Sunday, February 21, 2016

Tulisan di Kala Malam Ini..

Gue salut banget sama musisi yang bisa bikin musik yang ngebuat pendengarnya ngerasain feel yang sama. Tahu kan, lagu-lagu patah hati yang ngebikin yang denger serasa “rapuh” beneran. Atau lagu-lagu yang kalau didenger langsung bikin semangat berkobar. Gue jadi mikir gimana sebuah lirik lagu tercipta. Gimana si pengarang, mampu membuat kata-kata di dalam lagu itu. Gimana kondisi dia saat tiba-tiba tercetus buat nulis lirik yang ada, sampai pada akhirnya, menjadi satu lagu yang utuh. Apakah dia benar-benar patah hati saat membuat lagu yang rapuh. Apakah si orang ini, baru menemukan orang yang dirasa tepat, sehingga mampu menulis kata seindah itu.

Lagu-lagu yang belakangan lagi demen gue dengerin dan perhatiin liriknya baik-baik adalah lagu-lagunya Ed Sheeran. Berikut list lagu yang lagi sering gue putar berulang kali: 

1. Autumn Leaves 
2. Friends 
3. U.N.I 
4. Wake Me Up

--
Dan sebuah tulisan yang gue buat kemarin malam:

Tulisan Kresnoadi sewaktu malam


Aku selalu suka menulis di malam hari. Buatku, malam punya keunikan tersendiri. Terkadang, ada kantuk yang harus kupaksa tahan, terkadang aku bengong menatap lampu rumah tetanggaku di seberang jendela kamar, terkadang aku berharap supaya gerimis turun kecil-kecil, menemani malam yang sendirian. Malam hari membawa suasana yang berbeda-beda. Ada keheningan, ada ketakutan, ada perasaan kangen.

Aku tidak pernah lupa bahwa malam telah membawaku ke mana-mana. Gedung-gedung yang belum sempurna dibangun. Kelap-kelip lampu merah di perempatan. Bunyi pintu gerai yang ditutup satu per satu. Gerobak tukang roti yang baru keluar. Orang-orang lain yang pulang menemui keluarganya.

Semilir angin malam yang katanya jahat itu, seringkali menemaniku, yang mau tidak mau membuatku masuk angin keesokan harinya. Tapi aku bodo amat. Aku ingin norak, karena saat itu, ada seseorang yang ingin kubawa jalan-jalan dengan pelan. Hanya karena aku ingin semuanya terasa lambat dan bisa berlama-lama dengan dia. Pantulan wajahnya di kaca spion yang sengaja kuatur. Percakapan yang terkadang membuatku serak karena harus berteriak.

Malam adalah saksi di mana orang sepertiku, bisa sangat tidak berdaya. Aku tidak bisa menaikkan suhu AC ketika dia mulai kedinginan. Aku tidak punya bangku belakang untuk dia tidur ketika terlalu lelah seharian. Aku hanya punya pundak yang sering mengeras karena masuk angin. Aku hanya punya, jari yang menunjuk asal, berusaha mengalihkan perhatiannya saat aku mulai salah tingkah.

Keheningan malam juga membuat seseorang mengenal dirinya lebih dalam lagi. Di suatu waktu, aku bisa berpikir tentang apa saja yang sudah kulakukan hari itu. Aku bisa mematikan lampu, mengunci kamar, lalu duduk menyender di tembok. Sampai orang di rumah mengira kalau aku sudah tidur. Sampai semuanya terasa amat hening. Sampai-sampai aku bisa mendengar degup jantungku sendiri yang kian lama, berdetak kian kencang. Karena pada saat itu, di balik selimut, ada aku yang sedang sibuk memikirkan kalimat untuk membalas sebuah pesan. Kalimat yang cukup keren untuk mengakhiri percakapan kita kali ini, sebelum dia akhirnya tidur dan memulai hari yang baru.

Tapi malam juga identik dengan seram. Dengan kegelapan. Dengan ketakutan.

Seperti ketika aku dan dia pulang bersama-sama pertama kali.

Ketika kita sama-sama ragu. Ketika kita tidak punya cukup obrolan untuk dibahas. Hingga kita menemukan bahwa banyak persamaan di antara kita. Mulai dari sama-sama anak terakhir, sama-sama tinggal di tempat yang berdekatan di antara teman-teman yang lain. Sama-sama tidak pandai menghapal rute jalan. Meskipun kita tahu, sebenarnya kita sangat berbeda. Kita tahu bahwa kita, tidak bisa bersama-sama. Kita hanya menghibur diri dengan persamaan-persamaan yang kita buat sendiri.

Tapi paling tidak, dengan bersama dia.
Malam tidak perlu aku takutkan lagi.
Share: