Sunday, December 18, 2016

Yogyakarta Story - Prolog


Hal pertama yang ada di kepala kita setelah memesan tiket perjalanan adalah membayangkan identitas orang di sebelah kita. Apakah dia laki-laki atau perempuan. Bagaimana wajahnya. Berapa umurnya. Seperti apa aroma tubuhnya. Seberapa jauh perjalanannya. Di mana tujuannya.

Hari itu, gue sedang tidak ingin membayangkan siapapun. Gue hanya ingin merenung sepanjang perjalanan Jakarta - Yogyakarta. Meletakkan ransel hitam di kursi sebelah kanan. Diam di pinggir jendela bus, menatap pantulan diri gue sendiri, di balik gelapnya sisi jendela.

Mungkin orang-orang akan menganggap ini seperti dalam Eternal Sunshine of the Spotless Mind, atau bab Di Balik jendela buku Cinta Brontosaurus. Padahal, gue sama sekali tidak ada masalah sama percintaan. Gue hanya merasa, semakin kita bertambah umur, kita jadi sadar bahwa pilihan yang kita ambil akan menentukan masa depan kita. Ke kiri atau ke kanan. Karir atau pernikahan. Rumah atau mobil. Kebahagiaan atau kemapanan. Bagaimana ketika pilihan-pilihan itu kita tentukan, semuanya akan berpengaruh pada langkah yang diambil. Besar atau kecil. Sekarang atau nanti.

Dan gue pikir, 12 jam ke depan akan jadi waktu perenungan yang baik.

Gue ingin memikirkan,
apa yang harus gue lakukan ke depannya.

Sayangnya, perempuan setengah baya dengan kerudung pink dan kardus di tangannya membuat rencana gue gagal. Dia meletakkan kardus di lantai kursi sebelah kanan gue. ‘Mau ke mana?’

‘Jogja. Hehehe.’ Gue lalu memalingkan wajah ke kiri. Memasang headset.

Dari jendela, samar-samar terlihat bayangan si ibu ini yang sedang mengobrol dengan perempuan seumuran gue di kursi seberang kanan. Di belakangnya, puluhan mobil berderet diam. Jalan tol Jakarta sore kenapa macet gini. Apesnya lagi, lubang AC di bagian atas kursi gue bolong dan anginnya tepat mengarah ke kepala. Akhirnya gue memasang hodie, senderan di jendela, berusaha untuk merem.

Tapi gak bisa.
Akhirnya kembali nengok ke ibu di samping.

Gue paling gak suka situasi awkward gini. Duduk lama berduaan dengan orang yang sama sekali asing rasanya aneh banget. Mau ngapa-ngapain jadi serba salah. Mau ngajak ngobrol kesannya sok asik, tapi kalo diem aja garing banget.

‘Anak saya seumuran kamu, lho.’ Si ibu membuka pembicaraan. Untung aja.
Gue mematikan music player di hape. ‘Wah, masa?’
Si ibu mengangguk mantap. ’Iya. 26 tahun. Baru aja nikah bulan kemarin.’

Gue melihat raut wajah yang aneh dari si ibu. Seperti ingin berbicara sesuatu, tetapi menunggu dipancing. Akhirnya gue gajadi blang: ‘BODO!’ dan lebih memilih untuk kembali mengatakan, ‘Oh ya?’

‘Iya. Kamu udah nikah belum? Saya ini seumuran ibu kamu kan ya?’
Gue memerhatikan wajahnya lebih dalam. ‘Iya deh kayaknya. Ibu saya lima puluhan sih.’
‘Saya belom lima puluh!’ Si ibu nyamber cepet.

Gue kaget dengan respons si ibu. Dan menyesal kenapa beberapa detik sebelumnya gak nyamber: ‘SAYA JUGA BELOM DUA ENEM!’ Akhirnya gue bilang, ‘Saya belum nikah sih, Bu.’

Setelah mendengar jawaban gue itu, si Ibu ini tampak bersemangat (semangat pengin cerita, bukan mau nikahin gue). Dia kemudian bercerita panjang lebar tentang anaknya yang lulusan ITB. Mendapat beasiswa semasa kuliahnya. Bekerja di salah satu perusahaan minyak ternama. Anak sulungnya yang dia kenal penurut, dan jadi berubah semenjak mengenal perempuan pilihannya.

Gue sendiri agak kaget karena si ibu berani cerita hal-hal pribadi kayak gini ke gue yang bahkan namanya aja dia gatau. Atau mungkin dia memang sudah memendam ini sejak lama, tapi tidak tahu harus menceritakannya ke mana. Lagipula, itu kan enaknya cerita sama orang yang kita tidak kenal. Sehabis cerita, lega, dan hilang begitu saja seiring dengan perpisahan nanti.

Si ibu ini kemudian menceritakan tentang si perempuan ini. Tentang ia yang lulusan UNJ. Tentang ia yang sering datang ke rumah dan terus menerus minta dilamar. Bagaimana ia membuat si ibu marah untuk pertama kalinya. Bagaimana pada akhirnya, si ibu tidak tahan untuk berada di ruangan resepsi anaknya, dan memilih untuk pulang sebelum acara berakhir. Bagaimana ia punya dilema besar karena di satu sisi membencinya, tapi di sisi yang lain, anaknya begitu menyayanginya.

Mendengar cerita si ibu, gue malah jadi mengingat-ingat sendiri. Sejak jaman dulu, untungnya nyokap selalu oke-oke aja sama (mantan) pacar gue. Gue ga bisa ngebayangin apa yang akan terjadi kalau hal ini terjadi di hidup gue. Harus memilh di antara dua cewek yang bener-bener gue sayangin nantinya: nyokap dan istri.

Tentu teorinya gampang. Gue gamau dikutuk jadi batu, jadi milih nyokap. Tapi kenyataannya? Oh, gue bahkan gak sanggup buat sekadar mikirinnya.

Cerita ini terus berlanjut sepotong demi sepotong. Seperti rangkaian puzzle kecil-kecil yang gue susun sendiri. Terkadang cerita berhenti karena kami harus turun untuk makan malam. Terkadang, ceritanya terputus karena gue yang tidak tahu harus merespons apa, dan memilih untuk mengangguk saja.

Sampai pukul lima pagi, si ibu ini bersiap turun di Purworejo.
Sambil mengemasi barang-barang, dia bilang, ‘Kamu boleh percaya atau enggak ya, tapi sukses atau hancurnya seseorang itu gara-gara cewek lho.’

Waduh…

(bersambung)



Suka post ini? Bagikan ke:

65 comments:

  1. Hmmm enak y bang
    Diperjalanan disuguhin dongeng

    ReplyDelete
  2. Kalimat penutup lo bener banget, Di.

    ReplyDelete
  3. Jadi kamu percaya nggak, Di? Saya percaya peran cewek bisa jadi variable di rumus kesuksesan seseorang.

    ReplyDelete
  4. Kok endingnya serem? Btw Eternal Sunshine bikin seorang cowok bernama Joel Barish hancur gara-gara seorang cewek. Huhuhu. Walaupun ending filmnya bagus sih.

    Aaah ini postingan ending-nya serem pokoknya. Horror! :(

    ReplyDelete
  5. "enaknya cerita sama orang yang kita tidak kenal. Sehabis cerita, lega, dan hilang begitu saja"
    setuju banget sama kalimat itu. :))

    ReplyDelete
  6. That Ending tho.. Kadang memang ada benernya sih, lagi pula mereka 'Orang Tua' atau orang yang lebih tua daripada kita pasti punya pengalaman yang lebih banyak.

    ReplyDelete
  7. Intinya, dalam kehidupan berumah tangga, suami dan istri harus bisa saling main oper-operan cantik untuk mencetak gol. (lho?)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi carilah pasangan hidup yang jago bola (?)

      Delete
  8. Percaya gak mas ? :)
    Jadi penasaran nih kelanjutannya..

    ReplyDelete
  9. si ibu ini serem juga ya huahaha.

    mungkin dia berani ceritain soal anaknya ya karena udah mendem aja, cerita biar plong, toh lo gak kenal sama si ibu itu dan gak mungkin cerita ke anaknya. :))

    ReplyDelete
  10. Wah anak UNJ ngeri juga ya :D

    *kemudian dikeroyok anak UNJ*

    ReplyDelete
  11. Waduh..

    Gue kadang nemu juga ibu-ibu yang begini di bus, kalau nyambung bisa ngobrol sampe bilang "Semoga satu bus lagi ya hihi". Banyak enaknya kalau cerita sama orang yang gak dikenal, yaa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini lo gedenya pasti ya jadi spesies ibu2 itu. Muahahaha. *kabur naik ojek*

      Delete
  12. Nggak berani juga bayanginnya.

    Tapi cerita begini biasanya berujung: si Ibu akan ikhlas ketika ia sudah diberi cucu oleh anaknya.

    Kayak ending film Miss Granny. :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, tadi mau komen begini. Untung gue memegang teguh budaya baca komen dulu baru ikutan komen. Setuju sama kang rido.

      Btw yg 26 thn itu Kang Rido keknya. Cmiiw

      Delete
    2. Gue bahkan nggak ngerti kalian ngomong apa...

      Delete
  13. Wah wah wah cewe UNJ bahaya ya.

    Btw, aku sendiri percaya sama apa yang si Ibu bilang bilang bang. :))

    ReplyDelete
  14. Padahal ibu itu notabene seorang wanita juga ya, jadi beliau juga pernah atau masih berperan penting terhadap sukses atau hancurnya sang suami /eh.
    Jadi jawabannya percaya atau nggak?

    ReplyDelete
  15. Pertama, bang lo ati-ati sama cewek. Hahaha
    Kedua, duduk di bis dan pasang headset itu gue sering lakuin.
    Ketiga, meskipun pasang headset udah, tetep kalo sebelahnya ibu-ibu pasti bakal diajak cerita dan ditanya-tanya mulu sampe gue cuma "ehe-ehe gitu ya bu?"
    Keempat, curhat pribadi dari ibu-ibu itu suka bikin bingung, ga respon dikira sombong -_- Saya sedih hahahaha

    ReplyDelete
  16. Dalem banget ceritanya dii beerr. dilema banget ya kalau pilihan kayak gitu. dan kutipan terakhir itu bikin jleb juga ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu 'beerr' maksudnya lagi kedinginan apa gimana? Tolong jangan isi komen, mandinya selesaikan dulu.

      Delete
  17. Tulisan lu lagi-lagi membuat gue merenung. :))

    Duh, syukurnya nyokap gue sreg aja sama pacar sekarang. :D

    ReplyDelete
  18. Abis baca ini gue langsung mikir, apa iya semuanya gegara cewe?

    Dan jawaban atas pemikiran gw cuma satu sih;

    "Om telolet om"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Inilah bukti buruknya sistem pendidikan di Indonesia...

      Delete
  19. Orang tua gue juga bilang begitu . Kan sekarang gue masih SMA nih,ya jangan sampai pacaran dulu nanti malah gak konsen jadinya . Ya kalo sebatas temen aja sih gak papa.

    Btw , purworejo daerah kakek gue tuh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gakpapa temen asal jangan temen rasa pacar. Hmmm.

      Delete
  20. Bilang sama ibuk itu "Fasya percaya buk"

    ReplyDelete
  21. Lulusan UNJ serem, ya. Gue mau masuk situ lagi. Halah bodo amat. Yang penting ini tulisan keren gila. :)

    ReplyDelete
  22. Ditunggu Tulisan Lainnya Ya...


    Semangat Berkarya, Sukses Selalu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ditunggu pesananan medali murahnya ya.


      Semangat berkarya, sukses selalu.

      Delete
  23. Agak kesindir sih ma cerita nya. Tp jadi tau sekarang harus ngapain. Sukses selalu

    Kunjungi juga blog ane ya junidistro.blogspot.com

    ReplyDelete
  24. Replies
    1. Sama-sama. Semoga berguna bagi teflon di rumah. :)

      Delete
  25. Anying jujur banget tulisan ini, sering gue nemunin orang gak dikenal di kendaraan umum yg tujuannya jauh, biasanya emang lebih tua sih yang tetiba curhat masalah pribadi gitu.

    Gue sendiri kadang sampe bingung harus respon gimana. Kapan nih lanjutannya?

    ReplyDelete
  26. Sering yaa kalau abis ngobrol sama yang ga di kenal,dan dia kasih saran/nasehat,berasa jleb aja gitu di dada

    ReplyDelete
  27. Wah nyokap gue tuh, eh bukan kan gue blm nikah. tetangga gue itu ibu-ibu berarti wkwkwk. Ada hikmahnya di ketemu Ibu yg seneng curhat, bisa kita tiru curhat ke org yg gak dikenal, lega, lantas hilang begitu saja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. WAH JADI LO ANAKNYA?! *siram pake kratingdaeng*

      Delete
  28. Oh, yang kemaren lo langsung ngantor itu ya?
    Eh tapi ini perjalanan perginya ya? Pulangnya yang langsung ke kantor :p

    ReplyDelete
  29. perjalanan pakai bis, ys. mungkin kah Adi akan mendengar bunyi legendaris yang dipicu oleh segerombolan anak dengan membawa tulisan 'om telolet om'?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silakan dibaca cerita lanjutannya gan! \:p/

      Delete
  30. nah makanya kalau mau deketin cewek ambil dulu hati ibunya, kalau sdh kena , gampang deh

    ReplyDelete
  31. Baca ini gua jadi kepikiran kata-kata: harta, tahta, wanita. Engga tau ada relasinya atau engga, tapi kayanya ada sih dikit mah.

    Gua malah lebih seneng ketemu ibu-ibu kaya gitu kalau perjalanan jauh, seengganya ada temen ngobrol, walau banyakan dia yg ngomong kita mah dengerin aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi kan penginnya ketemu kondektur cantik kayak di FTV. :(

      Delete
  32. Klo emang semua gegara cewek. Jangan sakiti mereka. Jangan selingkuhi mereka. Jaga mereka seperti engkau menjaga ibumu. BOOM! *Jin baik gue yang ngetik :D

    ReplyDelete

Kalo kamu suka sama tulisannya, jangan lupa untuk bantu share dengan tekan tombol sosmed di atas yaa. \:D/

Untuk yang mau main dan ngobrol-ngobrol, silakan add LINE di: @crg7754y (pakai @). Salam kenal yosh! \(w)/