Sunday, February 14, 2016

The Most Important Thing In Life

Pernah ngerasain yang namanya digampar bolak-balik?

Kalau udah, itu berarti, kalian sungguh hina. Hehehe. Nggak ding. Gue belum pernah digampar bolak-balik, tapi gue pernah ngerasain hal yang sama. Gini ceritanya..

Kamis sore kemarin, gue baru balik dari gedung Trans Media. Kebetulan perasaan gue lagi campur aduk karena di satu sisi gue baru mendapat berita baik, di sisi yang lain gue harus buru-buru pergi ke Tangerang. Sewaktu ngeluarin motor dari parkiran, semua masih santai sampai di belokan pertama… ada yang aneh sama motor gue. Gerakan motor gue gak stabil. Bannya terasa goyang dan naik turun, kayak ngelewatin polisi tidur kecil berturut-turut.

Harusnya ini bukan waktu yang tepat buat ban motor gue bocor.

Gue sempet mikir buat maksain ban yang bocor sampe ke Tangerang. Gue perhitungkan segala kelebihan dan kekurangannya. Kelebihan: Gue gak terlambat. Kekurangan: Sampe sana velg motor gue jadi kotak.

Berhubung tidak mau ambil resiko, gue turun menuntun motor, mencari bengkel terdekat.

Satu perempatan, gak ada.
Dua perempatan, gak ada.
Tiga perempatan, hidup gue gak ada lagi.

Terus terang, mencari bengkel di Jakarta susah-susah gampang. Kalau lagi hoki, kita bisa aja nemu abang-abang yang ‘beneran’ berprofesi sebagai tukang tambal ban di pinggir jalan. Modal mereka cuma kursi dan alat penambal ban. Bukan bengkel besar seperti yang kita kenal. Sementara di tempat-tempat perkantoran, kita ga bakal nemu sampe kiamat.

Untungnya gue dapet juga.

Waktu itu yang jaga bengkel adalah anak kecil. Umurnya gue taksir sekitar 18 tahun. Dia ngeliatin gue dorong motor, masukin ke halaman bengkel, lalu nanya, ‘Kenapa, Bang?’

Gue agak bingung dengan kondisi seperti ini. Setiap ketemu orang yang melayani kita lebih muda gini, gue jadi canggung sendiri. Pengin jawab, ‘Bocor, Bang.’ tapi rasanya gak pas. Jelas-jelas dia lebih muda dari gue. Kata ‘bang’ terasa gak pantes aja. Tapi kalo gue bales, ‘Bannya bocor, Nak. Ibumu mana? Ya Allah… mandi dulu kalo keluar rumah.’ rasanya malah sok akrab.

‘Bocor, Bang,’ jawab gue, akhirnya sok muda.

Dia kemudian memosisikan motor gue supaya lebih enak untuk dieksekusi. Setelah distandar dua, dia mengambil beberapa obeng untuk mencongkel ban motor. Sementara gue duduk di kursi, mulai panik karena hari mulai sore.

Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya si bocah ini bilang, ‘Bannya harus diganti.’

Gue yang emang tolol masalah beginian, akhirnya ngeiyain aja. Dia kembali bekerja dengan normal. Sepuluh menit kemudian, semua beres. Gue kembali jalan.

300 meter berikutnya, ban motor gue bocor lagi.
Ban belakang, sama dengan yang sebelumnya.

Gue udah mulai curiga. Sambil (kembali) dorong motor gue mulai mikir macem-macem. Mulai dari nyalahin si anak kecil, sampai mikir dosa-dosa yang gue lakukan belakangan. Entah kenapa persepsi kita selalu gitu, setiap kali tertimpa hal jelek, pilihannya cuma dua: 1) cobaan, 2) azab.

Gue dorong motor lagi, tentu sambil nanya dalam hati: ‘APA DOSAKU YA ALLAH?!!’

Sesaat sebelum varises, gue ngelihat kompresor (tabung oranye yang biasa untuk mompa ban). Di trotoar, seorang kakek duduk, senderan di pagar kawat, tepat di samping tulisan ‘TAMBAL BAN’. Si kakek ini tampak terlalu kurus untuk seorang yang berprofesi sebagai tukang tambal ban. Bajunya kemeja biru lengan panjang yang di beberapa bagian terkena bercak oli. Celana cokelat panjangnya terlihat kebesaran, membuat lingkar kakinya tampak tidak proporsional dengan badannya. Sepatu caterpillarnya tampak gagah dan keras meski warnanya sudah tidak jelas, campuran abu-abu dan cokelat. Dia berdiri lalu nanya, ‘Nambal, Mas?’ Gue pengin balas, ‘Enggak, pak. Mo beli DVD.’ tapi takut dosa.

Si kakek kemudian berjalan. Ada yang aneh dari cara jalannya. Langkah kakinya pelan dan terhuyung-huyung. Pikiran gue saat itu antara kakinya lagi sakit, atau semalem dia mabok knalpot.

Lima belas menit kemudian, gue ditampar bolak-balik.

Si kakek membeberkan kalau sepertinya gue kena tipu. Ban yang barusan diganti adalah ban abal-abal. Harga aslinya bahkan setengah dari harga yang gue bayarkan tadi. Gue kembali bertanya: APA DOSAKU YA ALLAH?!! Dia kemudian menyarankan sebuah merk, gue mengangguk. Sambil membongkar ban, si kakek membongkar kisah hidupnya. Dia, sama seperti gue, berasal dari Jawa. Pernah bekerja sebagai pengurus irigasi di Surabaya. Pernah menjadi developer rumah di Jogja. Pernah bolak-balik Jawa Timur-Jawa Tengah sebagai supir bus. Dia pernah menjadi apa saja, demi hidupnya.

Dari ceritanya, gue tahu kalau ternyata, cara berjalannya yang aneh diakibatkan karena kaki kirinya tinggal setengah. Telapaknya diamputasi separuh karena kecelakaan. Gue juga tahu bahwa dia meninggalkan seorang ibu berumur 97 tahun di Surabaya. Gue juga tahu bahwa dia, dengan keadaannya ini, tidak mau dianggap cacat. Tidak ingin dicap sebagai orang yang memiliki kekurangan. Itulah kenapa dia kesal dengan oknum yang suka menyebar amplop ke rumah-rumah, mengatasnamakan sumbangan untuk orang cacat. Karena dia, orang yang cacat, bekerja sendiri demi memenuhi kebutuhan hidupnya (sewaktu cerita ini, gue hampir meluk kaki dia dan bilang, ‘SAYA JUGA SEBEL KEK?!!’).

Terus terang, setelah mendengar itu semua, gue jadi bingung harus merespons gimana. Gue merasa tertampar, tapi di sisi lain, gue menjadi semakin penasaran. Kalau gue kaya, mungkin gue bisa aja pergi ninggalin dia, lalu sepuluh menit kemudian balik lagi sambil bawa kru yang megang kamera. Memanggil si kakek kembali, lalu bilang, ‘Karena Bapak orang yang baik… BAPAK DAPET UANG KAGET!!’ Lalu si kakek meninggal jantungan karena kaget beneran.

Gue sempat terdiam setelah si kakek selesai mengganti ban motor. Mencoba membandingkan dengan apa yang gue hadapi saat ini. Rasanya… rasanya gue kalah telak. Dibandingkan si kakek, gue jelas cuma sekotoran sampah. Sebutir debu cemen yang bisanya ngotor-ngotorin. Gue yang suka bete kalau pintu kamar nggak ditutup. Gue yang bisa aja sedih cuma karena kejebak hujan di jalan.

Lalu terbersit sebuah pertanyaan untuk si kakek, tentang hal penting di dunia ini. Tentang sesuatu yang menurutnya paling berharga.

Dia tersenyum, lalu menjawab, ‘Ibu.’

Pulang dari sana, entah kenapa, gue pengin meluk nyokap kenceng-kenceng.
Share: