!’

Tapi tidak ada ngeong khasnya yang membalas..

Gue pun bersujud di garasi. Lalu naik ke atap mobil, tempat Kumel biasa bersandar dan memikirkan arti kehidupan yang fana ini. Saking sedihnya, gue berniat mengadakan pesta untuk melupakan mendiang Kumel. Bagi temen-temen kucing kompleks yang baca ini, silakan datang ke rumah gue. Kita makan ayam tulang lunak sama-sama! Hiks! Hiks! Hiks!

Sebenarnya, Abang gue sempat membuat hipotesa tentang kematian Kumel sesaat sebelum diserahkan ke Bang Arman. Abang gue, sambil menunjuk perut Kumel yang membuncit, menjerit, ‘Dia kembung!’ Semula gue tidak punya prasangka apa-apa tentang kalimat itu. Sampai kemudian Nyokap masuk ke kamar dan bilang, ‘Kok minuman Kumel abis ya? Dia pasti haus.’

Gue tidak tahu keterkaitan antara kata-kata Abang gue dan Nyokap tersebut. Tapi satu hal yang gue yakini dengan pasti, ‘Kasian kamu, Mel. Di surga pasti masuk angin..’
Suka post ini? Bagikan ke:

Tuesday, February 23, 2016

Selamat Jalan, Kumel!

Makasih banget buat temen-temen yang udah mau pindah media komen jadi ke email dan form contact. Sejauh ini, menyenangkan banget ngeliat responnya. Jadi beneran banyak yang cerita panjang lebar. Malah sampe ada yang bales-balesan lebih dari tujuh kali. I really appreciate it! You guys rock! \m/

Mungkin ke depannya yang seru-seru bisa gue tampilin di sini kali ya. Supaya kebaca sama temen-temen yang lain juga. Hehehe.

ps: Untuk temen-temen blogger, tulis aja link blognya di form contact, supaya gue gampang kalau mau main ke blog kalian. :)

--
Hari sabtu kemarin, di rumah kami, baru aja kehilangan salah satu anggota keluarga yang paling berbulu. Kumel, kucing keluarga yang segede bagong itu telah mengembuskan ngeong terakhirnya pada 20 Februari yang lalu. Kronologisnya dimulai sejak gue baru bangun. Nyokap, dengan daster yang masih lusuh tiba-tiba masuk kamar dengan tatapan nanar. Dia memegang sisi tipis pintu dan memanggil, ‘Dek… bangun..’

Gue belum menyadari sesuatu yang aneh waktu itu. Sehingga hanya bertanya sambil ngucek belek, ‘Kenapa, Bu?’

‘Itu…’ Nyokap berkata lirih. ‘Coba kamu keluar.’

‘Ada apa sih?’ tanya gue males-malesan. ‘Nanti deh. Ngantuk.’

‘POKOKNYA KELUARR SEKARANG JUGAA?!!’

Sesaat sebelum menjadi batu, gue buru-buru ngibrit keluar.

Di halaman, gue menemukan kenyataan pahit. Gue melihat Kumel sudah terbujur kaku di tanah. Di antara tanaman-tanaman di taman, Kumel tergeletak pasrah. Berikut percakapan terakhir gue dengan Kumel pagi itu:

Gue: Kumel!
Kumel: …
Gue: Kumel bangun kumel!!
Kumel: …
Gue: Kumel! Ikuti kata-kataku Kumel! Meoong…
Kumel: …
Gue: Meooong…
Kumel: …
Gue: MEOOOOWWWNNGGG?!!! (Artinya: TIDAAAAAKK!!)

Berada di depan hamparan tubuhnya membuat gue pengin menangis. Saking tidak tahannya, gue hampir muntah. Terlebih karena gue nginjek eek Kumel dikit. Gue segera jongkok di hadapan (alm.) Kumel, mengelus pelan ekornya yang berwarna abu-abu, seraya berbisik, ‘Ya Tuhan.. kenapa Kumel pergi secepat ini… harusnya pasirin dulu berak yang di pojok dong!’

Dengan berat hati, gue masuk kembali ke dalam rumah. Cuci tangan dan muka, masih tidak terima dengan kepergian Kumel. Gue kemudian sarapan, tidur-tiduran, main internetan, lalu kepikiran sesuatu: KUMEL BELOM DIKUBUR!! Astaghfirulllah (pertanda majikan yang gak bener). Gue lalu meminta perlengkapan untuk mengubur Kumel ke nyokap. ‘Cangkul di mana ya?’ tapi nyokap malah bilang, ‘Gak ada.’ Tidak menyerah, gue balas dengan, ‘Ya udah, sendok semen deh gakpapa.’ Nyokap membalas lagi, ‘Sendok semen juga nggak ada.’ Shit. Kenapa giliran situasi lagi genting semua barang-barang mendadak lenyap gini? ‘Ya udah. Yang ada apa? Aku pake seadanya aja.’  Nyokap menatap gue dengan penuh bangga. Beberapa detik kemudian, dia berkata dengan santai, ‘Adanya… golok. Bisa gak?’

Golok? Gue tidak habis pikir sama logika Nyokap. Ini kita kan mau ngubur kucing, bukan mutilasi.

Gue udah kehabisan ide. Kekurangan perlengkapan membuat gue stres. Apa yang harus gue lakukan dengan jasad Kumel? Akhirnya gue merenung sendirian di dalam kamar. Di tengah-tengah perenungan, gue ngelihat Abang gue dan Bokap yang keluar sambil bawa-bawa kardus. Begitu gue ikutin keluar… kucingnya dimasukin ke kardus dong! Prosesi kematian macam apa ini?! Sekalian aja kita mutilasi beneran, masukin kardus, lalu kirim ke Jember.

Begitu gue tanya Bokap, jasad si Kumel ternyata akan diserahkan ke Bang Arman, yaitu tukang sampah kompleks (ini emang satu keluarga kagak bermoral semua ternyata). Kata Bokap, itulah satu-satunya cara supaya si Kumel tenang di alam sana. Gue pun mengalah dan berharap supaya Kumel gak ketuker sama kangkung.

Kumel kucing kesayangan kresnoadi telah tiada
Tatapan nakalku..


Selamat jalan Kumel. Semoga kamu tenang di alam sana. Semoga amal perbuatanmu diterima dan kamu mendapat betina-betina semok di dalam surga. Kalo beneran dapet, bawa ke sini satu ya!
Suka post ini? Bagikan ke:

Sunday, February 21, 2016

Tulisan di Kala Malam Ini..

Gue salut banget sama musisi yang bisa bikin musik yang ngebuat pendengarnya ngerasain feel yang sama. Tahu kan, lagu-lagu patah hati yang ngebikin yang denger serasa “rapuh” beneran. Atau lagu-lagu yang kalau didenger langsung bikin semangat berkobar. Gue jadi mikir gimana sebuah lirik lagu tercipta. Gimana si pengarang, mampu membuat kata-kata di dalam lagu itu. Gimana kondisi dia saat tiba-tiba tercetus buat nulis lirik yang ada, sampai pada akhirnya, menjadi satu lagu yang utuh. Apakah dia benar-benar patah hati saat membuat lagu yang rapuh. Apakah si orang ini, baru menemukan orang yang dirasa tepat, sehingga mampu menulis kata seindah itu.

Lagu-lagu yang belakangan lagi demen gue dengerin dan perhatiin liriknya baik-baik adalah lagu-lagunya Ed Sheeran. Berikut list lagu yang lagi sering gue putar berulang kali: 

1. Autumn Leaves 
2. Friends 
3. U.N.I 
4. Wake Me Up

--
Dan sebuah tulisan yang gue buat kemarin malam:

Tulisan Kresnoadi sewaktu malam


Aku selalu suka menulis di malam hari. Buatku, malam punya keunikan tersendiri. Terkadang, ada kantuk yang harus kupaksa tahan, terkadang aku bengong menatap lampu rumah tetanggaku di seberang jendela kamar, terkadang aku berharap supaya gerimis turun kecil-kecil, menemani malam yang sendirian. Malam hari membawa suasana yang berbeda-beda. Ada keheningan, ada ketakutan, ada perasaan kangen.

Aku tidak pernah lupa bahwa malam telah membawaku ke mana-mana. Gedung-gedung yang belum sempurna dibangun. Kelap-kelip lampu merah di perempatan. Bunyi pintu gerai yang ditutup satu per satu. Gerobak tukang roti yang baru keluar. Orang-orang lain yang pulang menemui keluarganya.

Semilir angin malam yang katanya jahat itu, seringkali menemaniku, yang mau tidak mau membuatku masuk angin keesokan harinya. Tapi aku bodo amat. Aku ingin norak, karena saat itu, ada seseorang yang ingin kubawa jalan-jalan dengan pelan. Hanya karena aku ingin semuanya terasa lambat dan bisa berlama-lama dengan dia. Pantulan wajahnya di kaca spion yang sengaja kuatur. Percakapan yang terkadang membuatku serak karena harus berteriak.

Malam adalah saksi di mana orang sepertiku, bisa sangat tidak berdaya. Aku tidak bisa menaikkan suhu AC ketika dia mulai kedinginan. Aku tidak punya bangku belakang untuk dia tidur ketika terlalu lelah seharian. Aku hanya punya pundak yang sering mengeras karena masuk angin. Aku hanya punya, jari yang menunjuk asal, berusaha mengalihkan perhatiannya saat aku mulai salah tingkah.

Keheningan malam juga membuat seseorang mengenal dirinya lebih dalam lagi. Di suatu waktu, aku bisa berpikir tentang apa saja yang sudah kulakukan hari itu. Aku bisa mematikan lampu, mengunci kamar, lalu duduk menyender di tembok. Sampai orang di rumah mengira kalau aku sudah tidur. Sampai semuanya terasa amat hening. Sampai-sampai aku bisa mendengar degup jantungku sendiri yang kian lama, berdetak kian kencang. Karena pada saat itu, di balik selimut, ada aku yang sedang sibuk memikirkan kalimat untuk membalas sebuah pesan. Kalimat yang cukup keren untuk mengakhiri percakapan kita kali ini, sebelum dia akhirnya tidur dan memulai hari yang baru.

Tapi malam juga identik dengan seram. Dengan kegelapan. Dengan ketakutan.

Seperti ketika aku dan dia pulang bersama-sama pertama kali.

Ketika kita sama-sama ragu. Ketika kita tidak punya cukup obrolan untuk dibahas. Hingga kita menemukan bahwa banyak persamaan di antara kita. Mulai dari sama-sama anak terakhir, sama-sama tinggal di tempat yang berdekatan di antara teman-teman yang lain. Sama-sama tidak pandai menghapal rute jalan. Meskipun kita tahu, sebenarnya kita sangat berbeda. Kita tahu bahwa kita, tidak bisa bersama-sama. Kita hanya menghibur diri dengan persamaan-persamaan yang kita buat sendiri.

Tapi paling tidak, dengan bersama dia.
Malam tidak perlu aku takutkan lagi.
Suka post ini? Bagikan ke:

Friday, February 19, 2016

Soal Komentar di Blog

Sejak beberapa hari lalu, banyak yang nanyain soal komentar di blog ini. Mulai dari yang ngirim chat di LINE, mention di Twitter, komen di Google Plus, sampai ngirim email langsung. Nah, kali ini gue mau membahas kenapa kolom komentar yang biasanya selalu ada di akhir postingan, sekarang nggak ada. Dan untuk temen-temen tahu, gue sama sekali tidak melarang siapapun untuk komentar di blog ini.

Here are the reasons:

Pertama, dari sisi gue. Terus terang, belakangan ini gue agak “terpengaruh” dengan berbagai komentar yang masuk. Gue merasa, kalau, komentar temen-temen jadi salah satu “indikator” gue untuk memilah postingan seperti apa yang akan gue publish. Gue jadi merasa menulis bukanlah pekerjaan yang jujur. Padahal, sejak dulu, gue emang selalu nulis apa yang mau gue tulis.

Gue jadi merasa kalau menulis tidak semenyenangkan dulu. Gue merasa kayak ‘Wah, gue harus nulis lucu nih.’ Atau ‘Wah, lucunya udah kebanyakan nih, harus nulis yang berisi nih.’

Padahal, well, this is my blog. The place that I share my stuff with free. Tempat gue menumpahkan apa-apa saja dengan sesuka hati. Jadi, mulai sekarang, gue emang bakal serandom itu. I just write something that I want to write.

Kedua, dari sisi etika berkomentar. Ini juga yang akhir-akhir ini gue rasakan secara tidak sengaja. Sebetulnya, ada beberapa alasan di luar etika ini yang emang sedikit “mengganggu” gue sejak lama. Seperti sistem berkomentar bawaan blogspot yang rasanya kurang pas. Salah satunya: orang yang komen jadi gatau kalau komentarnya dibales. Mungkin ada fitur click this if you want a notification email, tapi rasanya hal itu belum dibiasakan.

Di luar itu, kolom komentar jadi semacam ajang “menunjukkan diri”. Entah dengan cara apa, tapi, orang-orang ini berkomentar cuman supaya diliat. Supaya dirinya diperhatikan. Orang-orang ini jadi malah semacam “pendistraksi” atas tulisan yang ada. Mereka sengaja komentar untuk kepentingannya sendiri, bukan menghargai tulisan yang diposting. Untuk temen-temen blogger yang baca ini, mungkin paham gimana rasanya ini.

sekarang pake ini ya :)


Kombinasi itukah yang bikin gue memutuskan untuk menghilangkan kolom komentar di bawah. Sebagai gantinya, gue harap temen-temen bisa tetep komentar lewat form Contact Us atau email (tapi jangan lupa nulis judul postingan yang kalian komentarin di email atau form ya!) Karena menurut gue, orang yang mengirmkan ceritanya lewat dua media itu memang berarti punya niat yang tinggi atas apa yang dia baca. Mereka juga ingin berbagi cerita, dan mereka harus tahu kalau gue membaca apa yang mereka tulis. Mereka harus tahu, kalau, cerita mereka, sampai kepada gue. Karena dengan dua metode tersebut, balasan dari gue akan langsung masuk ke email yang mereka isi di form. Untuk cerita/komentar/pertanyaan yang seru dan unik, nanti bakal sering gue jawab di blog supaya bisa dibaca sama temen-temen yang lain. Ini sekaligus mendorong temen-temen supaya bisa ngasih komentar atau cerita yang seru. \:p/

Sejauh ini, gue rasa inilah cara komunikasi yang paling tepat.

Gue berharap temen-temen bisa mengerti ini. Karena buat gue, kejujuran itu salah satu hal terpenting dalam membuat sesuatu. Kalo emang udah saatnya nanti, gue juga bakal munculin lagi kotak komentar di bawah, tapi kayaknya bukan dalam waktu dekat ini deh. :)

Gue minta maaf kalau ada di antara temen-temen yang nggak suka. But, hey, this is my blog.
Then, welcome! \(w)/
Suka post ini? Bagikan ke:

Tuesday, February 16, 2016

PKK Sepedahan!

Podcast kali ini membahas perbedaan kebiasaan bersepeda di zaman sekarang dan zaman dulu. Enjoy! \:D/





--
Temen-temen lain yang bikin podcast juga:
Robby Haryanto: Kurang dari 10 Menit

--
Pertanyaan: Ceritakan pengalaman seru kamu sewaktu bersepeda! Boleh sedih, seneng, lucu, atau mengenaskan. Kirim lewat form “Contact Us” di sidebar sebelah kanan (atau paling bawah kalau dibuka di hape). Kalo enggak bisa langsung email ke kresnoadidh@gmail.com dengan subject PKK 15 Februari 2016. Cerita paling unik bakal gue baca dan komenin di podcast selanjutnya!
Suka post ini? Bagikan ke:

Sunday, February 14, 2016

The Most Important Thing In Life

Pernah ngerasain yang namanya digampar bolak-balik?

Kalau udah, itu berarti, kalian sungguh hina. Hehehe. Nggak ding. Gue belum pernah digampar bolak-balik, tapi gue pernah ngerasain hal yang sama. Gini ceritanya..

Kamis sore kemarin, gue baru balik dari gedung Trans Media. Kebetulan perasaan gue lagi campur aduk karena di satu sisi gue baru mendapat berita baik, di sisi yang lain gue harus buru-buru pergi ke Tangerang. Sewaktu ngeluarin motor dari parkiran, semua masih santai sampai di belokan pertama… ada yang aneh sama motor gue. Gerakan motor gue gak stabil. Bannya terasa goyang dan naik turun, kayak ngelewatin polisi tidur kecil berturut-turut.

Harusnya ini bukan waktu yang tepat buat ban motor gue bocor.

Gue sempet mikir buat maksain ban yang bocor sampe ke Tangerang. Gue perhitungkan segala kelebihan dan kekurangannya. Kelebihan: Gue gak terlambat. Kekurangan: Sampe sana velg motor gue jadi kotak.

Berhubung tidak mau ambil resiko, gue turun menuntun motor, mencari bengkel terdekat.

Satu perempatan, gak ada.
Dua perempatan, gak ada.
Tiga perempatan, hidup gue gak ada lagi.

Terus terang, mencari bengkel di Jakarta susah-susah gampang. Kalau lagi hoki, kita bisa aja nemu abang-abang yang ‘beneran’ berprofesi sebagai tukang tambal ban di pinggir jalan. Modal mereka cuma kursi dan alat penambal ban. Bukan bengkel besar seperti yang kita kenal. Sementara di tempat-tempat perkantoran, kita ga bakal nemu sampe kiamat.

Untungnya gue dapet juga.

Waktu itu yang jaga bengkel adalah anak kecil. Umurnya gue taksir sekitar 18 tahun. Dia ngeliatin gue dorong motor, masukin ke halaman bengkel, lalu nanya, ‘Kenapa, Bang?’

Gue agak bingung dengan kondisi seperti ini. Setiap ketemu orang yang melayani kita lebih muda gini, gue jadi canggung sendiri. Pengin jawab, ‘Bocor, Bang.’ tapi rasanya gak pas. Jelas-jelas dia lebih muda dari gue. Kata ‘bang’ terasa gak pantes aja. Tapi kalo gue bales, ‘Bannya bocor, Nak. Ibumu mana? Ya Allah… mandi dulu kalo keluar rumah.’ rasanya malah sok akrab.

‘Bocor, Bang,’ jawab gue, akhirnya sok muda.

Dia kemudian memosisikan motor gue supaya lebih enak untuk dieksekusi. Setelah distandar dua, dia mengambil beberapa obeng untuk mencongkel ban motor. Sementara gue duduk di kursi, mulai panik karena hari mulai sore.

Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya si bocah ini bilang, ‘Bannya harus diganti.’

Gue yang emang tolol masalah beginian, akhirnya ngeiyain aja. Dia kembali bekerja dengan normal. Sepuluh menit kemudian, semua beres. Gue kembali jalan.

300 meter berikutnya, ban motor gue bocor lagi.
Ban belakang, sama dengan yang sebelumnya.

Gue udah mulai curiga. Sambil (kembali) dorong motor gue mulai mikir macem-macem. Mulai dari nyalahin si anak kecil, sampai mikir dosa-dosa yang gue lakukan belakangan. Entah kenapa persepsi kita selalu gitu, setiap kali tertimpa hal jelek, pilihannya cuma dua: 1) cobaan, 2) azab.

Gue dorong motor lagi, tentu sambil nanya dalam hati: ‘APA DOSAKU YA ALLAH?!!’

Sesaat sebelum varises, gue ngelihat kompresor (tabung oranye yang biasa untuk mompa ban). Di trotoar, seorang kakek duduk, senderan di pagar kawat, tepat di samping tulisan ‘TAMBAL BAN’. Si kakek ini tampak terlalu kurus untuk seorang yang berprofesi sebagai tukang tambal ban. Bajunya kemeja biru lengan panjang yang di beberapa bagian terkena bercak oli. Celana cokelat panjangnya terlihat kebesaran, membuat lingkar kakinya tampak tidak proporsional dengan badannya. Sepatu caterpillarnya tampak gagah dan keras meski warnanya sudah tidak jelas, campuran abu-abu dan cokelat. Dia berdiri lalu nanya, ‘Nambal, Mas?’ Gue pengin balas, ‘Enggak, pak. Mo beli DVD.’ tapi takut dosa.

Si kakek kemudian berjalan. Ada yang aneh dari cara jalannya. Langkah kakinya pelan dan terhuyung-huyung. Pikiran gue saat itu antara kakinya lagi sakit, atau semalem dia mabok knalpot.

Lima belas menit kemudian, gue ditampar bolak-balik.

Si kakek membeberkan kalau sepertinya gue kena tipu. Ban yang barusan diganti adalah ban abal-abal. Harga aslinya bahkan setengah dari harga yang gue bayarkan tadi. Gue kembali bertanya: APA DOSAKU YA ALLAH?!! Dia kemudian menyarankan sebuah merk, gue mengangguk. Sambil membongkar ban, si kakek membongkar kisah hidupnya. Dia, sama seperti gue, berasal dari Jawa. Pernah bekerja sebagai pengurus irigasi di Surabaya. Pernah menjadi developer rumah di Jogja. Pernah bolak-balik Jawa Timur-Jawa Tengah sebagai supir bus. Dia pernah menjadi apa saja, demi hidupnya.

Dari ceritanya, gue tahu kalau ternyata, cara berjalannya yang aneh diakibatkan karena kaki kirinya tinggal setengah. Telapaknya diamputasi separuh karena kecelakaan. Gue juga tahu bahwa dia meninggalkan seorang ibu berumur 97 tahun di Surabaya. Gue juga tahu bahwa dia, dengan keadaannya ini, tidak mau dianggap cacat. Tidak ingin dicap sebagai orang yang memiliki kekurangan. Itulah kenapa dia kesal dengan oknum yang suka menyebar amplop ke rumah-rumah, mengatasnamakan sumbangan untuk orang cacat. Karena dia, orang yang cacat, bekerja sendiri demi memenuhi kebutuhan hidupnya (sewaktu cerita ini, gue hampir meluk kaki dia dan bilang, ‘SAYA JUGA SEBEL KEK?!!’).

Terus terang, setelah mendengar itu semua, gue jadi bingung harus merespons gimana. Gue merasa tertampar, tapi di sisi lain, gue menjadi semakin penasaran. Kalau gue kaya, mungkin gue bisa aja pergi ninggalin dia, lalu sepuluh menit kemudian balik lagi sambil bawa kru yang megang kamera. Memanggil si kakek kembali, lalu bilang, ‘Karena Bapak orang yang baik… BAPAK DAPET UANG KAGET!!’ Lalu si kakek meninggal jantungan karena kaget beneran.

Gue sempat terdiam setelah si kakek selesai mengganti ban motor. Mencoba membandingkan dengan apa yang gue hadapi saat ini. Rasanya… rasanya gue kalah telak. Dibandingkan si kakek, gue jelas cuma sekotoran sampah. Sebutir debu cemen yang bisanya ngotor-ngotorin. Gue yang suka bete kalau pintu kamar nggak ditutup. Gue yang bisa aja sedih cuma karena kejebak hujan di jalan.

Lalu terbersit sebuah pertanyaan untuk si kakek, tentang hal penting di dunia ini. Tentang sesuatu yang menurutnya paling berharga.

Dia tersenyum, lalu menjawab, ‘Ibu.’

Pulang dari sana, entah kenapa, gue pengin meluk nyokap kenceng-kenceng.
Suka post ini? Bagikan ke:

Thursday, February 11, 2016

Panduan: Tujuh Cara Supaya Cewek Mendapat Banyak Coklat di Hari Valentine

Kalau udah dengerin mini podcast yang ini pasti tahu kalau kita semua akan melewati yang namanya valentine. Hari penuh cinta. Hari penuh perasaan. Hari penuh mencret karena kebanyakan makan cokelat.

Valentine adalah hari di mana semua cowok mendadak berani mengungkapkan perasaannya kepada lawan jenis. Di hari valentine, cowok-cowok seolah mendapat kekuatan tambahan untuk memberitahu isi hatinya kepada orang lain. Bisa dengan memberikan cokelat, bunga, surat, atau sekadar mengajak nonton atau makan bareng.

Tapi, tahukah Anda bahwa ada jenis cewek tertentu yang didamba-dambakan oleh cowok saat hari valentine? Cewek ini biasanya yang paling dicari dan dikejar-kejar karena menjadi idola cowok. Cewek seperti apakah itu?

Nah, di sini, saya selaku Master Mister Uncle Senpai Kresnoadi Samurai X yang telah berpengalaman ditolakin cewek pas valentine akan memberitahukannya kepada Anda. Ingat! Di sini saya tidak mencari keuntungan pribadi, tapi kalo Anda emang pengin ngasih cokelat sih gakpapa. Kebetulan saya sukanya Chic Choc. Sama seperti cewek-cewek ini yang bakalan dapet banyak coklat karena menjadi idaman para cowok di hari valentine. Maka bacalah ini perlahan-lahan. Pastikan Anda mengerti dengan jelas bahwasannya tulisan ini dibuat untuk kaum cewek yang ingin dapet banyak coklat di hari valentine.

Satu. Idup. Sejatinya, cewek yang bakal laku dan dikejar-kejar oleh cowok sewaktu valentine adalah cewek yang masih hidup. Karena serem aja kalo kita harus valentine-an sama cewek yang udah meninggal. Misalnya saja, Kuntilanak. Selain harus memiliki kemampuan manjat pohon, valentine-an sama kuntilanak juga bakal terasa gak asik. Bayangkan ketika Anda lagi duduk di atas batang pisang, sebelah-sebelahan sama kuntilanak. Percakapan yang terjadi akan seperti ini:

Cowok: Ini ada cokelat untuk kamu.
Kunti: Hihihihihhi..
Cowok: Aku mau ngomong sesuatu deh sama kamu, Kun.
Kunti: Hihihiihi..
Cowok: Aku mau ngomong serius..
Kunti: Hihihihik! IHIHIHIIHIK!!
Cowok: JANGAN KETAWA?!! INI SERIUS SETAAAN!!

Dua. Seumuran. Kalau Anda cewek masih hidup dan seumuran sama gebetan, maka peluang Anda untuk diajak nge-date sewaktu valentine akan semakin besar! Itu berarti, kesempatan untuk dapet banyak coklat terbuka semakin besar! UYEAH!! Cowok-cowok biasanya gak mau ribet untuk ngajak jalan cewek yang lebih tua. Secakep-cakepnya cewek, kami, para cowok, tidak akan mau menjadikan Anda valentine kami kalo udah uzur. Takutnya pas lagi ngedate, lagi seru-seru dinner berdua, lalu kami mengendus aroma aneh. Kami pun menatap Anda di depan, menyadari sesuatu dan jerit, ‘Hmmmm! Jadi kayak gini toh bau tanah!!’ Lalu Anda keselek garpu dan akhirnya meninggal. Suasana menjadi hening. Suara gagak berkumandang dari kejauhan. Makan malam romantis seketika berganti mistis.

Tiga. Tidak punya harapan. Ini maksudnya bukan tidak punya harapan hidup ya. Yang suka ngomong, 'Yah, hidup mah dijalanin aja.' Terus jalan beneran ke trotoar. Terus terang, ini adalah cewek yang paling menjadi idaman cowok. Cowok butuh cewek yang ‘tidak punya pikiran apa-apa’ sewaktu nge-date. Karena tidak punya harapan apa-apa, Anda akan senang menerima apapun pemberian si cowok. Ini akan membuat para cowok merasa dihargai. Sebaliknya, cowok paling gak suka sama cewek yang punya harapan ketinggian. Apalagi yang tidak menghargai pemberian si cowok. Kalau kamu dikasih bunga malah bilang, ‘Yaaah kok cuma bunga?’ saya jamin si cowok bakal bete dan pergi. Kecuali cowok gila, mungkin dia bakal berpikir, ‘Oh, ya udah. Besok aku bawain sekalian pupuk komposnya.’

Empat. Lebay. Percayalah, sesungguhnya, tidak ada cowok  yang suka cewek berlebihan. Tetapi hal ini tidak berlaku di hari valentine.  Bisa dipastikan, saat hari valentine, SEMUA COWOK suka sama cewek lebay. Saat menerima hadiah valentine, bersikaplah selebay mungkin. Ambil cokelat dari dia lalu mengeranglah, ‘AAAAAAAAKKHH?!!’ Dan saya jamin, dia bakal terkesima oleh reaksi Anda. Anda bisa melatih erangan ini dengan datang ke Pasar Senen. Pas ada preman yang nodongin piso, mendesahlah, ‘AAAAAAAAAKKHHH?! UUKKKHHHHH…’ Mungkin Anda akan selamat dan preman tersebut malah ngasih coklat ke Anda. Kemungkinan lainnya Anda akan diperkosa di tempat. Semua tergantung erangan Anda.

Jika Anda sudah mampu melatih teriakan tersebut dengan natural, jadilah cewek yang pemalu. Yang sewaktu si cowok ngasih cokelat, Anda akan tersenyum sambil nutupin mulut pakai tangan. Anda bisa aja sok-sok nolak dengan bilang, ‘Iiih kamu apaan sih?! Hihihihi!’ sambil masukin coklat ke kantung kresek yang telah Anda siapkan. Senyumlah seramah mungkin. Ledek si cowok dengan melet-melet kecil seperti layaknya ular. Biar semakin mirip ular, sesekali ludahin si cowok, ‘CUIH!!’

Lima. Cowok gak suka foto? Pembual! (kecuali dia). Biar saya bongkar rahasia ini: semua cowok pengin foto. Asal diajak dan ada cewek di sampingnya. Ya, dalam hal ini, cowok emang sama kayak cewek. Cowok gak suka ditanya, ‘Kamu mau foto gak?’ Atau ‘foto yuk?’ Tetapi, jauh di lubuk hati mereka, cowok-cowok suka kalau ada cewek yang langsung beridiri di sampingnya, lalu ngarahin hape untuk selfie berdua. Dasar cowok kampret!

Jadi, untuk mendapatkan banyak cokelat, kamu harus berani narsis. Bukannya yang ketika diajak foto bareng malah, IHIHIHIHIHIHIHHIHI enggak ah. Malu!’ padahal mulut udah dimonyong-monyongin.

Enam. Gak takut gendut. Ini jelas! Jika Anda ingin mendapatkan banyak cokelat di hari valentine, Anda tidak boleh takut gendut. Apalagi Anda yang sekarang kalo ngaca udah jerit, ‘TOLOOOOOONG?! MONSTER APA YANG MENDIAMI PERUTKU YA ALLAH?!!’

Kecuali emang coklatnya pengin Anda jual lagi.

Tujuh. Sejatinya, coklat di hari valentine itu nggak penting. Menjadi idaman cowok-cowok sewaktu valentine juga sama tidak pentingnya. Ketahuilah, apapun Anda sekarang, adalah Anda yang sejujurnya. Anda yang paling baik. Anda yang menjadi diri sendiri. Karena dengan menjadi diri sendiri, cowok akan suka Anda, bukan di hari valentine. Melainkan di setiap hari.


Master Mister Uncle Senpai Kresnoadi Samurai X,

HAIKK!! ITADAKIMASU?!! 
Suka post ini? Bagikan ke: