Friday, June 26, 2015

Senpai Kresnoadi

Mumpung lagi ada waktu senggang, Senpai Kresnoadi datang untuk membuat dunia menjadi lebih buruk. Dimulai dari yang komentar di postingan perlawanan ya:

febridwicahya June 18, 2015 at 9:45 AM
Kampret kampret, baca tulisan lo bikin pengen ngumpat-ngumpat gimana gitu bang :D parah ini :D titit si tirs kusut pula :D wkwkw

Ah, kece lo bang. Badan lo segitu gimana caranya? gue pengen punya badan yang begitu :(

Tanggapan Senpai:
Hmmm pertanyaan yang sangat menarik. Mungkin pertanyaan ini maksudnya ‘Bagaimana caranya punya badan macho dan atletis seperti gue”. Ya ya ya tentu gue akan menjawabnya. Namun satu yang harus kalian ingat, peganglah pesan ini sendirian. Mungkin setelah membaca ini, kalian, para cowok-cowok tambun, bakal jadi gila kesenengan.  Kalian bakal heboh karena tahu tips ini begitu mudah dan perut kalian tidak akan buncit lagi. Reaksi lain yang mungkin terjadi: ngaduk-ngaduk sampah milik tetangga (namanya juga gila).

Tips memiliki badan macho dan atletis: Serahkan makanan kalian ke gue. SERAHKAN SEBELUM IMSAAK CEPAAAAT?!!

Lalu ada pertanyaan lain yang bikin hati gue terhenyak. Mata gue melotot dan darah gue berdesir. Inilah pertanyaan tersebut:

Yoga Akbar Sholihin June 18, 2015 at 3:17 PM
Bener, kata temen-temen lu, Di. Itu di foto lu cantik. Nggak mencoba untuk hijab? :/

Tanggapan Senpai:
HIJAB? HIJAAB??? PERTANYAAN MACAM APA INI!! KENAPA GUE BARU KEPIKIRAAAAAN?! Baiklah. Tanpa perlu berlama-lama, berikut prosesi pemakaian hijab a la Senpai Kresnoadi:


Proses pertama

Lepaskan topi

Tampilkan kumis seksi Anda


Senpai Kresnoadi undur diri. 
Selamat pagi.
Suka post ini? Bagikan ke:

Sunday, June 21, 2015

Ramadan Zaman Dulu

Bener gak sih, semakin seseorang bertambah tua,
semakin hidupnya jadi gak seru lagi?

Semakin manusia bertumbuh, semakin kita sulit untuk dikejutkan. Antisipasi, pencegahan, pengalaman, mau tidak mau membuat manusia membatasi tingkah laku dan pilihan-pilihan dalam hidupnya. Secara tidak sadar, kita jadi mempersempit ruang hidup kita sebagai individu. Bahkan, lebih jauh lagi, semakin seseorang dewasa, kita jadi tahu akibat dari pilihan yang kita ambil. Hasilnya, hidup terasa lebih datar dan flat.

Sewaktu SD, hari-hari seperti tahun baru dan 17 Agustus selalu terasa spesial buat gue. Satu minggu sebelum tahun baru, gue selalu memaksa bokap membelikan terompet di depan kompleks. Menyalakan kembang api sambil lari-larian bersama teman selalu terasa menyenangkan buat gue. Begitu pula dengan 17 Agustusan. Gue selalu antusias untuk ikut lomba makan kerupuk dan balapan kelereng pakai sendok. Mendapat hadiah chiki dan permen cokelat selalu membuat senyum gue terkembang puas.

Sekarang, euforia-euforia tahunan seperti tahun baru dan 17 Agustus menjadi hal yang biasa saja buat gue. Gue sudah hafal, bahwa setiap tahun baru, di kompleks rumah gue akan mengadakan acara camping di taman kompleks. Sambil menunggu pergantian tahun, kami sama-sama  akan bakar-bakaran  sambil main petasan. Hal yang sama juga terasa pada 17 Agustus. Selalu mengadakan lomba yang itu-itu lagi, membuat panggung untuk bernyanyi yang sama-sama saja.

Gue sudah tidak terkejut dengan hal-hal seperti itu.
Termasuk Ramadan kali ini.

Terus terang, Ramadan kali ini terasa biasa aja buat gue. Perasaan euforia itu hanya gue rasakan saat tarawih pertama kemarin. Selebihnya, semuanya berjalan seperti rutinitas yang gitu-gitu aja. Bangun, sahur, beraktivitas, buka puasa, tarawih.

Ketika tarawih kemarin, ada satu kejadian lucu yang membuat gue buru-buru pengin bikin tulisan ini. Jadi, di tengah-tengah tarawih, lewat satu anak kecil laki-laki yang dari caranya jalan kayak baru belajar jalan. Dia melintas persis di depan gue ke kanan, lalu, beberapa detik kemudian dia kembali ke kiri… sambil nenteng kotak amal. Bayangkan, di tengah-tengah orang solat, ada bocah bawa-bawa kotak amal gede keluar masjid! Dan, gak ada satu orang pun yang ngerepons!

Selesai tarawih, gue ngomong ke Nurul, ‘Rul, gila kali ya tuh bocah. Maling juga gak bakal kepikiran buat nyolong kotak amal pas orang-orang solat.’

Nurul cuman ngerespons pendek, ‘Iya, rusaknya sama kayak lo jaman dulu, nyet.’

Gue, di tengah-tengah pikiran buat merencanakan punya 10 anak yang bakal gue sebar ke masjid-masjid setiap jumatan, langsung diem denger omongan Nurul. ‘Emang gue segitunya ya?’

‘Enggak sih,’ jawab Nurul. ‘Parahan lo.’

Gue langsung inget-inget Ramadan zaman dulu. Gue pernah ngelempar petasan korek ke saf ibu-ibu. Ternyata gue emang lebih berandal.

Gara-gara itu, gue jadi keingetan beberapa kejadian yang bikin gue kangen sama Ramadan zaman dulu. Berikut gue coba daftarkan:

Satu. Gue kangen belajar bikin model slepetan sarung sama temen-temen. Zaman dulu, setiap kali main selepetan sarung, gue selalu yang paling cupu. Teman-teman bisa bikin slepetan dengan bunyi amat kencang “PLETAK!” sampai seringkali dimarahin penjaga masjid. Sementara gue, sewaktu ngibasin sarung, malah cuman keluar bunyi angin, ‘Wuushh!’  Bukannya takut, orang-orang malah keasikan kena angin.

Dua. Gue kangen main sepeda setelah subuhan. Entah kenapa, beda sama orang-orang lain, gue selalu suka main sepeda pagi-pagi sewaktu puasa. Beruntungnya, temen gue zaman dulu sama sedengnya. Jadi, selepas solat subuh di masjid, kita semua muterin kompleks pakai sepeda… nyari rumah yang belnya keliatan di luar. Kami selalu suka perasaan berdebar sewaktu kabur sehabis mencet bel rumah orang.

Tiga. Gue kangen main tak benteng di lapangan masjid kompleks. Buat yang gak tahu, permainan tak benteng adalah mainan di mana kita harus dulu-duluan menyentuh benteng lawan. Gue masih ingat masa-masa di mana gue harus muterin satu taman gede demi sembunyi dari musuh buat nyentuh benteng dia.

Empat. Gue kangen nemenin beli petasan. Sewaktu dulu, gue paling gak berani nyalain petasan. Gue hanya seneng ngeliat temen-temen rusuh saling lempar petasan korek. Gue adalah satu-satunya anak yang memegang senjata selain petasan: mulut. Yak betul, begitu yang lain sibuk main petasan, gue sibuk jerit-jerit kabur ngindarin petasan. Sampai pada akhirnya, temen gue ngajarin gue supaya berani megang petasan. Dan target petasan korek pertama gue... saf ibu-ibu di belakang masjid.

Lima. Gue kangen buru-buru kembali ke masjid sebelum ceramah berakhir. Sehabis main di lapangan masjid, gue harus nyari tahu nama imam tarawih dan penceramahnya. Mengisi buku harian Ramadan dengan tergesa-gesa. Terkadang, supaya bukunya terkesan penuh, tulisan satu paragraf gue buat panjang dengan NGEGEDEIN FONT tulisan dan jarak antar hurufnya gue renggangin.

Enam. Gue kangen bercerita tentang Ramadan kepada teman-teman kelas begitu hari libur telah usai. Biasanya, di kelas, kami bertukar buku Ramadan. Ribut membangga-banggakan masjid mana yang duluan selesai tarawihnya. Lalu, menceritakan kejadian-kejadian heboh sepanjang Ramadan di kompleks rumah masing-masing.

Tujuh. Gue kangen jam lima sore pada Ramadan zaman dulu. Jam lima pada masa itu adalah masa-masa gue merasa sangat heroik. Biasanya, di jam lima sore gue akan berdebat dengan nyokap perihal makanan berbuka. Setelah saling beradu pendapat, gue langsung mengambil sepeda dari garasi dan pergi ke depan kompleks buat beli es buah favorit.

Delapan. Gue kangen macam-macam hidangan di meja makan. Ramadan zaman dulu adalah masa di mana ruang makan gue terasa seperti ruang makan sesungguhnya. Berkumpul bersama keluarga, dengan pilihan makanan yang segar-segar. Nyokap yang keluar dari dapur, membawa empat gelas sirup, dengan bunyi es yang berdenting terkena pinggiran gelas. Abang gue, yang selalu tidak mau rugi, langsung mengambil piring dan menyantap makanan berat. Gue, yang malas langsung makan nasi, biasanya malah sibuk duduk di samping telepon rumah, sesekali mengintip keluar jendela, menunggu ajakan ke masjid dari teman-teman.

Sembilan. Gue kangen bantuin temen buat ribut sama anak alay dari kampung sebelah. Gue masih inget tampangnya: rambut mohawk dengan celana jeans yang ketat di atas mata kaki. Karena waktu itu lagi zaman smack down, kami semua menyebutnya dengan si Randy Orton. Gue gak tahu kenapa kami manggil dia dengan sebutan itu, kayaknya gara-gara gayanya dia mirip sama belagunya Randy Orton. Saking keselnya, kami pernah nyegat dia pas balik solat subuh. Dia nangis gara-gara kami kelilingin dan teriak, ‘APA LO?! APA LO?!’ berulang-ulang. Malamnya, dia tarawih bawa temen-temen satu kampung.

Sepuluh. Gue kangen kabur dari kejaran Bapak galak di masjid. Kami semua memanggilnya dengan sebutan Ballack, singkatan dari Bapak Galak. Dari dulu gue emang udah keliatan gak kreatif. Dia, dengan peci putih bulat di kepalanya, dan tongkat kayu di tangannya, selalu neriakin kita yang lari-larian di masjid. 

Tunggu, setelah nulis postingan ini kok gue berasa tua amat ya? Anyway, selamat puasa teman-teman! \(w)/
Suka post ini? Bagikan ke:

Wednesday, June 17, 2015

Postingan Perlawanan

Setelah bikin postingan kemarin, tiba-tiba bokap gue langsung famous. Banyak yang bilang bahwa rambut bokap lebih keren dibanding gue. Malah ada yang bilang kalau bokap mirip Jim Morison. Baru sekali diceritain, bokap langsung mengambil alih ketenaran gue sebagai pemilik sah blog ini. Ini tidak bisa dibiarkan! Hayya alassholaaah?!

Sebagai bentuk perlawanan, gue pampang foto sewaktu masih muda nan membahana ini:

Jim Morison setelah meniti Jim Batan Sirotol Mustaqim


Intermezzo sedikit, foto itu diambil sesaat sebelum gue dinobatkan sebagai lelaki tercantik di jurusan kampus. Ya, TERCANTIK. Setan memang temen-temen gue.

Kembali ke rambut. Setelah gue pikir-pikir lagi, kenyataan bahwa bokap pernah keribo bikin gue lega. Itu artinya, bokap lah yang menurunkan warisan berupa bentuk rambut yang mencang-mencong ini. Hal ini tentu menjadi keren dibandingkan harus mewariskan model rambut lain… botak, misalnya. Tidak terbayang bagaimana seorang BBB (Bapa-Bapa Botak) ketika menurunkan gen botaknya ke si anak. Kalau penurunan gen ini terjadi seperti penyerahan pedang di samurai-samurai jepang, pasti jadi gak elit. Sambil membungkuk ke si anak, BBB bakal berkata, ‘Ayah titipkan sebuah harta peninggalan yang sangat suci ini… rambut gundul Ayah.’

Lalu BBB nyundul anaknya sampai Uganda.

 --
Masih di postingankemarin, ternyata ada yang mengaku tititnya kusut. Ini dia komentarnya:



Membaca komentar tersebut, air mata gue hampir menetes. Terasa sekali kepedihan yang melanda dirinya. Insting Senpai yang gue miliki pun langsung keluar. Aura penyembuhan yang selama ini tertidur di dalam dada tiba-tiba menyulut keluar laksana api yang berkobar. Berdasarkan hasil analisis Senpai Kresnoadi, penyakit tersebut dapat disembuhkan dengan tiga langkah berikut: 1) Jangan panik, 2) Lepaskan celana dalam Anda, 3) Belilah titit baru.

Jika di antara kalian ada yang memiliki keluhan penyakit-penyakit aneh, silakan komentar di bawah. Di postingan berikutnya, Senpai Kresnoadi siap memberikan metode penyembuhan secara cuma-cuma!

Wabillahi taufik wal hidayah,

Wassalam.
Suka post ini? Bagikan ke:

Monday, June 15, 2015

Asal-Usul Keriba-Keribo

Setelah baca komentar temen-temen di postingan sebelumnya, ternyata banyak juga yang pernah ngalamin perasaan kayak gitu ya? Gue pikir gue doang. Hehehe. Rasa kayak gitu pas banget kayaknya buat baca-baca bukunya Haruki Murakami yang dark dan penuh kegetiran. Tapi yowislah.

Makasih banget buat semuanya yang nyuruh semangat dan piknik (walaupun males juga piknik sendirian). Thanks so muchos you guys rock! \(w)/

Tapi tetep aja, bukan pembaca blog ini kalau semuanya bener. Selalu aja ada komen yang gak waras. Kayak yang satu ini:

Feby AndriawanJune 13, 2015 at 11:27 AM
Nah lho, jangan-jangan perasaan itu adalah masa di mana lo bakal ngedapetin jam tangan Power Rangers. Iya, gw rasa lo bakal terpilih untuk menyelamatkan dunia ini!

Tanggapan Kresnoadi:
O o o o. Sudah barang tentu. Memang itulah salah satu tujuan dilahirkannya gue. Untuk menyelamatkan dunia ini dari kebajikan (lho?). Untungnya gak ada komen yang lebih ngeselin kayak bilang, ‘Jangan-jangan perasan itu.. Di… ah perasaan doang kali.’

--
Masuk ke topik ya. Karena mulai banyak yang nanya kenapa blog ini gue namain Keriba-Keribo, sementara rambut gue enggak keribo alias lurus bin macho, maka di postingan ini gue akan beberkan semuanya.

Ya, gue memang tidak keribo,
kalau pendek.

Begitu rambut gue panjang dikit, malapetaka itu muncul. Rambut gue ngembang udah kayak dikasih baking soda. Awalnya gue heran, padahal dari SD sampai SMA, bentuk rambut gue terlihat natural dan lurus alami. Gue masih ingat betul kejadian yang bikin jantung gue berhenti pertama kali. Kala itu adalah lebaran, sewaktu di rumah om gue, pas gue lagi ngebuka toples nastar di atas meja, tahu-tahu om gue nyeletuk, ‘Di, rambut kamu kok jadi keriting? Pasti sering MAKE KANCUT DI KEPALA ya! HAHAHAHA!!’

Semua orang ketawa.
Gue diem, lalu nyeburin diri ke kolam mujaer di luar.

Gue masih gak paham kaitannya orang berambut keriting dengan penggunaan celana dalam. Kalau memang semua yang dipakaikan celana dalam bakal bikin keriting, gue gak pernah tuh nemu pasien yang pas ditanya dokter, ’Apa keluhan kamu?’ jawabnya, ‘Ini, dok. Titit saya kusut lagi.’

Kalau udah ngomongin keritiing, pasti gak jauh-jauh sama mie instan. Tidak sedikit temen gue yang curiga asal muasal perubahan rambut ini terjadi karena gue sering makan mie instan. Walaupun emang bener, tapi gue masih gak percaya. Apa nyambungnya gitu lho? Gue kan makan mie instan pake mulut, bukan dimasukin ke pori-pori kepala. Atau gara-gara bentuk mie instan yang keriting? Tapi kalau begitu, seharusnya orang-orang yang makan kue tete juga tetenya jadi ijo dong?

Seiring berjalannya waktu, gue yang pemalas ini gak pernah motong rambut pas kuliah. Jadi lah rambut gue dengan brutal membulat dan mulai ada panggilan-panggilan aneh buat gue: keriting, kribo, Thomas Djorgi. Pokoknya banyak dan aneh-aneh. Sementara gue merasa kalo rambut gue sebenernya selow-selow aja alias lurus mulus seperti usus.

Oleh sebab itu, di pertengahan tahun 2012, gue merasa harus membuktikan diri bahwa rambut ini hanyalah titipan belaka. Pada akhirnya semua akan kembali kepada-Nya. Innalillahi… (ini kenapa jadi serem gini?)

Yang jelas, demi membuka tabir pintu pembelaan gue sebagai (terduga) berambut keribo, maka gue memutuskan untuk membuat blog ini. Awalnya gue sempet bingung mau namain blog ini apa. Setelah memejamkan mata dan berpikir masa-masak (kurang lebih tiga detik), gue pun memutuskan membuat nama Keriba-Keribo. Sebuah nama yang simpel, padat, dan asoy.

Keriba-Keribo adalah singkatan dari: Kering banget… dan enggak Keribo.

Sebuah nama yang sangat mencerminkan jati diri gue. Gue emang orangnya agak maksa. Gakpapa.

Hingga,
gue harus menelan pil pahit.

Beberapa minggu yang lalu, nyokap baru aja pulang dari foto studio di Fuji Film. Sesampainya di rumah, selayaknya kehebohan yang dilancarkan emak-emak, dia langsung memanggil gue, lalu ngeluarin foto-foto yang baru saja dia buat di lantai ruang keluarga.

Sambil memerhatikan hasil foto tersebut, nyokap mengambil sebuah album foto dari rak di lemari. Kemudian, seperti cara kenangan bekerja, gue berpindah ngelihatin dari satu foto ke foto yang lain. Sampai, gue menemukan sebuah foto bokap.

Bokap gue keribo.

Nyokap, yang ternyata juga baru tahu, langsung ngikik sambil berusaha menutupi suara tawanya. ‘Ini… kikiki… zaman kapan ya.. kikiki?’

Gue memandang foto tersebut dengan pandangan SUMPEH-LO-BOKAP-GUE-KERIBO. Di foto tersebut terpampang bokap dengan gayanya memakai topi proyek, sambil bergaya cool. ‘Iya, zaman kapan ya?’ Gue bales nanya.

Tidak lama berselang, bokap keluar kamar sambil menenteng majalah Misteri kebanggannya. Ngelihatin kita yang heboh ngebongkar foto zaman dulu sambil cekikikan, dia nyamperin lalu memegang foto tersebut. Dia termenung untuk beberapa saat, lalu, setelah memicingkan mata, dia bilang, ‘Bapak punya yang lebih jelas.’

Lah, dia malah bangga.

Dia lalu masuk ke kamar dan keluar kembali sambil menenteng salah satu ijazah kuliahnya. Lalu terkuaklah misteri genetik rambut gue ini. Dengan wajah unyu-unyu khas anak kuliahan, dengan rambut yang menggumpal bulat, bokap terlihat kayak anak band gahul tahun 60-an.



Gue menatap ngeri foto tersebut, tidak percaya dengan apa yang gue lihat. Bokap cuman nyengir mesum, masih memegang majalah misteri di tangannya.

Jadi... gue benaran keribo?

TIDAAAAAAAKK!!
Suka post ini? Bagikan ke:

Friday, June 12, 2015

Perasaan Ini

Gue masih gak ngerti sama perasaan. Selain cewek, mungkin dialah makhluk yang paling bikin orang pengen nyundulin kepalanya ke tembok. Belakangan ini gue kayak lagi gak mood buat ngapa-ngapain. Kayak yang pernah gue ceritain di bab terakhir Keriba-Keribo, rasanya gue cuman pengin diem. Hanya menjadi penonton dari semua pergerakan dunia.

Gue bener-bener gak pengin ngerasain apa-apa.

Mungkin, kalau digambarkan, perasaan gue sedang dilapisi sesuatu yang membuat dia tidak bisa bekerja. Ada sebuah lapisan tipis, yang, menahan perasaan gue untuk berdetak. Kalau udah begini, semuanya terlihat datar di mata gue. Perasaan gue menjadi tidak bekerja dengan baik.

Padahal, perasaan harusnya berperan dengan sendirinya.

Bukan seperti aktor yang harus membayangkan kedua orangtuanya meninggal sebelum take adegan nangis. Atau membayangkan sedang berada di atas roller coaster bersama teman-teman. Naik perlahan-lahan, lalu merosot cepat sambil menjerit bersama untuk mendapatkan feel happy-happy bareng temen.

Gue yakin bukan begitu cara perasaan bekerja.

Pada akhrnya, ngapa-ngapain jadi terasa salah buat gue. Mau nonton film komedi, kok rasanya jadi garing. Mau nonton yang sedih-sedih, kayaknya gue masih terlalu malas. Baca buku apa lagi. Tadi pagi-pagi buta, gue mencoba meraih novel Ayah di atas meja. Setengah tiduran, gue membalik halaman, lalu menatap huruf-huruf di lembaran kertas, tapi, gak tahu kenapa, gue tidak membacanya. Gue cuman bengong ngeliatin tulisan-tulisannya.

Mungkin, buat blogger semacam gue, menulis adalah salah satu cara paling ampuh untuk menyalurkan perasaan. Tetapi, daritadi gue sudah bongkar-pasang kalimat. Menulis dua paragraf, hapus satu paragraf. Begitu terus sampai mabuk.

Gue pun jadi susah buat bangkit dari kasur. Rasanya, gue hanya ingin membawa pikiran gue jauh-jauh. Ke suatu tempat yang gelap dan kosong. Bermain-main sendirian dengan isi kepala gue.

Mungkin ada masanya kali ya semua orang bakal merasakan seperti ini? Atau emang gue aja yang aneh?
Suka post ini? Bagikan ke:

Saturday, June 6, 2015

IQROOO!

Malem minggu gue kali ini diisi dengan berbagai bacaan dan tulisan. Beberapa jam yang lalu, gue baru aja iseng baca-baca postingan lama. Semua itu berawal dari sebuah mention yang nanyain postingan gue tentang introvert. Dari situ, gue mulai baca-baca postingan lain, lalu, gue senyum-senyum sendiri. Gue gak nyangka ternyata isi blog ini serandom ini. Litterally fuckin random. Hehe.

Merekap sedikit, gue mau kasih tahu ke kalian beberapa postingan yang menurut gue cukup bikin ngangguk-nangguk sendiri (antara karena keren atau dalam hati ngomong, ‘Ngepet! Kok gue pernah nulis beginian?!). Mungkin orang-orang lebih banyak yang suka ketika gue menulis pas lagi waras. Mungkin saat itu adalah waktu di mana gue benar-benar menuangkan apa yang ada di hati. Jadi gue mulai dari kategori itu ya.

Buat yang LDR, gue sarankan membaca postingan Bandara dan Tentang Jarak Dalam Sebuah Hubungan. Kalau yang lagi naksir seseorang tapi gak tahu cara bilangnya, silakan baca Jika Semuanya Terbalik. Lanjut ke postingan sehari-hari. Gue masih ngakak sekaligus kesel sewaktu tadi menemukan tulisan tentang malam jumat ini. Apabila di antara kalian ada yang blogger juga, coba cek tulisan blogger comment. Gue juga pernah menuliskan tentang beberapa kalimat antimainstream yang dapat kamu katakan untuk putus dengan pacar maupun untuk mencegah putus. Oya, gara-gara gak sengaja ngeliat postingan ini, gue juga jadi kangen bales-balesin komen lewat postingan. Agak kurang kerjaan emang, tapi seru. :D

Anyways, buat para pembaca yang baru mampir ke sini (atau pembaca lama yang emang gak tahu), gue sebetulnya punya ‘sisi lain’ selain blog ini. Terkadang, kalau lagi sinting, gue suka nulis puisi di blog gue satu lagi: Said It Sad. Barusan juga gue iseng mengupload cerpen yang menjadi salah satu dasar kenapa ebook Teka-Teki memakai kata ganti ‘kamu’ sebagai orang pertama. Cerpennya ditulis udah dari Oktober tahun lalu, tapi baru gue upload gara-gara bingung masukinnya ke mana. Soalnya agak sastra dan beda banget gaya penulisannya dengan di blog ini. Jadi kalau mau baca tulisan gue yang rada ‘nyastra’, bisa klik cerpen botol ini. Sekalian ramein page-nya ya!

--
Sekarang masuk ke cerita. Keabsurdan lainnya dari nyokap baru saja terjadi! Jadi, tadi sore, tiba-tiba dia masuk ke kamar sambil nahan ketawa gitu. Dia masuk, tiduran di kasur, sambil mencoba berbicara, ‘Dek.. khikhikhi… dek… dek.. khikhikhi.’

Perasaan gue udah gak enak aja. Setelah nyopot headphone, gue tanya, lalu, dia masih jawab dengan terbata-bata, ‘Tadi.. khikhikhi… ada ibu-ibu ngemis..’ Dia diem sebentar, meluk guling, lalu gak kuat nahan ketawa, ‘HIHIHIIHI!’ Ngeliat dia geli banget, gue jadi ikut ketawa sendiri. ‘Huahahaha… Ada apa sih?’ (Setelah nulis ini gue baru sadar kok gue kayak orang lemot gitu ya?)

‘Jadi, tadi ada ibu-ibu minta duit. Terus… khikhikhi..’ jelas nyokap.

‘Iya terus?’ tanya gue.

“Terus.. khikhikhi.. karena sebelumnya udah ada ibu-ibu lain yang minta-minta, ibu kira satu geng. Jadi ibu tolak. Ibu bilang, ‘ Maaf ya, tadi udah ngasih ke yang lain.’”

‘Iya, terus?’

“Terus dia malah jawab, ‘Lho, kan saya udah lama gak ke sini! Ini anak saya butuh duit mau ambil rapot gimana?!’” kata nyokap, berhenti sebentar mengambil napas, lalu melanjutkan, ‘Lha ini kok jadi ibu yang diomelin sama pengemisnya? Hihihihi.’

Gue malah heran sama nyokap. Gue kalau jadi nyokap udah pasti emosi dan gak bakalan ngasih duit ke si ibu-ibu itu. Lah dia yang punya anak, kok kita yang repot? Pake bawa-bawa alesan ngambil rapot anak lagi. Apa sih yang ibu-ibu ini pikir? Kalau tadi gue yang keluar gerbang udah pasti gue bilang, ‘Anak ibu nilai PPKN-nya dua ya? KARENA IBU TIDAK TAHU NORMA SOSIAAL!!’

Namun tidak dengan nyokap, dia tetep ngasih sambil ketawa-tawa. Dia, karena lagi mau naik haji, belakangan lagi rajin banget dengerin ceramah ustad lewat YouTube. Akhir-akhir ini nyokap memang menjadi lebih bijak dari biasanya. Dia tetap memberikan uang ke si ibu karena kata seorang ustad yang pernah dia tonton, anggaplah orang yang menyusahkan itu sebagai malaikat. Nyokap menganggap si ibu itu salah satu malaikat yang akan mendatangkan rejeki. Meskipun, menurut gue gak bakal mungkin ada malaikat dateng ke rumah kemudian bilang mau ngambil rapot anak. Gak keren banget nanti begitu ada yang meninggal, lalu datang malaikat dan bertanya, ‘Siapa Tuhanmu? Buruan ya.. mau ngambil rapot anak nih.’

Lalu, seperti yang gue bilang, apapun yang nyokap ungkapkan berarti bener-bener dianggap seutuhnya. Dia bahkan bercerita ke gue, bahwa, kata sang ustad, bisa saja di pasar kaget ada malaikat. Orang-orang di pasar ternyata malaikat yang tanpa kita sadari berwujud manusia. ‘Makanya kamu kalo ke pasar hati-hati! Bisa aja banyak malaikatnya!’ katanya sungguh-sungguh. Meskipun, tetep aja gak bakalan keren ketika ada seorang pembeli yang nanya, ‘Bang, kacang panjang ada? Tiga ribu ya!’ Lalu, dari sela-sela penjual muncul Malaikat Jibril bilang, ‘Ada! IQROOO!!’ sambil ngasih kacang panjang yang dibungkus kertas koran.

--
Kayaknya sisa malam ini mau gue pake buat berduaan sama Ayah-nya Andrea Hirata deh. Keren banget ya buku ini. Hari pertama launching langsung bikin cetakan kedua. Hmmm kapan ya gue begitu? Hehehe.


Suka post ini? Bagikan ke:

Friday, June 5, 2015

Jangan Ke Kafe

Baru pulang dari kantor, lagi duduk di ruang keluarga, Nyokap tiba-tiba membuka percakapan dengan sebuah pertanyaan aneh..

Nyokap: Kamu pernah ke kafe nggak?
Gue: Pernah. Kenapa emang?

Nyokap langsung diem. Kepalanya berputar menghadap gue.

Nyokap: Mulai besok jangan ke kafe lagi.
Gue: Hah?
Nyokap: Pokoknya jangan!
Gue: I-iya..

Gue gak ngerti apa salah gue sampai Nyokap tiba-tiba melarang buat pergi ke kafe. Sampai, setelah gue desak beberapa detik, Nyokap ngebales sambil jerit, ‘IBU GAK MAU KAMU MATI! UDAH! POKOKNYA JANGAN KE KAFE!’

Hah?

Kafe bikin mati? Ini kafe apaan sih yang dimaksud Nyokap? Gue sempet mikir kalau Nyokap salah mengucapkan kata atau kuping gue emang lagi congean. Kafe? Vape kali ya? Obat nyamuk itu. Gue gak boleh makan Vape biar gak mati. Tapi setelah gue pikir-pikir lagi, mana ada orang tua yang tiba-tiba ngomong ke anaknya, ‘Nak, jangan makan obat nyamuk ya. Nanti mati..’

Usut punya usut, Nyokap ngomong begitu karena baru-baru ini ada tentara yang berantem di kafe terus salah satunya ada yang meninggal (beritanya bisa dibaca di sini). Hal ini tentu disambar oleh Bokap yang memang sangat protektif. Mereka berdua langsung ngelarang gue buat ke kafe. Karena gue males ngeladeninnya, gue tinggal aja ke kamar.

Merasakan kejadian kayak gini di keluarga sendiri ngebuat gue seakan hidup di keluarga sinetron. Tidak terayang apabila keluarga gue benaran jadi kayak keluarga-keluarga di sinetron. Mungkin yang terjadi adalah seperti ini:

Nyokap: SINI KAMU!
Gue: I-iya ndoro..
Nyokap: JANGAN SEKALI-KALI KAMU PERGI KE KAFE ATAU KAU AKAN MATI!!
Gue: (melotot) APAHHH?!?!?!
Nyokap: Ingat itu Marwoto! Ingat!

Hadeuh emang dasar keluarga gue korban sinetron. Nyokap, adalah contoh nyata korban kelebayan sinetron dari dulu. Dulu, sewaktu gue SMP, gue pernah disuruh bawa satu lembar kuitansi untuk latihan perbukuan. Ngeliat gue lagi masukin lembar kuitansi ke ransel, Nyokap langsung nyamber ‘Jangan cuma bawa satu, dong! Kurang!’ Setelah mikir sebentar, gue pun setuju dan memasukkan lima lembar kuitansi tambahan. Lagi asik nyobek kuitansi, Nyokap protes lagi, ‘Jangan lima! Nanti kurang!’ Karena takut nanti Nyokap kembali protes, akhirnya gue tanya duluan, ‘Ya udah, jadi harus bawa berapa nih?’ Nyokap langsung nyaut kenceng ‘BAWA SATU PAK BIAR GAK KURANG!’ Gue angkat lembar kuitansi sambil bales nyaut kenceng ‘DISURUHNYA CUMAN SELEMBAR! KURANG DARI HONGKONG!’ Nyokap bales lagi sambil megang sapu ‘KUKUTUK KAU ANAK MUDAA!!’

Duh, baru juga sampe rumah udah ada aja kejadian aneh-aneh.
Suka post ini? Bagikan ke: