Monday, April 4, 2016

J.



Di dunia ini ada tiga jenis laki-laki.

Laki-laki pertama adalah yang berusaha membuat dirinya sukses terlebih dahulu. Sampai kemudian memilih calon pasangan yang dirasa pantas. Lelaki kedua, adalah mereka yang sering bergonta-ganti pasangan. Berpetualang dari satu perempuan ke perempuan lain, sampai akhirnya, ia menemukan sosok the one. Laki-laki ketiga, adalah mereka yang percaya bahwa orang yang ada di sampingnya setiap bangun pagi nanti, yang akan main monopoli bareng, pergi belanja, minta temenin ke salon, mengurus cicilan rumah, bisa dipikirkan dalam hitungan menit. Laki-laki yang percaya bahwa the one, bisa datang begitu saja.

Laki-laki ini adalah Leo.

--  
Leo mendekatkan hidungnya ke cangkir kopi yang baru diraciknya. Ia menarik napas dalam-dalam, membuat kepulan asap membawa rasa hangat ke wajahnya. Belum ada aktivitas di ruangan yang penuh dengan warna putih itu.

‘Kenapa sih lo? Masih pagi udah galau aja?’ Virgo naik ke kasur, mengeluarkan handphone dari kantung celana, berusaha menghilangkan aura aneh di kamar.

Leo memutar kursi menghadap Virgo. ‘Kenapa sih harus ada cowok romantis?’

‘Kenapa coba?’ Virgo bertanya balik.

‘Meneketempret!’ Leo beranjak duduk ke sisi tempat tidur. Sambil mengangkat gelas kopinya, dia bilang, ‘Ya udah, ya udah. Pertanyaannya gue ganti. Kenapa sih gue gak bisa romantis?’

‘Wah, sakit nih orang.’

Sudah dua bulan ini Leo merasakan hal yang aneh setiap bertemu perempuan berkacamata itu. Pertemuan pertamanya saat mereka berdua berada di lift apartemen. Atau, bisa dibilang, semua pertemuannya hanya terjadi di lift. Ini semua karena Leo tidak pernah tahu caranya berkenalan dengan orang baru. Biasanya yang terjadi hanya Leo yang naik lift dari basement, menahan napas dan berharap pintu lift terbuka di lantai satu. Setelah bunyi lift yang khas itu, dia masuk, dan, sampai lantai sembilan, si perempuan ini keluar. Leo baru dapat bernapas kembali.

‘Apa susahnya sih kenalan?’ tanya Virgo. Ia menaruh hapenya ke kasur, lalu melanjutkan, ‘Bilang aja “sori, gue Leo. Boleh kenalan ga?” Gitu. Kalo boleh sukur, kalo enggak paling lo dikira tukang hipnotis.’

‘Kalo cowok romantis mah enak, ya,’ balas Leo, mengacuhkan kalimat Virgo. ‘Dia bisa pake saputangan buat ngajak kenalan orang. Naroh balon warna-warni di dalam lift sampe si cewek nangis terharu. Beliin boneka segede-gede gaban. Nempelin ratusan post it terus ditulisin kalimat-kalimat yang bikin cewek itu senyum. Cowok romantis itu pemberani.’

‘Nah, ya udah. Lo jadian aja sama cowok romantis.’

Leo tersedak, batuk-batuk mendengar respons yang diberikan Virgo. Dia meletakkan gelas kopinya di meja di sebelah lampu tidur. ‘Gak gitu juga kampret! Maksudnya, gue heran aja gitu. Kok bisa ya ada orang kayak gitu. Sementara gue? Cuman bisa ngarep, yang mana harusnya kan cewek ya yang ngarep? Cewek yang diem. Cewek yang nggak berani ngapa-ngapain. Tapi kok ini malah gue?’ Leo diam sebentar, menyadari sesuatu dari kalimatnya barusan. ‘ANJIR JANGAN-JANGAN GUE SEBENERNYA CEWEK!! PANTES GUE NGERASA TETE GUE LEBIH GEDE DARI ORANG-ORANG!’

‘Gue udah boleh pulang belom nih?’ Virgo bertanya sarkas.

Selanjutnya seperti biasa.

Leo bercerita tentang si cewek itu. Bagaimana ia suka dengan caranya menekan kacamata. Bagaimana gelang warna hitam di tangan kirinya, terlihat sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Bagaimana hanya dengan celana jeans sobek dan kaus hitam biasa, ia mampu membuat Leo lupa caranya bernapas. Bagaimana aroma tubuhnya, selalu mengingatkan Leo dengan guling di kamarnya. Bagaimana ia berbeda dengan perempuan lain. Bagaimana sejak awal, ia sudah merasa dekat dengan perempuan itu.

‘Lo yakin kalo lo naksir dia?’

Leo mengangguk.

‘Gila lo ya. Gue aja gak percaya sama… apa tuh? Love at the first sight? Ini lo FTV abis sih. Ketemu orang di lift, tahu-tahu suka sama semua karakternya,’ kata Virgo, gak yakin sama anggukan Leo. ‘Terus apa? Bentar lagi kenalan, jadian, berantem, cabut ke jogja, naik delman bareng, dipecut kusir delman, nikah, happy ending. Gitu? Males ah gue.’

‘AMIN YA ALLAH!! AAMIIN!!’

--
Sepulangnya Virgo dari apartemen, Leo jadi kepikiran sendiri. Apa yang harus ia perbuat sekarang? Emang bener sih, kok kayaknya cheesy banget. Ia mengingat kembali pertemuan pertamanya. Perempuan itu, dengan kalung berinisial ‘J’, masuk ke dalam lift dengan terburu-buru. Di tangannya ada sebuah bola basket. Sampai di lantai sembilan, pintu lift terbuka. Dia keluar, lalu selesai. Pertemuan yang singkat dan biasa saja. Leo memang bukan tipe orang yang sok akrab. Makanya, nggak mungkin dia tiba-tiba nanya, ‘Bola, bola apa yang bikin deg-degan hayo? Yak, salah. Bola kah aku kenalan sama cewek cantik kayak kamu? Eaaak.'

Hal yang membuat Leo ragu adalah pertanyaan dari Virgo tentang jatuh cinta pada pandangan pertama. Leo jadi bimbang dengan perasaannya sendiri. Apakah yang dirasakannya benar-benar jatuh cinta? Leo tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Martha, mantan pacarnya yang terakhir, adalah hasil perjodohan teman kantornya.

Satu-satunya cara adalah dengan mencari tahu.
Leo bergegas mengambil pulpen, menulis sesuatu di kertas.

--
Ini sudah ke delapan kalinya Leo berada di lift dalam sehari. Mungkin Leo bisa masuk ke dalam daftar orang paling nggak ada kerjaan di dunia. Atau setidaknya, orang yang paling jago cosplay jadi penjaga lift Gandaria City.

Ting!

Dia masuk.
Lift sedang kosong.
Leo mau muntah.

Angka berwarna merah di atas pintu lift terus berubah. Lift berhenti di lantai tiga, seorang pria tiga puluhan tahun masuk. Leo berusaha menggeser posisinya mendekati perempuan itu. Dia memerhatikan tas cokelat kecil yang menggantung di lengan kiri perempuan itu. Ada dua kantung di depan yang tidak memakai resleting. Kesempatan.

‘Misi,‘ sapa Leo. Suaranya bergetar karena panik.

Si perempuan mundur satu langkah, membiarkan Leo lewat.

Leo menekan angka tujuh di lift, lalu merogoh kantung celananya. Di lantai empat, lift kembali terbuka. Pria berumur tiga puluhan tadi keluar. Leo semakin deg-degan. Ingin segera tahu nama perempuan itu. Rasanya seperti abis curhat ke Mamah Dedeh, tapi malah dijawab, 'Penasaran? Penasaran? Penasaran?'

Leo menunjuk tas perempuan itu. ‘Sori, itu tasnya kebuka.’

‘Hah?’ Si perempuan mengangkat tas dari tangannya, mencari tahu apa yang dimaksud Leo. Setelah menyadari, dia tertawa kecil. ‘Ini emang model dari sananya. Cuma buat nyimpen recehan kok.’

Jebakan Leo berhasil. Kini tangannya bergemetar. Setelah menarik napas panjang, Leo melanjutkan ucapannya sambil menyodorkan kertas, ‘Ehem. Eh, tapi kayaknya selain recehan, bisa buat nyimpen ini deh. ’

‘Hah? Apa ini?’

Lift terbuka di lantai tujuh.

‘UDAH YA! HAHAHAHA!!’ jerit Leo sambil ngibrit keluar.

--
Perempuan ini masuk ke kamar dan mengunci pintu. Setelah menggantungkan tasnya ke dinding, dia mengambil kertas dari kantung depan. Sebuah kertas dengan gambar kepala singa dan tulisan di atasnya:

Sori, boleh kenalan ga? Gue…

Di tengah keheranannya, dia membalik kertas tersebut dan menemukan tulisan yang membuatnya makin bingung: Kalo boleh sukur. Kalo enggak, yang jelas gue bukan tukang hipnotis lho.

‘Siapa sih dia? Aneh banget deh.’ Perempuan ini geleng-geleng, lalu tersenyum.
Tiga menit kemudian, pintu ditutup. Kamar kembali kosong.

--
Virgo mengangguk malas mendengar cerita Leo. Sebenarnya dia bosan dengan cerita ini, tetapi dia juga heran kenapa Julie mau kenalan sama Leo.

‘Pokoknya kalo jadian lo harus bayar royalti ke gue, O!’ Virgo menusuk siomay dengan garpu dan menyantapnya. ‘Sial juga lo pake kata-kata gue.’

Leo mengambil bola tenis di bawah kasur, lalu memantulkannya ke dinding. ‘Lo tahu gak? Pas ngasih kertas itu, rasanya gue pengin masukin kepala ke kantong kresek. Malu abis.’

--
Dalam teori Schrodinger cat, kita tidak akan tahu kondisi si kucing sebelum kita membuka kotak dan melihatnya sendiri. Hal ini juga yang terjadi di dalam lift. Kita tidak akan pernah tahu bagaimana kondisi seseorang yang berada di dalam lift, sampai liftnya terbuka.

Dan saat Leo ingin kembali ke kamarnya di lantai sebelas, lift sebelah kanan terbuka.

Seorang perempuan berkacamata, yang, baru saja membuatnya hampir mimisan, keluar dan melambaikan kertas.

‘Halo. Boleh, kok. Aku Julie.’

Leo bengong, tidak tahu harus berbuat apa.

Julie membuka lipatan kertas tersebut, ‘Kamu…’ Julie menunjuk Leo, lalu menunjuk gambar kepala singa di kertas.

Leo mengangguk.

‘Aremania?’
‘HAH?!’
‘Singa ini maksudnya singo edan, lambang klub bola Aremania kan?’
‘KOK AREMANIA SIH?? Bukan, bukan. Astaga.’
‘Ooh,’ sanggah Julie. ‘Lambang biskuat?’
‘BUKAN!’
‘Hmm… Lion King?’
‘Dikiiiit lagi.’
Julie berpikir sebentar, kemudian menjawab,’Aha! Raja singa ya?’
‘Bukan! Ya ampun. Itu mah penyakit. Gambar itu maksudnya Leo. Nama gue Leo.’

Mereka berdua tertawa. Setelah berjabat tangan, PDKT resmi dimulai.

--
‘Iya, iya, gue tahu lo malu,’ jawab Virgo, tidak tahan dan akhirnya berkata jujur. ‘Lo udah cerita ini yang ke dua ratus lima belas kali ya.’

‘Lebay lo ah.’

Belakangan ini Leo merasa hubungannya dengan Julie menjadi aneh. Dia yang semula merasa kenal, sekarang malah menjadi asing. Seperti baru membuka plastik buku, dan merasa isinya jauh berbeda dengan apa yang ada di sampul.

Semakin lama PDKT, Leo merasa Julie bukanlah orang yang ia pikirkan. Julie, bukanlah orang yang istimewa, seperti yang Leo bayangkan saat belum berkenalan dulu. Saat ia hanya bisa memandanginya dari dekat, entah di sampingnya, entah di tengah dempetan orang-orang di lift.

Seiring berjalannya waktu, Leo menemukan banyak sifat Julie yang membuatnya sebal. Julie seringkali menceritakan mantan pacarnya. Ketika jalan berdua, Julie punya prinsip-prinsip tertentu yang tidak boleh dilawan. Menurutnya, laki-laki harus bisa menyetir mobil (Buat Leo ini gampang). Posisi jalan laki-laki harus berada di depan perempuan (Buat Leo ini agak ribet). Laki-laki harus bisa bermain gitar (Buat Leo yang kentut aja fals, ini jelas mustahil).

Semakin Leo menyelam ke dalam diri Julie, dia semakin menyesal.

Virgo menghabiskan siomay di piring. ‘Terus sekarang gimana? Dulu aja lo kayaknya demen banget. Pake bilang-bilang cinta pada pandangan pertama lah.’

‘Nggak tahu lah, Go.’ Leo melempar bola tenis dan membiarkannya memantul dan menggelinding sembarangan. ‘Padahal dia nggak salah, lho.’

Virgo hanya diam. Mungkin dia ingin menjawab dengan, ‘EMANG ELO YANG SALAH KAMPRET!’ tapi nggak enak. Leo menatap nanar ke tembok di depannya. Kepalanya membayangkan Julie. Juga mengingat perempuan-perempuan lain yang pernah mengisi hatinya. Di tengah keheningan, hape Leo bunyi. Telepon dari Julie.

‘Iya..’
‘He eh. Kamu juga.’
‘Iya belum ngantuk kok.’
‘Ini juga masih ada Virgo.’
‘Iya kamu duluan aja.’
‘Kamu dong.’
‘Iya, kamu aja yang tutup teleponnya.’

Tut.. tut.. tut..

Leo melirik ke belakang, ngelhatin Virgo yang sibuk main hape di meja kerja. Dia kembali tiduran dan berusaha stay cool. Padahal di dalem hati udah jerit, ‘KENAPA DIMATIIN BENERAAAAAN?!!! YA ALLAH JULIII… JULIII…’

Menurut Julie, yang boleh kode cuman perempuan.

Melihat temannya yang tiba-tiba berubah diam, Virgo jadi tidak tega. Dia menyodorkan hapenya, ‘Coba main ini deh. Lo kan jago tuh Flappy Bird. Skor gue masa cuman tujuh.’

Leo menyenderkan punggungnya ke tembok. Di layar hape terlihat seekor burung warna merah. ‘Apaan nih? Clumsy Bird?’

Clumsy Bird adalah permainan yang sangat mirip dengan Flappy Bird, game kesukaan Leo zaman dulu. Jika di dalam Flappy Bird kita ditugaskan untuk menerbangkan burung dan melewati pipa-pipa, di Clumsy Bird kita harus menerbangkan burung melewati jejeran batang pohon. Dulu, hampir setiap waktu Leo main Flappy Bird. Bahkan teman-temannya di kantor sering berkumpul demi menonton Leo yang teriak-teriak setiap kali main game itu. Saking kesalnya dengan permainan itu, Leo pernah tidak sengaja melempar handphone-nya dari eskalator lantai tiga. Setelah Flappy Bird ditutup, Leo tidak pernah bermain game semacam itu lagi.

Leo langsung memainkan Clumsy Bird dengan heboh. Awalnya, dia kesal dan membanting guling setiap kali si burung mati atau menabrak pohon. Tapi, karena sudah terbiasa dengan Flappy Bird, tidak sampai setengah jam, dia sudah bisa menguasai permainan ini. Skornya mencapai tiga puluh dua.

‘Tuh kan! Apa gue bilang! Lo mah enak, udah jago Flappy Bird. Jadi main ginian bisa langsung cepet bisa.’
‘Iya, ini mah gak beda jauh sama Flappy Bird.’ Leo tertawa puas karena skornya jauh melebihi Virgo.

Setelah puas bermain, Virgo pamit. Sewaktu menutup pintu apartemen, Leo melihat bola tenis di bawah. Dia mengambil bola itu.

Bola pemberian Martha.

Sebelum berpacaran dengan Martha, Leo sangat jarang berolahraga. Sementara Martha, adalah tipikal perempuan sporty. Jenis perempuan yang kalau lari harus nempelin hape di lengan kiri, hanya demi mengecek sudah seberapa jauh dia lari. Ketika berpacaran, mau tidak mau Leo jadi ikutan suka olahraga. Gara-gara Martha, Leo jadi sering menonton video-video basket. Olahraga, yang, saat itu menjadi favoritnya. Berhubung kekurangan partner bermain, Leo dan Martha lebih sering bermain tenis.

Leo membongkar lemari pakaian.

Di pinggir tumpukan pakaian, terdapat sebuah kotak kacamata. Di dalamnya, terdapat kacamata milik Vivi, seseorang lain yang pernah mengisi hati Leo. Mereka putus karena Vivi harus bekerja di luar negeri. Sementara Leo, bukanlah orang yang bisa berhubungan jarak jauh. Hubungan mereka baik-baik saja sampai sekarang.

Leo mengambil foto dari kotak kacamata tersebut. Leo di sebelah kanan, dan Vivi yang mencubit pipinya, di sebelah kiri.

Leo memasukkannya kembali, merapikan kacamata itu ke tempatnya semula.

Lalu, barang-barang lain dikeluarkan satu persatu. Kardus di bawah kasur yang berisi boneka jerapah milik Sheila, mantan pacarnya yang berambut pendek dan memiliki lesung pipi di sebelah kanan. Ada juga lampu tidur berwarna merah, pemberian gebetannya sewaktu ia ulang tahun beberapa tahun lalu. Sekarang, gebetannya ini sudah menikah. Ia sangat suka mengenakan celana jeans yang sudah sobek.

Leo menghela napas panjang, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia temukan. Kumpulan barang-barang ini membuatnya sadar bahwa sesungguhnya, dia belum mengenal Julie. Bahwa Julie, memang bukan orang yang dia kira. Sama seperti Leo yang langsung jago bermain Clumsy Bird karena sebelumnya sudah sering bermain Flappy Bird. Sosok Julie yang selama ini ia kenal, adalah harapan atas kumpulan masa lalunya.

Dada Leo terasa panas. Kepalanya dipenuhi pikiran-pikiran aneh. Mungkin Virgo benar bahwa Julie bukan cinta pada pandangan pertamanya. Di satu sisi, Leo tidak ingin terjebak dengan masa lalunya. Tetapi di sisi lain, Julie, adalah orang yang sebetulnya belum ia kenal. Julie adalah orang yang berbeda.

Leo mengambil jaket, lalu buru-buru keluar.

Julie yang sebenarnya, adalah Julie yang menyebalkan.
Tapi semua orang punya sifat menyebalkan bukan?

Lift terbuka. Leo menekan angka sembilan.

Leo mengingat saat-saat ia tidak bisa tidur karena memikirkan Julie. Mengingat saat Julie memeluknya di dalam bioskop, sewaktu ketakukan menonton film horor. Mengingat saat mereka berdua heboh bermain Dance-Dance Revolution, yang pada akhirnya malah menjadi duet dansa. Mengingat saat ia menceritakan segala hal tentang Julie kepada Virgo. Apa sekarang adalah saatnya?

Tok! Tok! Tok!

Jul, aku mau ngomong sesuatu.’

Julie, dengan piyama dan rambut acak-acakan, tersenyum mendengar kalimat Leo.
Lalu, air matanya mengalir turun. 



--- 
Temen-temen blogger lain yang bikin cerpen dengan latar lift: 
Siluman capung - One Button: Push It, Face, It 
Salah Tulis  - Kotak Mesin Waktu 
Ayam Sakit - Kotak Kematian

Buat yang mau ikutan bikin, kabarin aja di kolom komen ya. Nanti link-nya dimasukin ke sini. :)
Share:

47 comments:

  1. ini endingnya musti gini, ya, Di? PENASARAN? PENASARAN? PENASARAN?

    ReplyDelete
  2. SINGO EDAN.
    Kenpa sii kenapa? ending nya harus kaya curhat sama mamah dedeh terus dijawab penaran?penasaran? penasaran?

    ReplyDelete
  3. FAK GUE NGAKAK PARAH DI BAGIAN AREMA YA? RAJA SINGA? SYIT!

    ReplyDelete
  4. Julie, dengan piyama dan rambut acak-acakan, tersenyum mendengar kalimat Leo.
    Lalu, air matanya mengalir turun.

    ADA APAKAH DENGAN JULIE WAHAI PEMIRSA NYANG BUDIMAN?
    KITA LIHAT SETELAH PESAN2 BERIKUT INI!

    ReplyDelete
  5. Julie, dengan piyama dan rambut acak-acakan, tersenyum mendengar kalimat Leo.
    Lalu, air matanya mengalir turun.

    ADA APAKAH DENGAN JULIE WAHAI PEMIRSA NYANG BUDIMAN?
    KITA LIHAT SETELAH PESAN2 BERIKUT INI!

    ReplyDelete
  6. Boneka segede gaban
    Gaban itu apaan bang?
    Pa masih ada hubungannya sama gabah?
    Itu pas si le ngambil jaket trus buru2 keluar
    Dia ngambi jaket dimana bng?

    ReplyDelete
  7. Bhahahahah raja singa. Yawlaaaa

    Bang, endingnya bikin sedih :(

    ReplyDelete
  8. BANGKEEEE, ini apaaaan. Terus apaaaan? Ahhh eek

    ReplyDelete
  9. Ini sebenernya apaan sih?! Bikin kepo

    ReplyDelete
  10. Kampret ending, penasaran woiiii -_____-

    ReplyDelete
  11. Ending paling bikin kesel begini nih! Argghhh! LEO KERIPIK KENTANG. :(

    ReplyDelete
  12. Kerennn sumpah. Gue paham maksudnya. Jadi pengen ikutan buat kayak gini haha :D

    ReplyDelete
  13. Cast-nya udah kayak kumpulan zodiak. Tinggal tambahin Aries, Capricorn, dan Cancer, bisa-bisa jadi keluarga tuh~

    Endingnya bangsyat~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekeluarga zodiaknya beda-beda semua dong? \:p/

      Delete
  14. Karpet! Aremania dibawa-bawa XD
    Dan J, tadi gua kira Jokowi. Aku tertipu~

    Kayaknya lu berbakat bikin cerpen, Di. Asoy nih..

    ReplyDelete
  15. Cerpennya cukup menghibur, dan sukses selalu kak Kresnoadi.

    ReplyDelete
  16. Anjir lambang biskuat. :(
    Pfffttttt. Ngakak bangetlah. :(

    Itu akhirnya menikah, kan? kan? kan? Please... menikah dong.... >.<

    ReplyDelete
  17. Plissss Endinggnya Plissssssssss

    ReplyDelete
  18. Ngakak di bagian perkenalannya, aremania, Lion king, Raja Singa, ini kenapa si Juli mikir sampe sajauh itu wkwkwk
    Endingnya kok Bansyat banget ya? Ku digantung :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena Julie orangnya juga imajinatif, sama kayak Leo. :))

      Delete
  19. Endingnya anyiiiing -_-

    Duh, caramu bikin cerpen kok uwuwuwu e bang :D aku suka salut sama orang yang bisa bikin cerita macam begini, soalnya aku belum bisa :'

    ReplyDelete
    Replies
    1. Uwuwuw itu apaan sih? Cerpen gue kayak sirine ambulan gitu ya? :(

      Delete
  20. Endingnya anyiiiing -_-

    Duh, caramu bikin cerpen kok uwuwuwu e bang :D aku suka salut sama orang yang bisa bikin cerita macam begini, soalnya aku belum bisa :'

    ReplyDelete
  21. Ini endingnya mereka putus bang? Kalo iya, lemah banget si Leo baru nemu cewek nyebelin aja langsung nyerah dan mutusin. Hih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Endingnya itu, kayak yang ada di akhir cerita itu. \:p/

      Delete
  22. Leo ini nama lengkapnya Leonardo dCaprio, bukan?

    ReplyDelete
  23. BHAAKS! AREMANIA! Gue ketawa dibagian itu, Di. BTW... endingnya kok ngegantung sih, Di? Padahal lagi seru loh

    ReplyDelete
  24. Aku kaget lho, tokohnya ada yang dari zodiak. Bentar, Virgo itu cowok?
    Kenalannya gitu amet. Lewat kertas, tulisannya pake optional kenal kagaknya. Sedih. :(
    WAHAHAHAHA TERNYATA JULIE TAU DUNIA BOLA JUGA YA. AREMANIA DISEBUTIN. AH. KAMPRET. NGAKAK!
    Yaarabb, endingnya ngajak ribut. Kak, endingnya gimana laaaaaaa... Sebel.

    ReplyDelete
  25. aku mau dong cerita tentang pisces dan aquarius

    ReplyDelete

Jangan lupa follow keriba-keribo dengan klik tombol 'follow' atau masukin email kamu di tab sebelah kanan (atau bawah jika buka dari hape). Untuk yang mau main dan ngobrol-ngobrol, silakan add LINE di: @crg7754y (pakai @). Salam kenal yosh! \(w)/