Monday, May 30, 2016

Dari Sapi, Untuk Jakarta

sapi idul kurban

Jakarta 2016. Akhirnya bisa juga dateng ke tempat ini. Magnet dari perputaran uang. Bisnis, kriminalitas, dunia malam. Sumber kehidupan dari puluhan, atau ratusan, atau jutaan kepala keluarga. Penghasil ekonomi, gejolak politik terbesar, pusat teknologi canggih. Bentar, bentar. Ini kok kayaknya kepinteran ya buat gue?

Jakarta 2016. Matahari pelan-pelan sembunyi ke belakang gedung pencakar langit. Orang-orang berkemeja terbenam dari lobi kantor. Tidak ada New York hari ini.

Bentar, bentar. Terlalu puitis.

Jakarta 2016. MOOOOOOO!!

Nah, ini yang gue suka. Sederhana, dan sungguh tidak bermakna.

Ini pertama kalinya gue dateng ke Jakarta. Setiap tahun, Jakarta emang banyak butuh makhluk seksi seperti kami. Dan tahun ini, akhirnya giliran gue. Gosip di kampung pada bilang kalau sapi-sapi yang dibawa ke Jakarta ga pernah balik. Tapi gue udah pasrah. Hidup dan mati hanya di tangan Tuhan… dan tukang gorok sapi.

Kesan pertama gue ketika sampe Jakarta: biasa aja. Gue pikir orang Jakarta sekeren yang terlihat di tv. Bisa mengubah dunia lah. Ini lah. Itu lah. Ternyata itu di tv doang. Aslinya? Masih banyak tuh yang berak jongkok di wc duduk. Mendingan gue lah! Boker di jerami. Hehehehe.

Tapi, walaupun begitu gue bahagia banget bisa sampe sini. Katanya, di sini, sebagian kaum kami ada yang diperlakukan dengan istimewa. Ada yang dipijet-pijet, didengerin musik klasik, dihidangkan dengan harga mahal. Oke, gue mulai bingung harus bangga atau menangis…

Dan karena udah sampai sini, sebelum berakhir tempat pemotongan, gue bakal minta ke sopir buat ngelewatin istana merdeka. Karena gue mau protes! Ya, Anda tidak boleh komentar. Sapi juga manusia! Oke, bukan sih. Tapi tahu kan maksudnya? Makanya nyusu biar pinter!! Ya udah lah. Intinya, gue telah mempersiapkan daftar protes dan akan gue bacakan saat ini juga! Kami akan demo! Mooo!!

Dengarkan ini wahai pemerintah! Selama ini kami diam! Selama ini kami hanya bergeming menunggu momen yang tepat! Dan sekaranglah waktunya! Sekaranglah saat yang tepat untuk bersuara! Moooo! Kami, para kaum sapi, sudah muak dijadikan bahan olok-olokan! Mungkin kami gendut! Kami suka make tindik di idung, tapi kami tidak pernah menyakiti kalian! Kami tidak pernah menuntut aneh-aneh kepada para pemilik kami. Ga pernah liat kan, begitu peternak masukin rumput ke depan mulut kami, lalu kami semua protes, “HALAH RUMPUT MULU?! SEKALI-KALI LONTONG SAYUR DONG!!” Enggak kan?! Hah? Hah? Selama ini kami sabar menghadapi Anda semua, Bung!

Tapi tidak untuk kali ini!

Kami tidak terima jika kalian suka ngatain sesama manusia dengan bilang, ‘Eh, sapi lo ya!’ atau ‘Dasar lo sapi!’ atau ‘COW SAPI!! BAPAKLO KEBO!!’ Hidiih. Enak aja bawa-bawa kebo ke kehidupan kita. Emang kita sapi apaan…

Kami tidak terima! Emangnya kita seburuk itu sampai dibuat bahan olokan? Gabisa apa make nama spesies sendiri? ‘Dasar lo Dodi!’ atau ‘Eh Wijayanto lo ya!!’ Silakan ledek spesies kalian dengan nama kalian sendiri. Anda sudah terlalu sering membuat kami menangis..

Protes kedua kami adalah, gunakan nama spesies kami sebagai kalimat waktu latah. Ya, itu adalah permintaan kami. Memang terkesan agak iri, tapi itulah faktanya! Kalian, termasuk lo, Ruben Onsu, gue ga seneng ya kalo lo latah malah tereak, “AYAM! AYAM! AYAM!!” Hellooow, Sapi lebih keren kali dari ayam. Harganya jauh lebih mahal, tapi kenapa lo malah inget ayam waktu dikagetin? Waktu di Sumedang, di peternakan itu, gue denger katanya lo sering latah ayam karena takut ayam ya? Idih, apa coba yang perlu ditakutin dari ayam? Udah mukanya jelek, kampungan, rambutnya Mohawk semua lagi! Emangnya lo ga takut sama kami? Sini, terima sepakan kaki belakang gue. Pokoknya, begitu nanti gue nonton tv, gue harus udah liat lo dikagetin dan menjerit, ‘SAPI! SAPI! SAPI!’ Mudah-mudahan semua itu terjadi sebelum gue menjadi gulai.

Permintaan ketiga kami adalah, JANGAN SEKALI-KALI GUNAKAN KAMI SEBAGAI BAHAN PERTANYAAN ALAY!! Sumpah ya kami ga tahan. Kenapa sih kalian, para manusia ini, ga pernah kreatif? ‘Sapi, sapi apa yang bisa buat nulis?’ Lalu yang ngasih tebakan ketawa ngikik sambil bilang, ‘Sapidol!!’

SUMPAH ITU GA ADA LUCU-LUCUNYA!!

Dengan ini kami menyatakan protes! Pokoknya, mulai disebarkannya protes ini, setiap kali mendapat tebak-tebakan norak kayak gitu, kalian harus pada jawab, ‘GA ADA SAPI YANG DIPAKE BUAT NULIS!! NULIS MAKE PULPEN FASTERR?!!!’

Oh ya, gue baru inget. Ada satu lagi tebak-tebakan kampungan: ‘Sapi sapi apa yang bisa nempel di dinding?’ Dan jawabannya ‘Sapiderman.’

WHO THE HELL IS SAPIDERMAN??? (Maaf, kalo lagi ngamuk gini gue suka tiba-tiba jago bahasa inggris). Tolong jangan catut nama kami untuk kesenangan kalian semata. Sapiderman? Maksudnya gabungan sapi dan spiderman? Kalo spiderman bisa ngeluarin jaring dari tangan, terus Sapiderman bisa ngeluarin jaring dari mana? Payudara? Hah? Mikir dong! Minum susu makanya biar pinter!!

Oke, truknya udah mulai melambat. Kecepatannnya sama kayak otak pejabat di negeri ini. Kayaknya udah mau sampe deh. Dan itu berarti tidak berapa lama lagi gue bakal tewas. Ini jihad teman-teman sapi! Jangan takut! Yang perlu kita takutkan adalah kita ga bakal tahu Ruben Onsu masih kaget ‘AYAM! AYAM! AYAM!’ atau enggak. Tapi jangan khawatir, mudah-mudahan teman-teman sepersapian kita di kampung pada mencari tahu.

Berhubung waktu sudah semakin singkat, gue mau lo semua, manusia, tatap mata sapi dalam-dalam. Lihatlah bola mata kami. Pandang dengan jeli. Udah? Oke, emang suka ada beleknya dikit, tapi bukan itu poin gue. Perhatikan warna mata kami! Apa? Item kan?

TERUS KENAPA TELOR CEPLOK YANG KUNING ITU DIBILANG TELOR MATA SAPI?!

Dari mana kalian bisa ngarang gitu. Tolong lah. Di luar negeri aja nggak ada yang namanya Cow’s eyeball egg. Tidak ada!

Kalo yang kuning ini nih:

mata kucing kuning


Atau ini:

dijah yellow fenomenal


Duh, truk sudah berhenti. Untung di depan masih macet. Kayaknya tinggal satu belokan dan nyawa kami, para sapi yang tidak pernah kalian hargai ini, akan berakhir. Tapi, di sini, di atas truk yang bertuliskan ‘Kutunggu Jandamu’ ini, gue ingin memberikan sebuah rahasia. Kalian mungkin tidak percaya ini, tapi kami mendapatkan fakta ini dari sumbernya langsung. Siapa? Kami, para sapi sendiri.

Faktanya tersebut adalah: Lima permen milkita tidak sama dengan segelas susu. Kalo pake gelas extra joss.

Kami harap setelah mengetahui fakta ini kalian tidak lagi tertipu. Mudah-mudahan semua protes kami didengar. Kalau tidak, rasakan harga kami yang semakin mahal! Dan begitu lebaran nanti… Eh, lebaran… Itu beda ya sama Idul Adha? Yang ajang penggorokan kaum kami? BERARTI GUE MASIH SELAMET!! TERIMA KASIH TUHAN!!! JIHAD KAMI TIDAK SIA-SIA!! MOOOO?!!


Dari Sapi,
untuk Jakarta. 


ps: postingan ini dibuat atas tantangan gambar di line keriba-keribo. Jadi, gue minta temen-temen untuk mengirimkan gambar dan gue bikin ceritanya. Makasih Gending Serani buat gambar sapinya! \(w)/ 

pps: Foto sisanya diambil dari google.
Share:

16 comments:

  1. Serius ngakak bacanya... Membayangkan sapi lagi demo di depan Istana Merdeka lalu diliput keluar di tivi, haha. Salam kenal Mas, anw postingannya baguuus.

    ReplyDelete
  2. gambar sapinya kegedean tuh, Di.

    anjir semua jokes kodian soal sapi keluar. sedih gue bacanya :(

    ReplyDelete
  3. Haha ternyata tulisannya tentang sapi, baguss di..

    Tapi alangkah baiknya jika kata sebutan "gue" diganti jadi "saya/aku" sekalian. Biar kesan asli dari daerahnya dapet, kalau memakai "gue" itu orang cenderung merujuk ke arah jakarta

    ReplyDelete
  4. wedewww kerenn bang! Nanti gue kirim foto ternak-ternak lain deh biar jakarta penuh #lah

    ReplyDelete
  5. Kok gue beneran iba ya sama sapi? Kasihan...

    Oiya buat Adi. Wijayanto lo ya! Menjiwai banget sebagai sapi.

    ReplyDelete
  6. Kalo dilihat dari sisi pikiran yang tau tentang peternakan ada kata yg kurang pas sih wkwk. Tapi secara keseluruhan saya menikmati bacanya, menjiwai banget peran sapinya haha. Teruskan! Dukung selalu kehidupan Sapi!=))

    ReplyDelete
  7. Wah seru seru.
    Karakter sapinya oke. Hahahaha.

    Tapi, itu sapi tau dari mana manusia boker di wc duduk dengan cara jongkok.
    Gue salah satu spesies manusia yang begitu. Curiga. Itu sapi apa pernah ngintip gue lagi boker, ya?

    ReplyDelete
  8. Gue kira lu beneran baru pertama kali ke Jakarta. Hampir nggak percaya. Eh, ternyata...

    Ngebayangin sapi marah-marah terus ngomong begitu ngeri juga ya.

    ReplyDelete
  9. ITu apaan cobak, ada si Dijah yang pake gayung. Ampung deh... XD

    Ngeri juga ya Di, kalo ada Sapi demo begitu. Marah2 gak jelas. Jadi kelanjutan Film Civil SAPI WAR XD

    ReplyDelete
  10. Yaarabb sapi berorasi kalo kayak gitu, di Istana Merdeka itu tuh... Jadi trending topik x))
    Edan lah edan.
    Eh bentar. Gelas extra joss? Yang gimana sih? :(

    ReplyDelete
  11. Bhahahhaaaa gilaa asli. Gue ngakak baaangg.

    'Emang kami sapi apaan... ''
    Geli hahahaaa

    ReplyDelete
  12. Save sapi
    Sapi adalah penunjang kehidupan
    Sapi itu ipas..

    Kok bisa sih bikin yang begini. Alig!

    ReplyDelete
  13. kok pas ya sama berita sapi - sapi yang beredar sekarang di tipii.. :D

    ReplyDelete

Jangan lupa follow keriba-keribo dengan klik tombol 'follow' atau masukin email kamu di tab sebelah kanan (atau bawah jika buka dari hape). Untuk yang mau main dan ngobrol-ngobrol, silakan add LINE di: @crg7754y (pakai @). Salam kenal yosh! \(w)/