Saturday, August 6, 2016

Tentang Kebetulan

Gue kok ngerasa udah lama banget nggak post ya? 
Padahal lagi banyak yang pengin gue ceritain belakangan ini. 

Gue ngetik ini dengan posisi asik abis. Di depan gue ada kolam buatan. Ada satu air mancur kecil yang cipratannya berbentuk bunga. Airnya seolah berwarna ungu dan pink karena ada lampu yang menyorot. Di dekatnya ada rakit dan dua angsa yang lagi duduk (atau tidur?). Angin semilir bikin suasana malam ini semakin adem. Padahal sekarang malam minggu, tapi beberapa pasangan mendadak pergi begitu gue ngeluarin laptop dan mulai mengetik. Andai semua makhluk hidup punya toleransi kayak gini.

Gue sebenarnya bingung sih mau mulai dari mana. Banyak cerita yang numpuk di kepala dan minta dikeluarin satu per satu. So, first thing first, tadi siang gue baru aja update bab terbaru buku Tunggang Langgang di sini. Sejauh ini gue lumayan santai sih. Karena emang naskahnya udah selesai, gue tinggal mengedit dan preview terakhir sebelum upload. Gimana menurut temen-temen Tunggang Langgang? Ada yang bisa nebak bab selanjutnya apa? \:p/

Well, let’s talk about something.

Ada yang percaya sama kebetulan? Kebetulan bisa berubah menjadi keberuntungan, kesialan, atau bahkan takdir. Pernah berpikir nggak sih, kalau misalnya kamu di waktu kemarin tidak memilih sekolah di SMA sekarang. Atau memutuskan untuk melanjutkan kerja. Atau pilihan-pilihan lainnya, akan seperti apa hidup kamu sekarang? Ketika macet, orang seringkali berpikir bahwa jika ia memilih jalan alternatif lain, posisinya sekarang pasti sudah sampai ke tujuan. Tidak akan berhenti dan macet-macetan kayak gini. Padahal, itu belum tentu. Bisa saja ketika dia lewat jalan tersebut, dia malah terkena macet, dan mengharapkan hal sebaliknya.

Kebanyakan dari kita selalu mengharapkan hal-hal yang tidak bisa kita dapatkan.

Kebetulan sering kita temukan di dalam film-film. Di dunia ini, orang banyak yang mengaitkan kebetulan dengan ‘udah dari sananya’. Padahal, kebetulan itu hal yang lucu. Bagaimana kita bisa bertemu dengan si A di SMP, sampai akhirnya berteman dekat sampai menikah. Pemilihan bangku bioskop, kemudian mengobrol dengan orang sebelah, yang, akhirnya malah berdekatan dan pacaran.

Kemarin gue sempat mengetwit tentang “Kenapa kata pertama yang kita ucapkan sewaktu menelepon adalah ‘halo’?” Bagaimana seandainya Alexander Graham Bell memikirkan kata lain yang lebih keren. Mungkin di masa sekarang, sewaktu teleponan kita akan ngomong, ‘Wingardium leviosa! Dengan siapa saya bicara?’

Tidak butuh waktu lama sampai gue tahu jawabannya. Ada beberapa orang yang membalas twit tersebut dengan ‘Kalo nggak salah Halo itu nama istrinya.’ Ada juga yang bilang kalau Halo adalah nama mantannya. Jawaban manapun yang benar, gue jadi tahu kalau Halo adalah nama orang. And, it becomes to another coincidence. Gimana kalo istri Bell namanya Juliana. Atau yang lebih ekstrem: Sumiyati. Sekarang pasti kita bakal ngomong, ‘Eh, kok kresek-kresek? Sum! Sumiyati?!’

Pikiran ini langsung mengingatkan gue dengan butterfly effect. Di mana hal-hal kecil yang kita lakukan bisa berdampak besar bagi hidup. Gue percaya kalau semua hal besar memang berasal dari hal kecil. Kalau Cinta cuek dan tidak mencari Rangga, mungkin ia akan terkenal satu sekolahan. Lebih jauh lagi, mungkin ia tidak berencana ke New York, misalnya. Kalau gue tidak menulis postingan ini, mungkin tidak ada orang yang berpikir tentang pertemuan-pertemuannya dengan seseorang karena ‘kebetulan’. Tentang kamu yang tidak masuk jurusan kuliah sekarang, karena jurusan ini adalah pilihan kampusnmu. Terlempar, dan akhirnya menemukan orang-orang yang ada di sekitarmu saat ini. Peristiwa yang mungkin, seringkali kita acuhkan begitu saja. Padahal memiliki dampak yang begitu besar.

Besok, Syahrul, teman gue semasa kuliah menikah. Kerennya, dia tidak benar-benar tahu siapa calon istrinya. Dia hanya sepenuhnya percaya bahwa menikah adalah ibadah. Dia bertanya ke salah satu ustaz dan meminta untuk dicarikan calon pasangan. Si ustaz mengiyakan, dan, voila. Besok dia akan resmi jadi suami. Satu lagi hal yang membuktikan bahwa ‘kebetulan’ dari hal kecil (pasangan yang dipilihkan ustaz-nya) akan berdampak amat besar buat hidup seseorang. Entah bagaimana hidupnya ke depan, yang jelas gue sendiri percaya bahwa dengan melakukan hal positif, dunia ikut berkonsprasi untuk membawa kebaikan pada kita.

Duh, udah lama nggak post, sekalinya nulis malah jadi panjang begini.
Okay, then. See you and hope you meet your best coincidence! \(w)/
Share:

13 comments:

  1. Kebetulan, gua bingung kebetulan itu emang ada atau hanya istilah yang manusia buat untuk nyatain ketidak sengajaan? Dan ya emang kadang 'kebetulan'itu justru bisa merubah hidup, ga tau ke arah yang baik atau yang buruk.

    Btw, lu kapan nyusul bang? *ditoyor*

    ReplyDelete
  2. menurut gue ngak ada yang namanya kebetulan. Semua itu udah diatur oleh Sang Maha Pengatur.
    Adi nyusul Syahrul gih, keburu monopouse :p

    ReplyDelete
  3. Kebetulan gue baca postingan ini, kebetulan juga gue flashback kenangan kecil gue dulu..
    Kalau dulu gue nggak ini itu, entah sekarang jadi gimana..
    Kebetulan, ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada artikel yang membahas tentang artikelmu :D http://www.andikamachmud.com/2016/08/kebetulan-itu-takdir.html

      Delete
  4. Dan kebetulan gue kemaren nggak sengaja baca buku saku tentang kebetulan ini. Bukunya berbau agama sih. Kalo kita mengandaikan sesuatu, misalnya "kalo aja gue nggak lewat sini, pasti nggak kena macet." itu udah bikin kita ngeduluin Allah katanya. Yakin emang kalo lewat jalan lain bakal nggak macet? Gitu.

    Kebetulan juga gue baca postingan ini. Haha.

    Btw, itu Syahrul, beneran? Gue nggak bisa bayangin kalo jadi Syahrul. --

    ReplyDelete
  5. Terus gue mikir, apa yg udah hadir secara 'kebetulan' dihidup gue?


    Tau ah gelap.

    ReplyDelete
  6. Keren, ih, Syahrul. Kayak blind date gitu yaa..

    Kadang gue percaya kebetulan. Rese rasanya begitu tau kebetulan gue bisa ketemu orang yang bikin luka dalam bertahun-tahun. :')

    ReplyDelete
  7. hmm boleh juga tuh cariin jodoh sama pa ustadz #gagalfokus

    ReplyDelete
  8. Di jepang malah pake "Moshi-moshi?" buat ganti kata halo.

    Mungkin kebetulan juga gue bisa nyasar kesini.

    ReplyDelete
  9. Tu kan kalo lagi waras postingannya adi selalu cakep dahhh, hhhaha

    ReplyDelete
  10. hhhm kebetulan yaa.
    gue agak gak percaya sih sama kebetulan, karna menurut gue hal sekecil apapun itu udah direncanain sama yang diatas *eternit*
    jadii ya semua itu udah direncaian jadi gak kebetulan.

    ReplyDelete
  11. kalo menurut ane sih ga ada yang namanya kebetulan, semuanya itu direncanain, karena dalam hidup ini ada dua rencana, yaitu rencana kita dan rencana tuhan. jadi jika kita gagal berati ada rencana tuhan yang lebih baik

    ReplyDelete
  12. emang bener sih farih ikmaliyani. saya juga pernah denger dari salah seorang ustadz kalau mengatakan "kalau saja,........pasti......" itu sudah termasuk ngeduluin allah bahkan termasuk musyrik. he
    tapi terlepas dari itu semua,postingannya cakep bang. salam kenal

    ReplyDelete

Jangan lupa follow keriba-keribo dengan klik tombol 'follow' atau masukin email kamu di tab sebelah kanan (atau bawah jika buka dari hape). Untuk yang mau main dan ngobrol-ngobrol, silakan add LINE di: @crg7754y (pakai @). Salam kenal yosh! \(w)/