Friday, October 30, 2015

Kontes Meme Kresnoadi

Halo! setelah kemarin nyoba nanya-nanya lewat akun line @keribakeribo (pakai ‘@’), ternyata banyak yang minta supaya foto di postingan ini dibikin jadi kontes meme.

Setelah berpikir masak-masak (terlebih setelah memikirkan kesehatan jantung nyokap kalau-kalau dia melihat hasil meme dari kalian), akhirnya gue memutuskan untuk bikin kontes juga!

Karena ini mendadak banget dan gue juga bingung kasih hadiah apa, alhasil, di kontes meme kali ini gue akan berikan hadiah paling sederhana sepanjang umat beragama, yaitu: pulsa!

Hore! \(w)/

Nantinya akan dipilih tiga orang pemenang dengan pemenang pertama mendapat pulsa 50 ribu dan boleh membuat SATU TULISAN BEBAS YANG AKAN DIPUBLISH DI KERIBA-KERIBO, sementara kedua dan ketiga akan mendapat masing-masing sebesar 25 ribu. Lumayan kan, bisa buat nelepon ortu gebetan?

Contoh meme yang sudah dibuat adalah seperti ini:

Dari akun twitter @yoggaas:



Dari @keykayana



Dari @ariif_r:



--
Nah, sekarang masalah persyaratan:

Satu. Kontes ini diadakan di Twitter. Jadi, yang ikut harus punya Twitter (masa sih?!).

Dua. Setiap orang boleh mengirimkan lebih dari satu meme.

Tiga. Kirimkan twitpic dengan twit: Mamam nih @keribakeribo gue bikin memenya! (link postingan ini) #MemeKresnoadi

Empat. Setiap Twit yang lolos akan di-retweet oleh @keribakeribo.

Lima. Waktu lomba adalah ketika postingan ini dipublish sampai Senin, 2 November 2015 pukul 23:59.

Enam. Meme tidak boleh berisi SARA atau memecah belah persatuan bangsa. (Gila ini syarat paling keren).

Tujuh. Ketiga pemenang akan diumumkan pada hari Selasa, 3 November 2015 lewat akun Twitter @keribakeribo.

Delapan. Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat

Mari rusuhkan Yosh! 

ps: Untuk foto polos dapat diunduh di postingan ini.
Suka post ini? Bagikan ke:

Wednesday, October 28, 2015

Taman

Hari sabtu kemarin, gue sama temen-temen kantor bikin acara perpisahan ke Taman Bunga Nusantara di puncak.

Terus terang, gue belum pernah ke sana dan udah lama juga nggak main ke alam terbuka kayak gitu. Seperti halnya cewek-cewek kebanyakan, temen yang lain langsung sigap mencari lokasi foto yang cihuy. Berjalan dari satu bunga ke bunga yang lain. Bergaya dari satu pose, ke pose lain.

Gue sendiri cuman ngelihatin dari belakang.

Entah kenapa selalu ada perubahan raut wajah tiap kali cewek-cewek ini berfoto. Dari yang biasa aja, lalu, ketika kamera datang menyorot, mata mereka seketika berubah berbinar-binar. Kamera adalah sihir terhebat yang memaksa cewek-cewek supaya senyum.

Setelah beberapa kali melewati lokasi bagus untuk foto, gue melewati deretan pohon jamuju (Dacrycarpus imbricatus), pohon yang memiliki daun seperti sisik ikan. Lucunya adalah, di antara deretan pohon jamuju ini, terdapat kawat-kawat yang tersambung dari satu ranting, ke ranting pohon di sebelahnya. Gue lalu sadar bahwa kawat tersebut berfungsi sebagai ‘jalan’ bagi daun-daun yang baru tumbuh. Mereka akan menjalar mengikuti arah kawat tersebut. Nantinya, deretan jamuju ini akan berubah menjadi tembok tipis berwarna hijau.

Melihat fenomena ini, gue nyeletuk asal ke Ratsa, salah seorang temen kantor, ‘Sa, keren, ya. Tanaman aja bisa diatur gitu. Gak kayak manusia.’

Ratsa kemudian menoleh sambil memberikan tatapan temen-gue-sarapan-apaan-tadi-pagi. Dia membalas, ‘Iya juga ya. Tapi bakal ancur sih kalo gak rapih.’

Gue lalu melihat kumpulan bunga berwarrna ungu di depan. Tanamannya dipangkas sehingga berbentuk kotak sempurna dengan bunga-bunga yang bermekaran di atasnya. Sangat cantik dan bikin orang pengin senyum-senyum sendiri.

Lalu gue sadar sesuatu.

Semua keindahan ini, warna-warni ini, timbul karena si tanaman selalu dipotong dengan bentuk yang menarik. Karena rajin dipangkas, daun yang berada di paling atas menjadi daun termuda, daun paling segar dan fresh. Hal ini amat berbeda dengan hubungan gue dan Deva dua bulan belakangan.

Gue dan Deva,
sudah memilih untuk berpisah.

Mungkin, sama seperti tanaman-tanaman di taman bunga itu, keindahan hubungan kami terbentuk pada saat awal hubungan kami terjalin. Pada masa itu, apapun yang kami lakukan, semuanya terasa begitu manis. Dan, sama seperti tanaman-tanaman di sana, perasaan kami bertumbuh dengan begitu lebat. Bodohnya, kami hanya membiarkannya begitu saja. Dari munculnya ribut-ribut kecil. Lalu, masalah demi masalah mulai datang satu per satu, menumpuk tanpa ada yang memangkas. Hasilnya, hubungan kami menjadi berantakan dan tidak cantik lagi.

Seandainya memperbaiki hubungan semudah memotong ranting yang kepanjangan.

Gue akan melakukannya setiap minggu.

Masalahnya, hubungan yang kusut tidak semudah itu dibetulkan. Memperbaiki hubungan tidak sesederhana mengambil gunting, mencari daun-daun yang busuk, lalu memangkasnya begitu saja. Masalah yang kami pikir akan selesai dengan didiamkan, justru tidak pernah selesai. Sebaliknya, masalah itu akan bertambah kusut dan kompleks.

Satu hal yang menyedihkan adalah, satu minggu semenjak perpisahan dengan teman-teman kantor baru, adalah hari anniversary pertama kami. Hari yang kami tunggu-tunggu sejak lama.

Sekarang, Deva sudah mulai menemukan pengganti gue. Seseorang, yang, bersama dengannya, akan membuat taman baru di hidupnya. Semoga dia bahagia, bisa membuat taman yang indah. Entah dengan siapapun itu.
Suka post ini? Bagikan ke:

Thursday, October 22, 2015

Hikayat Kresnoadi di GlobalTV bagian tiga

Sebelumnya baca dulu tulisan ini dan tulisan ini ya.

Lanjoot.

Setelah dikasih tahu kalau gue disuruh megang adzan magrib, gue langsung panik. Gue masih inget banget waktu si bos bilang soal pembagian job desc ini:

Bos: Di, saya lagi bosen nih adzan Global TV dari dulu ini mulu. Ganti ya. Kamu bantuin.
Gue: Emm… ya-ya udah, Pak.
Padahal dalam hati: INI ADALAH WAKTUNYA PENCITRAAN! MUAHAHAHAHA!!!

Jadilah gue kebagian bantuin megang adzan magrib bareng satu produser. Padahal gue bingung banget. Gimana enggak? Dateng-dateng langsung disuruh bikin adzan magrib. Lagian, MAU BIKIN APAAN? Liriknya aja gue gak apal (lho?).

Alhasil, selain ngerjain kerjaan biasa, gue juga ikut bantu-bantu cari konsep adzan magrib yang baru. Berhubung si bos pengin konsep yang ‘bercerita’, jadinya selama sebulan lebih kami brainstorming cari ide. Produser sendiri sebetulnya udah punya konsep, yaitu tentang perjalanan karyawan sama kuli-kuli bangunan di gedung MNC ke masjid. Gue sendiri gak punya bayangan apa-apa, cuman manut-manut aja. YA BAYANGIN AJA GUE DISURUH ADZAN MAGRIB GITU LHOO!!!

Otak gue yang sinting ini disuruh adzan magrib!!!

Satu-Satunya isi otak gue yang paling masuk akal ketika itu cuman bikin adzan memakai konsep stop motion. Sisanya? Konsep brutal. Seperti misalnya: 1) Orang lagi solat terus sajadahnya ditarik dari belakang (Astaghfirullah). 2) Cerita tentang situasi di sebuah kantor yang lagi sibuk, ada karyawan baru, udah jam solat, tapi takut ijin ke bos buat solat (ini curhat banget). Hal lainnya yang gue pikirkan: kenapa gue kalo solat sering gak sengaja nyundul pantat orang di depan pas rukuk?

Dengan berbagai gejolak di kepala, sampailah kita di hari pertama meeting. Gue gak begitu paham, ternyata banyak banget yang diajak dalam meeting ini. Selain adzan magrib, waktu itu diomongin juga segala konsep menyambut Ramadan kemarin. Bagaimana menyiapkan segala kemungkinan, cari tahu waktu imsakiyah di 10 kota, bikin grafik untuk tema Ramadan, de el el. Belum lagi harus mengantisipasi puasa dan lebaran pertama yang suka gak pasti.

Si produser ngebuka meeting dengan memberitahukan konsep supermacho yang dia miliki, yakni… shooting karyawan jalan ke masjid. Gue masih diem-diem aja. Teman-teman lain menyambut dengan saling memberikan masukan dan opini. Lalu si bos dateng. Situasi mendadak hening. Si bos ngasih tahu konsep yang dia punya. Semuanya diem. Kira-kira begini gambaran meeting waktu itu:

Bos: Gue pernah liat iklan tentang kesehatan dari gerakan solat…

Hening.

Bos: Gimana kalo kita kayak gitu, tapi versi wudhu…

Hening.

Bos: Shoot aja orang wudhu terus bikin penjelasan tentang pengaruhnya terhadap kesehatan…

Hening.

Bos: Nanti ada adegan orang kumur-kumur, tapi slow motion! Pas buang airnya slow motion!

Hening.

Gue mikir: Ngapain boker di-slow motion?

Bos: *mraktekin orang kumur-kumur sambil slow motion* Gimana? Adi, gimana menurut kamu?
Gue: Oh, gitu. Kirain boker, Pak. Ya udah, saya setuju.
Yang lain: Ya udah, kita setuju.

Hening.

INI DI MANA MEETINGNYA KALO SEMUA SETUJU-SETUJU AJA WOYY!!!

Akhirnya meeting selesai dengan damai. Semua sepakat dengan konsep dari si bos tentang pengaruh berwudhu dalam kesehatan. Produser juga udah ngetag Ray, mantan vokalis Nine Ball yang sekarang udah jadi ustaz sebagai talent adzan ini.

Gue kemudian mulai bikin skrip treatment adzannya, nyari-nyari masjid yang cocok bareng Produser sambil tetap ngerjain bikin copy (tulisan-tulisan naskah iklan) untuk program lain.

Lalu datanglah petaka sialan ini..

Masjid-masjid udah pada di-tag tv lain. Hari semakin mepet deadline. Jadwal Ray juga gak cocok sama jadwal masjidnya. Giliran nemu masjid bagus, baru bisa shooting setelah lebaran. Ray sendiri menjelang deadline jadwalnya jadi padat gara-gara kita gak bisa ngasih kepastian kapan shootingnya. Sementara adzan ini harus udah selesai tanggal 1 Ramadan. Produser gue udah pasrah dan ngerasa ini semua bakal gagal. Mampus.

Didera kepanikan, kami memutuskan bikin meeting lagi (yang entah ke berapa kali, sebelumnya udah pernah ngomongin progress). Sampai di tengah-tengah meeting..

Bos: Di, kamu aja yang jadi talent gimana? Gantiin Ray?
Gue: Hah? Saya?
Dalam hati: INILAH WAKTUNYA YA TUHAAAN! HUAHAHAHAHAHA!!!
Bos: Iya, kamu. Mau deh ya? Kita udah mepet banget deadline nih.
Gue: Kok saya?
Dalam hati: KOK PAKE NANYA?!!
Bos: Iya. Udah, bentar doang kok. Sambil nyari talent lain...
Gue: Ya-ya udah, deh.
Dalam hati: WOYYYYOOOOOOOO!!!

Jadilah beberapa hari kemudian langsung shooting. Presentasi ke wakil direktur, dan ternyata di-approve. Konsep dan semuanya sudah disetujui. Satu-satunya yang wakil direktur gak setuju adalah… guenya. Kampret emang tuh orang.

Yah pokoknya inilah gue setelah didandanin seperti anak pesantren kehilangan jati diri. Yuk kita muntah sama-sama:


Suka post ini? Bagikan ke:

Sunday, October 18, 2015

Hikayat Kresnoadi di Global TV (bagian dua)

Abis blogwalking random dan menemukan satu acara keren!  Wohoooo!

Jadi, ternyata, tepat di hari blogger nasional nanti (ada yang tahu tanggal berapa?), bakal diadain kumpul-kumpul kemping bareng blogger. Acaranya diselenggarain di empat kota! Selain Jakarta bisa ikut deh.

Nah, sekarang masalahnya…

Pas gue cek, yang bikin acara blogger senior semua! Huhuhu.  Ini antara ngebet pengin ikut sekaligus takut jadi yang paling cupu. Makanya kalo ada temen-temen blogger yang suka main ke sini, ikutan aja daftar acara blogger camp ini. Biar gue ada temennya. Huehehe.

--
Masuk topik. Gue mau cerita soal kelanjutan gue pas kerja di GlobalTV deh. Buat yang belum tahu cerita awalnya, silakan cek di postingan bulan lalu ya.

Begitu hari pertama kerja, gue rada bingung. Kok ruangannya sepi. Masih banyak kubikel yang kosong. Apa gue kepagian? Gue lalu teringat pada sesi wawancara dengan HRD kemarin. Katanya, ‘Copywriter di sini tuh kerjanya tim! Jadi kamu nanti bisa belajar banyak dari mereka!’

Tim? Wah mantap. Gue langsung membayangkan kalau copywriter itu satu kelompok sendiri. Punya ruangan meeting dan sama-sama membahas ide iklan untuk acara-acara GlobalTV. Pokoknya keren abis.

Terbayang dengan pemikiran tersebut, gue kembali nanya, ‘Emang di sini copywriternya ada berapa, Mbak?’’ Gue asal nebak, ‘Tiga puluhan ya mbak?’

‘Nggak sebanyak itu juga sih..’
‘Terus berapa dong?’ Gue ketawa. ‘Tapi yang jelas gak cuman dua kan?! Hahahahaha!’
‘Ya gak mungkin lah! Hahahahahahaha! MASA CUMAN DUA? HUAHAHA!’

Gue langsung ngebayangin sendiri. Kira-kira kubikel mana ya yang diisi sama para copywriter? Apa yang di ujung sana? Atau yang di mejanya dipenuhi pernak-pernik nickelodeon itu? Hmmmm.. meja bos juga masih kosong. Kayaknya gue emang kepagian deh.

Bingung ngapain, akhirnya gue kenalan sama orang yang kubikelnya paling deket dari meja si bos. Dua cewek ini emang dari awal gue dateng udah berdiri jerit-jerit gak jelas. Setelah kenalan, baru deh gue tahu kalau mereka adalah Ayu dan Mbak Rani, anak sosial media yang lagi ngobrolin masalah… ngetwit.

Nggak lama kemudian, salah seorang cewek berjaket hitam dateng nyamperin gue. Dia adalah… malaikat pencabut nyawa. YA BUKAN LAH! Dia Mbak Rika, yang ternyata adalah… malaikat pencabut nyawa! LAH INI KENAPA GUE ULANG!! Bukan, bukan. Mbak Rika adalah senior copywriter di sana. Berikut awal percakapan kami:

Rika: Ini copywriter baru ya?
Gue: *cengar-cengir mesum* Iya. Salam kenal ya Mbak! Copywriter lainnya pada ke mana, Mbak?
Rike: Copywriternya gue doang.
Gue: Hah?
RIke: Copywriternya gue doang.
Gue: HAH?
Rika: Gue doang!
Gue: HAH??
Rika: GUE DOAAAANG SETAANN!!

Begitu selesai kenalan (dan selesai digampar Mbak Rika gara-gara nanya mulu), gue langsung keingetan lagi sama tampang Mbak-mbak HRD jaman dulu. Ketawanya pas nyebut ‘Gak mungkin lah cuman dua copywriternya! Hahahahha!’

YA BENER SIH GAK DUA TAPI DI PIKIRAN GUE GAK SEBIJI JUGA KAMPRETT!!!

Setelah beres kenalan sama Mbak Rika, si bos dateng dan kita langsung ngebagi job desc. Dan waktu itu gue disuruh megang… adzan magrib! Ini pasti karma dari Radit!

Duh, udah jam segini ya. Harus ke bengkel dulu nih servis motor. Lanjut di postingan berikutnya deh ya.
Happy weekend guys! \(w)/
Suka post ini? Bagikan ke:

Wednesday, October 14, 2015

Kakek

Gue punya kakek yang menyebalkan.
Ralat.
Dulu, gue punya kakek yang menyebalkan.

Sewaktu kuliah dan tinggal sendirian di Bogor, gue seringkali merasa amat kesepian. Terlempar ke jurusan yang bukan pilihan memang salah satu bencana paling menyakitkan. Tidak jarang, di masa itu, sepulang dari kampus, gue langsung ngelempar pakaian ke ember, mandi, lalu tiduran di kasur. Ngelihatin langit-langit, dan, merenung sampai mabuk.

Gue pengin banget bercerita.
Tapi gue gak punya siapa-siapa.

Karena gak punya temen, gue jadi memendam semuanya sendiri. Masalah. Kebahagiaan. Berita. Bahkan, setiap kali menonton acara lucu di televisi, gue menarik napas berat. Menengok seisi kamar, yang, tetap saja kosong.

Lalu kakek gue datang.

Nyokap meminta kakek buat ikut tinggal di rumah di Jakarta. Sama seperti gue, sejak kematian nenek, hidupnya dipenuhi kesendirian. Kegiatannya setiap hari hanya lari keliling kampung, menjaga supaya badannya tetap sehat.

Di masa ini, Nyokap memaksa gue untuk pulang ke rumah di Jakarta setiap akhir pekan. Tujuannya jelas: ngejagain kakek.

Pertemuan pertama ini ngebuat gue merasa canggung. Dia jarang banget ngomong Bahasa Indonesia, dan gue idiot soal Bahasa jawa. Hidup sejak zaman Belanda ngebuat dia menggunakan ‘You’ sebagai kata sapaan. Ini jelas berbeda dengan gue yang kalo nyapa bilang, ‘Gimana? Tongkrongan aman, Coy?’

Awalnya, tugas ngejagain kakek ini berjalan mulus-mulus saja. Sampai, sewaktu gue mulai libur kuliah, tugas ini menjadi intens dan mulai datang berbagai hal menyebalkan. Pertama: dia gak betah tinggal di Jakarta. Gue masih ingat betul kejadian waktu itu: selepas gue mandi, tiba-tiba di ruang tamu kakek udah berdiri dengan dandanan rapi. Celana bahan panjang, kemeja, lengkap dengan topi fedora. Bingung, gue bertanya, ‘Mau ke mana, Mbah?’

‘Mau pulang aja.’
‘Hah? Pulang?’ Gue mulai panik, tapi sok cool. Karena dia agak pikun, gue ngetes, ‘Mau pulang ke mana?’
‘Ya ke Magelang, tho.’
‘Naik apa?’
‘Ya jalan kaki wae! Wong deket ini.’

Jakarta ke Magelang? JALAN KAKI?
Magelang kan deket Jogja? Naik mobil aja butuh sekitar 15 jam. Lha, dia mau jalan kaki.

Gue diem.

Di dalam hati gue ngomong: Deket Mbahmu!

Mungkin di dalam hati kakek gue ngomong: Emang aku Mbahmu!

Setelah gue selidiki, ketidakbetahan kakek terhadap Jakarta disebabkan karena udaranya yang panas. Berbeda dengan Magelang, Jakarta emang kayak neraka. Hal ini ngebuat kami sekeluarga memutuskan buat beli AC untuk kamar dia. Masalahnya, dia gak tahu apa itu AC dan gimana ngegunainnya. Masalahnya lagi, sifat kakek yang gak mau ngerepotin ngebuat dia ingin melakukan semuanya seorang diri. Saking mandirinya, dia pernah menyalakan AC dengan cara NGEGETOK AC-NYA PAKE SAPU IJUK. Hebat. Kakek memang hidup di zaman di mana tv kabel belum ada.

Seiring berjalannya waktu, penyakit pikun yang dimiliki kakek semakin parah. Hal ini ngebuat dia merasa bahwa rumah di Jakarta adalah rumah dia. Lebih horor lagi, dia merasa sedang di Magelang.

Pikirannya jadi kacau. Dia tidak bisa mengingat dengan baik. Seperti dalam film Inside Out, di dalam kepala tiap manusia, terdapat sebuah memori paling berkesan selama seseorang itu hidup. Dan mungkin, sekarang, hanya itu yang kakek ingat. Dia tidak ingat gue. Dia tidak kenal Nyokap, anak kandungnya sendiri. Gue pernah sekali waktu mengintip lewat celah lubang pintu kamarnya. Dia sedang berdiri mematung, memandang sebuah foto di depan ranjang.

Foto dia dan istrinya.

Mimik wajahnya mengerut, seperti orang kebingungan. Tetapi, pancaran matanya menyiratkan kepedihan. Mungkin, di dalam kepalanya, pikirannya sedang berduel dengan kenangan.

Dia mengelus wajah istrinya,
lalu berjalan ke luar kamar.

--
Hari demi hari terus berlalu dan saat gue udah mulai deket sama kakek, gue harus masuk kuliah lagi.

Berbeda dengan sebelumnya, kali ini gue tidak terlalu merasa kesepian. Gue mungkin terlempar ke jurusan yang bukan pilihan sendiri. Mungkin, gue tidak sama dengan orang lain yang semangat kuliah dari dalam hati. Gue, belajar dari kakek, kalau kita, sebisa mungkin tidak nyusahin orang lain. Sekarang, gue cukup lulus kuliah. Setelah itu, semua pilihan gue yang tentuin.

Sampai, beberapa minggu kemudian, di sela-sela kuliah, Bokap mengirimkan sebuah SMS.

SMS yang meninju tepat di kepala gue.

Bokap mengatakan kalau kakek masuk rumah sakit. Tetapi, entah kenapa, gue merasa ada yang aneh dengan SMS itu. Semakin dibaca, rasanya semakin ganjil.

Selesai kuliah, gue langsung pergi ke rumah sakit tempat kakek dirawat.

Sesampainya di rumah sakit, gue naik ke lantai tiga. Di koridor sudah ada beberapa sodara yang berkumpul, membicarakan sesuatu. Gue terus, terus, dan terus berjalan. Melewati mereka satu per satu. Perasaan gue gugup.

Dan firasat gue benar.
Kakek meninggal.

Malam itu, kami akan langsung mengantar jasadnya ke Magelang. Gue menemani persis di sampingnya. Duduk di kursi belakang ambulans, di tengah sirine mobil yang memecah keheningan malam.

Di mobil putih yang baunya menyengat itu, kenangan gue tumpah.

Gue ingat langkah kakinya yang dipaksa kokoh lari pagi. Gue ingat keriputnya yang tertarik sewaktu tersenyum saat bercerita tentang masa mudanya. Gue ingat logat jawanya. Gue ingat pancaran matanya ketika menatap sosok perempuan yang dicintainya.

Gue belajar kemandirian.
Gue belajar kesederhanaan.
Gue belajar bahwa kesendirian bisa dilawan.

Seiring dengan deru sirine yang melemah, cahaya masuk dengan takut-takut beriringan dengan pintu ambulans yang terbuka.

Gue pun menyadari, bahwa pahlawan, bukan dilihat dari besarnya badan,
melainkan dari seseorang, yang, memiliki perasaan.




--
ps: Mungkin, kakek kalah jauh dengan orang-orang penting atau para pemikir hebat yang melakukan suatu hal besar. Seperti program Made For Minds yang dicanangkan oleh DW, broadcaster di Jerman. Kakek tidak memiliki jiwa sosial setinggi mereka yang rela mengajar anak-anak kecil di kolong jembatan. Atau para aktivis yang berani menentang pemerintahan yang salah. Tetapi, lebih dalam dari itu, kakek mengajarkan orang-orang di sekitarnya untuk tulus dalam menjalani hidup.
Suka post ini? Bagikan ke:

Thursday, October 8, 2015

Bokerlah Sambil Jongkok Agar Tidak Kena Kanker

Beberapa bulan belakangan gue gak sanggup lagi buat lama-lama duduk di depan laptop. Biasanya, baru setengah jam duduk tegak, punggung gue udah gak kuat dan langsung ngerasa pegel abis. Kayaknya tulang punggung gue udah berontak dan buru-buru minta buat tiduran. Gue udah sempet nanya ke temen-temen, tapi respon mereka malah beragam dan aneh-aneh. Dari yang bilang, ’Efek umur tuh!’ (yang langsung gue sambar dengan ‘Gue dua dua!') sampe ke yang ‘Lo tuh kebanyakan nonton porno?!’

Temen gue emang setan semua.

Apa hubungannya coba nonton film porno sama punggung pegel? Orang-orang yang nonton Miyabi pasti menjerit, ‘Ahhh lemasss…’ bukannya malah melenguh, ’AAHHH TOLONGG!! PUNGGUNG!! PUNGGUNGG GUE!!!’

Uniknya, beberapa hari yang lalu gue menemukan artikel mengejutkan ini.

Di situ tertulis bahwa duduk adalah merokok model baru. Sama berbahayanya dengan rokok, terlalu lama duduk juga akan mengakibatkan berbagai penyakit berat. Seperti misalnya, liver, diabetes, kanker, obesitas, sampai… pilek (kalau duduknya di bawah AC).

Sadisnya, setelah gue pikir-pikir lagi, ternyata hari-hari gue hampir seluruhnya dihabiskan dengan duduk. Pas berangkat ngantor, duduk di motor. Sesampainya di kantor, duduk sampe begok. Pulangnya naik motor duduk lagi. Sesampainya di rumah, ngeblog atau browsing juga sambil duduk. Kalau dalam istilah rokok ada perokok berat, gue udah termasuk ke dalam golongan peduduk berat (INI APAAN?!!). Kalo kaum perokok berat abis makan jerit-jerit kesetanan, ‘Mulut gue asem!!’ terus gelisah dan ngerokok, mungkin para peduduk berat juga ngelakuin hal yang sama. Begitu selesai makan, pantatnya seolah menjerit, ‘BROT!!’ artinya: ASEM NEH PENGIN DUDUK!

Gimana gak serem kalo duduk disama-samain kayak rokok? Kalo rokok ada perokok aktif dan pasif, berarti duduk juga sama. Duduk aktif adalah orang yang duduk di kursi. Sementara duduk pasif adalah orang yang duduk… di atas penderitaan orang lain (lho?).

Efek rokok yang sebegitu parahnya ngebuat Pemerintah sampe masang gambar orang dengan efek merokok (paru-paru kotor, bibir sobek, dll) di bungkus rokok supaya orang gak pada ngerokok. Ini berarti, bukan tidak mungkin di tahun-tahun mendatang akan terjadi hal yang sama untuk duduk. Nanti, saking berbahayanya duduk, Pemerintah bakal naroh gambar pantat perempuan lengkap dengan borok dan bisul di kursi-kursi taman biar gak pada duduk sembarangan.

Aha! Mungkin ini yang menyebabkan gue begitu sampai rumah udah gak kuat lagi buat duduk di depan laptop lama-lama. Semua ini karena eh karena, gue udah kelamaan duduk! Gara-gara sepanjang hari udah duduk mulu, jadi begitu duduk buat nulis malah jadi cepet pegel. Hmmmm pantes aja rasanya pantat gue udah asimetris gini. Maka dari itu, demi terselamatkannya jiwa (dan pantat) yang ada, gue harus mengurangi duduk! Yosh! Cara termudah yang akan gue lakukan adalah dengan… boker sambil jongkok. Betul sekali, Kresnoadi akan memulai misi hidup sehat dengan boker jongkok. Karena dengan jongkok, berarti kita gak duduk. Dan kalo gak duduk berarti gue gak akan kena kanker! Uyeah! gue emang jenius!

--
Ngelanjutin tulisan di sini, aplikasi mobile untuk keriba-keribo udah mau jadi! Huraah!! Gue baru aja dapet email contoh aplikasinya nanti. Sejauh ini gue ngerasa: ANJIR KEREN AMAT BLOG GUE ADA APP-NYA!! Well, perjalanan masih lumayan panjang sih, katanya belum tahu sejak submit ke google atau apple store sampai bener-bener bisa didonlot secara gratis berapa lama. But, I fuckin excited for this one! Wohoooo! 
Suka post ini? Bagikan ke:

Saturday, October 3, 2015

Gambaran Acak Ini

It’s a fucking hectic week.

Hoaah. Gue bener-bener butuh refreshing! Di sela-sela minggu yang padat bin mampus ini akhirnya gue bisa istirahat sebentar. Berhubung hari kamis kemarin ulang tahun kantor, jadi deh dapet libur sehari. Lumayan untuk meregangkan otot-otot gue yang udah mau menstruasi ini.

Alhasil, hari itu gue pakai untuk diem bengong seharian. Selain ke toko buku (akhirnya!), gue cuman diem di tempat ngopi. Turning down this fucking flashy pace. Duduk senderan, napas pelan-pelan sambil nikmatin bener-bener oksigen yang ngalir. Bener-bener hargain tiap waktu yang lewat detik demi detik. Udah deh, gue lalu merem, ngebayangin hal-hal yang macem-macem.

1.
Berada di bawah panggung, di tengah keheningan orang-orang yang rapat berdiri.
Di atas sana, seseorang, tua, berdiri memegang kertas dan mengambil microphone dari standing mic.
Semuanya hitam-putih.
Si bapak tua ini, lalu, mengembuskan napasnya pelan-pelan; suaranya serak dan malu-malu. Ia kemudian membaca puisi tentang kopi. Tenang dan lembut.

2.
Lampu jalanan membuat setengah trotoar berwarna kuning.
Ketukan lagu dari earphone di dalam helm seirama dengan lampu sein mobil di depan.
Gue patah hati.
Entah berita apa yang baru gue dapatkan, tapi dada gue sesak sekali. Titik-titik merah lampu belakang kendaraan membuat mata gue basah.
Parade klakson dimulai ketika lampu lalu lintas berubah hijau.
Gue meningkatkan volume lagu dari handphone di saku celana.

-
Gue membuka mata,
mengambil cangkir kopi di meja. Menyesap hangatnya pelan-pelan.
Lalu senderan lagi.

Di meja lain, berbeda dengan gue, aktivitas yang mereka lakukan bervariasi. Ada yang sibuk menelepon, merokok, ada juga yang heboh ketawa bersama sahabat-sahabatnya.

Gue coba menerawang lebih jauh. Mereka, orang-orang di depan gue ini, sama seperti gue, pasti punya banyak masalah. Di tengah kesibukan kerja, di belakang ketawa heboh mereka, pasti, jauh di lubuk hati, setiap orang punya masalahnya sendiri-sendiri.

Perbedaannya hanya terletak pada cara menghadapinya. Ada yang langsung curhat kepada teman dekatnya, ada yang melampiaskan ke media sosial, ada yang melupakan sejenak masalahnya dengan tidur.

Semua orang punya masalah.
Dan pilihannya hanya dua: memperlihatkannya atau tidak.

Gue menarik napas panjang.

Senderan satu jam..

Dua jam..

Lalu berdiri dan pulang.

--
Anyways, ada yang pernah ngerasain mikir macem-macem kayak gitu gak? Tahu-tahu kebayang aja gitu lagi di mana. Atau emang sengaja ngebayangin hal-hal random dan seru. Coba aja cerita di kolom komen ya. :)

Hari kamis kemarin gue juga nonton salah dua video yang keren banget.




Hmmm Carlos memang sosok bapak super sejati. Ngegarap Harapan Project dan ngebangkitin Sumbawa sendirian. Gokil! Gak beda jauh lah sama gue yang bisa ngebangkitin emosi orang sendirian. Serial Jalan-Jalan Men ini udah gue ikutin sejak 2 tahun lalu. Dan sampe sekarang masih ngepens berat! Wohooo! Saking ngepensnya sama acara ini, kalo ketemu jebraw atau Naya di tengah jalan pasti gue bakal… bakal gue suruh minggir (ya dari pada ketabrak?). Hehehe.

Oke deh. Have a nice weekend folks!
Suka post ini? Bagikan ke: