Thursday, July 30, 2015

BERSIHKAN AKU TUHAN

Aha. Ternyata udah ada yang mulai ikutan main Tantangan Tiga Rasa kemarin. Keren. Ini dia orang-orangnya:


Semuanya keren dan bagus-bagus. Kalau ada yang mau ikutan juga tinggal kasih tahu aja ya. Bisa lewat kolom komentar di bawah, Twitter, atau Facebook. Makasih. :)

--
Sekarang masuk topik.

Gue sama sekali gak masalah sama yang namanya homo.
Benerin. Gue gak masalah sama homo… kecuali dia megang-megang.

Kejadian biadab itu terjadi beberapa minggu yang lalu. Sehabis makan siang, gue lagi nginget-nginget kerjaan kantor. Semua udah beres, tinggal dikirim ke email senior. Sip. Gue gak punya prasangka buruk apa-apa (kecuali pas beli gorengan dan ternyata harganya seribu. FAAAK GORENGAN APAAN SEREBU? Pantes Haji Sulam udah gak ada. Dia udah jualan gorengan di depan kantor gue!!). Selesai beli makan siang, gue ke masjid. Skip skip skip. Masih tidak ada pertanda akan terjadinya hal-hal buruk. Gue ngantuk. Tiduran sebentar. Main hape. Hapenya jatuh nimpuk kepala. Gue benjol tiga belas senti.

Semuanya masih wajar.

Gue lalu kembali ke lobby kantor. Setelah menunggu lima menit, pintu lift terbuka. Sebetulnya gue agak males buat masuk karena di dalam udah rame. Setelah gue hitung kira-kira isinya hampir sepuluh orang. Dan, semuanya ngeliatin gue dengan pandangan masuk-apa-kepala-lo-gue-jepit-di-pintu-lift.

Gue pun masuk dengan penuh wibawa.

Di dalam juga semuanya lancar-lancar saja. Gue masih bernapas dengan oksigen dan gak ada mas-mas iseng yang nanya, ‘Mau ke lantai berapa? Yakin gak mau pilih aku aja?’

Sampai beberapa detik berikutnya, tangan kiri gue ditarik-tarik dari belakang. Kayak ada yang pengin manggil, tapi malu gara-gara kondisi lift yang terlalu ramai. Gue lalu nengok kiri. Dan di sanalah dia. Makhluk titisan dajal entah dari mana datangnya. Gue masih ingat wajahnya; agak pendek, putih, berambut poni ke kiri sedikit menutupi mata. Gue ngeliatin dia, mikir keras apakah gue kenal dia atau enggak. Dia senyum seolah menyiratkan, ‘BERIKAN AKU TUMBAL SEKARANG JUGA!!’

Hampir sepuluh menit ngeyakinin diri, gue bener-bener gak punya klu tentang identitas si cowok ini. Siapa dia? Apakah dia… Bapakku? (lho?) Dia masih ngeliatin gue sambil senyum lebar dan mulai NGELUS-NGELUS TANGAN GUE. Gue refleks nutupin pantat. Karena gak tahu harus ngerespons apa, gue bales dengan sebuah cengiran canggung. Dan. Itu. Pilihan. Yang. Idiot. Orang-orang malah ngeliatin kita seolah kita memang dilahirkan sebagai pasangan homo. Gue tidak pernah merasa sekotor ini.

Gue cuman berdoa supaya lift-nya langsung ke lantai 9, tempat gue keluar. Tapi semesta kayaknya emang pengin lobang pantat gue makin lebar. Mungkin biar beraknya lancar. Lift kebuka di lantai 6. Gue udah ngebayangin rencana-rencana busuk kayak nendang dia keluar, lalu jambak rambutnya di depan pintu dan teriak, ‘TUTUP PINTU LIFT-NYA KAWAN-KAWAN! HABISI DIA DENGAN JEPIT KEPALANYAAA!!’

Tapi apalah daya. Dia masih ngelus tangan gue. Gue masih gak bisa gerak karena terjepit orang sekitar. Waktu itu, naik tiga lantai terasa kayak tiga belas lantai. Hmmm… Homo dan tiga belas? Tidak ada yang kebetulan di dunia ini teman.

Begitu lantai 9 kebuka, gue langsung loncat keluar. Sambil jalan ke ruang kerja, gue menitikan air mata seraya berkata dalam hati: bersihkan aku Tuhan. Bersihkan aku..
Suka post ini? Bagikan ke:

Friday, July 24, 2015

Tantangan Tiga Rasa

Salah satu hal paling menyenangkan sewaktu membaca adalah berimajinasi. Kalau menonton tv membuat seseorang melihat dunia yang sudah ada, tulisan mampu membawa kita ke dunia khayal. Tentunya, tulisan yang hidup adalah tulisan dapat merangsang panca indera: mencium suatu aroma, mencicipi rasa, dll. Kita bisa ke mana saja lewat tulisan. Kita bisa merasakan apa saja lewat tulisan.

Berhubung gue pernah iseng bikin Tantangan Tiga Frasa, kenapa enggak sekarang bikin yang mirip-mirip? Kalau dulu buat tulisan dari tiga frasa, sekarang pakai tiga rasa. Ini dia hasilnya:

--
Apa yang lebih pahit dari kopi?

Bangku merah superempuk membuat gue sesekali harus membenarkan posisi tubuh. Entah kenapa, bangku bioskop selalu membuat badan gue seolah jadi lebih kecil dari biasanya. Gue melihat dia di sebelah kanan. Matanya masih sembab. Aroma popcorn bercampur dengan bau patah hati yang baru saja tumpah.

Di deretan ini hanya ada kami berdua. Suasana semakin canggung karena gue sama sekali tidak suka film fantasi. Teleponnya dua jam lalu lah yang mengantarkan gue ke sini.

Sampai sepuluh menit yang lalu,
Dia menceritakan semuanya.

Dia bercerita tentang dia yang tidak seperti biasanya. Tentang dia yang mengaku sudah lama punya cowok idaman. Tentang dia yang bilang, kalau, hatinya baru saja dipecahkan oleh si cowok tersebut. Bagaimana si cowok yang sudah PDKT kepadanya ternyata memilih perempuan yang lain. Seorang perempuan dari masa lalunya.

Dia merasa dipatahkan.

Gue tahu betul siapa cowok ini. Bintang, salah satu anak basket sekolah kami. Satu hal yang gue tidak tahu adalah, kalau dia, seperti namanya, menjadi bintang baginya. Gue mengambil saputangan dari ransel di depan kaki, lalu memberikan kepadanya. Dia masih sesenggukan, tidak percaya dengan kenyataan yang baru saja menimpanya.

Seharusnya ini menjadi kencan yang menyenangkan. Bagaimana setengah jam yang lalu, dia masih dengan senyum yang sama. Senyum yang selalu mengingatkan gue akan pertemuan pertama kami. Sebuah senyum, yang, dia lontarkan di depan kelasnya setahun lalu. Setelah kejuaraan basket yang dia menangkan dengan selisih tipis, akhirnya salah seorang teman memperkenalkan kami.

Mungkin senyum itu akan tetap timbul jika Bintang yang duduk di sini. Gue lalu membayangkan Bintang ada di sebelah kanannya. Tidak seperti gue, Bintang suka film fantasi. Maka tayangan Lord Of The Rings di depan adalah sajian yang pas untuk mereka. Mereka lalu sesekali berdebat tentang isi film-nya. Bintang menggenggam tangan kanannya. Dia, lalu, menyenderkan kepalanya ke bahu Bintang, berusaha mengirimkan bau vanila yang samar-samar muncul dari parfum Eternity Summer di badannya. Beberapa detik kemudian, setelah membuang semua rasa takut, ia memberikan kecupan pertamanya.

Terus terang, berada di posisi ini membuat gue tidak tahu harus berbuat apa. Gue mengambil cola yang terlalu lama didiamkan di antara bangku kami. Embunnya membasahi tangan. Tegukan pertama. Tegukan kedua. Tegukan ketiga. Mata gue panas.

Berbeda dengan dia yang baru saja menceritakan perasaannya, gue tidak tahu kapan harus menceritakan perasaan ini. Sebuah perasaan yang terlalu lama didiamkan, dan kini terlanjur basi.

--
Nah, itu tadi tulisan gue tentang orang yang patah hati. Menggunakan indera penglihatan (bangku merah), kulit (basah & empuk), penciuman (popcorn & parfum). Kalau kamu mau ikutan tantangan ini, silakan bikin tulisan bebas yang memasukan tiga unsur panca indera. Bisa indera penglihatan, pengecap, perasa, penciuman, atau yang lain. Buat yang bingung, contoh kalimat yang merangsang indera penglihatan: Di seberang jalan ada cewek berambut merah. Kalimat itu merangsang mata kita untuk melihat cewek berambut merah.

Pokoknya minimal tiga indera ya. Nanti semua tulisan yang ikutan akan gue pajang di blog ini.

Selamat bermain! \(w)/

Ps: Tulisannya bisa lewat media apa aja; blog, note facebook, yang penting ada link-nya yang bisa gue pajang.   
Suka post ini? Bagikan ke:

Tuesday, July 21, 2015

Menulis dan Berpiikir Kreatif Cara Spiritualisme Kritis

Setelah seharian kemarin jalan ke PIM buat nyari hodie, gak tahunya malah pulang bawa buku panduan menulis kreatifnya Ayu Utami. Judulnya Menulis dan Berpikir Kreatif Cara Spiritualisme Kritis. Emang dasar kutu buku kali ya? Begitu ngeliat buku ini, gue kayak langsung ngedenger bisikan gaib, ‘Bawa aku ke kasir… bawa sekarang juga…’ Jadi deh, beneran langsung gue bawa ke kasir. Selepas beli, udah deh, gue mendadak lupa tujuan awal. Ujung-ujungnya malah melipir ke Starbucks. Buka bukunya. Tarik napaaas. Embuus. Hmm. I really love the smell of new books.



Dan setelah berkutat hampir dua jam, gue dapat tambahan ilmu yang menarik banget. Seperti judulnya, buku itu tidak hanya membahas tentang menulis kreatif, tapi juga berpikir kreatif. Ayu Utami membagi buku tersebut ke dalam tiga bagian besar: Kerangka, Daging, dan Kulit. Nah, gue kasih tahu sedikit tentang bagian kerangkanya aja kali ya? Berikut ulasan singkatnya:

Ide & Dorongan:
Sebelum mulai menulis, seseorang tentunya membutuhkan ide. Ide bisa berupa pemikiran konkret maupun abstrak. Dalam menulis kreatif, kita tidak boleh membatasi diri dengan berpikir, ‘Apa aja sih yang boleh kita tulis? Apa yang gak boleh?’ Pembatasan seperti itu justru akan menimbulkan pemikiran yang tidak kreatif. Jadi, pikirkan ide sebebas mungkin. Apa yang mau kita tulis? Tentang sebuah lukisan kuno yang dicuri pemiliknya sendiri? Atau bisa seabstrak Ingin membuat tulisan yang tidak ada tanda titiknya.

Tapi, ada kalanya kita benar-benar tidak punya ide menulis. Kalau itu yang terjadi, carilah DORONGAN dari dalam diri. Pikirkan hal-hal yang mengganggu. Seperti misalnya, tentang mengapa teman kita tega merebut pacar kita? Kenapa bencong mangkalnya di lampu merah? Kenapa gak di pinggir jurang aja biar bisa kita jorokin? Hal-hal seperti itu jelas bisa menjadi awal mula bahan tulisan yang menarik.

Struktur Tiga Bagian: Ci-Luk-Ba!
Seperti yang kita ketahui, struktur paling sederhana dari sebuah cerita terdiri dari tiga bagian: Pengenalan, Konflik, Konklusi. Atau, dalam contoh sehari-hari, Ayu Utami memberikan contoh nyata paling sederhana ini dengan Ci-Luk-Ba!

Ci: Tahap sebelum orangtua menutup wajah dengan tangannya. (Pengenalan wajah orangtua)
Luk: Tahap si anak kehilangan wajah orangtua (Konflik).
Ba!: Tahap mendapatkan wajah orangtua kembali (Konklusi).

Sama halnya dengan Ci-Luk-Ba! Cerita yang baik biasanya memiliki ketiga unsur ini. Contoh: Jika kita ingin menuliskan cerita tentang Bencong yang mangkal di lampu merah, kita bisa membuatnya menjadi tiga babak dengan seperti ini: Perjalanan Bencong ke lampu merah – Bencong ketabrak metro mini yang dikenekin sahabatnya sewaktu SD  – Bencong insyaf & menikah dengan sahabatnya.

Sinopsis & Outline:
Setelah mengenal adanya struktur tiga bagian (Ci-Luk-Ba!) Buatlah sinopsis dan outline dari ide yang telah kita miliki. Contoh sinopsis yang dihasilkan dari cerita Bencong Mangkal:

Cerita ini berkisah tentang Bencong insyaf yang menikah dengan sahabatnya sewaktu SD. Ia tidak menyangka, di siang yang menyebalkan itu, ia harus mengeluarkan jurus karate yang telah ia pelajari hampir 6 tahun karena diserempet metro mini. Ia pun berpura-pura tidak ada masalah setelah mengetahui bahwa si kenek Metro Mini ternyata sahabatnya pas SD. Ia lalu memilih untuk mengaku meski beresiko sahabatnya jadi benci karena ia sudah menjadi Bencong. Meskipun mendapat penolakan keras, pada akhirnya sahabatnya bisa menerima dan malah membuat si bencong jadi insyaf. Mereka berdua menikah.

Perbedaan Karya Kreatif dan Bukan
Apa sih yang membedakan novel dengan skripsi? Atau puisi dengan tulisan di koran? Jelas sekali bahwa jawabannya adalah kenikmatan. Membaca karya kreatif akan menimbulkan ‘efek gemes’ sendiri bagi kita. Kalau kata Ayu Utami dalam buku ini, “Membuat cerita adalah menyusun informasi sedemikan rupa sehingga ada kenikmatan bagi pembaca.” Nah, sekarang bagaimana cara memunculkan kenikmatan dalam sebuah tulisan? Ada tiga unsur yang berkaitan dengan kenikmatan: 1) Keindahan (bisa didapatkan dari gaya bahasa), 2) Ketegangan (didapat dari konflik dalam cerita), 3) Keseimbangan/Proporsi yang pas.

Fokus:
Setelah memiliki bahan untuk membuat tulisan dan mengetahui perbedaan karya kreatif dan bukan, sekarang masuk ke poin yang cukup penting: fokus. Seorang penulis seringkali terlalu bersemangat sehingga berniat menceritakan kehidupan tokoh dalam rentang waktu yang panjang. Contoh dalam tulisan Bencong Insyaf: menulis diawali dari Bencong berangkat dari rumah – mangkal sampai malam – ketabrak bus – PDKT sama sahabat selama tiga bulan – mencari restu orangtua sahabat – menikah. Hal ini bukan tidak mungkin, tetapi tulisan akan rentan untuk tidak selesai.

Jadi, fokuslah pada satu peristiwa, satu waktu, dan satu lokasi utama terlebih dahulu. Ini dilakukan untuk memudahkan penulis dalam mengembangkan potensi yang tersimpan pada peristiwa, waktu, dan lokasi itu secara lebih maksimal.

--
Mungkin segitu aja kali ya. Lumayan lah. Selanjutnya tinggal bagian penulisan dan pasca-penulisan. Sekali lagi, yang menarik dari buku ini adalah, di situ gak cuman menjelaskan tentang bagaimana menulis kreatif, tapi berpikir kreatif. Meskipun bahasanya rada bikin bingung kalo otaknya gak nyampe kayak gue. Huehehe.

Eh, udah lebaran ya?
Minal aidin dulu dong! \(w)/
Suka post ini? Bagikan ke:

Thursday, July 16, 2015

Ssst.. Jangan Kasih Tahu

Ssst.. jangan kasih tahu Deva tentang tulisan ini.

Jangan kasih tahu dia, kalau, ada sisa senyumnya di gelas kopi yang baru saja gue habiskan. Jangan kasih tahu dia, kalau, jaringan telepon yang menyebalkan itu, yang selalu bikin kita berdua teriak-teriak heboh, yang selalu bikin dia cemberut, membuat gue kehabisan akal.

Jangan kasih tahu dia, tentang aromanya yang tertinggal di belakang bantal. Jangan kasih tahu dia, kalau, di atas bantal itu, ada kepala gue yang sering memutar pikiran-pikiran yang terlalu jauh. Tentang tempat tinggal kita nanti, tentang apa yang akan kita kerjakan di masa depan. Tentang siapa, yang menentukan warna cat kamar kita. Tentang bekas sepatu di ruang tamu, dan kamu yang marah-marah dan menyuruh aku untuk segera memasukkannya ke dalam rak di luar. Tentang semua khayalan kekanak-kanakan ini.

Jangan kasih tahu dia kalau selalu ada kantuk yang dikorbankan untuk memikirkan itu semua. Jangan kasih tahu dia kalau gue, senang melihatnya tertawa. Senang melihatnya manyun. Senang melihat matanya yang bulat, yang bersinar setiap dia membicarakan hal-hal tertentu.

Jangan kasih tahu dia kalau selalu ada senyum yang terkembang, bersamaan dengan chat yang masuk darinya. Selalu ada pipi yang merona setiap namanya muncul di layar handphone.

Jangan kasih tahu dia kalau gue, terus, dan akan terus, bahagia untuk menjadi tempatnya menumpahkan perasaannya.

Jangan kasih tahu dia kalau sesungguhnya, di balik semua keseriusan ini, jauh di dalam hati, tersembunyi sebuah keraguan. Apakah kita akan terus bersama-sama? Apakah kita, yang saling menguatkan ini, memang berjodoh satu sama lainnya?

Jangan kasih tahu dia, bahwa di malam kemenangan ini, di tengah lantunan takbir yang berkumandang, ada sebuah perasaan yang melayang. Berusaha menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang terus saja muncul. Sampai di satu titik, gue menyadari, bahwa gue sudah terlalu jauh tenggelam di dalamnya.

Terus terang, gue senang berada di tengah kesamar-samaran ini. Di antara ketidakpastian masa depan kita. Di dalam selipan doa yang selalu kita panjatkan. Di antara kabut yang semakin kita selami, justru membawa kita kepada kabut yang lebih tebal. Gue senang melewati ini bersama-sama. Melalui petualangan ini. Perjalanan, yang entah di mana akhirnya.

Ssst… jangan kasih tahu Deva tentang tulisan ini,
karena gue yang akan kasih tahu duluan.
Suka post ini? Bagikan ke:

Wednesday, July 15, 2015

Don't Try This At... Restoran Pizza

Buat yang udah baca postingan ini, pasti tahu kalau gue selalu pengin nyoba make nama yang keren. Dan mantapnya, gue melihat peluang terwujudnya kejadian itu.

Pertama kali gue tahu perihal pamer-pameran nama ini adalah dari kaskus. Waktu itu, di salah satu thread, gue ngebaca orang yang ngasal kasih nama ketika mesen di Domino Pizza. Domino Pizza, sama kayak Pizza Hut, adalah toko jualan pizza (Dari namanya udah Domino Pizza, bukan Domino Lemper). Bedanya adalah, di Domino, setiap ada orang yang mesen, dia meminta nama kita untuk kemudian dicatat dan ditampilkan pada layar monitor besar di atas kasir. Mirip-mirip kalau kita mesen minum di Starbucks deh.

Begonya, si Domino ini selalu percaya-percaya aja sama nama yang kita kasih.

Di thread kaskus yang gue baca, gue bahkan ngeliat pemesan yang bernama “Son Goku”. Gila, Son Goku mesen pizza. Ini jelas keajaiban dunia! Gue adalah salah satu penggemar berat film Dragon Ball. Kalau gue yang jadi kasir, udah pasti bakal canggung setengah mati..

Gue: Atas nama siapa, Mas?
Pembeli: Saya Son Goku, Mas.
Gue: Baik. Ditunggu pesanannya ya, MAS SON GOKU.

Sejak kapan Son Goku jualan cendol? Kok jadi mas-mas? Ngelihat kenyataan di atas, gue memiliki dua kemungkinan kesimpulan: 1) Itu emang nama asli dia. Orangtuanya aja yang terlalu tega. (Sengefans-ngefansnya gue sama film kartun, gue tetep gak mau ngasih nama anak gue dengan Upin, takut ketuker sama Upil), atau 2) Kasirnya emang males mikir.

Karena kesimpulannya lebih asik yang kedua, maka petualangan gue untuk nyoba make nama keren pun dimulai.

Kesempatan pertama berhasil gue lalui dengan cihuy. Dengan tampang datar, gue mengaku bernama ‘Hans’. Dan seperti yang gue duga, mbak-mbaknya dengan polos nulis nama Hans di layar monitor. Sewaktu dipanggil, tingkat kemachoan gue meningkat 200%.

Pada percobaan kedua, gue mulai lebih berani. Sambil mengantri, gue mencari nama yang lebih ‘laki’. Hmm.. siapa ya? Diego? Ah, terlalu petualang. Ivan Gunawan? Kurang. Ah, apa yang ekstrem sekalian? Son Goku aja bisa, masa gue enggak? Lalu sempet kepikiran buat mengaku kalau gue… Perampok. Nggak kebayang serunya ngeliat tampang mbak-mbaknya yang panik..

Kasir: Atas nama siapa, Mas?
Gue: Saya Perampok!!
Kasir: Maaf, atas nama siapa?
Gue: DIAM KAMU! SAYA PERAMPOOOOK!!!
Kasir: Oke, dengan Bapak Perampok, ya.
Gue: …

Berhubung gak mau berakhir dengan terlalu aneh, akhirnya di percobaan kedua ini gue pura-pura bernama ‘Joe’. Agak beda di yang pertama, kali ini mbak-mbaknya minta nomor handphone. Gue mikir positif aja, mungkin nomor gue mau diisiin pulsa, jadi gue kasih dengan jujur. Lima belas menit berselang, mbaknya manggil ‘Joe’. Gue maju. Orang-orang ngeliatin. Tingkat kemachoan meningkat 250%.

Terus-terusan berhasil menipu mbak-mbak Domino membuat gue semakin buas. Emang bener kata orang-orang, satu kebohongan akan diikuti kebohongan lain. Sebenernya gue agak gak tega karena tiap nyebutin nama yang keren-keren, tampang mbaknya langsung mengerut. Mungkin di dalam hati dia berpikir, ‘Joe? Hah? Maksud lo Bejoe?’

Sampai beberapa bulan yang lalu, petaka itu muncul.

Ketika itu di Bogor, gue lagi nongkrong bareng temen kuliah. Karena pada gak tahu kalau mbak-mbak Domino pasrah-pasrah, gue merencanakan ide brilian. Gue pengin mesen dengan nama keren, ngebiarin temen-temen gue gak nemuin nama asli gue di layar monitor, lalu maju pas nama palsu gue dipanggil. Gue nyari-nyari nama yang keren. Kali ini pengin agak Eropa Timur. Aha, Hendrikssen. Pas. Gue ketawa-tiwi sendiri ngebayangin ekspresi temen-temen pas Hendrikssen dipanggil terus gue yang maju ambil pesenan.

‘Gue mesen dulu ya,’ kata gue sambil cengar-cengir mesum.

Sesampainya di depan kasir, bencana itu dimulai..

Kasir: Atas nama siapa?
Gue: Hendrikssen!
Kasir: Hmm. Hen Chicken?
Gue: (shock karena nama gue disamain sama ayam) Hendrikssen, mbak.
Kasir: (manggut-manggut) Oooh... Sony Ericsson?
Gue: HENDRIKSSEN! H-E-N-D-R-I-K-S-S-E-N!!
Kasir: Hendrikssen?
Gue: (senyum najong) Nah, Betul!
Kasir: Oh, oke. Boleh minta nomor hapenya?
Gue: Boleh. 085717858XXX.

Mbaknya ngetik bentar, kemudian kembali menatap gue..

Kasir: Mas, kok nomor hape ini terdaftar dengan nama ‘Joe’ ya?
Gue: (pengin jantungan, lupa kalo dulu sempet daftarin nomor hape) Hah? Gimana, mbak?
Kasir: Mas ini sebetulnya Hendrikssen apa Joe?
Gue: (mikir keras) Ya… Umm.. Saya sebenernya Sony Ericsson, mbak.

Mungkin capek ngeladenin gue, mbak-mbaknya akhirnya ngebikin pesenan gue dengan nama Joe, sesuai dengan yang terdaftar di nomor hape.

Kejadian tragis tersebut telah lama gue lupakan… sampai kemarin gue iseng mampir ke Domino baru di deket rumah. Gue udah kapok. Adi juga keren, batin gue. Sayangnya, gue lupa kalau nomor hape gue bukan terdaftar sebagai Adi, melainkan Joe. Alhasil, di tengah-tengah mengeja nomor hape, gue ngeganti satu nomor di ujungnya. ‘08571785810… Ummm.. 101, mbak,’ kata gue, ragu. Gue udah gemeter aja, takutnya di dunia udah ada yang daftarin nomor itu dengan nama lain.

Beberapa saat setelah ngetik, mbaknya ngeliat ke layar komputer. Gue keringet dingin. Dia ngebuka mulutnya, lalu bilang, ‘Atas nama Adit, ya? Di Pamulang?’ yang langsung gue sambar, ‘IYA MBAK, ADIT! KAN TADI SAYA BILANG ADIT?! ADITT MBAK, BUKAN ADI!!’

Entah di mana pun Adit berada.
Untung nama kita mirip.
Suka post ini? Bagikan ke:

Saturday, July 11, 2015

@keribakeribo

Selain bikin lega, hal paling asyik dalam menulis di internet adalah kedekatan antara penulis dan pembacanya. Inilah enaknya menjadi blogger. Komunikasi antara gue dan teman-teman yang main ke sini, hanya dipisahkan oleh kata-kata yang gue bikin. Kedekatan kita, hanya setipis huruf yang kalian baca.

Itulah mengapa gue selalu mengusahakan untuk sering membuat tulisan baru.

Karena,
gue ingin selalu merasa dekat dengan kalian.

Walaupun blog ini gak rame-rame amat, terus terang, gue senang menjaga kedekatan ini.

Terlebih lagi, karena blog ini isinya sangat personal, jadi, secara tidak langsung, kalian juga lah yang paling tahu kondisi gue. Kapan gue jadi orang yang sinting, kapan gue jatuh cinta, kapan gue patah hati.

Lalu pertanyaan itu muncul:
Bagaimana kalau semakin lama nanti, gue semakin jarang update?

Salah satu masalah terbesar bagi blogger adalah waktu. Untuk membuat sebuah postingan, paling tidak gue harus menghabiskan satu sampai dua jam di depan laptop. Bahkan bisa lebih. Kalau kata Pungky, demi sebuah blog post, seorang blogger rela ngelakuin hal-hal kayak gini. Terus gimana kalau gue lagi gak bawa laptop? Gue pribadi lebih enjoy menulis postingan dengan laptop dibanding hape. Itu juga menjadi masalah tersendiri buat gue. Menulis panjang di hape ngebikin jempol gue rasanya pengin patah. Belum lagi harus meriksa typo.

Sampai, beberapa minggu yang lalu,
gue menemukan solusinya.

Gue kepikiran untuk membuat sebuah social app account untuk blog ini. Supaya kita bisa sama-sama ngobrol dengan lebih intim. Karena ada di hape, gue bisa lebih sering ngecek dan main-main bersama kalian. Di samping itu, kita bisa lebih dekat secara personal. Yes, di sana kalian bebas mau ngapain aja. Bisa ngomongin blog, ngegosip bareng, atau malah cerita keseharian biasa.

Lalu muncul pertanyaan selanjutnya: Social app yang mana?

Karena gue gak pake BBM, otomatis BBM dicoret dalam daftar aplikasi. Whats app juga jarang. Gue juga bingung kalau harus mencampur nomor pribadi dengan blog ini, nanti malah ribet. Akhirnya pilihan jatuh ke LINE  (karena kalo Mig33 kalian pasti pada gak pake).

Yak, gue baru banget bikin official LINE untuk blog ini. Kalian bisa cari dengan id “@keribakeribo” (simbol ‘@’-nya ditulis juga), lalu tinggal di add deh kayak biasa.

Sooo, yuk ramaikan. Gue udah gak sabar nih pengin main bareng sama kalian! \(w)/


Suka post ini? Bagikan ke:

Tuesday, July 7, 2015

Nama

Gue menyadari stresnya menjadi orangtua sewaktu nyokap masuk ke kamar dan langsung menyiratkan ekspresi makhluk-apakah-yang-telah-bersarang-di-tempat-ini?. Akhir-akhir ini rutinitas ngebikin gue gak sempet buat beresin kamar. Kabel-kabel berserakan. Guling udah mental ke mana tahu. Selimut ama sprei juga lepas gak beraturan. Mengingat bahwa “Kebersihan sebagian dari iman”, mungkin kamar gue udah murtad.

Ngeliat ekspresi nyokap, gue jadi sadar bahwa menjadi orangtua bukan hanya persoalan menjadi dewasa.
Tapi juga bikin mencret kepala.

Setelah gue pikir-pikir, menjadi orangtua emang bisa bikin kepala kita diare. Beberapa bulan setelah menikah, mungkin kita masih bisa hepi-hepi… sampai istri kita siap brojol dan kita bakal mengubah status menjadi orangtua. Gue udah serem ngebayangin istri gue bakal ngidam yang aneh-aneh. Gue jadi inget kalau dulu ada gosip yang bilang Raffi Ahmad hampir stres gara-gara istrinya ngidam makan mie yang dibeli di Singapura. Mie. Dari. Singapura. Edan gak? Mo makan mie aja ribetnya minta ampun. Mengingat segala hal buruk bisa terjadi, gue harus nyiapin tisu dan klorofom buat Deva dari sekarang.

Menjelang kelahiran, kepala kita bakal semakin pendarahan. Dengan semakin gedenya perut si istri, berarti kita gak bakal bisa ngapa-ngapain. Literally. Mau ditinggal pergi, kita khawatir tahu-tahu si istri kebelet boker… lalu yang tumpah malah anak kita. Itu jelas sangat merepotkan. Mau dinamain siapa anak kita kalau lahirnya gitu? PJ? Pala Jamban?

Momen paling krusial bagi orangtua adalah sesaat sebelum si anak lahir. Momen itu bernama Yuk-Kita-Cari-Nama-Buat-Anak-Kita. Yang membuat ini semua tidak mudah adalah, pemberian nama anak gak boleh asal. (Kita gak bisa begitu susternya nanya, ‘Siapa nama anaknya?’ Lalu kita jawab, ‘Hmm.. siapa ya? Oe, deh, Sus. Soalnya pas dipanggil dia nyaut Oeeek.. Oeeek.. gitu’). Ingat, berikan nama anak Anda selayaknya manusia, jangan kayak ngasih nama hewan piaraan. Kriteria nama anak yang baik gue rangkum di bawah:

Satu. Jangan diawali dengan huruf A. Atau anak Anda akan punya nomor absen awal, yang berarti kalo UAN duduknya deket pengawas.

Dua. Jangan kasih nama terlalu panjang. Nanti buletin lembar jawaban UAN-nya kelamaan.

Tiga. Jangan menggunakan huruf awalan Z. Nanti pas wisuda pulangnya terakhir.

Empat. Jangan memilih nama yang sudah ‘terlabeli’ suatu iklan. Contoh: Afika. Sewaktu remaja nanti, si Afika bakal dipanggil oleh seniornya. ‘Afikaaa!’ Lalu dijawab, ‘Iya kenapa?’ Kemudian si senior kesel dan bilang, “Lo harusnya jawab ‘IYAAAAA!’ Lo gak tahu iklan jaman dulu apa? Dasar gak asik.”

Lima. Berilah nama yang unik. Karena kalau pasaran, kasian anak Anda. Sewaktu di kelas, pas guru absen teriak, “Ani!” lalu sekelas bales teriak, “Ani yang mana, Bu?!”

Enam. Berikan nama yang sederhana. Namun, jangan terlalu sederhana. Seperti misalnya Si No 1, Si No 2, Si No. 17. Ingat, selain tidak urut, mereka anak Anda, bukan manusia buatan di Dragon Ball.

Tujuh. Jangan terlalu kreatif dalam memberikan nama anak. Contoh: menamai anak dengan nama 'Adalah'. Karena nanti akan terjadi dialog canggung seperti ini:

Temen: Anak lo namanya siapa?
Kamu: Dia Adalah.
Temen: (Nunggu sampe kiamat)

Kenapa gue bisa tahu? Kenapa gue sangat mengerti akan perasaan anak-anak tersebut? Kenapa kita kalo ngopi jadi gak ngantuk? Yak betul, karena kafein.

Nama lengkap gue Dwi Hatmojo Kresnoadi. Dan nyokap sudah melanggar peraturan baku membuat nama anak nomor dua. Nama gue terdiri dari 21 huruf, dan kalian tahu kenapa gue sebel? Karena lingkaran nama di lembar jawaban UAN ada 20! Bangkai memang. Ini yang biasa terjadi sewaktu UAN: sadar memiliki nama yang panjang, gue buru-buru menghitamkan kolom nama. D-W-I-H-A-T… lalu bengong pas buletannya abis di huruf D terakhir. Kurang huruf I. Hari-hari gue selama UAN selalu diawali dengan ngapus buletan di kolom nama.

Tidak hanya itu, bokap dan nyokap juga telah melanggar aturan ke empat. Zaman dulu, ada sebuah iklan fenomenal yang menggunakan nama ‘Adi’ sebagai modelnya. Iklan tersebut adalah iklan… epilepsi. Terima kasih Indonesia. Engkau telah menyuruh seluruh senior memanggilku dengan ‘Ayo, Di, kita main bola lagi.’ yang selalu gue balas dengan, ‘Bentar ya, lagi ayan dulu nih dikit.’

Masalah lain muncul dari nama depan. Punya nama depan ‘Dwi’ membuat gue sewaktu SD dipanggil dengan nama itu. Dan nyokap gak pernah sadar berapa banyak manusia di dunia ini yang memiliki nama Dwi. Jadilah setiap absen, sewaktu wali kelas nanya, ‘Dwi ada?’ seisi kelas menjawab, ‘Dwi yang mana, Bu?’ yang akan dijawab kembali dengan, ‘Dwi Hatmojo..’ yang kemudian gue sanggah, ‘Oh, itu saya. Panggilannya Adi, Bu.’ yang akan disanggah kembali dengan, ‘Oh Adi. Ayo, Di, kita main bola lagi.’ yang kemudian gue sanggah lagi dengan, ‘Bentar ya, lagi ayan dulu nih dkit’ sambil nyambit wali kelas pake kotak pensil.

Mempunyai nama yang sering bermasalah mencuatkan ide tersendiri di kepala gue. Sewaktu SMP, gue membuat nama panggilan versi keren untuk gue sendiri. Selayaknya Samidjan yang mempopulerkan namanya dengan Ian Kasela, Hatmojo kecil memaksa teman-temannya untuk memanggilnya dengan nama Jojo. Keren abis. Sampai temen gue di tempat les bilang kalau monyet musuhnya The Powerpuff Girls punya nama yang sama. Gak mau disama-samain kayak monyet, nama itu pun sirna dalam dua hari.

Gagal dengan nama Jojo tidak membuat gue menyerah begitu saja. Sampai sekarang, setiap kali kenalan dengan orang baru, gue selalu mengaku bernama Johan. Buat gue nama Johan itu keren banget. Kombinasi dari Joe dan Hans. Kurang macho apa lagi? Meskipun setiap kali mesen Domino Pizza dengan nama itu, mbak-mbaknya selalu bertanya, ‘Adek abis minum vodka ya?’

Gue terkadang iri dengan orang yang punya nama panggilan tidak harus sama dengan nama lengkapnya. Seperti kebanyakan Annisa yang dipanggil Icha. Atau salah seorang teman bernama Andika yang dipanggil Ando. Atau orang-orang superpede yang menambahkan kalimat motivasi pada namanya. Ega, misalnya. Bisa mengubah namanya menjadi lebih yahut dengan Eganteng. Tapi mau gimana lagi. Sekarang, Kresnoadi telah menguasai jagat dunia ini. Gue udah males mikirin nama-nama yang keren. Harapan gue hanya satu: sewaktu keluar negeri, pas kenalan sama bule-bule sana, mereka tidak memanggil gue dengan sebutan Adick. A dick. (atau dalam bahasa yang lebih sederhana adalah: Seonggok titit). 
Suka post ini? Bagikan ke:

Thursday, July 2, 2015

Hal-Hal Yang Ada Di Dunia Ini Dan Gue Gak Tahu Kenapa Mereka Ada

Satu. Syal. Gue masih gak ngerti kenapa ada benda bernama syal di dunia ini. Syal, sebagaimana yang kita tahu, berfungsi untuk menghangatkan leher. Yak, menghanngatkan. Sama kayak sarung tangan, tapi di leher. Apa sih yang mencetuskan orang zaman dulu buat bikin benda beginian? Emangnya ada orang yang lehernya kedingingan? Lagi naik gunung, tiba-tiba jerit sambil megangin leher, ‘JAKUN GUE BEKU!! HEEELP MEE!!’

Apa biar keren? Supaya lehernya lebih fashionable? Tapi gue sendiri gak ngeliat hal yang menarik dari seseorang yang memakai syal. Leher panjang diiket-iiket udah kayak lontong.

Gue pernah sekali waktu nyoba make syal. Dan gak cocok. Aneh aja. Ngelilitin kain tipis di leher rasanya kayak ada orang cemen yang berusaha nyekek gue sepanjang hari.

Berdasarkan semua analisis gue di atas, satu-satunya kemungkinan penemu syal adalah pembunuh berdarah dingin. Fungsi syal sebagai benda penghangat leher pasti cuman akal bulus semata. Hmm ya. Pasti dia. Ini semua mulai terlihat.

Jadi, zaman dulu, ketika si pembunuh ingin menghabisi korbannya, dia bawa syal dan bilang, ‘Gue punya benda keren nih buat hangatin leher lo.’ Lalu ketika si korban udah melilitkan syalnya, HENGH! Si pembunuh narik ujung-ujung syal sampe korbannya mati keabisan napas.

Dua.  Stiker motor. Sama kayak syal, gue masih bingung kenapa ada orang kurang kerjaan yang menemukan ide buat bikin beginian DAN NGEJUALNYA DAN ADA ORANG KURANG KERJAAN LAIN YANG BELI. Udah gila kali ya orang zaman dulu? Gue rasa terciptanya benda ini menandakan bahwa orang Indonesia sangat haus akan perhatian. Udah capek-capek beli, malah ditaruh di spakbor yang mana kita JELAS-JELAS KAGAK BAKAL BISA NGEBACA. Ini kan sama aja kita beli AC, terus ditempel di tembok garasi rumah.

Kalo gue sih jelas gak bakal mau rugi. Kalo sampe gue beli stiker motor, udah pasti bakal gue tempel di kaca spion. Daripada cari tulisan yang aneh-aneh, gue bakal pilih yang simpel, padat, dan menguntungkan diri sendiri. Jadi setiap mau ngeliat orang belakang lewat spion, gue bakal senyum-senyum ngebaca, “Ganteng.. Iya Kamu Ganteng..”

Abisnya gimana. Kebanyakan tulisan stiker motor aneh-aneh dan terkesan mengadu domba. Gue pernah baca salah satu stiker motor tulisannya: “NYALIP KIRI GEROBAK, NYALIP KANAN TRUK SAMPAH”. Di tengah kemacetan Ibukota, lagi buru-buru, gue malah gak boleh nyalip karena yang boleh cuman GEROBAK SAMA TRUK SAMPAH. Terus gue harus gimana? Gue sundul aja pantat motornya biar hancur sekalian? Lagian, GEROBAK MACAM APA YANG BISA NYALIP MOTOOOR!!! Motor jelas-jelas bisa ngebut. Gerobak? Paling mentok-mentok 2 meter per jam.



Tapi dari segala jenis stiker motor, yang paling banyak gue temukan di jalanan adalah stiker motor dengan tulisan “MOTOR AING KUMAHA AING” (Artinya: Motor gue terserah gue) yang mana tiap gue baca tulisan ini bawaannya pengin ngelindes kaki yang punya. Gimana gak kesel? Gue lagi santai ngeliatin pantat motor di depan, eeh dia malah ngamuk-ngamuk bilang, ‘Motor gue terserah gue’. Lha gue kan gak ngomong apa-apa? Emang sih, pantat itu sensitif. Gue juga kalo ada orang yang ngeliatin pantat gue pasti ngerasa geli-geli gimana gitu. Tapi gak pernah tuh sampe gue balas dengan sombong bilang, ‘Badan badan gue, terserah gue!’ (takutnya pas ngomong gitu si orang malah mikir kalo badan gue terdiri dari dua gumpalan dan mampu mengeluarkan bau busuk).

Tiga. Yoga. Buat yang belum tahu, yoga adalah metode menenangkan diri dengan cara NGELIPET BADAN AMPE BEGO. Ini salah satu contohnya:



Dari gambar itu gue hanya punya satu pertanyaan: GIMANA BISA TENANG KALO BADAN GUE DIGITUIIN!! Daripada yoga, mending kasih gue duit 2 Milyar dan gue bakal tenang selamanya.

Orang sinting macam apa yang kepikiran buat menenangkan diri sampai ngebikin badannya kayak gitu? Sestres-stresnya ngerjain ulangan, gue tetep gak bakal mau buat sikap lilin di atas meja.

Setelah gue pelajari, ternyata yoga berasal dari kata ‘penyatuan’. Yang berarti kita harus bisa menyatukan apa yang ada di pikiran dan di badan kita. Mungkin tiga detik setelah kayang, pikiran gue bakal bilang, ‘Oke badan. Cukup. Akhiri semua ini. Pegel.’ Lalu badan gue akan menjawab, ‘Baiklah, Pikiran. Kita sudahi saja. Tapi bentar, INI GIMANA CARA BANGUNNYA YA!’

Perkenalan gue dengan yoga pertama kali adalah ketika gue lagi jalan pulang dari kompleks sebelah. Gue melihat spanduk di rumah orang bertuliskan: “BERYOGALAH KARENA YOGA AKAN MEMBANTU PEKERJAANMU!”

Waktu itu gue percaya-percaya aja. Keluguan gue hampir membawa gue pada kegelapan. Setelah sekarang gue palajari, tulisan itu hanyalah trik murahan semata. Mana bisa yoga membantu pekerjaan? Ngebantu seseorang biar dapet kerja aja gak bakal bisa. Gak bakal ada orang pas interview kerja ditanya, ‘Apa kelebihan kamu?’ Lalu si orang itu menjawab, ‘Saya bisa ini, Pak.’ Kemudian dia berdiri di depan interviewer… lalu roll belakang dua kali.

Empat. D’ Terong Show.
Kenapa harus terong sih?

Kenapa?
Suka post ini? Bagikan ke: