Saturday, August 29, 2015

Aku Ini Anak Siapa?

Di rumah, gue punya kucing peliharaan.
Salah deng. Maksudnya, di rumah gue ada kucing yang maksa banget minta dipelihara.

Masih terngiang di kepala gue awal pertemuan dengan si kucing sialan ini. Jadi, ketika itu, di sore hari yang mendung, gue lagi duduk-duduk lucu di garasi. Lalu ada orang lewat dan masukin duit ke mangkok di depan gue. (Enggak lah! Emangnya gue ngemis?!).

Jadi, pas gue lagi ngeliatin dedaunan yang bergoyang mesra ketiup angin, tiba-tiba muncul seekor makhluk berkaki empat dengan bulu di sekujur tubuhnya. Si kucing abu-abu ini berjalan dengan congkaknya ke arah gue seolah dia tidak tahu siapa tuan rumah. Di antara kaki gue, dia menoleh ke atas, menatap gue sambil memicingkan mata. Gue pun bertanya, ‘Ngapain lo cing dateng ke sini?’

Dia diem.
Gue dikacangin.
‘Heh? Ngapain lo cing?’ tanya gue kembali.
Dia tetep diem.

Merasa harkat dan martabat gue dijatuhkan karena dikacangin si kucing, gue segera mengambil sapu dan mengusirnya. ‘Hush! Hush!’ begitulah bunyinya. Namun, memang dasar kucing sombong, dia tetap diam. Tidak berapa lama, si kucing laknat ini mengeong syahdu. Gue baru inget kalo kucing emang gak bisa diajak ngobrol bahasa manusia. Gue pun sadar, kebanyakan mengonsumsi mecin bisa menurunkan IQ.

Karena udah males dikacangin mulu sama si kucing, akhirnya gue capek juga ngusirnya. Suka-suka dia dah mau ngapain. Asal jangan ngambil duit ATM gue aja (serem juga sih kalo bisa). Setelah menatap nanar ke arah gue, si kucing dengan bulu abu-abu kumal ini langsung duduk dengan santai di antara kaki gue.

Berhubung waktu itu gue jarang nonton sinetron, jadi gue diemin aja tuh kucing di bawah. Kalau enggak, pasti gue udah melotot sambil tereak, ‘PERGI KAU KUCING LAKNAAAT!! PERGI DAN JANGAN KAU INJAKKAN EMPAT KAKIMU DI RUMAHKU YANG SUCI INI LAGI!!’

Tidak lama berselang, Nyokap tiba-tiba dateng dari dalam rumah dengan wajah berseri-seri. Ngeliat nyokap, si kucing kumal ini langsung bangun dan berjalan lalu menempel-nempelkan badannya ke kaki nyokap. Nyokap yang kaget melihat ke bawah dan bilang, ‘Eh, ada kucing!’ yang tentu saja didiemin sama si kucing. Emang kucing gak tahu diri. Nyokap gue aja sampe dikacangin. Ckckck.

Ngeliat ada kucing di garasi menatapnya iba, Nyokap langsung masuk ke dapur dan keluar sambil membawa sepotong ikan. Dari dulu Nyokap emang demen ngasih makanan ke kucing. Hal ini berakibat pada banyaknya kucing yang dipelihara nyokap. Dulu banget, nyokap punya kucing yang dia namain dengan Dodi (anjir, manusia banget gak sih namanya? Gak sekalian aja Eduardo? Eduardo! Kemari kau! Ngeoong…).

Seperti halnya kucing-kucing lain yang memanfaatkan kebaikan Nyokap, kucing kumal ini selalu dateng ke rumah setiap hari TIAP DIA LAPER. Sungguh kucing yang tidak mulia. Sampai sekarang sudah setahun lebih sejak si kumal ditemuin, dia jadi penunggu rumah gue. Setiap kami makan malam, dia selalu mengintip dari balik jendela sambil menatap dengan pandangan seolah berkata, ‘Bagi! Pokoknya bagi! Ngeong!’

Imbasnya, sekarang Nyokap malah lebih perhatian ke si kumal daripada gue. Setiap pagi, Nyokap selalu ngasih makan si kumal dengan SEPIRING NASI DAN IKAN. Sementara gue disiapin whiskas (lho kok kebalik?). Intinya, sekarang si kumal telah merebut perhatian nyokap. KUCING DURHAKAA!

Lihatlah kelakuan dia ini:



Sampai kemarin, Bokap-Nyokap lagi mudik. Tinggallah gue sendirian di rumah bersama si kumal yang setia tidur di atas kap mobil bokap. Karena lagi capek banget, akhirnya gue jatoh sakit. Gue pun telepon nyokap, ngasih kabar tentang sakitnya gue ini. ‘Kamu sih kecapekan tuh!’ seru nyokap di telepon.

‘Iya nih.’ Gue pun melanjutkan sambil kode-kode dikit, ‘Mana laper lagi di rumah.’

Gue udah berharap nyokap bakal bilang supaya gue delivery makanan atau dikirimin duit dua milyar supaya gue sembuh, tapi yang keluar dari mulutnya adalah, ‘Hmmm laper ya? Astaga! Si kucing udah dikasih makan belum?”

Huhuhuhuhuh.
Aku ini anak siapa?
Suka post ini? Bagikan ke:

Wednesday, August 26, 2015

Mimpi

Sampai sekarang, gue masih gak ngerti sama yang namanya alam bawah sadar. Sebuah pikiran yang seperti tidak bisa dikendalikan. Mungkin alam bawah sadarlah yang selama ini ngebuat kita berpikir bahwa rumput tetangga itu lebih hijau. Padahal, kalau dipikir-pikir lagi, kita kan tetangganya tetangga kita. Jadi, menurut tetangga, rumput kita harusnya lebih hijau. Terus sebenernya rumput siapa dong yang lebih hijau?

Terlepas dari rumput-rumputan ini…

Gue pernah nonton acaranya Romy Rafael yang ngebahas hal serupa. Di acara tersebut, Bung Romy (ini niatnya sok akrab ujungnya malah jadi kayak komentator bola gini ya?) membuat eksperimen tentang alam bawah sadar. Romy ingin membuktikan apakah alam bawah sadar manusia bisa dibentuk melalui sugesti atau tidak. Waktu itu bintang tamunya Annisa Cherrybelle. Sewaktu tampil, Romy mengeluarkan sebuah kertas yang telah dia tuliskan hasilnya. Lalu, dengan santai, Romy bertanya kepada Annisa, ‘Sebutkan satu judul lagu dan penyanyinya.’

Si Annisa berpikir sebentar, kemudian dengan mantap menjawab, ‘Bruno Mars! Uptown Funk!’

Bung Romy ngebuka kertas yang sudah dia pegang … dan voila! Jawaban yang ditulis Romy pun tepat!

Selidik punya selidik, ternyata dua jam sebelum tampil, Bung Romy telah memberikan sugesti kepada Annisa tanpa disadarinya. Romy telah menaruh CD Album Bruno Mars terbaru di ruang make up yang akan digunakan Annisa. Selain itu, Romy juga menyuruh seseorang untuk menyiulkan nada Uptown Funk di dekat Annisa. Sesaat sebelum manggung Romy juga menyuruh sebuah band untuk menyanyikan lagu Uptown Funk.

Lalu gue sadar,
Gue pernah melakukan hal ini.

Di zaman SMP dulu, gue paling gak bisa menghafal rumus tenses dalam Bahasa inggris. Karena udah hampir depresi, akhirnya gue membeli satu karton gede dan menuliskan 12 rumus beserta ciri-cirinya di sana. Setelah jadi, gue tempel di tembok kamar, tepat di posisi di mana gue menghadap setiap kali bangun tidur. Ajaibnya, hal ini ngebuat gue secara gak langsung ngeliat rumus itu berkali-kali. Dan pada akhirnya gue jadi tersugesti dan hafal tenses di luar kepala.

Sekarang, hidup gue semakin maju. Kini yang ada di kepala gue bukan lagi tenses Bahasa inggris. Sekarang yang hinggap adalah mimpi-mimpi yang meminta untuk dituntaskan. Maka di sini gue pengin menuliskan rangkuman mimpi-mimpi gue. Mulai dari yang dulu banget gue pengin sampai yang baru kepikiran. Dari yang kecil dan aneh sampai yang abtstrak dan gak masuk akal. Ya siapa tahu aja kan dengan ditulis di sini malah jadi tersugesti dan kejadian beneran. Hehehe.

So there you go:

Satu. Berhubung akhir-akhir ini gue jarang banget baca buku, jadi gue pengin bisa baca buku kembali. Sebulan 4 sampe 6 buku deh. Terkadang gue rindu saat-saat di mana bisa duduk di sofa, menghabiskan berjam-jam waktu untuk menikmati buku sambil ngopi atau ngeteh. Gue pengin kembali merasakan saat menenangkan itu.
Dua. Gue pengin bisa bikin buku sendiri. Membaca apa yang pengin gue baca, dan memberikan pengaruh baik bagi orang lain. Well, meskipun tulisan gue gak ada baik-baiknya sih.
Tiga. Gue pengin menulis skenario film dan ditayangkan di layar lebar. Filmnya berjudul Parodi. Mengisahkan tentang dua orang mahasiswa yang baru lulus, dan menjadi Youtuber karena pengin dapet duit sambil menunggu jadwal wisuda. Mereka pun membuat parodi dari film-film terkenal yang ada di layar lebar.
Empat. Gue pengin main di film itu. Muehehehehe.
Lima. Atau, paling enggak nyobain jadi Youtuber.
Enam. Gue dari dulu pengin banget jalan-jalan ke Nusa Tenggara. Ngelihat Wae Rebo adalah salah satu mimpi gue sejak lama.
Tujuh. Gue pengin ketemu, ngobrol, temenan sama orang-orang yang berkecimpung di dunia kreatif. Gue pengin curi banyak ilmu. Pengin belajar banyak dari mereka.
Delapan. Pengin dipijitin pacar kalau lagi capek.
Sembilan. Gue pengin jadi relawan. Terjun langsung ngebantu temen-temen lain.
Sepuluh. Gue pengin bisa percaya diri ketika ngomong atau menunjukkan kemampuan di hadapan orang banyak. 
Sebelas. Gue pengin blog ini terus hidup dan gue isi dengan lancar. 
Dua Belas. Gue pengin sebelas hal di atas bisa terwujud sewaktu gue masih hidup di dunia ini.

--
Ada yang mau share juga?
Suka post ini? Bagikan ke:

Friday, August 21, 2015

Mari Kita Bicarakan Anak Ini Sambil Boker

Baca-baca di komentar postingan kemarin seru juga 17-annya. Dari yang lombanya banyak, sampai yang nontonin tentara di alun-alun. Hadeuh, jadi kangen alun-alun kampung nih.

Dan ternyata banyak juga ya yang ngira Nurul itu cewek? Padahal Nurul udah sering gue ceritain di blog ini lho. Coba aja kamu ubek-ubek lagi. Hehehe. Seperti di komentar ini:




Hmmmm. Sesungguhnya, Nurul jauh dari bayangan kalian. Kamu mungkin berpikir bahwa Nurul adalah sosok perempuan cantik klimis berbulu tipis dengan alis seksis (ini apaan seksis?!). Oh tidak! Nurul tidak seperti yang kamu bayangkan! Nurul jauh dari itu. Gue sebetulnya tidak berani menggambarkan seperti apa wajah Nurul. Sebab, menurut rumor yang beredar, ngomongin Nurul akan berakibat fatal. Karena Nurul… Nurul adalah sosok…. Sosok…. Tolongh.. napash guehh..

Ternyata rumor itu benar. Ngomongin Nurul emang gak enak kalo gak sambil boker. Hehehehe.

Jadi, sekarang gue akan membuka tabir Nurul yang selama ini misterius dan kamu kira perempuan. Mungkin dia memang memiliki bulu di mana-mana dan tetenya agak gede, tapi ingat, dia tetaplah manusia. Jadi mari lestarikan Nurul! Cubitlah tetenya sewaktu ketemu di jalan! (lho?)

Oh jadi begini rasanya leher kecengklak


--
Selain Nurul, ternyata ada juga orang-orang di komentar kemarin yang sadar kalo gue belum cerita soal futsal. Padahal gue sengaja menyembunyikan fakta mencengangkan tersebut. 


Berhubung udah ketahuan, so here it goes!

Jadi, satu jam berselang main basket sama Nurul dan Kely, kepala gue udah pusing dan pandangan gue kabur (ini beneran). Gue ngerasa cupu abis. Karena udah teler, gue pun ke pinggir lapangan buat minum. Tidak lama berselang, Nurul dan Kely juga berhenti main. Lalu, pas lagi asik-asiknya minum, muncul tiga sosok anak alay membawa bola futsal. Gue perkirakan umurnya setara anak kelas 4 SD. Dua bertubuh sangat kecil, hitam, dan kurus, sementara yang satu besar seperti genderuwo. Ngeliat mereka dateng, insting alay gue langsung berkobar. Gue udah yakin, seperti alay-alay yang lain, mereka pasti ingin merebut lapangan yang kami pakai.

‘Bang maen futsal yok!’ kata anak kecil yang berambut lancip.

Gue udah pengin ngambil kerikil dan nimpuk mereka sambil bilang, ‘PERGI LU PERGI LU PERGIII!’ tapi di sekitar gue gak ada kerikil. Adanya cuman Nurul, yang mana kalau gue lempar ke mereka, yang ada alay-alay itu malah bersorak gembira sambil menyembah Nurul. Gue pun mendadak dilematis. Gue gak mau lapangan ini direbut mereka. Jumlah kami sama, tapi jelas Kely gak mau membantu gue melawan bocah-bocah sialan ini. Akhirnya gue mengambil keputusan dan beranjak ke lapangan bersama Nurul.

Awalnya gue pikir kami akan melawan tiga anak alay itu, tetapi semesta berkata lain. Menatap Nurul si raja alay, satu alay genderuwo langsung terhipnotis dan memaksa masuk kelompok kami. Betul sekali, kekuatan Nurul memang sedahsyat itu.

Jadi, ini dia formasi tim Kresnoadi vs tim Alay:

Alay Genderuwo vs Alay berponi: Kiper
Kresnoadi vs Alay berambut lancip: Penyerang sekaligus tukang lari-larian.
Nurul: Penyembah setan di lapangan.

Karena tim gue kelebihan pemain, jelas ini menjadi keuntungan besar. Kami pun memulai kick off. Gue mengoper Nurul, yang, langsung direbut gitu aja sama si alay lancip. Dia lari ke gawang. Si genderuwo bersiap menjaga, si alay lancip bersiap menendang, lalu dia teriak, ‘MAKAN NIH TAIIIKK!!’ Si genderuwo nutup mata. Gol. 0-1. Tiga detik pertama gue udah kalah sama alay. Biadab.

Gue agak gak enak main sama alay ini karena dia suka teriak-teriak dan ngebuat peraturan seenak jidat. Tiap kali tim alay lancip menendang bola keluar lapangan, dia selalu jerit, ‘GAK MAEN OUT YA! GAK MAEN OUT!’ Begitu Nurul menendang keluar, dia jerit, ‘EH, OUT TUH, OUT!’ Kasihan sekali nasib Nurul. Karena gak tega, kami pun bermain dengan santai, pas pulang baru kita karungin dan jual ke Timur Tengah.

Entah apa yang membuat alay lancip ini begitu liar. Mungkin pancaran cahaya di sekeliling Nurul? Oh, itu sih bikin pengin muntah. Yang jelas, si alay lancip selalu menjerit-jerit sewaktu menendang. Setiap kali berada di depan gawang genderuwo, dia selalu berteriak, ‘MAKAN NIH TAIIIKKK!!’ Genderuwo jiper, kami pun kebobolan.

Gue sempat membalas dua gol dengan berteriak, ‘MAKAN NIH MAKANAN MANIS UNTUK BERBUKA PUASA!!’ tetapi hal itu tidak cukup untuk menandingi kebrutalan alay lancip kelas 4 SD ini. Kami pun mengalah dengan skor 5-3. Mengalah, ingat itu. Mengalah.
Suka post ini? Bagikan ke:

Tuesday, August 18, 2015

Hmmmm.. Gel Pegel Pegel

MERDEKA! Wohoooo gimana nih 17-annya? Pada ikut lomba apa tadi?

Gue sendiri seharian gak ikut lomba apa-apa. Selain karena emang lomba di kompleks rumah gue diadain tanggal 30 nanti (betul sekali, gue juga gak ngerti kenapa 17an dirayain tanggal 30), badan gue juga lagi pegel-pegel banget. Untungnya, tanggal 17 Agustus kali ini jatuh di hari senin, yang mana jelas bikin semua orang gembira ria. Oooh I love Monday. Tinggal besok aja nih, ngejalanin selasa rasa senin. Hehehe.

Anyways, berhubung lagi libur panjang, gue kemaren akhirnya memutuskan untuk kembali nyobain olahraga. Hohoho. Badan gue yang udah kaku jarang dpake berolahraga ini akhirnya dipaksa buat main basket dan futsal sekaligus. Hasilnya? Otot gue menstruasi. Semua daging di badan gue rasanya kayak tegang abis. Ini aja ngetik rasanya aneh banget. Gumpalan di bawah jempol dan kelingking kayak kaku gitu.

Hal yang menyenangkan dari pegel mampus adalah, mencet-mencet otot yang tegang! Entah kenapa gue seneng aja gitu mencetin otot yang keras. Sakit sakit nikmat gimana gitu. Kayak pengin jerit tapi ketawa. Hmmmmm. Susah deh emang kalau ototnya banyak gini.

Karena gak punya bola basket dan lagi ngebet banget pengin basketan, akhirnya gue ngajak Kely, cewek basket di SMA gue. Bersama Nurul si botak dari neraka, kita pun menjelajah kompleks nyari lapangan buat dijamah. Rencana awalnya adalah seperti ini: Kely dateng ke rumah gue jam 7 pagi, main basket sampe siang, lalu berakhir dengan tampan. Namun yang terjadi adalah seperti ini: Kely dateng kesiangan, bola basket belum dipompa, gue tetap tampan. Karena rencana brilian kita gagal total, akhirnya main basketnya diundur jadi sore.

Hal kampret pun datang bertubi-tubi, seolah semesta tidak mau otot gue kembali macho setelah sekian lama tidak berolahraga. Hal kampret pertama adalah nyari tukang pompa bola. Meskipun tampangnya Nurul mirip tukang ban tubles, tetapi dia tidak bisa mengatasi masalah bola kempes ini. ‘Gue ada pompa, tapi pentilnya gak ada,’ kata Nurul, yang langsung gue sambar dengan: ‘Ciyeeeeee tetenya polooos..’

Setelah ke sana ke mari membawa alamat bola, akhirnya kita menemukan tukang pompa. Lalu masalah kedua muncul: lapangan. Mencari lapangan basket yang bagus di kompleks rumah gue entah kenapa menjadi hal yang amat sulit akhir-akhir ini. Sesulit keluar dari jeratan friendzone. Hmmmmmmm.

Lapangan basket yang kita temui pertama kali gak ada ringnya. Begitu juga dengan lapangan kedua. Kami udah hampir frustasi karena bingung mau main di mana. Sampai Nurul kembali mengeluarkan ide fantastis, ‘Gimana kalau main di lapangan depan rumah Diva?’

Gue dan Kely pun langsung mengangguk tanda setuju. ‘Yuk, let’s go!’ seru gue, sambil melempar ikan segar ke Nurul sebagai imbalan atas ide cemerlangnya.

‘Eh, jangan deh!’ Nurul tiba-tiba membantah idenya sendiri. ‘Ke sana kan jauh. Kita cari yang deket aja.’
‘Duh, gue udah gak ada ide nih. Terus di mana dong?’ tanya gue.
Nurul menjentikkan jari. ‘Di SMP kita aja gimana? Kan deket tuh. Libur pasti gak ada yang make.’
‘Good boy..,’ balas gue, kembali melempar ikan segar ke wajah Nurul.

Akhirnya kita pun bermain dengan sentosa di lapangan SMP kita zaman dulu. Gue agak canggung begitu masuk ke sini. Bukan karena udah gak level, tapi karena level kita kayak gembel semua. Gue mengenakan jaket kumal, celana pendek dan sandal jepit. Nurul memakai celana sport panjang, dengan tas pinggang a la Ariel Noah. Juga memakai sandal jepit. Hanya Kely yang mengenakan pakaian olahraga selayaknya. Sewaktu sekolah dulu, begitu ada orang berpenampilan gak rapih masuk sekolahan, gue selalu ngatain, ‘DASAR LO AKAMSI! ANAK KAMPUNG SINI!’ Sekarang malah gue yang jadi akamsi. Dunia memang berputar.

Gara-gara keasikan main sekarang badan malah jadi sakit semua gini deh. Oh, aku gel pegel pegel. Ku butuh dur tidur tidur.

--
Ternyata masih ada yang ikutan Tantangan Tiga Rasa. Silakan dibaca postingan dari Ayam Sakit yang ini ya. Buat yang mau ikutan juga bisa cek di postingan gue yang ini.

Tampilan sidebar blog ini baru aja gue pindahin jadi ke bawah. Sengaja supaya kolom blognya bisa dipindahin ke tengah. Jadi, kalau ada yang mau cari social media, kolom search, follow, atau ngelihat postingan terpopuler selama sebulan terakhir, scroll aja ke paling bawah.

Then, have a goodnight. :)
Suka post ini? Bagikan ke:

Friday, August 14, 2015

Tentang Mengapa Cewek Selalu Menang Sewaktu Berantem

Semua pasangan di dunia ini pasti pernah berantem. Mungkin karena meributkan hal-hal sepele, atau juga karena sesuatu yang mengejutkan. Seperti misalnya, perselingkuhan. Atau kamu ketahuan jadi simpanan janda kompleks sebelah.

Pertikaian memang menjadi bumbu pelengkap dalam sebuah hubungan. Ibarat memasak, pertikaian adalah saat di mana nyokap nyamperin lalu nanya, ‘Dek, kok kompornya gak dinyalain?’

Dan seperti yang saya bilang, setiap pasangan memiliki kadar sendiri-sendiri untuk ribut. Ada yang bisa berantem cuma gara-gara hal sepele. Ada juga yang tidak.

Tapi satu hal yang pasti dari setiap pasangan yang berantem: cewek selalu menang.

Betul sekali. Kita, cowok-cowok, selalu cemen sewaktu berantem sama cewek.

Maka, untuk membantu kamu-kamu semua, sebagai seorang Senpai Kresnoadi, saya akan mengupas masalah ini.

Pertama. Cewek adalah makhluk bermental teroris. Sewaktu pertama kali pacaran, kaum mereka telah menyelipkan chip kecil di kepala cowok. Fungsinya untuk menghancurkan memori otak kita. Itulah kenapa, cewek selalu ingat kesalahan cowok dua bulan yang lalu. Perkataan cowok di masa sekarang akan menjadi senjata pamungkas yang mereka gunakan di masa depan sewaktu berantem.

 *masa sekarang*
Co: (bercanda) Kamu makan melulu deh. Nanti gendut lho. Aku gak mau ah sama cewek gendut. Hehehe.
Ce: Iiiih biariiin. Orang aku laper.

 *dua bulan kemudian di ruang tv*
Ce: TUH TUH TUH TONTON AJA FARAH QUINN TERUS!! EMANG DIA KURUS! KAMU SUKA KAN CEWEK KURUS!! GAK KAYAK AKU YANG KERJANYA MAKAN TERUS! PANTES DUA BULAN YANG LALU KAMU NGOMONG GITU!! BODO MULAI BESOK AKU GAK MAO MAKAN AMPE BEGO BIAR MATI SEKALIAN!!
Co: *asma di tempat*

Kedua. Cewek tidak pernah memberikan kesempatan cowok untuk berbicara. Sesaat setelah prosesi berantem, cewek akan langsung menolak semua kalimat yang diutarakan cowok. Kalimat penolakan ini bisa bermacam-macam. Seperti misalnya, ‘Ya udah. Terserah!’, ‘Oh gitu!’, ‘Apaan sih!’ ‘Udah sana!’ ‘Aku gak mau denger!’ Bagi cewek gahul tahun 90-an, mereka akan melanjutkannya dengan, ‘Pacaran aja sama nenek lo yang gaul-gaul!’ Anehnya, sewaktu di rumah, cewek selalu mencari tahu sendiri sumber pertengkaran mereka.

Ketiga. Setelah sekian lama, akhirnya mood si cewek membaik. Dia mulai dapat dibujuk. Di saat seperti ini, cewek hanya butuh satu hal: penjelasan. Maka cowok pun mengeluarkan kalimat saktinya: Aku bisa jelasin semuanya. Begonya, di saat ini, cowok SAMA SEKALI GAK TAHU MAU JELASIN APAAN. Cowok ngomong ‘Aku bisa jelasin semuanya’ cuma karena ingin masalahnya selesai dan gak berantem lagi. Kenapa? KARENA COWOK GAK PERNAH BISA MENANG. Karena tidak mempersiapkan dialog apapun, penjelasan si cowok malah jadi ngaco ke mana-mana.

Co: AKu bisa jelasin semuanya…
Ce: Ya udah! Jelasin!
Co: Tadi nonton.. Gak sengaja.. Farah Quinn.. Ratu.. Duo Maya.. Teman tapi mesra..
Ce: TEMEN TAPI MESRA?!
Co: Bukan, bukan. Maksudnya. Remotnya. Gak sengaja. Kepencet.
Ce: Oh gitu. Ya udah.

Keempat. Momen ini adalah momen yang krusial. Kalau kamu ingin segera putus dengan pacarmu, katakan, ‘Iya. Ya udah. Aku simpenan janda kompleks sebelah.’ Tetapi, kalau kamu ingin baikan dengan pacarmu, katakanlah: ‘Iya maaf aku yang salah.’

Biasanya, setelah si cowok meminta maaf, cewek akan semakin luluh. Kalimat yang akan dikeluarkan cewek selanjutnya adalah: ‘Iya sama-sama. Tuhkan kamu ngaku juga. Coba sekarang jelasin ke aku.’
Lalu para cowok akan lari ke bawah kucuran shower sambil jerit, ‘AKU GAK TAHUUUUUU!!!’
Suka post ini? Bagikan ke:

Saturday, August 8, 2015

Alasan Kenapa SMA Adalah Masa Paling Indah

Hey, how’s your weekend?

Rencana awal gue hari ini main ke popcon asia terus lanjut nonton Catatan Akhir Kuliah di PIM. Tapi udah jam segini dan gue masih pake kaos lengan buntung, celana pendek, dan iler masih berkeliaran di muka. Kayaknya bakal gagal total sih. Hehehe. Anyways, gue baru aja nemu tiga tv series seru: Silicon Valley, Suburgatory, sama Mozart in the Jungle. Duh, bisa-bisa gue malah gak ngeliat matahari nih.

--
Sekarang masuk topik. Buat yang lagi baca ini, gue mau nanya dong. Kamu lagi di masa mana sih? SD? SMP? SMA? Kuliah? Atau udah kerja dan menikah? Coba jawab di kolom komentar ya. :)

Setelah hampir nyobain semua, gue setuju sama yang orang-orang bilang. SMA memang masa yang paling indah. Bener kata om Chrisye, tiada masa paling indah selain kisah-kasih di sekolah. Terlebih kalau kamu jadian sama kepala sekolah dan dikasih uang jajan setiap hari.

SMA adalah zaman di mana seseorang lagi bandel-bandelnya. Masa di mana seseorang lagi penasaran. Lagi pengin nyoba apapun, literally (temen gue pernah saking penasarannya nyobain kencing di wastafel). Lebih jauh lagi, buat gue, SMA adalah tempat belajar semuanya pertama kali. Gue pertama kali nyoba bolos pas SMA. Pertama kali nyoba manjangin rambut. Jerawat gue tumbuh pertama kali pas SMA. Dan, SMA adalah tempat di mana cinta pertama gue tumbuh pertama kali. (Okay, sebentar lagi gue dijitak Deva).

Hal yang gak asik di SMA adalah sewaktu kenaikan tingkat ke penjurusan kelas 2. Gue masuk IPA, sementara temen-temen gue pas kelas satu kebanyakan masuk ke IPS. Jadilah gue sendirian di IPA gak punya temen. Sewaktu kelas satu, yang cowok ke mana-mana selalu bareng. Udah kayak geng kapak kekurangan nutrisi. Kerjanya nongkrong di warung gado-gado. Begitu naik kelas dua, semuanya langsung mencar. Gue ke mana-mana sendirian. Udah kayak geng kapak yang kehilangan jati diri. Huhuhuh. Aku terlalu bengal untuk masuk IPA.

Beneran deh. Di SMA gue dulu, anak-anak IPA-nya pada rajin banget. Beda banget sama gue yang di kelas cuman molor. Pelajaran favorit? Oh, sudah jelas… pelajaran kosong. Setiap ada jam kosong, kita langsung keluar. Duduk di depan kelas sambil selonjoran dengerin musik. Hidup sesederhana itu.

Menjadi keren di SMA gue dulu juga gak ribet. Tinggal jalan keluar kelas sambil ngeluarin baju seragam. Udah deh, langsung berasa jadi preman sekolahan. Kalau sekarang, mau jadi keren harus punya mobil ini hape inu kamera anu. Uang menjadi begitu penting bagi kebanyakan orang.

Hal yang paling gue takuti pas SMA juga cemen abis. Lupa bawa topi hari senin… dan disuruh ngaji di depan kelas sama guru agama. Dan keduanya dapat diselesaikan dengan satu jawaban: cabut ke kamar mandi. Hehehe. Jadi, begitu guru agama udah ngelirik-lirik bilang, ‘Yak, hari ini yang ngaji adalaaaah…’ gue langsung ngacung tinggi-tinggi dan motong, ‘Saya Bu!’ Sekelas udah mo tepuk tangan sampe gue bilang, ‘Saya.. mau ke toilet ya, Bu. Hehehehehehe.’

Upacara juga merupakan ajang keren-kerenan bagi sebagian cowok. Di sekolah gue, salah satu syarat menjadi cowok keren adalah tinggi. Itu berarti, mereka yang berada di barisan belakang adalah golongan yang paling sering dilirik cewek-cewek. Apalagi kalau ada anak cowok tinggi yang nyempil di barisan tengah karena gak bawa topi. Beeeuh, tingkat kekerenannya udah setara kayak Zyan Malik. Mereka adalah golongan cowok yang paling gampang dapetin cewek. Sekali senyum, cewek langsung mimisan. Beda dikit lah sama gue yang kalau senyum cewek-cewek juga mimisan. Tapi keluarnya dari pantat.

Hmmmm jadi pengin balik ke SMA deh.
Suka post ini? Bagikan ke:

Monday, August 3, 2015

New Job, Welcome to My Life!

Edan. Semalem pas lagi nulis postingan ini malah ketiduran di depan laptop. Eh, jam segini jadi kebangun gara-gara Nyokap masuk kamar dan duduk di kursi sebelah. Padahal hari ini adalah hari senin yang berbeda. Tidak seperti minggu-minggu sebelumnya, di mana jam segini gue masih molor dengan sentosa. Di mana malem sebelumnya, gue udah gelisah kepikiran kerjaan di kantor.

Jumat kemarin, gue baru aja resign dari copywriter di GlobalTV. Buat yang gak tahu, copywriter adalah orang yang bertugas menulis naskah iklan. Bisa berupa voice over dari potongan-potongan film, skenario, headline gambar untuk media cetak, sampai skrip untuk iklan di radio. Gue cukup beruntung bisa dapet banyak ilmu selama tiga bulan kemarin.

Nah, berhubung pas perpisahan kemarin ternyata pada tahu kalau gue punya blog, jadi pada heboh gitu minta dimasukin nama-namanya.

So, this is my list of thanks:

Makasih buat mbak-mbak HRD yang udah menerima gue, yang pas gue tanya berapa jumlah copywriter di promo, dia malah ketawa heboh, ‘HAHAHAHA. YA GAK MUNGKIN CUMAN DIKIT LAH!’ lalu pas gue masuk, ternyata cuman satu orang. GAK MUNGKIN DIKIT NDASMU!!

Makasih buat Mas Erwin, bos supergahul yang setiap cuti, karyawan langsung pada gembira ria. Cobain deh mas, pura-pura bikin gosip mau cuti, terus tiba-tiba dateng siang-siang, pasti langsung pada heboh. Hehehe. Makasih udah dengan sabarnya ngebimbing daku yang cupu ini.

Makasih juga buat tim shooting adzan maghrib (ini lain kali gue ceritain di post terpisah): Mas Fajar, Mas Mulya, Mas Fian, dkk. Makasih banyak udah nunjukin cara shooting tim profesional. Gue banyak curi-curi ilmu dari mereka. Dan buat tim Global Ceria: Ayu, Mbak Sasa, Mas Indra, Mas Redy, Rio, dan Mbak Rika, sang senior copywriter yang jago abis nulis iklannya. Buat Mas Eko, dubber yang suaranya ada di mana-mana. Buat Mbak Santi, yang udah dengan baik hatinya nipu gue pas pertama ketemu. Ngaku editor padahal produser. Huhuhu. Aku memang lelaki polos. Buat Mbak Amel sama Mas Aban yang udah ngajak ke Taman Anggrek buat makan siang. Pokoknya makasih banyak semua! \:D/ Nah, Udah kan ya? Sekarang tolong lepaskan Bapak saya..

Terus terang, gue memang belajar banyak dari orang-orang di sana. Terbiasa menulis panjang dengan genre komedi bikin gue mencret pas harus nyusun naskah copy yang pendek, lugas, dengan balutan kata-kata yang cihuy. Meskipun cuman tiga bulan, tapi gue udah dikasih kepercayaan macem-macem. Dari mulai bikin skrip biasa, jadi talent buat adzan (ya, ini adalah bentuk pencitraan paling sempurna), sampai ngisi suara di iklan radio. Kalian telah percaya kepada orang yang salah.

Sewaktu nulis ini aja gue jadi keingetan semuanya. Kilatan-kilatan tiga bulan itu. Dari zaman gue pertama masuk, sampe kemaren pada heboh pas perpisahan. Gue ingat itu semua. Gue sampai menitikan air mata saking gak kuatnya (kebetulan gue ngetik ini sambil ngiris bawang bombay). Sekali lagi, makasih banyak semuanya! Keep up the good work!

Beberapa makhluk tukang promosi
--
Begitu perpisahan kemarin, mbak Rika sempet nanyain ide buat promosiin acara Aksi Bocah Cilik yang rencananya bakal digelar di salah satu mall. Aksi Bocah Cilik adalah gameshow ngelombain anak-anak balita. Pas semalem ngecek videonya di Youtube, gue malah hampir frustasi sendiri. Tiga anak bayi dijejerin udah kayak pelari marathon, lalu di ujung garis ada ketiga emak dari si bayi ini nyorak-nyorakin dan ngasih segala macem benda supaya si bayi ngerangkak ke sana. Ada yang belok-belok gak keruan, ada yang malah bengong kayak kerasukan setan, ada juga yang berhasil ngerangkak beneran. Pemenangnya dapet uang (kalo gak salah tiga juta gue lupa). Kalo gue punya anak, udah pasti gue suruh ikutan. Gue bakal iket benang tipis di tangan anak gue. Lalu dari ujung tinggal gue tarik-tarik sambil teriak, ‘BERIKAN PAPA UANG!! BERIKAN PAPA UANG SEKARANG JUGA!!’ Ya, semoga Deva nggak baca tulisan ini.

Nah, jadi, gameshow itu rencananya bakal diadain di beberapa mall. Keren abis kan? Hmm… karena bingung, gue promoin di sini aja deh. Buat emak-emak yang baca ini, DAFTARKANLAH ANAK ANDA DAN UBAH MEREKA JADI PUNDI-PUNDI KEKAYAANMU!

Shit, gue emang bego masalah promosi.

--
Hari ini mulai masuk kerjaan baru deh.
Well, new job, welcome to my life!
Suka post ini? Bagikan ke: